Bos Facebook Jadi Orang Terkaya Paling Berpengaruh di Dunia

Liputan6.com, Palo Alto – Bos Facebook Mark Zuckerberg terpilih menjadi tokoh berpengaruh di dunia versi Time 100. Zuck, demikian akrab disapa, menjadi sosok paling kaya dalam daftar itu.

Dalam daftar Time 100, Mark Zuckerberg berada dalam kategori titan bersama tokoh masyarakat tersohor seperti Mohamed Salah (atlet), Ryan Murphy (sutradara), Bob Iger (bos Disney), dan Jerome Powell (pemimpin Federal Reserve).

Dalam tulisan persembahan yang ditulis Sean Parker (mantan partner Zuckerberg), bos Facebook disebut masih sederhana dan agak pemalu, walau ia telah mengubah dunia.

“Ia masih orang yang agak pemalu, serta ramah, seperti yang saya temui 15 tahun lalu. Ia masih bisa mengutip dari film-film favoritnya, dan ia tinggal di rumah sederhana di Palo Alto, California,” tulis Parker.

Mark Zuckerberg juga tidak dipandang sebagai sosok materialistis. Tujuannya adalah mengembangkan potensi Facebook ke arah yang baik.

Mengingat beragam kontroversi yang terjadi pada Facebook, Sean Parker menyebut Zuck akan berhadapan dengan pilihan-pilihan berat terkait privasi dan investigasi pemerintah.

“Mark perlu berhadapan dengan pilihan-pilihan berat. Harapan saya adalah ia tetap setia pada cita-cita yang menjadi fondasi perusahaannya – memilih mempromosikan nilai-nilai universal seperti kesantunan ketimbang sensasionalisme, intimasi ketimbang status sosial, dan martabat manusia ketimbang tribalisme – atau dalam Zuckspeak, yakni ‘kebaikan,'”, tulis Parker.

Mark Zuckerberg adalah orang terkaya nomor delapan di dunia versi Forbes 2019. Berkat Facebook, kekayaannya mencapai USD 62,3 miliar atau Rp 876 triliun (USD 1 = Rp 14.000).

TKN Polisikan Akun Facebook Sudrun Sugiono yang Diduga Hina Jokowi

JakartaTim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin melaporkan pemilik akun Facebook (FB) dengan username Sudrun Sugiono. TKN menilai video yang di-posting oleh akun tersebut menghina Presiden Jokowi.

“Kami dari Direktorat Hukum dan Advokasi ingin melaporkan tentang adanya video viral yang terjadi, yang diduga dilakukan oleh salah satu simpatisan atau tim sukses dari pendukung (paslon) 02. Karena di situ (video) memakai atribut 02 dan menggunakan simbol tangan untuk 02,” ujar Direktur Advokasi dan Hukum TKN Ade Irfan Pulungan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (16/4/2019).

Dalam video berdurasi 21 detik, terekam pigura yang memampang foto Jokowi di dinding yang perlahan ditarik ke bawah seperti menurunkan bendera dari tiang. Latar suara video tersebut lagu nasional Indonesia Raya.

“Patut diduga dengan sengaja melakukan perbuatan menurunkan foto Presiden Joko Widodo dengan lagu Indonesia Raya, di mana merupakan lagu kebangsaan Indonesia. Dan di akhir ada senyum yang seolah-olah menunjukkan kepada publik tentang sebuah gambaran Jokowi akan turun,” sambung dia.

Irfan menuturkan Jokowi masih berstatus presiden dan merupakan simbol negara yang tak pantas dipermainkan seperti itu. “Diduga telah melakukan pelecehan atau penghinaan terhadap kepala negara, yakni Presiden Republik Indonesia yang sah.”

Irfan mendesak polisi segera mengungkap kasus ini. “Kami minta ke kepolisian untuk bisa segera menindaklanjuti atas laporan yang kami lakukan, supaya masalah ini benar-benar bisa disikapi.”

Laporan Irfan teregistrasi dengan nomor LP/B/0389/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 16 April 2019. Dalam laporan, tertera pasal yang dilaporkan adalah Pasal 207 UU Nomor 1/1946 tentang KUHP.
(aud/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Facebook, WhatsApp, dan Instagram Down, Warganet Lari ke Twitter

Sebelumnya, WhatsApp, dan Instagram lagi-lagi down pada Minggu sore (14/4/2019). Pengguna di Inggris, Eropa, dan Indonesia tak bisa mengakses ketiga platform digital milik Facebook ini.

Berdasarkan laporan situs error Down Detector per sore ini, WhatsApp tidak bisa diakses dilaporkan oleh banyak pengguna sejak pukul 17.00 WIB.

Jumlah laporannya pun kian meningkat selama satu jam terakhir. Adapun laporan berasal dari berbagai negara di dunia, antara lain adalah Indonesia, sebagian Asia, Eropa, Malaysia, Kamboja, dan lain-lain.

Masih menurut Down Detector, laporan tumbangnya Instagram meningkat tajam selama satu jam terakhir.

Laman Down Detector menyebut sudah ada total 735 laporan dalam satu jam terakhir. Pengguna yang terdampak adalah mereka yang ada di Indonesia, Eropa, Hong Kong, India, sebagian Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang.

Pun demikian dengan Facebook. Laman Down Detector mencatat ada 1.282 laporan Facebook down sepanjang satu jam terakhir.

Di mana, mereka yang terdampak adalah pengguna yang berlokasi di Eropa, Jepang, Indonesia, Malaysia, India, Amerika, dan sekitarnya.

(Tin/Ysl)

6 Status Facebook Bocah Tentang Cinta Ini Bikin Kamu Ngelus Dada

Liputan6.com, Jakarta Jatuh cinta memang bisa bikin hati berbunga-bunga. Kadang bikin senyum-senyum sendiri dan bahagia sepanjang hari. Meski terkadang, kalau cinta tak berjalan sesuai dengan harapan bisa membuat sedih dan terluka.

Biasanya ketika orang sedang jatuh cinta, teman adalah tempat yang tepat untuk bercerita. Namun, bagi beberapa orang rasanya ada yang janggal, ketika tidak mencurahkan perasaanya ke media sosial.

Maka, wajar saja jika sedang jatuh cinta laman media sosial berisi tentang kata-kata cinta atau mungkin kode untuk gebetan. Tetapi, hal ini tidak  hanya dilakukan bagi orang dewasa saja loh, tetapi juga untuk bocah yang masih duduk di bangku sekolah.

Tak bisa dipungkiri kemudahan mengakses internet khususnya media sosial membuat para bocah ini lebih mudah untuk menuliskan apa saja yang ia rasakan termasuk urusan asmara. Bahkan dari beberapa status yang mereka tulis, mereka tidak kalah jago dengan orang dewasa.

Penasaran bagaimana status Facebook bocah tentang cinta ini? Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (8/4/2019).

Begini Detik-detik Penangkapan Pemilik Akun Facebook Antonio Banerra

Surabaya – Polisi langsung bergerak cepat mengamankan pemilik akun Facebook Antonio Banerra, Arif Kurniawan Radjasa. Penangkapan Antonio dilakukan berdasarkan laporan yang diterima polisi terkait dugaan penyebaran hoaks melalui media sosial.

“Kronologisnya bahwa pada hari Jumat tanggal 5 April 2019 mendapat informasi terkait akun Facebook atas nama Antonio Banerra yang di duga telah memposting ujaran kebencian,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Frans Barung Mangera saat dihubungi detikcom, Sabtu (6/4/2019).

Menindaklanjuti laporan tersebut, lanjut Barung, pihaknya menganalisis dan menyelidiki keberadaan Antonio. Esok harinya, sekitar pukul 18.45 WIB tim gabungan kepolisian mendatangi lokasi tempat tinggal Antonio yang diketahui berada di Buncitan, Sedati, Sidoarjo.

“Mendasari laporan informasi hasil Patroli Cyber Dit Siber Bareskrim maka Unit Bantek Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim melakukan analisa dan penyelidikan keberadaan tersangka,” terang Barung.

“Kemudian pada tanggal 6 April 2019 sekitar pukul 18.45 WIB Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda didukung Satreskrimsus Polrestabes Surabaya, Unit Inteltek Dit IK Polda Jatim dan Back up dari Dit Siber Bareskrim telah berhasil mengamankan kedua suami-istri di TKP,” imbuhnya.

Tak hanya menangkap, lanjut Barung, polisi juga mengamankan dua barang bukti dari tempat tinggal tAntonio. Barang bukti yang diamankan yakni 2 unit ponsel dan 1 unit laptop.

“Barang bukti yang kita sita 1 unit handphone merek Asus, 1 unit handphone merek Lenovo dan sebuah tablet merek Samsung ,” ujar Barung.

Sebelumnya, Antonio tiba di Subdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim sekitar pukul 20.12 WIB. Dalam postingan Facebook-nya, Antonio mengajak masyarakat memilih salah satu paslon pada Pilpres 2019 dan mengaitkannya dengan kerusuhan 1998.

Selain itu, Antonio juga menyebarkan hoaks jika tak memilih paslon tersebut, tragedi kerusuhan 1998 dan perkosaan massal kepada etnis Tionghoa akan terulang.
(zak/zak)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

540 Juta Data Pengguna Facebook Bocor

Liputan6.com, Jakarta – Facebook pada Rabu (3/4/2019) menghapus database publik berisi data penggunanya di server cloud Amazon.

Hal ini dilakukan Facebook menyusul laporan dari perusahaan keamanan siber, UpGuard, yang menemukan ada jutaan data pengguna Facebook terekspos di server publik tersebut.

Dilansir Reuters, Kamis (4/4/2019), tim Risiko Siber UpGuard mengumumkan dalam sebuah unggahan blog pada Selasa (2/4/2019), situs berita asal Mexico City, Cultura Colectiva, menggunakan beberapa server Amazon untuk secara terbuka menyimpan 540 juta data para pengguna Facebook, termasuk nomor identifikasi, komentar, reaksi, dan nama akun.

Selain itu juga ada database lain dari sebuah aplikasi bernama At the Pool, berisi nama, password, dan alamat email dari 22 ribu orang.

Cultura Colectiva mengatakan, semua data Facebook tersebut berasal dari interaksi pengguna dengan tiga Page miliknya di layanan tersebut. Semua data itu merupakan informasi serupa yang dapat diakses publik untuk siapa saja yang menelusiri page-page itu.

“Tidak ada data pribadi atau sensitif, seperti email atau password di dalam (database) tersebut, karena kami tak memiliki akses ke data-data semacam itu. Jadi kami tidak menempatkan keamanan dan privasi para pengguna kami dalam bahaya,” jelas Cultura Colectiva.

“Kami menyadai potensi penggunaan data saat ini, jadi kami telah memperkuat langkah-langkah keamanan untuk melindungi data dan privasi dari pengguna fanpages Facebook kami,” sambung media tersebut dalam pernyataan tertulisnya.

Alex Capecelatro yang menjabat sebagai CEO di At the Pool sebelum ditutup pada 2014, tidak merespons ketika diminta berkomentar tentang masalah ini.

Amazon juga belum memberikan komentar. Perusahaan sejauh ini disebut telah meningkatkan upaya mengedukasi para konsumen tentang risiko terkait penyimpanan data pengguna secara publik.

Edukasi ini dilakukan setelah beberapa kali penyimpangan privasi data oleh para konsumen Amazon menjadi berita utama dalam beberapa tahun terakhir.

Facebook: Live Streaming Penembakan di Selandia Baru Hanya Ditonton 200 Orang, tapi…

Liputan6.com, Wellington – Pihak Facebook mengatakan bahwa video serangan di Selandia Baru “hanya dilihat 200 kali selama siaran berlangsung” pada Jumat, 15 Maret 2019. Kendati demikian jumlah tersebut jauh bertambah hingga akhirnya dihapus pada hari yang sama.

Rekaman itu telah ditonton 4.000 kali oleh pemilik akun berbeda hingga akhirnya dihapus, demikian laporkan oleh perusahaan Mark Zuckerberg tersebut.

Dalam laporan yang sama, perusahaan itu juga mengatakan tidak menerima laporan dari pengguna facebook hingga 12 menit setelah video berakhir.

Sayangnya, meskipun video itu hanya dilihat oleh sedikit orang, beberapa pengguna telah merekam ulang dengan fitur tangkapan layar; untuk selanjutnya dibagikan secara sporadis.

Mengutip The Verge pada Selasa (19/3/2019), rekaman telah dibagikan ulang sebanyak 1,5 juta kali hingga 24 jam pascapenembakan. Belum lagi video itu sudah disebar melalui berbagai media sosial berbeda.

Laporan Facebook itu diragukan oleh beberapa pihak.

Pertama, sebagian pihak meragukan angka tersebut. Di antara mereka mengatakan, bisa jadi angka itu terlalu tinggi, mengingat beberapa platform media sosial sering menggelembungkan jumlah penonton untuk menarik iklan.

Sedangkan pengakuan kedua terkait klaim Facebook atas “tidak adanya laporan” hingga 12 menit pascasiaran dilakukan.

Peneliti dari Right Wing Watch, Jared Holt, mengaku ia telah melaporkan video tidak lama setelah ia menemukan di 8chan, sebuah platform media sosial yang turut digunakan oleh pengguna untuk menyebar ulang manifesto dan video serangan Selandia Baru.

Holt kemudian mengatakan bahwa laporannya “tampak belum diserahkan” beberapa saat setelahnya.

Sebagai tambahan informasi, saat ini Facebook telah menghapus video penembakan di Selandia Baru. Namun langkah penghapusan dilakukan setelah dihubungi oleh kepolisian, bukan karena laporan pengguna.

Simak pula video pilihan berikut:

Sejuta warga telah menanda tangani petisi pemecatan Senator Australia Fraser Anning, setelah ia mengeluarkan komentar soal penembakan di Selandia Baru.

CEO AirAsia Tinggalkan Facebook karena Penembakan Christchurch

Liputan6.com, Sepang – Kasus penembakan masjid di Christchurch, Selandia Baru, menuai protes dari CEO AirAsia Tony Fernandes. Ia berhenti memakai Facebook karena dianggap platform itu tidak maksimal dalam melawan aksi terorisme.

Pasalnya, penembakan masjid di Christchurch tersiar secara langsung (livestreaming) di Facebook. Selain protes kasus penembakan, Tony juga mengaku sudah sering rugi akibat Facebook karena banyaknya kasus penipuan atas namanya.

Facebook seharusnya bisa bekerja lebih banyak untuk menghentikan kasus ini. Saya sendiri telah menjadi korban dari banyak cerita palsu terkait bitcoin dan lain-lain. 17 menit siaran langsung pembunuhan dan kebencian!!! Facebook perlu bersih-bersih dan tidak hanya memikirkan uang semata,” ujar Tony lewat akun Twitternya.

Tony mengakui Facebook adalah platform yang sangat berguna, terutama dalam hal berkomunikasi, tetapi sulit baginya untuk memberi toleransi pada kasus penembakan Christchurch. Meski demikian akun AirAsia masih aktif di platform tersebut.

Terkait kasus penembakan, pihak Facebook mengaku sudah menghapus hingga 1,5 juta video penembakan Christchurch dalam tempo 24 jam setelah penembakan.

“Dalam 24 jam pertama, kami telah mencekal 1,5 juta video serangan secara global, yang mana 1,2 juta di antarnya diblokir ketika proses upload,” ujar Mia Garlick dari Facebook Selandia Baru seperti dikutip Gizmodo.

Ia pun memastikan mencekal semua versi video yang sudah diedit meski tidak memunculkan konten kekerasan. Sementara itu, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern juga ingin membahas masalah siaran langsung dengan Facebook.

Menurut Reuters, sang PM menyebut sudah dihubungi COO Facebook Sheryl Sandberg untuk berbicara masalah tembakan serta ucapan duka, tetapi ia ingin berbicara secara langsung dengan pihak Facebook. “Ini adalah isu yang saya ingin diskusikan langsung dengan Facebook,” ujarnya.

Facebook Hapus 1,5 Juta Video Terkait Penembakan Masjid di Selandia Baru

Liputan6.com, Wellington – Facebook mengumumkan bahwa pihaknya telah berhasil menghapus 1,5 juta video penembakan masjid di Selandia Baru. Menurut informasi yang disampaikan perusahaan, sebanyak 1,2 juta video juga telah diblokir saat diunggah oleh pengguna sehingga tidak akan terlihat oleh akun lain. Hal itu disampaikan dalam sebuah pengumuman pada Sabtu malam, 16 Maret 2019 ET, atau Minggu Waktu Indonesia Barat (WIB).

Dalam kesempatan tersebut, Facebook tidak menyebutkan berapa jumlah pengguna yang telah melihat video serangan, mengutip CNN pada Senin (18/3/2019).

Sebelumnya, versi asli video penembakan masjd di Selandia Baru disiarkan langsung oleh pelaku, dengan akun bernama Brenton Tarrant, melalui Facebooknya. Video kekejaman itu berdurasi 17 menit.

Segera setelah video serangan diketahui telah dibagikan oleh pengguna yang lain, polisi Selandia Baru memperingatkan Facebook untuk menghapusnya. Hal ini telah dikofirmasi oleh pihak perusahaan.

Adapun video asli dari akun pelaku telah dihapus oleh Facebook pada hari yang sama dengan insiden penembakan, Jumat 15 Maret 2019. Tidak tanggung-tanggung, akun pelaku turut disingkirkan.

Facebook juga sempat mengungkapkan duka cita bagi keluarga korban penembakan masjid di Selandia Baru beserta sanak famili yang ditinggalkan. Di kesempatan itu, Mia Garlick, Direktur Kebijakan Facebook Australia juga berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan kepolisian Negeri Kiwi dalam kasus ini.

“Kami akan terus bekerjasama dengan kepolisian Selandia Baru,” tutur Garlick.

Simak pula video pilihan berikut:

PM Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan ada 40 orang tewas dalam penyerangan dua masjid di Selandia Baru.

Facebook Hapus Live Streaming Pelaku Penembakan di Masjid Selandia Baru

Lebih lanjut, Presiden Jokowi mengecam keras aksi penembakan di Masjid An-Nur di Christchurch, Selandia Baru. Total ada 40 orang yang menjadi korban serangan ini.

“Terlepas siapa itu pelakunya, kita sangat mengecam keras aksi ini,” kata Jokowi di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Jumat (15/3/2019).

Jokowi mengaku belum mendapat kepastian dari Menteri Luar Negeri, Retno ,Marsudi terkait jumlah korban dan pelaku aksi ini. Namun, dia menyampaikan duka mendalam terhadap para korban aksi penembakan tersebut.

“Kita pemerintah Indonesia sampaikan duka mendalam kepada korban yang ada dari korban aksi tersebut,” ucapnya.

Menteri Retno mengatakan, pihaknya di Selandia Baru memantau dari dekat peristiwa penembakan masjid di Kota Christchurch. Retno mengatakan sudah mendapatkan informasi dari pihak duta besar Selandia Baru untuk Indonesia, Tantowi Yahya, bahwa terjadi penembakan sekitar pukul 13.40 waktu Selandia Baru.

“Informasi yang kita kumpulkan. Informasi awal, terdapat 6 warga negara Indonesia yang berada di masjid tersebut,” kata Retno di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat.

(Din/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Insiden berdarah terjadi di Selandia Baru hari Jumat (15/3). Sebuah masjid diberondong tembakan saat sedang berlangsung ibadah salat jumat.