Jejak Guru Bomber Surabaya hingga Dihukum 10 Tahun Penjara

Jakarta – Syamsul Arifin alias Abu Umar dihukum selama 10 tahun penjara oleh PN Jakbar. Ia dinyatakan sebagai guru para ‘pengantin’ bomber bom gereja di Surabaya.

Berikut kronologi Abu Umar sebagaimana dirangkum detikcom, Senin (18/3/2019):

13 Mei 2018
Tiga gereja di Surabaya dibom dengan modus bom bunuh diri. Lokasi pertama di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, kedua Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro 146 dan ketiga Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna.

Akibat ledakan ini, puluhan orang meninggal banyak yang mengalami luka-luka.

15 Mei 2018
Abu Umar ditangkap Densus 88 Antiteror di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Abu ditangkap bersama istri sirinya. Abu Umar merupakan Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Jawa Timur.

31 Juli 2018
Jamaah Ansharut Daulah (JAD) ditetapkan sebagai korporasi yang mewadahi aksi terorisme. PN Jaksel membekukan JAD.

7 Februari 2019
Jaksa menuntut Abu Umar selama 15 tahun penjara. Abu Umar dinilai melanggar Pasal 6 jo Pasal 15 UU Anti Terorisme. Pasal 6 berbunyi:

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun.

Pasal 15

Setiap orang yang melakukan permufakatan jahat, percobaan, atau pembantuan untuk melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 11, dan Pasal 12 dipidana dengan pidana yang sama sebagai pelaku tindak pidananya.

15 Maret 2019
PN Jakbar menjatuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada Abu Umar. PN Jakbar juga memberikan kompensasi sebesar Rp 1,18 miliar dibagi untuk 17 orang korban bom di Surabaya melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
(asp/jbr)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Guru Bomber Gereja di Surabaya Dihukum 10 Tahun Penjara

Jakarta – PN Jakbar menjatuhkan vonis kepada Syamsul Arifin alias Abu Umar selama 10 tahun penjara. Abu Umar merupakan orang yang mengajari para ‘pengantin’ bom Surabaya bikin bom.

Sebagaimana dikutip dari Antara, Minggu (17/3/2019), vonis itu dibacakan pada Jumat (15/3) kemarin. Hukuman itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yaitu 15 tahun penjara.

Abu Umar merupakan Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ia ditangkap Densus 88 Antiteror di Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Selasa (15/5). Abu ditangkap bersama istri sirinya.

Dalam putusan itu, PN Jakbar juga memberikan kompensasi sebesar Rp 1,18 miliar yang diajukan 17 orang korban bom di Surabaya melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Wakil Ketua LPSK Susilaningtias, mengapresiasi putusan majelis hakim PN Jakarta Barat yang mengabulkan kompensasi, sebagai salah satu bentuk pemenuhan hak korban terorisme.


Kompensasi diajukan para korban melalui LPSK dan disampaikan jaksa penuntut umum melalui tuntutan di persidangan.

“Kompensasi hak korban diatur dalam undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Perlindungan Saksi dan Korban, dan majelis hakim mengabulkan hak tersebut,” kata Susilaningtias.

(asp/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PGRI Minta Kartu Praperja Buat Guru Honorer, Bisakah?

Liputan6.com, Jakarta – Pengurus Besar (PB) PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) turut buka suara mengomentari program kartu Prkerja yang dijanjikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketua Umum PB PGRI, Didi Suprijadi, mengatakan alangkah lebih baik jika program kartu Prakerja tersebut menyasar para tenaga guru honorer.

“Itu (Kartu Prakerja) kan kan janji untuk nanti. Ada prakerja. Akan menggaji 2 juta penganggur. Kan lebih bagus daripada (diberikan) untuk orang yang nganggur untuk yang kerja saja dikasih,” kata dia, saat ditemui, di Menteng, Jakarta, Sabtu (17/3/2019).

Menurut dia, saat ini terdapat banyak tenaga honorer yang berpendapatan kecil. Karena itu layak mendapatkan program tersebut.

“Dia kan jualan ya. Mungkin lebih sexy seperti itu. Tapi bagi kami yang membutuhkan, apa tidak salah, akan salurkan ke yang sudah bekerja dan bekerja juga bukan di tempat lain, tapi di instansi negeri,” jelas dia.

Menanggapi permintaan ini, Wakil Direktur Konten Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Rabin Hattari mengatakan bahwa kartu Prakerja khusus disiapkan untuk para calon pekerja, pekerja, maupun mereka hendak meningkatkan skill. Sementara isu penting di guru honorer adalah terkait status dan upah.

“Apa yang diinginkan dari kartu Prakerja dan apa yang diinginkan oleh guru honorer sebenarnya sesuatu yang berbeda ya. Karena kartu Prakerja itu untuk meningkatkan skill. Isu-isu dari guru honorer sebenarnya sudah di-address oleh pemerintah saat ini,” jelas dia.

Guru Babak Belur Usai Tegur Siswa yang Berpakaian Serampangan Saat Upacara

Heri lalu berinisiatif untuk melaporkan apa yang dialami kakaknya itu ke polisi pada Rabu, 13 Maret 2019. Laporan itu lalu dengan sigap ditanggapi oleh Polres Mamuju, Sulawesi Barat.

“Setelah mendapat laporan itu, Tim Python dari Satreskrim Polres Mamuju langsung bergerak menangkap Amran,” kata Kapolres Mamuju, AKBP Rivai Arvan, kepada Liputan6.com saat dikonfirmasi, Rabu, 13 Maret 2019, malam.

Amran diamankan polisi di rumahnya, di Desa Pokkang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Saat diamankan, ia hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan sedikit pun.

“Kami menerima informasi tentang adanya guru SMP Negeri 6 Kalukku  yang menjadi korban penganiayaan, sehingga saya memerintahkan tim python untuk bergerak cepat meringkus pelaku. Dan dalam hitungan jam, pelaku berhasil kami amankan,” jelas Arvan lagi.

Arvan menyebutkan, dari hasil interogasi sementara, Amran mengakui perbuatannya. Ia mengatakan bahwa dirinya sakit hati dan tidak terima anak lelakinya dipukul oleh gurunya sendiri.

“Motif dari penganiayaan ini adalah sakit hati karena anak pelaku dipukul oleh korban. Sehingga pelaku mendatangi korban dan langsung melakukan pemukulan yang mengakibatkan korban tidak sadarkan diri,” ucapnya.

Amaran pun kini meringkuk di dalam tahanan Polres Mamuju. Karena perbuatannya, Amran dijerat dengan Pasal 351 ayat 1 KUHP dengan ancaman pidana lebih dari 5 tahun penjara. “Untuk saat ini pelaku kita tahan sambil menunggu proses penyelidikannya kelar,” Arvan memungkasi.

Saksikan video pilihan menarik berikut:

Seorang siswi sekolah dasar di Probolinggo, Jawa Timur, dicabuli bergilir oleh dua teman sekelas saat guru izin keluar karena sakit.

5 Cerita Serangan Balik Orangtua Murid kepada Oknum Guru yang Dinilai Ngawur

Untuk kesekian kalinya, orang tua murid melaporkan guru yang mendidik anaknya ke kantor polisi karena dugaan penganiayaan. Kejadian ini terjadi beberapa waktu lalu di SD Negeri 1 Dua Pitue, Kelurahan Tanru Tedong, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. 

Guru  itu bernama Sahrati, sementara orang tua murid yang melaporkan guru tersebut ke kantor polisi adalah Niar. Niar tidak terima karena betis anaknya, UL, dipukul menggunakan kayu oleh Sahrati.

“Kejadiannya hari Selasa, 27 Februari 2108 lalu,” kata Kasat Reskrim Polres Sidrap, AKP Anita Taherong, kepada Liputan6.com, Rabu, 14 Maret 2018.

Anita menceritakan, kala itu putri semata wayang Niar itu sedang bermain dengan teman-temannya, tapi tiba-tiba dua anak menangis karena terjatuh lantaran didorong UL.

“Ada dua anak menangis, gurunya (Sahrati) tanya kenapa menangis, anak itu mengaku kalau didorong oleh anaknya pelapor (Niar),” ucap Anita.

Sahrati kemudian memanggil UL. Anita mengatakan Sahrati lalu menanyakan pengakuan dua teman UL yang mengaku didorong hingga terjatuh. Sahrati kemudian mengangkat rok UL dan memukul betis anak didiknya itu menggunakan mistar kayu.

“Sempat ditanya kenapa melakukan hal tersebut dan akhirnya dipukul pakai kayu betisnya,” ucap Anita.

Sepulang dari sekolah, UL kemudian melaporkan kepada ibunya bahwa betisnya telah dipukul gurunya. Tak terima, Niar kemudian melaporkan kejadian yang dialami anaknya ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sidrap.

“Iya melapor ke Unit PPA, ini sementara kita carikan solusi,” ucap Anita.

Berbagai macam upaya agar persoalan ini tidak semakin berlarut-larut telah dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun, upaya mediasi itu juga selalu saja menemui jalan buntu. “Kita sudah berusaha mediasi, tapi orangtua murid tidak mau terima,” kata Anita.

Niar, orangtua UL, bahkan mengajukan berbagai macam persyaratan untuk dirinya mencabut laporannya di pihak kepolisian. Salah satunya adalah meminta agar Sahrati dimutasi dari tempatnya mengajar.

“Ya, salah satunya itu, dia mau cabut laporan kalau terlapor (Sahrati) dimutasi dari tempatnya mengajar. Terus terang itu di luar wewenang kita, pihak kepolisian. Yang bisa mutasi kan Dinas Pendidikan,” ucap Anita.

Yang jelas saat ini, ucap Anita, pihaknya tengah berkomunikasi dengan Ikatan Guru Indonesai (IGI) Kabupaten Sidrap untuk mencarikan solusi agar persoalan ini dapat cepat terselesaikan. “Besok (Kamis, 15 Maret 2018) kita akan kembali bertemu dengan IGI Sidrap untuk mencari solusi,” dia memungkasi.

Kisah Guru Mengaji Difabel di Kampung Bugis

Liputan6.com, Maros – Orang terkaya adalah mereka yang pandai mensyukuri nikmat Tuhannya. Itulah sepenggal renungan dari Imam Ali bin Abi Thalib yang menjadi motivasi bagi Muhammad Amin (54), warga Kampung Bugis, Kelurahan Bontoa, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan  dalam mengarungi kehidupannya meski dalam kondisi yang memiriskan.

Kelumpuhan yang dideritanya sejak usia 13 tahun silam akibat terjatuh dari pohon coppeng, tak membuat anak bungsu dari pasangan Almarhum H.Lebu dan Almarhumah Hj. Bollo itu berputus asa.

Kelumpuhan yang dialaminya awal dari kesuraman. Ia tak lagi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Namun ia hanya mampu menjalani pendidikan sebatas kelas 5 Sekolah Dasar (SD) karena kelumpuhan kedua kakinya tadi.

Di tengah keterbatasan fisik dan jenjang pendidikan seadanya serta keterpurukan ekonomi, Amin tetap bersyukur menjalani kehidupannya. Meski hanya menjadi seorang guru mengaji yang tak pernah mengharapkan imbalan dari jasa mulianya itu.

“Sejak mengabdikan diri mengajar mengaji anak-anak kampung sini. Saya tak pernah harap imbalan dan semuanya saya jalani dengan keikhlasan,” kata Amin yang hanya tampak berbaring di kasur sembari mengajar anak-anak di kampung Bugis mengaji, Senin (10/3/2019).

Kelumpuhan yang dialaminya juga tak menyurutkan niatnya untuk tetap berusaha menjalankan ibadah lahiriah, meski makan hingga menunaikan salat tetap di atas kasur.

“Terus terang sebenarnya berat untuk jalani ini. Tapi hidayah Allah SWT telah menuntun saya untuk melawan takdir dengan berbuat yang terbaik mengisi akhir akhir hidup saya ini,” tutur Amin.

Ia menuturkank, bisa bertahan hidup di tengah keterbatasan fisik, semuanya karena karunia Tuhan melalui tangan-tangan tetangganya yang merasa iba dengan keadaannya.

“Alhamdulillah warga Kampung Bugis sini banyak yang datang membawakan makanan untuk pengganjal perut. Kebetulan mereka mantan murid mengaji saya dulu. Semoga Allah memberikan rejeki melimpah buat mereka,” kata Amin.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

pantang menyerah bu nung guru mengaji gratis bagi anak pemulung

Guru di Iran Gelar Aksi Mogok Nasional, Tuntut Dua Hal Ini

Liputan6.com, Teheran – Sejumlah guru di Iran melakukan unjuk rasa damai di seluruh negara, pada Senin hingga Selasa, 4-5 Maret 2019. Aksi kolektif itu adalah keempat kalinya sejak Oktober 2018 lalu.

Para pendidik menuntut dua hal dalam aksi mogok nasional itu, yakni kondisi kerja yang lebih baik serta pembebasan aktivis-aktivis pendidikan yang ditahan oleh pemerintah.

Hal itu mengingat profesi guru di iran mendapatkan gaji yang rendah dari pemerintah. Hal itu berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka, khusunya dalam membeli kebutuhan pokok.

Pada hari berlangsungnya demonstrasi, ratusan foto dipasang di sebuah akun telegram https://t.me/kasenfi oleh Coordinating Council of Teachers Syndicates in Iran (CCTSI) atau Dewan Koordinasi Sindikasi Guru di Iran.

Dalam foto-foto tersebut terlihat para guru melakukan aksi duduk dan memegang berbagai poster, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia pada Selasa (5/3/2019).

Dalam poster yang dibawa oleh massa aksi, tertulis slogan yang merepresentasikan tuntutan mereka.

Adapun demonstrasi direncanakan akan berlangsung selama tiga hari, hingga Selasa 5 Maret 2019 waktu setempat. Hingga berita ini terbit, belum terdapat konfirmasi apakah aksi hari terakhir berhasil dilaksanakan.

CCTSI mengatakan foto-foto pemogokan para guru itu datang dari kota-kota seperti Teheran, Karaj di bagian utara, Ardabil – Marivan – Sanandaj dan Saggez di bagian barat laut, Shiraz di barat daya, dan Isfahan dan Yazd di bagian tengah.

Payung organisasi para guru di Iran itu mempromosikan foto-foto itu dengan menggunakan bahasa Parsi dan tagar #nationwide_teachers_sit-in.

Tagar yang dimaksud telah digunakan ribuan kali oleh para pengguna media sosial, yang juga membagi foto-foto itu melalui Twitter dan Instagram.


Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Juga Terjadi Protes Kelangkaan Air

Sejak tahun lalu, demonstrasi memang sering terjadi di Iran yang menuntut berbagai hal berbeda. Pada Juli 2018 lalu, 

Ratusan warga di Kota Khorramshahr, barat daya Iran menggelar demonstrasi untuk memprotes kekurangan pasokan air sejak Jumat, 29 Juni 2018.

Demonstrasi itu berujung bentrok dengan aparat. Akibatnya, pada Sabtu 30 Juni waktu setempat, beberapa pengunjuk rasa dilaporkan tewas.

Jumlah korban tewas beragam. BBC Persia, pada Minggu 1 Juli 2018, melaporkan satu orang tewas. Sementara The Times of Israel menyebut bahwa korban tewas mencapai empat orang.

The Times of Israel juga melaporkan bahwa aparat Iran diketahui melepas tembakan berpeluru tajam ke arah demonstran.

Kendati demikian, belum ada keterangan resmi yang mampu mengonfirmasi total korban tewas maupun kabar soal tindakan represif aparat.

Unjuk rasa itu adalah protes kelangkaan air terbesar yang pernah terjadi di Iran tahun ini. Demikian seperti dikutip dari VOA Indonesia.

Dalam sebuah video dari penduduk Khorramshahr yang diverifikasi oleh VOA Persia, tampak massa dalam jumlah besar berunjuk rasa di jalan-jalan kota itu pada Jumat 29 Juni 2018 lalu.

Khorramshahr berada di Provinsi Khuzestan dan bersebelahan dengan Sungai Karun yang membentuk perbatasan dengan Irak. Wilayah itu banyak dihuni oleh warga Iran keturunan Arab.

Kawasan itu menderita kelangkaan air minum selama berbulan-bulan, sebagian besar disebabkan akibat cuaca kering.

Penduduk yang berbicara dengan VOA Persia mengatakan, mereka juga menyalahkan pemerintah yang salah mengatur pasokan air hingga mengakibatkan kelangkaan. Mereka juga mengungkapkan kecurigaan bahwa pemerintah mengalihkan pasokan itu ke Irak dan Kuwait.

Sebelumnya bulan ini, beberapa penduduk Kota Khorramshahr mematahkan saluran pipa dan merekam sebuah pipa yang mengalirkan air bersih ke perbatasan Irak. Pengungkapan kasus itu membuat marah penduduk setempat.

Kantor berita Fars milik pemerintah Iran melaporkan protes di Khorramshahr ini, katanya, sekitar 300 orang berdemonstrasi memprotes muatan garam dalam air yang dipasok pemerintah kota.

Seorang penduduk Khorramshahr mengatakan kepada VOA Persia, air yang dipasok pemerintahan kota sangat tercemar hingga penduduk tidak bisa memurnikannya dengan penyaring di rumah.

Sandiaga: Guru Honorer di Cirebon Ada yang Tak Digaji Selama 1 Tahun

Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno merasa prihatin dengan kesejahteraan guru. Dia menyebut ada guru di Cirebon, Jawa Barat tidak mendapat gaji selama hampir satu tahun.

“Guru itu akan meningkat kualitasnya, kalau punya kesejahteraan, guru honorer banyak sekali yang masih mengeluh keadilan dalam soal kesejahteraan. Baru saja kami dari Cirebon, di mana guru yang tidak jauh dari pusat kota hampir 1 tahun tidak mendapatkan gaji,” ucap Sandiaga kepada wartawan di Jalan Jenggala II, Jakarta, Minggu (3/3/2019).

Sandiaga berjanji akan memperbaiki sektor pendidikan jika terpilih. Menurutnya, kompetensi dan kesejahteraan guru harus sama-sama diperhatikan.

“Ini kan sangat zalim, ini yang harus kita perbaiki ke depan. Jangan menyalahkan pemerintahan sekarang, kita pastikan ke depan, kesejahteraan, kualitas, dan kompetensi guru itu kita tingkatkan,” ujar Sandiaga.

Selain soal kesejahteraan guru, Sandiaga fokus pada pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Perusahaan-perusahaan harus bermitra dengan SMK untuk menampung lulusan siap kerja.

“Kita pastikan juga pendidikan kejuruan menjadi fokus dan membawa dunia usaha, perusahaan besar, perusahaan BUMN, ini bermitra dengan pemerintah memberikan kesempatan yang kepada para siswa yang memastikan mereka bukan hanya soal cari kerja tapi siap dipakai oleh industri maupun dunia usaha,” katanya.

Sementara itu, jelang debat cawapres 17 Maret 2019, Sandiaga telah berkonsultasi dengan beberapa pakar pendidikan termasuk dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurutnya, Anies seorang pakar pendidikan yang bisa memberi saran soal sistem pendidikan.

“Pak Anies, salah seorang pakar pendidikan terbaik yang dimiliki republik ini. Hal-hal yang dilakukan di Jakarta itu sudah sangat baik, pendidikan tuntas berkualitas, meningkatkan angka partisipasi murni. Perbaiki Askes pendidikan. perbaikan kualitas dan kompetensi guru,” kata Sandiaga.
(aik/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tak Terima Rambut Anaknya Dipotong, Orangtua Siswa Balas Potong Rambut Guru

Liputan6.com, Kupang – Tak terima anaknya dihukum potong rambut oleh gurunya di sekolah, Arnoldus Raga (39) nekat balas memotong rambut sang guru. Aksi tak terpuji orangtua siswa ini terjadi di SD Inpres Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Rabu, 27 Februari 2019 lalu.

Guru yang rambutnya dipotong oleh orangtua siswa itu adalah Theresia Pramusrita Rolle (37). Kejadian itu bermula ketika ia memangkas rambut sejumlah siswa laki-laki yang panjang rambutnya melanggar aturan sekolah.

“Kejadiannya pada hari Rabu (27/2/2019). Karena guru kelas 4B tidak mengajar sehingga saya menggantikan. Saya melihat beberapa anak laki-laki rambutnya panjang sehingga saya mengambil gunting dan memotong rambut mereka sedikit di bagian depan,” tutur Pramurista Rolle kepada Liputan6.com, Jumat, 1 Maret 2019.

Pramusrita tidak mengira jika apa yang dilakukan terhadap siswanya itu ternyata ditentang oleh orangtua siswa. Saat sedang mengajar di ruangan kelas 3B, Jumat, 1 Maret 2019, tiba-tiba ia didatangi Arnoldus Raga, orangtua dari Armando salah seorang murid yang rambutnya dipotong beberapa hari sebelumnya.

Tanpa aba-aba, Arnoldus menarik rambut Pramusrita dan memotongnya menggunakan gunting yang dia bawa. “Saat ia datang posisi saya sedang duduk sambil mengajar. Dia menarik rambut saya ke belakang dan langsung mengambil gunting dan potong rambut saya,” ujarnya.

Saat itu Pramusrita tak bisa berbiat banyak. Ia hanya bisa pasrah melihat rambutnya dipotong oleh Arnoldus, ia khawatir jika melawan akan semakin memperburuk keadaan.

“Saya hanya gunting sedikit saja  rambutnya di bagian depan. Anak ini sampai sekarang pun rambutnya masih sama belum dipangkas. Kami memangkas rambut anak murid untuk mengingatkan atau memberi tanda saja,” terangnya.

Erlin, guru lainnya di SD Inpres Madawat menjelaskan bahwa di sekolah tersebut memang ada aturan tentang batas panjang rambut bagi siswa yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Dan semua orang tua siswa sudah mengetahuinya.

“Ketentuan di sekolah dan ada aturan tertulis kalau ditegur sampai 3 kali belum dipangkas rambutnya maka guru akan memotong sedikit rambut di bagian depan. Ini dilakukan untuk mengingatkan saja bukan merusak rambut anak murid tersebut,” ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Lapor Polisi

Setelah kejadian itu, pihak sekolah langsung membawa Pramusrita ke Polres Sikka. Pihak sekolah melaporkan tindakan Arnoldus Raga sebagai sebuah tindakan kriminal yang harus dipidana.

“Ini untuk memberikan efek jera bagi setiap orang tua agar tidak melakukan hal-hal seperti ini. Sejak dulu semua anak murid yang dipotong rambutnya orang tua tidak marah karena memang ada peraturannya,” ujar Erlin, guru yang mendampingi korban ke polisi. 

Kapolres Sikka, AKBP Rickson PM Situmorang membenarkan kejadian itu. Ia mengatakan, guru tersebut sudah membuat laporan polisi pada Jumat 1 Maret 2019.

“Guru itu melaporkan kasus dugaan tindak pidana perbuatan tidak menyenangkan dan penghinaan,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa kasus tersebut sedang ditangani oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Sikka. Saat ini poihak kepolisan pun tengah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

“Sudah diambil keterangan guru sebagai korban dan beberapa saksi,” sebutnya.

Mengetahui dirinya dilaporkan ke polisi, Arnoldus Raga pun mengaku bahwa dirinya menyesal telah memotong rambut guru dari anaknya. Ia mengaku bahwa saat itu dirinya emosi dan tidak bisa mengontrolnya.

“Rambut anak saya kan baru saya gunting hari Selasa lalu, tetapi kata gurunya masih panjang. Makanya saya marah setelah diberitahu oleh anak saya,” katanya.

Arnoldus mengaku khilaf dan meminta maaf atas perlakuannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Ia berharap agar kasus ini bisa diselesaikan secara adat dan kekeluargaan.

“Saya  siap menerima konsekuensi dari perbuatan saya,” Arnoldus memungkasi.

Saksikan video menarik pilihan berikut:

Teror Alat Kelamin Berlanjut, Guru Jadi Korban Terbaru

Karawang – Sejumlah pria di Karawang, Jawa Barat, bikin geger karena ulahnya memamerkan alat vital di hadapan wanita. Para korban tak hanya dari kalangan siswi tapi guru perempuan turut menjadi korban teror tersebut.

Kasus asusila tersebut diketahui berlangsung sejak 3 tahun lalu. Berdasarkan penelusuran seorang guru salah satu SMP negeri di bilangan Jalan Ahmad Yani, sedikitnya 50 siswi telah jadi korban kelompok pria mesum tersebut. Ia khawatir korban akan terus bertambah sebab hingga kini, para pelaku belum tertangkap.

Sedikitnya tiga sekolah di bilangan Jalan Ahmad Yani tengah bekerja sama mengungkap kasus pamer alat vital tersebut. Selain minta tolong pada petugas berpakaian preman, mereka menelusuri jumlah korban sebenarnya.

“Pelaku membuka kaca mobil dan menanyakan alamat, siswi yang menghampiri biasanya sudah melihat pria itu tidak pakai celana dan memainkan alat vital mereka. Saat siswi menjerit, para pelaku kabur tancap gas,” kata Wakil Ketua KPAI Jabar Wawan Wartawan saat dihubungi detikcom, Jumat (22/2/2019).

Saat ini korban teror alat vital yang terdata sudah mencapai hampir 70 orang. Bahkan sejumlah guru perempuan turut jadi korban pria-pria mesum yang masih berkeliaran tersebut.

“Makin banyak yang mengaku pernah jadi korban. Tidak hanya siswi, bahkan ada enam orang guru perempuan yang mengaku pernah jadi korban mereka. Sepertinya korban kejahatan ini cukup banyak,” kata seorang guru salah satu SMP Negeri di Jalan Ahmad Yani, Karawang.

Peristiwa itu memicu keresahan guru dan murid di sekolah tersebut. Seorang guru kemudian melakukan pendataan untuk mencari korban lainnya. Sebab 3 tahun lalu, terdapat puluhan siswi yang jadi korban.

Guru tersebut mengungkapkan, rata-rata korban memendam peristiwa pamer alat vital itu. Bahkan perlu cara khusus dan privat saat membujuk para korban supaya berani mengaku. “Bahkan ada yang sudah 2 tahun baru mengaku pada kami. Perlu pendekatan khusus mengungkap kasus semacam ini,” kata guru yang enggan identitasnya diungkap itu.

Saat ini, Polres Karawang memulai penyelidikan kasus tersebut. Personel Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sudah mewawancarai beberapa korban.

“Kita baru mulai lidik,” kata Kepala Unit PPA Polres Karawang, Herwit Yuanita dengan singkat saat dihubungi via telepon, Jumat petang (22/2/2019).

Penyidik menggali kesaksian korban guna mencari petunjuk dalam kasus asusila tersebut. Selain itu, penyidik berkomunikasi dengan korban untuk menggali kronologi lengkap kasus tersebut.

(rvk/zak)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>