Internet + Politik = Bisnis Buzzer

Jakarta – Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sudah lama rampung. Anies Baswedan kini telah resmi memimpin Ibu Kota.

Walaupun sudah lama rampung, panasnya pemilihan kepala daerah itu masih terasa hingga sekarang, khususnya di media sosial. Media sosial saat ini seolah terbagi jadi dua kubu. Ada yang memihak A, ada juga yang B.

Panasnya politik pasca pemilihan gubernur hampir bisa dipastikan berlanjut sampai sekarang di pemilihan presiden (Pilpres). Secara kasat mata, itu terlihat dari masih maraknya pemakaian istilah ‘kampret’ dan ‘cebong’. Ramainya panggung politik sekarang ini tak lepas dari peran buzzer. Apa itu?


Salah seorang mantan buzzer, Rahaja Baraha (bukan nama sebenarnya) mengatakan, buzzer merupakan bagian dari profesi yang ia geluti yakni konsultan komunikasi politik. Sebagai konsultan komunikasi politik, dia memiliki berbagai metode untuk menyampaikan pesan ke publik, salah satunya jadi buzzer.

Dia mengatakan, tugas buzzer ialah menggaungkan sebuah isu agar publik sadar. Hal itu, lanjutnya, tak berbeda dengan pekerja media.

“Bedanya adalah kita bertingkah laku sebagai masyarakat, maksudnya kalau media naikin isu atas media, kalau kita naikin isu atas masyarakat, yaudah itu dianggap masyarakat yang ngomong,” katanya saat ditemui di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Selasa (2/4/2019).

Oleh karena itu, dalam praktiknya buzzer menggunakan banyak akun media sosial. Sehingga, seolah-olah isu itu ramai dibicarakan publik.

Dia melanjutkan, ada beberapa cara agar masyarakat bisa menangkap isu yang disampaikan. Pertama, buzzer akan membuat sebuah akun. Lalu, akun tersebut bertugas mengumpulkan pengikut dan menjadi influencer. Kedua, membuat banyak akun untuk meramaikan sebuah isu yang sedang diangkat.

“Itu kan hanya marketing, tapi memang dipakai di politik juga. Sama aja kaya influencer dia punya followers 20 ribu, dia ngomong hal itu, dibayar, itu kan buzzer. Bedanya dia pakai akun asli follower dia banyak. Kalau kami para pekerja ini, kita bikin akun sendiri, namanya mungkin asal, followernya nggak banyak, tapi log in-log out ngomongin terus-terusan,” paparnya.

Buzzer lain, Tatok, masih ragu untuk menyebut kegiatan yang ia lakoni sebagai profesi. Meski begitu, dia menuturkan buzzer bukan pelaku yang memproduksi sebuah isu. Ia hanya bertugas membantu klien menyebarkan informasi.

Dia menjelaskan, maraknya buzzer tak lepas dari berkembang dengan pesatnya media sosial. Sehingga, setiap orang bisa menyampaikan apa saja melalui media tersebut.

Buzzer, katanya, sama seperti pengguna media sosial lainnya. Tapi, media sosial tersebut digunakan untuk menggiring sebuah opini.

“Terkait dengan buzzer artinya, saya atau yang lain bukan pelaku sebenarnya. Yaitu sama media sosial tertentu pengguna, meminta si klien membantu. Dalam arti membantu, dalam arti menggiring opini,” terang Tatok.

Tatok menambahkan, buzzer sendiri bisa digunakan sebagai sebuah alternatif dari kampanye yang dilakukan secara manual alias tatap muka. (dna/dna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *