Hadi Ngaku Bantu Pengusaha Tamin Menyuap Hakim PN Medan

Jakarta – Pengusaha Hadi Setiawan mengaku pernah dihubungi mantan Direktur Utama (Dirut) PT Erni Putra Terari, Tamin Sukardi untuk membantu mempengaruhi putusan pekara sidang di PN Medan. Hadi bersedia membantu Hadi Setiawan karena diminta untuk membebaskannya.

Tamin merupakan tahanan Kejaksaan Agung yang menjalani sidang perkaranya di PN Medan. Tamin menyampaikan kepada Hadi agar dibantu untuk dibebaskan dari tahanan.

“BAP Anda sekitar Desember dihubungi Tamin Sukardi yang ditahan Kejagung soal masalah tanah. Bahwa benar Tamin ditahan, saya dihubungi melalui telepon, Tamin sedang ditahan di gedung bundar. Tamin bilang Hadi bantu saya, ada kenalan di Kejagung ngga, biayanya bagaimana? Benar keterangan tersebut?” tanya jaksa saat sidang pemeriksaan terdakwa Hadi di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Kamis (14/2/2019).

“Betul memang kalimat itu,” kata Hadi Setiawan.

Saat Tamin menjalani sidang di PN Medan, Hadi menyebut telah pergi ke Kualanamu, Medan. Tujuannya, Tamin ingin bertemu Hadi untuk berbicara masalah perkaranya.

“Kemudian Pak Tamin telepon, waktu dia bilang sudah di Medan. Saya sama teman pengacara karena saya pikir butuh pengacara,” ucap Hadi.

Setelah itu, Hadi juga mengaku sempat bertemu Ketua PN Medan Marsudin Nainggolan, Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo. Dalam pertemuan itu membahas kasus yang menimpa Tamin di PN Medan.

“Saya bilang ada teman kasus namanya Tamin. Pak Wakil bilang jangan ikut-ikutan sedang dipantau KPK,” jelas Hadi.

Akhirnya Hadi mengaku bertemu dengan panitera pengganti Helpandi atas perintah Tamin. Dalam pertemuan tersebut, Helpandi memberikan amplop berisi uang titipan dari Tamin.

“Saya serahkan amplop, ini titipan dari Pak Tamin. Kemudian saya dapat laporan dari Helpandi sudah diserahkan kepada hakim,” kata Hadi.

Setelah itu, Hadi menerima laporan adanya operasi tangkap tangan (OTT) KPK di PN Medan. Dia yang memantau dari televisi melihat namanya disebut sebagai orang kepercayaan Tamin.

Dia mengaku menyesal perbuataan tersebut dan akhirnya menyerahkan diri ke KPK. Alasannya, ia ingin meluruskan jumlah uang yang diberikan kepada Helpandi.

“Saya menyesal di sana saya mohon maaf, saya melihat jumlah uang tidak cocok maka saya ingin menyerahkan diri ke KPK. Menurut laporan Helpandi sisa uang Rp 1 miliar, ternyata pas OTT ditemukan SGD 135 ribu berarti lebih dari Rp 1 miliar,” jelas Hadi.

Dalam perkara ini, Hadi didakwa membantu Tamin memberikan suap ke hakim PN Medan Merry Purba dan panitera pengganti Helpandi sebesar SGD 280 ribu untuk dibagikan ke Merry SGD 150 ribu.

Sedangkan sisanya, SGD 130 ribu, disebut jaksa akan diserahkan kepada hakim Sontan. Uang tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi putusan Tamin.
(fai/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *