Kajian Konservatisme Era Revolusi Industri 4.0 di Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta Konservatisme yang kembali marak di era Revolusi Industri 4.0 tidak hanya terjadi di Indonesia. Fenomena ini juga terdapat di nyaris seluruh negara di dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Timur Tengah, Myanmar, dan sebagainya.

Persoalan ini mendorong Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) bersama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)  menggelar seminar dan lokakarya. Kegiatan bertajuk ‘Tantangan Agama dan Harkat Kemanusiaan di Era Sintesis’ ini akan digelar pada 25 sampai 26 April 2019 di Sekolah Pascasarjana UGM.

“Kami melihat ada tren yang mengkhawatirkan, yakni konservatisme, yang sebenarnya tidak hanya soal agama tetapi juga politik, sosial, dan budaya,” ujar Dicky Sofjan, akademisi ICRS, dalam jumpa pers di UGM, Selasa (23/4/2019).

Ia menyebutkan hakikat konservatif ada tiga, yakni, percaya satu sumber kebenaran, mendambakan kepemimpinan yang kuat, dan menggunakan metode mobilisasi umum.

Menurut Dicky, semakin maju peradaban, justru manusia semakin teralienasi atau terasing. Mereka cenderung mencari makna kehidupan yang membangun kekhawatiran diri.

Ketika memasuki Revolusi Industri 4.0, media sosial sebagai pengembangan dari artificial intelligent memperkuat kondisi tersebut. Konservatisme agama muncul ketika agama menjadi dua, agama lama yang diunggah ke internet  dan agama internet.

Agama internet memunculkan ajaran baru yang membuat orang belajar dan memahami ajaran agama justru lewat media sosial, misal Youtube. Masuknya agama ke media sosial membuat polarisasi lebih besar di masyarakat.

“Ini yang jadi tantangan kita semua bagaimana menghadapi itu,” kata Dicky.

Ia mengungkapkan, literasi keagamaan dapat memitigasi beragam persoalan konservatisme yang berkembang. Literasi keagamaan bukan berarti menambah pelajaran agama di institusi pendidikan, melainkan membangun kesadaran masyarakat tentang arti penting keberagaman agama. Artinya, bagaimana seseorang yang mengimani agamanya dapat menghargai perbedaan dan berinteraksi secara sehat dengan  orang yang berbeda agama dan kepercayaan. 

Ma’ruf: Reformasi Substantif Baru Terjadi di Era Jokowi, Bukan 1998

Jakarta – Jamak diketahui, reformasi terjadi pada tahun 1998. Namun calon wakil presiden Ma’ruf Amin menilai ada dua macam reformasi. Macam yang pertama terjadi pada 1998 dan macam yang kedua terjadi belasan tahun sesudahnya.

Ini dikatakan Ma’ruf untuk menanggapi capres Prabowo Subianto yang mengatakan Indonesia sedang sakit. Menurut Ma’ruf, Indonesia tidak sedang sakit. Penataan di segala bidang sudah berjalan sejak reformasi.

“Saya melihat bahwa reformasi itu dimulai memang sejak ’98 secara struktural. Tapi secara substantif, itu baru terasa sejak Pak Jokowi,” ujar Ma’ruf di Hotel Grand Zuri, Tangerang, Banten, Minggu (7/4/2019).

“2014 itu baru reformasi substantif,” kata Ma’ruf.

Reformasi substantif berwujud penataan-penataan dalam bidang sosial hingga ekonomi. Dalam bidang ekonomi, predikat layak investasi untuk Indonesia berhasil diraih. Di bidang sosial, bantuan sosial dan jaminan sosial dinilainya baru terasa setelah ada Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Indonesia Sehat (KIS), hingga Bantuan Pangan Non Tunai yang diadakan di era pemerintahan Jokowi, capres petahana yang menjadi pasangannya di Pilpres 2019.

“Jadi kalau saya melihat justru terjadi proses perbaikan, sedang menuju recovery, bukan sakit. Justru penyembuhan. Kalau reformasi struktural memang terjadi pada 98, tapi secara subtansial itu baru 2014 terasa sebagai langkah-langkah penyembuhan, malah bukan sakit,” tutur Ma’ruf.

Diberitakan sebelumnya, dalam kampanye akbarnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Prabowo menyebut Indonesia sedang sakit karena kekayaan RI saat ini menurutnya diambil terus. Dia juga mengatakan ibu pertiwi tengah diperkosa.

“Saya berdiri di sini karena saya berpandangan bahwa negara kita sedang sakit, saudara-saudara sekalian. Ibu Pertiwi sedang diperkosa, saudara-saudara sekalian!” kata Prabowo.
(dnu/nvl)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Makam Era Kolonial Ditemukan Secara Tak Sengaja di Philadelphia

Terlepas dari jumlah mayat, kedua peneliti telah mengetahui nama dari tiga jenazah dengan melihat batu nisannya, menganalisis tulang dan membaca catatan sejarah.

Ketiga jasad ialah Benjamin Britton, pemilik toko roti dan budak yang meninggal pada 1782 pada usia 78; Israel Morris; dan Sarah Rogers yang berusia 3 tahun, menurut The New York Times.

Sebagian besar peti mati dibuat dari kayu sederhana, meskipun banyak yang memiliki pegangan unik, yang membantu menentukan tanggal penguburan antara 1720-an hingga 1790-an.

Beberapa peti mati ini memiliki beberapa artefak –meskipun di antaranya ada barang-barang berat, seperti gunting, sisir, cincin emas palsu, tembikar yang pecah dan potongan-potongan kain.

Jared Beatrice, asisten profesor antropologi di The College of New Jersey, memimpin upaya identifikasi kerangka untuk menilai setiap tubuh berdasarkan jenis kelamin, usia saat meninggal, perawakan, keturunan, dan tanda-tanda trauma atau penyakit.

Diketahui bahwa kekurangan gizi adalah wabah yang merajalela kala itu. Para ilmuwan menemukan bukti adanya demam kuning, klamidia, TBC dan kusta.

Ilmuwan juga melihat plak pada gigi yang tersisa, yang dapat mengungkapkan apa yang dimakan orang dan dari mana asalnya. Selain itu, mereka menganalisis bakteri atau microbiome di rongga panggul (tempat organ duduk), dan bahkan telah menemukan beberapa otak yang dimumikan.

Analisis lipid (zat lemak yang tidak larut dalam air) ini dapat membantu para ilmuwan menentukan tahun di mana orang-orang ini meninggal.

Selain itu, 15 orang yang tewas mungkin merupakan keturunan Afrika, menurut catatan penguburan, kata para peneliti.

Ketika penelitian berlanjut, Moran dan rekan-rekannya tetap berhubungan dengan First Baptist Church, yang masih ada, meskipun dengan jemaat yang lebih kecil.

Sementara itu, para peneliti hanya memiliki waktu hingga 2023 untuk mempelajari kerangka-kerangka itu, yang kemudian harus dimakamkan kembali dengan hormat di Pemakaman Mount Moriah, tempat pekuburan dipindahkan pada tahun 1860, menurut Philadelphia’s Orphans’ Court yang mengelola kuburan tanpa tanda.

Moran dan rekan-rekannya berencana untuk mempresentasikan temuan mereka dalam pertemuan tahunan Society for American Archaeology pada minggu depan, dan mengajukan permohonan hibah sehingga lembaga ini dapat mendanai penelitian mereka pada temuan penting tersebut.

Tantangan Berikutnya Untuk Para Juara One: A New Era

Shinya “Tobikan Judan” Aoki (dok One Championship)

Shinya tampil dengan sangat spektakuler. Ia memaksa pahlawan Filipina ini menyerah dengan sebuah arm-triangle choke dan mencatatkan kemenangan ronde pertama yang keempat dalam rekornya.

Saat ini, “Tobikan Judan” akan menunggu pemenang dari rangkaian One Lightweight World Grand Prix, tetapi petarung asal Jepang ini ingin tetap aktif dan maju untuk satu pertandingan lainnya.

Shinya melontarkan sebuah pernyataan mengejutkan dalam konferensi pers seusai acara, dimana ia memiliki keinginan untuk menghadapi Christian “The Warrior” Lee.

Bisa jadi pertemuan mereka dalam divisi catch weight, atau dalam sebuah pertandingan super grappling, akan terlaksana.

Hasegawa Sebut ONE: A New Era Duel Terpenting Kariernya

Liputan6.com, Tokyo – Ken Hasegawa pernah merasakan sengatan mematikan dari Aung La N Sang. Juni 2018, Hasegawa harus menyerah TKO saat duel lawan Aung La di ajang ONE Championship di Myanmar.

Meski begitu, ketika itu, petarung asal Jepang ini tampil cukup merepotkan Aung La. Tak heran duel mereka saat itu, sering disebut-sebut sebagai “epic battle” di arena ONE Championship.

Kini, kesempatan untuk membalas kekalahan itu datang kepada Hasegawa. Minggu (31/3), dia akan kembali menantang Aung La, yang bergelar juara dunia ONE Championship kelas middleweight di ONE: A New Era, yang akan digelar “rumah” Hasegawa, di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, Jepang.

Artinya, jika bisa mengalahkan Aung La, Hasegawa, 32 tahun, tidak hanya akan bisa membalaskan dendamnya. Melainkan juga akan bergelar juara dunia baru untuk kelas middleweight ONE Championship.

Wajar, Hasegawa pun sangat antusias menyambut duel ini. “Pertarungan ulang ini sangat penting untuk karier saya. Saya akan melakukan segalanya untuk jadi yang terbaik di duel ini,” Hasegawa, yang punya rekor 15 kemenangan dari 19 duel itu menegaskan.

Engelen Siap Kibarkan Merah Putih di One: A New Era

ONE A New Era: Menanti Debut Dua Petarung AS

Liputan6.com, Tokyo – Ada yang berbeda di ajang ONE Championship yang akan digelar di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, Minggu (31/3/2019). Bukan hanya lantaran inj akan jadi pertama kalinya One Championship menggelar ajang di Jepang, melainkan juga karena kehadiram dua petarung asal Amerika Serikat (AS) di ajang yang diberi tajuk ONE: A New Era ini.

Eddie Alvarez dan Demetrious Jhonson akan berdebut di One Championship. Alvarez akan berhadapan dengan Timofey Nastyukhin (Rusia) di kelas lightweight Sedangkan Johnson akan menghadapi petarung tuan rumah Yuya Wakamatsu di kelas flyweight.

Kehadiran Alvarez dan Johnson tentu saja menarik pehatian banyak pihak. Sebelum bergabung One Championship keduanya sudah lama malang-melintang di arena mixed martial arts (mma) terutama UFC.

Bahkan, keduanya pernah bergelar juara di UFC. Alvarez pernah menyandang juara kelas lighweight. Sedangkan Johnson pernah bergelar juara flyweight.

Alvarez sendiri mengaku sangat antusias menghadapi duel pertamanya di ONE Championship ini. Dia pun percaya diri bisa mengalahkan sang lawan.

“Saya menginginkan lawan terberat dan saya mendapatkannya,” ujar Alvarez, yang juga pernah berhadapan dengan Connor McGregor. ” Saya sudah berlatih keras untuk duel ini. Saya siap tempur.”

Engelen Siap Kibarkan Merah Putih di One: A New Era

Live Streaming ONE Championship: A New Era

Liputan6.com, Jakarta – Jepang menyambut hajatan besar ONE Championship untuk pertama kalinya. Gelaran dengan tajuk ONE: A New Era akan dihelat di Negeri Matahari Terbit, tepatnya di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, hari ini.

Bisa dibilang ini merupakan ajang ONE Championship terbesar yang pernah digelar. Pasalnya, ada empat juara akan coba mempertahankan gelar mereka.

Juara ONE lightweight, Eduard Folayang akan berhapadan dengan Sinya Aoki, juara middleweight, Aung La N Sang ditantang Ken Hasegawa. Sedangkan juara kelas bantam, Kevin Belingon akan menghadapi Biabiano Fernandes.

Sementara juara dunia wanita kelas jerami, Xiong Jing Nan akan menghadapi Angela Lee.Ajang One Championship kali ini juga akan menarik karena bakal jadi ajang debut dua petarung Amerika Serikat, Demetrious Johnson dan Eddie Alvarez.

Sementara Anthony Engelen akan jadi satu-satunya wakil Indonesia di gelaran ONE: A New Era.

Ajang ONE Championship: A New Era dapat Anda saksikan melalui live streaming mulai pukul 13.00 WIB.

Dapatkan link Live Streaming ONE Championship: A New Era di halaman selanjutnya.

ONE: A New Era: Anthony Engelen Akan Menyerang Sejak Awal

Liputan6.com, Tokyo – Anthony Engelen menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang akan tampil di ajang ONE Championship: A New Era. Ajang ini akan digelar di Ryogoku Kokugikan, Tokyo, Jepang, Minggu (31/3).

Di ajang ONE Championship ini, petarung berdarah Belanda itu akan menghadapi lawan berat, atlet asal Amerika Serikat, Garry Tonon. Namun begitu, Engelen mengaku percaya diri menjelang duel ini.

“Saya sudah mempersiapkan diri cukup. Sebelum berangkat ke Jepang, saya berlatih di Bali,” ujar pria berusia 33 tahun itu.

Engelen mengungkapkan, lawan Tonon, dirinya akan menyerang sejak awal. Dia ingin membuat sang lawan merasa tidak nyaman dan melakukan berbagai kesalahan.

Dari kesalahan-kesalahan lawan itu, Engelen akan coba mencari celah untuk memenangkan pertarungan ONE Championship ini. “Dia kuat dalam submisson, pasti dia akan terus mencari kaki saya. Tapi, saya akan menahannya dengan terus melakukan serangan sejak awal,” ujar Engelen.

Engelen Siap Kibarkan Merah Putih di One: A New Era

Ambisi Aoki di ONE: A New Era, Bukan Hanya Balas Dendam

Aoki memang merasa bertanggung jawab untuk mengembalikan pamor MMA Jepang di dunia internasional. Dia ingin tak hanya dirinya yang dikenal sebagai jagoan MMA asal Negeri Matahari Terbit itu, melainkan juga banyak lagi.

Aoki saat ini memang sudah menjadi idola, bahkan legenda bagi publik Jepang. Selama kariernya, dia telah bertarung 28 kali, di berbagai ajang MMA. Mulai Shooto, Pride, Dream, hingga ONE Championship.

“Saya berharap dengan membawa ajang ONE Championship ke Jepang, masyarakat bisa melihat saya, mendukung saya, yang pada gilirannya bisa menumbuhkan generasi-generasi petarung baru dari Jepang,” ujarnya. “Saya saat ini mendorong itu.”

Namun begitu, yang menarik, Aoki sendiri tak mau disebut sebagai legenda. Dia merasa risih dengan cap tersebut.

“Saya hanya ingin menjadi orang biasa, seperti orang kebanyakan. Terutama saat berada di luar ring,” ujarnya.

Namun begitu, Aoki mengaku ingin terus menjadi atlet MMA selama masih sanggup melakukannya. Menjadi petarung di ring, memberikan kebahagiaan tersendiri baginya.”Saya akan menjadi atlet MMA selama mungkin. Saya ingin terus bertarung selamanya,” ujar Aoki.

BPN Pamer Pembebasan Wilfrida, TKN: Era Jokowi, 443 WNI Bebas dari Hukuman Mati

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menjawab klaim BPN soal peran Prabowo Subianto dalam pembebasan tuntutan mati terhadap TKI di Malaysia, Wilfrida Soik. TKN heran BPN terkesan membesar-besarkan kasus tersebut.

“Satu kasus gitu saja kok digede-gedeinnya minta ampun,” kata anggota TKN Jokowi-Ma’ruf, Eva Kusuma Sundari kepada wartawan, Sabtu (30/3/2019).

Eva pun memamerkan capaian Jokowi dalam upaya pembebasan TKI dari hukuman mati di luar negeri. Ia merujuk kepada data yang sempat disebutkan Menlu RI Retno LP Marsudi, yaitu ada 443 WNI yang dibebaskan dari hukuman mati sepanjang Jokowi menjabat selamat empat tahun.
“Selama pemerintahan Pak Jokowi sudah ada sekitar 443 WNI yang terselamatkan dari hukuman mati di luar negeri. Ini diplomasi yang dilakukan luar biasa sepanjang sejarah,” ujar politikus PDIP itu.

Kembali ke soal Wilfrida, Eva mengatakan pembebasan TKI asal Belu, NTT itu dari ancaman hukuman mati di Malaysia bukan semata karena peran Prabowo. Ia mengatakan dirinya juga berkontribusi terhadap pembebasan tersebut, saat dia duduk di Komisi III DPR yang membidangi urusan hukum.

“Soal Wilfrida, saya selama di Komisi III DPR itu menulis surat kepada Raja Malaysia bersama Mas Pramono Anung. Saya lakukan ini jauh sebelum Pak Prabowo dg pesawat terbang ke sana menemui dia,” sebutnya.

“Jadi saya di kaukus Migrant Workers, baik di Asia maupun Indonesia saya membentuk kaukus untuk TKI. Jadi jangan diklaim sendirian. Banyak upaya itu yang mengeroyok, ada Migrant Care dan PDIP. Mas Pramono waktu itu yang nulis surat, saya yang nge-draf. Kalau nggak ada surat itu, ya nggak ada respons. Ngapain ke sana? Sudah diberesin lobi-lobi petinggi Malaysia, baru kemudian bisa dibebaskan,” imbuh Eva.

Eva juga mengomentari pernyataan BPN yang memamerkan capaian Prabowo di bidang pertahanan dan keamanan. Salah satunya, BPN mencontohkan keberhasilan Prabowo menumpas Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Menurut Eva, penumpasan OPM itu tidak menyelesaikan masalah. Ia mengatakan justru Jokowi yang berhasil menyejahterakan masyarakat Papua.

“Menurut saya, dari semua pemerintahan, Pak Jokowi yang berhasil. Bahkan kenapa Papua mau memenangkan Pak Jokowi, bahkan Gubernur Papua (Lukas Enembe) yang Demokrat mendukung Pak Jokowi karena di sana rakyat sudah jatuh hati kepada Pak Jokowi. Karena afirmasi yang dilakukan Pak Jokowi terhadap Papua. Jadi kombinasi antara diplomasi kesejahteraan dan pembangunan yang digenjot luar biasa, dan memperlakukan orang-orang Papua dengan penuh hormat. Maka kalau kekerasan dibanggakan ya aneh,” ujar Eva.

Sebelumnya, BPN Prabowo-Sandi mengatakan tema debat malam nanti dekat dengan keseharian sang capres, di antaranya soal pertahanan dan keamanan serta hubungan internasional. BPN pun memamerkan pencapaian Prabowo.

“Dalam aspek peran internasional, meskipun bukan seorang pejabat negara, ia turun langsung melakukan pembelaan terhadap TKI Wilfrida Soik yang terancam hukuman di luar negeri,” kata juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Suhud Alynudin.
(tsa/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>