Novel Baswedan Menolak Tim Penyidik Gabungan

Jakarta – Layar hitung menampilkan angka 634 merujuk pada jumlah hari sejak teror penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Jumlah hari itu terhitung sejak 11 April 2017 hingga 15 Januari 2019.

Perangkat itu dibuat Wadah Pegawai (WP) KPK untuk menunjukkan belum terungkapnya siapa sebenarnya pelaku yang meneror Novel tersebut. Novel pun menggugat.

“Ketika setiap teror yang tidak diungkap maka potensi yang terjadi adalah perbuatan itu akan berulang,” kata Novel di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2019).

Ucapan Novel itu merujuk pada teror yang baru terjadi di awal tahun 2019 di mana kedua rumah pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif, dipasangi bom pipa paralon palsu dan dilempar molotov. Novel menyebut teror yang dialaminya dan para pimpinan KPK serta para pegawai KPK sebelumnya merupakan serangan pada institusi yaitu KPK.

Kembali soal urusan teror pada Novel. Dalam perjalanan waktu yang akan genap 2 tahun pada 11 April 2019 itu bukan berarti Polri melipat tangan saja. Berbagai upaya dilakukan polisi untuk mencari pelaku hingga sempat menangkap sejumlah orang, yang kemudian dilepas karena menurut polisi tidak terlibat. Mereka yang ditangkap itu disebut polisi sebagai mata elang.

Apa itu mata elang? Bisa dicek di tautan berita di bawah ini:

Setelahnya garis waktu pengusutan kasus itu berisi rasa pesimistis Novel, permintaan Novel agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Komnas HAM dan Ombudsman yang ikut mengusut, hingga upaya polisi yang terus menerus belum berbuah hasil. Sampai pada akhirnya pada Selasa, 8 Januari 2019, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meneken surat perintah pembentukan tim gabungan untuk mengungkap kasus itu.

“Surat perintah tersebut adalah menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam perkara Novel Baswedan,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen M Iqbal di Mabes Polri pada Jumat, 11 Januari 2019.

Kami meminta untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, bukan tim penyidik dan penyelidik. Bedanya apa dengan tim yang sebelumnya?Novel Baswedan

Tim itu disebut Iqbal dibentuk setelah rekomendasi dari Komnas HAM diterima. Rekomendasi itu ditujukan kepada Kapolri, KPK, dan Presiden. Untuk Kapolri, Komnas HAM meminta segera dibentuk tim gabungan yang terdiri dari unsur internal dan eksternal kepolisian untuk mencari fakta dan mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel secara cepat dan efektif sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Tim itu diketuai Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis dengan wakil Karobinops Bareskrim Polri Brigjen Nico Afinta serta jajaran penyidik dan penyelidik polisi. KPK pun disertakan dalam tim itu antara lain lima orang dari bagian penyelidikan, penyidikan, dan pengawasan internal. Selain itu, 7 orang pakar dilibatkan yaitu mantan Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adji, Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo, Ketua Setara Institute Hendardi, komisioner Kompolnas Poengky Indarti, serta komisioner Komnas HAM Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.

“Surat perintah tim gabungan untuk kasus Novel Baswedan berlaku untuk enam bulan,” imbuh Iqbal.

Namun pembentukan tim itu langsung memunculkan beragam komentar dari kancah perpolitikan lantaran berdekatan dengan Pemilu 2019. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai ada unsur politik di balik pembentukan tim itu, sedangkan pihak Jokowi-Ma’ruf Amin menepisnya, termasuk dari Mabes Polri.

“Beberapa pihak eksternal juga melakukan pengawasan dan penguatan seperti Ombudsman, Kompolnas, terakhir Komnas HAM. Mungkin kebetulan saja dekat dengan pesta demokrasi. Tapi tidak ada kaitan sama sekali,” kata Iqbal pada Senin, 14 Januari 2019.

Sementara itu KPK berharap banyak pada tim itu. Harapannya tentu agar pelaku tertangkap.

“Ketika ada tim yang dibentuk dengan unsur yang lebih kuat dan lebih luas, meskipun pasti akan kita dengar juga kritik dan saran terhadap tim ini, KPK berharap tim tersebut bisa berujung pada ditemukannya pelaku penyerangan Novel,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Jumat (11/1/2019).

Lalu bagaimana tanggapan Novel sebagai korban?

“Kami meminta untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, bukan tim penyidik dan penyelidik. Bedanya apa dengan tim yang sebelumnya?” gugat Novel.

Namun Novel tetap menanti hasil kerja tim gabungan Polri itu. Dia menyebut penyidikan polisi sebelumnya tidak sungguh-sungguh.

“Tentu kita semua akan menilai tim ini bekerja dengan benar atau tidak. Indikatornya adalah ini bisa diungkap dengan benar,” ucap Novel.

Novel malah khawatir pembuktian kasus itu dibebankan padanya sebagai korban. Dia pun berharap tim gabungan Polri itu tidak hanya sekadar formalitas memenuhi rekomendasi Komnas HAM.

“Sejak kapan ada penyidikan investigasi perkara penyerangan yang beban pembuktian dibebankan pada korban. Sejak kapan teror yang diduga ada aktor intelektualnya tapi dimulai dari motif dulu. Di dunia rasanya tidak ada,” ujar Novel.

Terlepas dari itu Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi telah menyerahkan laporannya mengenai pengusutan kasus itu ke KPK. Laporan itu berisi pemantauan kasus penyiraman air keras yang disusun Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bersama LBH Jakarta, KontraS, Lokataru Foundation, ICW, LBH Pers, PSHK AMAR, Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) FH Universitas Andalas, serta PUKAT UGM. Laporan itu diserahkan Direktur LBH Jakarta Alghiffari Aqsa pada pimpinan KPK.

(dhn/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sindikat AN Cs Pakai Sabu di Sekolah

Liputan6.com, Jakarta – Polsek Kembangan Jakarta Barat menyita 355 gram sabu dan 7910 butir dan psikotropika golongan IV serta obat-obatan daftar G. Totalnya 7.910 butir.

Barang tersebut ditemukan sebuah laboratorium sebuah sekolah di Jakarta Barat. Adalah DL dan CP, kakak beradik yang mendesain tempat tersebut menjadi gudang penyimpanan narkoba sekaligus tempat tinggal.

“Barang disimpan di dalam laboratorium. di situ ada sebuah ruangan yang dialihfungsikan jadi gudang dan tempat tidur,” kata Kapolsek Kembangan, Komisaris Joko Handono, Selasa (15/1/2019).

Joko mengatakan, pihaknya meringkus DL dan CP Kamis 10 Januari 2019 di sebuah sekolah kawasan Jakarta Barat. Hasil pengembangan dari tersangka lainnya.

“Total ada tiga tersangka yang kami amankan,” ujar dia.

Joko menjelaskan peran masing-masing tersangka. Sabu dan psikotropika golongan IV serta obat-obatan daftar G dipasok oleh seorang bandar narkoba berinisial BD yang kini masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) dari Lembaga Pemasyarakatan.

Tersangka AN yang akan berkomunikasi melalui sambungan telepon dengan bandar tersebut. Lalu, bandar akan menyuruh tangan kepercayaan untuk menaruh sabu di tempat-tempat yang telah ditentukan. Di tempat tersebutlah, AN mengambil dan menyerahkan kepada DL dan CP.

“Antara tangan kepercayaan bandar dengan kurir (AN) tidak saling kenal. Sebab barang-barang selalu diambil di suatu tempat. Mereka tidak pernah bertemu,” terang dia.

“Kami mengetahuinya jaringan Lapas karena dari pembicaraan saat ditangkap komunikasi diantara mereka intens,” imbuh dia.

2 dari 3 halaman

Instruksi dari Lapas

Joko menambahkan, terakhir adalah tugas dari DL dan CP. Mereka berdua mengantarkan sabu sesuai list yang telah dibuat oleh Bandar.

“Sabu dipecah menjadi beberapa bagian sesuai instruksi dari Lapas. Kemudian diantarkan juga sesuai dengan petunjuk dari Lapas,” terang dia.

Joko menuturkan, sekali antar mereka berdua akan mendapatkan imbalan berupa uang tunai dan beberapa paket sabu. “Nah sabu itu pakai oleh mereka bertiga di lingkungan sekolah oleh tiga tersangka saat situasi sudah sepi,” ujar dia.

Joko membeberkan, DL dan CP merupakan karyawan dari sekolah tersebut. Status keduanya pegawai harian lepas.

Sejak enam bulan terakhir tinggal di laboratorium sekolah. Keduanya memanfaatkan salah satu ruangan yang disulap menjadi tempat tinggal sekaligus gudang penyimpanan narkoba.

“Mereka menumpang tanpa izin. Sekolah tidak keberatan mungkin karena orangtua mereka seoranf pejabat di sekolah tersebut.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Selain Laboratorium Sekolah, Sindikat AN Cs Simpan Narkoba di Apartemen

Liputan6.com, Jakarta – Selain laboratorium sekolah, Sindikat narkoba AN Cs ternyata memiliki gudang lain untuk menyimpan naroba.

Unit Narkoba Polsek Kembangan bersama Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat menemukan gudang penyimpanan narkoba di sebuah Apartemen di kawasan Srengseng, Kembangan Jakarta Barat.

Kapolsek Kembangan Kompol Joko Handoko, mengatakan, penemuan ini setelah pelaku diperiksa instensif.

“Kami melakukan penggeledahan di Apartemen Park View. Di sini (Apartemen) terdapat ratusan ribu butir narkoba golongam 4 dan obat-obatan yang masuk dalam daftar G,” tandas dia.

Sebelumnya, Polsek Kembangan Jakarta Barat menyita 355 gram sabu dan 7910 butir dan psikotropika golongan IV serta obat-obatan daftar G. Totalnya 7910 butir.

Barang tersebut ditemukan sebuah Laboratorium sebuah sekolah di Jakarta Barat. Adalah DL dan CP, kakak beradik yang mendesain tempat tersebut menjadi gudang penyimpanan narkoba sekaligus tempat tinggal.

“Barang disimpan di dalam laboratorium. Di situ ada sebuah ruangan yang dialihfungsikan jadi gudang dan tempat tidur,” kata Kapolsek Kembangan, Komisaris Joko Handono, Selasa (15/1/2019).

2 dari 3 halaman

Tes Urin Siswa

Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Jakarta Barat Uripasih mengatakan, pihaknya akan menjadwalkan pemeriksaan urine terhadap sejumlah siswa di Jakarta Barat.

Ini buntut dari hasil temuan Polsek Kembangan yang menemukan gudang Narkoba di dalam Laboraturium di sebuah sekolah.

“Iya pasti,” kata dia di Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (15/1/2019).

Uripasih mengatakan, pihaknya akan berkerja sama dengan Kepolisian dan BNN Provinisi DKI Jakarta agar kegiatan tersebut segera merealisasikan.

Menurut dia, nanti hanya satu sekolah yang siswa akan dites urine. Itu yang dijadikan gudang narkoba oleh DL dan CP.

“Kami saat ini sedang menyusun perencenaan yang jelas nanti saya akan bersurat ke BNN,” terang dia.

Jika hasil tes urin ada yang positif, Uripasih menyatakan akan memberikan sangsi sesuai aturan yang berlaku. Yang terberat dikeluarkan dari sekolah.

“Saya akan melihat di tata tertib berapa nilai ketika anak terlibat menggunakan narkoba. Kalau nilai 100 pasti dikembalikan di orang tua,” tandas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Dicopot dari Kapolres Empat Lawang, AKBP Agus Masih Diperiksa Propam

Dicopot dari Kapolres Empat Lawang, AKBP Agus Masih Diperiksa Propam Foto: Kapolres Empat Lawang AKBP Agus Setiawan (ist)

PalembangKapolres Empat Lawang di Sumatera Selatan, AKBP Agus Setiawan dicopot karena hasil tes urinenya positif narkoba jenis sabu dan ekstasi. Bagaimana nasibnya sekarang?

Sang Kapolres yang diketahui menjabat pada akhir November 2017 lalu itu saat ini sedang diperiksa oleh Propam Polda Sumsel. Dia ditahan untuk kepentingan penyidikan.

“Hasil pemeriksaan lab dan keterangan dokter, ada 2 zat yang terkandung pada urine Kapolres. Dua zat itu adalah sabu dan ekstasi,” ujar Kapolda Sumsel Irjen Zulkarnian saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (15/1/2018).

Secara tegas Kapolda mengatakan tidak ada kasus lain yang menyebabkan sang kapolres dicopot, kecuali kasus narkoba. Bahkan jabatan kapolres tidak menjadi alasan untuk menunda penyelidikan oleh Propam.

“Sekarang diperiksa Bid Propam Polda. Otomatis ditahan dulu untuk keperluan penyelidikan. Kalau main-main dengan narkoba saya tindak tegas,” imbuh pria yang akrab disaba Zul ini.

Sebagaimana diketahui, AKBP Agus Setiawan positif narkoba saat dilakukan tes urine secara mendadak di Polda Sumsel, Jumat (11/1). Tes dikabarkan karena AKBP Agus telah masuk dalam dalam target Polda Sumsel.
(ras/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polri Dorong Pembuatan Regulasi Anti-Hoaks Libatkan Pemilik Platform

Liputan6.com, Jakarta – Kepala Satgas Nusantara Polri Irjen Gatot Edi Pramono mendorong dibuatnya regulasi terkait penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. 

Regulasi ini dinilai sangat mendesak karena penyebaran konten hoaks dan ujaran kebencian di medsos tak terbendung lagi.

“Regulasi hoaks dan ujaran kebencian ini pemerintah tidak bisa sendiri. Ini juga jadi tanggung jawab pemilik platform medsos. Saya sudah bicara soal ini kepada pemilik platform medsos,” ujar Gatot Edi dalam diskusi publik bertajuk ‘Pemilu, Hoaks dan Penegakan Hukum’ di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019).

Gatot menuturkan, regulasi terkait hoaks dan ujaran kebencian itu diaplikasikan di beberapa negara, seperti Jerman dan Malaysia. Dalam aturan tersebut, pemilik platform medsos bisa langsung mematikan akun atau konten yang dinilai mengandung hoaks atau ujaran kebencian.

“Sudah saatnya kita punya regulasi hoaks di medsos. Jerman dan Malaysia sudah, kita belum, padahal hoaks dan ujaran kebencian sudah sangat meresahkan,” ucap dia.  

2 dari 2 halaman

Hoaks Terus Meningkat

Berdasarkan pantauan Satgas Nusantara, penyebaran konten hoaks dan ujaran kebencian terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

Konten-konten tersebut diciptakan oleh akun asli, semi-anonymous, hingga akun anonymous. 

“Hoaks dan ujaran kebencian di medsos ada peningkatan, terutama jelang Pemilu 2019,” kata Gatot memungkasi.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Urine Positif Narkoba, Kapolres Empat Lawang Sudah Jadi Target?

Jakarta – Kapolda Sumatera Selatan Irjen Zulkarnain memastikan salah satu Kapolresnya, AKBP AS, positif narkoba. Kapolda pun menyebut AKBP AS memang sudah menjadi target.

“Untuk tes kemarin itu dadakan. Jadi dia itu sudah masuk target. Ya harus segera diperiksa dan tes urine. Sekarang sudah di Propam,” ujar Zulkarnain saat dimintai konfirmasi detikcom, Senin (15/1/2018).

Menurut Zulkarnain, selama ini memang ada obat-obatan yang juga mengandung amfetamin. Namun untuk di kasus AKBP AS, Zulkarnain menilai ada perbedaan dan harus bisa dibuktikan oleh AS.
“Kalau seandainya dia pakai obat, berarti dia harus membuktikan. Kalau dia cuma ngarang-ngarang aja ya bohong toh. Kita proses dulu.” kata mantan Kapolda Riau ini.

Sejauh ini, kata Zul, memang belum ada pengakuan lansung dari Akpol 1998 itu. Namun Propam Polda Sumsel disebut tetap akan memproses dari hasil urine AKBP AS yang positif amfethamin alias narkoba tersebut.

“Kalau dia mengakui ya tindakan disiplin, kalau dia bilang makan obat atau ini dan itulah ya harus dibuktikan. Sampai saat ini belum ada keterangan pasti, dia terus berbelit-belit. Tapi ya begitu, kalo maling mana ada yang mau ngaku,” katanya.

Sebagaimana diketahui, AKBP AS positif narkoba saat dilakukan tes urine secara mendadak di Polda Sumsel pada Jumat (11/1). AKBP AS sendiri diketahui sudah menjabat Kapolres Empat Lawang sejak akhir November 2017 lalu.
(ras/rna)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Vanessa Angel dan Fakta Baru yang Bisa Menyeretnya jadi Tersangka

Surabaya – Untuk pertama kalinya, Vanessa Angel kembali mendatangi Polda Jatim usai tertangkap basah terlibat dalam prostitusi online beberapa waktu lalu.

Vanessa tiba di Polda Jatim sekitar pukul 10.00 WIB, Senin (14/1/2019) bersama kuasa hukum dan manajernya. Ia langsung menuju Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim.

Saat tiba, Vanessa tak banyak bicara. Namun menurut keterangan polisi, wanita berusia 27 tahun itu tengah memenuhi wajib lapor dan menjalani pemeriksaan lanjutan.

“Iya (wajib lapor), diperiksa juga,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Wajib Lapor, Vanessa Angel Kembali Datangi Polda Jatim

Setelah kurang lebih 9 jam berlalu, pemeriksaan lanjutan terhadap Vanessa akhirnya selesai digelar. Ia terpantau keluar dari ruang pemeriksaan pada pukul 19.00 WIB. Namun di sela pemeriksaan, Vanessa sempat keluar ruangan dan menuju bank untuk meminta rekening korannya.

Usai diperiksa, hanya senyum tipis yang menemani Vanessa. Kepada awak media, Vanessa mengaku menyerahkan seluruhnya pada penyidik dan kuasa hukumnya.

“Tadi saya udah diperiksa, selebihnya saya serahkan ke penyidik, dan selebihnya menyerahkan ke kuasa hukum saya,” ujar Vanessa.

Dari hasil pemeriksaan, status Vanessa yang semula masih saksi korban bisa saja dinaikkan menjadi tersangka. Polisi beralasan ada beberapa unsur yang dianggap dapat memberatkan Vanessa nantinya.

“Potensi yang memberatkan bakal menjadi tersangka bahwa kegiatan ini melibatkan yang bersangkutan secara aktif, mengupload foto dan gambarnya secara aktif, melakukan chatting tidak sesuai etika dan kesusilaan, yang ketiga yang bersangkutan tidak melakukannya satu dua kali, tapi banyak kali,” ungkap Barung.

Ditambahkan Direskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan, hal ini juga diperkuat dengan hasil pantauan polisi terhadap rekening pribadi Vanessa.

“Yang jelas kami memandang bahwa dari transaksi keuangan yang sedang kita dalami dan keterlibatan dari aksi bisnis prostitusi online ini bahwa VA cukup terlibat, berperan dalam peristiwa ini, dan ini yang akan kami kuatkan dan dalami,” papar Yusep.

Kendati demikian, status Vanessa itu baru dapat ditetapkan setelah gelar perkara yang rencananya akan dilakukan pada hari Selasa (15/1).

“Mungkin besok lah, besok kita tunggu hasil dari kita gelar dulu,” katanya.

Sedangkan terkait 6 artis yang diduga kuat keterlibatannya dalam jaringan prostitusi ini, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan mengaku baru dua artis yang menerima surat pemanggilan dari polisi.

Yusep mengungkapkan dua artis yang dimaksud adalah yang berinisial RF dan FG. Mereka dijadwalkan akan hadir pada hari Kamis (17/1) nanti.

“Yang sudah konfirmasi soal pemanggilan 6 artis adalah inisial RF dan FG. Keluarganya menyampaikan akan hadir hari Kamis dan bahkan akan mengantarkan langsung sampai Polda Jatim,” ungkap Yusep.

Namun untuk artis-artis yang belum menerima surat pemanggilan polisi, polisi telah bekerjasama dengan pihak manajemen artis yang bersangkutan. Hal ini untuk mengantisipasi bilamana artis tersebut akan berpindah manajemen atau melarikan diri.

“Kita akan terus, akan komunikasi dengan pihak manajernya. Mungkin pihak manajemennya dengan berusaha mencari mungkin alamatnya, mereka belum berpindah,” paparnya.
(lll/iwd)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dianggap Kampanye di Tablig Akbar, Ketum PA 212: Saya Tak Sebut Angka Kok

Jakarta – Polisi menyebut ada ajakan memilih pasangan calon nomor urut 02 pada Pilpres 2019 dalam tablig akbar 212 di Solo, Jawa Tengah. Ketua Umum PA 212 Slamet Maa’rif menegaskan dirinya tak pernah menyebutkan angka.

“Saya nggak sebut angka, kok,” kata Slamet saat dikonfirmasi, Senin (14/1/2019).

Slamet menegaskan panitia tablig akbar 212 di Solo sudah memenuhi kewajiban administrasi. Dia juga menyebut panitia telah berkoordinasi dengan polres setempat.
“Panitia sudah memenuhi kewajibannya dalam prosedur administrasi acara tablig akbar bahkan sudah berkoordinasi sebelumnya dengan polres setempat, sebelum pelaksanaan,” ucap Slamet.

Sebelumnya diberitakan, Kapolda Jateng, Irjen (Pol) Condro Kirono, menyebut sejumlah catatan dari pelaksanaan tabligh akbar Persaudaraan Alumni (PA) 212 Solo Raya. Menurutnya, selain tak berizin, ternyata jumlah ada ajakan mencoblos no urut 02.

Kapolda menjelaskan, aksi yang digelar Minggu kemarin di Bundara Gladag, Solo, tersebut sebenarnya tidak berizin karena sejak awal sudah disarankan jika murni kegiatan agama maka diarahkan ke Masjid Agung. Meski izin tidak dikeluarkan, kepolisian tetap memberikan kompensasi acara digelar dan pengamanan juga digelar. Kapolda juga mengakui penyekatan juga dilakukan di sejumlah titik lokasi.

“Acara Tablig Akbar PA 212 di Solo sudah kita sarankan untuk di Masjid Agung kalau itu kegiatan agama, jangan di Gladag, Jalan Slamet Riyadi karena jalan umum. Mereka berpendapat bahwa kegiatan mereka giat agama sehingga tidak perlu izin, cukup pemberitahuan, sudah kita jelaskan bahwa kalau akan dilaksanakan di jalan umum harus ada rekomendasi atau izin dari dishub solo, tapi mereka tidak mengurusnya,” jelas Condro Kirono, Senin (14/1).

“Karena tidak ada izin maka giat mereka juga kita batasi dan kita sekat di beberapa titik. Dan memang betul ternyata saat pelaksanaan bukan mengajak kebaikan tetapi malah mengajak massanya untuk coblos nomor 02 dan menebar kebencian dan permusuhan,” tandasnya.
(gbr/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Vanessa Angel Ada di Bawah Naungan Enam Muncikari

Surabaya – Dari hasil pendalaman yang dilakukan polisi, makin banyak fakta yang terkuak terkait prostitusi online yang melibatkan sejumlah artis, termasuk Vanessa Angel.

Setelah disebut bertarif Rp 80 juta dan berulang kali menerima order dan transfer dari jasa prostitusi yang diberikan, Vanessa belakangan juga diketahui ‘beroperasi’ di bawah naungan enam muncikari.

Seperti pernyataan Direskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan sebelumnya, Vanessa terlibat dalam prostitusi online sebanyak 15 kali.


Namun ternyata dalam 9 dari 15 kali transaksi tersebut, Vanessa difasilitasi oleh enam muncikari.

“Dari sembilan keterlibatan aksi prostitusi ini, VA ini difasilitasi oleh enam muncikari,” kata Yusep saat rilis di Mapolda Jatim, Senin (14/1/2019).

Ditambahkan Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, dari 15 kali transaksi yang dilakukan Vanessa, sembilan di antaranya berlangsung di sejumlah tempat. Namun polisi hanya menyebut tiga kota, yaitu Singapura, Jakarta dan Surabaya.

“Ini didalami nanti hasilnya menentukan hasil daripada si VA karena hasil dari pendalaman ada 9 yang langsung dari 15 itu. Di Singapura dua kali, Jakarta enam kali Surabaya 1 kali,” ujar Luki.
(lll/lll)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polda Jatim: Artis VA 9 Kali Terima Order di Jakarta, Surabaya, dan Singapura

Liputan6.com, Jakarta – Tim digital forensik Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) menemukan bukti baru hasil dari rekam jejak digital sinkronisasi dari percakapan artis VA dan dua muncikari T dan ES.

“VA dua kali menerima order di Singapura, 6 kali di Jakarta dan satu kali di Surabaya. Jadi sudah terbuka 9 kali order dari 15 kali order,” tutur Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Ahmad Yusep Gunawan di Mapolda Jatim, Senin (14/1/2019).

Yusep menegaskan, bahwa selama 9 kali terma order tersebut, artis VA dijual oleh enam mucikari.

“Saat ini kami masih menangkap dua mucikari yaitu T dan ES, sementara sisanya yang empat orang masih DPO dan semoga segera ketangkap,” ujarnya.

Sebelumnya, Subdit Crime Ditreskrimsus Polda Jatim terus mengembangkan kasus prostitusi online artis VA dan AS. Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan polisi, rupanya omzet dari transaksi prostitusi online ini menembus Rp 2,8 miliar pertahun.

Dalam kasus tersebut Polda Jatim menahan dua tersangka yang bertindak sebagai muncikari yakni TN (28) dan ES (37). Rekening dari kedua tersangka ini sudah diblokir oleh petugas untuk mengetahui dari mana dana yang masuk, lalu dana itu keluar kemana. 

“Untuk menguatkan prostitusi online ini besar, penyidik mengambil data rekening koran dari tersangka. Ternyata transaksinya cukup besar Rp 2,8 miliar pertahun. Data itu dari perbankan,” tutur Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan, Kamis (10/1/2019). 

Polda Jatim akan terus kembangkan kasus prostitusi online yang melibatkan artis dan model majalah dewasa. Sehingga praktek prostitusi online bisa diungkap sampai tuntas.

2 dari 2 halaman

Telisik Rekening

Akhmad Yusep Gunawan menambahkan bahwa pihaknya bekerjasama dengan bank untuk menelisik data digital berupa rekening koran dari mucikari ES.

Dari fakta otentik itulah artis VA yang sudah diperiksa sebagai saksi selama 1×24 jam itu terbukti menerima tranfer dari mucikari ES.

“Dari rekening koran untuk inisial saksi VA ini telah mendapat kiriman transfer sebanyak 15 kali dari mucikari ES,” kata Yusep.

Yusep mengatakan, dari cacatan rekening koran yang bersangkutan artis VA telah mentranfer sebanyak delapan kali ke rekening muncikari ES. Artis VA menerima transfer dari muncikari ES selama satu tahun mulai dari 1 januari 2018 hingga 5 januari 2019.

Dari kedua tersangka mucikari itu akhirnya terbongkar prostitusi online terselubung yang diduga melibatkan 45 artis dan 100 model cantik.

“Inilah yang kami akan dalami peruntukkan tranfer muncikari ke VA,” ujar Yusep. 


Saksikan video pilihan di bawah ini: