BCA Targetkan Proses Akuisisi Bank Rampung pada 2019

Liputan6.com, Jakarta – Manajemen PT Bank Central Asia (BCA) akan merampungkan proses akuisisi satu bank kategori bank buku I pada 2019. Hal ini disampaikan oleh Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja.

Dia menjelaskan, pihaknya  meminta persetujuan para pemegang saham terkait rencana akuisisi tersebut pada Rapat umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang akan diselenggarakan pada Juni 2019.

Sebenarnya BCA akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada April 2019. Namun, menilik proses akuisisi masih belum akan rampung pada April, pihaknya akan melakukan RUPS-LB.

“RUPS kita April. Tapi tidak akan selesai April. Mungkin RUPS-LB kita rencanakan sekitar Juni. RUPS selesai, disetujui kita annouce,” kata dia, saat ditemui, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Sabtu (23/2/2019).

Jahja menuturkan, akuisisi tersebut memang perlu mendapatkan persetujuan pemegang saham. Sebab aksi korporasi tentu akan memberi dampak pada perusahaan, salah satunya terhadap harga saham BCA.

“Relatif material. Material itu bukan dari segi value ya. Material itu kalau sampai mempengaruhi saham. Nah kita tidak tahu, waktu kita announce BCA terpengaruh apa tidak. Jadi kita tidak berani ambil risiko. Sebab itu kita harus persetujuan RUPS dulu, baru sesudah itu kita announce ke market,” ujar  dia.

Dia mengatakan, pasca akuisisi bank tersebut tidak akan tetap berdiri sendiri  alias tidak dimerger dengan anak usaha BCA. Sementara untuk lini bisnis yang akan digarap bank bersangkutan, masih sedang dikaji.

“Kita belum tentukan, bisa digital, bisa well management, bisa mikro bisa UKM. Pokoknya kita akan pilih salah satu fokus, saya belum mau komen,” ungkapnya.


Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 2 halaman

BCA Alokasikan Rp 5,2 Triliun buat Investasi Digital pada 2019

Sebelumnya, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyediakan dana sekitar Rp 5,2 triliun untuk investasi digital banking di 2019. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk pengembangan ATM, server serta EDC agar menyamai laju pengembangan fintech di Indonesia.

“Banyak, tapi termasuk ATM, EDC, sekitar Rp 5,2 triliun tahun depan. Enggak kalah sama fintech. Untuk yang sudah ada di manintenance, pengembangan nambah EDC, ATM, server,” ujar Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmaja di JCC Senayan, Jakarta, Selasa 27 November 2018.

Jahja mengatakan, BCA juga akan melakukan transformasi aplikasi yang saat ini belum menggunakan QR (Quick Response) code. Sehingga ke depan, lebih digital dan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan QR code meningkat.

“Kemudian transformasi dari aplikasi kita kan yang lama belum ada QR sekarang ada transformasi supaya lebih digital dan complience. Risiko itu harus diinvstasikan, dijaga supaya tetap compli dan sesuai ketentuan,” kata dia.

Jahja menambahkan, tahun ini pihaknya sebenarnya sudah mencanangkan penggunaan QR code untuk tranfer dana. Di mana pedagang di sosial media dapat melakukan transfer sebesar Rp 100 juta per hari.

“Kita kan habis perkenalkan QR untuk meudahkan orang transfer dan bisa sampai Rp 100 juta per hari. Buat yang jualan IG, FB, itu gampang enggak perlu ketik nomor rekening kan takut salah, dengan QR bisa jalan,” ujar dia.

“Ini perlu disosialisasi saya kira, produk baru enggak boleh dalam waktu dekat bersamaan kita keluarkan. Yang penting educate customer, yang penting kesulitan kita punya melalui halo BCA bisa support bantu beri penjelasan edukasi nasabah,” kata dia.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Cerita Akhir Pekan: Setumpuk Masalah Tempat Pembuangan Akhir Sampah di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) pada 21 Februari, sampah memang masih jadi persoalan sulit dan kompleks yang belum bisa sepenuhnya diatasi di Indonesia. Jumlah sampah diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pelan tapi pasti, sampah menjadi masalah besar bagi negara kita. Sayangnya, belum ada kesadaran mengelola sampah, karena pedoman umum yang ada adalah sampah harus dibuang. Padahal, seharusnya tiap rumah tangga memilah sampahnya sebelum membuang.

Di Indonesia, tiap rumah biasanya memiliki satu tempat sampah di bagian dapur, di mana semua sisa makanan, plastik bekas, kemasan produk rumah tangga, dibuang menjadi satu. Di halaman depan, juga hanya ada satu tempat sampah besar. Di dalam tempat sampah besar itu, sampah dapur akan dijadikan satu dengan sampah dari bagian rumah yang lain.

Seperti dilansir VOA Indonesia, memilah sampah memang belum menjadi budaya. Ini tidak terlepas dari kebiasaan di masa lalu, di mana setiap rumah khususnya di pedesaan, memiliki satu lubang besar di sudut halaman mereka.

Di lubang itulah sampah dibuang, kadang kemudian dibakar atau ditimbun. Namun sebagian besar sampah di Indonesia, berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Saat ini model penanganan sampah semacam itu tak bisa lagi dilakukan.

Pemerintah sampai ke tingkat paling rendah, sudah mulai memiliki kesadaran baru bahwa sampah harus dipilah dan kemudian diolah. Tapi jumlahnya masih sedikit.

Menurut data dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah pada 2016, naik 1 juta ton dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah 65 juta ton, sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Lalu, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di Indonesia ada lebih dari 400 TPA tapi baru 10 persen yang beroperasi secara maksimal. Itu karena ada sejumlah masalah dalam hal pengelolaan.

Mungkin belum banyak yang tahu kenapa tiap 21 Februari dijadikan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Alasannya karena untuk mengenang tragedi longsornya gunungan sampah di TPA sampah Leuwigajah, Kabupaten Banding dan Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005.

2 dari 3 halaman

Hari Peduli Sampah Nasional

Dilansir dari Solopos dan berbagai sumber, kawasan TPA yang berbukit-bukit itu diguyur hujan selama dua hari berturut-turut. Gunungan sampah setinggi 50 meter-70 meter itu longsor dan menimpun lebih dari 100 rumah di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi.

Ada 157 warga tewas akibat longsornya tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah. Bahkan kabarnya, dua kampung terhapus dari peta akibat tergulung gunung sampah yang longsor. Hingga kini, belum jelas terdakwanya siapa.

Longsor TPA Leuwigajah mengingatkan kita, betapa sebetulnya TPA-TPA yang ada di Indonesia juga merupakan bom waktu, bisa ‘meledak’ sewaktu-waktu.

Peristiwa tragis itu diyakini bisa terjadi karena TPA di Indonesia belum standar dengan sanitary landfill atau sistem pengelolaan sampah dengan cara membuang sampah di lokasi cekung, memadatkan dan kemudian menimbunnya dengan tanah.

Yang terjadi di Indonesia, kebanyakan masih berupa siste open dumping atau dibuang begitu saja di TPA sehingga sampahnya menggunung dan rawan longsor. Lalu bagaimana jalan keluarnya?  Pemerintah sudah berusaha menyelesaikan masalah sampah tersebut dengan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.

Target sampah yang terkurangi adalah sebesar 20 persen pada 2019 dan target sampah yang tertangani sebesar 75 persen pada 2019. Sementara dalam Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, target sampah yang terkurangi adalah sebesar 30 persen dan tertangani sebesar 70 persen pada 2025.

3 dari 3 halaman

Buang Sampah pada Tempatnya

Lalu ada UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah yaitu mengubah paradigma pengelolaan sampah dari kumpul-angkut-buang menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources recycle).

Selain itu, semua TPA diharapkan bakal lebih berwawasan lingkungan agar tragedi 2005 tak terulang lagi. Belakangan ini, tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah cenderung meningkat.

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, dalam empat tahun terakhir jumlah Bank Sampah meningkat signifikan dari 1.172 unit menjadi 7.488 unit.

Pada rangkaian HPSN 2019 ini, KLHK juga mengadakan berbagai rangkaian kegiatan seperti Clean Up yang akan serentak diselenggarakan pada 24 Februari 2019 di pantai dan sungai di delapan kota yaitu Kendal, Tegal, Brebes, Pemalang, Batang, Rembang, Jepara dan Kebumen.

Rangkaian kegiatan lainnya adalah Temu Karya Bank Sampah, FGD dengan Para Champion di Pemerintah Daerah, Komunitas dan Private Sector, Lomba Video/VLOG Citizen Journalism serta Edukasi melalui Animasi Web Series dan Comic Strips. Dan jangan lupa satu cara paling mudah untuk ikut berperan dalam menangani masalah sampah di negara kita, dengan membuang sampah pada tempatnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

6 Destinasi Wisata Sawah yang Wajib Dikunjungi

Liputan6.com, Jakarta Indonesia memang negara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa, termasuk sawah. Bukan hal biasa jika Tanah Air menjadi tempat destinasi untuk berwisata dengan nuansa alam.

Bagi Anda yang suka traveling, wajib untuk mencoba menikmati liburan bertema sawah dapat dijadikan referensi Anda untuk berlibur. Destinasi bertema sawah ini sedang ramai-ramainya dibicarakan di media sosial. Liputan6.com merangkum keenam destinasi di bawah ini.

1. Agrowisata Paloh Naga

Hanya dengan Rp 5.000 rupiah Anda sudah bisa menikmati wisata bertema sawah ini, ditambah lagi jembatan bambu yang memanjang di area sawah dapat dijadikan momen untuk berfoto.

Ada tiga spot yang ditawarkan yaitu rumah produksi, sanggar seni dan pendidikan karakter, serta spot area tracking. Destinasi bertema sawah Paloh Naga berada di Desa Denai Lama, Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara.

2. Desa Wisata Pujon Kidul

Destinasi bertema sawah ini berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Selain dimanjakan dengan indahnya pemandangan sawah, Anda dapat menikmati makanan dan minuman di kafe yang terletak di area sawah.

Banyak hal menarik yang bisa Anda lakukan disana seperti camping, outbond, memetik sayur, dan mempelajari cara pembuatan biogas. Tak kalah seru yaitu banyak spot yang dapat dijadikan untuk tempat befoto di alam terbuka.

3. Tegalalang Bali

Sudah menjadi banyak buah bibir orang, terasering sawah Tegalalang ini tidak diragukan lagi keindahannya. Berada di Dusun Ceking, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Tempat wisata ini cocok dijadikan tempat wisata jika Anda ingin merasakan suasana khas pedesaan di Pulau Dewata.

Anda juga dapat menikmati jamuan makan di kafe dan resort yang disediakan di area sawah. Disana juga disediakan tempat penginapan nyaman untuk menikmati hamparan hijau sawah.

2 dari 2 halaman

4. Desa Wisata Kubu Gadang

Tempat wisata satu ini menawarkan paduan elok alam berupa hamparan sawah. Banyak spot menarik yang dapat dijadikan tempat untuk berfoto.

Tak hanya panorama alam, tempat wisata ini juga menyiapkan paket menarik bagi Anda yang ingin menginap disana. Paket tersebut dibagi dalam tiga kategori yaitu kuliner, atraksi, dan edukasi. Pada paket atraksi Anda dapat menyaksikan gerakan silat tradisonal yang dimainkan di sawah yang berlumpur.

5. Desa Wisata Kemetul Semarang

Terkenal nama populer Situs Bintang Jatuh karena desain jembatannya yang instagramable berbentuk seperti bintang. Wisata ini berada di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

Hanya dengan Rp 5 ribu rupiah sudah dapat menikmati panorama alam yang indah, Anda juga bisa mengajak anak ke tempat bermain yang tersedia.

Banyak pilihan paket  yang dapat Anda coba disana seperti paket edukasi, rumah industri, tempat belanja, paket makan, paket mainan tradisional, serta tempat penginapan.

6. Wisata Sawah Sukorame

Tempat wisata yang disebut juga dengan Jelajah Sawah Pertanian Bowongan (JSPB) ini memberikan pemandangan hamparan sawah yang tidak kalah menarik. Di tengah-tengahnya dibuat jembatan dari bambu untuk para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan sawah tanpa perlu takut terkena lumpur sawah.

Untuk masuk ke wisata ini tidak dipungut biaya atau gratis untuk berlibur ke destinasi ini, hanya dengan membayar parkir motor Rp 3.000 dan Rp 2.000 untuk mobil. (Adinda Kurnia Islami)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Waku-Peduli, Aksi Kepedulian Wakuliner Kurangi Angka Kelaparan

Liputan6.com, Jakarta – Salah satu masalah terbesar yang terjadi di Indonesia adalah masih banyak jumlah anak-anak yang terlantar dan kelaparan. Selain itu, pemenuhan kebutuhan gizi mereka pun bisa dibilang mengkhawatirkan. Itulah yang disorot oleh Wakuliner, perusahaan marketplace di Indonesia yang bergerak di bidang kuliner.

Wakuliner yang baru berdiri sejak Agustus 2017 memiliki misinya di bidang filantropis. “Wakuliner sangat memperhatikan isu kelaparan dan gizi anak di Indonesia,” ujar Anthony Gunawan, CEO Wakuliner pada Liputan6.com di acara perdana Waku-Peduli, Sabtu 16 Februari 2019 di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Putra Utama 3, Tebet, Jakarta Selatan.

Acara tersebut turut menghadirkan Tung Desem Waringin selaku presiden komisaris Wakuliner. Tung ikut berbagi keceriaan bersama anak-anak melalui acara edukasi dan beberapa games di dalamnya.

Waku-Peduli merupakan aksi kampanye besutan Wakuliner untuk membantu anak-anak dan keluarga yang hidup dalam kemiskinan. Kegiatan ini pun menjadi bentuk tanggung jawab Wakuliner terhadap masyarakat dan lingkungan. Kampanye yang bertajuk ‘Tidak ada lagi anak kelaparan, yuk Wakuliner-an’ ini memiliki sasaran yaitu anak-anak terlantar yang kelaparan berlokasi di wilayah Jakarta.

“Waku-Peduli ini dijalankan dengan dua program,” kata Hana Muthia, Project Manager Waku-Peduli. Kedua program tersebut mengajak konsumen Wakuliner untuk turut serta dalam kegiatan kampanye ini.

“Wakuliner akan mendonasikan Rp 500,- dari setiap pelanggan yang memesan makanan melalui fitur Kuliner Nusantara dan Katering di aplikasi Wakuliner,” jelas Hana. Bila banyak pelanggan yang memesan lewat aplikasi ini, akan semakin besar uang yang terkumpul untuk didonasikan kepada setiap anak yatim piatu dan kaum dhuafa.

Ada juga program kedua yang digagas oleh Indra, Kepala Pemasaran Wakuliner yang turut dalam kegiatan Waku-Peduli ini. “Program kedua adalah memberikan makanan gratis,” sambung Indra. Satu keluarga dari kaum dhuafa akan diberi makanan gratis setiap harinya, dari satu perusahaan yang berlangganan katering harian di Wakuliner.

Acara kampanye Waku-Peduli memang baru digelar, tapi aksinya sudah dilaksanakan sejak Januari 2019. Waku-Peduli telah membantu tiga keluarga dari kaum dhuafa dan satu yayasan, yaitu Panti Asuhan Putra Nusa yang terletak di Jakarta Pusat. Mereka berharap bisa membangun kesadaran bersama bahwa kelaparan dan perbaikan gizi pada anak merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.

Hana pun memiliki harapan atas berjalannya program ini ke depannya. “Harapan saya, semoga program ini bisa membantu pemerintah Indonesia dalam mengurangi angka kelaparan dan gizi, khususnya anak-anak Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, Hana ingin mengajarkan kuliner yang sehat melalui program katering sehat ini. “Program pemberian katering sehat ini akan membantu mengurangi angka gizi buruk di Indonesia,” tutupnya.  (Esther Novita Inochi)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Jelang Debat Soal Pangan: Prabowo ‘Gerakan Emas’, Jokowi ‘Manusia Unggul’

Jakarta – Salah satu tema yang akan diangkat di Debat Capres kedua Pilpres 2019 adalah soal pangan. Lantas seperti apa program andalan yang dimiliki kedua capres ini?

Sejak Pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto memiliki program pemberian susu kepada anak-anak yang diberi nama ‘Revolusi Putih’. Di Pilpres 2019 ini, program tersebut berganti nama menjadi ‘Generasi Emas’ yang fokusnya melebar tidak hanya pemberian susu kepada anak.

“Gerakan Emas itu gerakan emak-emak dan anak minum susu. Jadi orientasinya pada penyediaan protein buat anak dan ibu miskin ya, karena ada tantangan serius buat masa depan Indonesia yaitu stunting growth itu,” ungkap Koordinator Juru Bicara Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzhar Simanjuntak, (17/10/2018).

Orientasi dari Gerakan Emas bukan hanya sekedar meminum susu, tapi kecukupan protein bagi anak. Program ini nantinya akan melibatkan masyarakat sehingga menjadi gerakan bersama. Gerakan Emas juga ditujukan terhadap sang ibu dan adanya keterlibatan masyarakat dalam penyediaan protein tersebut.
“Beliau ingin menjadi gerakan baik pada saat beliau menjadi presiden atau sebelum beliau menjadi presiden, beliau ingin dorong semua komponen masyarakat, untuk terlibat dalam menyiapkan kecukupan protein bagi keluarga-keluarga yang tidak,” tutur Dahnil.

Dari program ini, diharapkan muncul hubungan keluarga angkat. Bagi mereka yang mampu, akan bisa membantu masyarakat dari kalangan yang kesulitan. Gerakan Emas juga akan diperluas menjadi sebuah kebijakan utama dalam pemerintahan Prabowo-Sandi jika terpilih pada Pilpres 2019 mendatang.

“Kalau dulu koperasi itu ada bapak angkat, nah sekarang bahkan nanti ada keluarga, relawan-relawan yang berasal dari orang-orang mampu, mampu secara intelektual, mampu secara keuangan itu juga bisa menjadi saudara yang memberikan edukasi. Jadi basis kita gerakan ini kan sudah dimulai oleh Pak Prabowo melalui partainya tapi akan diperluas menjadi suatu gerakan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat,” kata Dahnil.

“Menjadi salah satu kebijakan utama untuk mengatasi stunting growth, dan masalah sosial yang lainnya. Jadi tahapannya gitu. Awalnya revolusi putih berhenti pada susu, kemudian menjadi gerakan gotong royong, saling bersaudara, kemudian ketika Pak Prabowo jadi presiden akan jadi kebijakan,” sambung Ketum PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Program Prabowo-Sandiaga ini mendapat kritik dari kubu Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Alasannya, penyediaan susu memerlukan impor dan belum tentu cocok bagi semua orang mengingat demografi warga Indonesia yang cukup beragam.

Terkait isu stunting, Jokowi disebut lebih mengutamakan local wisdom. Tak hanya susu, masyarakat akan diajak untuk mengkonsumsi makanan penuh protein yang sesuai dengan masing-masing daerah.

“Kalau kita mengedepankan local wisdom. Mereka yang tinggalnya dekat laut kita dorong untuk makan ikan, ada yang mungkin kacang-kacangan, potensi alam kita begitu besar. Kalau susu, selain mahal belum tentu cocok bagi semua orang,” kata Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin.

Jokowi-Ma’ruf menyorongkan program ‘Manusia Indonesia Unggul’. Dalam proses pembentukan generasi emas nanti, TKN Jokowi-Ma’ruf Amin menilai tidak cukup hanya sekedar fokus pada asupan.

“Di tim Jokowi-Ma’ruf ini bahwa gerakan membangun manusia Indonesia yang unggul, unggul itu harus komprehensif. Tidak boleh hanya satu bagian saja mulai dari kita harus memperhatikan dan fokus bagaimana mengurangi stunting, gagal tumbuh, ini salah satu yang kita lakukan,” sebut Karding.

“Penting untuk mempercepat memberikan jaminan gizi sejak dalam kandungan. Pola asuh keluarga harus kita perbaiki, memperbaiki fasilitas air bersih, sanitasi, dan lingkungan yang mendukung tumbuh-kembang anak. Di samping itu, reformasi kesehatan kita perlu diperbaiki,” sambung politikus PKB itu.

Program Manusia Unggul ini tak hanya berfokus pada masalah asupan semata. Jokowi-Ma’ruf juga mementingkan program promotif dan preventif agar masyarakat di Indonesia mau hidup dalam lingkungan yang sehat. Fasilitas yang memadai dinilai menjadi salah satu unsur untuk membentuk manusia unggul.

“Percepatan pemerataan infrastruktur dasar, apa sanitasi, kemudian rumah tangga yang sehat, memiliki jamban, warga miskin juga harus dijamin. Aksesnya ke seluruh pelosok urusan kesehatan, seperti KIS. Pemerataan fasilitas dan pemerataan pelayanan kesehatan baik di daerah tertinggal terdepan, dan terluar. Kalau kita kasih makan, asupan saja, tapi sistem kesehatan nggak dipikirkan, ya nggak bisa,” tutur Karding.

Debat Pilpres 2019 kedua akan diselenggarakan pada hari Minggu, 17 Februari 2019. Debat ini mengusung tema lingkungan hidup, infrastruktur, energi, pangan, dan sumber daya alam. Hanya capres yang akan mengikuti debat kedua tersebut.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sejak Pagi Melekat di Museum, Mengenal Seluk-Beluk Cokelat Sejati

Liputan6.com, Yogyakarta – Cokelat nyaris menjadi makanan favorit setiap orang. Rasa manis dan citra cokelat yang identik dengan kebahagiaan, cinta, dan kesenangan juga menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya, sebagai negara penghasil cokelat terbesar ketiga di dunia, belum banyak orang Indonesia yang memahami seluk beluk cokelat secara detail. Kebanyakan orang hanya suka mengonsumsi cokelat tanpa mengetahui seperti apa cokelat yang sesungguhnya.

“Kebanyakan yang dijual di swalayan atau pasar itu cokelat compound dan itu berbeda dengan cokelat sebenarnya yang berasal dari massa kakao,” ujar Tri Widiantoro, koordinator Museum And Factory Chocolate Monggo Bantul, beberapa waktu lalu.

Museum cokelat yang berdiri sejak Januari 2017 ini memberi edukasi kepada masyarakat mengenai cokelat yang sesungguhnya. Lantas, dari mana cokelat sejati itu muncul?

Museum ini tidak hanya menjelaskan sejarah dan latar belakang cokelat, melainkan juga jenis cokelat dan cara pembuatan serta pengolahan yang tepat.

Cokelat yang paling sehat adalah yang mengandung massa kakao paling tinggi, seperti cokelat hitam. Cokelat susu dan putih memiliki nutrisi lebih rendah, sedangkan cokelat compound sama sekali tidak sehat.

Ia menuturkan sebagian besar orang Indonesia tidak tahu jenis kakao. Persepsi yang salah soal cokelat semakin kuat ketika mereka berpikir cokelat rasanya manis dan cokelat diberi nama cokelat karena warnanya yang coklat.

Menurut Tri, petani kakao di Indonesia memilih untuk mengganti pohon kakao dengan tanaman lain karena sering dianggap tidak menguntungkan. Cokelat yang dihasilkan dari biji kakao kurang berkualitas.

“Padahal itu karena pengolahan biji kakao menjadi cokelat yang tidak tepat,” ucapnya.

2 dari 3 halaman

Salah Persepsi Mengolah Cokelat

Tri bercerita, kebanyakan orang menikmati kakao hanya buahnya saja. Buah dimakan dan bijinya dibuang, padahal biji kakao itulah asal muasal cokelat.

“Kalau pun ada yang mengolah, biasanya hanya dicuci saja bijinya dan berujung pada menghasilkan cokelat berkualitas rendah, karena hanya menjadi bubuk kakao,” tutur Tri.

Ia mengungkapkan, mengolah biji kakao harus melewati proses fermentasi. Caranya, memasukkan biji ke dalam kotak kayu yang bagian pinggirnya berlubang. Setelah itu, biji ditutup dengan daun pisang dan didiamkan selama tujuh hari.

Jika proses fermentasi selesai, maka barulah biji kakao dicuci, dibersihkan dari selaput, dan dikeringkan.

“Fungsi fermentasi, mengurangi rasa pahit, meningkatkan rasa cokelat, dan membersihkan selaput putih di biji kakao,” ucap Tri.

Setelah biji kakao kering, proses selanjutnya adalah roasting. Cangkang biji dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Isi cangkang disebut nibs yang biasa digunakan untuk cokelat.

Satu biji nibs mengandung 54 persen cocoa butter. Nibs digiling menjadi kakao liquor yang berbentuk cair. Di sinilah letak perbedaan cokelat dengan kopi. Cokelat dapat meleleh karena mengandung minyak (cocoa butter).

Setelah digiling, nibs yang masih cair disimpan di dalam kotak sampai menggumpal dan menjadi kakao massa.

Kakao massa digiling kembali menggunakan stone grinder. Alat dari batu dipilih karena tidak akan mempengaruhi rasa cokelat. Kakao massa yang sudah digiling, dipress kembali menjadi kakao butter.

“Komposisi kakao butter ditambah kakao massa ditambah gula menjadi cokelat yang siap dikonsumsi,” kata Tri.

Ia mengungkapkan cokelat compound bukan cokelat yang sesungguhnya karena menggunakan bahan ampas dari cokelat butter ditambah gula dan minyak kepala sawit. Persentase komposisi tertingginya pun berupa gula.

3 dari 3 halaman

Belajar Mencetak dan Mencicipi Cokelat

Museum And Factory Chocolate Monggo didirikan oleh seorang Belgia bernama Thierry Detournay. Sejak 2005, ia berjualan cokelat yang diberi merek Monggo.

Di atas lahan seluas tiga hektare di Sribitan, Bangunjiwo, Bantul ini museum, pabrik, show room, dan kafe cokelat Monggo berdiri. Untuk mencapai lokasi ini tidak sulit, cukup masuk dari Desa Wisata Kasongan menuju ke barat dan memakan waktu sekitar 10 menit.

Untuk masuk ke museum ini sebenarnya gratis. Pengunjung membayar tiket Rp 10.000 dan mendapatkan voucher belanja di show room dengan nominal yang sama.

Tidak hanya berkunjung ke museum ditemani pemandu, pengunjung juga bisa memilih paket aktivitas. Ada dua paket aktivitas yang ditawarkan, yakni creating experiece dan tasting experience.

Creating experience adalah praktik mencetak cokelat. Paket ini dibanderol harga Rp 200.000 untuk 20 keping cokelat dan maksimal diikuti 10 orang. Apabila lebih dari 10 orang, maka setiap orang dikenakan biaya tambahan Rp 20.000.

Untuk paket tasting experience, per orang harus membayar Rp 50.000. Mereka bisa mencicipi beragam jenis cokelat dari awal sampai proses akhir.

Museum ini buka setiap hari kerja mulai pukul 09.00 sampai 17.00 WIB dan akhir pekan mulai pukul 09.00 sampai 19.00 WIB.

Saksikan video pilihan berikut ini:

HEADLINE: Format Beda, Akankah Debat Menguak Orisinalitas Jokowi Vs Prabowo?

Liputan6.com, Jakarta – Debat kedua Pilpres 2019 menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Debat yang akan menghadirkan sosok dua calon presiden, Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto.

Harapan besar terselip pada tahapan pemilu ini. Pemilik hak suara, tentunya ingin diyakinkan dengan jawaban para calon. Bukan hanya dengan debat kusir tekstual seperti yang dikatakan publik tentang debat pertama 17 Januari 2019.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengatakan, debat pertama lalu berlangsung kaku. Masyarakat tak mampu menangkap esensi dari visi misi yang disampaikan. Justru hal remeh-temeh yang dipergunjingkan.

“Sebab, jawaban capres pada debat pertama tak mencerahkan. Kita berharap sesuatu yang menarik dan memukau, lebih ke esensi programnya dan pencerahan pada debat kali ini. Esensi dari debat itu kan transfer knowledge, pencerahan, edukasi untuk yang menonton,” kata Siti saat berbincang dengan Liputan6.com, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Komisi Pemilihan Umum (KPU) berusaha mengakomodasi harapan tersebut dengan merombak sejumlah aturan dalam debat capres pertama yang digelar Minggu 17 Februari 2019 di Golden Ballroom, Hotel Sultan, Jakarta. Seperti, tak akan memberikan kisi-kisi dan berjanji memperbanyak interaksi antarkandidat.

Kedua kubu sendiri optimistis akan memberikan yang terbaik pada debat kali ini. Baik Jokowi maupun Prabowo, mantap dengan persiapan dan kemampuan masing-masing calon untuk menjawab pertanyaan panelis dan beradu argumen.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menyebut, pangan, energi, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup merupakan tema yang paling ditunggu-tunggu calon petahana. Sebab, tema tersebut merupakan prioritas pemerintahan Jokowi bersama Jusuf Kalla.

“Terkait dengan debat, kami sudah menyiapkan dengan baik. Ada tim yang secara khusus menyiapkan bagaimana on stage-nya nanti Bapak Jokowi terkait dengan tema energi, SDA, lingkungan, pangan, infrastruktur. Itu merupakan hal yang selama ini menjadi skala prioritas bagi pemerintahan Pak Jokowi dan berkesinambungan ke depan dengan dukungan rakyat,” kata Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto, dalam konferensi pers di Jalan Cemara, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

Buktinya, lanjut dia, banyak kepala daerah yang memberikan dukungan kepada Jokowi pada Pilpres 2019. Dia yakin, kepala daerah tersebut merasa aspirasinya ditindaklanjuti oleh pemerintahan Jokowi-JK. 

Dia bahkan menjamin, Jokowi bakal memberi gagasan yang orisinal dalam debat nanti. “Seperti yang kami janjikan, di debat kedua ini akan menampilkan gagasan yang lebih visioner. Tetapi berdasarkan pada prestasi dan kinerja Pak Jokowi sendiri,” ujar Hasto.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf Amin, Johnny G Plate mengatakan capres nomor urut 01 akan menekankan peta jalan atau roadmap ketahanan energi, juga soal kebijakannya. Begitupula pada permasalahan ketahanan pangan. Jokowi-Ma’ruf Amin pun akan melanjutkan pembangunan infrastruktur dengan meningkatkan nilai tambah dari hasil kebijakan itu.

Keempat, kata dia, Jokowi-Ma’ruf Amin akan mengungkap soal pembangunan yang ramah lingkungan hidup.

“Kami saat ini juga sedang menanti, katanya, akan ada pidato kebangsaan dari Prabowo. Dan berharap mudah-mudahan pidato kebangsaan ini memberi referensi dalam rangka menambah khasanah, dan informasi program, visi dan misi untuk Indonesia maju dan Indonesia yang lebih hebat. Tapi tidak ditandai dengan isu-isu paradoks serta tidak ditandai juga dengan memberikan gambaran Indonesia sebagai bangsa inferior. Indonesia adalah bangsa besar, penuh optimisme, bangsa yang setara dan sejajar dengan bangsa lainnya.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso menyebut, konsep-konsep yang ditawarkan Prabowo dalam debat kedua pilpres diyakini akan membuka mata publik. Prabowo akan memberikan kejutan besar pada debat.

“Nanti akan ada kejutan dari beliau kuasai bidang masalah pangan, energi, energi terbarukan, konsentrasi beliau yang akan bangun swasembada pangan, swasembada energi, swasembada air. Itu kata-kata kuncinya dan ada di pikiran beliau,” ucap Priyo di Kantor KPU Pusat, Kamis 14 Februari 2019.

Juru Bicara BPN Prabowo-Sandi, Ferry Juliantoro mengatakan, kesiapan Prabowo bisa dilihat dari pidato kebangsaan yang digelorakannya di Semarang kemarin. Pada bidang infrastruktur, sambung dia, Prabowo berjanji melakukan pembangunan yang berkaitan langsung dengan produksi masyarakat. Prabowo-Sandi juga akan mengurangi semaksimal mungkin impor.

“Jadi genjot pangan yang bisa diproduksi dalam negeri, energi juga harus dirintis kilang-kilang minyak yang baru, kilang dari dulu sampai sekarang tidak diperbaharui,” kata Ferry kepada Liputan6.com, Jumat 15 Februari 2019.

Tim BPN Bidang Materi Debat Ledia Hanifa menuturkan, Prabowo tinggal melakukan finalisasi persiapan debat capres.

“Beliau kan sudah punya konsep sendiri soal itu tema terkait debat, kita bisa baca di bukunya Paradoks Indonesia itu. Kita tinggal menambahkan update datanya saat ini saja, bahan-bahan juga sudah disiapkan BPN. Tapi pondasi basic-nya buku itu, dan beliau juga sudah paham tentang isu dari tema debat,” ucap Ketua DPP PKS itu kepada Liputan6.com.

Lalu, bagaimana cara menakar orisinalitas kedua calon?

Pengamat politik dari LIPI, Indria Samego mengatakan, orisinalitas ini sangat penting. Dia menilai, konten atau substansi dari gagasan memang ukuran utama dari orisinalitas kedua calon presiden.

Masyarakat bisa menilai orisinalitas seseorang dari idenya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Idenya belum banyak dibahas atau tidak. Mungkin bahkan, idenya belum pernah dicetuskan oleh seseorang.

“Saya kira kalau menilai orisinalitas, dari konten, substansi. Misalnya, bagaimana Prabowo kalau terpilih jadi Presiden menyelesaikan persoalan pengangguran lapangan kerja, pendidikan, sumber daya yang berkualitas misalnya atau energi gitu, yang belum atau tidak banyak dibahas. Kalau mengulang sesuatu yang ada di dokumen-dokumen ya tidak orisinal. Memang, dia bisa jawab. Tapi itu, kayak cerdas cermat,” kata Indria kepada Liputan6.com.


Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Diprediksi Lebih Menarik

Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial The Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes memprediksi, debat capres ini bakal lebih menarik daripada debat capres cawapres 17 Januari 2019. Calon petahana, kata dia, tak akan menyerang lawannya. Tapi tidak juga bertahan.

“Petahana akan menyampaikan beberapa hal yang dianggap penting gitu ya, seperti infrastruktur, pangan segala macam untuk meyakinkan pemilih,” kata Arya ketika dihubungi Liputan6.com.

Sementara, kubu pesaing diduga akan berbalik menyerang karena ada beberapa isu yang menjadi titik celah bagi pesaing. Misalnya, soal impor, kemudian juga swasembada pangan.

“Kemungkinan yang akan lebih menyerang dari pesaing kalau kita lihat dari temanya. Misalnya soal yang swasembada pangan itu menjadi pintu masuk begitu juga dengan impor beras dan juga soal infrastruktur. Tapi soal tiga hal itu, petahana sudah menyiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi pertanyaan yang bertendensi serangan,” ujar Arya.

Menurut dia, debat kali ini bukan soal menang atau kalah. Pada debat kedua, lanjut dia, kedua calon dituntut benar-benar mampu memberikan kesan kepada pemilih, mereka mampu menyelesaikan tantangan di bidang yang ditemakan.

“Saya tidak tahu siapa yang akan diuntungkan ya. Tetapi ini adalah panggung yang harus dimanfaatkan oleh kedua kandidat untuk benar-benar memastikan bahwa mereka lebih baik dari pesaingnya. Dan panggung juga untuk meyakinkan pemilih untuk benar-benar tidak beralih dan bagi yang belum memilih, mereka akan menjatuhkan,” tutur Arya.

Terlebih, KPU memberikan waktu yang relatif fleksibel kepada Jokowi dan Prabowo untuk saling bertanya dan menanggapi. “Itu harus dimanfaatkan oleh kedua kandidat untuk menguji keorisinalitasan,” sambung dia.

Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang juga sebagai panelis debat kedua pilpres, Joni Hermana mengatakan, pihaknya akan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang berbeda format dengan debat pertama pilpres untuk memunculkan orisinalitas kedua kandidat.

“Kita berusaha untuk memberi pertanyaan-pertanyaan yang lebih tidak normatif. Jadi, dalam hal ini kita juga menginginkan agar tidak ada jawaban yang sama dari keduanya, yang normatif,” kata Joni, di Jakarta, Jumat 8 Februari 2019.

Selain itu, model pertanyaan yang dibuat berbeda ini bertujuan agar masyarakat lebih mengetahui konsep yang dimiliki dari masing-masing paslon.

“Sehingga memberi gambaran kepada audiens dan masyarakat sejauh mana kemampuan dan konsep yang ingin mereka kembangkan secara baik. Jadi intinya sebetulnya seperti itu,” ujar Joni.

3 dari 3 halaman

Pentingnya Debat

Debat merupakan salah satu sarana penting bagi peserta Pilpres 2019 untuk memantapkan atau bahkan merebut hati pemilih. Ini terbukti pada debat perdana lalu yang dinilai cukup berpengaruh pada perubahan karakteristik calon pemilih masing-masing paslon capres-cawapres.

Terdapat perubahan angka solid voters atau pemilih mantap dan swing voters atau pemilih yang masih mungkin berubah pada pasangan Jokowi-Ma’ruf maupun Prabowo-Sandi.

Berdasarkan hasil survei terbaru Populi Center, jumlah solid voters pasangan nomor urut 1 Joko Widodo-Ma’ruf Amin meningkat dari sebelum debat sebesar 88,9 persen menjadi 90,8 persen usai debat.

Sementara solid voters pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meningkat dari 82,6 persen menjadi 85,5 persen.

Sedangkan swing voters Jokowi-Ma’ruf menurun dari angka 8,6 persen sebelum debat menjadi 6,2 persen usai debat. Penurunan juga terjadi pada swing voters untuk pasangan Prabowo-Sandi dari angka 13,3 persen menjadi 11,3 persen.

“Paslon Jokowi-Ma’ruf harus berhati-hati karena kenaikan solid voters lebih banyak terjadi pada paslon Prabowo-Sandi. Temuan ini sifatnya indikatif mengingat jumlah responden yang terbatas,” ujar peneliti Populi Center Dimas Ramadhan di kantornya, Slipi, Jakarta Barat, Kamis 7 Februari 2019.

Lebih lanjut, jumlah masyarakat yang mengetahui dan menyaksikan langsung debat perdana capres-cawapres pada 17 Januari lalu cukup banyak ketimbang yang tidak mengetahui. Namun ketertarikan mereka untuk memperbincangkan debat relatif kecil yakni 35,6 persen berbanding 64,4 persen.

Penilaian masyarakat terhadap manfaat debat capres pun beragam. Dari total 1.486 responden di seluruh Indonesia, 33,9 persen menilai manfaat debat untuk mengetahui visi, misi, dan program kerja kandidat. Sementara 10,8 persen menilai debat dapat membantu memberikan pertimbangan menentukan pilihan. Sementara 6 persen menganggap debat untuk mengetahui latar belakang kandidat.

“Sebanyak 3,7 persen menilai debat tidak atau kurang ada manfaatnya, 3,2 persen menilai debat untuk mengklarifikasi isu yang beredar, dan 42,5 persen sisanya tidak menjawab,” ucap Dimas.

Dari pemaparan visi, misi, dan program kerja kandidat pada debat perdana, yang dianggap paling realistis oleh masyarakat adalah yang disampaikan Jokowi-Ma’ruf yakni sebesar 55,7 persen. Sementara yang menilai visi, misi, dan program kerja Prabowo-Sandi paling realistis hanya sebesar 29,8 persen. Lainnya, 14,5 persen, tidak menjawab.

Sebanyak 53,1 persen responden juga menilai bahwa paslon nomor urut 1 unggul pada debat perdana capres-cawapres tersebut. Sedangkan 31,1 persen menilai paslon nomor urut 2 yang unggul. 15,8 persen sisanya tidak menjawab.

“Kemudian pilihan pascadebat, dengan pertanyaan setelah menyaksikan debat pertama, siapa pasangan yang akan anda pilih untuk menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024? 62,5 persen menjawab Jokowi-Ma’ruf, 36,4 persen menjawab Prabowo-Sandi, dan 1,1 persen tidak akan memilih,” kata Dimas.

Untuk diketahui, survei tersebut dilakukan dengan metodologi wawancara tatap muka pada 20-27 Januari 2019 di 34 provinsi seluruh Indonesia. Besaran sampel adalah 1.486 responden, dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling).

Hasil survei memiliki margin of error sebesar 2,53 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Untuk menjamin distribusi sampel yang memadai, setiap kelurahan terpilih dialokasikan 10 responden dari dua RT.

Proporsi gender ditentukan 50:50. Besaran sampel tiap wilayah dialokasikan sesuai dengan proporsi daftar pemilih tetap (DPT) dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Cerita Theti Numan Agau, Perempuan Penjaga Gambut dari Kalteng

Liputan6.com, Jakarta – Dari sekian banyak, peran serta perempuan di berbagai aspek kehidupan juga hadir dalam usaha melawan perubahan iklim. Satu di antaranya adalah Theti Numan Agau, perempuan Dayak yang tinggal di Desa Mantangi Hilir, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalteng.

Provinsi ini jadi salah satu wilayah yang mengalami bencana kebakaran hutan dan lahan yang parah sejak 2015 lalu. Beragam dampak timbul dari kondisi ini, mulai dari sulit bernapas, hingga terbatasnya gerak aktivitas sehari-hari.

Pembakaran lahan gambut tak jarang dilakukan petani dengan tujuan menyuburkan tanah. Melihat hal tersebut, Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai melakukan pendekatan ke beberapa tokoh petani dan beberapa dari mereka mulai sadar akan bahaya dari pembakaran lahan.

Kelompok petani turut dibentuk untuk mewadahi berbagai kegiatan. Edukasi juga dilakukan untuk pertanian yang ramah lingkungan dan Theti adalah salah satu petani yang ada dalam program inisiasi BRG. Sebelum bergabung, ia mengelola lahan kecil tempat menanam padi dengan memanen hingga 30 karung beras. Hasil tersebut diakui hanya cukup untuk makan saja selama setahun.

“BRG membuat Pelatihan Sekolah Lapang selama 10 hari. Di sana kami diajarkan metode pertanian ramah lingkungan untuk menyuburkan lahan. Kami tidak lagi membakar lahan dan diajarkan untuk membuat pupuk alami,” ungkap Theti melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.combaru-baru ini.

Lewat Sekolah Lapang yang dibangun Mini Demplot Pengolahan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) yang dikelola para kader. Mereka membentuk kelompok pengelola demplot.

“Dalam satu kelompok ada 10 petani. Tadinya jumlah ini terbagi rata, yaitu lima pria dan lima perempuan. Namun, usaha ini kurang mendapat sambutan dari petani pria. Saya mengubah komposisi kelompok menjadi 10 perempuan dan semua berjalan dengan lancar,” tambahnya.

Theti dan kelompok menanam cabai, tomat, juga kacang panjang di lahan demplot. Ia mengatakan hasil yang diakui mengalami kenaikan.

“Hasilnya bisa dipakai untuk makan dan kelebihannya bisa dipakai untuk menabung. Kalau dulu hanya cukup untuk makan, sekarang kami bisa menjual hasil pertanian. Menjualnya pun tidak susah karena hasil pertanian ini lebih sehat. Kami memakai metode bertani yang ramah lingkungan. Sampai saat ini, kami telah panen sebanyak empat kali,” jelas Theti.

Sementara, BRG menyadari pentingnya peran perempuan dalam menjaga gambut. Hingga kini, telah ada 773 anggota kelompok perempuan yang didampingi BRG. Diharapkan, jumlahnya terus bertambah.

Tak hanya bertani, kelompok ini juga dibekali keterampilan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai jual pada produk kerajinan anyaman dari rumput atau tanaman tumbuh di lahan gambut. Mereka telah mampu membuat anyaman menjadi topi, tas, keranjang, dan lainnya.

“BRG menyadari pentingnya peran para perempuan dalam menjaga ekosistem gambut. Kami percaya bahwa jika perempuan diberdayakan, maka akan dapat mendorong perubahan besar dalam sikap dan perilaku melindungi,” kata Myrna A. Safitri, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

“Kita tidak dapat bicara tentang ketahanan pangan, tentang generasi emas jika soal pemenuhan nutrisi di tingkat keluarga diabaikan. Perempuan-perempuan kader sekolah lapang di lahan gambut menunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk itu,” tambah Myrna.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Bank Kalsel Berencana IPO di 2020

Liputan6.com, Jakarta – Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan Kalsel) berencana untuk mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2020. Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (Kalse) Rudy Resnawan saat mengunjungi Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Iya, Bank Kalsel siap untuk mencatatkan saham perdana atau go public,” ujarnya saat menyambangi BEI, Jumat (15/2/2019).

Rencanaa IPO diputuskan tahun depan dan bukan tahun ini karena stakeholder seperti pemegang saham dan direksi perlu membahas lebih lanjut mengenai ha yang harus disiapkan.

“Mudah-mudahan paling lambat tahun depan. Dibahas sedemikian rupa dulu, dengan para pemegang saham untuk bisa go public,” ujar Rudy.

Sebagai informasi saja, Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Selatan didirikan pada tanggal 25 Maret 1964.

Adapun tujuan pendirian Bank Kalsel adalah untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah serta sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah. 

2 dari 3 halaman

BEI Yakin Lebih dari 57 Perusahaan Bakal IPO di Tahun Politik

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djayadi yakin jumlah emiten baru yang akan melakukan Penawaran Umum Perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sepanjang tahun 2019 bisa mencapai lebih dari 57 perusahaan.

Menurutnya, pesta demokrasi yang dilakukan secara bersamaan tahun ini yakni pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), tak akan menyurutkan langkah beberapa perusahaan untuk mencatatkan saham di BEI. Kendati begitu, dia belum mau mengungkapkan berapa banyak perusahaan yang bisa diajakk untuk melantai di bursa saham Indonesia. 


“Kami harapkan lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2018, kami capai 57 perusahaan yang listing. Kami harapkan tahun ini bisa lebih dari itu. Berapa tepatnya? Belum bisa bilang, tapi arahnya lebih dari itu (57),” jelas dia di Gedung BEI, Rabu (2/1/2019).

Inarno menjelaskan, untuk mencapai target emiten baru tersebut, BEI telah menyiapkan sejumlah strategi. Itu antara lain adalah melalui program sosialisasi dan edukasi berkesinambungan ke berbagai perusahaan.

“Selain itu, kita juga akan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan seperti perusahaan penjamin emisi efek (underwriter), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Menteri Negara (Meneg) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kita bisa coba, this is the time untuk masuk ke publik,” ujarnya.

Sebagai informasi, pada 2018, jumlah korporasi yang melakukan IPO saham meningkat 54 persen menjadi 57 perusahaan ketimbang 37 perusahaan di tahun 2017.

Adapun total dana publik yang berhasil dihimpun dari aksi pencatatan perdana saham tersebut mencapai Rp 16,01 triliun sepanjang tahun lalu. Angka itu meningkat 68 persen dibandingkan Rp 9,5 triliun pada 2017.

“Jadi ini merupakan jumlah pencatatan perdana saham tertinggi selama kurun waktu 26 tahun terakhir sejak swastanisasi Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992. Jumlah pencapaian ini juga merupakan yang terbanyak di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2018,” tandasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

KPU Gandeng Tokoh Adat, Sosialisasikan Pemilu ke Suku Dayak

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) sosialisasikan pemilu kepada masyarakat adat Suku Dayak di Kalimantan Barat. Sosialisasi ini merupakan upaya edukasi untuk pemilih cerdas pada kelompok adat.

“Kali ini melibatkan para tetua dan tokoh adat setempat dalam Forum Sosialisasi Pemilu 2019 Menjadi Pemilih Cerdas, kita lakukan pendekatan dengan melibatkan tokoh adat, para tetua atau kepala suku,” kata Direktur Informasi dan Komunikasi bidang Polhukam Kemenkominfo, Bambang Gunawan di Kota Singkawang, lewat siaran tertulis diterima, Jumat (15/2/2019).

Lewat sosialisasi ini, lanjut Bambang, masyarakat adat dapat lebih memahami akan arti pentingnya memilih dalam Pemilu, sekaligus terdorong untuk berpartisipasi aktif secara cerdas dalam memilih di pemilu mendatang tanpa hoaks.

“Kami terus berkampanye soal penangkalan berita hoaks. Karena kampanye anti hoaks merupakan upaya menjadikan pemilih cerdas dalam memilih,” jelas Gunawan.

2 dari 3 halaman

Kenali Capres dan Caleg

Senada, Ketua Dewan Adat Suku Dayak Aloysius Kilim menyatakan masyarakatnya paham betapa bahayanya hoaks yang memicu gesekan. Karenanya, dia meminta pemilih khususnya kelompok sukunya untuk mengenali calon pemimpinnya dengan baik.

“Kenali, (caleg dan capres), pastikan kita semua masyarakat adat hadir di TPS dan memilih sesuai hati nurani,” terang Aloysius.

Sementara itu, Ketua KPU Singkawang Riko, mengatakan, sebagai penyelenggara pemilu mengimbau agar masyarakat Dayak dapat memastikan lokasi TPS memilih. Hal ini ditujukan agar 17 April 2019 dapat berjalan lancar dan tertib.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: