Goro-Goro: Mahabarata 2, Lakon Pentas Besar Pertama Teater Koma di 2019

Liputan6.com, Jakarta – Adalah Goro-Goro: Mahabarata 2, lakon yang dipilih dalam produksi ke-158, sekaligus pentas besar pertama Teater Koma di tahun 2019. Didukung Bakti Budaya Djarum Foundation, pentas ini bakal digelar selama 11 hari, yakni pada 25 Juli–4 Agustus 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Penulis naskah dan sutradara Goro-Goro: Mahabarata 2 Nano Riantiarno memaparkan, lakon ini mengangkat kisah kehidupan para dewa dan wayang yang dikemas dalam kolaborasi harmonis antara kostum, tata rias, desain artistik panggung, musik, multimedia, dan kepiawaian para pemain di atas pentas.

Lakon lanjutan dari semesta Mahabarata yang telah dimulai dengan pentas Mahabarata: Asmara Raja Dewa oleh Teater Koma pada November 2018 ini bercerita tentang Semar dan Togog yang ditugaskan turun ke Marcapada dan menghamba pada raja-raja di sana.

Semar jadi panakawan para ksatria yang membela kebenaran dan mengabdi pada Raja Medangkamulyan, Prabu Srimahapunggung, sementara Togog menghamba pada para raksasa penyebar kejahatan, Raja Raksasa Kerajaan Sonyantaka, Prabu Bukbangkalan.

Di suatu masa, karena cintanya ditolak, Batara Guru mengutuk Dewi Lokawati jadi tamanan pagi dan padi itu dianugerahkan pada Kerjaan Medangkamulyan untuk jadi bahan makanan utama Wayang Marcapada.

Ketika Medangkamulyan panen padi melimpah, Sonyantaka malah diserang paceklik, maka Bukbangkalan sangat bernafsu merampok Medangkamulyan. Apakah Sonyantaka akan berhasil menyerang Medangkamulan?

Goro-Goro: Mahabarata 2 akan mengajak penonton untuk membayangkan dan memikirkan seperti apa pemimpin yang diinginkan, pemimpin yang mencintai perdamaian demi kenyamanan dan kemakmuran bersama atau justru mencintai pertikaian demi meraih kekuasaan tertinggi,” tambah Nano.

2 dari 4 halaman

Inspirasi di Balik Lakon Goro-Goro: Mahabarata 2

Nano memaparkan, tanaman padi yang sudah sangat lekat dengan orang Indonesia merupakan premis dirinya menulis lakon Goro-Goro: Mahabarata 2. Lelaki 70 tahun itu meneladani kisah dari sebuah desa bernama Cipta Gelar.

“Saya jadi saksi mata bagaimana pemangku adat di sana mementingkan teknologi, tapi juga membuat padi jadi tak kalah penting. Mereka punya lumbung (padi) berusia 650 tahun dan sampai sekarang masih terus menanam padi dengan cara-cara yang diajarkan leluhur,” kata Nano.

Aktor senior sekaligus pemain teater yang turut ambil bagian dalam lakon Goro-Goro: Mahabarata 2 Slamet Rahardjo menambahkan, cerita yang dipentaskan merupakan simbol bahwa teknologi bisa berkembang sampai manapun. “Tapi, manusia harus tetap jadi programmer-nya,” tegas Slamet.

Berbicara tentang pemain yang terlibat, di samping Slamet, ada pula Idries Pulungan, Budi Ros, Ratna Riantiarno, Sari Madjid, Netta Kusumah Dewi, Rangga Riantiarno, Tuti Hartati, Dorias Pribadi, Ratna Ully, dan Daisy Lantang.

Juga, Alex Fatahillah, Raheli Dharmawan, Emanuel Handoyo, Bayi Dharmawan Saleh, Angga Yasti, Dana Hassan, Suntea Sisca, Andhini Puteri, Yulius Buyung, Sir Ilham Jambak, Zulfi Ramdoni, Zulfi Ramdoni, Andhini Puteri Lestari, serta Indri Djati.

Pentas bakal kian apik dengan dukungan tata busana, tata rias dan rambut, tata artistik, tata cahaya, latar animasi, juga multimedia, serta tata musik. “Nanti bakal ada bunyi rengkok yang, buat saya, itu masih kasih nilai mistis,” ujar Nano.

Penata Musik Fero Stefanus mengatakan, gamelan merupakan instrumen yang sangat penting dalam lakon ini. Instrumen tersebut, kata Fero, terakhir digunakan pada pementasan Teator Koma sekitar 10 tahun lalu. “Musik dasarnya Jawa, Bali, dan Kalimantan,” tuturnya.

Latar lakon yang 80 persen berada di kayangan dan 20 persen di Planet Jawa juga jadi tantangan tersendiri bagi tim artistik. Idries mengatakan, nuansa nyata yang dihadirkan sudah berangkat dari tanaman asli yang dipakai sebagai properti di panggung.

Tata busana garapan Rima Ananda juga sangat mendukung fantasi yang ingin dihadirkan. “Tidak kurang dari 100 kostum yang disiapkan,” kata Rima.

3 dari 4 halaman

Harga Tiket

Pimpinan Produksi Ratna Riantiarno mengatakan, Graha Bhakti Buday, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, yang jadi lokasi pemantasan berkapasitas 780 orang. Penjualan tiket sendiri sudah dimulai sejak bulan lalu.

“Ada semacam pre-sale diskon 20 persen selama lima hari dan itu penjualannya lumayan. Sudah hampir dua ribu tiket yang terjual. Ada juga satu hari yang langsung diborong jadi tidak dijual lagi,” katanya.

Sekarang, Ratna mengatakan, ketersediaan tiket tinggal 30 persen. Mendapatkan informasi tiket, Anda bisa menghubungi (021)735 0460 atau 0821 2277 7709 atau langsung beli secara daring lewat teaterkoma.org, go-tix.id, dan blibli.com.

Harga tiketnya sesuai kategori meliputi Senin nomat Rp60 ribu, Rp80 ribu, Rp120 ribu, Rp180 ribu, Rp240 ribu, dan Rp320 ribu. Selasa–Kamis, Rp75 ribu, Rp100 ribu, Rp150 ribu, Rp225 ribu, Rp300 ribu, dan Rp400 ribu.

Sedangkan saat akhir pekan, yakni Jumat, Sabtu, Minggu, tiket dibanderol Rp100 ribu, Rp150 ribu, Rp225 ribu, Rp300 ribu, Rp400 ribu, dan Rp500 ribu.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *