Hukum Niat Puasa Ramadan Sebulan Penuh yang Perlu Diketahui Umat Muslim

Niat puasa Ramadan sebulan penuh diperbolehkan karena satu bulan penuh puasa Ramadan dihukumi satu kesatuan sehingga niat satu kali untuk satu bulan berpuasa sudah mencukupi, menurut mazhab malikiyyah. Hal ini didukung dengan waktu puasa di bulan Ramadan yang berturut turut tanpa jeda dan tanpa dicampuri dengan hal hal lain, sehingga dianggap sebagai satu kesatuan. Dengan begitu satu kali niat di awal bulan Ramadan telah mencukupi untuk sebulan penuh kamu berpuasa.

Karena itulah, mazhab malikiyyah memiliki pendapat tentang adanya dua pembagian puasa yaitu yang wajib dilakukan secara berkelanjutan tanpa ada jeda, serta jenis puasa yang tidak wajib dilaksanakan secara berkelanjutan atau ada jeda.

Puasa jenis pertama yaitu puasa yang dilakukan secara berkelanjutan bisa diambil contoh yaitu puasa Ramadan. Niat puasa Ramadan sebulan penuh boleh dilakukan karena tidak adanya jeda dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadan ini. Karena itulah puasa Ramadan dihukumi dengan satu kesatuan. Sedangkan jenis puasa kedua yang merupakan jenis puasa dengan adanya jeda dan tidak berkelanjutan, tidak dihukumi satu kesatuan karena boleh dilakukan dengan memberi jeda setiap harinya.

Jadi niat puasa Ramadan sebulan penuh bisa dilakukan saat kamu menjalankan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh, namun tidak bisa dilakukan saat kamu mengganti puasa di bulan lainnya yang bukan merupakan puasa yang berkelanjutan.

Adapun Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi, salah seorang pakar fiqih mazhab Malikiyah menegaskan:

“Dan cukup niat sekali untuk puasa yang wajib dilakukan secara terus-menerus. Imam al-Lakhmi mengatakan, Adapun puasa yang wajib dilakukan terus-menerus seperti Ramadhan, dua bulan puasa dhihar, puasa denda pembunuhan, orang yang bernazar puasa pada hari tertentu, orang yang bernazar terus-menerus berpuasa yang tidak ditentukan harinya, maka niat di awal mencukupi untuk keseluruhannya.”

Selain itu “Ibnu Rusydi berkata, adapun puasa yang boleh dipisah seperti qadha Ramadhan, puasa Ramadhan saat bepergian, denda sumpah, fidyah al-adza (denda bagi orang ihram yang melanggar keharaman saat ihram), maka pendapat yang jelas dari ikhtilaf ulama bahwa bila ia bermaksud melakukan puasa tersebut secara terus-menerus, maka mencukupi baginya satu niat, hukum satu niat tersebut akan menetap meski hilang sosoknya selama tidak diputus dengan niat berbuka puasa secara sengaja. Adapun orang yang tidak berniat melakukannya secara terus-menerus, maka tidak ada ikhtilaf bahwa ia berkewajiban untuk memperbarui niat di setiap harinya” (Syekh Muhammad bin Yusuf al-Ghurnathi al-Maliki, al-Taj wa al-Iklil, juz.3, hal. 338).

Dengan memahami referensi tersebut maka kamu bisa mengerti bahwa niat puasa Ramadan sebulan penuh dapat dilakukan walaupun kamu memulai puasa di hari kedua maupun ketiga karena hal hal yang memperbolehkan kamu melakukannya. Hal ini disebabkan karena tidak ada perbedaan niat puasa Ramadan di setiap harinya, dan dalam mazhab malikiyah hukum berpuasa di bulan Ramadan menjadi satu kesatuan.

Namun, kamu harus ingat bahwa anjuran niat puasa Ramadan sebulan yang mengikuti mazhab maliki merupakan sebuah antisipasi ketika kamu lupa melalkukan niat puasa Ramadan harian. Jadi sebaiknya kamu tetap melaksanakan niat puasa rutin setiap harinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *