Terungkap Fakta Aksi Pembunuhan oleh Dosen UNM, Berawal dari Tersinggung

“Motif pelaku membunuh korban hanya karena emosi sesaat yang dilampiaskan pelaku secara tidak terkontrol akibat ketersinggungan pelaku pada korban. Pelaku tidak mengakui adanya hubungan asmara dengan korban. Keduanya hanya rekan kerja. Di hasil sementara otopsi juga, tidak ditemukan tanda-tanda kehamilan,” ungkap AKBP Shinto Silitonga di Mapolres Gowa, Minggu, (24/3/2019).

Dengan sejumlah temuan, fakta pembunuhan istri seorang pejabat di Makassar tersebut secara pelan-pelan terungkap. Tersangka WJ yang tadinya hanya sebagai saksi, kemudian menceritakan kronologi dirinya menghabisi nyawa rekan kerjanya itu, setelah bukti-bukti ditemukan.

Menurut AKBP Shinto, kematian SZ bukan disebabkan oleh jerat sabuk pengaman di lehernya. Namun, hasil dari pelaksanaan otopsi justru menemukan tanda kekerasan benda tumpul pada kepala bagian tengah belakang.

Karena pukulan yang cukup keras tersebut, tulang leher korban patah dan berakibat pada terhambatnya saluran pernafasan. Selain itu, ditemukan pula memar pada pipi kiri dan paha kanan yang menunjukkan bahwa tersangka sebelumnya memukuli korban terlebih dahulu.

Dosen UNM Pembunuh Wanita Berjilbab Resmi Ditahan

Jakarta – Dosen UNM, Wahyu Jayadi, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Gowa terkait pembunuhan wanita berjilbab di dalam mobil. Wahyu resmi ditahan polisi dan hingga kini belum didampingi pengacara.

“Kewajiban kami untuk memeriksa terlebih dahulu tersangka dengan pendampingan dari penasihat hukum,” kata Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga kepada detikcom, Minggu (24/3/2019).

Namun, kata Shinto, hingga pagi ini belum ada pengacara yang datang untuk mendampingi WJ dalam pemeriksaan.

“Sampai kemarin belum ada. Pagi ini kami menanti, jika tidak disediakan tersangka maka kewajiban penyidik untuk menunjuk PH,” sebut dia.

Shinto mengatakan Wahyu ditetapkan sebagai tersangka usai gelar perkara yang dilakukan sejak Sabtu (23/3) kemarin, sekitar pukul 21.30 Wita, hingga Minggu dini hari tadi. Gelar perkara ini juga diikuti oleh Tim Kedokteran Forensik dan Tim Inafis Polda Sulsel.

“Sesuai dengan hukum acara pidana, maka tersangka WJ dapat dilakukan pemeriksaan setelah ada pendampingan dari penasehat hukum yang ditunjuk,” tegas dia.

Ditambahkannya, pihaknya melakukan pendekatan Scientific Criminal Investigation dalam mengungkap kasus ini. Sehingga pihaknya tidak membutuhkan pengakuan dari tersangka karena bukti bukti ilmiah yang sudah dikumpulkan tim telah dapat ditampilkan secara meyakinkan kepada penyidik.

“Sebab kematian dan waktu kematian korban secara pasti masih menunggu hasil outopsi dari tim kedokteran forensik polda sulsel namun luka serius yang dialami korban terdapat pada bagian kepala belakang dan pada bagian leher,” kata dia.

(fiq/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Mendalami Motif Pembunuhan Istri Pejabat Sulsel oleh Dosen di Makassar

Liputan6.com, Gowa – Polisi bergerak cepat mengungkap kasus pembunuhan istri pejabat Sulsel, Zulaeha. Korban ditemukan tewas terlilit sabuk pengaman di lehernya di dalam mobil di depan gudang BTN Sarindah di Dusun Japing, Desa Sunggumanai, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Sulawesi Selatan, pada Jumat (22/3/2019) pagi sekitar pukul 08.30 Wita.

Pelakunya adalah rekan Zulaeha di tempat ia bekerja. Dia adalah Wahyu Jayadi, dosen Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Makassar.

“Ya, sudah kita amankan, dia adalah Doktor Wahyu Jayadi M.Pd. Dosen sekaligus kepala unit KKN di Universitas Negeri Makassar,” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, Sabtu (23/3/2019).

Wahyu Jayadi tak lain adalah kerabat Zulaeha. Pria berusia 44 tahun ini tidak terima lantaran Zulaeha terlalu jauh mengurusi urusan pribadinya hingga akhirnya ia nekat membunuh Zulaeha.

“Pelaku merasa tidak terima dengan perlakuan korban yang selama ini sudah dianggap sebagai keluarga, yang dimana korban tersebut sudah terlalu jauh ikut campur terhadap masalah pekerjaan dan masalah pribadi pelaku,” jelas Dicky.

Karena persoalan itulah kemudian Wahyu Jayadi membunuh Zulaeha. Lalu membuat pembunuhan itu seolah-olah menjadi kasus perampokan.

“Pelaku ini memang terlebih dahulu membunuh korban. Lalu membawanya ke depan gudang itu lalu memecah kaca mobil, agar seolah itu adalah kasus perampokan,” Dicky menyebutkan.

Hasil penyelidikan polisi, pelaku pembunuhan itu mengerucut ke satu nama, yakni Wahyu Jayadi. “Kita curiga kalau ini bukan pembunuhan karena tidak ada barang korban yang hilang,” sambung Dicky.

Polisi: Pembunuh Wanita Berjilbab dalam Mobil Adalah Dosen UNM

MakassarPembunuh wanita berjilbab dalam mobil di Gowa Sulaiha Djafar, W, merupakan teman sekantor korban. Pelaku tercatat sebagai dosen Universitas Negeri Makassar (UNM).

“Yang kami amankan adalah WJ atau Wahyu Jayadi. Dia dosen di UNM,” kata Kepala Humas Polres Gowa AKP Tambunan saat dimintai konfirmasi detikcom, Sabtu (23/3/2019).

Pelaku WJ merupakan dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Makassar (UNM). Tidak hanya itu, WJ juga mengepalai sebuah unit lembaga di kampus tersebut.
Pada halaman website UNM yang dikunjungi detikcom, terlihat nama lengkap pelaku adalah Dr Wahyu Jayadi, SPd, MPd, dan beralamat di Makassar.

“Yang diamankan ini teman dekatnya. Teman kerjanya,” ujar Tambunan.

Sementara itu, Dir Krimum Polda Sulsel Kombes Pol Indra Jaya mengatakan pelaku diamankan di RS Bhayangkara Polda Sulsel saat hendak melayat jenazah korban bersama pegawai UNM lainnya.

“Pada saat pelaku datang ke tempat tersebut dengan tujuan untuk melihat jasad korban di rumah sakit,” ungkapnya.

Jenazah Sulaiha ditemukan warga Dusun Japing, Desa Sunggumanai, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, dalam sebuah mobil berwarna biru, Jumat (22/3), sekitar pukul 08.00 Wita. Saat ditemukan, leher mayat tersebut tersangkut sabuk pengaman. Sedangkan dompet dan uang Sulaiha masih utuh. Sulaiha diketahui sebagai istri pejabat Dinas Kehutanan Pemkab Barru dan memiliki 3 anak.

“Penyebab kematian tidak wajar dugaannya pembunuhan,” ujar Kepala RS Bhayangkara Makassar, Kombes Farid Amansyah, Jumat (22/3).
(aan/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dosen Bercadar IAIN Bukit Tinggi Mengadu ke Komnas HAM

Liputan6.com, Jakarta – Dosen Bercadar IAIN Bukittinggi Sumatera Barat, Hayati Syafri mendatangi Komnas HAM. Ia mengadukan dugaan diskriminasi dan pelanggaran HAM.

Saat tiba di Komnas HAM, Hayati tampak didampingi pengacaranya dari Pusat Advokasi Hukum dan HAM (PAHAM) Indonesia. Hayati dan pengacaranya kemudian diterima oleh Kepala Biro Dukungan Penagakan HAM Komnas HAM, Kristanto.

Kepada Kristanto, Hayati mejelaskan bahwa dirinya mendapat intimidasi dari pihak kampus dan diminta untuk melepaskan cadar karena dianggap melanggar Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, sumpah PNS dan nama baik kampus.

Namun, Hayati menolak permintaan tersebut. Ketua tim advokasi Hayati, Busyra dalam siaran persnya mengatakan bahwa konsekuensi dari penolakan itu membuat Hayati dinonaktifkan.

“Penolakan Hayati untuk melepaskan cadar mengakibatkan beliau dinonaktifkan dari kegiatan kampus dan berlanjut pada pemberhentiannya sebagai PNS,” kata Busyra dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Jum’at (8/3/2019).

Hayati kemudian juga menyampaikan bahwa cadar yang dipakainya bersama beberapa mahasiswi lainnya adalah murni sebagai bentuk pelaksanaan ajaran Islam.

“Pendapat ini juga diamini K.H Arwani Faishol dari komisi fatwa MUI yang diperoleh pada saat silaturahim dan kunjungan Ke MUI Pusat,” ungkap Busyra.

Menurut Busyra, Indonesia sebagai negara hukum telah menjamin kebebasan beragama dan beribadah bagi warganya, sebagaimana yang tertuag dalam UUD 1945. Pelarangan penggunaan cadar, kata dia, merupakan bentuk penyimpangan dan bertentangan dengan konstitusi negara.

“Apalagi jika cadar dikatakan sebagai simbol radikalisme dan anti NKRI,” terangnya.

Aliansi Dosen UNJ Datangi Mabes Polri Jenguk Robertus Robet

Jakarta – Aliansi Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk Kebebasan Demokrasi mendatangi Mabes Polri untuk melihat langsung kondisi Robertus Robet yang tengah menjalani pemeriksaan kasus ujaran kebencian. Robet diketahui dalam kondisi sehat namun sedikit kelelahan.

“Pak Robet kondisinya baik-baik saja. Sehat. Tadi jam 10 kurang saya ketemu dengan dia, salaman sebentar, say hello. Dan saya memberikan support moral, saya bilang ‘baik-baik aja, mudah-mudahan nggak ada masalah. Dan saya menyampaikan kondisi beliau sehat, hanya sedikit kelelahan karena beliau, dia maraton diperiksa dari pagi hari, sampai tadi pagi,” kata perwakilan Aliansi Dosen UNJ, Rakhmat Hidayat di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (7/3/2019).

Robet didampingi tim pengacaranya di luar ruang penyidikan. Rakhmat mengatakan Robet juga diberikan jeda waktu untuk beristirahat sebelum penyidikan dilanjutkan.
“Didampingi oleh 5 tim pengacara, tapi pengacaranya di luar ya. Pak Robet di dalam ruangan bersama penyidik-penyidik. Jadi biasa sih kalau ini nanti dikasih jeda jam 12 break, tadi pagi juga setengah jam break. Tapi intinya sih kondisinya sehat-sehat saja, cuma sedikit lelah,” ujarnya.

Robertus Robet.Robertus Robet. Foto: Istimewa

Rakhmat hari ini mendatangi Mabes Polri bersama 10 orang rekannya sesama dosen UNJ serta beberapa orang dosen dari Universitas Indonesia (UI) yang juga sebagai rekan satu almamater Robet. Kehadiran mereka untuk memberikan dukungan moral kepada Robet.

“Saya dari UNJ, dari Aliansi Dosen UNJ untuk Kebebasan Demokrasi, sebagai bentuk dukungan moral ke saudara Robet. Karena dia sama-sama satu kantor dengan kami, satu kolega dengan kami. Jadi ya ini bentuk solidaritas lah, perjuangan sahabat ke kolega lah,” jelasnya.

Sebelumnya, Robertus Robet ditetapkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian. Robet diduga melakukan penghinaan terhadap TNI ketika memplesetkan mars ABRI saat aksi Kamisan di depan Istana.

Robet diduga melanggar Pasal 45 A ayat (2) Jo 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP terkait tindak pidana menyebarkan informasi yang ditunjukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), dan/atau Berita bohong (hoax), dan/atau penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia.
(azr/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang Putrinya

Jakarta – Cerita pilu seorang ayah yang menggantikan mendiang putrinya untuk menghadiri wisuda jadi viral dan membuat banyak orang terharu. Begini cerita lengkapnya.

Ayah itu bernama Bukhari (59). Pada 5 Februari 2019 lalu, Bukhari kehilangan putri sulungnya, Rina Muharrammi yang meninggal karena sakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf. Sebelumnya, Rina sakit beberapa hari menjelang sidang. Sempat dibawa ke RS, mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry 3 kali gagal sidang karena sakit.

Hingga akhirnya, Rina sidang skripsi pada 24 Januari 2019. Dua hari setelahnya, Rina kembali sakit hingga akhirnya dirawat di Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh. Rina koma selama tiga hari sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir 13 hari setelah menjalani sidang.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Almarhumah Rina yang digantikan ayah saat wisuda (Dok. Keluarga)

Pada Rabu (27/2) pagi-pagi, Bukhari menerima telepon dari salah satu dosen UIN Ar-Raniry. Dia diminta datang ke kampus lebih cepat karena tidak ada undangan layaknya orang tua lain. Bukhari diminta untuk ikut mengambil ijazah mendiang Rina.

Saat mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah dipanggil, Bukhari ikut maju. Pria berusia 59 tahun itu ikut berbaris bersama wisudawan lainnya untuk naik ke panggung. Saat wisudawan lainnya bertoga, Bukhari memakai kemeja lengan panjang dan peci. Dia lalu menerima ijazah Rina lalu bersalaman dengan rektor dan dekan di atas panggung.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Ayah gantikan almarhumah anak saat wisuda (Dok. UIN Ar-Raniry)

Air mata Bukhari menetes saat dipeluk oleh rektor dan diminta untuk sabar. Usai menerima ijazah, Bukhari makin tak bisa membendung tangisnya terlebih kala melihat semua orang menangis.

Ketika wisuda selesai, suasana haru kembali terjadi. Bukhari yang datang ke UIN bersama adik Rina ingin mengabadikan momen wisuda dengan kamera. Biasanya orang tua berfoto dengan anak-anaknya. Pada akhirnya, Bukhari mengajak wisudawan lain yang merupakan teman Rina untuk berfoto sambil membawa ijazah mendiang anaknya.

Seketika, sang juru foto mengabadikan momen. Setelah itu, Bukhari pulang ke rumah dengan mata sembab.

Di mata Bukhary, Rina adalah sosok yang tidak pernah membebani orang tua. Bahkan, dia menerima berapa saja uang jajan yang diberikan. Semasa hidupnya, Rina adalah anak yang cerdas dan selalu juara kelas.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Ayah yang gantikan almarhumah putrinya saat wisuda (Agus Setyadi/detikcom)

Kisah Bukhari dan almarhumah Rina jadi viral setelah videonya diunggah oleh akun media sosial UIN Ar-Raniry. Netizen terharu lalu memberi pujian serta mendoakan almarhumah Rina.

Alfatihah untuk Rina….
(imk/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kisah Pilu Ayah Gantikan Wisuda Almarhumah Anak: Dia 3 Kali Gagal Sidang

Jakarta – Kisah seorang ayah menggantikan almarhumah putrinya yang wisuda di UIN Ar-Raniry, Aceh viral dan membuat haru. Sang ayah, Bukhari, dengan tegar mengambil ijazah Rina Muharrami. Bukhari menuturkan momen itu.

Bukhari berkisah, pada saat wisuda digelar pada Rabu (27/2/2019) kemarin, dirinya pagi-pagi dihubungi seorang dosen. Dia diminta datang ke kampus lebih cepat karena tidak ada undangan layaknya orang tua lain.

Tiba di UIN Ar-Raniry, Bukhari bertemu sang dosen. Dia ditemani masuk ke tempat wisuda dan bergabung bersama tamu undangan lain.

“Waktu itu bapak dosen itu sudah bilang agar saya mengambil ijazah Rina. Menurut beliau sayang kan ijazah tidak diambil,” kata Bukhari dengan mata berkaca-kaca saat ditemui rumah duka di Desa Cut Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh, Kamis (28/2).

Jelang prosesi wisuda digelar, Bukhari kembali diberi tahu tata caranya. Saat mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah dipanggil, Bukhari ikut maju.

Pria berusia 59 tahun itu ikut berbaris bersama wisudawan lainnya untuk naik ke panggung. Saat wisudawan lainnya bertoga, Bukhari memakai kemeja lengan panjang dan peci. Dia lalu menerima ijazah Rina lalu bersalaman dengan rektor dan dekan di atas panggung. Bukhari juga dipeluk lalu mendekap erat ijazah putrinya itu dan turun dari panggung.

“Saat bersalaman itu, pak Rektor bilang ‘sabar pak, sabar’. Itu yang membuat saya haru sampai keluar air mata,” jelas pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan tersebut.

Usai menerima ijazah, air mata Bukhari tak terbendung terlebih kala melihat semua orang menangis. Bukhari sempat minta langsung pulang, tapi dicegah.

Kisah Pilu Ayah Gantikan Wisuda Almarhumah Anak: Dia 3 Kali Gagal SidangFoto: Ayah gantikan almarhumah anak saat wisuda (Dok. UIN Ar-Raniry)

Menurut Bukhari, putrinya Rina mulai mengalami sakit beberapa hari menjelang sidang. Putri sulungnya dibawa ke rumah sakit oleh teman-teman kampusnya karena tiba-tiba demam.

Beberapa jam di rumah sakit Zainal Abidin Banda Aceh, dia dibolehkan pulang. Esok harinya, Rina kembali kuliah seperti biasa.

“Rina tiga kali gagal sidang karena sakit dan akhirnya dia sidang pada tanggal 24 Januari. Dua hari usai sidang, dia kembali sakit dirawat di Puskesmas Blang Bintang karena kembali demam,” ungkap Bukhari.

Empat malam dirawat di rumah Puskesmas, dokter membolehkannya pulang. Namun tiba di rumah, kondisi Rina agak berlainan. Malam itu, dia sudah tidak tidur.

Pihak keluarga membawa Rina ke Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh. Usai diinfus, Rina koma selama tiga hari sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Selasa 5 Februari pagi.

“Hasil diagnosa dokter dia menderita tipes. Tapi menurut dokter penyakitnya diperparah karena Rina beban sehingga menyerang otaknya,” beber Bukhari.

“Selama hidup, dia anak cerdas dan tidak pernah membebankan orang tua. Dia gak pernah mengeluh,” ungkap Bukhari didampingi istrinya Nur Bayani (48).
(agse/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

[Cek Fakta] Viral Dosen Dipecat Karena Pakai Cadar, Faktanya?

Liputan6.com, Jakarta – Seorang dosen di IAIN Bukuttinggi Hayati Syafri diberhentikan dari kampusnya dan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Beredar kabar, pemberhentian Hayati dikarenakan dosen Bahasa Inggris itu mengenakan cadar.

Kabar ini viral setelah diberitakan berbagai media daring. Satu di antaranya tarbawia.net dengan judul berita ‘Teguh Pertahankan Cadar, Dosen Ini Dipecat Kemenag’.

Berikut narasinya:

Dosen Bahasa Ingrris di Instititut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Nur Hayati Syafri resmi dipecat oleh kemenag. Hayati menyatakan, pemecatan terhadap dirinya, salah satuanya karena teguh pertahankan cadar.

“Benar (sudah diberhentikan dari Kemenag), kalau tidak salah per tanggal 18 Februari,” kata Hayati seperti dilansir Republika.

Sebelum dipecat, Hayati mengaku didatangi oleh petugas Inspektorat Jenderal Kemenag. Dalam surat pemecatan disebutkan bahwa Hayati kurang disiplin.

Setelah dikonfirmasi, Hayati membantah. Ia bahkan tetap mengajar di tengah kesibukannya melanjutkan pendidikan doktoral.

Hayati menilai, pemecatan dirinya lebih disebabkan karena enggan melepas cadar saat mengajar.

Ada alibi yang menyatakan, karena tidak melepas cadar saat mengajar, maka ekspresi Hayati saat mengajar Bahasa Inggris tidak terlihat.

2 dari 3 halaman

Fakta

Setelah ditelusuri, kabar tentang pemberhentian Hayati karena mengenakan cadar ternyata tidak tepat. Hayati diberhentikan sebagai tenaga pengajar dan PNS karena indisipliner.

Hal ini sebagaimana yang diberitakan Liputan6.com dengan judul berita ‘Penjelasan Kemenag Soal Pemecatan Dosen Bercadar di IAIN Bukittinggi‘.

Kementerian Agama membenarkan adanya dosen bercadar bernama Hayati Syafri yang diberhentikan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Namun demikian, Kemenag membantah diberhentikannya karena penampilannya yang bercadar.

“Hayati Syafri diberhentikan sebagai ASN karena melanggar disiplin pegawai,” kata Kasubbag Tata Usaha dan Humas Itjen Kementerian Agama Nurul Badruttamam kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (23/2/2019).

Dia mengatakan pemberhentian Hayati sebagai ASN dosen Bahasa Inggris di IAIN Bukuttinggi itu sesuai data rekam jejak kehadiran secara elektronik melalui data sidik jari di kepegawaian kampus terkait.

“Berdasarkan hasil audit Itjen, ditemukan bukti valid bahwa selama tahun 2017 Hayati Syafri terbukti secara elektronik tidak masuk kerja selama 67 hari kerja,” kata dia.

Atas dasar itu, Nurul membantah jika pemberhentian Hayati dari ASN karena persoalan cadar. Akan tetapi, pemberhentian itu terjadi karena pertimbangan alasan kedisiplinan.

Dia mengaku, mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Pasal 3 ayat 11 dan 17. Dalam regulasi itu PNS yang tidak masuk kerja secara akumulatif minimal 46 hari kerja, tanpa keterangan yang sah dalam satu tahun, harus diberikan hukuman disiplin berat berupa diberhentikan secara hormat/tidak hormat.

Hayati, lanjut dia, juga terbukti sering meninggalkan ruang kerja dan tidak melaksanakan tugas lainnya pada 2018, seperti sebagai penasihat akademik dan memberikan bimbingan skripsi kepada mahasiswa.

“Itu merupakan pelanggaran yang harus dikenai hukuman disiplin berat, yaitu diberhentikan dengan hormat sebagai PNS. Jika ada keberatan, Hayati Syafri masih mempunyai hak untuk banding ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) ataupun ke PTUN,” kata Nurul.

3 dari 3 halaman

Kesimpulan

Kabar tentang dosen yang diberhentikan dari ASN karena bercadar ternyata salah. Dosen Bahasa Inggris bernama Hayati Syafri diberhentikan karena indisipliner.

Narasi yang terdapat dalam berita di tarbawia.net dibantah pihak Kemenag.

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

HEADLINE: Polemik Jaga Mata Jaga Telinga di Jabar dan Aceh

Liputan6.com, Jakarta – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Barat mengumumkan pembatasan siar sejumlah lagu berbahasa Inggris. Hal tersebut diumumkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat dalam surat edaran nomor 480/215/IS/KPID-JABAR/II/2019.

Ada 17 lagu berbahasa Inggris yang hanya boleh ditayangkan pada jam tertentu. Lagu-lagu yang dibatasi penayangannya oleh KPID Jawa Barat  itu sebagai berikut:

1. Zayn Malik (Dusk Till Dawn)

2. Camila Cabello feat Pharrel (Sangria Wine)

3. The Killers (Mr Brightside)

4. Zayn Malik (Let Me)

5. Ariana Grande (Love Me Harder)

6. Marc E. Bassy (Plot Twist)

7. Ed Sheeran (Shape Of You)

8. Chris Brown feat Agnez Mo (Overdose)

9. Maroon 5 (Makes Me Wonder)

10. Bruno Mars (Thats What I Like)

11. Eamon (Fuck it I Dont Want You Back)

12. Camila Cabello feat Machine (Bad Things)

13. Bruno Mars (Versace On The Floor)

14. 88rising (Midsummer Madness)

15. DJ Khaled feat Rihanna (Wild Thoughts)

16. Yellow Claw (Till it Hurts)

17. Rita Ora (Your Song)

KPID Jawa Barat menetapkan bahwa lagu-lagu tersebut, baik dalam bentuk lagu, video klip, dan/atau sejenisnya hanya dapat disiarkan dan/atau ditayangkan pada lembaga penyiaran yang ada di wilayah layanan Jawa Barat mulai pukul 22.00 WIB sampai pukul 03.00 WIB.

“Dalam klasifikasi waktu Dewasa (D) ,” tulis penyataan KPID Jawa Barat.

2 dari 6 halaman

Polemik Pembatasan Lagu

Surat edaran yang bertajuk Pembatasan Siaran Lagu-Lagu Berbahasa Inggris ini menuai polemik. Ketua KPID Jawa Barat Dedeh Fardiah pun angkat bicara. Dia menjelaskan latar belakang penetapan aturan tersebut.

Menurut dia, latar belakang ditetapkannya aturan ini berdasarkan pemantauan dan aduan masyarakat. Kemudian, setelah disesuaikan dengan Undang-Undang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS), maka ditetapkanlah 17 lagu berbahasa Inggris termasuk kategori dewasa.

“Sebetulnya ada 86 item. Berdasarkan tupoksi KPI untuk mengawasi konten siaran, dan P3SPS, di mana di situ disebutkan, program siaran yang harus tepat waktu sesuai kategori usia, bahwa program siaran yang berupa lagu atau video clip yang berisi seks, cabul, atau aktivitas seks, masuk program dewasa, dan hanya ditayangkan jam 10 malam ke atas,” ujarnya.

“Dan pembatasan ini dilakukan di wilayah KPID Jawa Barat,” dia menegaskan.

Dedeh menyayangkan adanya anggapan negatif mengenai kebijakan tersebut. Pasalnya, KPID Jabar menetapkan aturan ini bertujuan untuk menjaga norma kesusilaan di kalangan anak-anak.

“Pasti ada pro dan kontra, tapi mudah-mudahan dengan surat edaran ini, masyarakat justru lebih aware. Itu kan lagu-lagunya mengajak ke persetubuhan, seks bebas, dan lain-lain. Tapi sekali lagi, kami bukan melarang (lagu itu), hanya membatasi jam siarnya,” ujar dia.

Dedeh menambahkan aturan ini bukan lah kali pertama. Pada 2016, KPID Jawa Barat bahkan sempat melarang penayangan lagu-lagu dangdut dengan lirik berkonten dewasa.

“Dulu ada lagu dangdut Hamil Duluan, kalau dinyanyikan anak-anak bagaimana? Ini 17 lagu bahasa Inggris masih mending karena tidak semua mengerti artinya, tapi bagi yang mengerti kan dengar anak-anak nyanyi lagu itu, jadi tidak baik,” dia menandaskan.

Surat yang ditandatangani Ketua KPID Jabar Dedeh Fardiah itu menyebutkan aturan tersebut berlandaskan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Penyiaran dan Peraturan KPI.

“Pasal 9 Ayat (1) & Ayat (2) Peraturan KPI No.02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran bahwa (1) program siaran wajib memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak baik terkait agama, suku, budaya, usia dan/atau latar belakang ekonomi dan (2) Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang dianut oleh masyarakat,” begitu bunyi peraturan landasan kebijakan mengenai pembatasan siaran lagu bahasa Inggris yang ditetapkan KPID Jawa Barat seperti diterima Liputan6.com, Selasa (26/2/2019).

“Pasal 20 Ayat (1) dan (2) Peraturan KPI No.02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran bahwa (1) Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul dan/atau mengesankan aktivitas seks (2) Program siaran yang menampilkan musik dilarang bermuatan adegan dan/atau lirik yang dapat dipandang menjadikan perempuan sebagai objek seks,” sambung pernyataan tersebut.

Aturan Bikin Penasaran

Pengamat sosial Budi Rajab menilai aturan itu di samping memberikan dampak positif yang sesuai dengan tujuan KPID Jawa Barat membatasi jam tayang lagu-lagu berkonten dewasa, tetapi ada dampak lain yang bakal terjadi di tengah masyarakat.

Menurut dosen Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjajaran, Bandung ini, masyarakat justru akan penasaran dan mencoba mencari tahu mengenai lagu-lagu yang dibatasi penayangannya ini.

“Jadi awalnya mereka hanya menikmati lagu karena instrumentalnya yang enak, tetapi mereka tidak mengerti artinya karena menggunakan bahasa Inggris, tapi ada aturan ini justru mereka jadi penasaran, mengapa ini sampai dibatasi,” kata Budi Rajab kepada Liputan6.com, Selasa (26/2/2019).

Pasalnya, dia mengakui sulitnya membendung arus informasi saat ini. “Yang dibatasi, malah dicari-cari,” kata dia.

Untuk itu, Budi melanjutkan, KPID Jawa Barat harus memberikan penjelasan secara detail mengenai alasan penetapan aturan tersebut. “Diumumkan saja mengapa lagu ini dibatasi penayangannya. Semua harus jelas, sampai detail, kalau tidak detail, malah jadi banyak peluang,” dia menandaskan.

3 dari 6 halaman

Reaksi Praktisi Radio di Pantura

Edaran yang dikeluarkan KPID Jawa Barat tentang pembatasan siar 17 lagu berbahasa Inggris menuai reaksi dari berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya para pegiat radio yang ada di Cirebon.

Mereka menganggap 17 lagu yang masuk dalam edaran KPID Jabar tersebut tengah hits di telinga masyarakat Cirebon. Station Manager Pilar Radio Cirebon Lutfi mengatakan, sudah mendengar kabar beredarnya batasan siar dari KPID Jabar.

“Secara resmi saya belum lihat suratnya mungkin ada di kantor nanti saya lihat. Tapi dari kabar tersebut jika benar akan kami ikuti imbauan KPID,” kata dia, Selasa (26/2/2019).

Dia mengatakan, 17 lagu tersebut banyak diminta pendengar kaum milenial Cirebon. Dia sempat menyesalkan sikap KPID Jabar yang mengeluarkan edaran tersebut.

Menurutnya, edaran tersebut terbilang terlambat karena lagu tersebut sudah beredar lama.

“Tapi kan kami tidak bisa menyamakan pendengar entah itu pendengar tahu atau tidaknya lirik. Mungkin ada yang tahu tapi tidak sedetail yang didengar KPID, hanya menikmati musiknya saja,” kata dia.

Lutfi mengaku akan segera menyosialisasikan edaran KPID ke internal radio jika surat tersebut sudah resmi diterima olehnya. Lutfi mengaku siap tidak menyiarkan 17 lagu tersebut di bawah jam 22.00 WIB.

Jika ada pendengar yang meminta diputarkan lagu tersebut, Lutfi akan meminta penyiar untuk menolak secara halus.

“Ya kami paling bilang maaf lagu tersebut tidak ada di playlist kami. Apa mungkin ini (pembatasan siar) terkait undang-undang permusikan,” kata dia.

Music Director Shelter FM Helmi mengatakan, lagu-lagu yang diputar radio komersial di Cirebon didapat dari label musik. Namun, lagu tersebut dikirim dalam dua versi.

Versi pertama adalah lagu yang sudah diedit oleh label tersebut. Sedangkan, versi kedua adalah lagu yang tidak diedit, tetapi tidak boleh disiarkan oleh radio.

“Versi yang edit itu ketika ada lirik yang berbau negatif biasanya dihilangkan sedangkan versi yang full itu biasanya untuk konsumsi pribadi,” kata dia.

Helmi mengaku siap mematuhi edaran KPID Jawa Barat sejauh memberikan dampak positif bagi radionya. Menurut dia, lirik berbau negatif tersebut sudah ada sebelum KPID menyebarkan edaran.

“Dari label juga sudah disensor kok jadi kami sebenarnya aman tapi kami menghormati imbauan KPID,” kata dia.

Dia mengaku tidak memahami apa tujuan utama KPID menyebarkan edaran terkait pembatasan siar terhadap 17 lagu berbahasa Inggris itu.

4 dari 6 halaman

Polemik Lain di Aceh

Aturan terkait kesusilaan di daerah lain juga menuai polemik. Ini terjadi di Aceh. 

Beredar selentingan dari kalangan traveler menyoal banyaknya aturan yang perlu ditaati saat plesiran di Aceh.

“Banyak aturan yang tidak jelas ukurannya, misal di pantai harus pakai pakaian sopan. Sopan itu ukurannya bagaimana?” kata Nisa yang juga perempuan asli Aceh.

“Mungkin ini juga ya yang membuat turis asing mikir dua kali untuk liburan ke Aceh. Di Aceh gak bisa pakai bikini sembarangan kayak di Bali,” katanya.

Dalam Qanun Aceh nomor 8 tahun 2013 pasal 83 tertulis setidaknya ada dua pasal yang dianggap samar dan tidak jelas, yaitu poin (1) yang berbunyi: bagi wisatawan nusantara dan mancanegara diwajibkan berbusana sopan di tempat-tempat wisata. Dan poin (4) yang berbunyi: bagi masyarakat yang menonton pertunjukan/hiburan, dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.

“Itu kan aneh, bagaimana kalau yang menonton itu suami istri, masa mereka dipisah cuma karena menonton pertunjukan di Aceh, satu tempat cewek satu tempat cowok, untuk menunjukkan ini lho mereka dipisah laki-laki dan perempuan,” kata Nisa.

Kabupaten Bireuen bahkan lebih ekstrem. Pemkab setempat pada medio 2018 pernah menerbitkan surat edaran standardisasi kedai kopi dan restoran yang sesuai dengan syariat Islam.

Dari 14 poin imbauan dalam terbitan tersebut, setidaknya ada 2 poin yang paling menjadi sorotan, yaitu perihal larangan perempuan dan laki-laki bukan muhrim duduk satu meja, dan perihal larangan pramusaji melayani perempuan tanpa pendamping di atas pukul 21.00 WIB. Bagi Nisa, dua poin yang dipermasalahkan tersebut sangat aneh, membingungkan dan seperti dibuat-buat.

“Dilarang melayani wanita? Mengapa harus dilarang? Itu intimidatif sekali. Misal orang lapar, enggak boleh makan gitu? Haram satu meja, dari mana hukumnya kalau itu haram?” kata Nisa.

Nisa mengungkapkan, meski aturan Pemkab Bireuen secara teritori tidak masuk dalam wilayah tempatnya tinggal, namun Nisa mengaku kasihan dengan kaum wanita yang ada di Bireuen. Padahal sebagai anak Aceh, dirinya tahu betul bagaimana cara perempuan Aceh menempatkan diri dalam pergaulan.

Dia pun menyadari penerapan syariat Islam di Aceh memang harga mati dan tidak perlu dipersoalkan. Hanya saja, aturan yang dibuat perlu dilihat dari berbagai sudut pandang dan disosialisasikan terlebih dahulu agar tidak menjadi polemik dalam masyarakat.

5 dari 6 halaman

Permainan Sentimen dan Imajinasi

Negeri berjuluk Serambi Makkah ini sangat ketat memberlakukan berbagai aturan yang berkait dengan penegakan syariat.

Sejumlah payung hukum menjustifikasi pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Antara lain, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Istimewa Aceh, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Pemerintahan Aceh.

Selanjutnya, terdapat Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, yang secara rinci menjelaskan sejumlah aturan, seperti berduaan dengan bukan muhrim, judi, dan zina. Penghakimannya terdapat dalam Qanun Aceh No.7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayat.

Belakangan, sejumlah kabupaten dan kota mengeluarkan berbagai aturan yang mengikat warganya dalam berprilaku. Sekali lagi, aturan-aturan ini muncul dalih Aceh merupakan selasar dari negeri dimana Islam berasal, yakni Makkah.

Sejak 7 Januari 2012 Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya mengeluarkan surat edaran yang melarang wanita dewasa duduk mengangkang saat berkendara. Pada 2018 lalu, Pemerintah Kabupaten Bireuen, mengeluarkan surat edaran mengenai standarisasi kedai kopi dan restoran.

Surat edaran itu tertandatangani pada 30 Agustus 2018 oleh Bupati Bireuen, Saifannur. Salah satu isinya melarang perempuan dan pria duduk dalam satu meja, kecuali bersama dengan muhrimnya.

Di tahun yang sama, Bupati Kabupaten Aceh Barat, Ramli, Ms mewajibkan warganya berbusana Islami jika ingin mendapat pelayanan administrasi di instansi setempat. Sang bupati tak segan-segan memecat kepala dinas yang intansinya yang memberi pelayanan terhadap warga tak berbusana Islami.

Aturan-aturan berselimut syariat di Aceh bukan tidak mendapat kritikan. Ada yang melihat penggembar-gemboran syariat Islam dalih ketidakmampuan pemerintah melahirkan produk yang lebih pragmatis, berkaitan dengan ekonomi politik (ekopol), misalnya.

“Perda yang diklaim syariat sebenarnya tidak mewakili syariat. Harusnya, ketika syariat itu datang, dia merespon persoalan riil kehidupan orang Aceh tentang ekopol, pertarungan sumber daya alam, kemiskinan, eksploitasi, perdagangan atau ekonomi yang adil, sebagai bagian dari pemulihan pasca konflik,” ujar Sosiolog yang saat mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Aceh, Affan Ramli kepada Liputan6.com, Selasa malam (26/2/2019).

Perda syariat lahir akibat imajinasi sempit para politisi. Politikus di Aceh tidak memiliki imajinasi syariat yang aplikatif untuk mewarnai kehidupan ekopol di Aceh. Sehingga, yang lahir hanya aturan-aturan nirguna, yang hanya menyentuh sisi tak kasat mata individu-individu di Aceh, yang harusnya menjadi tanggungjawab si individu tersebut.

“Karena tidak ada ide, jadi harus ditutupi dengan permainan sentimen-sentimen syariat dengan imajinasi syariat yang sangat sempit,” tegas Affan.

Pemerintah menutupi kegagalan-kegagalan dalam melahirkan produk yang lebih populis dengan melahirkan produk-produk berselimut syariat. Pada satu titik, kondisi ini hendak mengesampingkan aturan liyan yang sejatinya juga sangat mendasar dan perlu bagi kehidupan orang Aceh.

“Kondisi ini memaksa para profesor mengikuti selera para politisi. Saya pernah bertanya kepada seorang profesor, kenapa dimulai dari yang 4 itu, yang khalwat, maisir, khamr. Kenapa tidak dimulai dari perbankan yang ribawi itu diperbaiki dulu. Profesor bilang, karena masyarakat kita inginnya syariat yang ada cambuknya,” kata Juru Bicara Jaringan Masyarakat Sipil Peduli Syariat (JMSPS) ini.

6 dari 6 halaman

Tak Ada Keluhan dari Wisman

Sedikit banyak, aturan-aturan berbasis qanun atau Perda syariah itu sangat berpengaruh pada kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Namun demikian Pemprov Aceh mengklaim kunjungan wisata ke daerah tersebut naik dari tahun ke tahun.

Data dari laman Pemprov Aceh mengungkap, pada 2017 terdapat peningkatan kunjungan wisata mencapai 2,9 juta orang, yang terdiri dari 2,8 juta wisatawan Nusantara, dan sisanya sekitar 78 ribu merupakan wisman.

Angka itu meningkat dibanding capaian 2016, yaitu 2,1 juta wisatawa Nusantara dan 76 ribu wisman. Pemprov memprediksi angka kunjungan wisatawan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2018 saja pemprov Aceh berani menaikan target kunjungan wisman menjadi 100 ribu orang.

Kabid Destinasi Pariwisata Aceh, Muzakir, saat dihubungi Liputan6.com menolak jika qanun atau perda syariah dianggap membatasi wisatawan yang ingin berkunjung ke Aceh, khususnya wisatawan mancanegara.

“Sejauh ini tidak ada komplain dari wisman. Mereka kalau ke Sabang ikut arahan kita, ikut kita kok,” kata Muzakir.

Meski demikian, Muzakir tidak tahu persis apakah perda pariwisata di Aceh menjadi penghalang bagi wisatawan untuk menjelajahi keindahan wisata alam Aceh. Namun yang pasti dirinya meyakinkan jika belum ada wisatawan yang komplain soal qanun pariwisata di Aceh.

“Maldives malah lebih syariah dari kita, wisman banyak juga di sana,” kata Muzakir.

Terlepas dari perda pariwisata, ada beberapa hal yang membuat pariwisata Aceh diklaim semakin berkembang. Selain branding “The Light of Aceh”, makin banyaknya ragam paket wisata dan minat yang tinggi dari masyarakat yang ingin terlibat di pariwisata juga menjadi pemicu utamanya.

Sejalan dengan itu, promosi pariwisata akan terus dilakukan dengan tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan, penguatan nilai-nilai budaya Aceh yang Islami, dan semangat branding wisata The Light of Aceh.