Saham Apple Tekan Indeks S&P 500

Sebelumnya, Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mengambil sikap kebijakan kurang agresif usai menggelar pertemuan selama dua hari.

Hal ini menunjukkan the Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada 2019 di tengah ekonomi yang melambat dan mengumumkan rencana akhiri program pengurangan neraca pada September.

The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 2,25 persen-2,5 persen. 

Suku bunga acuan ini digunakan sebagai kunci untuk menentukan suku bunga untuk sebagian besar utang konsumen dengan tingkat bunga yang dapat disesuaikan antara lain kartu kredit dan pinjaman rumah.

Langkah the Fed sesuai harapan dan permintaan pasar. Pembuat kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) mengambil perubahan tajam dari proyeksi kebijakan sebelumnya.

The Fed kembali menegaskan janjinya untuk sabar terhadap kebijakan moneternya. Selain itu, the Fed menyatakan akan mulai perlambat pengurangan kepemilikan obligasi pada Mei dengan menurunkan batas bulanan menjadi USD 15 miliar dari USD 30 miliar.

Dengan pengumuman yang digabung berarti setelah pengetatan kebijakan moneter pada tahun lalu, the Fed berhenti pada kedua sisi untuk menyesuaikan pertumbuhan global yang lebih lemah dan pandangan agak lebih lemah untuk ekonomi AS.

“Mungkin perlu beberapa waktu sebelum prospek lapangan kerja dan inflasi jelas menyerukan perubahan kebijakan. Kami melihat tidak perlu terburu-buru untuk segera melakukan,” ujar pimpinan the Fed, Jerome Powell, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (21/3/2019).

Perkiraan ekonomi terbaru yang dirilis pada akhir pertemuan juga menunjukkan para pembuat kebijakan telah mengabaikan proyeksi kenaikan suku bungada 2019, dan melihat hanya satu kenaikan suku bunga pada 2020.

Usai pengumuman itu, prediksi mulai memberi harga untuk peluang penurunan suku bunga lebih baik dari pada tahun depan. Powell mendorong kembali pada pandangan itu dan mengatakan ekonomi AS berada di tempat yang baik dan prospeknya “positif”.

Deflasi Februari 0,08 Persen, Ini Tanggapan BI

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi 0,08 persen pada Februari 2019.

Ini berbanding terbalik dibandingkan Februari 2018 yang mengalami inflasi yang sebesar 0,17 persen (yoy) dan Januari 2019 yang sebesar 0,32 persen (mtm).

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan, deflasi yang terjadi pada bulan ini menunjukan pencapaian positif di awal tahun.

Artinya, pemerintah telah berhasil dan menekan sejumlah beberapa harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.

“Dan ini juga sejalan dengan survei pemantauan harga yang kami sampaikan sebelumnya bahwa memang harga-harga Alhamdulillah terus terkendali,” kata dia saat ditemui di Kompleks Masjid Bank Indonesia, Jumat (1/3/2019).

Perry mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya, sejumlah harga dari beberapa komoditas memang telah turun. Penurunan itu terjadi misalnya pada daging ayam, cabai merah, bawang, hingga telur.

“(Berkat) koordinasi dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia dan berbagai pihak menunjukan bahwa harga harga terkendali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat semua komoditas khususnya bahan bahan makanan itu mengalami penurunan,” pungkasnya.


Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

Laporan BPS

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi0,08 persen pada Februari 2019. Ini berbeda dibandingkan Februari 2018 yang mengalami inflasi sebesar 0,17 persen (yoy) dan Januari 2019 sebesar 0,32 persen (mtm).

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti melaporkan dari 82 kota cakupan perhitungan indeks harga konsumen (IHK), sebanyak 69 kota mengalami deflasi. Sedangkan 13 kota mengalami inflasi.

Deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,11 persen dan terendah Serang sebesar 0,02 persen. Sedangkan inflasi tertinggi yaitu di Tual sebesar 2,98 persen dan terendah di Kendari sebesar 0,03 persen.

“Deflasi di Merauke lebih disebabkan oleh penurunan harga sayuran, cabai, itu mengalami penurunan harga. Inflasi tertinggi di Tual disebabkan karena sayuran khususnya bayam dan ikan segar,” tandas dia.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Akhir Pekan, IHSG Dibuka Menguat di 6.470

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pagi ini. IHSG dibuka di level 6.470.

Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah pagi ini berada di level Rp 14.100. Posisi dolar AS lebih perkasa dibanding posisi kemarin yang Rp 14.030.

Pada perdagangan pre opening, IHSG naik 25,272 poin (0,39%) ke 6.468,620. Indeks LQ45 juga menguat tipis 6,151 poin (0,61%) ke 1.022,027.

Membuka perdagangan, Jumat (1/3/2019), IHSG naik tipis 27,090 poin (0,42%) ke 6.470,438. Indeks LQ45 naik 6,173 poin (0,04%) ke 1.012,272.

Pada pukul 09.05 waktu JATS, IHSG melanjutkan pelemahan dengan penurunan 36,895 poin (0,57%) ke 6.480. Indeks LQ45 juga naik 8,874 poin (0,88%) ke 1.006,087.

Sementara itu, indeks utama bursa saham AS ditutup dalam teritori negatif pada perdagangan hari Kamis. Indeks Dow Jones turun 0.27%, S&P melemah 0.28% dan Nasdaq tertekan 0.29%.

Penurunan indeks terjadi pasca rilisnya data pertumbuhan ekonomi AS kuartal IV 2018 yang tercatat melambat menjadi 2.6% qoq lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 3.4%.

Adapun data indeks manufaktur dari Fed Kansas menunjukkan terjadi kontraksi yang cukup berisiko dimana indeks manufaktur negatif 4 dari sebelumnya positif 2.

Sementara itu, dari Bursa saham China yakni indeks Shanghai mengalami penurunan 0.44% seiring rilisnya data NBS manufacturing PMI bulan Februari yang di level 49.2 turun dari sebelumnya di level 49.5, serta data Non Manufacturing PMI bulan Februari di level 54.3 juga menurun dari sebelumnya di level 54.7.

Perdagangan bursa saham Asia mayoritas bergerak merah pagi ini. Berikut pergerakannya:

  • Indeks Nikkei 225 naik 178,801 poin ke 21.563
  • Indeks Hang Seng bertambah 58,01 poin ke 28.691
  • Indeks Komposit Shanghai turun 3,320 poin ke 2.937
  • Indeks Strait Times naik 4,370 poin ke 3.217

(fdl/fdl)

IHSG Diprediksi Bakal Tertekan

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi terkoreksi pada perdagangan saham Jumat (1/3/2019). IHSG kemungkinan tertekan dengan diperdagangkan pada level 6.418-6.585.

Dari sisi global, pasar akan menantikan data harga konsumen Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada pekan ini. Sedangkan dari domestik, pemerintah mencatat isu-isu geopolitik seperti pembicaraan dagang AS-China masih berlanjut.

Tak hanya itu, Pertemuan Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un menandakan bahwa risiko geopolitik berpeluang melandai.

“Melihat hal ini, IHSG kemungkinan masih akan tertekan pada kisaran support dan resistance di level 6382-6494,” ungkap Head of Research PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi Taulat.

Adapun menurut Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan, IHSG secara teknikal menunjukan potensi pelemahan di rentang 6.374-6.561.

Saham-saham rekomendasi hari ini ialah sebagai berikut:

Saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT JAPFA Tbk (JPFA), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

Kemudian saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).

2 dari 2 halaman

Penutupan Kemarin

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona merah pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Aksi jual investor asing menekan laju IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Kamis (28/2/2019), IHSG merosot 82,33 poin atau 1,26 persen ke posisi 6.443,34. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,53 persen ke posisi 1.006,09. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 282 saham melemah sehingga menekan laju IHSG. 124 saham menguat belum mampu menahan pelemahan IHSG. 126 saham diam di tempat. Pada Kamis pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.526,93 dan terendah 6.433,34.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 473.327 kali dengan volume perdagangan saham 14,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 10,7 triliun.

Investor asing jual saham Rp 1,25 triliun di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran Rp 14.065. 10 sektor saham kompak tertekan. Sektor saham aneka industri turun 4,81 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul sektor saham manufaktur tergelincir 1,7 persen dan sektor saham tambang merosot 1,69 persen.

Di tengah tekanan IHSG, ada sejumlah saham yang mampu menguat. Saham-saham itu antara lain saham OCAP naik 24,58 persen ke posisi 294 per saham, saham HDFA melonjak 21,62 persen ke posisi 180 per saham, dan saham TOBA menanjak 7,84 persen ke posisi 1.720 per saham.

Sedangkan saham-saham yang melemah antara lain saham TINS merosot 13,29 persen ke posisi 1.370 per saham, saham CINT tergelincir 12,41 persen ke posisi 254 per saham, dan saham ARII terpangkas 6,59 persen ke posisi 850 per saham.

Bursa saham Asia kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng merosot 0,43 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi turun 1,76 persen, dan bukukan penurunan terbesar di Asia.

Selain itu, indeks saham Jepang Nikkei susut 0,79 persen, indeks saham Thailand melemah 0,56 persen, indeks saham Shanghai merosot 0,44 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 1,15 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, ada sejumlah faktor pengaruhi IHSG. Pertama, minimnya sentimen positif dari dalam negeri. Kedua, lesunya aktivitas manufaktur dan non-manufaktur di China yang ditandai dengan turunnya data indeks.

Ketiga, meredanya optimisme terhadap hubungan perdagangan AS dengan China akibat pernyataan dari ketua perwakilan dagang AS Robert Lighthizer.

Keempat, Belum tercapainya kesepakatan denuklirisasi di kawasan Semenanjung Korea pada perundingan tingkat tinggi antara AS dan Korea Utara di Vietnam. “Kelima krisis Kashmir menyebabkan para pelaku pasar memindahkan asetnya kepada instrumen yang bersifat safe haven seperti emas, yen, dan swiss franc,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

IHSG Diprediksi Melemah, Cek Saham yang Bisa Dikoleksi

Liputan6.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramalkan terkoreksi pada perdagangan saham Kamis (28/2/2019). Performa IHSG diperkirakan melaju ke zona merah pada kisaran support 6.503 dan resistance di 6.543.

Pekan ini, investor menantikan data produk domestik bruto atau (GDP) Amerika Serikat (AS) yang akan segera dirilis. Sedangkan dari dalam negeri, investor masih menantikan rilis laporan keuangan emiten untuk tahun penuh 2018.

Seiring momen wait and see ini (menunggu), laju IHSG diprediksi untuk melemah dalam jangka pendek. Adapun saat ini secara teknikal indikator stochastic berada di sekitar area overbought (jenuh beli) sehingga rentang penguatan menjadi terbatas.

“Selain itu, pelemahan diakibatkan faktor global setelah the Fed memberikan sinyal tidak akan agresif menaikkan suku bunga dikarenakan beberapa data ekonomi AS menunjukkan adanya pelemahan. IHSG kemungkinan diperdagangkan di rentang 6.503-6.543,” ujar Analis PT Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan di Jakarta.

Melanjutkan, momentum pasar yang kini masih cenderung wait and see, Analis PT Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan memang menilai IHSG akan tertekan pada hari ini.

“Potensi koreksi wajar IHSG saya prediksikan akan berlabuh pada rentang harga 6.482-6.561,” ujarnya.

Adapun saham rekomendasi menurut dia hari ini ialah saham PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Sedangkan Dennies menyarankan saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), serta PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Wall Street Bervariasi Usai Ada Pernyataan Perwakilan Dagang AS

Liputan6.com, New York – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi setelah perwakilan dagang AS Robert Lighthizer mengatakan, AS dan China masih kerja keras capai kesepakatan dagang.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 72 poin atau 0,27 persen ke posisi 25.985. Indeks saham S&P 500 susut 4 poin atau 0,14 persen ke posisi 2.789,90. Indeks saham Nasdaq menguat lima poin ke posisi 7.554.

Sentimen negosiasi dagang AS-China menjadi sorotan. Kepada kongres, Lighthizer mengatakan, kalau isu AS hadapi China sangat serius untuk diselesaikan dengan komitmen membeli lebih banyak barang AS dan perubahan struktural China.

Ini adalah komentar publik pertama dari pemimpin negosiator AS sejak Presiden AS Donald Trump menuturkan akan menunda penerapan kenaikan tarif impor barang China pada 1 Maret karena ada kemajuan dalam negosiasi.

“Ketika berita keluar dari Gedung Putih, kita seperti masih punya jalan, dan pelaku pasar optimistis. Kemudian tiba-tiba defensif,” ujar Market Strategist Informa Financial Intelligence, Ryan Nauman, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (28/2/2019).

Wall street melemah sejak awal perdagangan setelah pertemuan kedua antara Presiden AS Donald Trump dan Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam dan ketegangan antara India dan Pakistan.

Dari 11 sektor saham, enam sektor saham bergerak melemah. Sektor saham teknologi bebani wall street dengan turun 0,24 persen. Saham Microsoft Corp dan Intel Corp alami penurunan terbesar.

Adapun indeks saham S&P 500 alami penurunan terbesar lantaran harga minyak yang naik sehingga angkat sektor saham energi. Sektor saham tersebut naik 0,74 persen. Saham Exxon Mobil Corp dan Chevron Corp naik satu persen.

2 dari 2 halaman

Pimpinan The Fed Berikan Testimoni

Pimpinan the Federal Reserce Jerome Powell pun memberikan testinomi sebelum pertemuan komite the House Financial Service. Ia mengatakan, the federal Reserve akan bersabar untuk penyesuaian suku bunga.

Optimistme negosiasi perang dagang dan sinyal dovish dari the Federal Reserve atau bank sentral AS mendorong saham pada minggu-minggu ini.

Saham Mylan NV melemah 0,38 persen setelah sektor perawatan kesehatan alami kinerja laba kuartalan yang tak sesuai harapan. Selain itu, prediksi kinerja melemah pada 2019.

Sedangkan saham Best Buy Co naik 16,8 persen usai penjualan kuartalan toko atau ritel elektronik mengalahkan harapan analis. Perseroan juga mengumumkan menaikkan dividend an membeli kembali saham.

Investor sedang menunggu pengumuman produk domestik bruto (PDB) pada kuartal IV oleh Departemen Perdagangan. Pengumuman ini akan termasuk data-data perkiraan PDB.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ingin Pendidikan Berkualitas, Sandiaga Tak Ingin Janji dengan Kartu Sakti

Liputan6.com, Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno yakin programnya lebih baik dari kartu ‘sakti’ milik capres petahana Joko Widodo atau Jokowi. Namun, Sandi tak menjelaskan jelas apa kartu tandingannya. Dia hanya mencontohkan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) plus saat ia menjabat wakil gubernur DKI Jakarta.

“Kartu Jakarta Pintar kita modifikasi menjadi KJP plus di DKI, dan alhamdulillah itu berjalan dengan baik,” kata Sandiaga di Rumah Djoeang, Jakarta Selatan, Rabu (27/2).

Sandi mengatakan, pihaknya lebih mendorong sistem pendidikan yang tuntas berkualitas serta sistem pendidikan berbasis karakter.

“Kita tidak ingin mengobral-obral janji dengan kartu yang lebih sakti lagi. Karena bagi kita yang penting adalah sistem pendidikan ini bisa mengangkat indeks-indeks yang agak mengkhawatirkan ya kalau kita lihat,” tuturnya.

Menurutnya, Indonesia tertinggal dibanding negara-negara tetangga dalam kemampuan STEM. Yaitu sains, teknologi, engineering dan math. Kemudian dari segi riset dan teknologi Indonesia juga masih harus bekerja lebih ekstra. Maka dari itu perlu perbaikan yang lebih luas di sistem pendidikan.

“Jadi sebagai salah satu harapan ke depan adalah memperbaiki secara menyeluruh. Bagaimana akses pendidikan itu jangan hanya disiasati melalui pembangunan infrastrukturnya tapi juga peningkatan daripada kualitas program belajar mengajar itu sendiri,” pungkas Sandiaga.


Reporter: Muhammad Genantan Saputra

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Wiranto Redam Keresahan Pengusaha: Pilpres 2019 Aman

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah memastikan penyelenggaraan Pemilihan Presiden 2019 akan berlangsung aman. Ketegasan ini disampaikan mengingat banyaknya pengusaha yang menyampaikan keresahannya kepada pemerintah.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan HAM Wiranto mengatakan, banyak informasi yang beredar baik melalui media masa atau media sosial yang membuat para pengusaha resah.

“Saya sering ditanya teman-teman pengusaha, apa betul Pemilu April aman? Saya tanyakam kenapa? Katanya ada berita bahwa ada isu Pemilu nanti tidak aman. Akan ada satu kerusuhan yang membuat tidak aman. Ini isu. Saya katakan tidak. Pemilu aman,” ucap Wiranto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Dia menceritakan, bahkan ada sejumlah pengusaha yang sudah merencanakan keluar dari Indonesia saat penyelenggaraam pemilu nantinya dan memilih untuk tidak menggunakan hak suaranya.

Wiranto mengaku terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, KPU dan Banwaslu untuk memastikan penyelenggaraan pemilu nantinya tidak ada konflik sama sekali. Karena, pemilu ini, baginya, menyangkut harkat dan martabat Indonesia.

Dari sisi kemanan, pemerintah sudah bekerjasama dengan Polri untuk membuat indeks potensi gangguan penyelenggaraan pemilu. Hasil indeks ini dikeluarkan setidaknya enam bulan sebelum penyelengaraan pemilu 17 April 2019.

“Jadi dari indeks itu kita bisa tau berbagai potensinya dan kita langsung netralisir. Sehingga perhitungan kami dari aparat kemanan maka pemilu 2019 akan berlangsung aman,” tegas Wiranto.

“Maka dari itu jangan percaya hoax, tetap tinggal di Indoensia dan menjadi pemilih yang baik. Kalau mau bepergian setelah pemilu saja,” tutup Wiranto.

(Liputan6.com/Ilyas Praditya)

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan, Pantau Saham Pilihan Ini

Liputan6.com, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan melanjutkan penguatan pada Selasa (26/2/2019).

Analis menuturkan, IHSG akan ditutup pada zona hijau di kisaran support dan resistance di level 6.514-6.600.

Dari sisi global, Analis PT Artha Sekuritas, Dennies Christoper Jordan menuturkan, kondisi eksternal semakin kondusif dengan didorongnya kabar baik dari negosiasi dagang China dan Amerika Serikat (AS) serta diperkirakan dapat menopang pergerakan IHSG Selasa pekan ini.

Ia memproyeksikan, IHSG bakal bertengger di zona positif di rentang 6.514-6.600 Tak hanya itu, hasil rilis laporan keuangan emiten 2018 dinilai menjadi sentimen yang baik bagi laju IHSG.

Menurut Analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Suryawijaya, kinerja emiten itu akan menopang indeks untuk melaju cerah pada perdagangan Selasa.

Lebih lanjut ia menuturkan, pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam bakal mempengaruhi investor mengingat pertemuan ini adalah yang kedua sebelumnya di Singapura mengenai denuklirisasi. 

Melihat kondisi ini, beberapa saham berkapitalisasi besar yang disarankan William ialah saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Sedangkan Dennies menganjurkan saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Indika Energy Tbk (INDY), serta PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

2 dari 2 halaman

IHSG Menguat pada Perdagangan Kemarin

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan saham awal pekan ini.

Aksi beli investor asing dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dukung penguatan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Senin 25 Februari 2019, IHSG menguat 23,98 poin atau 0,37 persen ke posisi 6.525,35. Indeks saham LQ45 naik 0,45 persen ke posisi 1.020,04. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 216 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 195 saham melemah dan 148 saham diam di tempat.

Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.538,49 dan terendah 6.507,92. Total frekuensi perdagangan saham 449.851 kali dengan volume perdagangan 17,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 9,3 triliun.

Investor asing beli saham Rp 266,47 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran 14.018.

Sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham pertanian turun 1,05 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul sektor saham barang konsumsi tergelincir 0,40 persen dan sektor tambang melemah 0,14 persen.

Sementara itu, sektor saham infrastruktur menguat 1,3 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Disusul sektor saham industri dasar naik 0,99 persen dan sektor saham keuangan menanjak 0,57 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham HDFA naik 34,33 persen ke posisi 180 per saham, saham OCAP melonjak 34,02 persen ke posisi 130 per saham, dan saham CANI menanjak 33,33 persen ke posisi 240 per saham.

Sementara itu, saham yang tertekan antara lain saham CSIS turun 11,19 persen ke posisi 119 per saham, saham BEST merosot 9,77 persen ke posisi 240 per saham, dan saham BNLI tergelincir 8,06 persen ke posisi 970 per saham.

Bursa saham Asia kompak menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,50 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,09 persen, dan indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,48 persen.

Sementara itu, indeks saham Thailand naik 0,74 persen, indeks saham Shanghai menguat 5,6 persen, dan bukukan penguatan terbesar di Asia. Indeks saham Singapura naik 0,07 persen dan indeks saham Taiwan menguat  0,66 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, para pelaku pasar global sangat mengapresiasi nota kesepahaman antara AS dan China perihal kesepakatan perdagangan sehingga membuat IHSG dan rupiah menguat terhadap dolar AS.

“Adapun stabilitas fundamental makro ekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan juga mendukung penguatan IHSG,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Wall Street Melonjak Usai Trump Tunda Kenaikan Tarif Impor China

Liputan6.com, New York – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street naik pada hari Senin (Selasa pagi WIB) setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan menunda penerapan tarif tambahan pada barang-barang China.

Dikutip dari CNBC, Selasa (26/1/2019), indeks Dow Jones Industrial Average melonjak sebanyak 209,61 poin sebelum ditutup 60,14 poin lebih tinggi di level 26.091,95 ditopang kenaikan saham Caterpillar dan DowDuPont.

Indeks S&P 500 naik 0,1 persen menjadi 2.796,11 karena penguatan sektor material dan teknologi. Indeks Nasdaq naik 0,36 persen menjadi 7.554,46. Indeks utama jatuh ke posisi terendah hari ini di menit terakhir perdagangan.

Donald Trump mengatakan dalam serangkaian tweet bahwa AS tidak akan menambah tarif impor China pada awal Maret.

“Saya senang untuk menyampaikan bahwa AS telah melakukan kemajuan penting dalam perbincangan kami tentang perdagangan dengan Cina dalam isu struktural penting termasuk hak cipta intelektual, transfer teknologi, pertanian, pelayanan, pertukaran mata uang, dan bayak isu lainnya,” cuit Trump.

“Sebagai hasil dari percakapan produktif ini, saya akan menunda kenaikan tarif yang sebelumnya ditetapkan 1 Maret. Dengan asumsi bahwa kedua belah pihak membuat kemajuan berarti, kami merencanakan pertemuan antara Presiden Xi dan saya, di Mar-a-Lago, untuk meneguhkan kesepakatan.”

Tak hanya Wall Street, Bursa saham China menguat menyambut tweet Trump semalam. Shanghai Composite melonjak 5,6 persen, membukukan kenaikan satu hari terbesar sejak 9 Juli 2015. Sementara itu, dana yang diperdagangkan di bursa iShares China Large-Cap (FXI) naik 2 persen dalam perdagangan AS. Saham Caterpillar dan Boeing masing-masing naik 1,97 persen dan 0,67 persen.

“Selama China dan AS berbicara, pasar akan berpikir bahwa sesuatu akan dilakukan,” kata Michael Cuggino, Presiden di Permanent Portofolio Funds. “Itu hal yang baik.”

Tak hanya itu, pasar saham juga terangkat usai General Electric mengumumkan akan menjual bisnis biofarmasi ke Danaher seharga USD 21,4 miliar. Berita kesepakatan itu mengirim saham GE naik lebih dari 6 persen. Saham Danaher juga melonjak 8,5 persen.

Sementara itu, Barrick Gold meluncurkan penawaran untuk mengakuisisi Newmont Mining sebesar USD 7 miliar dalam kesepakatan seluruh saham. Jika disetujui, kesepakatan itu akan datang setelah bertahun-tahun harga emas stagnan. Logam mulia telah diperdagangkan antara USD 1.000 dan USD 1.400 per ounce dalam beberapa tahun terakhir.

Indeks utama dimulai seminggu setelah seminggu yang solid. Dow dan Nasdaq membukukan kenaikan mingguan kesembilan berturut-turut minggu lalu, sementara S&P 500 mencatat delapan kenaikan satu minggu dalam sembilan.