Survei Alvara: Elektabilitas Jokowi 52,2% Prabowo 38,8%

Jakarta – Alvara Research Center kembali merilis survei elektabilitas Pilpres 2019. Hasilnya, selisih antara Jokowi dan Prabowo terpaut Rp 13,8%.

“Hasilnya bisa kita lihat elektabilitas untuk kedua kandidat untuk pasangan 01 Jokowi-Kiai Maruf Amin itu di 52,2% sementara pasangan Prabowo-Sandi itu di angka 38,8%,” kata Founder dan CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali saat rilis survei di Hotel Oria, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019).

Survei ini dilakukan tanggal 2-8 April 2019. Survei menggunakan multi-stage random sampling dengan melakukan wawancara terhadap 2.000 responden yang berusia 17 tahun ke atas dan memiliki hak pilih. Rentang margin of error sebesar 2,23% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Sebelumnya, Alvara Research Center juga telah melakukan survei nasional di bulan Agustus 2018, Oktober 2018, Desember 2018 dan Februari 2019. Berdasarkan survei ini, jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan makin berkurang.

“Elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan pada survei bulan April 2019, tapi kenaikan ini sudah terlambat, pemilu tinggal beberapa hari, kecil kemungkinan elektabilitas Prabowo-Sandi mampu menyalip Jokowi-Ma’ruf Amin,” tambah Hasanuddin.

Alvara mencatat Prabowo-Sandi hanya unggul di Pulau Sumatera sementara Jokowi-Ma’ruf menang di Jawa dan Indonesia bagian timur. Jokowi unggul di generasi milenial dan kelompok usia yang lebih tua sementara suara di Gen Z diperebutkan dua calon.

Alvara lalu membuat 3 skenario hasil akhir Pilpres. Ketiganya mengunggulkan Jokowi dibanding Prabowo. Berikut paparan dari Alvara:

Skenario I : Joko Widodo-Ma’ruf Amin (57,3%) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (42,7%)
Asumsi skenario I : Hasil survey April 2019 ditambah dengan undicided voters terbagi sama rata ke masing-masing kandidat dan pemilih dari masing-masing pemilih 100% solid mendukung kandidat Capres-Cawapres yang didukungnya

Skenario II: Joko Widodo-Ma’ruf Amin (55,9%) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (44,1%)
Asumsi skenario II: Hasil survey April 2019 ditambah dengan pembagian undicided voters
berdasarkan kecenderungan pilihan kandidat dan perhitungan separuh pemilih yang masih mungkin pindah (swing voters), pindah ke kandidat lawan.

Skenario III: Joko Widodo-Ma’ruf Amin (59,9) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (40,1%)
Asumsi skenario III : Estimasi menggunakan regresi logistik dengan parameter demografi (usia, pendidikan, strata sosial, agama, etnis), area, dan dukungan pemilih partai
(imk/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Direktur Para Syndicate Sebut Elektabilitas Jokowi dan Prabowo Cenderung Naik

Liputan6.com, Jakarta – Direktur eksekutif Para Syndicate, Ari Nurcahyo menelaah elektabilitas antara capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf dan nomor urut 02 Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. Hasilnya, kata dia, elektabilitas dua pasangan calon itu relatif naik.

Ari menjelaskan, kesimpulan tersebut ia ambil dengan cara melihat hasil 23 lembaga survei yang bisa dipercaya. Diantaranya ada Indo Barometer, LSI Denny JA, Voxpol, CSIS hingga Litbang Kompas.

Setelah melihat deretan hasil survei tersebut, Ari membuat grafik kemudian menarik garis lurus mengunakan cara regresi linier.

“Periode Januari sampai April cenderung naik memang. Undecided voters turun. Namun, kenaikan 01-02 relatif sama,” kata Ari di Kantor Para Syndicate, Jakarta Selatan, Kamis, 11 April 2019.

Tren kenaikan ini, kata Ari juga sesuai dengan penurunan undecided voter. Selisih elektabilitas kedua pasangan calon juga cukup konsisten.

“Tren kenaikan dua paslon sama dengan tren penurunan undecided voter,” ungkapnya.

Elektabilitas Prabowo 63%, BPN: Survei UKRI Bisa Dipertanggungjawabkan

Jakarta – Lapitek UKRI merilis survei elektabilitas pasangan capres-cawapres di Pilpres 2019. Hasilnya Prabowo-Sandi 63 persen dan Jokowi-Ma’ruf 37 persen. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berharap hasil survei tersebut akan sama dengan kenyataan di lapangan.
“Saya nggak tahu persis metodenya, tapi tidak sama persis dengan survei internal kita seperti hasil launching UKRI. Tapi itu bisa dipertanggungjawabakan. Saya rasa, saya optimis hasilnya akan mirip dengan hasil survei kami,” kata juru bicara BPN Andre Rosiade kepada wartawan, Kamis (11/4/2019).

Andre mengatakan survei internal dari BPN menunjukkan pihaknya unggul atas pasangan Jokowi-Ma’ruf. Dia meyakini hasil survei tersebut benar karena dibuktikan dengan antusiasme masyarakat dalam kampanye Prabowo-Sandi.

“Di BPN tidak setebal di UKRI, kita sudah melewati angka margin error sekitar 4 persen sudah melewati UKRI. Terpotret dengan realita di lapangan, dilihat kampanye Pak Prabowo-Pak Jokowi, Bang Sandiaga-Pak Ma’ruf. Kita sudah melihat yang datang kampanye antusias sekali. Memang negara ini banyak mendukung Pak Jokowi, tapi rakyatnya mendukung Pak Prabowo,” jelasnya.

Sebelumnya, Lembaga Afiliasi Penelitian dan Teknologi (Lapitek) UKRI merilis survei terkait elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi. Hasilnya elektabilitas pasangan 02 unggul dari pasangan 01 dengan selisih mencapai 26 persen.

Survei yang dilakukan lembaga internal dari UKRI dilakukan pada periode 1-9 April 2019, dengan menggunakan metode random sampling. Jumlah responden dalam survei tersebut sebanyak 10.252 orang yang tersebar di sejumlah daerah.

Untuk margin of error dalam survei yang dirilis itu sebesar 2,19 persen dengan tingkat kepercayaan 95,5 persen. Hasilnya memperlihatkan pasangan 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul dengan tingkat elektabilitas 63 persen. Sementara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin meraih 37 persen.

Di situs resminya, tercantum Prabowo Subianto adalah Ketua Yayasan Pendidikan Kebangsaan Republik Indonesia. Di situsnya juga tertulis: ‘Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, dibangun dari sebuah cita-cita luhur keluarga besar Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik’.
(fdu/dkp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jarak Elektabilitas Menipis, Timses Jokowi Tetap Optimis Menangkan Pilpres

Delapan hari menuju hari pencoblosan, Voxpol Center Research and Consulting mirilis hasil survei elektabilitas para pasangan capres-cawapres 2019. Dalam survei itu, selisih elektabilitas antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terpaut 5,5 persen.

Dalam survei yang digelar pada 18 Maret hingga 1 April 2019 itu, Jokowi-Ma’ruf mendapat 48,8 persen dan Prabowo-Sandi 43,3 persen. Sementara, pemilih yang belum menentukan pilihan atau undecided voters sebesar 7,9 persen.

“Dari segi elektabilitas menunjukkan peta politik semakin kompetitif, selisih elektabilitas kedua pasang kandidat sudah semakin dekat,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago di Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (9/4/2019).

Dari angka strong voters pemilih capres maupun pemilih partai politik, sambung dia, baik Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi memiliki tingkat loyalitas pemilih di bawah 50 persen. Persentasi strong voter kedua kandidat masing-masing sebesar 43,1 persen untuk Jokowi-Ma’ruf dan 40,9 untuk Prabowo-Sandi.

Menurut Pangi, dengan selisih yang begitu kecil, kedua pasangan calon sama-sama memiliki kemungkinan untuk kalah maupun menang.

“Jika pemilu dilakukan hari ini Pak Jokowi menang. Jika 17 April, Pak Jokowi punya peluang menang, dan peluang kalah. Pak Prabowo ada kemungkinan menang dan kemungkinan kalah,” kata Pangi.

Ma’ruf Amin: Elektabilitas Pasangan 01 di Banten Makin Tinggi

Liputan6.com, Jakarta – Calon wakil presiden Ma’ruf Amin mengatakan, kampanye terbuka bersama Jokowi di kota Tangerang, Banten, sangat memuaskan. Masyarakat sangat antusiasme dalam menghadiri kampanye tersebut.

“Wah saya kira luar biasa. Acaranya hangat, semangatnya tinggi dan banyak. Jadi menurut saya acaranya tadi itu sangat memuaskan. Sulit mengitung jumlahnya itu, kan panjang kan, tiga kilo (kilometer) dan semangatnya luar biasa,” ucap Ma’ruf Amin di kawasan BSD City, Tangerang, Minggu (7/4/2019).

Dia menuturkan, dengan antusiasme masyarakat seperti itu, dirinya yakin bahwa suara untuk pasangan calon nomor urut 01 di Tangerang, bahkan di Banten, akan tinggi.

“Saya kira itu tanda-tanda untuk Tangerang khususnya dan Banten umumnya, elektabilitas makin tinggi. Iya kita optimis lah,” jelas Ma’ruf.

Dia tak menampik, berdiri di atas Kereta Kencana kemudian membagikan kaos, rasa lelah menghinggapinya. Namun itu semua terbayarkan dengan melihat masyarakat yang membludak serta antusiasnya untuk hadir.

“Massanya aja semangat, masa Saya enggak semangat. Massanya semangat dan luar biasa, semangatnya tinggi sekali itu,” ungkap Ma’ruf Amin.

HEADLINE: Pilpres 12 Hari Lagi, Kampanye Terbuka Efektif Dongkrak Elektabilitas?

Liputan6.com, Jakarta – Suhu Pilpres 2019 mendekati titik terpanas sebelum tiba masa coblosan 17 April nanti. Masa kampanye terbuka sudah digeber dari 24 Maret hingga 13 April 2019 mendatang.

Kedua pasangan calon, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga sama-sama mengeluarkan segala jurus untuk mengais dukungan. Tujuannya satu, mendongkrak elektabitas dan memenangi kontestasi Pilpres 2019.

Data terbaru sejumlah lembaga survei menunjukkan, pasangan calon 01 Jokowi-Ma’ruf masih unggul sementara dari Prabowo-Sandiaga dengan persentase yang variatif.

Namun, sisa waktu 12 hari ke depan sebelum hari-H coblosan, fluktuasi elektabilitas diyakini masih akan terjadi. Terlebih saat ini tengah masuk masa kampanye terbuka dengan pengerahan massa. 

Namun, bisakah kampanye terbuka bisa mendongkrak elektabilitas?

Pengamat politik dari UIN Jakarta, Adi Prayitno, banyaknya masyarakat yang datang di kampanye terbuka capres-cawapres tentu berkorelasi positif dengan elektabilitas calon tersebut.

“Tak mungkin orang berduyun-duyun datang ke kampanye terbuka kalau pilihan politiknya belum mantap,” ujar Adi saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (5/4/2019).

Dalam pantauannya selama ini, Adi berpendapat, kampanye terbuka capres Jokowi atau Prabowo selalu ramai dan tidak pernah sepi dari massa.

“Itu artinya peta elektabilitas keduanya masih bisa berubah di sisa waktu kampanye ini. Tinggal bagaimana keduanya memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan ini,” terangnya. 

Menurutnya, semakin banyak massa yang datang ke kampanye makin terbuka lebar elektabilitas naik. “Massa banyak itu ukuran soliditas dukungan. Pasti massa kongkret yang sudah mantap menentukan pilihan,” jelasnya.

Adi menyatakan, kampanye terbuka menjadi ajang adu kekuatan dan adu konsolidasi pendukung Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga. Meski begitu, dia menilai ada narasi berbeda yang dibawakan dua pasangan calon ini saat kampanye terbuka.

Paslon Jokowi-Ma’ruf lebih banyak mengusung optimisme, Indonesia maju dan berkembang di bawah pemerintahan Jokowi lima tahun terakhir. Kartu Pra Kerja, Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, dan Kartu Sembako Murah menjadi materi kampanye Jokowi-Ma’ruf, selain pembeberan capaian-capaian positif pemerintah, seperti turunnya angka kemiskinan dan pengangguran serta pembangunan infrastruktur yang masif.

Pada saat bersamaan, Prabowo-Sandiaga selalu menyatakan hal yang sebaliknya. Mereka selalu mengatakan, Indonesia sedang dalam kondisi tidak bagus, ekonomi sulit, salah urus dan semacamnya.

“Itu bedanya, bagi Jokowi dan kelompoknya bahwa Indonesia sedang bagus dan perlu dilanjutkan dengan tambahan kartu-kartu, sementara Prabowo-Sandi menganggap kondisi ekonomi saat ini sedang tidak oke, makanya Prabowo-Sandi harus mengganti,” ujarnya.

Infografis Selisih Elektabilitas Jokowi Vs Prabowo (Liputan6.com/Abdillah)

Tanggapan berbeda dikemukakan pengamat politik dari Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Dahlia Umar.

Dia meyakini, kampanye terbuka tidak memiliki efek signifikan untuk mengubah elektabilitas capres-cawapres. Swing voter atau pemilih yang belum menentukan pilihan yang menjadi target kampanye terbuka, dipastikan tidak akan menjadikan kegiatan ini sebagai referensi dalam menentukan pilihan.

“Dalam beberapa survei, pemilih yang belum menentukan pilihan, antara 12-22 persen. Dan kampanye terbuka tidak mampu memberikan penjelasan kepada swing voter mengapa harus memilih kandidat capres tertentu,” jelas Dahlia kepada Liputan6.com, Jumat (5/4/2019).

Dahlia menyatakan, pengumpulan massa yang dilakukan di kampanye terbuka lebih bersifat seremoni untuk menunjukkan dukungan parpol pengusung capres-cawapres. Kondisinya bahkan sering tidak menampakkan realitas sebenarnya karena semua adalah mobilisasi. Terlebih, dalam aturan perundang-undangan, kampanye terbuka membolehkan pemberian uang transportasi dan konsumsi dengan nominal wajar kepada peserta kampanye.

Dengan kondisi ini, sambung dia, sulit diperjelas motif orang yang datang pada kampanye terbuka, apakah memang pendukung yang sebenarnya atau orang yang bisa ikut kampanye capres manapun dengan tujuan rekreasi atau menikmati hiburan musik dan artis pendukung.

“Bisa jadi mereka hanya ingin mendapatkan insentif uang transportasi, makan gratis dan materi kampanye berupa sovenir seperti kaos, mug, payung dan lain-lain,” jelasnya.

Dahlia menambahkan, satu-satunya kampanye efektif untuk menarik swing voter dan mendongkrak elektabilitas adalah dengan memetakan mereka dan mendatangi langsung door to door.

“Dengan pendekatan persuasif, beri informasi berupa leaflet dan bahan bacaan tentang capres,” katanya.

Dengan cara ini, mereka akhirnya akan menentukan pilihan berdasarkan rasionalitas argumentasi kelebihan-kelebihan dan program yang ditawarkan capres-cawapres yang ada. 

“Tidak hanya capres-cawapres, seluruh peserta pemilu masih memiliki waktu untuk melakukan hal itu jika ingin menambah dukungan dari swing voter,” pungkasnya.

LSI Denny JA Sebut Elektabilitas PSI Masih Nol Koma, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta – Lembaga survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai, masifnya iklan kampanye Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di media, masih menjadikan elektabilitas partai tersebut di bawah satu persen atau nol koma. Hal ini karena gagasan yang kerap disuarakan PSI untuk merangkul kelompok minor tidak menuai hasil baik.

“Program kerja PSI tidak menuai simpati masyarakat, bahkan memunculkan resistensi, khususnya pada kalangan pemilih muslim,” kata Peneliti LSI Rully Akbar saat jumpa pers di Kantor LSI, Jakarta Timur, Jumat (5/4/2019).

Resistensi dimaksud, seperti isu penghapusan perda syariah dan isu penghapusan poligami. Padahal, mayoritas pemilih Indonesia merupakan muslim dan belum tentu 10 persen kelompok minor memilih PSI.

PSI masuk di isu yang sangat sensitif, mempengaruhi (suara) mayoritas. Padahal tidak semua minoritas merapat ke PSI, (mereka) sudah merapat ke partai lama, seperti salah satunya PDIP,” tutur Rully.

Rully menyimpulkan, PSI sebagai partai baru sebenarnya memiliki sesuatu yang berbeda dengan partai lainnya. Namun belum mampu mengangkat elektabilitas mencapai minimal ambang batas parlemen 4 persen.

“PSI belum bisa meyakinkan publik bahwa PSI bisa menjadi (alat) perubahan. Ini butuh proses, kata Rully.

Pilpres Ukraina: Seorang Pelawak Memimpin Elektabilitas Capres

Kiev – Pilpres Ukraina segera diadakan. Seorang pelawak bernama Volodymyr Zelensky memimpin elektabilitas di survei Pilpres Ukraina. Padahal, pengalaman Zelensky di bidang politik dinilai terbatas.

Dilansir AFP, Minggu (31/3/2019), Zelensky memimpin hasil survei dengan perolehan di atas 25%, cukup jauh mengunggulu rival terdekatnya.

Bila sang komedian ini benar-benar menang Pilpres yang akan digelar 31 Maret waktu setempat, maka dia akan memimpin negara berpenduduk 45 juta orang ini. Ukraina adalah negara yang belakangan dikenal lewat berita perang, kehilangan teritori, dan salah satu negara termiskin di Eropa.

Publik Ukraina kini bertanya-tanya, apakah sang petahana Petro Poroshenko atau mantan Perdana Menteri Yulia Tymoshenko akan menemui Zelensky atau tidak. Pada survei terbaru, elektabilitas Zelensky dan Poroshenko bersaing ketat dengan perolehan sekitar 17%. Pada beberapa survei, Poroshenko mengungguli Tymoshenko.

Zelensky adalah pelawak usia 41 tahun yang dikenal lewat acara komedi politik berjudul ‘Pelayan Rakyat’. Elektabilitas Zelensky melejit di ranah politik saat rakyat Ukraina frustasi dengan problem korupsi dan standar hidup yang stagnan.

Zelensky punya keunggulan di kaum pemilih muda. Para pemuda itu mengakui bahwa Zelensky memang tak punya pengalaman, namun mereka percaya bahwa Zelensky punya kekuatan untuk memimpin Ukraina.

“Saya tidak punya semua pengetahuan tapi saya tengah belajar saat ini,” kata Zelensky sendiri kepada AFP dalam wawancara bulan ini.

“Saya tidak ingin terlihat seperti orang idiot,” ucapnya.

Bahkan pada hari-hari terakhir kampaye, Zelensky melarikan diri dari kerumunan orang serta wawancara. Dia memilih untuk tampil di panggung pertunjukan dengan grup lawaknya.

Pelbagai kritik telah ditujukan ke manifestonya yang tidak jelas, isinya adalah janji-janji kunci yang dibikin atas dasar voting di media sosial. Meski banyak kritikan dialamatkan ke manifesto itu, namun pendukungnya yakin, hanya wajah barulah yang bisa membersihkan Ukraina dari kemuraman politik.

Beberapa pihak menuduh Zelenksy adalah wayang dari orang berpengaruh Ukraina bernama Igor Kolomoysky, orang tersebut adalah pemilik saluran televisi yang menayangkan acara Zelensky. Namun Zelensky sendiri membantah tuduhan itu.

Pesaing sang pelawak

Poroshenko adalah orang yang terpilih sebagai presiden pada 2014,, setelah revolusi yang memaksa Viktor Yanukovych lengser keprabon. Nama terakhir adalah penguasa yang didukung Kremlin.

Namun selama lima tahun pemerintahan Poroshenko, korupsi merajalela. Konflik separatisme juga menelan banyak nyawa, yakni 13 ribu jiwa.

Adapun Tymoshenko adalah sosok yang dikenal lewat gaya rambut yang dianyam namun kini mengubah gayanya ke penampilan yang lebih konvensional, sekadar ikatan rambut gaya ekor kuda saja. Dalam narasi Pilpres, Tymoshenko punya fokus ke biaya hidup.

Tymoshenko punya janji untuk memotong harga gas konsumsi warga sampai setengahnya. Dia juga berjanji meningkatkan pensiun. Ini menarik bagi basis pemilih tua.

Meski kini Zelensky dominan di perhitungan suara, namun analis memperkirakan persaingan masih akan terus berlangsung sengit. Bila tidak ada capres yang mencapai hasil 50 persen suara pada putaran pertama, maka dua capres akan diadakan lagi pada 21 April nanti.
(dnu/dnu)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PDIP: Tiga Kartu Sakti Jokowi Buat Elektabilitas Terus Menanjak

Atas hasil survei yang mengunggulkan Jokowi, PDIP mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam atas kepercayaan rakyat terhadap Mantan Walikota Solo tersebut.

“Kita semua harus tetap santun dan rendah hati. Tingginya elektoral Pak Jokowi KH Ma’ruf Amin dan PDIP menunjukkan bahwa politik membangun peradaban, politik tanpa fitnah dan hujatan, lebih diterima rakyat,” jelas Hasto.

Hasto mencontohkan, tokoh-tokoh kontroversial dari tim Paslon 02 seperti Ratna Sarumpaet, Fadli Zon, Amien Rais, Rocky Gerung, Ahmad Dhani, Andi Arief yang sering kali tampil di depan publik dengan membawa narasi-narasi pesimitis.

“Dalam berbagai kesempatan berdialog dengan para ulama, PDI Perjuangan menangkap pesan moral yang kuat bahwa politik itu putih, politik itu membangun negeri dan menyelesaikan berbagai persoalan,” Hasto menandaskan.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Joko Widodo melakukan kampanye terbuka pertamanya di Banten. Diarak menggunakan delman, Jokowi disambut ribuan pendukugnya.

TKN Andalkan Kepuasan Publik untuk Genjot Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf

Survei Charta Politika Indonesia merilis hasil terbaru elektabilitas antara pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf masih unggul dengan angka 53,6 persen dan Prabowo-Sandi 35,4%.

“Pada pengujian tingkat elektabilitas pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dibanding dengan Prabowo-Sandi,” ujar Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di kantornya, kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/3/2019).

Sementara, kata Yunarto, masih terdapat 11 persen masyarakat yang belum menentukan pilihannya atau tidak menjawab terhadap capres-cawapres yang bertarung.

Dia menuturkan, pada Januari lalu kedua pasangan yaitu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi mendapat kenaikan elektabilitas.

“Kalau dilihat dari hasil sebelumnya, tren elektabilitas kedua capres-cawapres mengalami peningkatan elektabilitas,” terang Yunarto.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Dalam kampanye kali ini, Jokowi juga memuji pasangannya Ma’ruf Amin yang merupakan putra asli Banten.