Basarnas Evakuasi 36 Warga Kendari yang Terjebak Banjir

Kendari – Sebanyak 36 warga kendari yang terjebak banjir sudah dievakuasi. Saat ini, sebanyak 50 personel Basarnas disiagakan.

“Yang terbanyak 15 orang, tepatnya di depan Puskesmas Lepo-lepo, yang lainnya tersebar di enam titik berbeda,” ujar juru bicara Badan SAR Nasional Kendari, Wahyudi, Minggu (14/4/2019) malam.

Wahyudi mengatakan, 50 personel yang disiagakan untuk mengantisipasi apabila hujan kembali terjadi. Apalagi menurutnya, cuaca saat ini sulit untuk diprediksi.

“Hingga saat ini cuaca tidak dapat diprediksi, dikhawatirkan akan terjadi lagi hujan pada malam ini, sehingga 50 orang di-stand by kan di kantor untuk menjawab telpon dari warga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya malam ini Basarnas Kendari menurunkan dua tim ke lokasi banjir untuk dilakukan evakuasi. Namun, karena banyaknya permintaan warga sehingga ditambah dua tim lagi.

“Totalnya empat tim yang melakukan evakuasi,” ujarnya.
(idn/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Petugas Gabungan Evakuasi Korban Banjir Pamekasan Saat Arus Deras

Liputan6.com, Pamekasan – Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri, Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WIB mulai mengevakuasi korban banjir di kawasan Kota Pamekasan.

Evakuasi dilakukan pada korban banjir terparah, yakni di Jalan Sinhaji, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan.

Di kawasan ini genangan banjir di dekat aliran sungai mencapai leher orang dewasa.

Petugas mengutamakan evakuasi kepada orang tua, anak-anak dan ibu hamil ke tempat yang lebih aman.

“Ketinggian banjir di sana seleher saya ini. Makanya semua warga kita evakuasi ke sini,” kata Budi warga Jalan Sinhaji di lokasi banjir, Sabtu 14 April 2019 malam, dilansir Antara.

Banjir kiriman dari Kecamatan Palengaan, Pamekasan ini mulai memasuki Kota Pamekasan sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat itu, genangan banjir di sekitar Jalan Sinhaji Pamekasan masih sekitar 10 Cm. Namun satu jam kemudian, tiba-tiba banjir kiriman datang dan memasuki rumah-rumah warga.

Hingga sekitar pukul 22.10 WIB belum ada tanda-tanda banjir akan surut, bahkan arus banjir cenderung semakin deras.

Sementara, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, petugas PLN kini terpaksa memadamkan aliran listrik di sekitar lokasi banjir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengevakuasi sejumlah warga yang terjebak banjir dengan menggunakan perahu karet.

Dramatis, Evakuasi Ibu Hamil 8 Bulan dari Banjir Setinggi Leher

Kabupaten Bandung – Banjir masih menerjang wilayah Kabupaten Bandung, salah satunya di Kecamatan Dayeuhkolot. Genangan banjir masih tinggi sehingga warga dievakuasi untuk mengungsi.

Pantauan detikcom, Selasa (9/4/2019) ketinggian air di Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot, Kacamatan Dayeuhkolot dari mulai lutut hingga atap rumah.

Sejumlah anggota TNI dan aparat desa melakukan evakuasi warga yang terjebak di rumahnya. Salah satunya seorang ibu muda bernama Suryani yang sedang hamil 8 bulan.

Evakuasi ini dipimpin langsung oleh Anggota Koramil 0908 Dayeuhkolot sekaligus Babinsa Desa Dayeuhkolot Serka Emil Sodikin.

Aparat mendapat laporan Suryani masih terjebak di lantai dua rumahnya dari suaminya, Miftah.

Dramatis, Evakuasi Ibu Hamil 8 Bulan dari Banjir Setinggi LeherFoto: Wisma Putra

Miftah bersama Serka Emil, satu anggota TNI lainnya dan Ketua RW kangsung menuju ke lokasi dengan menggunakan perahu karet. Rumah Miftah berada di dalam pemukiman padat penduduk dan harus melewati gang-gang kecil.

Perahu karet yang ditumpangi hanya sampai di depan gang. Miftah langsung menceburkan diri dan berenang menuju rumahnya.

Evakuasi ibu hamil ini cukup dramatis, pasalnya dievakuasi tanpa menggunakan pelampung dan alat bantu lainnya. Suryani dievakuasi dengan cara digendong oleh Miftah dengan berjalan di tengah banjir setinggi leher orang dewasa. Setelah dibawa keluar rumah, Suryani langsung dinaikkan ke atas perahu.

Evakuasi itu berlangsung cepat, Miftah dan Suryani turun dari perahu dan akan mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di Palasari Dayeuhkolot.

“Ketinggian air seleher, saya evakuasi mertua, istri yang sedang hamil dan adik ipar,” kata Miftah usai turun dari perahu.

Dramatis, Evakuasi Ibu Hamil 8 Bulan dari Banjir Setinggi LeherFoto: Wisma Putra

Miftah menjelaskan, ia bersama keluarganya tak sempat mengungsi karena, Senin (8/4) sore kemarin hujan besar.

“Istri hamil 8 bulan dan akan mengungsi ke rumah sodara di Palasari. Belum sempat ngungsi kemarin hujan basar,” ujarnya.

Sementara itu, Babinsa Desa Dayeuhkolot Serka Emil mengatakan sudah menjadi tugasnya sebagai aparat membantu evakuasi korban banjir.

“Ya sudah rutin buat saya, setiap banjir bantu evakuasi. Apalagi ini banjir di titik terdalam sudah 230 cm. Kemaren saya sarankan warga mengungsi, tapi berpikir tidak akan terlalu besar, sekarang besar makanya ada yang terjebak, seperti tadi perahu saya tidak bisa lewat,” ujarnya.

Petugas di lapangan yang melakukan evaluasi kerap menemukan kendala, salah satunya gang pemukiman yang kecil sehingga perahu tidak dapat masuk sehingga warga yang mau dievakuasi harus berenang terlebih dahulu lalu dinaikkan ke atas perahu.
(ern/err)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Arahan Jokowi Terkait Banjir Sentani: Percepat Evakuasi dan Rehabilitasi Hutan

Liputan6.com, Jakarta – Bencana Banjir bandang di Sentani, Jayapura mengakibatkan sejumlah kerusakan dan korban jiwa. Evakuasi terus dilakukan oleh tim SAR gabungan untuk mencari korban.

Untuk memudahkan proses evakuasi, pihak kepala daerah setempat telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari, terhitung sejak 17 Maret 2019 hingga 30 Maret 2019.

“Masa tanggap darurat telah ditetapkan 14 hari, terhitung 17 Maret 2019 sampai 14 hari,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Senin (18/3/2019). 

Menurut Sutopo, pagi tadi Kepala BNPB Doni Munardo telah tiba di Sentani, dan langsung menggelar rapat koordinasi dengan bupati dan petugas di sana.

Sejak malam tadi, Doni juga telah melaporkan dampak banjir bandang di Sentani dan penangaannya ke Presiden Jokowi . 

“Pak Doni juga telah melaporkan dampak bencana banjir bandang di Sentani beserta penanganannya kepada presiden. Dan presiden telah memberikan beberapa arahan,” ucap dia.

Dari laporan tersebut, ada beberapa arahan dari presiden, yakni mempercepat evakuasi korban agar menghindari bertambahnya jumlah korban meningal dan luka-luka.

Kemudian pasca bencana, perlu dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan di pegunungan Cycloop untuk menghindari bencana serupa, sebab kejadian ini bukanlah banjir bandang pertama.

“Kemudian juga arahan pendirian posko komando di kantor Bupati Jayapura,” ucap dia.

 

Akan Evakuasi 3 Gerbong, Kereta Penolong Tiba di Lokasi KRL Anjlok

Jakarta – Kereta penolong ‘Djoko Tingkir’ tiba di lokasi KRL Jakarta-Bogor yang terguling di Kebon Pedes, Bogor. Kereta penolong akan membawa ketiga gerbong ke Dipo KRL Depok.

Pantauan detikcom di lokasi, Kebon Pedes, Bogor, Senin (11/3/2019), kereta penolong datang sekitar pukul 02.15 WIB. Saat ini petugas di lokasi tengah menyiapkan gerbong dibawa kereta penolong. Dirut PT KAI, Edi Sukmoro, turut berada di lokasi memantau evakuasi.

“(Kereta penolong) kereta untuk menarik kereta-kereta lain yang mengalami gangguan. Menarik kereta yang anjlok tadi. Untuk menarik kereta lain yang mengalami gangguan. Dibawa ke Dipo KRL,” kata VP Komunikasi PT KCI, Eva Chairunisa, kepada wartawan.
Peristiwa tergulingnya KRL tersebut terjadi pada Minggu (10/3) sekitar pukul 10.10 WIB. Lima gerbong lainnya yang tidak terguling sudah dievakuasi dari lokasi pada Minggu (10/30), pukul 16.00 WIB ke Dipo KRL Depok.
Ada 17 korban luka akibat kejadian ini, termasuk masinis. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan biaya perawatan para korban tersebut ditanggung pemerintah.

“Segala biaya-biaya yang harus ditanggung, PT KAI dan Perhubungan akan menanggung,” ujar Budi saat menjenguk korban di RS Salak, Bogor.
(tsa/rna)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Evakuasi KRL Anjlok, Petugas Pindahkan Dulu 2 Tiang Penyangga LAA yang Tumbang

Kota Bogor – Proses evakuasi KRL yang anjlok di Kebon Pedes, Kota Bogor, masih berlangsung sejak pagi hingga malam hari ini. Saat ini petugas masih coba ‘menyingkirkan’ tiang penyangga Listrik Aliran Atas (LAA) untuk bisa memindahkan gerbongnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi anjloknya KRL tujuan Jakarta-Bogor, di Kebon Pedes, Bogor, Minggu (10/3/2019) sekitar pukul 23.30 WIB, petugas menggunakan satu unit crane untuk memindahkan dua tiang penyangga LAA.

Petugas di lokasi menyatakan untuk memindahkan gerbong yang keluar jalur kembali ke jalurnya harus dipindahkan terlebih dahulu dua tiang penyangga itu.
“Iya, kalau sudah pindah baru gerbongnya nanti diangkat kembali ke jalurnya,” ujar petugas tersebut.

Evakuasi KRL anjlok ini telah berlangsung kurang lebih 12 jam. Dirut PT KAI, Edi Sukmoro, berharap evakuasi segera selesai dan KRL Jakarta-Bogor bisa kembali beroperasi. Ia menargetkan evakuasi selesai malam ini.

“Kami berharap tetap bisa memberikan pelayanan besok pagi karena Senin. Biasa kalau Senin padat sekali, supaya memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena kan commute mondar-mandir Jakarta-Bogor-Jakarta,” kata Edi di TKP KRL 1722 Anjlok, Kebun Pedes, Minggu (10/3).

In case kepeleset, tidak bisa selesai, dari Ditjen kita sudah sepakat, kita sudah berunding. Kita akan dibantu juga melalui angkutan bus. Bus kota yang ngangkut mungkin dari Bogor menuju Depok. Karena Depok kan KRL sudah bisa masuk, sehingga paling tidak dari kita itu sudah menolong,” ujarnya.
(rna/tsa)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kemenhub: Evakuasi 3 Kereta Anjlok di Bogor Memakan Waktu hingga 6 Jam

Liputan6.com, Jakarta – Proses evakuasi tiga gerbong kereta anjlok di antara Stasiun Cilebut dan Bogor hingga kini malam ini masih berlangsung. Satu gerbong telah berhasil diangkat. Masih ada dua gerbong yang belum diangkat. 

Untuk mengangkat tiga gerbong itu, satu unit crane dan kereta Penolong didatangkan Tim Direktorat Jenderal Perkeretaapian bersama PT.KAI. 

“Kereta Penolong bersama crane telah tiba di lokasi kejadian anjloknya KRL 1722 antara Stasiun Cilebut dan Stasiun Bogor,” menurut Siaran Pers Humas Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Minggu (10/3/2019).

Peralatan berat tersebut sengaja didatangkan guna dapat mempercepat pelaksanaan proses evakuasi tiga gerbong kereta anjlok di antara Stasiun Cilembut-Stasiun Bogor.

“Pemerintah bersama PT KAI, PT KCI beserta instansi terkait lainnya terus bekerja agar penanganan evakuasi yang saat ini masih terus dilaksanakan dapat segera mengatasi permasalahan anjlokan KRl tersebut,” terang Siaran Pers tersebut.

Upaya evakusia tersebut diharapkan bisa kembali memulihkan operasional KRL dari dan menuju Bogor pada Senin, 11 Maret 2019 esok hari.

“Diperkirakan, proses evakuasi akan makan waktu selama 5 hingga 6 jam.”

Sudah 12 Jam, Proses Evakuasi KRL Anjlok di Bogor Masih Berlangsung

Jakarta – KRL relasi Jakarta-Bogor yang terguling di perlintasan Kebon Pedes, Tanah Sareal, Bogor, masih dalam proses evakuasi. Hingga kini, evakuasi telah berlangsung kurang lebih 12 jam.

Dirut PT KAI, Edi Sukmoro, berharap evakuasi segera selesai dan KRL Jakarta-Bogor bisa kembali beroperasi. Ia menargetkan evakuasi selesai malam ini.

“Kami berharap tetap bisa memberikan pelayanan besok pagi karena Senin. Biasa kalau Senin padat sekali, supaya memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena kan commute mondar-mandir Jakarta-Bogor-Jakarta,” kata Edi di TKP KRL 1722 Anjlok, Kebun Pedes, Minggu (10/3/2019).
Namun, Edi mengatakan PT KCI telah menyiapkan angkutan alternatif andai evakuasi tidak selesai. Dia menyebut PT KAI berkoordinasi menyediakan bus untuk mengangkut penumpang dari Bogor.

In case kepeleset, tidak bisa selesai, dari Ditjen kita sudah sepakat, kita sudah berunding. Kita akan dibantu juga melalui angkutan bus. Bus kota yang ngangkut mungkin dari Bogor menuju Depok. Karena Depok kan KRL sudah bisa masuk, sehingga paling tidak dari kita itu sudah menolong,” ujarnya.

Perihal gerbong kereta yang rusak, Edi belum bisa memastikan apakah gerbong-gerbong tersebut bakal dipakai kembali. Edi menyebut gerbong-gerbong itu akan dicek teknisi PT KAI.

“Kita lihat kerusakannya. Nanti ada pengecekan dari sisi teknis,” tutur Edi.

Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 10.10 WIB. Ada 17 korban luka akibat kejadian ini, termasuk masinis.

Proses evakuasi saat ini menggunakan crane yang didatangkan dari Bandung. Dari delapan rangkaian gerbong KRL, kini sisa tiga gerbong yang masih dalam proses evakuasi.
(tsa/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Begini Proses Evakuasi KRL Anjlok dengan Crane yang Ditarget Selesai Malam ini

Minggu 10 Maret 2019, 20:26 WIB

Foto News

Rifkianto Nugroho – detikNews

Jakarta detikNews – KRL yang anjlok dan terguling di Kebon Pedes, Bogor, mulai dievakuasi, Minggu (10/3/2019). KRL dievakuasi menggunakan crane.

Crane untuk mengevakuasi gerbong KRL yang anjlok dan terguling tiba di lokasi sekitar pukul 17.50 WIB.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com