Kata Menag Soal Aturan ‘Nonmuslim Dilarang di Dusun Karet’: Khilaf Semata

Sukoharjo – Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin angkat bicara mengenai larangan non muslim tinggal di Dusun Karet di Bantul. Menurutnya, pelarangan tinggal karena beda agama itu belum masuk dalam permasalahan ideologis dan radikalisme.

“Ini tidak ideologis sedikitpun, bukan radikal, bukan ideologi, semata-mata karena kekhilafan saja,” kata Lukman usai menghadiri peringatan Isra’Mi’raj Nabi Muhammad di Sukoharjo, Rabu (3/4/2019).

Lukman menilainya sebuah kekhilafan karena warga mau mencabut aturan tersebut tanpa adanya resistensi. Melalui dialog, permasalahan akhirnya dapat diselesaikan.

“Saya sangat bersyukur pada akhirnya kearifan masyarakat itu sendiri yang mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang sebetulnya menurut saya semata-mata hanya kesalahpahaman atau ketidaktahuan,” kata dia.
Menag menegaskan bahwa hakikatnya tidak boleh ada larangan yang dibuat berdasarkan perbedaan agama. Seluruh warga Indonesia diperbolehkan tinggal di manapun di seluruh nusantara.

“Pada hakikatnya tidak ada dan tidak boleh ketentuan yang melarang berdasarkan perbedaan, apakah perbedaan etnis, perbedaan suku, apalagi perbedaan agama untuk tinggal bersama-sama di seluruh wilayah tanah air kita tercinta ini,” kata Lukman.

Sebagaimana diketahui, warga Kota Yogyakarta bernama Slamet ditolak tinggal di Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Alasannya Slamet memiliki kepercayaan agama yang berbeda dari warga mayoritas setempat.

Namun karena dinilai melanggar Undang-Undang Dasar 1945, aturan itu kini telah dicabut.

“Karena ada permasalahan yang sifatnya mendiskreditkan warga atau nonmuslim dan karena sudah melanggar peraturan undang-undang, kami sepakat aturan itu (pendatang nonmuslim dilarang bermukim di Dusun Karet) kami cabut. Serta permasalahan sama Pak Slamet sudah tidak ada,” ujar Kepala Dusun Karet, Iswanto, saat dihubungi wartawan, Selasa (2/4).

(bai/sip)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Langgar UUD 1945, Aturan ‘Nonmuslim Dilarang di Dusun Karet’ Dicabut

Bantul – Peraturan terkait pendatang nonmuslim dilarang bermukim di Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul dicabut. Aturan tersebut dinilai melanggar Undang-undang Dasar 1945.

“Karena ada permasalahan yang sifatnya mendiskreditkan warga atau nonmuslim dan karena sudah melanggar peraturan undang-undang, kami sepakat aturan itu (pendatang nonmuslim dilarang bermukim di Dusun Karet) kami cabut. Serta permasalahan sama Pak Slamet sudah tidak ada,” ujar Kepala Dusun Karet (Dukuh), Iswanto, saat dihubungi wartawan, Selasa (2/4/2019).

Lanjut Iswanto, perihal rencana kepindahan Slamet dari Dusun Karet tidak bisa dihambat oleh warga. Dengan dicabutnya aturan ini, tak ada juga alasan yang menghalangi Slamet untuk pindah dari rumah yang disewanya seharga Rp 4 juta pertahun.


“Masalah tinggal, karena Pak Slamet sudah mau pindah dan punya tempat lain itu terserah, yang jelas aturan sudah dicabut karena pertimbangan dari kami aturan tidak tidak sesuai dengan UUD 1945,” ucapnya.

Iswanto mengatakan aturan tersebut bermula saat 30 warga berkumpul dan membuat kesepakatan. Hal itu dikarenakan permasalahan pemakaman di Dusun Karet.

“Peraturan itu dibuat tahun 2015 karena pertama kali masalah makam dan merembet ke masyarakat. Maksudnya dari warga gitu karena belum ada nonmuslim yang dimakamkan di situ, jadi maksud warga saat itu mengantisipasi saja sebetulnya,” katanya.

Seperti diketahui bersama, seorang pemeluk agama Katolik, Slamet Jumiarto (42), harus mencari rumah kontrakan baru karena terbentur aturan RT 08 Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul. Khususnya aturan yang mengatur bahwa orang non-Islam dilarang tinggal di dusun tersebut.

Surat aturan di Dusun Karet BantulSurat aturan di Dusun Karet Bantul (Foto: Istimewa)

Warga asli Semarang, Jawa Tengah, yang sudah ber-KTP Yogyakarta ini menceritakan awalnya ia mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggal keluarga kecilnya. Akhirnya, bapak 2 anak ini menemukan iklan rumah kontrakan dari medsos.

Mengingat harga sewa rumah yang ditawarkan Rp 4 juta pertahun, Slamet pun menghubungi pengiklan rumah kontrakan tersebut. Setelah menghubungi dan tercapai kesepakatan, Slamet mulai memboyong barang-barang dari rumah kontrakan sebelumnya di Kota Yogyakarta ke rumah kontrakan barunya.

“Pindah ke sini (Dusun Karet) karena lebih luas dan harganya lebih murah. Terus hari Sabtu (30/3) saya mulai menempati rumah ini,” ujar Slamet saat ditemui di rumah kontrakannya, RT 08 Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul, Selasa (2/4).

“Sebelum menempati (rumah kontrakan) kita juga konfirmasi dulu kepada pemilik rumah dan yang mencarikan (rumah kontrakan) kalau saya nonmuslim, dan katanya (calo dan pemilik rumah kontrakan) tidak apa-apa non muslim,” imbuhnya.

Pria yang sudah 19 tahun berdomisili di Yogyakarta ini melanjutkan, karena perbedaan agama tidak dipermasalahkan, maka keesokan harinya, Minggu (31/3) Slamet menemui Ketua RT 08 Dusun Karet. Hal itu untuk meminta izin bahwa ia dan keluarganya menempati rumah kontrakan tersebut.

“Hari Minggunya saya menemui Pak RT (RT 08) untuk izin dan sekalian memberikan fotokopi KTP, KK, dan surat nikah. Tapi begitu dilihat (fotokopi KTP, KK, dan surat nikah) dan tahu kami nonmuslim maka kami ditolak (tinggal di rumah kontrakan) sama Pak RT,” ucapnya.

Karena penolakan tersebut, keesokan harinya, Senin (1/4) Slamet berupaya menemui Ketua Kampung setempat. Namun, upayanya tidak membuahkan hasil dan Slamet beserta keluarganya tetap ditolak untuk tinggal di RT 08, Dusun Karet, Desa Pleret, Bantul.

“Baru kali ini dan di tempat ini (Dusun Karet) saya mendapatkan penolakan hanya gara-gara nonmuslim, karena pas ngontrak di Kota (Yogyakarta) tidak masalah. Terus saya rasa ini ironis dan aneh ya, karena harusnya intoleransi seperti ini perlu dihindari supaya di mata nasional Yogyakarta dipandang baik,” kata Slamet.
(sip/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 Berita Hari Ini: Siswi SMP Jember Hilang Keperawanan Akibat Rayuan Miras

Liputan6.com, Jember – Top 3 berita hari ini mengungkap aksi pencabulan yang dilakukan seorang remaja putus sekolah (18) terhadap siswi SMP di Jember. Aksi bejat pelaku terungkap setelah korban mengaku telah ditiduri pria yang baru dikenalnya.

Oleh polisi, GN berhasil diciduk di rumahnya. Dari pengakuan pelaku, korban terlebih dulu diberi minuman keras agar mudah diajak untuk berhubungan badan. Perbuatan tersebut telah dilakukan GN sebanyak dua kali terhadap korban.

Sementara itu, kisah haru datang dari Provinsi Aceh. Seorang bapak menggantikan posisi anaknya di acara wisuda karena sang putri meninggal dunia akibat penyakit asam lambung.

Seperti teman-temanya di Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah, sejatinya saat itu Rina Muharami akan mengenakan atribut wisuda. Namun, Tuhan berkehendak lain. 

Bukhari tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari raut mukanya, terlebih saat Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin memeluk pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani.

“Itu (SKL, red) nanti kita simpan sebagai kenang-kenangan karena dari awal saya sudah menguliahkan almarhum. Seharusnya, dia yang pertama mendapat gelar sarjana di keluarga,” ujar Bukhari, kepada Liputan6.com.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini:

1. Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Foto: Dian Kurniawan/ Liputan6.com.

Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019.

Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya.

Selengkapnya…

2. Bikin Haru, Bapak di Aceh Diwisuda Gantikan Anaknya yang Meninggal Usai Skripsi

Bukhari lengkap dengan toga naik ke podium wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Kamis (27/2/2019). (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Di rumah Bukhari (57) tentu saja tidak terpajang foto Rina Muharami sedang mengenakan topi wisuda dan baju toga. Putrinya itu berpulang sebelum sempat mengenakan atribut wisuda.

Rina sejatinya ikut dalam barisan wisudawan dan wisudawati saat acara wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Rabu, 27 Februari 2019. Namun, Rina meninggal dunia tepat sehari setelah ia menyelesaikan sidang skripsi pada 24 Januari 2019 lalu.

Anak pertama pasangan Bukhari-Nur Bayani itu meninggal karena penyakit asam lambung yang dideritanya.

Bukhari tidak pernah menyangka, kiranya dia yang akan mewakili putrinya menjadi sarjana.

Selengkapnya…

 3. Kronologi Dugaan Penganiayaan oleh Bahar bin Smith Versi Dakwaan JPU

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). (Huyogo Simbolon)

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). Selain Bahar, dua rekannya yakni Agil Yahya dan Basit Iskandar yang berstatus terdakwa juga turut disidang.

Jaksa mengatakan, pada Senin, 26 Nopember 2018 saksi korban CAJ (18) diajak oleh rekannya MKU (17) untuk menemani mengisi acara di Seminyak, Bali. CAJ yang disuruh MHU mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith dalam acara tersebut.

Kemudian pada 1 Desember 2018 sekitar pukul 09.00 WIB, Bahar memerintahkan saksi Agil Yahya, untuk menemui Basid dan mengajak Habib Husein, Wiro, Keling (tersangka belum tertangkap) untuk membawa CAJ ke Pondok Pesantren Tajul Al Awiyin.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Liputan6.com, Jember – Dekadensi moral di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Usai kasus pencabulan siswi SMP hingga hamil di Kediri, kini muncul kasus serupa di Jember. Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Kapolsek Semboro, Iptu Fathur Rohman, Rabu (27/2/2019) kepada Liputan6.com mengatakan, kasus perkosaan dan persetubuhan dengan anak di bawah umur sebagai korbannya ini awalnya terungkap karena korban seharian tidak pulang. Korban berangkat sekolah Jumat pagi, 22 Februari 2019, tetapi hingga hari berganti korban belum pulang juga.

Keluarga korban yang kebingungan terus mencarinya. Kabar hilangnya korban juga sempat membuat heboh tetangga dan warga sekitar rumah. Baru pada Sabtu malam, 23 Februari 2019, korban pulang ke rumahnya.

“Saat ditanya, korban mengaku menginap di rumah salah seorang temannya. Karena curiga dengan perubahan tingkah laku anaknya, pihak keluarga mendesak supaya memberikan keterangan yang sebenarnya. Korban akhirnya mengaku sudah ditiduri pria yang baru dikenalnya,” kata Fathur.

Mendengar pengakuan itu, keesokan harinya, Minggu, 24 Februari 2019, keluarga korban langsung melaporkan kasus itu ke Mapolsek Semboro Kepolisian resort Jember. Berdasarkan laporan itu, polisi langsung menindaklanjuti dengan penyelidikan. Berdasarkan minimal dua alat bukti sesuai KUHAP, polisi akhirnya menetapkan GN sebagai tersangka.

“GN selama ini dikenal tetangganya sebagai siswa putus sekolah yang gemar meminum minuman keras hingga mabuk. Tersangka GN, akhirnya kami tangkap di rumahnya pada hari Minggu sekitar jam setengah enam sore,” ucapnya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019. Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya. 

Tersangka kemudian menyuguhkan miras oplosan. Selang satu jam kemudian tersangka mengajak dan menarik tangan korban untuk masuk ke kamar tidur. Tersangka membujuk korban untuk melakukan hubungan badan. Karena korban menolak, tersangka membuka paksa busana korban.

“Setelah melepas busananya dan selanjutnya saya meniduri korban. Setelah memakai baju dan celananya lagi, saya mengajak korban keluar dari kamar tidur dan duduk-duduk di ruang tamu. Saat itu masih menangis, kemudian saya antar pulang ke rumahnya. Perbuatan itu, terulang kedua kalinya, pada hari Selasa kemarin,” Fathur menjelaskan.

Fatur menambahkan, karena tersangka dan korban sama-sama masih di bawah umur, maka penanganan kasus tersebut dilimpahkan ke Unit perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember. Polisi menyita barang bukti yaitu satu buah kaus warna hitam tanpa kerah dengan motif mutiara bertuliskan pizza, milik korban. Satu buah celana panjang jenis kain jins warna biru muda, milik korban, satu buah celana dalam warna pink polos, dan bra.

Tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat (1), (2) Jungto pasal 76 D dan atau 82 ayat (1) Jungto 76 E, Undang-Undang Perlindungan anak, Nomor 35 Tahun 2014, perubahan atas Undang-Undang RI No 23 Tahun 2002, tentang tindak pidana setiap orang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya, dan atau setiap orang dilarang melakukan tipu muslihat melakukan serangkain kebohongan atau membujuk untuk melakukan persetubuhan dan atau perbuatan cabul.

“Tersangka terancam hukuman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda maksimal 5 miliar rupiah,” ujar Fatur. 


Simak juga video pilihan berikut ini:

Jalan Terjal Layanan Kesehatan di Perbatasan

Liputan6.com, Jakarta – Berbeda dengan kebanyakan daerah di Jawa, kondisi prasarana perhubungan di wilayah terluar Indonesia menjadi penentu mustahil atau tidaknya masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan. Tengoklah sebuah dusun di Desa Gunung Bulat, misalnya. Jalan akses satu-satunya menuju puskesmas terdekat belum beraspal. Bila hujan, jalan ini tak dapat dilalui.

Nita, Kepala Puskesmas Kecamatan Paloh, sudah “menjeritkan” rintangan ini. Nita, yang sudah bertugas enam tahun, menjelaskan parahnya jalan itu sangat dipengaruhi oleh lalu lalangnya kegiatan pengangkutan sawit.

Beban penggunaan yang tinggi tak dibarengi upaya pemeliharaan, baik pemerintah maupun perusahaan sawit mengabaikannya. Tiada pilihan lain, warga setempat terpaksa tidak bisa berobat ke puskesmas di musim penghujan.

Gunung Bulat adalah salah satu desa di Kecamatan Paloh, wilayah di ujung perbatasan darat Kabupaten Sambas dengan Malaysia. Di pucuk wilayah lain, Desa Temajuk, desa terluar di Kecamatan Paloh, situasinya jauh lebih rumit.

Kepala Puskesmas Temajuk Jumaini menceritakan kondisi puskesmas di desa itu tidak cukup memadai untuk melayani pasien dengan penyakit dan kondisi tertentu. Padahal bila warga hendak mengakses Puskesmas Kecamatan atau rumah sakit umum daerah, mereka harus berhadapan dengan Sungai Sumpit. Ketika surut, sungai ini tidak dapat diseberangi, orang harus menunggu air pasang.

Ada cara lain, sebetulnya, yaitu menggunakan kapal. Sayangnya jaringan sinyal di wilayah itu tak selalu bagus sehingga menghambat komunikasi warga dengan pihak dermaga di Pelabuhan Prigi Pigai–salah satu dermaga yang harus dilintasi untuk menuju ke kota–ketika membutuhkan feri untuk mengangkut pasien.

Dalam keadaan normal pun feri tak beroperasi 24 jam. Faktor lain yang memberatkan warga ialah pungutan Rp 300-400 ribu untuk setiap ambulans yang akan menyeberang menggunakan feri.

Yang paling terancam menghadapi kondisi serupa itu adalah pasien kritis atau pasien yang membutuhkan penanganan segera. Seorang aktivis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Kabupaten Sambas menginformasikan bahwa angka kelahiran di Desa Temajuk sangat tinggi.

Setiap bulan pasti ada yang melahirkan. Akibat kondisi jalan dan transportasi secara umum, sepanjang 2017 di desa itu tercatat tiga kasus ibu melahirkan di tengah jalan.

Tak mengherankan bila, misalnya, warga Kecamatan Paloh, khususnya di Desa Temajuk, juga kecamatan lain seperti Sajingan Besar, harus dilarikan ke Rumah Sakit di Kuching, Malaysia. Mahal biayanya, tentu saja. Tapi hal ini tetap terpaksa dilakukan karena waktu tempuhnya yang lebih pendek, sekitar setengah jam dari Sajingan dan tiga jam dari Paloh, ketimbang ke rumah sakit milik pemerintah daerah di pusat Kota Sambas.

Untuk menuju Rumah Sakit Sambas, warga harus menyeberangi dua sungai dengan feri dan menempuh jalur darat berlumpur hingga ke kota, memakan waktu normal sekitar enam jam dari Sajingan. Itu pun jika cuaca sedang tidak hujan. Sering warga tak bisa dirujukkan ke rumah sakit jika kondisinya hujan, karena ambulans tidak dapat melewati jalur berlumpur yang berat.

Pengaruh kondisi jalan itu sangat besar, khususnya untuk wilayah terdepan di Kabupaten Sambas, itu tadi, Kecamatan Sajingan Besar dan Kecamatan Paloh.

Dewi Anggraeni, seorang bidan desa, menuturkan betapa sulitnya penduduk desa-desa terjauh di Sajingan mengakses puskesmas kecamatan. Dari dua desa terjauh, Desa Sebunga dan Desa SeiBening, perjalanan menuju puskesmas memerlukan waktu antara 3-4 jam dalam cuaca normal. Kondisi jalan serta jarak kedua desa dengan puskesmas kecamatan menjadi sebab lamanya waktu tempuh itu.

Sebagai wilayah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, baik di darat maupun laut, Sambas berpenduduk sekitar setengah juta orang yang masalah kesehatannya kompleks. Rasio kemiskinan, 8,545 persen dari total populasi, ikut berkontribusi terhadap kondisi kesehatan.

Angka Kematian Bayi (2016: 113 kasus) dan Angka Kematian Ibu Melahirkan (2016: 12 kasus) masih cukup tinggi, bahkan ada sekitar 20 persen atau 2.696 ibu hamil yang diperiksa tergolong dalam kasus risiko tinggi/komplikasi yang membutuhkan rujukan.

Faktor penyebab yang paling dominan adalah keterbatasan akses pelayanan kesehatan, juga tingkat pendidikan dan kesadaran terhadap kesehatan reproduksi yang masih rendah. Hal ini sangat dipengaruhi oleh minimnya sumber daya keuangan yang dialokasikan untuk kesehatan.

Masalah lainnya berkaitan dengan ketersediaan akses layanan kesehatan, kurang cukupnya tenaga kesehatan, program-program sosial khususnya untuk kesehatan belum tepat sasaran, serta belum meratanya penunjang konektivitas bagi warga.

Alokasi anggaran kesehatan yang bersumber dari daerah juga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar layanan kesehatan. Proporsinya memang sudah lebih dari 10 persen dari total anggaran daerah, sekitar Rp250 miliar.

Tapi, melihat kondisi yang ada, angka ini belum cukup. Dan angka ini pun sebetulnya bersumber dari kucuran dana pusat serta provinsi. Untuk program afirmasi dalam bidang kesehatan di wilayah perbatasan ini, pemerintah pusat maupun provinsi sudah memberikan anggaran khusus. Masalahnya, jangkauannya belum sampai di seluruh desa di wilayah perbatasan.

2 dari 2 halaman

Tantangan-Tantangan

Kecamatan Paloh dan Kecamatan Sajingan Besar memang tergolong daerah di Sambas yang unit layanan kesehatannya masih jauh dari memadai. Kuantitas layanan kesehatan yang ada tak sebanding dengan jumlah penduduk yang harus dilayani, yang tersebar di wilayah yang sangat luas.

Keberadaan rumah sakit baru ada di ibu kota kabupaten tak sepenuhnya membantu, sebab penduduk di perbatasan harus menempuh waktu lebih dari 10 jam untuk bisa memanfaatkannya. Hal ini juga diperparah oleh pasokan aliran listrik yang tidak menyala 24 jam. Tenaga kesehatannya pun masih sangat jauh dari cukup.

Program-program sosial yang berkaitan dengan kesehatan pun, misalnya Kartu Indonesia Sehat (KIS), banyak yang belum tepat sasaran. Tertibnya identitas warga menjadi salah satu persoalan dasar untuk mendapatkan KIS. Di daerah perbatasan masih banyak warga tak mampu yang tidak mendapatkan jaminan kesehatan gratis, karena tidak memiliki KTP elektronik maupun kartu keluarga.

Tantangan lain yang sangat mempengaruhi layanan kesehatan di wilayah perbatasan ini adalah belum meratanya akses infrastruktur jalan, jembatan yang melewati sungai besar, dan jaringan sinyal.

Di Temajuk, desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia, untuk merujuk pasien, petugas puskesmas harus melakukan perjalanan lebih dari 10 jam, karena mesti melewati jalan ratusan kilometer yang masih berlumpur dan menyeberangi dua sungai dengan menggunakan feri. Mengakses informasi kesehatan juga sangat sulit karena jaringan telepon yang terbatas.


Simak video pilihan berikut ini:

Ayo Ramai-Ramai Menjaga Rinjani dari Ulah Setan Pembakar Lahan

Liputan6.com, Mataram – Ancaman kebakaran hutan selalu mengintai kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pada musim kemarau, kobaran api bisa tiba-tiba muncul menghanguskan sabana dan pepohonan di pegunungan yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Hampir setiap tahun, api menghanguskan sebagian kawasan sabana dan pepohonan besar di atas gunug tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Pulau Sumatera dengan ketinggian 3.805 mdpl.

Meskipun demikian, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi NTB selama ini, termasuk di kawasan Gunung Rinjani, tidak separah di provinsi lainnya yang menyebabkan terjadinya kabut asap.

Data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), ratusan hektare sabana hangus terbakar. Api membakar kawasan yang didominasi rumput ilalang pada 19 September 2015. Kejadian sejak siang hari tersebut berlangsung hingga beberapa hari lamanya, dilansir Antara.

Peristiwa serupa juga terjadi pada 9 Oktober 2017. Api membakar rumput ilalang dan pohon cemara saat panas tering matahari. Api begitu cepat menjalar ke segala penjuru kawasan TNGR. Total luas kawasan yang terbakar mencapai puluhan hektare.

Bahkan, kobaran api sempat mengarah ke pemukiman penduduk Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, yang posisinya berada di kaki Gunung Rinjani. Namun, petugas berhasil mencegahnya.

Perjuangan memadamkan api yang dilakukan petugas taman nasional bersama TNI-Polri dibantu warga lokal juga terjadi pada Juni 2018. Sekitar 20 hektare sabana hangus menjadi abu setelah terbakar api beberapa jam lamanya.

Menurut Kepala BTNGR Sudiyono, upaya memadamkan api di dalam kawasan Gunung Rinjani, relatif sulit. Pasalnya, lahan yang terbakar berada pada kemiringan yang sulit dijangkau oleh petugas.

Pemadaman api dilakukan dengan menyiramkan air menggunakan alat penyemprot sederhana (jet sutter). Pasokan air dibawa menggunakan mobil tangki ke dalam kawasan yang masih memungkinkan untuk masuk kendaraan roda empat.

BTNGR memiliki dua mobil tangki air untuk memadamkan api dan membantu penyiraman material longsor yang menutup badan jalan di sekitar lingkar Gunung Rinjani.

Namun, upaya pemadaman api menggunakan peralatan semprot terkadang menemui hambatan jika lokasi api jauh dari tempat parkir mobil tangki. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya sumber mata air di sekitar lokasi kebakaran.

Dalam kondisi demikian, upaya pemadaman dilakukan secara tradisional (gepyok) agar api tidak meluas. Petugas bersama warga memukul kobaran api yang membakar rerumputan dengan “gepyok” yang terbuat dari ranting pepohonan basah.

2 dari 3 halaman

Ulah Manusia

Setiap peristiwa kebakaran di dalam hutan Gunung Rinjani, selalu muncul dugaan terjadi akibat pembakaran lahan kebun di sekitar kawasan.

Ada juga dugaan disebabkan ulah manusia yang membuang puntung rokok ke areal sabana. Api akhirnya berkobar karena rerumputan yang kering mudah terbakar meskipun hanya terkena api dari puntung rokok.

Kebakaran seperti itu sering terjadi ketika musim pendakian. Rata-rata jumlah pendaki mencapai 2.000-an orang per hari. Namun, belum pernah ada warga yang diproses hukum. Pasalnya, pihak berwenang kesulitan mendapatkan bukti-bukti kuat, meskipun penyebab kebakaran diduga kuat karena perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kebakaran Permukaan Menurut Sudiyono, kebakaran di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani masih tergolong kebakaran permukaan karena hanya membakar rerumputan kering.

Berbeda dengan di Kalimantan dan Sumatera tergolong kebakaran bawah karena menghanguskan lahan gambut.

Kebakaran permukaan memang tidak begitu berdampak besar terhadap habitat satwa. Pasalnya, hewan-hewan berukuran besar memiliki insting menyelamatkan diri ke kawasan yang ditumbuhi pepohonan besar ketika terjadi kebakaran padang rumput.

Namun, hal yang paling diantisipasi adalah kebakaran bawah menjadi kebakaran atas, yakni terbakarnya pepohonan hingga kobaran api menjulang tinggi.

Hal itu bisa terjadi jika api yang membakar padang rumput dibiarkan menjalar ke dalam kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan.

Apalagi, hal itu tidak ditangani serius. Kobaran api juga bisa merembet ke pemukiman padat penduduk yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani, khususnya desa-desa di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Aktivitas pendakian sudah ditutup sejak terjadinya rentetan gempa bumi dengan magnitudo 6-7 Skala Richter (SR) yang terjadi pada 29 Juli hingga sepanjang Agustus 2018. Untuk sementara, tidak ada manusia yang naik gunung hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sepinya para pendaki tentu berpengaruh terhadap kecilnya potensi kebakaran akibat ulah pendaki yang membuang puntung rokok sembarangan di dalam kawasan sabana.

Namun, hal yang paling dikhawatirkan adalah pembakaran lahan kebun oleh warga tanpa memperhatikan bahaya yang bisa ditimbulkan. Jika aktivitas tersebut tidak dikontrol, api bisa merembet ke dalam kawasan taman nasional yang jaraknya dekat dengan lahan milik warga.

3 dari 3 halaman

Sosialisasi Bahaya Pembakaran Lahan

Untuk mencegah terjadinya kebakaran hebat, BTNGR terus menerus melakukan sosialisasi bahaya pembakaran lahan kepada masyarakat di 38 desa lingkar Gunung Rinjani.

Sosialisasi dilakukan oleh petugas yang tersebar di Resor Sembalun dan Joben, Kabupaten Lombok Timur, dan Resor Setiling di Kabupaten Lombok Tengah, serta Resor Senaru, Kabupaten Lombok Utara.

Pihaknya juga terus mengaktifkan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka selalu siap siaga dan cepat melapor kepada pihak berwenang ketika terjadi kebakaran di dalam kawasan hutan.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II BTNGR, Benedictus Rio Wibawanto, menyebutkan jumlah anggota MPA 90 orang. Mereka tersebar di Resor Sembalun 30 orang, Resor Senaru 30 orang, dan gabungan Resor Setiling-Joben 30 orang.

Ada juga Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). Mereka adalah kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu polisi hutan (polhut) dalam pelaksanaan perlindungan hutan di bawah koordinasi, pembinaan, dan pengawasan instansi pembina.

Anggota MMP lingkar Gunung Rinjani berjumlah 136 orang yang tersebar di empat resor di wilayah kerja BTNGR. Mereka berasal dari berbagai unsur, seperti kepala dusun, guru, dan ibu rumah tangga yang sukarela dan ikhlas membantu menjaga kelestarian kawasan hutan.

BTNGR sebagai instansi vertikal di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) juga membentuk kader konservasi. Mereka berasal dari semua kalangan, seperti guru, pecinta alam, anggota pramuka, dan ibu rumah tangga.

Seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap upaya menjaga Gunung Rinjani sudah pernah mendapatkan pelatihan, khususnya tentang teknis pemadaman api.

Materi tersebut diberikan oleh petugas khusus yang ahli memadamkan kebakaran hutan maupun melakukan pencarian dan pertolongan.

BTNGR memiliki dua petugas khusus yang tergabung dalam Satuan Manggala Agni Reaksi Taktis (SMART). Wadah tersebut dibentuk oleh Kementerian LHK dalam rangka menurunkan angka titik panas secara nasional pada 2010.

Pada awal musim kemarau setiap tahun, para pihak terkait dan masyarakat berkumpul dalam suatu apel siaga kebakaran hutan bersama anggota TNI-Polri. Khusus untuk anggota MPA yang terlibat dalam upaya pemadaman api diberikan apresiasi, meskipun nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan tugas yang harus dijalankan.

Bahkan, mereka harus menahan haus dan bercucuran keringat karena terbatasnya air bersih untuk diminum ketika berhadapan dengan api.

Semua yang terlibat dalam proses pemadaman api di dalam kawasan Taman Nsional Gunung Rinjani ibaratnya “Pantang pulang sebelum api padam”.

Mereka rela berhari-hari di atas gunung mendirikan kemah pos, sampai api benar-benar tidak menyala lagi.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Hujan Es Landa Lombok Tengah, Begini Penjelasan BMKG

Lombok – Hujan es terjadi di Dusun Tapon Barat, Desa Bilebante, Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Fenomena langka itu terjadi setelah hujan deras sekitar pukul 16.00 Wita.

“Iya, benar sekali, fenomena tersebut adalah fenomena hujan es,” kata Prakirawan Cuaca BMKG Bandara Internasional Lombok, Levi Ratnasari saat dikonfirmasi, Minggu (24/2/2019).

Levi menjelaskan fenomena hujan es itu terjadi karena adanya aktivitas awan konvektif yakni awan cumulonimbus yang tumbuh akibat proses pemanasan yang kuat di daratan. Hujan es juga bisa terjadi kapan saja.
Lebih jauh Levi menjelaskan pantauan citra satelit akan adanya indikasi hujan es di suatu wilayah seperti yang terjadi di Dusun Tapon Barat Desa Bilebante. Satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah akibat adanya radiasi matahari yang cukup kuat.
Mulai pukul 10.00 Wita juga terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis). Di antara awan tersebut, kata Levi, ada satu jenis awan yang batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Pada tahap berikutnya awan tersebut cepat berubah warna menjadi abu-abu atau hitam. Awan tersebut yang dikenal sebagai awan Cumulonimbus.

“Masyarakat tidak perlu khawatir dengan terjadinya fenomena tersebut namun perlu waspada dan mengatisipasi jika ada indikasi terjadinya fenomena cuaca seperti hujan es angin kencang hingga puting beliung,” ujarnya.
(mae/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Angin Ribut Bikin Porak-poranda Desa di Temanggung

Liputan6.com, Temanggung – Puluhan rumah di Desa Gondosuli, Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengalami rusak ringan dan berat setelah diterjang angin ribut.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi mengatakan, angin ribut menyapu puluhan rumah di Desa Gondosuli sekitar pukul 13.15 WIB.

Berdasarkan data sementara, katanya, sedikitnya 35 rumah rusak tersebar di tiga dusun, yakni Pasuruhan, Purwosari, dan Gondosuli. Tiga rumah rusak berat di Dusun Purwosari, akibat kejadian itu.

Begitu mendapat laporan, pihaknya langsung menerjunkan tim ke lapangan dengan dibantu para relawan. “Upaya yang kami lakukan adalah asesmen, kami hitung berapa rumah yang rusak dan kerugiannya, nanti akan diberikan bantuan untuk perbaikan,” katanya, Minggu (24/2/2019).

Menurut dia kerugian yang ditimbulkan akibat bencana itu ditaksir ratusan juta rupiah. Tiga rumah yang mengalami rusak berat diperkirakan masing-masing mengalami kerugian sekitar Rp25 juta, sedangkan 32 rumah lainnya mengalami rusak ringan, nilai kerugian diperkirakan tidak sampai Rp10 juta.

“Tak ada korban jiwa atau luka, hanya tadi satu mobil rusak berat, tertimpa atap garasi yang roboh,” katanya dilansir Antara.

Salah satu rumah rusak berat milik Heryanto (35), warga Dusun Purowosari, Desa Gondosuli, atapnya hilang terbawa angin ribut.

“Kejadiannya cepat sekali, sekitar lima menit. Atap rumah saya sudah terbang semua dibawa angin. Bahkan, satu tiang di teras juga turut roboh,” katanya.

Diceritakan, sekitar pukul 13.15 WIB, saat hujan turun, dia sedang menonton televisi bersama anak-anak dan istrinya di ruang keluarga. Tiba-tiba ada angin kencang.

“Atap rumah yang mayoritas terdiri atas seng beterbangan bersama sebagian kayu penyangganya dan tiang teras roboh. Akibat kejadian ini, untuk sementara kami harus mengungsi ke rumah saudara,” katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Hujan Es Turun di Lombok

Liputan6.com, Lombok – Warga Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat dihebohkan dengan hujan es yang terjadi pada Minggu, sekitar pukul 17.20 Wita.

Prakirawan Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Lombok Praya Levi Ratnasari menjelaskan, hujan es di Dusun Tapo Barat, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata tersebut, disebabkan aktivitas dari awan konvektif, yakni awan cumulonimbus.

“Awan tersebut tumbuh akibat adanya proses pemanasan yang kuat di daratan. Kondisi tersebut terpantau dari citra radar kami,” katanya, Minggu (24/2/2019) dilansir Antara.

Menurut Levi, hujan es dapat terjadi kapan saja karena beberapa indikasi, yakni satu hari sebelumnya udara pada malam hingga pagi hari terasa panas dan gerah. Kondisi tersebut akibat adanya radiasi matahari yang cukup kuat.

Selain itu, mulai pukul 10.00 terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis-lapis).

Di antara awan tersebut, ada satu jenis awan yang batas tepinya jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Tahap berikutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal sebagai awan cumulonimbus.

Di pepohonan di sekitar tempat manusia berdiri, ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat. Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat berdiri.

Ia menambahkan biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis, kejadian angin kencang jauh dari lokasi pemukiman penduduk.

“Jika 1-3 hari berturut-turut, tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/hujan, ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang. Baik yang masuk kategori puting beliung maupun yang tidak,” katanya.

Pada kondisi cuaca ekstrem tersebut, kata dia, masyarakat tidak perlu khawatir, namun perlu tetap waspada dan mengatisipasi jika ada indikasi terjadinya fenomena cuaca, seperti hujan es, angin kencang, hingga puting beliung.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Merenung Arti Pagi Saat Berkemah di Tahura Nuraksa

Liputan6.com, Lombok – Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, ternyata banyak menyimpan keindahan alam yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan.

Salah satunya, keindahan alam yang kini dikelola UPT dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, yakni kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa. Ucapan syukur sambil menyelami arti pagi bisa jadi kegiatan religi saat berkemah.

Kawasan tahura yang sudah dikukuhkan sejak Tahun 2013 itu berada di Dusun Kumbi, daerah pedalaman dari Desa Pakuan, Kabupaten Lombok Barat, NTB.

Dengan konsep bentangan alam yang mempertahankan fungsi hutannya, destinasi wisata ini sangat cocok bagi wisatawan yang gemar dengan kegiatan “outdoor adventure”.

“Untuk yang hobi hiking, berkemah, itu cocok di sini. Areal perkemahan dan rute untuk hiking juga sudah ada,” kata seorang pemandu wisata yang berasal dari Desa Pakuan, Eka dilansir Antara.

Kemudian bagaimana akses untuk menuju destinasi wisata yang satu ini, Eka mengatakannya tidak sulit untuk ditempuh dengan berkendara.

“Jalannya ke sini sudah lumayan bagus, akses untuk mobil sudah bisa,” ujarnya.

Dengan berkendara sekitar setengah jam dari Kota Mataram, wisatawan sudah bisa bertemu dengan gerbang Tahura Nuraksa.

Jika mengenal kawasan wisata Hutan Sesaot, jalur ke Tahura Nuraksa dapat ditempuh dengan berkendara sekitar sepuluh menit ke arah Timur.

Melewati perkampungan warga pesisir hutan, akses jalan untuk kendaraan roda empat terbuka lebar hingga masuk ke halaman lapang yang ada di kawasan Tahura Nuraksa.

Ikon wisata Dengan luas kawasan 3.155 hektare, ternyata di dalam Tahura Nuraksa ini tersembunyi sebuah destinasi wisata alam yang cukup menarik untuk dikunjungi wisatawan, yakni air terjun Segenter.

“Kalau dari gerbang masuk, jarak tempuh ke air terjun sekitar 2,6 kilometer,” ujar pria yang pernah bertugas sebagai pengaman hutan (pamhut) tersebut.

Saksikan video pilihan berikut ini: