Idrus Marham Jalani Sidang Tuntutan Kasus Suap Proyek PLTU Riau-1 Hari Ini

Jakarta – Mantan Menteri Sosial, Idrus Marham akan menjalani sidang tuntutan kasus suap proyek PLTU Riau-1 hari ini. Kuasa hukum Idrus berharap jaksa KPK menuntut ringan kliennya.

“Iya (sidang tuntutan). Harapan saya, saudara Idrus Marham dituntut seringan-ringannya,” ujar kuasa hukun Idrus, Samsul Huda saat dihubungi detikcom, Kamis (21/3/2019).

Samsul menyebut kliennya sudah bersikap kooperatif selama proses penyidikan dan persidangan. Bahkan Idrus Marham sudah mengundurkan diri sebagai Mensos sebelum menjadi tersangka perkara itu.
“Idrus Marham sudah bersikap kooperatif dengan mengikuti semua proses penyidikan dan persidangan dengan baik. Bahkan saudara Idrus dengan besar hati mengundurkan diri sebagai menteri sebelum diumumkan sebagai tersangka,” tuturnya.

“Idrus Marhan tidak mengajukan upaya hukum praperadilan maupun mengajukan nota keberatan (eksepsi) terhadap surat dakwaan, sehingga sidang berjalan sangat lancar,” lanjut Samsul.

Saat persidangan, menurut Samsul para saksi pun menyebut Idrus tidak tahu soal proyek PLTU Riau-1. Fakta sidang juga menunjukkan ada pihak lain yang sudah merancang dan bagi-bagi keuntungan proyek tersebut.

“Idrus benar-benar tidak tahu menahu. Idrus Marham ada dalam pusaran kasus Riau, karena ‘ditarik-tarik’ dan ‘dicatut namanya’ oleh Eny Saragih, sebagaimana pengakuan Eny Saragih di depan sidang. Tindakan Eny Saragih semua untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk membiayai Pilkada Suaminya di Temanggung,” kata Samsul.

Samsul mengatakan, mantan Sekjen Golkar itu juga tidak menerima uang dan tidak tahu mantan anggota DPR Eni Maulani Saragih menerima uang terkait proyek PLTU Riau-1.

“Idrus Marham sama sekali tidak menerima uang dan tidak tahu kalau Eni Saragih menerima uang terkait proyek Riau. Bahkan Idrus Marham kaget ketika tahu kalau Eni menerima uang dari Samin Tan dan kawan-kawan untuk Pilkada Suaminya, sehingga terkena pasal Gratifikasi,” paparnya.

Dalam perkara ini, Idrus Marham didakwa menerima suap Rp 2,25 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Duit itu disebut jaksa diterima Idrus untuk bersama-sama mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih membantu Kotjo mendapatkan proyek di PLN.

Proyek itu sedianya ditangani PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC Ltd). Kotjo merupakan pemilik BNR, yang mengajak perusahaan asal China, yaitu CHEC Ltd, menggarap proyek itu.

Sekjen Golkar itu ingin menggantikan Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Idrus pun disebut jaksa mengarahkan pemberian suap untuk kepentingan Musyawarah Nasional Luas Biasa (Munaslub) Partai Golkar. Ketika itu, Novanto terjerat perkara korupsi proyek e-KTP, sehingga posisi Ketua Umum Partai Golkar pun goyang.
(fai/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hak Politik Eni Saragih Dicabut Hakim Selama 3 Tahun

Jakarta – Majelis hakim menjatuhkan hukuman tambahan bagi Eni Maulani Saragih yaitu pencabutan hak politik selama 3 tahun. Mantan anggota DPR itu sebelumnya divonis hukuman pidana penjara tahun selama 6 tahun karena terbukti bersalah menerima suap dan gratifikasi.

“Menjatuhkan hukuman tambahan kepada terdakwa berupa pencabutan hak dipilih dalam jabatan publik selama 3 tahun, yang dihitung sejak terdakwa selesai menjalani pokok pidana,” kata hakim ketua Yanto saat amar putusan dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2019).

Eni Saragih divonis 6 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 2 bulan kurungan. Eni Saragih bersalah menerima uang suap Rp 4,75 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo.

Uang suap dimaksudkan agar Eni membantu Kotjo mendapatkan proyek PLTU Riau-1 di PLN. Proyek itu sedianya ditangani PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC Ltd). Kotjo merupakan pemilik BNR yang mengajak perusahaan asal China, yaitu CHEC Ltd, untuk menggarap proyek itu.

Uang suap yang diterima Eni untuk kepentingan Partai Golkar melaksanakan munaslub. Ketika itu, Eni diminta Plt Ketum Idrus Marham meminta uang USD 2,5 juta dari Kotjo. Novanto selaku Ketum Golkar sekaligus Ketua DPR saat itu terjerat kasus proyek e-KTP dan digantikan Idrus Marham selaku Sekjen Golkar.

Eni juga menerima uang Rp 2 miliar dan Rp 500 juta dari Kotjo untuk keperluan Pilkada Temanggung yang diikuti oleh suami terdakwa, yaitu M Al Khadziq.

Selain itu, jaksa menyakini Eni bersalah menerima gratifikasi sebesar Rp 5,6 miliar dan SGD 40 ribu. Uang itu diterima Eni dari sejumlah direktur dan pemilik perusahaan di bidang minyak dan gas.

Seluruh uang gratifikasi yang diterima Eni digunakan membiayai kegiatan pilkada suami terdakwa, yaitu M Al Khadziq, serta untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.

Dalam Pilkada Kabupaten Temanggung itu, Khadziq berpasangan dengan Heri Wibowo sebagai calon wakil bupati yang diusung Partai Golkar. Pada akhirnya, mereka memenangi pilkada dan terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati Temanggung.
(fai/dhn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Nasdem: Impor Pangan untuk Kepentingan Negara

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Fraksi NasDem DPR RI Ahmad M Ali menyayangkan pernyataan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Firman Soebagyo yang terkesan menuding Partai Nasdem bertanggung jawab urusan impor. NasDem menegaskan bahwa impor pangan untuk kepentingan negara.

Ahmad M Ali menilai pernyataan tidak mendasar Firman tak patut diucapkan oleh negarawan yang saat ini menjadi wakil rakyat di DPR RI.

“Apa yang disampaikan oleh Firman Soebagyo itu menunjukan bahwa ia bukan seorang negarawan, dan sama sekali tidak mengerti urusan tata negara. Pernyataannya itu, terkesan tendensius tidak etis, dan tidak pantas karena secara vulgar menyebut Partai NasDem bertanggung jawab masalah impor pangan,” ujar Ali dalam keterangan, Sabtu (16/2/2019).

Ali menekankan, negara melalui Presiden dan Menteri memiliki pertimbangan yang bersifat komperehensif dalam menentukan kebijakan impor berdasarkan data dan pertimbangan banyak hal, misalnya, soal inflasi, kebutuhan nasonal, ketercukupan pangan, dan pemenuhan nasional.

“Keputusan soal impor pangan itu tidak ada kaitannya dengan kebijakan atau kepentingan partai politik, atau NasDem. Walaupun Pak Enggar sebagai Menteri Perdagangan adalah kader NasDem, tetapi ia sudah diwakafkan sebagai abdi negara setelah jadi menteri. Kebijakan dia, itu murni soal urusan negara,” terang Ali.

Bendahara Umum Partai DPP Partai NasDem ini menyebut bahwa kebijakan impor tidak bisa dilihat dalam satu sudut pandang saja. Tetapi harus melihat hal itu, dalam urusan kepentingan nasional.

“Bila landasan argumen adalah berbasis curiga tanpa data, maka kita akan disesatkan oleh pernyataan Firman. Tidak ada kaitan NasDem dengan impor pangan, tidak ada orang NasDem yang bergerak dalam urusan bisnis seperti itu,” Ali meyakinkan.

2 dari 2 halaman

Jangan Generalisasi

Lebih jauh Ali menyesalkan pernyataan Firman menggeneralisasi kepentingan negara dengan kebijakan partai. Pernyataan itu dipandangnya tidak logis dan terkesan sebagai manuver. Tidak ada alasan mengaitkan kebijakan Istana dengan impor pangan urusan kepentingan Partai NasDem.

“Saya kasih contoh begini, apakah ketika Setya Novanto korupsi dana E-KTP itu lantas bisa disebut sebagai tanggung jawab Partai Golkar?,” ujar Ali.

“Idrus Marham selaku Menteri Sosial ketika ditersangkakan menerima suap, apakah juga bisa kaitkan tanggung jawab Partai Golkar? Kan tidak begitu cara pandanganya,” sambungnya.

Ali meminta Firman untuk segera mengklarifikasi pernyataan itu karena dianggap tidak pantas, dan merugikan nama Partai NasDem.

“Firman harus mengklarifikasi pernyataan itu karena tidak etis dan ceroboh. Itu merugikan Partai NasDem yang sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan urusan impor pangan,” tegasnya.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Kejagung Tangkap Buron Kasus Korupsi Jalan di Koja, Ali Patta

Liputan6.com, Jakarta – Tim Intelijen Kejaksaan Agung bersama Kejari Jakarta Utara dan Kejari Kuningan menangkap Ali Patta. Dia merupakan buronan terpidana kasus korupsi pengawasan peningkatan jalan pada Sudin Perumahan dan Gedung Jakarta Utara yang merugikan negara sebesar Rp 513 juta.

“Terpidana Ali Patta berhasil diamankan di Perumahan Alam Asri, Kelurahan Kasturi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat sekira pukul 16.15 WIB tadi,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Nirwan Nawawi melalui keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Nirwan menuturkan, eksekusi tersebut dilakukan atas dasar putusan Mahkamah Agung Nomor: 413 K/Pid.Sus/2017 tanggal 4 November 2017. Ali Patta dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama pada kegiatan pengawasan dan peningkatan jalan dan saluran Kecamatan Koja tahun anggaran 2013.

“Atas perbuatannya, Ali Patta dijatuhi pidana penjara selama 5 tahun kurungan dan denda sebesar Rp 200 juta dengan ketentuan jika denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama bulan, serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp. 513.548.887,” ucap Nirwan.

Nirwan menambahkan, penangkapan Ali Patta merupakan wujud dari pelaksanaan program TABUR 31.1 JAM Intel yang menargetkan masing masing Kejati minimal dapat menangkap 1 buronan untuk setiap bulannya.

2 dari 3 halaman

Penampilan Ali Patta

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Dirut PLN Tak Bantah soal Telepon Eni Saragih Bahas Idrus Marham

Liputan6.com, Jakarta – Direktur Utama PT PLN Persero, Sofyan Basir tak menampik, mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih menghubunginya terkait investor PLTU Riau-1. Pada percakapan tersebut, kata dia, Eni juga menyinggung Idrus Marham, mantan Menteri Sosial yang berstatus terdakwa saat ini.

Awalnya, jaksa penuntut umum pada KPK memutar rekaman percakapan antara Eni dengan Sofyan, tertanggal 2 Juli 2018. Dari percakapan berdurasi kurang dari satu menit itu, Eni mengajak Sofyan bertemu. 

Di percakapan itu Eni mengatakan pertemuan dengan Sofyan Basir sangat penting setelah urusan dengan investor PLTU Riau-1 China Huadian Engineering Co. Ltd (CHEC) selesai, guna membahas Idrus Marham. 

Berikut percakapan Eni dengan Sofyan:

Eni: Aku penting pengen ketemu bapak, bisa ketemu bapak hari ini? 

Sofyan: Lagi di Ujung Pandang.

Eni: Oh lagi di Ujung Pandang, kapan balik pak?

Sofyan: Besok bisa ketemu boleh.

Eni: Oh, karena ini, terkait karena yang kemarin dengan Huadian sudah selesai karena ini juga penting buat bang Idrus kita hehehe. Karena yang bisa ngomong ke Pak Kotjo itu Pak Sofyan.

Sofyan: Oke oke.

Eni: Saya tunggu ketemu Pak Sofyan dulu sendiri baru nanti saya ajak ketemu Pak Kotjo.

Usai diputarkan rekaman percakapannya dengan Eni, Sofyan mengaku tidak tahu-menahu maksud pembicaraan tersebut. Dia berdalih, menanggapi pembicaraan Eni agar percakapan cepat selesai karena saat itu Sofyan mengaku sedang bersama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno.

Jaksa juga mempertanyakan ucapan Eni yang mengatakan kepentingan untuk mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar tersebut.

“Ini juga penting buat Pak Idrus, mengatakan bisa berkomunikasi dengan Pak Kotjo cuma Pak Sofyan. Kok penting buat Pak Idrus?” tanya jaksa kepada Sofyan saat memberikan keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Idrus Marham di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

“Mohon maaf posisi saya depan menteri jadi tidak menangkap pembicaraan,” jawab Sofyan Basir.

2 dari 3 halaman

Bertemu di Rumah Eni Saragih

Setelah Sofyan kembali ke Jakarta, pertemuan diadakan di kediamannya bersama Eni Maulani Saragih, Johannes Budisutrisno Kotjo, dan Idrus Marham. Pada pertemuan itu, Sofyan menegaskan tidak ada pembahasan seperti yang dibahas Eni saat meneleponnya.

“Tidak, karena saat itu kehadiran tidak nyaman, saya agak kecewa dengan Pak Kotjo,” ujar Sofyan.

Sofyan menjelaskan alasannya kecewa dengan Kotjo, sapaan akrab Johannes Budisutrisno Kotjo, karena meminta proyek PLTU Riau-2, sementara proyek PLTU Riau-1 belum selesai.

Sementara dalam kasus ini, Idrus Marham didakwa telah menerima Rp 2,25 miliar dari Johannes Kotjo. Uang tersebut diterima Idrus bersama-sama dengan Eni Maulani Saragih, mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR untuk keperluan kegiatan munaslub Partai Golkar. 

Dia didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.


Reporter: Yunita Amalia

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Dirut PLN Jadi Saksi Idrus Marham di Sidang Kasus PLTU Riau-1 Hari Ini

Jakarta – Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir hari ini akan bersaksi di sidang kasus suap PLTU Riau-1 dengan terdakwa Idrus Marham. Sebelumnya, Sofyan sudah menjadi saksi sidang dengan terdakwa lainnya.

“Saksi Sofyan Basir, Iwan Supangkat dan Sarmuji,” kata kuasa hukum Idrus Marham, Samsul Huda kepada wartawan, Selasa (12/2/2019).

Selain Sofyan Basir, Direktur Pengadaan Strategis 2 PT PLN Supangkat Iwan dan Wasekjen Partai Golkar Sarmuji juga dijadwalkan bersaksi untuk perkara tersebut. Keduanya sebelumnya juga pernah bersaksi di sidang kasus suap PLTU Riau-1 dengan terdakwa lain.
Idrus Marham didakwa menerima suap Rp 2,25 miliar dari pengusaha Johanes Budisutrisno Kotjo. Duit itu disebut jaksa diterima Idrus untuk bersama-sama mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih membantu Kotjo mendapatkan proyek di PLN.
Proyek itu sedianya ditangani PT Pembangkitan Jawa Bali Investasi (PJBI) dengan Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) dan China Huadian Engineering Company Limited (CHEC Ltd). Kotjo merupakan pemilik BNR yang mengajak perusahaan asal China yaitu CHEC Ltd untuk menggarap proyek itu.

Sekjen Golkar itu ingin menggantikan posisi Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Idrus pun disebut jaksa mengarahkan pemberian suap dari untuk kepentingan Musyawarah Nasional Luas Biasa (Munaslub) Partai Golkar. Ketika itu, Novanto terjerat perkara korupsi proyek e-KTP, posisi Ketua Umum Partai Golkar pun goyang.
(fai/mae)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

3 Andalan Persija Saat Hadapi Home United di Liga Champions Asia

Jakarta – Persija Jakarta meladeni Home United pada putaran pertama kualifikasi Liga Champions Asia 2019 di Stadion Jalan Besar, Singapura, Selasa (5/2/2019).

Bagi para suporter Persija, Home United bukanlah tim asing. Klub berjuluk The Protectors itu sempat bersua Marko Simic dan kawan-kawan pada semifinal Piala AFC, Mei 2018.

Akan tetapi, Persija gagal menembus partai puncak karena kalah agregat 3-6 dari sang lawan. Pada pertemuan pertama, Macan Kemayoran dikalahkan Home United 2-3.

Persija tentu bertekad membalas kekalahan itu pada laga kualifikasi Liga Champions Asia. Namun, pasukan Ivan Kolev dilanda masalah karena bakal bersua sang lawan dengan mayoritas muka-muka lama.

Empat pemain anyar, seperti Neguete, Ryuji Utomo, Jahongir Abdumuminov, dan Bruno Matos tidak bisa bermain. Mereka dipastikan absen karena regulasi International Transfer Certificate (ITC).

Harapan para suporter agar Persija menembus fase grup lantas ditujukan kepada para bintang musim lalu. Lantas, siapa sajakah sosok yang dimaksud? Berikut ini Bola.com untuk pembaca setia.

2 dari 4 halaman

Marko Simic

Sejak bergabung dengan Persija pada 2018, Simic telah mendulang 40 gol dari 42 pertandingan di berbagai kompetisi. Performa apik sang pemain mengantarkan Macan Kemayoran meraih berbagai prestasi, antara lain Liga 1 2018 hingga Piala Presiden 2018.

Konsistensi permainan Simic belum sirna meski telah memasuki musim baru. Ketika menghadapi 757 Kepri Jaya di Piala Indonesia, penyerang 31 tahun itu mendulang lima gol.

Simic tak ayal diharapkan bisa kembali tajam saat bersua Home United. Andai itu terjadi, kemenangan bukan hal mustahil diamankan oleh Persija.

3 dari 4 halaman

Riko Simanjuntak

Riko Simanjuntak merupakan pilar andalan Persija selama mengarungi Liga 1 2018. Teknik olah bola mumpuni plus dukungan kecepatan membuat pemain 27 tahun itu menjadi momok bagi pertahanan lawannya.

Sepanjang Liga 1 musim lalu, Riko berhasil mendulang tiga gol plus delapan assist untuk Persija. Sang pemain diharapkan tampil dengan performa serupa saat melawan Home United.

Menyisir dari sisi kanan, Riko bakal menjadi sosok kunci penyuplai bola untuk barisan penyerang. Umpan-umpan matangnya bakal membuat kans mendulang gol kian terbuka.

4 dari 4 halaman

Andritany Ardhiyasa

Kiper juga memiliki peran penting dalam mengangkat performa tim. Persija beruntung memiliki penjaga gawang kelas atas yang tersemat dalam diri Andritany Ardhiyasa.

Pengalaman Andritany dibutuhkan untuk mengatur lini belakang Persija. Selain itu, Andritany juga memiliki teknik apik untuk membendung serangan lawan jika bek melakukan kesalahan.

Situasi itu bakal menimbulkan rasa aman bagi lini serang untuk membombardir pertahanan lawan. Andai ketiga pemain yang telah dijabarkan ini dalam performa terbaik, Home United agaknya bukan hal mustahil untuk ditaklukkan.


Sumber: Bola.com

Eni Saragih Sebut Dirut PLN Sofyan Basir Minta Fee Sama Rata

Jakarta – Mantan anggota DPR Eni Maulani Saragih mengaku pernah bertemu dengan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir untuk membahas fee proyek PLTU Riau-1. Pertemuan itu dilakukan di Hotel Fairmont Jakarta.

Awalnya Eni mengaku kepada Sofyan belum mendapatkan apa pun dari proyek itu. Menurut Eni, Sofyan sempat terkejut atas pernyataannya itu.

“Saya sampaikan ke Pak Sofyan Basir bahwa saya belum terima apa pun dari PLTU Riau-1 dari Pak Kotjo (Johanes Budisutrisno Kotjo). Pak Sofyan kaget juga. Dia bilang, ‘Oh, ya’,” ucap Eni saat bersaksi dalam persidangan dengan terdakwa Idrus Marham di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (29/1/2019).

Saat itu, menurut Eni, Kotjo sedang berada di Beijing untuk bernegosiasi dengan perusahaan China yang akan menjadi investor proyek itu. Eni menyebut Kotjo ingin menggarap proyek PLN lainnya.

“Walaupun Pak Kotjo tetap minta yang Jambi III sama Riau-2, saya tahu jawaban Pak Sofyan selesaikan dulu yang Riau-1. Lalu, saya sampaikan bahwa Pak Sofyan dapat yang paling banyaklah,” ucap Eni.

Jaksa menanyakan maksud Eni ‘paling banyak’ itu seberapa banyak jatah dari Kotjo. Namun Eni mengaku tidak mengetahui berapa jumlahnya.

“Ada rezeki dari Kotjo, bagian Pak Sofyan disebut paling besar. Pak Sofyan bilang apa?” kata jaksa.

“Dia bilang, ‘Janganlah, jangan, disamain saja’,” ucap Eni.

Disamain sama siapa?” tanya jaksa lagi.

“Sama saya dan harapan saya sama Pak Idrus Marham,” jawab Eni lagi.

Selain itu, Eni mengaku sempat meminta Sofyan melobi Kotjo agar mau memberikan jatah kepada Idrus terkait proyek PLTU Riau-1. Dia menilai Sofyanlah yang pantas melobi Kotjo agar maksud dan tujuannya terlaksana.

“Saya minta Pak Sofyan bicara ke Pak Kotjo untuk minta Pak Idrus diperhatikan, saya datang ke situ agar Pak Sofyan bicara ke Kotjo. Kenapa harus bicara ke Kotjo, saya inginkan Pak Idrus dapat juga karena Pak Idrus orang yang kerja buat partai. Harapan saya, dia dapat fee dari Pak Kotjo,” ucapnya.

“Kenapa harus Sofyan Basir?” tanya jaksa.

“Kalau Pak Sofyan yang bicara kan Pak Kotjo pasti perhatikan, karena dia punya hajat dengan Pak Sofyan,” kata Eni.

Setelah pertemuan dengan Sofyan, Eni juga mengaku melaporkan hal itu kepada Idrus. Dia bercerita mengenai Sofyan yang tidak mau jika bagiannya lebih besar dan hanya mau disamaratakan dengan Eni.

Eni Saragih Sebut Dirut PLN Sofyan Basir Minta Fee Sama RataDirut PLN Sofyan Basir (Ari Saputra/detikcom)

Sofyan Pernah Bantah soal Fee Saat Jadi Saksi di Sidang

Mengenai hal itu, Sofyan pernah memberikan penjelasan. Dia mengakui pertemuan dengan Eni di Hotel Fairmont saat bersaksi dalam persidangan Kotjo pada Kamis, 25 Oktober 2018.

“Tidak ada sama sekali (bahas commitment fee),” ujar Sofyan saat itu.

Menurut Sofyan, pertemuan tersebut membahas batas kontrak kerja PLTU-1 selama 15 tahun sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan. Perusahaan Kotjo, yaitu Blackgold Natural Resources, harus menyepakati kontrak tersebut.

“Saya selalu menekankan bahwa ini harus 15 tahun apakah sudah selesai. Kan bu Eni kawan Pak Kotjo,” kata Sofyan.

Kepada Sofyan, jaksa KPK bertanya ada-tidaknya commitment fee yang disampaikan Eni Saragih atau Kotjo. Sofyan menyebutkan tidak pernah mendengar adanya commitment fee itu.

“Tidak ada sama sekali,” ucap Sofyan.

Lagi-lagi jaksa KPK bertanya ada-tidaknya Eni menyampaikan langsung jatah fee untuk Dirut PT PLN jika proyek PLTU Riau-1 sudah selesai dikerjakan perusahaan Kotjo. Tapi Sofyan menegaskan tidak pernah pembahasan dengan Eni mengenai jatah fee.

“Saya selalu bilang utamakan PLN. Saya selalu mengarah ke sana. Tapi, jujur, tidak pernah diarahkan Bu Eni untuk soal fee-fee,” kata Sofyan.

“Jadi apakah ngomongin jatah fee?” tanya jaksa kembali.

“Kalau ada yang ngomong begitu, saya tolak,” jawab Sofyan.
(dhn/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Lawan Persiwa, Pelatih Persib Usung Dua Misi Penting

Liputan6.com, Jakarta Pelatih Persib Bandung, Miljan Radovic, mengaku punya dua misi saat membawa anak asuhnya berlaga di Piala Indonesia. Radovic mengaku tak hanya menargetkan timnya meraih terus kemenangan di ajang itu.

Seperti diketahui, Persib akan berlaga menghadapi Persiwa Wamena di pertandingan pertama babak 32 besar Piala Indonesia, Minggu 27 Januari 2019 mendatang.

Radovic menjelaskan bahwa dirinya tak hanya menargetkan kemenangan pada laga itu. Ia bersama skuatnya berjanji menampilkan permainan yang menghibur.

“Kami siap bermain bagus. Kami harus pikir untuk pertandingan nanti dan juga leg kedua di Bandung,” ujar pelatih Persib berkebangsaan Montenegro itu, seperti dilansir situs resmi klub.

2 dari 3 halaman

Absen

Pada bagian lain Radovic menyebut bahwa menghadapi pertandingan lawan Wamena, Persib kemungkinan tidak bisa diperkuat beberapa pilarnya.

Nama-nama seperti kapten Supardi Nasir, Ghozali Siregar hingga Bojan Malisic dipastikan absen membela Maung Bandung.

3 dari 3 halaman

Tak Risau

Namun, kondisi tersebut tidak lantas membuat Radovic risau. Menurutnya, kehilangan sejumlah pemain kunci tak akan mengubah target untuk meraih kemenangan di laga nanti.

“Kalau dengan Bojan saya sudah melakukan komunikasi. Dia juga ada beberapa program latihan sebelum kembali. Tapi, saya percaya semua pemain. Semua pemain di sini bagus dan siap untuk bermain nanti. Kita ini tim besar dan harus menang pertandingan nanti,” paparnya.