Notre Dame Terbakar, Warganet Sibuk Cari Identitas Lelaki dan Anak Kecil di Balik Foto Viral

Liputan6.com, Jakarta – Hanya 23 menit sebelum api pertama kali dilaporkan terlihat di Notre Dame, seorang pengunjung situs populer di Paris, Prancis, Brooke Windsor, mengambil foto sebelum ia meninggalkan katedral.

Dalam waktu satu jam, Notre Dame ringkih bertahan di tengah amukan si jago merah, sementara berita ini membuat warga Paris dan dunia menyaksikan dengan penuh ketakutan.

Sekarang, Brooke bersama ratusan orang lain di Twitter tengah mencari siapa lelaki dan anak kecil yang tertangkap di potret menghangatkan hati beberapa saat sebelum Notre Dame terbakar.

Saya hampir menghampiri ayah saya dan hendak bertanya apakah ia mau (mengambil foto di depan Notre Dame). Sekarang, saya berharap saya melakukannya. Twitter, kalau Anda punya keajaiban, bantu dia (lelaki di foto) menemukan ini (foto yang diambil Brooke),” kicau Brooke di akun Twitter-nya, @brookeawindsor, Selasa, 16 April 2019.

Kicauan ini kemudian viral dan berhasil menyita perhatian warganet. Bukan dengan alasan muluk, momen bahagia sebelum kejadian nahas kebakaran Notre Dame melanda jadi sebab foto ini ramai jadi buah bibir dan publik bermaksud menyampaikan ini pada orang di foto tersebut.

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

Diduga Stres, Pria Tanpa Identitas Lompat dari Menara di Cakung

Jakarta – Seorang pria tanpa identitas bunuh diri dengan melompat dari sebuah menara di Cakung, Jakarta Timur. Pria tersebut diduga mengalami stres.

“Ditemukan laki-laki bunuh diri dengan cara melompat dari menara yang diduga karena stress,” ujar Kanit Reskrim Polsek Cakung AKP Tom Sirait dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/4/2019).

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (10/4) sekitar pukul 15.30 WIB. Informasi adanya orang yang menaiki menara didapat dari saksi yang merupakan satpam di kawasan tersebut. Sebelum melakukan bunuh diri laki-laki ini mengaku berasal dari pagar Alam Palembang.

“Alamat tidak jelas dan sebelum meninggal terjun bunuh diri mengaku dari Pagar Alam Palembang,” kata Tom.

Kapolsek Cakung Kompol Imam Irawan serta petugas dari Polsek Cakung dan Damkar, telah melakukan negosiasi agar pelaku mau mengurungkan niatnya. Saat petugas Damkar akan melaksanakan evakuasi , laki-laki tersebut langsung melompat dan terjatuh dari atap perusahaan.

Tom mengatakan korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Persahabatan, dengan menggunakan ambulans didampingi petugas kepolisian. Namun, korban tersebut dinyatakan meninggal akibat pendarahan di kepala dan memar pada bagian dada.

“Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat Persahabatan dengan menggunakan ambulan dari 118 didampingi petugas Kepolisian Polsek Cakung . Pukul 20.55 WIB korban dinyatakan telah meninggal dunia akibat pendarahan di kepala dan memar di bagian dada,” tuturnya.

Saat ini jenazah korban dibawa dan ditempatkan di RS Polri Kramat Jati. Polisi tengah mencari dan menghubungi pihak keluarga korban.
(dwia/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

SBY Harap Capres Hindari Politik Identitas, Wiranto: Jokowi Jaga Persatuan

Jakarta – Salah satu isi surat Ketum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) soal kampanye akbar Prabowo-Sandiaga di Senayan, Monas, adalah soal karakter pemimpin bangsa. SBY berharap capres tidak bermain politik identitas. Menko Polhukam Wiranto, menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya karakter pemimpin untuk semua, sebagaimana karakter ideal yang disebut SBY dalam suratnya.

“Sebagai Presiden, beliau selalu mengajak kita semua untuk mempersatukan negeri ini, memelihara persatuan. Karena persatuan negeri ini merupakan persyaratan mutlak untuk kita bisa membangun,” ucap Wiranto kepada wartawan di hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Menurut Wiranto, Jokowi sering menyerukan soal persatuan. Sehingga, tidak mungkin dia membawa unsur perpecahan.

“Berkali-kali beliau menyampaikan bahwa ayo kita bersatu, bersatu sebagai bangsa. Ini warisan dari para pendahulu kita, ini juga persyaratan negara kita untuk maju,” kata Wiranto.

Jokowi yang menjadi calon presiden, menurut Wiranto, tidak pernah membawa politik identitas yang berpotensi membawa perpecahan.

“Maka tidak mungkin, pada saat kontes ini (Pemilu), beliau mengingkari itu, pada saat ini beliau selalu merangkul semua komponen bangsa untuk tidak menggunakan politik identitas. Kan berbahaya, apakah agama, apakah suku, apakah profesi, semua di mata hukum punya hak yang sama untuk melakukan Pemilu ya,” kata Wiranto.

Surat SBY itu, seperti diberitakan detikcom, Minggu (7/4) kemarin, ditujukan kepada Ketua Wanhor PD Amir Syamsuddin, Waketum PD Syarief Hasan dan Sekjen PD Hinca Panjaitan. Pesan SBY itu tersebar di WhatsApp dan dibenarkan politikus PD Andi Arief.

Salah satu bagian dalam surat SBY menyebut tak hanya Prabowo Subianto, tapi juga Jokowi. SBY tidak ingin pemimpin yang dipilih dalam pilpres merupakan hasil dari politik identitas.

“Pemilihan Presiden yang segera akan dilakukan ini adalah untuk memilih pemimpin bangsa, pemimpin rakyat, pemimpin kita semua. Karenanya, sejak awal ‘set up’-nya harus benar. Mindset kita haruslah tetap ‘Semua Untuk Semua’ , atau ‘All For All’. Calon pemimpin yang cara berpikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terplih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh dan insyaallah akan berhasil,” tulis SBY.

“Sebaliknya, pemimpin yang mengedepankan identitas atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, atau yang menarik garis tebal ‘kawan dan lawan’ untuk rakyatnya sendiri, hampir pasti akan menjadi pemimpin yang rapuh. Bahkan sejak awal sebenarnya dia tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin bangsa. Saya sangat yakin, paling tidak berharap, tidak ada pemikiran seperti itu (sekecil apapun) pada diri Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” sambungnya.
(aik/dnu)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ini Identitas Antonio Banerra, Penghasut Terulangnya Kerusuhan 1998

Surabaya – Polda Jatim menangkap pemilik akun Facebook yang menyebar hasutan tentang kerusuhan 1998, Antonio Banerra. Lalu siapa sebenarnya Antonio Banerra?

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera mengatakan bahwa Antonio Banerra bukan nama asli pelaku. Barung menyebut nama asli Antonio Banerra yakni Arif Kurniawan Radjasa (36).

“Yang diamankan bernama Arif Kurniawan Radjasa alias Antonio Banerra. Keturunan Tionghoa,” kata Barung saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (6/4/2019).

Untuk alamat, lanjut Barung, Arif beralamat di Pagerwojo, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Alamat itu sesuai yang tercantum pada kartu identitas.

“Sesuai dari KTP yang bersangkutan,” ujar Barung singkat.

Selain itu, polisi juga mengamankan istri Antonio yang bernama Puji Astutik (32). Puji beralamat di Mojosari, Kecamatan Kepanjen, Malang.

“(Antonio dan istrinya) kita amankan di tempat kosnya di Buncitan, Sedati, Sidoarjo,” terang Barung.

Sebelumnya, Polda Jatim menangkap Antonio bersama istrinya di daerah Buncitan, Sedati, Sidoarjo. Antonio kemudian dibawa ke Polda Jatim.

Mereka tiba di Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim sekitar pukul 20.12 WIB. Penangkapan Antonio ini dipimpin langsung oleh Kasubdit V Cyber Crime AKBP Harissandi dan anggota Polrestabes Surabaya.
(zak/zak)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cisgender, Identitas Gender Sesuai Kelamin Saat Lahir

McBride mengatakan bahwa istilah cisgender atau transgender sendiri tidak sama dengan istilah “straight” atau “gay”. Mereka lebih merujuk pada identitas gender sementara kata “straight” atau “gay” mengacu pada identitas seksual atau yang membuat seseorang tertarik.

“Mereka dua konsep yang berbeda. Mereka merujuk pada dua bagian berbeda dari identitas seseorang,” kata McBride.

Maka dari itu, McBride mengatakan bahwa seorang cisgender bisa saja “straight“, gay, maupun biseksual. Begitu juga apabila seseorang memiliki identitas transgender.

“Baik Anda trans atau cis, Anda bisa saja memiliki berbagai orientasi seksual,” kata McBride menjelaskan.

McBride memberikan suatu ilustrasi yang lain. Apabila Anda seorang cisgender, maka Anda akan segera memberitahu apa jenis kelamin yang Anda miliki. Sementara, mereka yang transgender seringkali mengalami ketidakpercayaan pada jenis kelamin yang dimiliknya.

“Mereka secara konsisten harus membuktikan atau memperdebatkan kemanusiaan atau martabat dasar mereka,” kata McBride.

Setara Institute: Ada Tren Positif Jokowi Cegah Politik Identitas

Jakarta – Setara Institute menyebut pemerintahan Jokowi dua tahun ke belakang memiliki tren positif dalam hal menjaga toleransi. Jokowi dianggap mampu memperbaiki kebebasan beragama, mencegah polarisasi hingga perebutan kuasa politik identitas.

“Kalau lihat tadi dalam dua tahun ini ada tren positif yang dilakukan pemerintahan Jokowi untuk memperbaiki kebebasan beragama, untuk mencegah supaya polarisasi, perebutan kuasa dengan politik identitas itu berkurang, bisa berlanjut,” kata Wakil Ketua Setara Institute, Bonar Tigor Naipospos, kepada wartawan di hotel Ibis, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (31/3/2019).

Toleransi di pemerintahan Jokowi dinilai positif sehingga layak untuk dilanjutkan 2 periode. Dia mengatakan, jika ada pergantian kepemimpinan akan merepotkan pemerintahan yang baru karena harus mengulang strategi dari awal.

“Tapi kalau ada Presiden baru terpilih ini tentu akan ada strategi baru mulai lagi dari awal ya, dan kemudian ada beban Pak Prabowo, bebannya apa? Salah satu pendukungnya adalah yang dikenal sebagai kelompok-kelompok intoleran. Pak Prabowo harus mulai dsri awal, sementara Pak Jokowi tinggal melanjutkan, kontinuitas dan konsistensi. Jadi lebih bisa terjamin persoalan ini untuk terpecahkan,” ujar Bonar.

Pemaparan Setara Institute ini berdasarkan penelitian yang menunjukkan dalam pemerintahan Jokowi, Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB). Penelitian dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan berfokus pada beberapa wilayah yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Salatiga, Aceh, Padang, Riau, Pontianak, Singkawang, dan Ternate, serta Kupang. Metode penelitian yakni field study dan monitoring kasus KBB.

Meski demikian, survei ini bukan berarti intoleransi akan meningkat jika ada pergantian kepemimpinan. Dia menegaskan, pemimpin baru harus beradaptasi.

“Ya tidak juga, tidak juga tapi kalau mulai dari bawah dan baru, tentu harus adaptasi lagi, dan beban salah satu pendukungnya adalah kelompok intoleran tadi. Gimana kendalikannya? Itu harus dijawab dulu karena Pak Prabowo selalu berbicara ‘kalau ada yang dukung saya kenapa tidak’, yang ditanya orang adalah gimana sikap Pak Prabowo terhadap pendukung semacam itu, kalau kemudian dikatakan ‘kalau saya terpilih presiden, maka satu hari kemudian saya akan jemput Habib Rizieq’. Itu jadi sinyal nggak baik juga,” ujarnya.

Bonar menambahkan, jika Prabowo menjemput Habib Rizieq ketika menang Pilpres justru akan menurunkan derajat seorang presiden.

“Ya masa seorang presiden sampai jemput Rizieq, itukan turunkan derajat presiden, tapi kalau dia memerintah Arab Saudi untuk memproses pemulangan Habib Rizieq, itu baru presiden, tapi kalau dia bilang langsung jemput sendiri ke sana, itu beri sinyal negatif kepada kelompok tertentu, terutama minoritas, itu yang jadi pertanyaan besar kelompok minoritas kepada Pak Prabowo, walau mereka tahu Prabowo Nasionalis,” katanya.

Tonon juga video Jokowi: TNI Kita Ini Kekuatan Terbesar di ASEAN:

[Gambas:Video 20detik]

(idn/fjp)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Takut Identitas Terungkap Usai Perkosa, 2 Pelaku Bunuh Calon Pendeta

Liputan6.com, Sumatera Selatan – Polisi menangkap dua pria pelaku pembunuhan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, yang merupakan calon pendeta.  

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Jumat (29/3/2019), Nang dan Hendrik dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Pelembang akibat luka tembak di bagian kaki karena berusaha kabur saat akan ditangkap.

Pelaku ditangkap di wilayah Sungai Baung, Desa Bukit Batu, Kecamatan Air Sugihan, Ogan Komering Ilir, Kamis malam, 28 Maret 2019. 

Sebelum menghabisi nyawa Zidoni, pelaku sempat akan memperkosa korban. Namun, korban berontak hingga membuat topeng yang dikenakan salah satu pelaku lepas. Takut identitasnya terungkap, pelaku pun membunuh korban. 

Ini Identitas 4 Korban Helikopter Jatuh di Tasikmalaya

Tasikmalaya – Empat orang penumpang helikopter PT Air Transport Service yang jatuh di kawasan Situhiang, Cigalantong, Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami luka-luka. Para korban dilarikan ke RS SMC Singaparna. Berikut identitasnya.

Korban pertama atas nama Fuad Humran yang merupakan anggota Polri. Kemudian, Tuti Budiawati merupakan pegawai swasta asal Jakarta.

Korban lainnya, Agung Raharja merupakan pegawai swasta asal Bandung dan Johny Fajar Sofyan seorang PNS asal Bandung juga.
“Para penumpang mengalami luka-luka dan dievakuasi ke RS SCM Singaparna,” kata Juru Bicara Basarnas Jabar Joshua Banjarnahor, Sabtu (16/3/2019).

Helikopter tipe BO-105M PK-EAH ini terbang dengan rute Kawalu-Wanaraja. Namun, belum diketahui mengenai penyebab jatuhnya helikopter tersebut.

Simak Juga ‘ Kenalan dengan Srikandi Penerbang Helikopter Pertama di Korps Polri ‘:

[Gambas:Video 20detik]

(mud/bbn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ini Identitas Istri Terduga Teroris yang Nekat Ledakkan Diri

Sumatera Utara – Kapolda Sumatera Utara Irjen Agus Andrianto mengungkap identitas istri terduga teroris Husain alias Abu Hamzah yang meledakkan diri dengan bom lontong rakitan di Sibolga, Sumatera Utara. Perempuan tersebut bernama Solimah dan berasal dari kota Padangsidempuan.

Identitas perempuan tersebut diketahui setelah tim melakukan pemeriksaan terhadap potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian. Agus mengatakan tim saat ini juga sedang melakukan identifikasi terhadap potongan tubuh lain.

“Sebagian tubuh korban hancur dan serpihan tubuhnya masih tertinggal di lokasi ledakan. Karena tubuh korban terpental sekitar 70 meter dari rumahnya, maka tim DVI masih bekerja untuk memastikan apakah masih ada bagian tubuh yang lain. Dan hasil sementara bagian tubuh yang ditemukan itu tubuh orang dewasa. Itu dapat dilihat dari tulang dan potongan tubuh yang tersisa,” kata Agus seperti dilansir Antara, Rabu (13/3/2019).

Agus mengatakan ledakan yang terjadi pada Rabu dini hari itu juga mengakibatkan sejumlah rumah warga rusak. Dia meminta warga untuk segera melapor ke pemerintah setempat terkait perbaikan rumah.

“Kita berharap kepada Bupati Tapanuli Tengah dan Wali Kota Sibolga agar mendata dan melaporkannya ke pemerintah pusat. Selain itu, agar dana perbaikan diajukan untuk ditampung di APBD masing-masing,” ujarnya.

Dari informasi yang didapat dari warga, kehidupan Abu Hamzah dan Solimah berubah setelah pulang dari Pulau Jawa. Beberapa tetangga juga mengaku tidak mengenal pasti kedua orang tersebut.

“Kalau suaminya itu (Husain alias Abu Hamzah) warga Sibolga ini, marga Simatupang. Kerjanya memperbaiki lampu listrik. Kalau istrinya kami kurang tahu asalnya dari mana,” kata warga sekitar.

Sebelumnya, Solimah lebih memilih meledakkan diri dengan bom lontong rakitan saat dikepung oleh aparat kepolisian. Istri Abu Hamzah itu tewas bersama anaknya dengan kondisi jasad tak utuh.

“Abu Hamzah menyampaikan kepada penyidik Densus, istrinya lebih keras pemahamannya dibanding dia sendiri. Lebih militan istrinya, makanya setelah dilakukan negosiasi dan imbauan selama hampir 10 jam, istrinya nekat melakukan suicide bomber-nya itu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pengepungan rumah Abu Hamzah, yang dihuni istri dan anaknya, dilakukan pada Selasa (12/3) setelah Abu Hamzah lebih dulu diciduk. Saat tim Densus 88 Antiteror datang, terjadi ledakan bom yang melukai seorang polisi dan seorang warga.

Tak cuma itu, Abu Hamzah juga dibawa ke lokasi untuk membujuk istrinya agar menyerah. Tapi upaya itu pun tak berhasil.

Di sela terjadinya ledakan bom rakitan, polisi meminta bantuan petugas pemadam kebakaran agar api tidak menyebar ke rumah warga lainnya.

Dari keterangan sementara, Abu Hamzah mengaku merakit puluhan bom. Empat bom aktif di antaranya dibawa sang istri.

(knv/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Identitas Casanova Bandar Jaringan Zul ‘Zivilia’ Masih Misterius

Jakarta – Identitas Casanova yang disebut sebagai bandar besar dalam jaringan narkoba yang menyeret musisi Zul ‘Zivilia’ masih misterius. Tak heran lantaran Casanova memang tengah diburu polisi.

“Pokoknya dia orang Indonesia,” ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di kantornya Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (11/3/2019).

Casanova juga disebut Argo masih berada di wilayah Indonesia. Namun dia tidak menyebut detail di mana lokasi Casanova yang merupakan nama samaran tersebut.

“Untuk kotanya sudah semakin mengerucut ini ada di mana. Saya sampaikan dengan sebutan si Casanova itu,” kata Argo.

Kasus berawal ketika Zul ditangkap di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara di dalam apartemen bersama 3 orang yang salah satunya seorang perempuan. Dari tangan Zul dkk, polisi menyita 9,5 kg sabu dan puluhan ribu butir ekstasi.

Dari pemeriksaan intensif, polisi mengetahui bila Zul terlibat jaringan yang cukup besar. Bandar di atas jaringan Zul ini memiliki 4 jaringan kelompok.
(dhn/dhn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>