Rocky Gerung soal Gaduh Hoax Ratna: Dunia Maya Representasi Dunia Nyata

JakartaRocky Gerung menyebut ada pro-kontra terkait kasus hoax Ratna Sarumpaet di media sosial. Rocky mengatakan kegaduhan di dunia maya juga merupakan representasi kegaduhan di dunia nyata.

Awalnya pengacara Ratna Sarumpaet, Insank Nasruddin menanyakan pendapat Rocky Gerung tentang pro kontra di medsos. Apakah pro kontra itu juga dirasakan di dunia nyata atau tidak.

“Saksi bilang terjadi pro dan kontra. Pertanyaan saya pro dan kontra ini apakah terjadi di dunia maya saja atau ada jadi di dunia nyata?” kata pengacara Ratna Sarumpaet, Insank dalam persidangan di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Selasa (23/4/2019).

“Representasi dari dunia nyata memang dunia maya,” jawab Rocky.

“Di dunia maya saja?” kata Insank.

“Bukan saja ya. Saya menemukan itu diferensiasi atau terkait pro kontra kegaduhan itu di dunia maya,” jawab Rocky.

Saat ditanya lebih lanjut apakah ada bentrokan atau anarkis di dunia maya, Rocky Gerung tak mau menggunakan istilah tersebut.

“Jangan pakai istilah anarkisme,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Jaksa Penuntut Umum (JPU) Daroe menanyakan hal yang sama ke Rocky soal representasi dunia maya terhadap dunia nyata. Daroe menanyakan soal pro kontra dan ketegangan didunia maya juga terjadi di dunia nyata atau kondisi lapangan.

“Pertanyaan saya apakah saudara menangkap makna bahwa ketegangan atau pro kontra yang ada di dunia maya apakah juga merupakan representasi dari situasi rill di lapangan di masyarakat sosial?” ujar Daroe.

“Ya karena seluruh aktivitas berpikir, aktivitas empati, aktivitas simpati atau antipati itu lebih banyak beroperasi di dunia maya daripada di dunia rill karena orang hanya akses keadaan melalui dunia maya,” imbuh Rocky.

Ratna Sarumpaet didakwa membuat keonaran lewat hoax penganiayaan. Ratna menyebarkan hoax kepada sejumlah orang lewat pesan WhatsApp, termasuk mengirimkan gambar wajah lebam dan bengkak yang diklaim akibat penganiayaan.

Padahal kondisi bengkak pada wajah Ratna merupakan efek dari operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng. Jaksa mengungkap Ratna memfoto dirinya saat menjalani perawatan medis, lalu menyebarkan foto ditambah keterangan soal terjadinya penganiayaan.

(yld/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

11 Anggotanya Jadi Tersangka Ricuh Harlah NU, Ini Kata FPI

11 Anggotanya Jadi Tersangka Ricuh Harlah NU, Ini Kata FPI Munarman (Foto: dok. detikcom)

Jakarta – Sebelas anggota Front Pembela Islam (FPI) ditetapkan sebagai tersangka terkait kerusuhan saat tablig akbar dan peringatan Harlah NU ke-93 di Tebing Tinggi, Sumatera Utara (Sumut). Kuasa hukum FPI, Munarman, mengatakan ada beberapa hal yang memicu kerusuhan tersebut.

“Berdasarkan informasi dari lapangan, peristiwa tersebut bermula dari, satu, ada kegiatan kampanye terselubung dengan pembagian sembako dan pesan mengajak memilih pasangan tertentu,” kata Munarman lewat keterangannya, Kamis (28/2/2019).

“Dua, isi ceramah dari salah satu penceramah yang mengkampanyekan paslon petahana memfitnah kelompok lain sebagai radikal intoleran dan berbahaya, meng-ghibah orang, mendukung pembakaran bendera tauhid, berselawat dengan nada dangdut, dan lain sebagainya,” sambungnya.


Munarman mengatakan hal itu membuat masyarakat gerah atas kegiatan kampanye terselubung yang disampaikan salah satu penceramah. Hingga akhirnya datang sejumlah orang ke acara NU tersebut.

Kerusuhan pun pecah dan polisi mengamankan beberapa orang dari lokasi. Munarman menganggap lucu saat orang yang ditangkap langsung dikaitkan dengan FPI.

“Kegerahan dan protes dari masyarakat justru direspons oleh aparat keamanan dengan melakukan tindakan penangkapan. Yang paling lucu, penangkapan tersebut langsung dikaitkan dengan FPI dan dipropagandakan serta di-labeling ke organisasi FPI. Padahal kehadiran mereka yang ditangkap tersebut adalah murni sebagai masyarakat dan umat Islam. Bukan kegiatan organisasi,” ujar dia.

Munarman mengatakan tim advokasi FPI Sumut sedang menginvestigasi lebih lengkap peristiwa tersebut. Munarman meminta FPI tak dikaitkan dengan peristiwa tersebut. Dia berharap hukum dijalankan secara berkeadilan.

“Kami ingatkan kepada seluruh pihak, agar jangan terus-terusan melakukan labeling dan framing terhadap FPI. Perbuatan pidana adalah perbuatan yang bersifat individual, bukan perbuatan organize crime. Dan kami serukan agar aparat hukum bersikap profesional dalam menegakkan hukum yang berkeadilan. Bukan sekadar law enforcement but without justice and without equity,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, tablig akbar, doa bersama, dan peringatan Harlah NU ke-93 digelar di Lapangan Sri Mersing, Tebing Tinggi, pada Rabu (27/2) pukul 09.00 WIB. Sekitar pukul 11.44 WIB, sejumlah orang masuk ke dalam lokasi dan meminta acara dibubarkan karena dianggap sesat.

Massa FPI datang mengenakan baju bertuliskan tagar 2019 ganti presiden. Mereka juga meneriakkan ‘2019 ganti presiden’. Aparat yang bertugas di lokasi sempat mengingatkan bahwa acara itu merupakan tablig akbar dan HUT NU. Massa juga diminta tidak membuat gaduh dan keributan.

Polisi awalnya menangkap delapan orang yang diduga terlibat dalam keributan. Kasus ini dikembangkan dan tiga orang lain ditangkap.

“Jadi seluruhnya 11 orang, dari hasil gelar perkara terpenuhi unsur pidananya, kemudian ditingkatkan menjadi tersangka. Hari ini dikeluarkan sprin (surat perintah) penahanan,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja saat dihubungi detikcom, Kamis (28/2).
(jbr/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Heboh TKA Punya e-KTP, TKN Jokowi Duga Ada yang Sengaja Bikin Gaduh

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo dan Ma’ruf Amin meminta masalah adanya tenaga kerja asing (TKA) yang memiliki e-KTP tak diperpanjang. Sebab, persoalan TKA yang memiliki e-KTP sudah ada aturannya dalam Undang-undang.

“Peraturan TKA dengan kondisi tertentu wajib memiliki e-KTP diatur dalam UU Nomor 24 Tahun 2013. Produk UU ini kan yang bikin pemerintah dan parlemen, artinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kepemilikan kartu identitas tersebutkan?” kata Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Irma Suryani Chaniago saat dihubungi detikcom, Selasa (26/2/2019).

Terlebih lagi, menurut Irma, e-KTP milik TKA itu tidak bisa digunakan untuk memilih saat pemilu karena tak terdaftar di DPT. Ia kemudian menduga ada pihak yang sengaja memframing buruk kabar adanya TKA yang memiliki e-KTP itu untuk menyerang pemerintah.
“Yang menggoreng-goreng berita ini pasti yang punya tujuan buruk, yaitu untuk membuat kegaduhan dan Image negatif pada pemerintah. Aduh, cukup dong bikin-bikin fitnah seperti ini,” kata Irma.

Ia pun berharap dalam kontestasi Pemilu ini seluruh kontestan mengedepankan kualitas program kerja. Ia juga meminta oknum yang sengaja memframing buruk itu menghentikan aksi kampanye hitamnya.

“Oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab saya himbau cukup, tinggalkan black campaign seperti ini, memalukan ketahuan kalau tidak cerdas dan nggak ngerti regulasi atau sengaja bikin hoax,” sebutnya

KPU sebelumnya telah menjelaskan duduk perkara kemunculan NIK TKA China di Cianjur dalam DPT Pemilu 2019. NIK TKA China berinisial GC itu muncul di DPT ketika dimasukkan bersama nama WNI berinisial B.

Masalahnya ternyata ada pada perbedaan NIK Pak B (warga negara Indonesia) di e-KTP dengan DPT yang bersumber dari DP4 Pilkada 2018. Pak B tetap bisa mencoblos pada Pemilu 2019, sedangkan GC (warga negara China) tidak bisa mencoblos.

“Poin pentingnya adalah Bapak GC dengan NIK ini tidak ada di DPT Pemilu 2019. Poin pentingnya itu,” tegas ujar komisioner KPU Viryan Aziz.
(ibh/rna)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Detik-detik Mobil Caleg PDIP Sleman Dibakar Orang Misterius

Sleman – Mobil caleg PDIP Kabupaten Sleman, Suyoko dibakar orang tak dikenal dini hari tadi. Begini penjelasan pria yang juga menjabat Ketua Bappilu DPC PDIP Sleman itu.

“Jam 01.00 saya masih terima WA teman, masih balas, 01.15 saya tertidur, jam 01.35 dibangunkan istri karena mendengar alarm mobil berbunyi,” kata Suyoko saat dihubungi wartawan, Jumat (22/2/2019).

“Saya keluar ternyata mobil sudah terbakar,” lanjutnya.

Kondisi mobil Toyota Rush saat itu sudah terbakar di bagian belakang luar dan dalam. Suyoko menyebut istrinya sebelumnya tidak mendengar suara gaduh.
“Nggak dengar suara gaduh, tiba-tiba dengar bunyi alarm. Istri saya sekitar 01.30 terbangun tidak dengar apa-apa, lalu dengar suara alarm mobil jam 01.35,” jelasnya.

Dari sekitar mobilnya, Suyoko mengaku mencium bau seperti minyak tanah. Juga ditemukan botol mineral plastik di atas mobil.

“Tetangga tak ada yang tahu, jam 01.00 ada warga ronda tak ada kejadian, 01.15 ada tetangga yang lewat juga tidak ada apa-apa,” imbuhnya.

Saat kejadian, mobil terparkir di samping rumahnya. “Samping rumah persis, dari jalan umum masih masuk berjarak satu rumah, tapi posisi di pinggir jalan ada mobil istri dan tetangga, mobil saya lebih di dalam. Mobil istri dan tetangga tidak apa-apa,” ungkapnya.

Suyoko pun belum mengetahui apa motif pembakaran mobilnya itu. Dia hari ini berniat melapor ke Polres Sleman.

“Saya sampai saat ini tidak tahu motifnya, saya nggak ada permasalahan dengan orang lain, sebelumnya juga nggak ada ancaman atau teror,” terangnya.

Suyoko menambahkan, pagi tadi Kapolres Sleman, Dandim Sleman, Dirreskrimum Polda DIY telah mengecek lokasi kejadian. Dini hari tadi juga sudah dilakukan olah TKP oleh petugas Polres Sleman.

“Infonya dari Puslabfor Semarang juga mau ke sini,” pungkasnya.
(sip/sip)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cerita Lagu Boneka Abdi Mendadak Populer sebagai Pemanggil Arwah

Liputan6.com, Bandung – Mendengarkan lagu bagi sebagian orang adalah cara menghibur diri atau menghilangkan bosan. Di sisi lain, lagu yang sudah familiar di telinga ternyata ada beberapa yang dikaitkan dengan kejadian aneh atau misterius.

Bagi yang bermukim di daerah Jawa Barat, tentu hafal dengan lagu “Boneka Abdi”. Mengingat lagu “Boneka Abdi” sudah ada sejak lama, hingga saat ini lagu tersebut masih kerap dinyanyikan oleh banyak orang, terutama anak-anak.

“Boneka Abdi” dibawakan dengan bahasa Sunda. Liriknya sebagai berikut: “Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka. Teu kinten saena sareng lucuna. Ku abdi di erokan, erokna sae pisan. Cing mangga tingali boneka abdi”.


Jika diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya begini: Saya sekarang punya sebuah boneka. Tak terkira bagus dan lucu. Saya pakaikan rok, roknya pun bagus. Ayo silakan lihat boneka saya.

Sekilas tak ada yang mengerikan dari lagu anak-anak tersebut. Bahkan, nyaris tidak ada hal yang menyeramkan yang dikandung dari lirik lagunya. Makna lagunya pun cenderung riang dan gembira.

Lalu, dari mana unsur kemistikan lagu “Boneka Abdi” berasal?

Pada awalnya, lagu ini mulai jadi lagu menyeramkan kala muncul dalam film Jelangkung (2011) sebagai latar kedatangan hantu suster ngesot. Lagu tersebut semakin populer setelah dijadikan soundtrack dalam film horor berjudul Danur (2017).

Seperti diungkapkan penyanyi dan penulis Risa Saraswati saat membuat lagu Story of Peter yang bercerita tentang sahabat hantu. Untuk diketahui, Story of Peter merupakan sebuah album musik perdana milik Sarasvati yang merupakan sebuah projek solo Risa yang dirilis pada tahun 2011.

“Bukan berniat menakuti, tapi pada masanya lagu ini konon memang digemari oleh anak-anak Belanda yang dulu pernah tinggal di Hindia Belanda atau sekarang bernama Indonesia,” kata Risa dalam blog-nya.

Selain itu, Risa sendiri mengaku ia pernah membawakan “Boneka Abdi” di atas sebuah panggung di Bandung bersama band Sarasvati. Menurut dia, pengunjung ketakutan mendengar lagu tersebut.

Kepopuleran lagu “Boneka Abdi” semakin meningkat seiring rilisnya film horor berjudul Danur yang disutradarai oleh Awi Suryadi di tahun 2017. Ceritanya pun diangkat dari sebuah novel misteri karangan dari Risa dengan judul Gerbang Dialog Danur.

Film ini mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Risa yang mempunyai kemampuan indigo. Dari situ, ia bisa melihat hal-hal gaib yang tidak bisa dilihat orang lain. Risa sendiri bersahabat dengan lima hantu anak anak Hindia Belanda yang meninggal saat pendudukan Jepang. Kelimanya, yaitu Peter, Hans, Hendrick, William, dan Johnsen.

Barangkali setelah dijadikan soundtrack film Danur, lagu ini berubah menjadi cukup mencekam jika dinyanyikan sendiri. Hal itu mengingat dalam film tersebut dijadikan lagu pemanggil hantu atau arwah.

2 dari 3 halaman

Lagunya Berasal dari Eropa

Terlepas dari ada atau tidaknya unsur mistik, lagu “Boneka Abdi” memang memiliki sejarah sebab lagu tersebut berasal dari Jerman.

Judul lagu aslinya adalah “Hanschen Klein”, sebuah lagu rakyat tradisional Jerman dan lagu anak-anak yang berasal dari periode Biedermeier dari abad ke-19. Bahkan, saking populernya, lagu tersebut akhirnya dibuat versi bahasa Inggris sebagai “Little Hans”.

Beberapa sumber menyebutkan, lagu yang satu ini sering dinyanyikan oleh para penjajah Hindia Belanda saat berada di Indonesia.

Singkat cerita, para penduduk pribumi terutama kaum ibu sering menyanyikannya untuk menghibur anak-anak mereka dengan lagu tersebut karena mereka sering mendengar dari majikannya.

Dalam versi bahasa Jerman, lagu ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Hans yang berpetulang mengelilingi dunia. Berbeda dengan versi bahasa Sunda yang malah menceritakan tentang sebuah boneka lucu.

Kemiripan dari kedua lagu tersebut hanyalah dalam nadanya. Sedangkan, lirik dan judulnya sangat berbeda. Berikut lirik dari judul “Hanschen Klein”.

Habschen klein ging allein, in die weite Welt hinein

Stock und Hut stehn ihm gut, ist gar wohlgemut

Doch die Mutter weinet sehr, hat ja nun kein Hanschen mehr

Da besinnt sich das Kind kehrt nach Haus geschwin.

Sedangkan dalam versi bahasa Inggris yaitu:

Little Hans went alone, out into the wide world

Staff and hat suit him well, he is in good spirits

But his mother cries so much, for she no longer has little Hans

Look! the child changes his mind, and returns quickly home.

3 dari 3 halaman

Cerita Rakyat

Retty Isnendes dari Departemen Pendidikan Bahasa Sunda Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, lagu “Boneka Abdi” merupakan produk Kakawihan. Kakawihan merupakan salah satu bentuk folklor lisan hasil kebudayaan lama masyarakat Sunda.

Kakawihan ini sering dikaitkan dengan kaulinan barudak urang Sunda, artinya bahwa kakawihan tidak terlepas dari sebuah nyanyian yang sering dibawakan pada permainan anak-anak masyarakat Sunda.

“Faktanya, lagu “Boneka Abdi” ini sudah ada sejak saya masih anak-anak usia lima tahun dan sering dinyanyikan oleh orangtua kepada anak-anaknya,” kata Retty sambil menambahkan lagu tersebut bermaksud untuk menghibur anak-anak.

Lebih jauh Retty mengungkapkan, lagu “Boneka Abdi” pernah diteliti asal muasalnya. Jika dilihat dari kalimat yang dipakai dalam lagu tersebut, sangat besar kemungkinan pengarang lirik lagu ini berasal dari Priangan.

“Dapat disimpulkan lagu tersebut diciptakan seniman Priangan. Karena liriknya menggunakan undak-usuk (tingkatan bahasa Sunda) yang halus,” ucapnya.

Meski lagu aslinya berasal dari Jerman, lagu “Boneka Abdi” sudah menjadi folklor di masyarakat. Hal itu diperkuat dengan keberadaan lagu tersebut yang sudah dinyanyikan lebih dari satu generasi.

“Kemungkinan ada produk budaya yang dibawa dari luar jika diketahui pembawanya. Untuk pembawanya siapa memang belum ada penelitiannya. Akan tetapi sudah kadung populer dan sampai ke tanah Sunda,” kata Retty.


Simak video pilihan berikut ini:

Sahabat: Ahok Nggak akan Balas Dendam ke PA 212 Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Adi Prayitno mengungkap PA 212 curiga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan balas dendam lewat PDIP. Jubir PA 212, Novel Bamukmin, mengklarifikasi bahwa hal tersebut harapan, bukan kecurigaan. Sahabat Ahok yang juga politikus PDIP, Charles Honoris, menegaskan isu itu sama sekali tidak benar.

“Nah itu, saya bilang nggak mungkin balas dendam. Karena gini, Pak Ahok sudah memilih masuk PDI Perjuangan bukan untuk aktif berpolitik tetapi memilih PDI Perjuangan sebagai rumah untuk menyalurkan aspirasi politiknya,” kata politikus PDIP, Charles Honoris, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Charles sekali lagi menepis anggapan bahwa Ahok akan balas dendam. Menurutnya, meskipun bergabung ke PDIP, Ahok tak tertarik menjadi pejabat negara.
“Jadi saya rasa tidak benar anggapan bahwa Pak Ahok ingin balas dendam ya, karena sekali lagi Pak Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa masuk PDI Perjuangan itu bukan untuk menjadi pengurus ya, tidak tertarik menjadi pejabat negara, tapi hanya merasa bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis sehingga rumah yang cocok untuk bisa menyalurkan aspirasi politiknya,” ungkapnya.

“Bahwa Pak Ahok masuk PDI ya sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Tidak punya kewenangan khusus untuk bisa mengatur kebijakan partai juga, atau tidak juga memiliki keinginan untuk menjadi pejabat negara. Misalkan ikut pilkada, atau ikut pemilu legislatif ya, hanya sebagai kader yang ingin memberikan kontribusi pemikiran, menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI Perjuangan,” imbuh Charles.

Charles sekali lagi menegaskan Ahok tak akan balas dendam. Baginya, partai politik bukan alat untuk balas dendam, tetapi untuk kesejahteraan rakyat.

“Pasti tidak (akan balas dendam), pasti tidak. Karena PDI Perjuangan partai politik, partai PDI Perjuangan bukan alat untuk balas dendam ya, tapi partai politik adalah alat untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Adi Prayitno mengungkapkan, PA 212 curiga bergabungnya Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam kepada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.

Novel Bamukmin sudah meluruskan pernyataan Adi. Novel hanya berharap PDIP bisa membina Ahok agar tak lagi bikin gaduh.

“Saya hanya mengkhawatirkan semoga bergabungnya BTP ini tidak menjadi ajang balas dendam atas masalah yang pernah terjadi dengan kasus hukum BTP ini. Semoga PDIP bisa membina BTP dengan baik agar BTP tidak kembali membuat kegaduhan dan kekisruhan negara ini,” kata Novel, hari ini.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pose 2 Jari, Kuli Bangunan Diteriaki di Deklarasi Dukungan Jokowi

Liputan6.com, Jakarta – Tiga orang pria berinisial E, S, dan H sempat diamankan petugas keamanan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat saat acara deklarasi Alumni 375 SMA se-Jakarta yang mendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.

Sebabnya, tiga orang tersebut melakukan pose dua jari yang identik dengan pose pendukung Prabowo-Sandiaga.

“Jadi, mereka pegang handphone seperti pose 2, pose handphone itu dipegang seperti telunjuk dan jempol gitu loh. Terus diteriaki sama pendukung yang lain,” kata Kapolsek Tanah Abang AKBP Lukman Cahyono saat dihubungi wartawan, Senin (11/2/2019).

Akhirnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan mereka diamankan oleh keamanan dalam gedung dan dibawa petugas ke Polsek Tanah Abang.

Saat diinterogasi, ketiganya mengaku sebagai kuli bangunan dan cleaning service. Kepada polisi mereka mengaku tidak bermaksud membuat gaduh dengan pose jari yang dilakukan.

Lukman mengatakan, tiga pria tersebut berasal dari Muara Angke, Pantai Indah Kapuk. Mereka hendak menuju  mau ke Blok M dengan menggunakan Trans Jakarta. 

Di tengah perjalanan, mereka melihat pendukung Jokowi yang hendak menuju Senayan.

“Jadi mereka enggak sengaja, ingin datang selfie datang ke situ, tidak rencana ikut deklarasi. Mereka mengaku pendukung Jokowi,” beber Lukman.

Lebih lanjut, Lukman mengatakan pihaknya telah memulangkan tiga pria tersebut.

“Ya udah kita pulangkan,” dia memungkasi.

Reporter: Ronald

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

TKN Nilai Pelaporan Jokowi ke Bawaslu soal ‘Propaganda Rusia’ Tak Berdasar

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin menyatakan pelaporan terhadap Jokowi ke Bawaslu terkait ‘propaganda Rusia‘ tak berdasar. Pernyataan Jokowi tentang ‘propraganda Rusia’ itu disebut punya informasi yang akurat.

“Laporan tersebut sebuah laporan yang tidak mendasar, karena apa yang disampaikan Pak Jokowi itu pasti bukan hanya pernyataan yang spontan disampaikan, pasti ada sumber data atau informasi yang diterima secara akurat dan benar,” kata Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Ade Irfan Pulungan, kepada detikcom, Rabu (6/2/2019).

Dia menyatakan Jokowi tak mungkin menyampaikan informasi yang tidak benar ke publik. Ade pun menjelaskan kalau ucapan Jokowi itu bukan soal negara Rusia, namun soal metode yang tidak tepat jika digunakan di Indonesia.
“Tentang pernyataan itu sebenarnya menyampaikan bukan kepada negara Rusianya, tapi metode atau cara dari metode kampanye yang ada dengan semprotan kebohongan itu, firehose of falsehood,” ucapnya.

“Yang ingin disampaikan Pak Jokowi adalah jangan menggunakan metode itu di Indonesia,” sambung Ade.

Ace HasanAce Hasan Foto: Tsarina/detikcom

Selain itu, Jubir TKN Ace Hasan Syadzily juga mempertanyakan alasan pelaporan Jokowi dan sejumlah anggota TKN ke Bawaslu terkait ‘propaganda Rusia’. Ace, yang juga menjadi salah satu terlapor kemudian mengungkit sejumlah ucapan capres Prabowo Subianto mulai dari 99 persen rakyat Indonesia hidup pas-pasan hingga Menteri Pencetak Utang yang dinilainya membuat gaduh.

“Kalau alasannya karena membuat kegaduhan, apakah Prabowo harus dilaporkan karena mengatakan 99 persen rakyat Indonesia hidup pas-pasan, padahal kenyataannya tidak begitu? Apakah Pak Prabowo juga harus dilaporkan karena menyebut dalam pidatonya ada seorang yg bernama Hardi yang gantung diri karena terlilit hutang, padahal hoax? Apakah Pak Prabowo dilaporkan karena Menteri Keuangan disebut Menteri Pencetak Utang?” ucap Ace.

“Apa yang disampaikan Prabowo membuat gaduh rakyat lho!” sambungnya.

Namun, dia tak mempermasalahkan pelaporan itu. Ace hanya meminta pelapor tidak marah jika laporannya ditolak Bawaslu karena tak ada indikasi pelanggaran Pemilu.

“Tapi ya sudahlah. Itu hak dia. Tapi jangan marah-marah ya kalau Bawaslu menolak laporan karena bukan bagian dari pelanggaran pemilu atau karena tidak memenuhi unsur pelanggaran pemilu,” tutur Ace.

Pelaporan itu sendiri dilakukan oleh Advokat Peduli Pemilu. Menurut pelapor bernama Mohamad Taufiqurrahman, laporan itu dilakukan karena pernyataan Jokowi terkait ‘propaganda Rusia’ dinilai berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Adapun pernyataan soal ‘propaganda Rusia’ itu yang dipermasalahkan, disebut Taufiqurrahman, diucapkan Jokowi saat berkampanye di Surabaya, Jawa Timur. Dia menganggap ucapan Jokowi berpotensi menjadi ujaran kebencian.

“Tanggal 2 Februari itu di Surabaya, Jawa Timur, di mana Pak Jokowi di sana mengeluarkan statement yang sekiranya kami duga berpotensi mengganggu ketertiban umum di mana kontennya yang bersifat hasutan, bahkan ujaran kebencian. Yang di mana sama-sama kita ketahui ketika di Surabaya itu Pak Jokowi mengeluarkan statement terkait dengan adanya salah satu tim sukses yang menggunakan propaganda Rusia dalam pelaksanaan pemilu ini,” kata Taufiqurrahman di Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (6/2/2019).

Selain Jokowi, dia juga melaporkan Jubir TKN, Ace Hasan Syadzily, Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf sekaligus Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto, serta Sekjen PPP Arsul Sani. Ia mengatakan para terlapor diduga melakukan pelanggaran pemilu pada Pasal 280 huruf c dan huruf d juncto Pasal 521 UU Pemilu dan meminta Bawaslu segera memproses laporannya.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Penjelasan Polda Metro Terkait Dugaan Pemukulan Pegawai KPK

Liputan6.com, Jakarta – Polda Metro Jaya buka suara mengenai dugaan penganiayaan yang dialami oleh dua petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pada Sabtu malam 2 Februari 2019, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono, kejadian tersebut hanya melibatkan satu orang yang merupakan seorang penyelidik KPK.

“Jadi begini perlu diklarifikasi. Tadi malam kan ada keributan di Hotel Borobudur. Terus polisi dapat laporan kemudian datang ke sana. Karena ini ada seorang laki-laki yang (terlibat) keributan, dia dipukul. Dia diamankan ke Polda Metro. Jangan sampai makin gaduh. Dibawa ke Polda Metro. Setelah diinterogasi, ditanya ternyata penyelidik, bukan penyidik. Penyelidik KPK. Satu orang,” kata Argo ketika dikonfirmasi, Senin (4/2/2019).

Namun, Argo tak menjelaskan secara detail identitas satu orang penyelidik KPK tersebut. Argo hanya menegaskan, usai diinterogasi penyelidik tersebut dijemput oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif.

“Ceritanya itu saja. Terus tadi pagi, tadi malam kegiatannya. Kemudian tadi malam sudah diambil oleh Pak Laode, dijemput. Ada lukanya,” ujarnya.

2 dari 3 halaman

Pelaku Bukan Gubernur

Mengenai siapa pelaku pemukulan itu, Argo menegaskan bukanlah seorang gubernur yang beradai di sekitar Hotel Borobudur.

“Ya bukan sama gubernur nya bukan. Ada seseorang di situ,” kata dia.

“(Gubernur Papua?) Ya kita tidak tahu pokoknya ada keributan, kita bawa. Dari pada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kita bawa ke Polda Metro. Kita amankan, kita tanya ternyata dia seorang penyelidik,” pungkas Argo.


Reporter: Ronald

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Diduga Dianiaya, Pegawai KPK Sempat Diinterogasi di Polda Metro

Jakarta – Pegawai KPK yang diduga mengalami penganiayaan saat menjalankan tugas di Hotel Borobudur, Jakarta sempat dibawa ke Polda Metro Jaya. Pegawai KPK itu juga sempat diinterogasi polisi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan awalnya polisi mendapatkan informasi adanya keributan. Begitu tiba di lokasi, polisi mengamankan seorang laki-laki yang diduga dipukul tersebut.

“Dia diamankan ke Polda Metro, jangan sampai makin gaduh. Dibawa ke Polda Metro, setelah diinterogasi, ditanya ternyata penyelidik, bukan penyidik. Penyelidik KPK,” ucap Argo saat dimintai konfirmasi, Minggu (3/2/2019).

Menurut Argo, penyelidik KPK itu sudah dijemput langsung oleh Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Namun Argo mengaku belum tahu apa penyebab penyelidik KPK itu mengalami penganiayaan.

“Belum dapat info, karena kita tahunya dia seorang penyelidik KPK terus kita komunikasi (ke KPK), tadi diambil sama Pak Laode (Laode M Syarif),” ucap Argo.

Sebelumnya Kabiro Humas KPK Febri Diansyah membenarkan bila dua orang pegawai KPK mengalami penganiayaan di Hotel Borobudur pada Sabtu, 2 Februari 2019 menjelang tengah malam. Febri menyebut saat itu dua pegawai KPK itu sedang menjalankan tugas.

“Meskipun telah diperlihatkan identitas KPK namun pemukulan tetap dilakukan terhadap pegawai KPK,” kata Febri.

Namun Febri tidak menyebut siapa terduga pelaku penganiayaan itu. KPK disebut Febri sudah melaporkan peristiwa penganiayaan itu ke Polda Metro Jaya.

“KPK berkoordinasi dengan Polda dan berharap setelah laporan ini agar segera memproses pelaku penganiayaan tersebut agar hal yang sama tidak terjadi pada penegak hukum lain yang bertugas, baik KPK, Kejaksaan atau pun Polri,” kata Febri.

(dhn/imk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>