Bawaslu Masih Bahas Besar Santunan untuk Petugas Pemilu yang Gugur dalam Tugas

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Fritz Edward Siregar, memastikan bahwa Bawaslu RI akan memberi santunan kepada para Pengawas Pemilu yang meninggal selama bertugas dalam Pemilu 2019.

Meski begitu, ia belum bisa memberitahu jumlah ataupun nominal santunan yang akan diberikan.

“Kami masih mendiskusikannya,” ungkap Fritz di Gedung Bawaslu Jalan MH. Thamrin Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Penetapan besar santunan itu akan dikoordinasikan dengan Bawaslu RI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terlebih dahulu.

Dalam data Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) Bawaslu, tercatat ada 33 orang pengawas meninggal dunia. Angka ini tersebar di 10 provinsi serta 26 kabupaten/kota. Bawaslu juga hari ini menerima kabar meninggalnya satu pengawas yang berasal dari dari Brebes, Jawa Tengah.

Fritz turut mengungkapkan rasa duka cita atas gugurnya para penyelenggara Pemilu tersebut. Ia menegaskan, antisipasi insiden semacam ini sebelumnya telah diupayakan.

“Saya rasa KPU – Bawaslu berusaha prediksi sedetail mungkin bagaimana proses yang terjdi di TPS,” pungkasnya.

HEADLINE: 132 Pahlawan Pemilu 2019 Gugur, Evaluasi Serius untuk 5 Tahun ke Depan

Liputan6.com, Jakarta – Bendera setengah tiang berkibar di halaman Polres Tana Toraja, Senin pagi. Simbol duka cita. Seorang anggota meninggal dunia saat mengamankan Pemilu 2019

Ipda Paulus Kenden mengembuskan napas paripurna dalam perjalanan ke rumah sakit, Minggu sore 21 April 2019. Sebelumnya, sepeda motor yang dikendarai korban menabrak minibus.

“Almarhum menjabat Kepala Bagian Operasi (KBO) Satuan Binmas Polres Tana Toraja, dia meninggal usai kecelakaan saat sedang bertugas pengamanan pemilu di wilayahnya,” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani kepada Liputan6.com, Senin, 22 April 2019.

Saat kejadian, Paulus Kenden sedang berpatroli di wilayahnya untuk memastikan keamanan rekapitulasi di tingkat PPK Kurra.

Dan ia tak sendirian. Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengungkapkan, 15 polisi meninggal dunia saat mengamankan Pemilu 2019

Sementara, data resmi KPU hingga 22 April 2019 menyebutkan, sudah ada 90 petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) meninggal dunia dan 374 orang lainnya sakit. Pihak Bawaslu kehilangan 27 pengawas. Jumlah total yang gugur 132 orang. Mayoritas karena kelelahan.

Proses Pemilu 2019 memang melelahkan. Untuk kali pertama dalam sejarah negeri ini, pilpres dan pileg digelar serentak. Para pemilih mencoblos kertas suara pilpres, DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan DPD sekaligus. Repot? memang. 

Namun kerepotan itu tak hanya dihadapi para pemilih. Bayangkan, proses panjang dan melelahkan yang harus dilalui untuk mewujudkan pesta demokrasi lima tahunan ini. Dari pengiriman logistik pemilu hingga memastikan kotak berisi surat suara aman hingga tujuan. 

Para petugas dan relawan harus menyeberangi sungai dan lautan, menembus hutan, menyusuri jalur teroris, di tengah cuaca panas hingga badai. Ada yang menggunakan truk, mobil, sepeda motor, hingga pedati yang ditarik kerbau atau sapi. Tak jarang kendaraan-kendaraan itu mogok di tengah jalan berlumpur. Sapi-sapi pun bisa ngambek dan harus dirayu agar mau maju.

Stresnya pun bukan kepalang. Seorang ketua KPPS di Malang, SU (42) diduga berniat mengakhiri hidupnya. Ia ditemukan keluarganya di dalam kamar dalam kondisi mengalami luka tusuk di perut.

“Korban ditemukan keluarganya di kamar dalam kondisi terluka. Saat dimintai keterangan, korban mengaku capek dan stres karena ada selisih penghitungan terkait suara DPD dan DPRD,” kata Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri, Sabtu 20 April 2019.

Beban fisik dan mental itu bikin para petugas KPPS kapok. “Ini pemilu terkejam. Kalau pola kerjanya tetap seperti ini, saya pikir seribu kali kalau diminta jadi panitia lagi,” kata Hari Sutrisno, Minggu 21 April 2019. Ia adalah Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 41 Kelurahan Sawojajar, Kota Malang.

Hari mengisahkan bagaimana dia harus bekerja ekstrakeras bersama rekan-rekannya saat pencoblosan 17 April lalu. Bangun subuh, dia harus sudah siaga sejak pukul 06.00 WIB mempersiapkan segala kebutuhan pencoblosan. Beban kerja semakin berat saat penghitungan surat suara. Dia harus begadang hingga pukul 04.00 WIB keesokan harinya untuk merampungkan penghitungan suara.

Ratusan dokumen, mulai pencoblosan, rekapitulasi suara dan lainnya harus ditandatangani saat itu juga.

Pemilu 2019 ini jauh lebih rumit dibanding pilkada serentak 2018. Saya terpaksa jadi KPPS karena tak ada yang mau,” ujarnya.

Perlu Evaluasi Mendalam

Terkait kondisi ini, Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menegaskan pemilu 2019 perlu evaluasi mendalam, komprehensif dan juga utuh.

Dia menyarankan agar pilpres dan pileg kembali dipisah waktu penyelenggaraannya. Pemilu serentak dinilai memberikan banyak beban pada penyelenggara pemilu.

“Meski KPU telah melakukan sejumlah langkah untuk mendistribusi beban kerja tetap saja penyelenggaraan dan pemungutan suara dan penghitungan jadi beban  amat berat bagi petugas di lapangan,” ungkapnya.

Titi juga mengingatkan pentingnya rekapitulasi suara secara online. Kata dia, rekapitulasi secara online bisa meringankan beban menulis para petugas teknis di TPS.

“Dari penelusuran ternyata kelelahan itu tidak hanya dipicu beban penyelenggaraan yang berat, tapi ada juga kontribusi problematika logistik yang mereka hadapi,” ucapnya.

Menurutnya, proses pemungutan suara kali ini lebih memakan waktu, karena ada lima surat suara, termasuk pemilihan anggota DPRD tingkat kabupaten/kota. Tak heran bila di beberapa daerah penghitungan suara bahkan ada yang berlangsung sampai siang hari berikutnya karena petugas kelelahan.

Tugas yang berat itu, dinilainya tidak sebanding dengan insentif yang didapatkan. Anggota KPPS mendapat honor Rp 500 ribu, sedangkan ketua KPPS mendapat Rp 550 ribu. Honor tersebut dipotong pajak penghasilan 5 persen. Sehingga upah bersih bagi tiap anggota menjadi Rp 475 ribu dan ketua Rp 522.500.

“Insentif untuk KPPS sangat minim, ditambah lagi tidak ada jaminan terhadap asuransi kesehatan ataupun kematian akibat beban kerja yang cenderung tidak manusiawi dari sisi durasi kerja,” ujar Titi.

Menurutnya, KPU perlu mengalokasi insentif asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan bagi para KPPS. Sebab, skema pemilu serentak lima surat suara memang tidak sesuai dengan kapasitas beban yang harus ditanggung pemilih, penyelenggara, dan peserta pemilu.

“Ini tidak sepadan dengan kemampuan dan daya tahan kerja petugas supaya bisa bekerja efektif dan profesional. Makanya, sedari awal yang kami usulkan bukan pemilu borongan lima surat suara,” kritik Titi.

Terpisah, mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang kini jadi peneliti Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) Hadar Nafis Gumay mengatakan, ada perbedaan mencolok terhadap beban kerja petugas KPPS di pemilu 2019 dengan periode sebelumnya. 

Menurutnya, beban kerja KPPS saat ini jauh lebih berat karena pemilu digelar serentak. Kondisi ini diperparah dengan kurang maksimalnya KPU mempersiapkan petugasnya di lapangan. Regulasi yang berubah-ubah, logistik yang datang terlambat hingga bimbingan teknis yang tidak merata, membuat banyak  petugas KPPS yang kelabakan.

“Bimtek kurang, pelatihan hanya dilakukan ke sebagian petugas yang kemudian petugas tersebut mengajarkan ke petugas lainnya. Jadi tidak langsung dari KPU. Peluang miskomunikasi sangat terbuka,” ujarnya.

Kondisi ini membuat kemampuan petugas di TPS tidak merata. Sebagian cekatan dan cepat menyelesaikan penghitungan, sebagain lain bermasalah karena adanya perbedaan keterampilan dalam penghitungan surat suara.

“Belum lagi mereka harus menjalankan tugas-tugas non-teknis lainnya seperti kertas suara yang kurang, ngurusin saksi-saksi yang ada di TPS, hingga pemilih yang tidak masuk daftar,” jelasnya kepada Liputan6.com, Senin (22/4/2019).

Beban kerja inilah yang membuat sejumlah petugas KPPS tidak kuat dan akhirnya jatuh sakit, bahkan kemudian ada yang meninggal dunia.

“Suasana kompetisi yang ketat di mana para peserta pemilu ingin tampil sebagai pemenang, menuntut penyelenggara di TPS juga berkerja dalam tekanan. KPPS kerja terus sedikit tidur, akhirnya meninggal,” katanya. 

Hadar menyatakan, perlu evaluasi menyeluruh dari para stake holder pemilu agar kejadian meninggalnya puluhan petugas KPPS ini tidak lagi terulang.

“Pemilu kita itu berat, jadi harus betul-betul dipersiapkan jauh hari. Jangan ada yang mepet, DPR jangan menunda-nunda pembuatan aturan,” jelasnya.

Pihaknya juga mengusulkan adanya pengurangan beban petugas di lapangan dengan memecah penyelenggaraan pemilu. Misalnya, pilpres bareng pilkada, sedangkan legislatif (DPR RI, DPRD propinsi, DPR kota/kabupaten) dilakukan serentak.

“Selama ini pilpres berbarengan dengan pileg DPRD kota/kabupaten, akibatnya caleg-caleg di daerah ini tenggelam namanya,” jelasnya.

Hadar juga menyoroti lamanya waktu rekapitulasi penghitungan suara yang lebih dari satu bulan. Kondisi ini berpotensi memicu saling klaim kemenangan dari para pihak seperti yang terjadi saat ini.

“Pola manual ini harusnya sudah mulai ditinggalkan. Sudah mulai harus beralih ke teknologi. Teknisnya bisa dibicarakan bersama,” ujarnya.

13 Petugas Pemilu di Jawa Barat Gugur saat Jalankan Tugas

Sementara itu juru bicara Forum Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kota Bandung Dedi Kurniawan, dalam siaran persnya menuding otoritas penyelenggara pemilu setempat berbohong soal jaminan asuransi untuk KPPS.

“Data lengkap setelah dilantik tanggal 27 maret 2019 seluruh KPPS sudah dimasukkan ke KPU Kota Bandung. Data pun diminta disegerakan agar segera dapat didaftarkan ke Taspen. Pascadata sudah dikirim KPU, sudah tidak lagi meminta dan mendesak data karena pandangan kami data sudah masuk lengkap dan KPPS sudah dapat jaminan asuransi dari Taspen,” ujar Dedi.

Dedi menyebutkan dua orang KPPS di Kota Bandung pada dini hari pelaksanaan pemilihan dan hari sebelumnya dilaporkan meninggal dunia pada saat melaksanakan tugas. Pasca meninggalnya anggota KPPS yang telah diberikan surat keputusan itu, KPU baru menginformasikan bahwa kepesertaan Taspen KPPS diharuskan membayar Rp 6.000 per orang.

Alasan kepesertaan di Taspen harus membayar secara pribadi dari KPU, akibat pembayaran biaya oleh otoritas pemilu tersebut ditolak lantaran pengajuan anggarannya tidak disetujui. Hal ini dianggap mengecewakan.

“Info tersebut didapat pada saat kita tagih klaim. Seharusnya mereka kan yang menginformasikan hal tersebut jauh – jauh hari. Atas kekecewaan tersebut, kami melihat mekanisme komunikasi tidak dijalankan dengan baik. Semoga hal ini, menjadi catatan penting buruknya komunikasi ditataran penyelenggara pemilu,” terang Dedi.

Atas dasar tersebut, pihaknya akan menggalang koin untuk KPU. Teknisnnya setiap kecamatan akan mendonasikan uang senilai Rp 6.000.

Forum PPK Kota Bandung menyatakan duka cita mendalam terhadap anggotanya yang meninggal dunia saat bertugas. Total petugas KPPS yang emninggal dunia di Jawa Barat mencapai 13 orang, termasuk dua orang dari Kota Bandung yang tidak terekap oleh KPU Jawa Barat.

Sandiaga Sedih Subkhan Ditahan: Satu Per Satu Pendukung Gugur

Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno mengaku sedih, Moh Subkhan, petani asal Brebes, Jawa Tengah ditahan karena kasus penganiayaan terhadap Sukro (60) warga Kabupaten Tegal. Dia berharap perjuangan relawan tidak surut.

“Itu yang membuat saya terenyuh saya. Sedih saya. Terlepas dari masalah hukumnya seperti apa, satu per satu gugur pendukung kita karena terjerat masalah hukum,” kata Sandiaga di Klender, Durem Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/3/2019).

Subkhan sempat viral di medsos akibat curhatannya terhadap Cawapres Sandiaga Uno pada 11 Februari lalu. Saat itu Subkhan mengeluhkan harga bawang anjlok dan banyak petani yang terlilit hutang.

Subkhan ditahan pada Selasa (19/3/2019). Sandiaga berharap relawan dari kubu 02 yang ditahan itu tidak menyurutkan perjuangan menangkan pasangan Prabowo-Sandiaga.

“Buat kami jangan sampai menyurutkan perjuangan dan semangat dari rekan-rekan di bawah untuk memperjuangkan kebaikan perubahan di negeri ini,” katanya.

Kasus penganiayaan Subkan dipicu peredaran video pengakuan Sukro yang mengatakan bahwa dirinya pernah mengalami sakit jiwa dan pernah dirawat di RSJ Magelang. Akibat video itu, Subkhan mendatangi Sukro yang melakukan pemukulan.

(idn/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bharada Aldy yang Gugur Ditembak KKB di Nduga Diberi Kenaikan Pangkat

Jakarta – Bhayangkara Dua (Bharada) Muhammad Aldy, anggota Brimob yang gugur ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Nduga, Papua, merupakan anak kebanggaan keluarga. Ayah Aldy sehari-hari bekerja sebagai buruh di Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).

“Korban adalah putra yang dibanggakan keluarganya. Duka mendalam keluarga korban tentu menjadi duka mendalam Polri. Korban adalah putra dari seorang buruh di Nunukan, Kalimnatan Utara,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada detikcom di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/3/2019).

Dedi menuturkan kepergian Bharada Aldy tak menyusutkan semangat Polri untuk mengejar KKB. Gugurnya Aldy justru memotivasi pasukan untuk lebih semangat mengejar KKB.
“Polri berduka, salah satu prajurit terbaik kami gugur dalam tugas di Papua. Gugurnya korban bukan berarti memupuskan semangat kami untuk mengejar KKB, tapi justru memotivasi kami dalam rangka melindungi masyarakat Papua dan mengejar kelompok kriminal bersenjata di sana,” tegas Dedi.

Dedi mengatakan Aldy mendapat kenaikan pangkat luar biasa (KPLB) dari bharada menjadi bhayangkara satu (bharatu). Dedi menerangkan Aldy baru saja lulus pendidikan Tamtama 2018 lalu. Dia baru mendapat penugasan di Papua pada Februari lalu.

“Korban otomatis langsung mendapatkan penghargaan kenaikan pangkat dari Bapak Kapolri. Tiap anggota Polri yang gugur dalam tugas, berhadapan atau kontak langsung dengan pelaku tindak pidana atau kejahatan, diproses untuk KPLB. Baru lulus Tamtama 2018 lalu,” terang Dedi.

Peristiwa baku tembak yang mengakibatkan Bharada Aldy gugur terjadi pada Rabu (20/3), sekitar pukul 07.30 WIT. Baku tembak antara Pasukan Brimob Nemangkawi Tim Belukar dan KKSB terjadi di Bandara Mugi, Distrik Mugi, Kabupaten Nduga.

Insiden terjadi saat petugas mengamankan bandara untuk pendorongan logistik. “Benar, satu orang anggota gugur,” ujar Kapolda Papua Irjen Martuani Sormin, pagi tadi.

Setelah terjadi baku tembak, ketiga anggota Tim Belukar yang tertembak langsung dievakuasi menggunakan helikopter Penerbad.
(aud/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Piala Presiden 2019: Kalah dari Kalteng Putra, Persipura Terancam Gugur

Persipura: Dede Sulaiman, Ansanay, Ricardo Salampessy, Andre Ribeiro, Valentino Telaubun, Imanuel Wanggai, Muhammad Tahir, Wallacer Andrade, Boaz Solossa, Luis Carlos, Titus Bonai.

Kalteng Putra: Dimas Galih, Wasyiat Hasbullah, Rafael Bonfim, OK John, Boby Satria, Fajar Handika, Gede Sukadana, Pandi Lestaluhu, Pahabol, Elthon Maran, Diogo Gomes.

Kapolda: 3 Prajurit TNI yang Gugur Hendak Bantu Polri Kejar KKB

Jakarta – Tiga prajurit TNI gugur dalam serangan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Mugi, Nduga, Papua, kemarin. Kapolda Papua Irjen Martuani Sormin menuturkan ketiga prajurit TNI tersebut bersama pasukannya ke Mugi untuk membantu Polri memburu KKB.

“Pasukan yang backup Polri untuk melakukan penegakan hukum (terhadap KKSB),” kata Martuani saat dihubungi detikcom, Jumat (8/3/2019).

Martuani mengatakan proses evakuasi ketiga jenazah prajurit TNI itu dipimpin langsung oleh Wadanjen Kopassus Brigjen TNI Muhammad Hasan, yang merupakan Ketua Satgas Nanggala Nemangkawi.

“Ya benar (Wadanjen Kopassus) pimpin langsung proses evakuasi, karena beliau kan sebagai Dan Satgas yang di-BKO-kan ke Polri,” ujar Martuani.

Sebelumnya diberitakan pasukan TNI yang berjumlah sekitar 25 orang ditembak oleh 50-70 orang KKB. Kapendam Cenderawasih Kolonel M Aidi, mengatakan, pasukan TNI diserang saat baru tiba di Distrik Mugi dalam rangka mengamankan jalur pergeseran pasukan, Kamis (7/3) sekitar pukul 08.00 WIT.

M Aidi menjelaskan 50-70 orang KKB menggunakan senjata campuran, baik standar militer maupun tradisional seperti panah dan tombak.Akibat serangan tersebut Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto Bayu Aji gugur.

Ketiga jenazah direncanakan akan diterbangkan ke kampung halamannya hari ini. Serda Mirwariyadin direncanakan akan diterbangkan ke NTB, Serda Yusdin akan di terbangkan ke Makassar (Palopo Sulsel) dan Serda Siswanto Bayu Aji akan diterbangkan ke Jawa Tengah (Grobokan Jateng).
(aud/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pasukan TNI Diserang Kelompok Egianus Kogoya di Nduga, 3 Prajurit Gugur

Liputan6.com, Jayapura – Kodam XVII/Cenderawasih mengklaim penyerangan yang dilakukan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pimpinan Egianus Kogoya di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga tak seimbang.

Dalam penyerangan yang dilakukan pukul 08.00 WIT, Kamis (7/3) anggota TNI yang saat itu berjumlah 25 orang, diserbu oleh 50-70 kekuatan anggota KKSB.

Kejadian ini terjadi saat Satgas Penegakan Hukum (Satgas Gakkum) yang melakukan proses pergeseran pasukan TNI yang akan melaksanakan pengamanan dan pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena- Mumugu di Kabupaten Nduga.

Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi menyebutkan, anggota KKSB itu menggunakan senjata campuran, yakni senjata standar militer maupun senjata tradisional seperti panah dan tombak.

Walaupun pasukan berusaha melakukan perlawanan dan berhasil menguasai keadaan, serta memukul mundur  kelompok KKSB sampai menghilang ke dalam hutan, namun 3 orang prajurit gugur.

“Ketiga prajurit yang gugur sebagai kusuma bangsa adalah Serda Mirwariyadin yang berasal dari Nusa Tenggara Barat, Serda Yusdin asal Palopo Sulsel dan Serda Siswanto Bayu Aji berasal dari Grobokan Jateng. Ketiga jenasah saat ini berada di RSUD Timika,” kata Aidi, Kamis (7/3/2019).

Aidi menambahkan dalam penyerangan itu, pasukan TNI berhasil merebut 5 senjata api milik KKSB. Pasca penyerangan, TNI menemukan satu jenasah yang berada di lokasi kejadian.

“Kami perkirakan ada 7-10 orang anggota KKSB yang tewas, namun mayatnya berhasil dibawa kabur oleh teman-temannya,” ucapnya.

Usai baku tembak, sekitar pukul 15.00 WIT, dua unit heli jenis Bell tiba dari Timika untuk melaksankan evakuasi korban prajurit yang gugur, namun sebelum mendarat heli malahan ditembaki KKSB, pasukan TNI pun membalas tembakan sehingga heli berhasil mendarat dan proses evakuasi dapat dilaksanakan dalam keadaan aman.

2 dari 3 halaman

600 Pasukan TNI Bantu Pengamanan di Nduga

Pagi tadi, Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring memimpin upacara penerimaan Satgas TNI yang akan melaksanakan pengamanan  pembangunan infrastruktur di Kabupaten Nduga.

Pembangunan di daerah itu sempat terhenti, karena insiden pembantaian terhadap puluhan karyawan PT Istaka Karya pada awal Desember tahun lalu.

Ke-600 orang prajurit TNI berasal dari Satgas Yonif Raider 321/Galuh Taruna dan Yonif Raider 514/Sabbada Yudha.

“Kalian adalah prajurit pilihan yang bertugas melindungi rakyat, seluruh tumpah darah Indonesia. Jangan sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat dimanapun akan ditugaskan,” ucap Yosua.

Yosua mengingatkan kembali kepada ratusan prajurit ini bahwa sektor penugasan prajurit merupakan daerah rawan dari kelompok separatis bersenjata yang masih aktif melakukan teror, pembunuhan dan aksi kriminal lainnya, baik terhadap aparatur negara maupun warga masyarakat.

“Separatis di Nduga aktif mengganggu program strategis nasional seperti pengerjaan proyek Trans Papua di Kabupaten Nduga. Ingat, selalu tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam setiap kegiatan,” kata Pangdam.

3 dari 3 halaman

Satu Pekerja Dijaga Dua Anggota TNI

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah XVII Papua, Osman Marbun mengatakan 600 prajurit TNI AD membantu pengamanan pembangunan infrastruktur jembatan Trans Papua.

Kesepakatan ini tertuang dalam penandatangan kesepakatan antara Kementrian PUPR dan Mabes TNI. Sebanyak 600-an akan dikirim ke Nduga, diantaranya personil akan dikirim ke Mbua sebanyak 250 prajurit dan 350 prajurit lainya diberangkatkan dari Timika ke Kenyam.

Osman menyebutkan pengerjaan jembatan Trans Papua tetap dilanjutkan oleh PT Istaka Karya dan PT Brantas yang dibantu Zipur untuk penanganan fisiknya.

“Pengerjaan ini dijaga oleh 450 prajurit. Dalam prakteknya, satu orang pekerja dijaga oleh 2 orang prajurit,” kata Osman.

Harapannya jembatan di jalan Trans Papua ini dapat diselesaikan tahun ini. PT Istaka Karya mengerjakan 14 jembatan, namun ada 8 jembatan dalam pengerjaan yang belum selesai.

Kemudian dari 21 jembatan yang ditangani oleh PT Brantas, ada 5 jembatan yang sudah selesai, sehingga ada 16 jembatan lagi yang harus ditangani.

“Lokasi jembatan yang dikerjakan sepanjang 276 km, terbentang mulai dari Habema hingga ke Mumugu, sehingga pekerjaannya cukup panjang dan berada di hutan, sehingga butuh pasukan pengamanan,” jelasnya.

Simak video menarik berikut ini:

3 Anggota TNI Gugur Ditembak di Papua, Pangdam: Kita Tak akan Mundur!

Jayapura – Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Yosua Pandit Sembiring, menegaskan pihaknya tak akan mundur meski anggotanya gugur ditembak oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB), di Nduga Papua. TNI tetap akan memburu KKSB hingga ke pelosok Papua.

“TNI akan terus mem-back up Polri dalam upaya penegakan hukum terhadap aksi-aksi kelompok bersenjata yang meresahkan masyarakat Papua. Kami tidak pernah dan tidak akan pernah mundur selangkah pun dalam menghadapi KKSB. Meskipun beberapa prajurit TNI-Polri telah gugur dalam tugas, namun kami tetap berkomitmen untuk melindungi warga masyarakat Papua dari teror yang dilakukan KKSB, ” tegas Yosua, dalam keterangannya kepada detikcom, Kamis (7/3/2019).

Pangdam Yosua mengatakan bahwa ke-3 prajurit TNI tersebut telah gugur demi menjalankan tugas mulia untuk menegakkan kedaulatan bangsa. Baginya, ketiga prajurit itu ialah pahlawan.

“Mereka adalah pahlawan kusuma bangsa yang telah rela mengorbankan nyawanya demi menghadirkan rasa aman bagi masyarakat Papua,” tegasnya.

Namun demikian, Yosua menegaskan TNI tidak akan berhenti untuk mengamankan dan membantu pemerintah untuk membangun kabupaten Nduga. Dia dan Kodam XVII/Cenderawasih menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas gugurnya 3 prajurit terbaik bangsa.

“Kejadian ini juga sekaligus membuktikan bahwa kelompok separatis bersenjata lah yang selama ini menjadi beban bagi masyarakat Papua. Mereka tidak segan membunuh aparat dan warga sipil yang tidak mendukung mereka,” ucap Yosua.
(rvk/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

3 Anggota TNI yang Gugur di Papua Diserang Puluhan KKSB

Timika – Tiga angoota TNI yang gugur dalam baku tembak dengan KKSB( Kelompok Kriminal Separatis Beraenjata) di wilayah Yigi, Kabupaten Nduga, Papua. Mereka diduga ditembak oleh 50-70 orang KKSB.

Kapendam Cenderawasih Kolonel M Aidi, mengatakan, pasukan TNI Satgas Gakkum berkekuatan 25 orang tersebut baru tiba di Distrik Mugi dalam rangka mengamankan jalur pergeseran pasukan. Tiba-tiba mendapatkan serangan mendadak oleh sekitar 50-70 orang KKSB bersenjata campuran, baik senjata standar militer maupun senjata tradisional seperti panah dan tombak.

“Pasukan berusaha melakukan perlawanan sehingga berhasil menguasai keadaan, dan berhasil memukul mundur kelompok KKSB sampai menghilang kedalam hutan belantara,” tutur Aidi, kepada detikcom, Kamis (7/3/2019).

“Akibat serangan tersebut menyebabkan 3 orang prajurit gugur sebagai kusuma Bangsa atas nama Serda Mirwariyadin, Serda Yusdin dan Serda Siswanto Bayu Aji,” sambungnya.

Ketiga anggota TNI yang gugur merupakan Pasukan yang tergabung dalam Satgas Penegakan Hukum (Satgas Gakkum), yang sedang melaksanakan pengamanan dalam rangka proses pergeseran pasukan TNI yang akan melaksanakan pengamanan dan pembangunan infrastruktur Trans Papua Wamena- Mumugu. Mereka mendapatkan serangan dari pihak KKSB pimpinan Egianus Kogoya di Distrik Mugi sekitar pukul 08.00 WIT, Kamis pagi.

Ketiga jenazah direncanakan akan diterbangkan ke kampung halamnya besok Jumat (8/3). Serda Mirwariyadin direncanakan akan diterbangkan ke NTB, Serda Yusdin akan di terbangkan ke Makassar (Palopo Sulsel) dan Serda Siswanto Bayu Aji akan diterbangkan ke Jawa Tengah (Grobokan Jateng).

(rvk/aud)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>