PSI Ingin Youtuber hingga Gamer Tercantum di Kolom Profesi KTP

Bandung – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berjanji akan memperjuangkan program-program untuk mengangkat kemajuan anak muda di Indonesia. Salah satunya akan menghapuskan pajak penghasilan bagi anak muda yang berpenghasilan di bawah Rp 15 juta.

“Anak-anak muda yang baru meniti karier dan keluarga muda perlu diberi kelonggaran agar mereka lebih semangat dalam bekerja,” kata Ketum PSI Grace Natalie dalam pidatonya di acara Festival 11, The Trans Luxury Hotel, Kota Bandung, Jumat (11/1/2018).

Selain itu, PSI berjanji memperjuangkan internet gratis bagi pelajar dan mahasiswa untuk keperluan pendidikan. Grace siap mendorong pemerintah menyediakan internet gratis di ruang publik seluruh Indonesia.
“Setiap desa harus menjadi desa digital, di mana warga bisa mengakses internet gratis di alun-alun atau kelurahan,” ucapnya.

PSI juga menggelorakan digitalisasi pendidikan. Salah satunya dengan membagikan tablet untuk menggantikan fungsi buku bagi para pelajar dan mahasiswa.

“PSI ingin meningkatkan skil anak muda dengan memperjuangkan anggaran beasiswa untuk satu juta anak muda dalam bidang industri kreatif. Agar Indonesia punya lebih banyak animator, video editor dan berbagai jenis profesi pendukung ekonomi kreatif lainnya,” tuturnya.

Bukan hanya itu, PSI menginginkan adanya pengakuan untuk profesi baru antara lain Youtuber, influencer, gamer agar dicantumkan dalam kolom profesi KTP.

“Pengakuan ini penting agar anak-anak muda yang menggeluti profesi baru ini bisa mengajukan kredit pinjaman ke bank untuk mengembangkan usahanya,” tuturnya.

Terakhir, Grace mengungkap, PSI akan mendorong pembangunan satu gedung kesenian, olah raga, bioskop di setiap kabupaten/kota untuk meningkatkan produktifitas anak muda di Indonesia.

“Itulah tawaran PSI untuk memajukan anak muda Indonesia,” ujar Grace.
(mso/bbn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

4 Fakta Pertemuan Agnez Mo dengan Presiden Jokowi

Penyanyi Agnez Mo membantah pertemuannya dengan Presiden Jokowi membahas soal politik terkini Tanah Air. Agnes mengaku hanya ngobrol santai dan mengajak Jokowi nge-vlog bersama.

“Enggak sih, enggak ke politik. Saya cuma warga negara yang baik aja, ingin cerita sama Kepala Negara, itu saja. Enggak ke dunia politik,” ujar Agnez Mo usai bertemu Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (11/1/2019).

Agnez memastikan akan menggunakan hak suaranya sebagai warga negara Indonesia pada Pilpres 2019. Kendati begitu, dia enggan menyebut siapa capres yang akan dipilihnya.

“Oh iya dong. Tapi itu kan privasi, enggak boleh dikasih tahu,” ucapnya.

Pelantun Coke Bottle itu menuturkan, untuk menjadi seorang influencer tak harus terjun ke dunia politik. Untuk itu, Agnez enggan membicarakan masalah politik di Indonesia saat ini.

“Kebetulan saya akan berbicara hal-hal yang sesuai dengan porsi saya. Kalau saya, mahirnya di dunia entertainment, saya mahirnya me-influence, menginspirasi orang dengan apa yang saya lakukan di dunia entertainment,” jelas mantan penyanyi cilik itu.

Meski begitu, Agnez memastikan akan ikut mengampanyekan politik yang bersih dari kabar bohong alias hoaks.

“Pastinya adalah jangan percaya, jangan terlalu percaya denga hoaks-hoaks yang ada di internet. Informasi yang buruk dan juga hoaks itu cepet banget berkembangnya. Jadi harus seperti punya filter, harus pandai melihat dan mendengar,” ucap Agnez.

Cerita Mega-Prabowo Antara Kangen Sampai Mumet

Jakarta – Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap Prabowo Subianto suka nasi goreng buatannya. Meski begitu, ia juga mengaku dibuat mumet oleh anak buah Ketum Partai Gerindra itu.

Dalam beberapa kali kesempatan, Megawati menceritakan soal kedekatannya dengan Prabowo. Meski sudah tidak satu kubu lagi, Mega mengaku masih tetap dekat dengan capres nomor urut 02 tersebut.

“Seperti orang tahu pada waktu itu sama Pak Prabowo, karena nggak jadi, kita tetap temenan, kan kita tetap temenan. Tapi anak buahnya bully saya, kok aneh,” kata Megawati di DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

Megawati pun juga bercerita Prabowo menyukai nasi goreng buatannya. Ia lalu mengungkap ada orang dekat Prabowo yang memberi tahunya sang Danjen Kopassus kangen dengan nasi goreng buatannya.
“Terus ada yang selalu dekat dengan beliau, ‘ditunggu Pak Bowo, Bu, kapan Bu Mega bikinkan nasi goreng’, tapi memang nasi goreng saya top lo,” tutur Mega.

Kisah yang sama disampaikan Megawati saat menyampaikan pidato di HUT PDIP ke-46 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1/2019). Ia mengaku heran mengapa anak buah Prabowo kerap menyudutkan pihaknya.

“Saya berteman baik dengan Pak Prabowo. Aneh kan ya? Ketika yang namanya, kok anak buahnya selalu menampilkan hal-hal yang menyudutkan kita. Padahal seorang terdekat Prabowo membisiki saya, ‘Pak Prabowo kangen lho Bu sama nasi goreng Ibu.’ Kan lebih enak ya,” ujar Megawati.

Presiden RI ke-5 tersebut pun mengungkap sampai mumet dibuatnya akibat perilaku anak buah Prabowo. Megawati berharap apa yang disampaikannya ini dapat didengar Prabowo dan pendukungnya.

“Mudah-mudahan terdengar beliau dan anak buahnya. Sebetulnya apa tho yang dicari? Saya suka mumet. Mumet bukan pusing aja, tapi sudah sampai muter,” tutur dia.

Pernyataan Megawati dikomentari oleh kubu Prabowo. Anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra Andre Rosiade memberi sindiran dan menyebut Megawati mumet karena hal lain.

“Menurut saya wajar Bu Mega mumet, tapi bukan karena anak buah Pak Prabowo. Tapi justru karena kelakuan anak buah Bu Mega yang kita lihat rutin ditangkap KPK,” ucap Andre.

Sementara itu anggota Fraksi PDIP DPR Eva Kusuma Sundari sedikit membuka tabir misteri siapa anak buah Prabowo yang kerap membuat sang ketum mumet. Menurut dia, anak buah Prabowo yang dimaksud adalah buzzer-buzzer di media sosial.

“Katanya buzzer di bawah Prabowo, kan disampaikan Ibu Mega hubungan sama Prabowo bagus suka berkunjung disampaikan (Prabowo) suka dimasakin nasi goreng, rindu bertemu. Interpretasiku sih, ini buzzer, influencer-nya Prabowo,” ungkap Eva.
(elz/bar)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

HEADLINE: Hoaks Surat Suara Dicoblos, Tindakan Hukum Efektif Redam Kabar Dusta?

Liputan6.com, Jakarta – Andi Arief tak menyangka cuitannya di twitter membuat geger publik. Isi tweet yang digulirkan politikus Demokrat itu membuat kalang kabut penyelenggara pemilu 2019.

Bagaimana tidak. Dalam akun twitternya, Andi mengungkap dugaan adanya tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos di Tanjung Priok. Dia pun meminta penyelenggara pemilu mengecek kebenarannya.

KPU yang mendengar kabar itu bergegas. Dengan menggandeng Bawaslu dan Bea Cukai, lembaga yang dipimpin Arief Budiman ini memeriksa informasi liar ini di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Hasilnya ditegaskan kabar itu tidak benar alias hoaks.

Terlepas dari fakta bawah kabar itu ternyata tak benar, hoaks yang terjadi saat ini ditengarai tak akan berhenti sampai isu kontainer isi surat suara yang dicoblos, yang diramaikan oleh cuitan Andi Arief di akun Twitternya yang punya 98.700 pengikut.

Di 2019, akan banyak konten-konten tak bertuan yang menghasut dengan melempar isu sensitif. Bakal makin menjadi seiring kian dekatnya penyelenggaraan Pemilu dan Pilpres 2019.

“Saya kira akan makin marak. Sesuai teori produk, karena konsumennya ada, konsumennya banyak,” kata Pengamat Media dan Politik, Hariqo Wibawa Satria saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (4/1/2018).

Dia meminta semua pihak untuk tidak tegang menghadapi hoaks tersebut. Sikap waspada harus dikedepankan agar terhindar dari adu domba antarpendukung capres, antaragama dan antarsuku.

“Hoaks tidak menguntungkan salah satu pihak. Merugikan semua. Kita akan berkelahi setelah itu,” ujar Hariqo.

Ia meminta sebaiknya jangan langsung percaya terhadap isi sebuah cetak layar status medsos ataupun cetak layar percakapan WhatsApp. Masyarakat hendaknya dapat mengecek ke media sosialnya langsung, apakah nama dan status itu benar-benar ada atau hanya editan atau mencatut nama seseorang dan kelompok tertentu. 

Infografis Hoaks di Tahun Politik Kian Marak. (Liputan6.com/Abdillah)

Jika asli, lanjut Hariqo, masyarakat dipersilakan untuk melaporkannya ke aparat dan jangan menggeneralisasi seakan satu mewakili semua. Bisa saja seseorang membuat akun media sosial dengan nama yang identik dengan kelompok tertentu, kemudian menyerang lainnya.

“Para pengadu domba juga bisa menyamar menjadi pendukung Jokowi maupun Prabowo. Tidak semua orang punya kemampuan dan waktu untuk mengecek kebenaran sebuah konten. Karena sasaran hoaks bukan orang yang melek media,” ucap dia.

Untuk menanggulangi hoaks jelang Pilpres, ia meminta kedua kubu untuk bertemu. Jika perlu, kedua kubu menggelar pertemuan dengan intensitas yang sering.

“Sering atau rutin bertemu. Kubu Jokowi, kubu Prabowo dan Kemenkominfo membahas hoaks yang sudah beredar,” ujar dia.

Sementara itu, Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego menilai, hoaks merupakan senjata lawan Jokowi untuk mendelegitimasi pemerintahan. Hanya dengan kampanye hitam atau negatif, pihak tertentu akan merasa terdongkrak elektabilitasnya.

Buzzer dan influencer akan gunakan ini sebagai jualannya. Pertanyaannya, seberapa jauh hukum bisa mencegah hoaks dan berbagai bentuk kampanye hitam,” ujar Indria saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (4/1/2018).

Untuk menghindari hoaks, kedua kubu hendaknya berkampanye secara elegan. Mereka hendaknya memberikan pendidikan politik yang baik kepada rakyat.

“Nyatanya berbanding terbalik dengan itu. Semuanya mimpi menang. Untuk itu menghalalkan segala macam cara. Karena kekalahan itu sebuah aib, maka mereka berusaha untuk mengeksploitasi beragam cara, mulai soal data daftar pemilih, e-KTP palsu sampai surat suara yang sudah dicoblos. Padahal dicetak pun belum,” terang Indria.

Sementara itu, Ahli neurologi dr Roslan Yuni Hasan Sp.BS yang akrab dipanggil Ryu Hasan mengungkapkan, pada masa pemilu, hoaks digunakan sebagai taktik untuk mengiklankan diri sendiri. Mirip kampanye.

“Iklan itu macam-macam caranya, ada yang iklan baik-baik, ada iklan yang menjelekan produk lain,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Namun tujuannya adalah memengaruhi masyarakat untuk memilih pihaknya dan meninggalkan yang lain.

“Bukan hanya orang Indonesia yang mudah terpengaruh hoaks. Manusia itu pada dasarnya suka dengan hoaks, apalagi hoaks yang mengancam,” kata Ryu.

“Otak manusia lebih cenderung mengikuti hoaks yang mengancam ketimbang yang berikan harapan-harapan.”

Saksikan video terkait hoaks berikut ini:

Menjelang Pemilu 2019 hoaks di berbagai media sosial semakin marak.

Tonton Sekarang, Pilpres dan Panggung ‘Influencer’ Politik

JakartaInfluencer punya posisi yang tidak bisa dianggap remeh di panggung politik saat ini, termasuk dalam pilpres ini. Jadi bagaimana peran influencer dan batasannya dalam percaturan politik Indonesia?

Tonton AFD Now CNN Indonesia di sini:


(gah/gah) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>