7 Destinasi Seru Terinspirasi Film, dari Mission Impossible hingga Marlina Si Pembunuh dalam 4 Babak

Liputan6.com, Jakarta – Film tak hanya menampilkan cerita menarik, tetapi latar tempat syuting bisa menjadi elemen pemikat mata penonton. Bahkan karena film, sejumlah tempat di dunia bisa dikenal khalayak luas dan bahkan menjadi kunjungan wajib pelancong.

Tak melulu film asing, film Indonesia juga menjadi media promosi efektif tempat wisata yang tak boleh dilewatkan. Anda pasti masih ingat bagaimana Laskar Pelangi mengubah Belitung dari tempat yang tak dikenal menjadi populer bagi turis, terutama dari dalam negeri.

Selain film itu, masih ada destinasi liburan seru yang terungkap lewat film. Laman pemesanan hotel, Agoda merunut sejumlah tempat wisata yang terinspirasi film blockbuster dan sayang untuk dilewatkan.

1. Mission Impossible: Fallout

Jika Anda senang menjadi pahlawan super selama satu atau dua hari, berkunjunglah ke Queenstown, Selandia Baru, tempat Mission Impossible: Fallout merekam adegan aksi helikopternya. Cobalah berwisata naik helikopter dan nikmati olahraga ekstrem Selandia Baru lainnya, mulai dari bungee jumping hingga ski helikopter.

2. Jurassic Park: Fallen Kingdom

Jika Anda lebih menyukai Sci-Fi dan kesempatan untuk bertemu dinosaurus di dunia modern, pergilah ke Oahu, Hawaii yang menjadi lokasi syuting Jurassic Park: Fallen Kingdom.

Destinasi ini tidak hanya menjadi latar belakang yang menawan untuk syuting film tentang makhluk yang telah punah, tetapi juga bagi para pelancong yang mencari tempat liburan yang dikelilingi oleh laut, gunung berapi, olahraga luar ruangan dan alam yang asri.

3. Crazy Rich Asian

Crazy Rich Asians, film komedi romantis yang seluruh pemainnya berdarah Asia itu membuat banyak pelancong berduyun-duyun mengunjungi Singapura. Film ini berlokasi di beberapa titik di Singapura, mulai dari Gardens by the Bay hingga deretan jajanan kaki lima di Newton Food Centre.


2 dari 3 halaman

4. Black Panther

Black Panther merekam adegan pertarungan di kasino yang epik dan kejar-kejaran mobil di Busan, Korea Selatan, sebuah kota yang bisa dibilang lebih indah di malam hari daripada di siang hari.

Meskipun kasino bawah tanah yang glamor itu tidak ada di kehidupan nyata, Anda tetap bisa berpura-pura menikmatinya di salah satu lounge koktail atau klub malam Busan yang megah. Di siang hari, kunjungilah pantai, sumber air panas, kuil, dan tempat-tempat pemujaan di Busan yang tak terekam di film.

5. A Star Is Born

City of Angels alias Kota Los Angeles menjadi latar belakang banyak adegan dalam pembuatan ulang (remake) film A Star is Born, drama romantis tentang musisi country berpengalaman yang ketenarannya dikalahkan oleh pasangannya yang kariernya terus menanjak.

Di sepanjang film, banyak adegan konsernya yang terkenal direkam di sejumlah tempat di Los Angeles, termasuk gedung konser musik Greek Theatre berkapasitas 5.870 kursi, Regent Theatre yang klasik, serta Shrine Auditorium, gedung bersejarah di mana banyak ajang penghargaan film dan musik telah diadakan.

6. Bohemian Rhapsody

Jika Anda lebih suka musik rock klasik daripada country, film biografi pemenang penghargaan yang berkisah tentang salah satu band rock terbaik sepanjang masa ini harus ada dalam daftar film wajib tonton Anda.

Film Bohemian Rhapsody banyak mengambil adegan pertunjukan Live Aid band Queen di Stadion Wembley. Merupakan rumah bagi sepak bola Inggris, Wembley juga masih menjadi salah satu tempat paling populer bagi artis-artis besar untuk tampil.

3 dari 3 halaman

7. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Film yang dibintangi Marsha Timothy sebagai pemeran utama itu berhasil menangkap gambar-gambar cantik Tanah Sumba yang misterius dan berbukit-bukit di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ikuti perjalanan Marlina dengan menunggangi kuda melintasi padang rumput sebelum mengunjungi desa-desa di puncak bukit dan rumah-rumah adat yang dijaga oleh makam-makam megalitik yang menarik.

Pulau yang memiliki sedikit penghuni ini juga merupakan tujuan ideal bagi para pencinta alam yang dapat menikmati danau, air terjun dan taman nasional yang indah di pulau tersebut.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tanah Bergerak Setiap 30 Menit, Warga Banyumas Terbayang Longsor Masa Lalu

Liputan6.com, Banjarnegara – Menilik riwayatnya, Banjarnegara diwarnai kisah pedih longsor kolosal. Dan 70 persen wilayah di kaki pegunungan Dieng ini memang rawan gerakan tanah.

Bencana longsor seringkali mengejutkan terjadi di Banjarnegara. Pada 2006, Dusun Gunung Raja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu lenyap dalam sekejap. Ada 76 orang meninggal dunia, 14 lainnya tak ditemukan.

Kemudian, empat tahun lalu, Dusun Jemblung Desa Sampang Karangkobar luluh lantak diterjang longsor. Seratusan lebih warganya meninggal dunia atau hilang tertimbun material longsoran.

Hingga saat ini, longsor dan gerakan tanah berkala kecil dan besar datang silih berganti. Salah satunya di Dusun Kali Entok Desa Kebutuh Jurang Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara.

Gerakan tanah yang terjadi secara bertahap dilaporkan merusak 22 rumah. Akibatnya, 25 keluarga yang terdiri dari 83 jiwa mengungsi.

Dan ke-25 keluarga itu mengungsi di 11 titik pengugsian. Sebagian besar mengungsi ke rumah saudara, atau ditampung tetangga, dan di tetangga desa, Duren.

“Jadi sekarang masih mengungsi. Kalau kita tahapannya sedang validasi data. Kalau jumlahnya masih seperti kemarin,” kata Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) BPBD Banjarnegara, Arif Rachman, Kamis sore, 21 Februari 2019.

Kisah longsor besar yang sampai menewaskan puluhan hingga ratusan orang membuat warga Kebutuh Jurang trauma. Positifnya, riwayat bencana Banjarnegara membuat mereka waspada.

Arif tak menyalahkan warga yang traumatik. Hanya saja, berdasar pendataan lapangan oleh petugas BPBD dan pemerintah desa Kebutuh Jurang, jumlah rumah rusak sebenarnya hanya 15 unit. Lainnya baru terancam longsor.

2 dari 3 halaman

Kontur Tanah Berisiko Longsor Cepat

Berdasar kajian geologi dan pemetaan longsor, tujuh rumah yang penghuninya turut mengungi sebenarnya berada di luar zona merah. Karenanya, pekan ini BPBD akan mensosialisasikan kepada para pengungsi agar yang rumahnya masih aman bisa kembali ke rumahnya.

Adapun 15 rumah yang terdampak langsung dan terancam agar bertahan di pengungsian untuk sementara waktu.

“Pekan ini kami akan mengumpulkan untuk memberi penjelasan. Bagi yang kondisinya masih ini (relatif) aman, disarankan pulang, karena hanya euforia ketakutan ya lebih baik pulang lah,” dia menerangkan.

Rencananya, dalam waktu dekat hasil kajian geologi, pemetaan dan rekomendasi Badan Geologi itu akan dilaporkan kepada Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono untuk segera ditindaklanjuti.

“Pertama, rumah yang terdampak langsung, begitu kan, jumlahnya ada sekitar 15 rumah. Karena kita sudah ada peta geologinya yang akan kita laporkan kepada Pak Bupati,” dia menambahkan.

BPBD juga telah memasang early warning system (EWS) atau alat peringatan dini longsor dan gerakan tanah di mahkota longsoran. BPBD juga mendirikan posko pantau bencana di sekitar area gerakan tanah untuk memantau pergerakan tanah untuk mengantisipasi gerakan tanah yang membahayakan.

Dia menjelaskan, sifat longsoran di Kebutuh Jurang adalah rayapan tanah (creep). Akan tetapi, menilik kontur tanahnya yang curam dan curah hujan tinggi, gerakan tanah bisa bertambah cepat dan bisa pula bersifat jatuhan.

3 dari 3 halaman

Tanah Bergerak 2 Sentimeter Tiap Setengah Jam

Nun di Kabupaten Banyumas, gerakan tanah di Grumbul Kalisalak RT 3/5 Desa Karangbawang Kecamatan Ajibarang kembali terjadi. Akibatnya, dua keluarga terpaksa mengungsi.

Sebelumnya, di lokasi yang sama, empat rumah harus direlokasi lantaran gerakan tanah terus berlangsung sejak akhir 2018. Kini, gerakan tanah kembali merusak dua rumah yang dihuni empat jiwa, yakni rumah milik Sukardi (68 th) dan Sumardi (70 th).

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kusworo mengatakan, sementara ini Sukardi dan istri mengungsi ke rumah anaknya, Warkiman yang berada di lokasi lebih aman. Adapun Sumardi dan istrinya mengungsi ke saudara lainnya, Suryati.

Kusworo mengemukakan, tanah kembali bergerak setelah Banyumas diguyur hujan lebat berhari-hari. Diukur dengan alat sederhana, dalam waktu setengah jam tanah bergeser sekitar dua sentimeter.

Gerakan tanah membuat tanah retak-retak dan ambles berkisar 70 sentimeter hingga satu meter. Akibatnya, lantai dan dinding rumah retak-retak parah.

Sebelumnya, gerakan tanah di lokasi yang sama juga telah merusak empat rumah. Keempat keluarga itu telah direlokasi secara bertahap sejak akhir 2018 hingga Januari 2019.

“Tanah terus bergerak, pelan tapi pasti. Mulai Kamis,” kata Kusworo.

Ia juga mengimbau agar warga lainnya mewaspadai kemungkinan meluasnya gerakan tanah. Pasalnya, bidang tanah miring, labil dan curah hujan masih tinggi.

“Dan tadi, kita juga memasang early warning system tradisional, sederhana menggunakan tali. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, tanah bergerak sekitar dua sentimeter, jalannya,” dia mengungkapkan.

Saksikan video pilihan berikut:

3 Gempa Hari Ini Menguncang Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Gempa hari ini kembali terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Ada tiga wilayah di Nusantara yang dilanda lindu dengan kekuatan magnitudo dan waktu berbeda-beda.

Melalui laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) www.bmkg.go.id, tercatat gempa terjadi pada pukul 01.47 hingga 11.58 WIB pada wilayah yang berbeda-beda.

Gempa pertama terjadi pada pukul 01.47 WIB di wilayah Manokwari, Papua dengan kekuatan terbesar bermagnitudo 3,7 pada hari ini.

Gempa kedua terjadi di Kolaka, Sulawesi Tenggara pada pukul 11.26 WIB. BMKG melaporkan, ketiga gempa yang terjadi pada hari ini tidak berpotensi tsunami.

Berikut tiga gempa hari ini yang terjadi di Indonesia dihimpun Liputan6.com:

2 dari 5 halaman

1. Manokwari

Gempa hari ini pertama kali terjadi di kawasan Manokwari, Papua pada pukul 01.47 WIB. Gempa tersebut bermagnitudo 3,7 dengan kedalaman 10 kilometer.

Lokasi gempa berada pada titik 1.45 Lintang Selatan-134.21 Bujur Timur. Pusat gempa berada di darat 67 kilometer tenggara Manokwari.

3 dari 5 halaman

2. Kolaka

Daerah kedua yang diguncang lindu pada hari ini adalah Kolaka, Sulawesi Tenggara pada pukul 11.26 WIB dengan kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada di darat 21.4 kilometer tenggara Kolaka.

Lokasi gempa berada pada titik 4.1 Lintang Selatan-121.78 Bujur Timur.

4 dari 5 halaman

3. Bima

Gempa hari ini terakhir terjadi di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Gempa terjadi pada pukul 11.58 WIB dengan kedalaman 26 kilometer.

Pusat gempa berada di laut 55 kilometer tenggara Bima. Lokasi gempa berada pada titik 8.54 Lintang Selatan-119.23 Bujur Timur.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu 700 Meter

Jakarta – Gunung Agung yang berada di Bali kembali mengalami erupsi sore ini. Tinggi kolom abu disebutkan mencapai 700 meter.

Kabid Manajemen Observasi Meteorologi Penerbangan BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, erupsi terjadi pada Jumat (22/2/2019) sekitar pukul 16.31 Wita.

“Telah terjadi erupsi G. Agung, Bali pada tanggal 22 Februari 2019 pukul 16:31 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 700 m di atas puncak (± 3.842 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi ± 6 menit 20 detik,” kata Hary dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (22/2).


Hary menjelaskan, saat ini status Gunung Agung ada di level III atau siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas sejauh 4 km dari puncak gunung.

“Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru,” tutur Hary.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung,” jelasnya.

Laporan terakhir Gunung Agung mengalami erupsi pada 14 Februari 2019. Akibat erupsi tersebut lima desa di Kecamatan Karangasem, Bali terpapar hujan abu.
(rna/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PT Transjakarta Buka Rute Penghubung Asemka Explorer

Liputan6.com, Jakarta – PT Transjakarta membuka rute penghubung baru menuju gedung pusat grosir perniagaan di kawasan Kota, Jakarta Barat. Rute yang dinamakan Aseka Explorer ini akan terhubung dengan beberapa rute, seperti Blok M-Kota, Tanjung Priok-Penjaringan dan Pluit-Senen.

“Layanan ini terhubung dengan rute Blok M-Kota, PIK-Balai Kota, Ancol-Kampung Melayu, PGC-Ancol,  Kampung Rambutan-Ancol,  Tanjung Priok-Penjaringan dan Pluit-Senen (12B). Kemudian bus wisata History of Jakarta (BW1), Art and Culinary (BW3), Tanah Abang-Kota (JAK10) dan Pulogadung-Kota (JAK33),” ujar  Direktur Operasional PT Transjakarta, Daud Joseph di Jakarta, Kamis 21 Februari 2019. 

Daud mengatakan, layanan Asemka Explorer sendiri memiliki 40 titik pemberhentian bus (bus setop) yang akan memudahkan masyarakat menjangkau rute dan titik tujuan.

“Rute ini beroperasi dari pukul 05.00-22.00 dengan tarif Rp 3.500,” kata Daud seperti dilansir dari laman Berita Jakarta. 

Untuk mengisi rute tersebut, Daud menjelaskan pihaknya mengoperasikan Bus Metrotrans. Dalam layanan ini, bus Metrotrans dilengkapi satu area kursi roda dan ram kursi roda di area pintu untuk memudahkan penumpang berkebutuhan khusus.

“Kelebihan lain yang dimiliki bus Metrotrans yakni ketinggian lantai dapat disesuaikan dengan jalan,” ujar Daud. 

2 dari 2 halaman

Dilengkapi CCTV

Di samping itu, sambung Daud, di dalam bus juga terdapat dua pintu penumpang di sisi kiri. Bus ini juga dilengkapi dua unit televisi wide screen ukuran 29 inci dan Closed Ciruit Television (CCTV).

Berikut rute layanan Asemka Explorer:

Halte BNI 46, Stasiun Jakarta Kota Baru, Pangeran Jayakarta 2, Gang Abdul Hamid, Pasar Pagi Mangga Dua, Skywalk ITC Mangga Dua, ITC Mangga Dua, Pasar Tekstil Mangga Dua, Jalan Mangga Dua VIII, Grand Boutiqe Centre, WTC Mangga Dua, Jalan Ampera VI Gunung Sahari, Gunung Sahari Mangga Dua Timur, Pintu Air Kalimati, Maspion Plaza, PKPRI DKI Jakarta, Gang Industri IX Gunung Sahari, Jalan Jembatan Merah, Taman Jalan Pangeran Jayakarta, dan Gedung Baja.

Kemudian bus melewati Ruko Pangeran Jayakarta, Roda Mas Baja Intan, Jalan Mangga Besar 13, Stasiun Jayakarta, Jalan Manggis Pangeran Jayakarta, Seberang Sekolah Fajar Sian, Sekolah Pinangsia, Simpang Perniagaan Tambora, Seberang SMAN 19, Simpang Toko 3 Tambora, Pasar Asemka, Simpang Pasar Pagi, Jalan Telepon Kota, Kali Besar Barat 1, Simpang Kopi Kali Besar Barat, Taman Kota Intan, Gang Kunir II, Simpang Kunir Kemukus, dan Kecamatan Taman Sari.

Pagupon Mbah Pon, Pembelajaran Etika Lewat Bahasa jawa

Liputan6.com, Semarang – “Ya wis aku lila yen omah iki arep mbok rebut, aku lila yen awakku sing wis tuwa iku mbok singkang-singkang, mbok ambrukke! Mbok singkirke…” (Baikah, aku ikhlas jika rumah ini hendak kau rebut, aku ikhlas jika tubuh tuaku ini kau telantarkan, kau buang, kau singkirkan)

Penggambaran emosi antara kemarahan, kesedihan, kesia-siaan, hingga kepasrahan begitu apik digambarkan dengan bahasa Jawa. Cuplikan itu bisa dibaca dalam cerkak (cerita cekak) atau cerpen Bahasa Jawa berjudul Pagupon Mbah Pon, gubahan Budi Wahyono.

Pagupon adalah kandang merpati. Biasanya hanya berbentuk kotak kecil dengan satu pintu tanpa jendela. Menurut Budi Wahyono, penggambaran pagupon sebagai rumah manusia sebenarnya sikap alam bawah sadar manusia Jawa untuk bersikap rendah hati.

“Jadi melalui bahasa Jawa itu, saya malah bisa bercerita dengan lebih klimaks. Diksi bahasa Jawa sangat kaya. Tapi saya tak memilih model diksi klasik, justru dengan diksi yang lebih kekinian, merakyat, keseharian, saya bisa bercerita lebih klimaks,” kata Budi Wahyono menjelaskan alasan memilih setia berbahasa Jawa.

Kekhawatiran sejumlah kalangan bahwa bahasa Jawa sebagai bahasa ibu semakin tersisihkan, dianggap sebagai peluang. Budi mengambil ceruk sastra dengan pasar yang sangat khusus sebagai upaya menambah dan menjaga nilai budaya.

Dituturkannya bahwa menggunakan bahasa jawa sesungguhnya bukan hanya menjaga budaya dan kearifan lokal saja. Namun di dalamnya secara otomatis ada pembelajaran etika, nilai rasa atau kepekaan juga.

“Misalnya, seseorang yang biasa memanggil temannya dengan sebutan ‘Mas’, namun tiba-tiba berubah menjadi ‘Pak’ atau ‘Bapak’ pada saat-saat tertentu ketika si teman tadi sudah menjadi seorang pejabat, bisa dipastikan ia sedang menyembunyikan sebuah maksud,” kata Budi.

Dalam pergaulan Jawa, memang sangat lekat dengan basa-basi. Namun basa-basi yang disampaikan atau penghormatan yang berlebihan pada saat-saat tertentu, menunjukkan isi hatinya.

Cerita-cerita pendek berbahasa Jawa karya Budi Wahyono, juga jauh dari bahasa sastra Jawa tingkat tinggi. Sebaliknya secara sadar Budi memilih bahasa Jawa pasaran atau sehari-hari karena yang ia ceritakan adalah dunia sehari-hari masyarakat kebanyakan.

“Nanti malah ‘njomplang’ (tak seimbang) jika saya bercerita tentang dunia prostitusi jalanan namun menggunakan bahasa Jawa keraton,” kata Budi.

Simak video pilihan berikut:

2 dari 3 halaman

Topografi dan Pengaruhnya

Bahasa Jawa memang mengenal struktur penggunaan. Ini sama dengan beberapa bahasa daerah lainnya. Namun ragam bahasa Jawa yang ada dan masih hidup seperti Mataraman, Ngapak (Banyumas), Ngapak (Tegalan), Osing (Banyuwangi), Pesisiran, Keraton, dan ragam-ragam lain yang merupakan percampuran itu tak bisa disandingkan.

“Bahasa-bahasa itu memiliki kedudukan yang sama. Bahasa Ngapak (Banyumas) dan bahasa Ngapak (gaya Tegal) tak berarti salah satunya lebih halus atau lebih bergengsi. Semua terhormat,” kata Budi.

Sementara itu budayawan Eko Tunas menyebutkan, bahasa ibu menunjukkan akar budaya darimana penutur itu berasal. Ia memetakan bahwa ada tiga kelompok masyarakat yang secara umum memiliki ciri khusus.

Pertama adalah masyarakat yang tinggal di gunung atau pegunungan. Masyarakat gunung atau pegunungan ini karena sulitnya medan untuk hidup sehari-hari mereka sangat gemar bergotong-royong. Tentu saja dimaksudkan agar bisa mengatasi kesulitan hidupnya sehari-hari.

“Masyarakat ini cara bertuturnya sopan. Namun aksen bahasanya keras secara volume. Awalnya untuk mengatasi kesulitan berbicara akibat jarak yang jauh,” kata Eko Tunas.

Kedua, adalah kelompok masyarakat tengahan. Masyarakat ini biasanya tinggal di kawasan lembah atau tempat-tempat subur lainnya sehingga hidup lebih mudah. Model masyarakat ini memiliki kebiasaan suka berpesta.

“Bentuk pesta bisa macam-macam. Salah satunya dengan syukuran. Bahasa yang digunakan relatif lebih pelan saat diucapkan,” kata Eko.

Kemudian yang terakhir adalah kelompok masyarakat pesisir. Karena keseharian mereka berada di tengah laut dan bertaruh nyawa untuk bertahan hidup mencari makan, maka kecenderungan masyarakat ini juga keras. Berbicara apa adanya agar efektif.

“Biasa berpacu dengan waktu mempertahankan nyawa, sehingga gaya bahasa mereka sangat efektif,” kata Eko.

Sepakat dengan Budi Wahyono, Eko Tunas juga tak mau membandingkan. Semua memiliki tingkat kesopanan dan strata penggunaan tersendiri di penggunanya. Namun tak dipungkiri bahwa ada anggapan bahwa bahasa daerah tertentu dianggap lebih halus dibanding daerah lain.

Anggapan bahwa ada daerah yang dianggap lebih halus ini sangat berkait erat dengan dominasi secara politik. Bahasa Jawa gaya Mataram dianggap paling halus karena mereka memiliki keraton sebagai pusat kekuasaan. Sementara bahasa Jawa pesisiran karena disampaikan secara terbuka dan efektif, sedikit basa-basi dianggap kasar.

“Ah itu hanya anggapan saja. Sebenarnya tidak demikian. Itulah sebabnya akhir-akhir ini muncul semacam gerakan kebanggaan menggunakan bahasa ibu. Misalnya seloroh ‘ora ngapak ora kepenak’. Itu menunjukkan kebanggaan mereka,” Budi Wahyono menambahkan.

3 dari 3 halaman

Masih Ada Suriname

Kembali ke awal tulisan ini yang mengutip penggalan cerita pendek Budi Wahyono. Dalam cerkak Pagupon Mbah Pon itu, Budi Wahyono menyentil tentang keberadaan seorang anak, meskipun anak tiri yang sering menjadi kerikil dalam urusan harta dunia.

Anak tiri mbah Pon menginginkan agar rumah lapuk yang ditinggali mbah Pon dijual. Mbah Pon berusaha mempertahankan. Namun ia mesti menyerah dan menjual rumah itu. Kejutan terjadi di akhir cerita ketika mbah Pon memilih pulang ke kampungnya di Wonogiri. Setelah dibagi-bagi, sisa penjualan rumahnya di kota ia gunakan untuk menikah dengan mantan istri pak Mantri Kesehatan

Warga mengantar ke rumah barunya. Rumah yang lebih bagus dari yang dijual itu oleh mbah Pon disebutnya sebagai pagupon atau kandang merpati.

Ternyata dari dalam rumah itu muncul sosok perempuan yang masih menyisakan garis kecantikannya. Ia adalah seorang pesinden di masa mudanya. Warga kaget. Ternyata mbah Pon yang sederhana dan terlihat menderita itu malah mampu berpoligami sebagai salah satu jalan keluar mengusir kesedihan.

Begitulah. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu tetap memiliki pesona dan mampu mencipta drama-drama dalam karya sastra yang mudah dipahami. Tentu saja Budi Wahyono tak sendiri, ada Turiyo Ragilputra dari Kebumen, Djayus Pete dari Bojonegoro, Achmad Dalady dari Magelang dan sederet sastrawan-sastrawan bahasa Jawa lainnya.

Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu tentu akan terus hidup. Apalagi jumlah penggunanya bukan hanya di Indonesia, namun juga di Suriname masih sangat banyak. Hanya saja jika tak ada dukungan dari masyarakat dan negara hadir dalam pengembangannya, tentu akan semakin bergeser dan hilang identitasnya.

22-2-2011: Jerit Histeris Warga Saat Gempa Porak Poranda Satu Kota di Selandia Baru

Liputan6.com, Christchurch – Gempa magnitudo 6,3 mengguncang Christchurch, Selandia Baru pada 22 Januari 2011 pukul 12.51 waktu setempat. Tepat pada jam makan siang, di mana kebanyakan warga sedang berada di jalanan kota saat itu.

Meski tak sekuat lindu berkekuatan 7,1 yang mengguncang pada 4 September 2010, gempa kali itu terjadi pada garis patahan dangkal di daratan yang berada dekat dengan kota. Kedalamannya hanya 5 kilometer, sehingga guncangannya pun sangat merusak.

Lebih dari 130 orang tewas akibat runtuhnya gedung Canterbury Television dan Pyne Gould Corporation. Puing dan bata yang berjatuhan menewaskan 11 orang yang berada di dekatnya.

Teriakan histeris juga terdengar dari reruntuhan bangunan. Pejabat mengatakan teriakan itu milik sekitar 30 orang yang terperangkap di Gedung Pyne Gould Guinness yang telah hancur.

Sementara delapan manusia lain meninggal dunia ketika tembok yang runtuh menimpa dua bus yang sedang melaju.

Kendaraan itu hancur oleh bangunan yang ambruk secara tiba-tiba. Semburat api juga terlihat keluar dari puing kendaraan.

Helikopter pembawa air segera diterjunkan. Mereka mengguyur api dengan air dari dekat atap sebuah rumah, sebagaimana dikutip dari BBC News pada Kamis (21/2/2019).

Tebing batu juga ambrol di area Sumner dan Redcliffs, batu-batu besar berjatuhan di Port Hills, lima orang terbunuh karenanya. Total korban gempa dilaporkan mencapai 185 orang.

Gempa juga merubuhkan sejumlah bangunan yang rusak akibat gempa pada September 2010, terutama gedung-gedung tua. Sejumlah bangunan warisan bersejarah mengalami kerusakan parah, termasuk Provincial Council Chambers, Lyttelton’s Timeball Station, Anglican Christchurch Cathedral dan Catholic Cathedral of the Blessed Sacrament.

Seperti dikutip dari nzhistory.govt.nz, lebih dari setengah bangunan di kawasan pusat bisnis di Christchurch Selandia Baru rusak, termasuk bangunan tertinggi di kota tersebut, Hotel Grand Chancellor.

Situasi kacau pasca-gempa, para penyintas yang syok terlihat lalu-lalang di jalan penuh puing. Mereka mondar-mandir melintasi jalanan retak yang terbuka saat tanah di bawahnya longsor akibat gempa.

Di waktu yang sama, gempa juga menyebabkan pecahnya pipa air di jalanan bagian timur laut Bexley, daerah suburban tepi barat Sungai Avon, Selandia Baru. Bertepatan dengan hujan, sontak terjadilah banjir di lokasi tersebut.


Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Kesaksian Korban Selamat

Seorang warga bernama Rhys Taylor selamat dari kejadian nahas dan berhasil mengambil video di Oxford Terrace. Lokasi itu berada dekat dengan tempat kejadian, tepatnya 50 meter dari rumah sakit utama kota.

“Mobil digunakan untuk ambulans, mengangkut yang terluka,” kata Taylor memberi kesaksian.

Tidak seberuntung Rhys Taylor, Anne Voss tak bisa bergerak. Ia terperangkap di bawah meja di dalam sebuah gedung. Tanpa berpikir panjang, ia menghubungi Saluran Tujuh Australia melalui telepon genggamnya. Beruntung, panggilan itu diangkat.

Voss menuturkan keadaannya kepada penerima panggilan.

Ia sebut dirinya sudah tidak lagi tahan, ingin segera keluar. Selain gelap, ia merasa tanah di bawahnya telah basah oleh darah. Cairan itu keluar dari tubuhnya. Ia benar-benar merasakan penderitaan.

“Dan ini mengerikan!,” kata Voss sambil mengerang kesakitan, mengiba untuk sebuah pertolongan.

Pelajar Jepang Turut Jadi Korban

Tidak hanya warga lokal, belasan pelajar asal Jepang turut dilaporkan hilang. Ternyata, mereka terjabak di dalam puing-puing bangunan.

Saksi mata lari berdatangan, membantu dengan tangan kosong mencoba membebaskan. Tampak beberapa orang menyusul, membawa tandu. Dengan sigap, tandu digunakan untuk mengangkat korban. Miris, alat pengangkut itu tampak seperti terendam darah.

Sebagian pelajar Negeri Sakura berhasil keluar dengan merangkak. Beberapa yang lain diselamatkan dengan tali yang diturunkan dari menara sebuah bangunan.

Sementara itu, tak jauh dari lokasi tempat evakuasi pelajar Jepang, gempa menyebabkan 30 juta ton massa es bergeser dari gletser terbesar di Selandia Baru. Sebuah gunung es raksasa terbentuk saat Gletser Tasman di Taman Nasional Aorak pecah, melemparkan es dari danau yang beku.

Wali Kota Bob Parker segera memberikan tanggapan atas bencana luar biasa yang terjadi.

“Ini adalah korban yang sangat mengerikan di kota kami,” katanya.

Tak ketinggalan, Perdana Menteri John Key turut berbicara. Ia sebut tragedi itu sebagai “kehancuran total,” sambil mengajak orang-orangnya bekerja cepat, demi menemukan lebih banyak korban selamat.

Sementara itu, pada tanggal yang sama pada tahun 1825, Rusia dan Inggris menetapkan batas Alaska dan Kanada. Masih di tanggal yang sama, pada tahun 1967, sejumlah 25.000 tentara AS dan Vietnam Selatan meluncurkan operasi melawan Viet Cong. Operasi militer itu disebut sebagai serangan terbesar sejak Perang Dunia II.

Aktivitas Vulkanik Gunung Karangetang Belum Stabil

Liputan6.com, Jakarta Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara belum stabil atau masih proses erupsi walaupun intensitasnya fluktuatif. Demikian disampaikan Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Devy Kamil Syahbana.

“Aktivitasnya masih tetap tinggi, masih merekam adanya aktivitas embusan dan guguran, begitu pun dengan gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal,” jelas Devy melalui sambungan telepon di Manado, Kamis (21/2/2019).

Terjadinya guguran mengindikasikan masih terjadi lelehan lava, sedangkan embusan menandakan masih ada gas yang dilepaskan. Dia mengatakan, gempa vulkanik dalam dan vulkanik dangkal menunjukkan masih terjadi pergerakan magma dari kedalaman ke permukaan.

Saat ini, PVMBG merekomendasikan masyarakat dan pengunjung agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian, dan tidak beraktivitas di zona bahaya, yaitu radius 2,5 kilometer dari puncak kawah dua (kawah utara) dan kawah utama (selatan).

Demikian pula di area perluasan sektoral dari kawah dua ke arah barat-barat laut sejauh tiga kilometer, dan ke arah barat laut-utara sejauh empat kilometer.

Masyarakat sekitar Gunung Karangetang di area barat laut-utara dari kawah dua, di antaranya Kampung Niambangeng, Beba, dan Batubulan agar dievakuasi ke tempat yang aman dari ancaman guguran lava atau awan panas guguran salah satu gunung api aktif di Sulawesi Utara itu, yaitu di luar zona bahaya.

“Masyarakat di sekitar Gunung Karangetang dianjurkan menyiapkan masker penutup hidung dan mulut untuk mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu,” katanya seperti dikutip Antara.

Dia berharap, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang aliran airnya berhulu di puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga pantai.

2 dari 3 halaman

Sudah 3 Pekan

Gunung api Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan aktivitasnya sejak Sabtu 2 Februari 2019 siang. Bahkan puluhan penduduk sekitar harus dievakuasi akibat guguran lava.

“Proses evakuasi dilakukan aparat gabungan TNI, Polri dan BPBD Kabupaten Sitaro. Ada 22 warga Kampung Batubulan, Kecamatan Siau Barat Utara yang diungsikan,” ungkap Kepala BPBD Kabupaten Sitaro, Bob Wuaten.

Berdasarkan data yang diperoleh, 22 warga yang dievakuasi itu terbagi atas 6 KK dengan rincian 8 orang laki-laki, 10 orang perempuan, serta 4 anak-anak.

Mereka pun ditempatkan oleh petugas di rumah-rumah warga Kampung Batubulan lainnya yang dianggap aman dari ancaman guguran lava.

“Kami terus memantau perkembangan disana sambil mendata ulang identitas warga. Kebetulan petugas kami dibantu aparat TNI maupun Polri tetap standby dilokasi,” ujar Bob.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Cuk, Misuh-Misuh Dapat Cuan

Liputan6.com, Surabaya – Cak Cuk Kata Kata Kota Kita, begitu moto dari outlet Cak Cuk yang diprakarsai oleh Dwita Rusmika selaku pemilik outlet Cak Cuk Surabaya, yang berdiri sejak 10 November 2005.

Pria yang karib disapa Dwita ini menceritakan bahwa awal terbentuknya Cak Cuk ini didasari oleh hobinya yang suka jalan-jalan dan melihat kebiasaan orang Indonesia kalau berpergian, dan pulangnya selalu membawa oleh-oleh.

“Jadi pada tahun 2005 itu masih belum ada oleh-oleh alternatif berupa kaus, adanya cuma kuliner makanan saja. Jadi saya mempunyai ide untuk membuat sesuatu yang baru buat orang yang datang ke Surabaya, bisa membawa oleh-oleh alternatif berupa kaus dan merchandise,” tuturnya saat berbincang santai dengan Liputan6.com di salah satu outlet Cak Cuk di Jalan Ahmad Yani Surabaya, Rabu, 20 Februari 2019.

Dia melanjutkan ceritanya bahwa pemilihan kata Cak Cuk ini didasari oleh kekhasan bahasa orang Surabaya, sehingga ketika orang melihat kaus Cak Cuk bisa langsung mengerti kalau oleh-oleh itu dari Surabaya.

“Cak Cuk atau Jancuk itu kalau istilah Suroboyoan itu sego jangan (nasi sayur) sudah biasa sehari-hari, kalau ngomong tidak ada Cuk itu serasa kurang, mirip sayur tanpa garam. Jadi kalimat Cak Cuk itu saya capture dan saya curahkan atau tuangkan ke desain kaus sebagai bentuk oleh-oleh yang khas Suroboyoan,” kata Dwita.

Dia mengatakan, dari sesuatu yang khas Suroboyoan itu, saat masuk ke proses produksi kaus, Dwita ingin desain kausnya bisa selaras dengan ikon Surabaya, seperti misalnya yang pertama adalah Surabaya Kota Pahlawan, yang dijabarkan di dalam desain kaus itu berupa gambar Bung Karno, gambar Bung Tomo Bukan Che Guevara, dan gambar Tugu Pahlawan City of Heroes.

“Yang kedua, Surabaya kota makanan, jadi desain kausnya bergambar makanan atau tempat-tempat makan di Surabaya,” ucapnya.

Dan yang ketiga adalah Surabaya kota Meso atau Misuh (memaki), misalnya seperti Misuhvolution (Dari bayi sampai tua sudah bisa meso, au – auk – antuk – ancuk – jancuk – mbokne ancuk). Jadi desain kaosnya bertuliskan kalimat meso-meso khas Suroboyoan, seperti Jancuk, Matamu Picek (Matamu Buta), Mak mu Kiper (Ibu mu penjaga gawang) dan lain sebagainya.

“Jadi kita ada real-nya, kita ada panduannya seperti itu, dan macam- macam desainnya disimpulkan sendiri-sendiri,” ujar Dwita.

2 dari 2 halaman

Perjalanan Bisnis

Dwita menyampaikan bahwa bisnis kaus yang digelutinya ini sudah berjalan 14 tahun. Dwita mengisahkan, dulu waktu awal memulai bisnisnya, dia masih belum punya toko. “Dulu jualannya di pameran-pameran gitu, dan jualan di dalam mobil seperti toko berjalan dan Alhamdulillah sekarang sudah punya toko,” tuturnya.

Dwita mengaku konsistensinya menjual kaus Cak Cuk ini walaupun di dalamnya juga ada cerita suka-duka, naik-turunnya bisnis kaus Cak Cuk. Beberapa bulan setelah berdirinya kaus Cak Cuk ini, bermunculan juga 10 kompetitor yang menjual produk yang hampir sama khas Suroboyoan.

“Namun mungkin karena kita yang lebih dulu dan yang paling awal membuat produk kaus khas Suroboyoan seperti ini, maka sekarang hanya tinggal dua kompetitor saja yang masih bertahan,” katanya.

Dwita menjelaskan, produksi kaus Cak Cuk ini dibuat oleh industri rumahan. Awalnya, dia hanya beli kaus dan menyablonkan ke orang lain. Namun, setelah dua atau tiga tahun Cak Cuk berdiri, dia berpikir jika masih menggunakan sistem yang sama maka tidak bisa menekan ongkos produksi kaus.

“Akhirnya saya beli mesin jahit, beli macam-macam peralatan sablon dan saya mempekerjakan karyawan untuk bagian menjahit dan bagian menyablon. Sehingga kita sekarang sudah punya konveksi sendiri dan punya workshop sendiri,” ucapnya.

Dwita menuturkan, outlet Cak Cuk saat ini sudah ada tujuh, tetapi hanya lima outlet milik sendiri, sedangkan dua outlet lainnya, di Bandara Juanda dan pusat oleh-oleh Pasar Genteng Surabaya, merupakan hasil kerja sama.

“Lima outlet Cak Cuk di Surabaya berada di Jalan Meyjen Sungkono, Jalan Golf seputar Gunung Sari, Jalan Ahmad Yani, Jalan Kedung Cowek dan Jalan Darmawangsa,” katanya.

Selain menjual merchandise dan kaus yang harganya berkisar Rp 79 ribu serta jaket Rp 160 ribu, Cak Cuk juga mengembangkan bisnisnya dengan membuka sebuah cafe Cak Cuk yang lokasinya bersebelahan dengan outlet Cak Cuk di Jalan Ahmad Yani Surabaya.

“Harapannya, dengan adanya alternatif oleh-oleh berupa kaus Cak Cuk ini akan semakin diterima oleh warga, terutama oleh warga Surabaya. Dan juga bisa diterima oleh seluruh warga Indonesia, karena yang beli bukan hanya orang Surabaya, melainkan orang dari seluruh Indonesia yang datang ke Surabaya,” Dwita menandaskan.

Dedi Mulyadi: Golkar Berhasil Keluar dari Zona Bahaya

Liputan6.com, Purwakarta – Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan kalau partainya sudah berhasil keluar dari zona bahaya. Hal itu dibuktikan dengan elektabilitas yang terus meningkat.

“Elektabilitas Partai Golkar sekarang ini sudah mencapai angka 11,3 persen, sesuai hasil survei Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA,” jelas Dedi di Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (21/2/2019).

Ia mengatakan, sebelumnya elektabilitas Partai Golkar berada di zona bahaya, yakni di bawah 10 persen. Meskipun diakui belum terlalu hebat, partainya sudah menunjukkan keluar dari zona bahaya.

Menurut dia, Golkar yang merupakan salah satu partai politik tertua di Indonesia selama ini tidak pernah berada di bawah 14 persen.

“Sejelek-jeleknya Partai Golkar, minimal di angka 14 persen. Tinggal bagaimana sekarang bekerja keras untuk meraih minimal 14 persen di survei, sehingga di waktu pencoblosan bisa 20 persen,” kata Dedi.

Ia berharap agar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar melakukan langkah fundamental untuk mendongkrak elektabilitas partai berlambang pohon beringin tersebut. Tujuannya, supaya target minimal elektabilitas Golkar 14 persen bisa tercapai.

“Artinya, kita harus melangkah dengan membangun konten politik yang dimengerti publik,” kata Dedi seperti dikutip Antara.

Selain itu, langkah lain untuk meningkatkan elektabilitas Partai Golkar ialah mengambil efek elektoral dari calon Presiden dan Wakil Presiden RI nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

2 dari 3 halaman

Lumbung Suara di NTB

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto menemui fungsionaris Partai Golkar di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam pertemuan itu, Airlangga mengaku optimis dapat memenangkan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Airlangga juga menyebut NTB merupakan salah satu provinsi yang ditargetkan bagi Golkar meraup suara besar. Untuk mewujudkan hal itu, Airlangga mengaku melakukan berbagai upaya, salah satunya merangkul mantan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB).

Dia yakin, bergabungnya TGB mampu mengangkat suara Golkar cukup besar di NTB. Airlangga pun menyinggung pengaruh TGB saat masih menjabat Gubernur. TGB dinilai memiliki rekam jejak yang terbukti mampu meraih kemenangan untuk pilpres saat itu.

“Provinsi NTB lumbung suara Golkar, nanti Pak TGB juga turun gunung. Kita bersatu insyaallah NTB menang,” ujar Airlangga.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: