Merenung Arti Pagi Saat Berkemah di Tahura Nuraksa

Liputan6.com, Lombok – Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, ternyata banyak menyimpan keindahan alam yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Salah satunya, keindahan alam yang kini dikelola UPT dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, yakni kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa. Ucapan syukur sambil menyelami arti pagi bisa jadi kegiatan religi saat berkemah.

Kawasan tahura yang sudah dikukuhkan sejak Tahun 2013 itu berada di Dusun Kumbi, daerah pedalaman dari Desa Pakuan, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Dengan konsep bentangan alam yang mempertahankan fungsi hutannya, destinasi wisata ini sangat cocok bagi wisatawan yang gemar dengan kegiatan “outdoor adventure”.

“Untuk yang hobi hiking, berkemah, itu cocok di sini. Areal perkemahan dan rute untuk hiking juga sudah ada,” kata seorang pemandu wisata yang berasal dari Desa Pakuan, Eka dilansir Antara.

Kemudian bagaimana akses untuk menuju destinasi wisata yang satu ini, Eka mengatakannya tidak sulit untuk ditempuh dengan berkendara.

“Jalannya ke sini sudah lumayan bagus, akses untuk mobil sudah bisa,” ujarnya.

Dengan berkendara sekitar setengah jam dari Kota Mataram, wisatawan sudah bisa bertemu dengan gerbang Tahura Nuraksa.

Jika mengenal kawasan wisata Hutan Sesaot, jalur ke Tahura Nuraksa dapat ditempuh dengan berkendara sekitar sepuluh menit ke arah Timur.

Melewati perkampungan warga pesisir hutan, akses jalan untuk kendaraan roda empat terbuka lebar hingga masuk ke halaman lapang yang ada di kawasan Tahura Nuraksa.

Ikon wisata Dengan luas kawasan 3.155 hektare, ternyata di dalam Tahura Nuraksa ini tersembunyi sebuah destinasi wisata alam yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan, yakni air terjun Segenter.

“Kalau dari gerbang masuk, jarak tempuh ke air terjun sekitar 2,6 kilometer,” ujar pria yang pernah bertugas sebagai pengaman hutan (pamhut) tersebut.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Tanah Bergerak Setiap 30 Menit, Warga Banyumas Terbayang Longsor Masa Lalu

Liputan6.com, Banjarnegara – Menilik riwayatnya, Banjarnegara diwarnai kisah pedih longsor kolosal. Dan 70 persen wilayah di kaki pegunungan Dieng ini memang rawan gerakan tanah.

Bencana longsor seringkali mengejutkan terjadi di Banjarnegara. Pada 2006, Dusun Gunung Raja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu lenyap dalam sekejap. Ada 76 orang meninggal dunia, 14 lainnya tak ditemukan.

Kemudian, empat tahun lalu, Dusun Jemblung Desa Sampang Karangkobar luluh lantak diterjang longsor. Seratusan lebih warganya meninggal dunia atau hilang tertimbun material longsoran.

Hingga saat ini, longsor dan gerakan tanah berkala kecil dan besar datang silih berganti. Salah satunya di Dusun Kali Entok Desa Kebutuh Jurang Kecamatan Pagedongan, Banjarnegara.

Gerakan tanah yang terjadi secara bertahap dilaporkan merusak 22 rumah. Akibatnya, 25 keluarga yang terdiri dari 83 jiwa mengungsi.

Dan ke-25 keluarga itu mengungsi di 11 titik pengugsian. Sebagian besar mengungsi ke rumah saudara, atau ditampung tetangga, dan di tetangga desa, Duren.

“Jadi sekarang masih mengungsi. Kalau kita tahapannya sedang validasi data. Kalau jumlahnya masih seperti kemarin,” kata Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) BPBD Banjarnegara, Arif Rachman, Kamis sore, 21 Februari 2019.

Kisah longsor besar yang sampai menewaskan puluhan hingga ratusan orang membuat warga Kebutuh Jurang trauma. Positifnya, riwayat bencana Banjarnegara membuat mereka waspada.

Arif tak menyalahkan warga yang traumatik. Hanya saja, berdasar pendataan lapangan oleh petugas BPBD dan pemerintah desa Kebutuh Jurang, jumlah rumah rusak sebenarnya hanya 15 unit. Lainnya baru terancam longsor.

2 dari 3 halaman

Kontur Tanah Berisiko Longsor Cepat

Berdasar kajian geologi dan pemetaan longsor, tujuh rumah yang penghuninya turut mengungi sebenarnya berada di luar zona merah. Karenanya, pekan ini BPBD akan mensosialisasikan kepada para pengungsi agar yang rumahnya masih aman bisa kembali ke rumahnya.

Adapun 15 rumah yang terdampak langsung dan terancam agar bertahan di pengungsian untuk sementara waktu.

“Pekan ini kami akan mengumpulkan untuk memberi penjelasan. Bagi yang kondisinya masih ini (relatif) aman, disarankan pulang, karena hanya euforia ketakutan ya lebih baik pulang lah,” dia menerangkan.

Rencananya, dalam waktu dekat hasil kajian geologi, pemetaan dan rekomendasi Badan Geologi itu akan dilaporkan kepada Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono untuk segera ditindaklanjuti.

“Pertama, rumah yang terdampak langsung, begitu kan, jumlahnya ada sekitar 15 rumah. Karena kita sudah ada peta geologinya yang akan kita laporkan kepada Pak Bupati,” dia menambahkan.

BPBD juga telah memasang early warning system (EWS) atau alat peringatan dini longsor dan gerakan tanah di mahkota longsoran. BPBD juga mendirikan posko pantau bencana di sekitar area gerakan tanah untuk memantau pergerakan tanah untuk mengantisipasi gerakan tanah yang membahayakan.

Dia menjelaskan, sifat longsoran di Kebutuh Jurang adalah rayapan tanah (creep). Akan tetapi, menilik kontur tanahnya yang curam dan curah hujan tinggi, gerakan tanah bisa bertambah cepat dan bisa pula bersifat jatuhan.

3 dari 3 halaman

Tanah Bergerak 2 Sentimeter Tiap Setengah Jam

Nun di Kabupaten Banyumas, gerakan tanah di Grumbul Kalisalak RT 3/5 Desa Karangbawang Kecamatan Ajibarang kembali terjadi. Akibatnya, dua keluarga terpaksa mengungsi.

Sebelumnya, di lokasi yang sama, empat rumah harus direlokasi lantaran gerakan tanah terus berlangsung sejak akhir 2018. Kini, gerakan tanah kembali merusak dua rumah yang dihuni empat jiwa, yakni rumah milik Sukardi (68 th) dan Sumardi (70 th).

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kusworo mengatakan, sementara ini Sukardi dan istri mengungsi ke rumah anaknya, Warkiman yang berada di lokasi lebih aman. Adapun Sumardi dan istrinya mengungsi ke saudara lainnya, Suryati.

Kusworo mengemukakan, tanah kembali bergerak setelah Banyumas diguyur hujan lebat berhari-hari. Diukur dengan alat sederhana, dalam waktu setengah jam tanah bergeser sekitar dua sentimeter.

Gerakan tanah membuat tanah retak-retak dan ambles berkisar 70 sentimeter hingga satu meter. Akibatnya, lantai dan dinding rumah retak-retak parah.

Sebelumnya, gerakan tanah di lokasi yang sama juga telah merusak empat rumah. Keempat keluarga itu telah direlokasi secara bertahap sejak akhir 2018 hingga Januari 2019.

“Tanah terus bergerak, pelan tapi pasti. Mulai Kamis,” kata Kusworo.

Ia juga mengimbau agar warga lainnya mewaspadai kemungkinan meluasnya gerakan tanah. Pasalnya, bidang tanah miring, labil dan curah hujan masih tinggi.

“Dan tadi, kita juga memasang early warning system tradisional, sederhana menggunakan tali. Dalam waktu kurang lebih setengah jam, tanah bergerak sekitar dua sentimeter, jalannya,” dia mengungkapkan.

Saksikan video pilihan berikut:

Misteri Bayang-Bayang Pria Lain di Balik Pembunuhan Keji Ibu dan Bayi di Kediri

Liputan6.com, Kediri – Nardian (38), warga Dusun Sumber Manggis, Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur harus dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Kediri, untuk menjalani pemeriksaan psikiatri, Senin (18/2/2019). Nardian diduga kuat membunuh istri dan anak kandungnya yang masih bayi.

Dokter Roni Subagyo SPKJ menjelaskan, pihaknya belum bisa memastikan jika yang bersangkutan memang menderita gangguan jiwa. Namun, dia mengakui adanya indikasi gangguan jiwa yang dialami Nardian.

“Kita perlu pastikan, kita perlu observasi dan pemeriksaan lanjutan,” tutur dokter psikiatri yang sering menangani banyak kasus pembunuhan yang pelakunya mengidap kelainan jiwa.

Dibutuhkan waktu antara tiga sampai lima hari untuk memastikan. Di samping itu, dibutuhkan juga pemeriksaan tambahan yang mencakup otak, pemeriksaan laboratorium, dan piskologis.

Pemeriksaan awal yang dilakukan hanya sebatas anamnesa yaitu menanyakan kondisi psikologis yang bersangkutan. Selain itu, pihak medis masih memerlukan keterangan tambahan dari pihak mertua dan tetangganya untuk diperiksa.

“Melibatkan dokter spesialis saraf, pemeriksaan psikologis melalui psikolog supaya hasil pemeriksaan yang kita dapat betul-betul bisa memastikan. Selama menjalani observasi Nardian akan ditempatkan diruang khusus,” katanya.

Indikasi Nardian mengidap kelainan jiwa, saat yang bersangkutan mengaku sering melihat bayangan laki-laki lain dekat sang istri.

“Namun itu kan keterangan dari yang bersangkutan jadi perlu kepastian dengan pemeriksaan tambahan atau pemeriksaan lain,” ucapnya.

Nardian (38) tega menghabisi nyawa isterinya dengan sebilah pisau setelah sebelumnya mereka terlibat cek-cok mulut. Warga sempet melerai pertengkaran itu, tetapi keduanya kembali terlibat adu mulut.

Pelaku yang tak kuat menahan emosi kemudian tega menusuk isterinya. Ironisnya saat peristiwa keji itu berlangsung, diduga posisi korban sedang menggendong anaknya yang masih berusia tujuh bulan. Tak pelak bayi tak berdosa ini ikut menjadi korban perangai keganasaan ayahnya hingga akhirnya tewas bersama ibunya.

Simak video pilihan berikut ini:

Disandera Abu Sayyaf, Hariadin Sudah Tinggalkan Wakatobi Sejak 2012

Kendari – Hariadin dan Heri alias Eri, warga Kabupaten Wakatobi, Sultra, saat ini disandera kelompok Abu Sayyaf dan masih menunggu bantuan dari pemerintah untuk segera dibebaskan. Hariadin diketahui sudah meninggalkan Wakatobi sejak 2012.

Kabid Humas Polda Sultra AKBP Harry Golden Hart membenarkan adanya dua warga asal Wakatobi yang saat ini masih menjadi tawanan dari Abu Sayyaf. Setelah melakukan koordinasi dengan Polres Wakatobi, diketahui Hariadin telah meninggalkan Kecamatan Kaledupa, Wakatobi, sejak 2012.

Meski demikian, dia masih tercatat sebagai warga Dusun La Bantea, Desa Kalimas, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sultra.

“Berdasarkan informasi dari keluarga Hariadin yang ada di Kaledupa, Hariadin bersama keluarganya telah meninggalkan Keledupa sejak 2012 untuk bekerja di Malaysia,” terang Harry kepada detikcom, Rabu (20/2/2019).
Berdasarkan informasi lain yang didapatkan dari keluarga, Hariadin dan Heri telah disandera sejak 6 Desember 2018, kemudian Hariadin yang menghubungi istrinya melalui telepon pada 8 Desember dan memberitahukan bahwa ia dan Eri sedang ditawan oleh Abu Sayyaf. Kelompok Abu Sayyaf meminta tebusan sebesar Rp 10 miliar untuk pembebasan kedua tawanan yang merupakan warga Wakatobi.

Keduanya ditahan di perairan Sandakan, Malaysia, oleh kelompok Abu Sayyaf. “Sudah dilaporkan kepada Maritim Malaysia. Namun, setelah dilakukan pencarian, yang didapatkan hanya kapal tanpa awak,” paparnya.
(asp/rvk)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

6 Destinasi Wisata Sawah yang Wajib Dikunjungi

Liputan6.com, Jakarta Indonesia memang negara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa, termasuk sawah. Bukan hal biasa jika Tanah Air menjadi tempat destinasi untuk berwisata dengan nuansa alam.

Bagi Anda yang suka traveling, wajib untuk mencoba menikmati liburan bertema sawah dapat dijadikan referensi Anda untuk berlibur. Destinasi bertema sawah ini sedang ramai-ramainya dibicarakan di media sosial. Liputan6.com merangkum keenam destinasi di bawah ini.

1. Agrowisata Paloh Naga

Hanya dengan Rp 5.000 rupiah Anda sudah bisa menikmati wisata bertema sawah ini, ditambah lagi jembatan bambu yang memanjang di area sawah dapat dijadikan momen untuk berfoto.

Ada tiga spot yang ditawarkan yaitu rumah produksi, sanggar seni dan pendidikan karakter, serta spot area tracking. Destinasi bertema sawah Paloh Naga berada di Desa Denai Lama, Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara.

2. Desa Wisata Pujon Kidul

Destinasi bertema sawah ini berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Selain dimanjakan dengan indahnya pemandangan sawah, Anda dapat menikmati makanan dan minuman di kafe yang terletak di area sawah.

Banyak hal menarik yang bisa Anda lakukan disana seperti camping, outbond, memetik sayur, dan mempelajari cara pembuatan biogas. Tak kalah seru yaitu banyak spot yang dapat dijadikan untuk tempat befoto di alam terbuka.

3. Tegalalang Bali

Sudah menjadi banyak buah bibir orang, terasering sawah Tegalalang ini tidak diragukan lagi keindahannya. Berada di Dusun Ceking, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Tempat wisata ini cocok dijadikan tempat wisata jika Anda ingin merasakan suasana khas pedesaan di Pulau Dewata.

Anda juga dapat menikmati jamuan makan di kafe dan resort yang disediakan di area sawah. Disana juga disediakan tempat penginapan nyaman untuk menikmati hamparan hijau sawah.

2 dari 2 halaman

4. Desa Wisata Kubu Gadang

Tempat wisata satu ini menawarkan paduan elok alam berupa hamparan sawah. Banyak spot menarik yang dapat dijadikan tempat untuk berfoto.

Tak hanya panorama alam, tempat wisata ini juga menyiapkan paket menarik bagi Anda yang ingin menginap disana. Paket tersebut dibagi dalam tiga kategori yaitu kuliner, atraksi, dan edukasi. Pada paket atraksi Anda dapat menyaksikan gerakan silat tradisonal yang dimainkan di sawah yang berlumpur.

5. Desa Wisata Kemetul Semarang

Terkenal nama populer Situs Bintang Jatuh karena desain jembatannya yang instagramable berbentuk seperti bintang. Wisata ini berada di Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang.

Hanya dengan Rp 5 ribu rupiah sudah dapat menikmati panorama alam yang indah, Anda juga bisa mengajak anak ke tempat bermain yang tersedia.

Banyak pilihan paket  yang dapat Anda coba disana seperti paket edukasi, rumah industri, tempat belanja, paket makan, paket mainan tradisional, serta tempat penginapan.

6. Wisata Sawah Sukorame

Tempat wisata yang disebut juga dengan Jelajah Sawah Pertanian Bowongan (JSPB) ini memberikan pemandangan hamparan sawah yang tidak kalah menarik. Di tengah-tengahnya dibuat jembatan dari bambu untuk para wisatawan yang ingin menikmati pemandangan sawah tanpa perlu takut terkena lumpur sawah.

Untuk masuk ke wisata ini tidak dipungut biaya atau gratis untuk berlibur ke destinasi ini, hanya dengan membayar parkir motor Rp 3.000 dan Rp 2.000 untuk mobil. (Adinda Kurnia Islami)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Detik-Detik Retakan Tanah Muncul Mendadak dan Memanjang di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap – Cilacap dikenal sebagai daerah dengan risiko tertinggi bencana alam di Provinsi Jawa Tengah. Banjir, longsor hingga ancaman gempa, dan tsunami berpotensi terjadi di kabupaten ini.

Pasalnya, secara geografis, Cilacap terbagi menjadi dua wilayah yang kontras. Sisi selatan adalah dataran rendah pesisir, adapun di sisi utara membentang pegunungan tengah Jawa dengan kontur curamnya perbukitan. Longsor, gerakan tanah atau retakan tanah silih berganti terjadi di wilayah ini.

Nyaris seluruh kecamatan di sisi utara Cilacap merupakan zona merah bencana tanah longsor.

Jumat, 15 Februari 2019, BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda Kabupaten Banyumas, Cilacap hingga Brebes. Perkiraan itu nyata. Sekitar pukul 15.00 WIB, hujan ekstrem dilaporkan terjadi di beberapa wilayah.

Itu termasuk Desa Ujungbarang Kecamatan Majenang, Cilacap. Di desa pegunungan ini, air hujan bak tumpah dari langit.

Menjelang pukul 17.00 WIB, sejumlah warga di Dusun Ujungbarang I Desa Ujungbarang mendengar gemeretak gerakan tanah. Beberapa lainnya, merasa rumahnya turut bergoncang.

Warga pun panik. Mereka mendapati tanah mendadak retak memanjang puluhan meter. Retakan tanah itu merusak dua rumah warga di RT 02/1 Ujungbarang, serta mengancam 13 rumah lainnya.

Lantai rumah retak. Pondasi sedikit terangkat. Dinding juga retak dan menyebabkan dua keluarga yang terdiri dari lima jiwa mengungsi.

“Yang satu titik yang dipermukiman yang sudah mengungsi, dua KK, lima jiwa. Yang terkena garis retakan tanah itu, di mahkotanya. Panjangnya sekitar 50-60 meter,” kata petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulanga Bencana Daerah (BPBD) Majenang, Muhadi, Minggu (17/2/2019)

2 dari 2 halaman

Kajian Badan Geologi

Rupanya, munculnya retakan tanah di RT 02/1 bukan satu-satunya. Retakan lainnya juga muncul di RT 3/1, sepanjang 30 meter.

“Retakan pertama meliputi area seluas satu hektare. Adpun retakan kedua seluas 0,5 hektare,” Muhadi menambahkan.

Selain merusak rumah, terjadi pula amblesan di pekarangan penduduk yang berimpitan dengan perumahan warga. Tanah itu ambles dengan kedalaman sekitar satu meter.

Yang berbahaya, retakan ini muncul di tengah permukiman penduduk. Kawasan padat ini pun berada di perbukitan curam dengan kemiringan antara 40-50 derajat.

Dikhawatirkan, gerakan tanah akan berlanjut dan membahayakan jiwa penduduk. Karenanya, selain dua keluarga yang rumahnya rusak, 15 keluarga lain yang berada di zona bahaya pun mengungsi saat turun hujan lebat.

Muhadi mengemukakan, BPBD Cilacap bakal melayangkan permohonan kepada Badan Geologi untuk mengkaji dua retakan tanah yang muncul di tengah permukiman ini. Kajian oleh badan geologi dilakukan untuk menyimpulkan apakah perumahan perlu direlokasi atau tidak.

Dia berharap Badan Geologi segera turun ke Cilacap. Pasalnya, selain retakan Ujungbarang, BPBD Cilacap juga telah melayangkan permohonan penelitian tanah untuk longsor di Sadabumi Kecamatan Majenang, yang merusak gedung sekolah, gedung PAUD, musala dan mengancam 16 keluarga, pekan lalu.

“BPBD induk akan mengajukan permohanan ke Badan Geologi untuk diadakan penelitian tanah. Mungkin nanti pelaksanaannya bareng dengan (longsoran) yang di Sadabumi itu,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi gerakan tanah susulan, warga bersama petugas BPBD dan relawan telah menutup retakan tanah dengan tanah. Ini dilakukan untuk mengantisipasi merembesnya air hujan yang bisa memicu retakan lebih besar atau bahkan longsor.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Kapak Maut Renggut Jiwa Maslikin di Masjid Sumedang

Sumedang – Warga Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, digegerkan oleh aksi pembacokan yang dilakukan Kurnaevi alias EA (35) terhadap tetangganya, Maslikin alias Mas (54). Nahasnya hantaman kapak maut itu berlangsung saat korban menunaikan salat isya berjemaah di Masjid Miftahul Falah, Dusun Salam, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari.

Peristiwa horor tersebut berlangsung Kamis 14 Februari 2019. Pelaku dua kali melayangkan kapak ke kepala Maslikin. Luka bacokan yang sangat vital itu membuat korban tewas bersimbah darah di dalam masjid.

Hasil penyelidikan polsi, pelaku berbuat keji karena menerima bisikan gaib sebelum masuk masjid. Mendapat bisikan tersebut, Kurnaevi pun tak jadi ke masjid. Dia pulang dan membawa sebilah kapak lalu kembali beranjak ke masjid.
“Makmum di situ ada delapan lelaki. Kenapa yang dipukulnya korban, karena dia (pelaku) mendapat bisikan gaib,” ucap Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo kepada detikcom, Jumat (15/2).

Polisi menyebut pelaku mengaku bisikan gaib itu menjelaskan bahwa mantan istrinya yang cerai pada 2015 telah berselingkuh dengan Maslikin. “Sehingga dia pulang untuk mengambil kapak dan membacokkan ke arah kepala korban,” tuturnya.

Guna mengusut kasus ini, polisi memeriksa sejumlah saksi. Salah satunya ialah seorang dokter yang pernah merawat pelaku.

“Dari keterangan dokter yang pernah merawat. Pelaku ini mengalami gangguan jiwa sejak empat tahun lalu,” ucap Hartoyo.

Hartoyo mengungkapkan, pelaku mengalami gangguan kejiwaan sejak diceraikan istri. Kurnaevi pada 2018 baru ditangani oleh dokter kejiwaan, Edi Soekanda, di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang.

Meski dalam penanganan dokter, pelaku tak melakukan kontrol yang seharusnya satu bulan sekali. Hal itu lantaran pelaku tidak mempunyai biaya untuk ke dokter.

Kapolres pun sempat membagikan video berisi pernyataan Edi Soekanda mengenai kondisi kejiwaan pelaku yang masih dalam pengawasan itu. Dalam video tersebut Edi membeberkan dari mulai penyebab, hingga jenis penyakit kejiwaan diidap Kurnaevi.

“Ketika datang ke saya Mei, kelihatannya melamun, kambuhan lah. Ada rasa curiga berlebihan yang menyebabkan ada rasa agresif. Kemudian, Juni berobat lagi, rasa curiga enggak ada tapi justru halusinasi. Ada bisikan-bisikan,” tutur Edi dalam video tersebut.

Kendati dalam penyelidikan dan diperkuat keterangan ahli yang menyebut Kurnaevi memiliki masalah kejiwaan, polisi tetap memprosesnya. Pelaku ditahan di Rutan Mapolres Sumedang dengan jeratan Pasal 340 jo 338 KUHPidana mengenai pembunuhan berencana.

(tro/bbn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Banjir Pasangkayu Belum Surut, Persiapan UN Siswa SD Kalindu Terganggu

Liputan6.com, Pasangkayu – Sudah tiga hari banjir di Dusun Kalindu, Desa Lariang, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, belum juga surut.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Jumat (15/2/2019), banjir yang disebabkan meluapnya air Sungai Lariang ini merendam permukiman warga di areal persawahan, bangunan sekolah hingga jalan penghubung antardesa dan kecamatan.

Akibatnya aktivitas warga pun lumpuh karena desa di kepung banjir.

Tak hanya itu, sejumlah sekolah termasuk SDN Kalindu pun terpaksa diliburkan hingga waktu yang belum ditentukan. Padahal, sejumlah siswa harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian nasional (UN) yang tinggal dua bulan lagi.

Warga mengaku, sejak tanggul jebol sekitar setahun lalu, banjir kerap melanda kawasan ini dan tidak bisa hidup dengan tenang. Karena setiap hujan deras turun, warga selalu was-was banjir akan datang. Meski kerap terendam banjir warga mengaku enggan mengungsi.

Warga berharap pemerintah segera perbaiki tanggul agar banjir segera surut dan tak datang lagi. (Muhammad Gustirha Yunas)

Menembus Medan Sulit Menemukan Fakta Tragis Desa Sikundo Aceh

Liputan6.com, Aceh – Potret buram sebuah desa terisolir di Kabupaten Aceh Barat bernama Sikundo viral di media sosial beberapa hari kemarin. Awak Liputan6.com mencoba menembus medan sulit untuk menemukan sejumlah fakta mengenai desa yang namanya ditabal oleh Cut Nyak Dien itu.

Desa Sikundo sejatinya berada dalam wilayah ekosistem hutan Ulu Masen. Jarak desa yang berada di tengah belantara ini sekitar 80 kilometer dari pusat kabupaten.

Mayoritas mata pencarian warga setempat adalah bertani. Di desa ini, sangat mudah menemukan ikan kerling atau jurung yang menjadi makanan raja-raja pada masanya.

Luas desa yang dihuni 138 Kepala Keluarga ini sekitar 12.000 hektare, dimana sebelumnya, sekitar dua pertiga luas wilayahnya dikuasai perusahaan Hak Penguasaan Hutan (HPH). Awalnya dikuasai PT Woyla, hingga pada 1998 penguasaan berpindah tangan ke PT Raja Garuda Mas.

Izin PT Raja Garuda Mas harusnya berakhir 2014. Namun, akibat eskalasi konflik bersenjata yang kian meningkat di Aceh, perusahaan tersebut berhenti beroperasi pada 2001.

Akses menuju Desa Sikundo cukup sulit dilalui. Medan mulai ekstrem di titik tempuh antara Desa Jambak –yang merupakan desa terakhir kedua di Kecamatan Pante Ceureumen– ke Desa Sikundo.

“Jalan sekitar jam 8 dan sampai di kecamatan sekitar satu jam. Lanjut lagi, dan tiba di Desa Sikundo hampir jam 11,” tutur Koordinator Badan Pekerja Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy S. Putra, kepada Liputan6.com, Kamis malam (14/2/2019).

Medan yang dilalui berupa tanah berkerikil, berlobang, terjal serta terdapat longsor di bahu jalan. Akses akan lebih sulit dilalui jika hujan turun, kebanyakan pengendara terperosok ke dalam lubang berair atau tersangkut dalam tanah liat yang mencengkeram roda kendaraan.

“Tercatat hampir 4-5 titik jalan menuju Sikundo begitu bahaya untuk dilewati atau dilalui oleh warga desa, apalagi dilalui dengan kendaraan roda dua atau empat yang begitu sulit medannya. Ada beberapa bahu jalan yang sudah longsor. Fasilitas Kesehatan atau Faskes juga tidak ada di situ,” sebut Edy.

Warga setempat memang sudah lama menantikan jalan beraspal. Jika akses mudah dilalui, warga tidak akan kesulitan menuju Puskesmas yang berada di pusat kecamatan ketika tiba-tiba ada di antara mereka yang sakit.

“Jadi, pada hari ini, masyarakat Sikundo mengeluh cuma transportasi jalan,” ucap Kepala Desa Sikundo, Jauhari kepada Liputan6.com.

Selain itu, Jembatan gantung penghubung Desa Jambak-Sikundo yang digadang-gadang dibangun pada 2018 lalu dengan anggaran mencapai Rp 1,9 miliar lebih, sejatinya masih dalam proses pengerjaan hingga Februari 2019. Seminggu yang lalu, pengerjaan jembatan gantung masih dilakukan, dengan sistem kebut semalam.

Terdapat satu jembatan tali baja atau sling yang menghubungkan antardusun Durian dengan Sarah Saree. Jarak jembatan ala Indiana Jones ini dengan jembatan gantung tadi sekitar 500 meter.

Dusun Sarah Saree dihuni 12 KK, dan terdapat sebuah sekolah terbengkalai di dalamnya, karena tidak ada orangtua yang berani menyekolahkan anaknya di SDN Sikundo. Warga Desa Sikundo menggunakan jembatan tali baja atau sling sejak 1975.

Keberadaan jembatan sling penghubung antardusun viral setelah seorang fotografer media asing memotret aktivitas warga yang sedang bertaruh dengan maut melewati dua utas tali baja sepanjang 140 meter yang di bawahnya terdapat sungai berarus deras.

Beberapa hari kemudian, sejumlah wartawan meliput ulang. Belakangan, berita mengenai jembatan tali baja atau sling di Desa Sikundo menjadi komsumsi nasional.

Kabar tersebut sampai ke telinga Plt Gubernur Aceh, dan melalui akun twitternya, Nova menyanggah berita jembatan kabel di Desa Sikundo tidak update. Belakangan, Nova menghapus cuitan setelah mendapat sentilan dari netizen.

Jembatan sling menuju SDN Sikundo katanya akan dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Barat pada 2020. Itu kata Plt Kadis Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat, Bukhari.

2 dari 2 halaman

Catatan untuk Pemerintah Kabupaten Aceh Barat

Edy berharap, eksekutif-legislatif di Aceh Barat mau mengalokasikan dana untuk pembangunan di Kabupaten Aceh Barat secara serius. Ini merujuk qanun bahwa dana yang dialokasikan ditujukan untuk membiayai program dan kegiatan pembangunan, terutama pembangun dan pemeliharaan infrastruktur.

“Rancangan Qanun APBK Aceh Barat 2019 masih terdapat kegiatan yang belum sepenuhnya mencerminkan anggaran berbasis kinerja. Tidak jelas sasaran dan cenderung terjadi pemborosan. Seperti, penyediaan belanja perjalanan dinas keluar daerah untuk kegiatan yang tidak relevan,” tukas Edy.

Hingga 12 Februari lalu, warga Sikundo tidak pernah bermimpi jika suatu saat desa mereka dialiri arus listrik. Juli nanti, baru dapat dibayangkan, indahnya melihat sekumpulan titik cahaya yang menghiasi desa itu dari atas perbukitan, lalu, dari kejauhan, samar-samar terdengar tawa dari dalam rumah sebuah keluarga yang sedang menonton televisi.

Manajer PT PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Area Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Ediwan menyebut, suplai arus listrik akan sampai ke Desa Sikundo semester satu atau bulan Juni 2019. Hingga saat itu, warga mesti bersabar dengan penerangan ala kadarnya, yakni lampu teplok.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emak

Tuban – Cawapres Sandiaga Uno berkunjung ke sentra industri batik tenun Gedog Tuban, Dusun Kajian, Tuban, Jawa Timur. Sandiaga memberi pelatihan OK OCE kepada emak-emak yang hadir.

Saat di lokasi, langkah Sandiaga sempat tersendat akibat dikerumuni oleh emak-emak yang ingin mengajak selfie. Mantan Wagub DKI Jakarta itu pun mengaku prihatin cara swafoto para emak-emak yang terkadang keliru mengarahkan kamera ponselnya.

“Jadi Ibu-ibu mau nggak saya ajarin Selfie yang baik dan benar? Saya prihatin dan sayang sama emak-emak karena kadang nggak kebagian selfie karena banyak yang salah cara selfienya. Sehingga sering nggak kebagian foto bareng. Jadi mau nggak saya kasih tahu tips selfie?” ucap Sandiaga dalam keterangan tertulis yang dikirim tim BPN Prabowo Subianto-Sandiaga, Kamis (14/2/2019).

“Belajar memegang hape untuk selfie, yang benar adalah (memakai) satu tangan, bukan dua tangan. Biar kuat telunjuk di atas dan kelingking di bawah diapit seperti ini,” katanya memulai tips bagaimana caranya selfie.

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emakFoto: Dok. BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Sandiaga juga menunjukkan cara yang benar memegang ponsel untuk berselfie yakni dengan keadaan ponsel dalam kondisi lanskap. Sandiaga juga menyarankan emak-emak untuk tidak mengatur setelan waktu pada saat selfie.

“Harus landscape, jangan potrait, karena potrait nggak akan dapet banyak. Timer di-off kan, jangan pasang 10 detik atau satu dua jam nanti giginya keburu kering. Pastikan juga memory cukup,” ujar Sandiaga.

Selama safari politik di Tuban, Sandiaga juga berziarah ke makam Sunan Bonang di Jalan KH Mustain, Kutorejo, Tuban, Jawa Timur. Di lokasi ziarah, Sandiaga diberikan batik oleh pemilik toko batik Sidomakmur, Nunung yang berada di depan pintu masuk.

“Ini batik Gedog, dinamakan Gedog karena dulu bajunya dirajut dengan menggunakan alat pintal. Saat memintal diujung berbunyi dhog-dhog. Tapi sekarang sudah jarang yang memintal bahan, semuanya bahan jadi,” ucap Nunung.

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emakFoto: Dok. BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Sandiaga melihat wisata ziarah bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Dia mengatakan UMKM di lokasi ziarah juga bisa menyerap lapangan kerja.

“Di semua tempat ziarah yang saya kunjungi di seluruh Indonesia, geliat ekonomi para pelaku UMKM sangat terasa. Ini memperlihatkan wisata ziarah bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Menggerakkan ekonomi dan menyerap lapangan kerja. Tinggal kita tingkatkan lagi,” terang Sandi.
(idn/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>