Insiden Penembakan di Klub Malam Melbourne, 1 Orang Tewas dan 3 Terluka

Melbourne Melbourne Reuters Kasus penembakan di klub malam Love Machine itu dianggap tidak terkait dengan serangan teror.

Satu orang tewas dan tiga orang terluka dalam insiden penembakan di luar klub malam di Kota Melbourne, Australia. Siapa pelakunya?

Tiga orang penjaga keamanan klub malam Love Machnie dan seorang pria yang sedang antre di luar ditembak dalam insiden pada hari Minggu.

“Sepertinya tembakan dari dalam mobil di kawasan itu dan diarahkan ke kerumunan yang berdiri di luar klub,” kata Inspektur (polisi) Andrew Stamper kepada media.

Kasus penembakan di klub malam Love Machine itu dianggap tidak terkait dengan serangan teror, kata polisi.

Pria yang tewas dalam insiden penembakan itu belum disebutkan jati dirinya, tetapi media setempat melaporkan dia adalah penjaga keamanan berusia 37 tahun.

Polisi mengatakan sejumlah pria lainnya yang tertembak berusia 28, 29 dan 50 tahun. Yang berusia paling muda berada dalam kondisi kritis.

Inspektur Detektif Andrew Stamper menggambarkan cedera yang dialami para korban “mengerikan”.

“Sangat menghebohkan, karena ini klub malam paling ramai, salah satu klub malam utama di Melbourne di salah satu kawasan hiburan utama,” katanya dalam konferensi pers.

Sampai sejauh ini belum ada orang yang ditangkap, dan polisi tengah mencari saksi mata yang berada di lokasi serangan.

Surat kabar Australia, The Age, melaporkan para penyelidik kemungkinan akan menyelidiki insiden ini dengan keberadaan geng motor.

Penembakan massal di Australia jarang terjadi. Negara itu telah merombak undang-undang persenjataan setelah 35 orang diberondong timah panas hingga tewas di Port Arthur, Tasmania, pada 1996.


(idn/idn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bek MU Anggap Insiden Dengan Messi Telah Selesai

Manchester – Laga MU Vs Barcelona di leg pertama perempat final Liga Champions tengah pekan kemarin masih menyimpan cerita. Pasalnya bek MU, Chris Smalling membuat kesal pendukung Barcelona setelah membuat Lionel Messi menderita.

Ya, Smalling membuat superstar Blaugrana itu berdarah dan keluar lapangan sementara untuk mendapatkan perawatan.

Pada awalnya insiden itu dianggap cukup berat lantaran wajah Messi, terutama di bagian hidung, mengalir darah segar. Insiden itu juga dianggap memengaruhi penampilan Messi pada laga itu. 

Namun, kini diketahui tak ada cedera serius pada hidung maupun wajah Messi akibat sikutan itu.

“Ya, kami bicara setelah itu. Saya sebenarnya ketika itu tak menyadari saya membuatnya seperti itu,” kata Smalling kepada BBC Radio 5 live.

“Tapi, setelah pertandingan, kami berbincang sikat, berjabat tangan, dan dia bilang dia itu itu kecelakaan,” lanjut Smalling.

“Begitu pula Suarez. Kami bercakap hangat sebentar, berjabat tangan, sambil mengucapkan semoga sukses. Kami hanya saling mengucap semoga sukses.”

“Jadi, menyenangkan ketika Anda bertarung di lapangan dan jelas ada banyak respek setelah pertandingan karena pada akhirnya Anda hanya ingin mencoba melakukan yang terbaik dan menikmati pertandingan,” ucap bek 29 tahun itu.

Pada laga ini Barcelona hanya mampu menang 1-0, lewat gol bunuh diri Luke Shaw menit ke-12, kendati mereka mendominasi permainan sepanjang laga. 

MU akan kembali menghadapi Barcelona pada leg kedua yang dimainkan di Camp Nou, Rabu dini hari WIB (17/4/2019).

Sumber: Bola.com

Saksikan video pilihan di bawah ini

Berikut visualisasi rencana renovasi markas Barcelona, Camp Nou, dalam empat tahun kedepan. Bola.com, Barcelona – Lionel Messi, dikabarkan Express, Senin (27/3/2017), memberikan lima solusi untuk

Jet Siluman Jepang Jatuh, Insiden Kedua yang Dialami F-35 di Dunia

Tokyo – Insiden jatuhnya jet tempur siluman F-35 milik Jepang ke Samudra Pasifik menjadi insiden kedua yang melibatkan jet tempur termahal dan salah satu yang tercanggih di dunia itu. Insiden pertama terjadi di South Carolina, Amerika Serikat (AS) pada September 2018 lalu.

Seperti dilansir CNN dan Reuters, Rabu (10/4/2019), jet tempur F-35 milik Jepang yang jatuh itu diketahui berusia kurang dari satu tahun. Jet tempur itu diantarkan kepada Angkatan Udara Jepang (ASDF) pada Mei 2018 oleh perusahaan dirgantara AS, Lockheed Martin.

Jet siluman itu dirakit oleh Mitsubishi Heavy Industries Ltd di sebuah pabrik di dekat Nagoya, Jepang bagian tengah. Perakitan setiap jet siluman F-35 diketahui memakan biaya hingga US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun). Harga itu sedikit lebih mahal dibandingkan jika membeli langsung jet tempur yang telah dirakit secara penuh.

Jet siluman milik Jepang yang jatuh pada Selasa (8/4) malam waktu setempat diketahui merupakan model F-35A.

Diketahui bahwa F-35 memiliki tiga versi. Model F-35A dirancang bagi Angkatan Udara untuk penggunaan di landasan konvensional. Model F-35B dirancang untuk lepas landas di landasan pendek dan pendaratan vertikal. Model F-35C khusus dirancang untuk Angkatan Laut, dengan penggunaan di kapal induk.

Jatuhnya jet tempur siluman F-35A milik Jepang menjadi insiden kedua yang dialami oleh jet siluman jenis F-35 sejak mengudara nyaris selama 20 tahun terakhir. Namun insiden ini menjadi insiden pertama yang dialami model F-35A.

Insiden pertama F-35 terjadi pada September 2018, saat sebuah jet tempur siluman F-35B milik Korps Marinir AS jatuh di Beaufort, South Carolina. Saat itu, pilot jet tempur tersebut berhasil melontarkan diri dengan selamat tanpa mengalami cedera. Kesalahan pada tabung bahan bakar disebut sebagai penyebabnya. Usai kecelakaan itu, seluruh F-35 milik AS dan sekutu-sekutunya di-grounded untuk diperiksa lebih lanjut.

Penyebab jatuhnya F-35A milik Jepang di Samudra Pasifik saat misi latihan pada Selasa (8/4) malam belum diketahui pasti. Puing-puing pesawat yang diyakini berasal dari ekor jet tempur itu telah ditemukan. Namun pilot jet tempur dilaporkan masih hilang. Militer Jepang bersama militer AS terus melakukan pencarian.

Menyikapi kecelakaan kedua ini, pihak Lockheed Martin menyatakan akan mendukung ASDF jika diperlukan. Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menyatakan masih memantau situasi. Sementara Menteri Pertahanan Jepang, Takeshi Iwaya, menyatakan belasan jet tempur F-35 lainnya akan di-grounded hingga penyebab kecelakaan diketahui.

F-35 yang merupakan buatan Lockheed Martin disebut sebagai sistem persenjataan paling mahal dalam sejarah. Teknologi ‘stealth’ atau siluman menjadi faktor kunci bagi jet tempur ini. Bahan dan airframe-nya memungkinkan pilot untuk menembus berbagai wilayah tanpa terdeteksi oleh radar. Jika mengudara, jet tempur ini hanya memunculkan gambaran kecil dan samar di radar, sehingga bisa menembak pesawat musuh sebelum musuh melihatnya.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Disinggung Crutchlow dalam Insiden Jump Start, Apa Kata Marquez?

Sao PauloCal Crutchlow menyebut nama Marc Marquez usai dihukum akibat jump start di MotoGP Argentina. Menanggapi Crutchlow, Marquez hanya bisa berempati.

Insiden itu mengakibatkan Crutchlow memperoleh ride through penalty saat balapan di Termas de Rio Hondo pada 31 Maret lalu. Alhasil, pebalap LCR tersebut cuma finis ke-13, sehingga tak punya kesempatan meraih hasil optimal dalam usaha melanjutkan rekor apiknya usai finis terdepan pada 2018.

Usai balapan, Crutchlow marah besar kepada Race Direction. Pebalap Inggris itu bersikukuh hanya menyeimbangkan kaki-kakinya sekalipun dalam rekaman video dari samping memang memperlihatkan bahwa motornya bergerak sebelum lampu start padam.


Crutchlow menuding bahwa Race Direction tidak akan mengambil tindakan kalau pebalap-pebalap top – salah satunya Marquez – melakukan tindakan seperti dirinya.

Marquez meyakini Crutchlow akan kompetitif andai tidak dihukum. Meski begitu, pebalap Repsol Honda itu menilai Race Directio sudah adil.

“Itu adalah hal-hal yang Anda katakan saat sedang emosi, Anda marah karena Anda dihukum,” Marquez mengatakan kepada EFE, sebagaimana dikutip dari Daily Star.

“Sudah pasti, Crutchlow bisa saja menjalani sebuah balapan yang hebat dan berada di atas podium GP Argentina. Hal itu pernah terlihat di masa lalu bahwa tidak ada yang sepenuhnya jelas dalam hukum.”

“Sebuah hal bagus bahwa race direction punya sikap netral. Tidak gentar ketika harus menghukum pemimpin klasemen atau siapapun yang ada di posisi paling belakang.”

(rin/fem)

Selain Rossi vs Dovizioso, Ada Juga Insiden Vinales dan Morbidelli

Rio Hondo – Lap akhir MotoGP Argentina tak hanya menyajikan duel Valentino Rossi dan Andrea Dovizioso. Ada pula insiden antara Maverick Vinales dan Franco Morbidelli.

MotoGP Argentina 2019, yang digelar di Autodromo Termas de Rio Hondo, Senin (1/4/2019) dini hari WIB, dimenangkan Marc Marquez. The Baby Alien menang dengan unggul jauh dari para pesaing.

Drama pun banyak terjadi di belakangnya. Salah satunya adalah duel Rossi vs Dovizioso di lap akhir, yang akhirnya dimenangi The Doctor sehingga bisa mengunci podium kedua.

Selain aksi Rossi vs Dovizioso, drama lap akhir MotoGP Argentina juga memperlihatkan insiden antara Vinales dan Morbidelli. Keduanya bertabrakan di trek.

Saat memperebutkan posisi keenam, bersama Danilo Petrucci, Morbidelli menubruk Vinales di Turn 7. Keduanya pun sama-sama terjatuh sehingga gagal menyelesaikan race yang jaraknya sudah dekat.

Usai crash, terlihat Morbidelli sempat dibantu marshall untuk berjalan. Sementara Vinales juga tak menunjukkan tanda-tanda kesal gagal finis, dengan malah menghampiri rider Petronas Yamaha SRT itu dan menanyakan kondisinya.

“Itu buruk, tapi saya pikir itu adalah insiden balap. Saya melihat tayangan ulangnya, itu lap terakhir dan kami semua berusaha menjadi yang terbaik, jadi itu hanya sebuah kesalahan dan ya begitulah,” kata Vinales di Crash.

“Mungkin pada balapan berikutnya saya akan membuat kesalahan yang sama, itu adalah sesuatu yang Anda bisa jelaskan, itu bukan masalah. [Kondisi] Franco terlihat cukup buruk saat saya berdiri, jadi kami beruntung tidak apa-apa,” sambung rider yang sedianya memulai start dari posisi dua itu.

Morbidelli juga senada. Ia mengakui kecelakaan itu akibat kesalahannya dalam melakukan pengereman.

“Itu balapan yang sangat bagus hingga lap terakhir. Saya berjuang untuk posisi keenam ketika saya mencapai Viñales. Saya tidak ingin mencoba melewatinya, tetapi saya tidak bisa mengerem dengan baik karena slipstream ganda,” jelasnya.

“Mungkin itu sebabnya -dikombinasikan dengan upayanya untuk memotong melewati Petrucci- yang membuat kami berdua jatuh. Sangat memalukan bagi kami, tapi untungnya kami berdua baik-baik saja,” ungkap jebolan VR46 Academy itu.

Tonton juga video Marquez Sempurna di MotoGP Argentina:

[Gambas:Video 20detik]

Selain Rossi vs Dovizioso, Ada Juga Insiden Vinales dan Morbidelli

(yna/fem)

2 Pilot AS Laporkan Insiden ‘Nose-Down’ Saat Terbangkan Boeing 737 MAX 8

Washington

Pilot pesawat dari setidaknya dua penerbangan di AS telah melaporkan bahwa sistem otomatis tampaknya telah menyebabkan pesawat Boeing 737 MAX 8 yang mereka kemudikan menukik (tilt down) secara tiba-tiba.

Berdasarkan sejumlah laporan yang diajukan tahun lalu dalam database yang disusun oleh NASA, kedua pilot itu mengatakan tidak lama setelah mengaktifkan sistem autopilot di pesawat mereka, hidung dari burung besi yang mereka awaki mengarah ke bawah dengan tajam.

Dalam kedua kasus mereka berhasil memulihkan dengan cepat kondisi itu setelah mematikan sistem autopilot, kata mereka.

Masalah seperti yang dijelaskan oleh kedua pilot ini, bagaimanapun, tidak muncul terkait dengan sistem anti-stall (pesawat kehilangan daya angkat) otomatis baru yang diduga berkontribusi terhadap kasus kecelakaan mematikan yang terjadi pada Oktober lalu di Indonesia.

Pesawat Boeing 737 MAX 8 tengah berada di pusaran kebijakan larangan terbang yang tampaknya semakin meluas – sejauh ini telah melibatkan lebih dari 40 negara – menyusul kecelakaan fatal kedua [yang melibatkan pesawat tersebut], kali ini di Ethiopia, dalam waktu kurang dari lima bulan.

Di AS, bagaimanapun, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) dan masing-masing operator terus mengizinkan pesawat tipe itu untuk terbang.

Selasa (12/3/2019) malam, Presiden AS Donald Trump mengatakan pesawat modern “terlalu rumit untuk terbang”, dan sebuah sumber Reuters menyatakan Presiden AS berbicara kepada CEO Boeing Dennis Muilenburg setelah mengungkapkan komentarnya.

American Airlines dan Southwest Airlines mengoperasikan pesawat 737 MAX 8, dan United Airlines menerbangkan versi yang sedikit lebih besar, MAX 9.

Ketiga operator menjamin keamanan pesawat MAX mereka pada hari ini Rabu (13/3/2019).

Tindak lanjut FAA

Laporan dari kedua pilot itu bersifat sukarela dan tidak secara terbuka mengungkapkan nama-nama pilot tersebut, maskapai penerbangan atau lokasi insiden.

Tidak jelas apakah insiden ini mengarah pada penindakan dalam bentuk apa pun oleh FAA atau maskapai dimana kedua pilot itu bekerja.

Dalam satu laporan, seorang kapten maskapai mengatakan bahwa segera setelah menempatkan pesawat pada mode autopilot, co-pilot mendapat peringatan pesawat ‘mengurangi ketinggian’ atau ‘descending’ yang diikuti oleh peringatan audio dari dalam kokpit, “don’t down’, don’t down”

Kapten segera mematikan mode autopilot dan melanjutkan upaya meningkatkan posisi pesawat ke ketinggian.

“Dengan kekuatiran terhadap isu hidung pesawat mengarah ke bawah pada MAX 8, kami sama-sama menganggap perlu untuk memberitahukan Anda,” tulis sang kapten.

Kapten menambahkan bahwa “perkiraan utama saya adalah fluktuasi kecepatan udara” karena sistem cuaca singkat yang membanjiri otomatisasi pesawat.

Masalah pada sistem peringatan Low Altitude ruang kemudi Boeing 737-800
Versi yang lebih baru dari Boeing 737 telah mencakup lebih banyak instrumen pengendali otomatis. (Flickr: Frans Zwart)

Pada penerbangan lain, co-pilot itu mengatakan bahwa beberapa detik setelah menggunakan mode autopilot, hidung pesawatnya mengarah ke bawah dan pesawat mulai turun pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 kaki (365 hingga 457 meter) per menit.

Seperti pada penerbangan lainnya, sistem peringatan ketinggian pesawat yang rendah mengeluarkan peringatan audio.

Kapten memutus sistem autopilot dan pesawat mulai naik.

Pasca insiden kedua pilot sempat membahas kondisi ini, “tetapi tidak dapat memikirkan alasan apa pun mengapa pesawat yang mereka kendalikan terbang dengan sangat agresif”, kata co-pilot.

Informasi awal yang dikeluarkan oleh para penyelidik Indonesia menunjukkan bahwa mereka tengah menyelidiki kemungkinan peran teknologi anti-stall otomatis pada pesawat 737 MAX 8 sebagai faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan Lion Air pada bulan Oktober lalu tak lama setelah tinggal landas dari Jakarta.

Data menunjukkan bahwa pilot mengalami kesulitan mengatasi perintah hidung pesawat mengarah ke bawah (nose-down) yang berulang dari pesawat sebelum menabrak Laut Jawa dan menewaskan 189 orang.

Namun, sistem anti-stall itu – yang dikenal dengan singkatan MCAS – hanya aktif jika sistem autopilot dimatikan, menurut dokumen yang Boeing bagikan kepada maskapai penerbangan dan FAA.

“Itu bukan berarti itu bukan masalah,” kata pilot American Airlines Dennis Tajer tentang insiden yang dilaporkan ke NASA, “tetapi itu bukan MCAS. Autopilot harus dimatikan untuk bisa mengaktifkan MCAS.”

Juru bicara American Airlines, Ross Feinstein mengatakan maskapai itu tidak menerima laporan dari pilot tentang masalah yang terjadi pada teknologi anti-stall. Southwest juga mengatakan hal yang sama.

Pemimpin serikat pekerja yang mewakili pilot United Airlines, beberapa di antaranya telah menerbangkan 14 unit pesawat seri Boeing 737 MAX milik maskapai United Airlines sejak Mei lalu, mengatakan bahwa maskapai ini telah mencatatkan 23.000 jam penerbangan dan tidak menemukan masalah performa atau masalah mekanis.

Kelompok ini yang merupakan bagian dari Asosiasi Pilot United Airline, memperingatkan terhadap kemungkinan sikap yang berlebihan terkait kecelakaan itu:

“Sangat penting bahwa pilot tidak berinteraksi dengan media dan menambah sensasi di sekitar insiden ini.”

Kekhawatiran tentang keselamatan MAX kembali mencuat pada hari Minggu (11/3/2019) ketika Ethiopian Airlines MAX 8 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Addis Ababa, menewaskan semua 157 orang di dalamnya.

Jet itu menunjukkan kecepatan vertikal yang tidak stabil setelah lepas landas, kata situs pemantauan lalu lintas udara Flightradar24, dan pilot senior Ethiopia mengirimkan panggilan darurat.

Sementara beberapa maskapai penerbangan di Afrika memiliki catatan keselamatan yang tidak merata, Ethiopian Airlines telah mempertahankan reputasi yang baik.

Penyelidik akan menganalisis informasi dari kotak hitam pesawat itu dengan harapan dapat memahami apa yang menjadi penyebaban kecelakaan itu.

ABC/wires

Simak beritanya dalam bahasa Indonesia disini.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

2 Pria Asal Yunani dan UEA Selamat dari Insiden Jatuhnya Ethiopian Airlines

Liputan6.com, Addis Ababa – Insiden jatuhnya maskapai penerbangan Ethiopian Airlines memang meninggalkan luka. Sebab, ada sekitar 157 orang yang tewas dalam penerbangan itu.

Di balik kecelakaan tersebut, ternyata ada dua orang yang selamat. Yang pertama adalah pria asal Yunani bernama Antonis Mavropoulos dan warga Uni Emirat Arab bernama Ahmed Khalid.

Dikutip dari situs arabnews.com, Senin (11/3/2019), Antonis Mavropoulos gagal naik pesawat menuju Nairobi lantaran terlambat dua menit sebelum jadwal keberangkatan.

“Saya sempat marah karena tidak ada satupun orang yang membantu saya mencapai gate keberangkatan tepat waktu,” ujar Antonis Mavropoulos dalam sebuah unggahan di Facebook berjudul “Hari Keberuntunganku”.

Mavropoulos adalah Presiden International Solid Waste Association, sebuah organisasi nirlaba. Ia hendak menuju Nairobi guna menghadiri pertemuan tahunan Program Lingkungan PBB.

Setelah tahu ia terlambar, Mavropoulos memutuskan untuk memesan penerbangan berikutnya. Namun, ia dicegah oleh staf bandara.

“Mereka membawa saya ke kantor polisi bandara. Petugas mengatakan kepada saya untuk tidak memprotes tetapi untuk berdoa kepada Tuhan karena saya adalah penumpang yang selamat dari penerbangan Ethiopian Airlines ET 302,” jelasnya.

“Mereka mengatakan mereka tidak bisa membiarkan saya pergi sebelum memeriksa identitas saya. Itu adalah alasan saya untuk tidak terbang ke Nairobi,” tambahnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kementerian Luar Negeri RI telah mengonfirmasi kebenaran satu warga Indonesia menjadi korban jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines.

Ucapan Belasungkawa Sejumlah Petinggi Dunia Atas Insiden Ethiopian Airlines

Liputan6.com, Addis Ababa – Sejumlah pejabat negara menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas jatuhnya maskapai penerbangan Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET302 pada Minggu pagi.

Dikutip dari laman CNN, Senin (11/3/2019), sejumlah pejabat negara tersebut di antaranya Perdana Menteri Kanada, Perdana Menteri Israel, Menteri Luar Negeri Jerman hingga Presiden Prancis.

“Pikiran kami saat ini selalu bersama semua korban dalam Penerbangan Ethiopian Airlines ET302. Termasuk warga negara Kanada yang turut menjadi korban,” ujar Justin Trudeau dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga merilis pernyataan lewat akun Twitter.

“Usai mendengar kabar duka, saya langsung menuju Kementerian Luar Negeri Israel @IsraelMFA untuk memonitor laporan dari Ethiopia. Yang membuat saya sedih, duta besar kami telah menginformasikan bahwa ada dua orang Israel yang tewas dalam insiden tersebut,” tulis @IsraeliPM.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengeluarkan pernyataan atas rasa belasungkawanya kepada korban kecelakaan pesawat. Ada lima warga Jerman turut jadi korban.

“Hari ini kami menerima berita buruk tentang jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines yang hendak menuju Nairobi. Insiden ini telah menewaskan banyak orang. Dalam masa-masa sulit ini, pikiran kami akan selalu bersama keluarga dan kerabat para korban,” ujar Heiko Mass dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan belasungkawa lewat Twitter. Ia mengatakan bahwa warga Prancis akan selalu bersama Ethiopia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pesawat Ethiopian Airlines tujuan Nairobi, Kenya, jatuh tak lama setelah lepas landas. Sekitar 149 penumpang dan 8 kru pesawat berada di dalamnya.

Tiga Pekerja Fasilitas Nuklir Australia Terkena Tumpahan Bahan Kimia

Sydney

Tiga orang pekerja pada fasilitas nuklir Lucas Heights di Sydney, Australia, terpapar bahan kimia berbahaya dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani proses dekontaminasi.

Juru bicara Organisasi Sains dan Teknologi Nuklir Australia (ANSTO) menjelaskan para pekerja tersebut terpapar natrium hidroksida ketika penutup salah satu pipa di pabrik pengobatan nuklir itu terlepas.

Menurut keterangan petugas ambulans setempat, bahan kimia ini terciprat ke bagian lengan dan wajah dua pekerja pria dan seorang pekerja wanita.

Bahan kimia Sodium hydroxide diketahui sangat beracun dan dapat menyebabkan luka bakar yang akut.

Juru bicara ANSTO menambahkan, gedung tempat insiden terjadi tidak terkait dengan fasilitas reaktor nuklir.

“Sebelum jam 8 pagi ini, penutup salah satu pipa terlepas dan menumpahkan sekitar 250ml natrium hidroksida,” katanya.

“Tiga pekerja terkena dampaknya. Petugas layanan darurat datang ke ANSTO dan tiga pekerja tersebut telah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan,” jelasnya.

“Insiden itu terjadi di bangunan pabrik pengobatan nuklir yang tak terkait dengan reaktor nuklir OPAL,” tambah juru bicara ANSTO.

Fasilitas nuklir Lucas Heights, terletak 40 kilometer ke arah selatan pusat Kota Sydney, sebelumnya telah beberapa kali mengalami kontaminasi.

Pada Agustus 2017, seorang pekerja menderita lecet di bagian tangannya setelah menjatuhkan botol berisi bahan radioaktif. Dia terkontaminasi bahan tersebut melalui sarung tangannya.

Kejadian itu dianggap yang paling serius pada fasilitas nuklir di seluruh dunia pada 2017, seperti dilaporkan Skala Kejadian Nuklir Internasional.

ANSTO menyatakan permintaan maaf kepada pekerja yang terpapar radioaktif tersebut dan menghasilkan langsung membuat rencana aksi.

Pemeriksaan independen terhadap fasilitas ini dilakukan pada Oktober 2018. Ditemukan bahwa fasilitas ini tidak memenuhi standar keselamatan nuklir modern dan harus diganti.

Pada minggu yang sama ANSTO mengkonfirmasi lima orang pekerja terpapar radiasi di fasilitas itu, namun kadarnya kurang dari radiasi rontgen.

Ikuti juga berita lainnya dari ABC Indonesia.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Konflik Pakistan dan India yang Makin Membara

Islamabad – Perseteruan antara Pakistan dan India semakin memanas. Teranyar, seorang pilot pesawat tempur India yang pesawatnya tertembak jatuh digebuki massa dan diarak oleh militer Pakistan.

Dilansir ABC Australia, Kamis (28/2/2019), pilot tersebut dipukuli oleh penduduk desa di wilayah Kashmir dan kemudian dibawa oleh tentara. Videonya dengan cepat menyebar dan memicu gejolak di kalangan pengguna medsos di kedua negara.

Militer India belum mengkonfirmasi identitas pilotnya, namun media negara itu menyebutkan namanya sebagai Abhinandan Varthaman.


Militer Pakistan sebelumnya mengklaim telah menembak jatuh dua pesawat tempur India di wilayah udaranya di atas wilayah sengketa Kashmir.

Juru bicara militer Pakistan mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (27/2), seorang pilot India ditangkap dalam insiden itu. Disebutkannya, sebuah pesawat tempur India ditembak jatuh di area wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan, sedangkan satu pesawat lainnya jatuh di wilayah India di perbatasan de facto yang membagi wilayah Himalaya tersebut.

“PAF (militer Pakistan) menembak jatuh dua pesawat India di dalam wilayah udara Pakistan,” kata juru bicara militer Mayor Jenderal Asif Ghafoor dalam cuitan di Twitter hari Rabu ini.

Belum ada komentar dari pihak India atas klaim militer Pakistan ini.

Insiden ini merupakan insiden terbaru dari rangkaian peristiwa membahayakan antara kedua negara, yang hubungannya menegang sejak serangan bom bunuh diri di wilayah Kashmir India pada 14 Februari lalu, yang menewaskan 40 tentara India. Pemerintah India telah bertekad untuk bertindak atas serangan bom tersebut.

Pada Selasa (26/2) waktu setempat, pesawat-pesawat tempur India terbang ke wilayah udara Pakistan dan menggempur apa yang disebut sebagai kamp Jaish-e-Mohammed (JeM), kelompok militan yang mengklaim melakukan serangan bom di Kashmir tersebut.

Itu merupakan serangan udara pertama India di wilayah Pakistan sejak kedua negara tetangga bersenjata nuklir itu terlibat perang pada tahun 1971 — ketika kedua negara belum memiliki senjata nuklir.
(idh/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>