Kronologi Kasus Ridho Rhoma, Ditangkap Polisi hingga Kasasi Ditolak MA

Liputan6.com, Jakarta – Putra Raja Dangdut, Ridho Rhoma terancam kembali masuk bui atas kasus dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu.

Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi Ridho Rhoma atas kasus penyalahgunaan narkoba.

Juru Bicara MA Abdullah mengatakan, majelis hakim agung mengoreksi putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

“Pertama, kata penyalahgunaan dikoreksi menjadi penyalah guna. Kedua, hukumannya dikoreksi menjadi 1 tahun 6 bulan,” ujar Abdullah kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Ridho sebelumnya sempat ditangkap penyidik Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Barat pada 25 Maret 2017 lalu.

Ridho ditangkap saat hendak menuju mobil dini hari, pukul 04.00 WIB di Hotel Ibis kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat. Dari tangan Ridho polisi mengamankan sabu seberat 0,7 gram berikut alat hisapnya.

“Barbuk yang berhasil ditemukan yang ada padanya, yaitu 0,7 gram jenis sabu beserta dengan alatnya, bong atau alat penghisap. Itu yang ditemukan di TSK berinisial RR,” jelas Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Roycke Langie.

Setelah ditangkap, polisi langsung membawa Ridho untuk diperiksa secara intensif. Hasil pemeriksaan tes urine menunjukkan dirinya positif menggunakan narkoba jenis sabu.

Polisi kemudian menetapkan Ridho sebagai pengguna. Dia dijerat Pasal 112 ayat 1 subsider Pasal 127 jo Pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkoba.

Dari pasal tersebut, Ridho dituntut hukuman 2 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Pengadilan Negeri Jakarta Barat, atas kasus kepemilikan narkoba.

Tiga Kapal Ikan Vietnam Ditangkap di Laut Natuna

Jakarta – Komando armada (Koarmada) I menangkap tiga kapal ikan asing (KIA) di Perairan Natuna, Kepulauan Riau. Ketiga kapal itu diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing).

“Kali ini KRI Teuku Umar-385 Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmada I berhasil satu menangkap Kapal Ikan Asing (KIA) yang diduga melakukan kegiatan illegal fishing di wilayah Perairan Zona Ekonomi Eklusif Indonesia Natuna Utara, Kamis (21/3),” ujar Kadispen Koarmada I TNI AL, Letkol Laut (P) Agung Nugroho, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/3/2019).

KRI Teuku Umar-385 mendapati sebuah kapal yang sedang melakukan kegiatan illegal fishing ketika sedang berpatroli di wilayah Perairan Indonesia. Lalu tim satgas melakukan pengejaran dan dilakukan penangkapan. Setelah diperiksa KIA itu bermuatan 1 palka ikan campuran.


“Dari hasil pemeriksaan diketahui nama Kapal BV 4356 TS, kebangsaan Vietnam, Nakhoda Nguyen Dong, Jumlah ABK 9 WNA Vietnam, Muatan 1 palka ikan campuran. Saat ditangkap KIA Vietnam tersebut sedang melaksanakan kegiatan illegal fishing,” ucap Agung.

Sedangkan dua kapal lainnya yang juga diduga melakukan illegal fishing ditangkap oleh KRI Tarakan-905. Saat ini ketiga kapal asing diamankan sementara menuju Lanal Batam guna pemeriksaan lebih lanjut.

Tiga Kapal Ikan Vietnam Ditangkap di Laut Natuna Foto: Dok. Koarmada I

“Selanjutnya, atas dasar dugaan pelanggaran tersebut, maka ketiga kapal diamankan di Lanal Batam untuk proses pemeriksaan dan penyidikan lebih lanjut,” ucapnya.
(eva/dnu)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Miliarder India Kabur dan Ditangkap Polisi Inggris, Ada Apa?

Tindakan terpuji miliarder satu ini tentunya mendapatkan banyak apresiasi dari para miliarder india lainnya, misal miliarder bioteknologi Kiran Mazumdar-Shaw. Ia mengagumi apa yang dilakukan oleh Azim Prejim, baginya apa yang Azim lakukan sangatlah luar biasa.

Ia pun menambahkan bahwa yang Premji lakukan membuat India naik tingkat, dan membuatnya termotivasi untuk beramal lebih banyak lagi meskipun saat ini ia sudah menyumbang USD 30 juta.

Sama halnya dengan Premji, Mazumdar-Shaw juga sudah menandatangani Giving Pledge dan berjanji untuk menyumbangkan 75 persen dari kekayaannya.

Tidak hanya Mazumdar-Shaw saja yang terkesan dan menjadikan Premji sebagai teladan, ternyata miliarder India lainpun merasakan yang sama salah satunya, Anu Aga. 

“Premji adalah teladan bagi kita semua. Saya berharap lebih banyak orang akan mengikuti teladannya,” ujarnya.

Ternyata sifat dermawan miliarder satu ini terinspirasi dari Mahatma Gandhi, serta keterlibatan ibunya selama beberapa dekade selama bekerja di rumah sakit amal anak-anak di Mumbai.

Itu semua sebagai permulaannya untuk beramal hingga akhirnya ia mendirikan yayasan dengan sumbangan awal dari Saham Wipro bernilai USD 125 juta pada 2001.

Donasinya kali ini akan membantu yayasan untuk meningkatkan kegiatannya beberapa kali lipat. Ini diungkapkan oleh CEO Anurag Behar, seorang veteran Wipro yang mengambil alih pada tahun 2010.

Pada 2014, yayasan ini memperluas cakupannya ketika telah memberikan hibah multiyears untuk organisasi nirlaba yang menangani berbagai masalah sosial seperti kekerasan perempuan dalam rumah tangga, kekurangan gizi pada anak-anak dan bunuh diri di kalangan petani marginal.

Tulis Status FB Jokowi Main Dukun, Pria di Sumut Ditangkap

Jakarta – Polisi menangkap pria berinisial ZA (25) warga Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara (Sumut) terkait kasus ITE. ZA menulis status di akun Facebook soal yang dinilai menghina Jokowi dan main dukun.

“Iya, yang bersangkutan sudah diamankan hari Minggu (17/3) lalu,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Tatan Dirsan Atmaja saat dihubungi, Jumat (22/3/2019).

Tatan menjelaskan kasus ini bermula dari laporan Tim Kampanye Daerah (TKD) Sumut Jokowi-Ma’ruf. TKD mempersoalkan isi stastus itu.

“Yang bersangkutan dilaporkan tentang, karena kan menyebutkan berkaitan dengan 01, ‘b***s*t’ dan seterusnya, ‘pakai dukun untuk capres 01’, jadi dilaporkan oleh TKD Sumut,” ujarnya.
Tatan menambahkan isi status Facebook ZA tersebut yakni ‘B*n*t*ng kau otak setan main dukun, 2019 tetap ganti presiden,. “‘B*n*t*ng kau’ ya Pak jokowi yang dimaksudnya, otak setan main dukun,” ucapnya.

Polisi yang menindaklanjuti laporan itu kemudian melakukan serangkaian pemeriksaan hingga menangkap ZA di kediamannya. ZA mengaku menulis status itu atas kemauan sendiri.

“Dia merasa bahwa pemerintah itu tidak baik, bahwa capres 01 itu tidak baik. dan dari hasil keterangan yang bersangkutan itu atas kemauan sendiri, tidak ada yang menyuruh,” kata Tatan soal motif ZA.

ZA telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia dikenakan UU ITE Pasal 14 Ayat 1 UU No 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Subsider Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 Ayat 2 jo Pasal 27 Ayat 3 jo Pasal 45 Ayat 3 UU RI Nomor 11 tahun 2016 perubahan atas UU RI No 11 tahun 2008 tentang ITE.
(idh/hri)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pelaku yang Acak-acak Masjid di Banyumas Ditangkap

Banyumas – Pelaku yang acak-acak Masjid Daarussalam, Banyumas ditangkap polisi. Berikut ini penjelasan Kapolda Jateng, Irjen Pol Condro Kirono.

“Itu sudah terungkap,” kata Condro usai apel gelar pasukan menjelang masa kampanye terbuka di Lapangan Simpang Lima Semarang, Jumat (22/3/2019).

Condro mengatakan bahwa pelaku ditangkap tadi malam.

“Tadi malam sudah tertangkap pelakunya,” lanjutnya.
Namun Condro belum mengungkap secara detail identitas pelaku. Termasuk soal berapa orang dan di mana pelaku diamankan.

Diberitakan sebelumnya, masjid yang terletak di Desa Buniayu, Kecamatan Tambak, Banyumas ini diacak-acak orang tak dikenal pada Kamis (21/2) pagi. Karpet dikotori dan sejumlah kitab dibuang ke dalam sumur.

“Kita dapat laporan dari unsur wilayah telah terjadi beberapa perusakan di tempat ibadah, kami langsung cek lokasi, yang pertama itu di taman pendidikan Alquran (TPA) Daarussalam, di mana setelah kita cek di sana kita lihat secara langsung bahwa kitab suci Alquran dan tempat ibadah dikotori dan sebagian Alquran dibuang ke sumur. Kita tidak tahu karena campur dengan karpet dan meja-meja,” kata Sekertaris Desa, Agus Supriadi kepada detikcom, Kamis (21/3/2019).

Selain masjid, kerusakan juga ditemui di lahan yang ditanami puluhan pohon oleh santri Pondok Pesantren Jami Miftahul Fallah. Karung beras milik petani yang ada di sekitar pondok juga dirusak.

Rumah pengasuh TPA Daarussalam, Kiai Abdul Majid juga tak luput jadi sasaran. Rumah Abdul Majid dilempar batu.

Mendengar lemparan batu, Abdul Majid kemudian keluar dan melihat ada batu besar yang mengenai keramik rumahnya hingga pecah. Namun dia tidak melihat ada orang lain di sekitar rumahnya saat itu.

“Antara jam 4.15 WIB saya dengar suara seperti lemparan batu, lalu saya bangunin istri karena saya kira itu kejadian alam, dan tidak punya prasangka yang apa-apa. Setelah bangun lantas saya suruh keluar, saat mau keluar ada suara lagi duar, setelah itu saya berpikir ini orang tidak baik lantas saya buka pintu dan saya tengok kanan kiri tidak ada apapun,” jelasnya, Kamis (21/3).
(alg/sip)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Caleg yang Ditangkap Polisi di Bogor Ternyata Ketua Komplotan Pencuri

Jakarta – Caleg berinisial SP diduga menjadi ketua komplotan pencuri dengan modus gembos ban. SP ditangkap tim Satreskrim Polres Bogor.

Kasat Reskrim Polres Bogor, AKP Benny Cahyadi mengatakan SP diduga menjadi ‘kapten’ yang mengelola pembagian tugas anggota komplotan pencuri.

“Yang bersangkutan (SP) berlaku sebagai ketua tim,” ujarnya.

Sementara Kasubag Humas Polres Bogor, AKP Ita Puspita Lena mengatakan, polisi masih mengembangkan penyidikan kasus pencurian dengan komplotan SP.

“Saya belum dapat informasi soal apakah uang hasil aksi mereka digunakan untuk kampanye atau nggak. Kasat hanya menyebut kalau dia (SP) itu caleg salah satu partai. Sampai sekarang masih pengembangan kasusnya,” kata AKP Ita, Rabu (20/3/2019).

Caleg berinisial SP yang disebut polisi dari dapil luar Jawa ini ditangkap bersama 4 orang lainnya yakni, AM (32), NJ (42), HR (28) dan NA (31).

Komplotan pencuri dengan modus gembos ban dan pecah kaca ini, beraksi sejak 3 bulan lalu di wilayah Bogor, Jakarta, Bekasi dan Tangerang.

Kelima pelaku ditangkap pada 13 Maret 2019 setelah beraksi di kawasan GOR Pakansari, Cibinong, Bogor, pada 4 Maret 2019.

Saat itu, korban berinisial FD menjadi korban pencurian usai mengambil Bank BCA Cibinong, Bogor.
(fdn/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Diduga Selundupkan Embrio Manusia, Pria Malaysia Ditangkap di India

Mumbai

Pihak berwenang di India tengah menelusuri kemungkinan adanya jaringan penyelundupan setelah menemukan embrio manusia hidup di dalam sebuah koper di bandara Mumbai.

Seorang warga negara Malaysia diduga membawa embrio tersebut dalam tabung yang disembunyikan di kopernya pada 16 Maret.

Pria tersebut, yang dilaporkan mengakui bahwa ini bukan pertama kalinya ia menyelundupkan embrio ke India, kemudian menuntun para penyidik ke sebuah klinik bayi tabung (IVF) kelas atas di Mumbai.

Namun klinik tersebut membantah keras bahwa mereka terlibat, menuding adanya upaya untuk menjebak mereka.

Ketika ditanyai pihak berwenang, si pria Malaysia mengatakan bahwa ia berencana membawa embrio tersebut ke klinik, kata Rebecca Gonsalves, kuasa hukum Direktorat Intelijen Pendapatan (DRI), yang tengah menyelidiki kasus ini, kepada pengadilan tinggi Mumbai pada hari Senin.

Menurut surat kabar Times of India, sejumlah pesan teks yang mendukung klaimnya juga ditemukan.

Tapi Dr Goral Gandhi, yang disebut sebagai ahli embriologi yang menjalankan klinik, mengatakan bahwa itu tidak benar.

Pengacaranya, Sujoy Kantawalla, berkata di persidangan: “Pemohon tidak mengimpor embrio sebagai bagian dari bisnisnya.”

Ia kemudian menyalahkan “konspirasi yang digagas oleh sejumlah orang, yang mungkin termasuk pesaing”, lansir Indian Express.

Pengadilan memanggil Dr Gandhi untuk sesi tanya-jawab pada hari Jumat.

IVF, yang semakin populer di India dalam beberapa tahun terakhir, adalah proses pembuahan sel telur di laboratorium dan kemudian ditanamkan ke dalam rahim.

Embrio dapat dibekukan dan disimpan selama beberapa tahun; beberapa orang menyumbangkannya kepada pasangan lain yang ingin memiliki anak.

Namun, mengimpor embrio ke India tanpa izin dari Dewan Penelitian Medis India adalah ilegal.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Buron 10 Bulan, Pelaku Begal Driver Ojek Online di Medan Ditangkap

Medan – Polisi meringkus begal sadis yang membacok driver ojek online Fakhri Husaini, di Medan, Sumatera Utara. Pelaku berinisial YS (32) tersebut menjadi buron polisi sekitar 10 bulan.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha Prawira, tersangka diringkus setelah 10 bulan lamanya kabur dari kejaran petugas kepolisian. Dalam penangkapan kedua kaki YS terpaksa ditembak karena melawan petugas saat akan ditangkap.

“Tersangka ditangkap tidak berapa jauh dari kediamannya.Saat ini kita masih melakukan pemeriksaan intensif,” ujar Yuda, saat jumpa pers di Mapolresta Medan, yang dilansir Antara, Selasa (19/3/2019).

Fakhri sendiri dibegal oleh pelaku di Jalan Cemara/Tol Haji Anif, pada 30 Mei 2018 lalu. Pelaku menikam tubuh korban dan mencuri motor Fakhri.

Nyawa korban berhasil diselamatkan, setelah sejumlah warga yang melihat Fakri terkapar minta tolong. Warga membawa korban ke klinik terdekat, dan selanjutnya dirujuk ke RS terdekat.

(rvk/fai)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pelaku Penembakan di Utrecht Pernah Ditangkap karena Terkait ISIS

Amsterdam – Gokmen Tanis, pria kelahiran Turki yang menjadi tersangka penembakan di Utrecht, Belanda diketahui pernah pergi ke Chechnya untuk bertempur. Saat berada di sana, Tanis ditangkap karena keterlibatan dengan kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Tanis (37) melepas tembakan di dalam sebuah trem di Utrecht pada Senin (18/3) waktu setempat. Aksi brutalnya itu menewaskan tiga orang dan melukai lima orang lainnya.

Seperti dilaporkan BBC dan dilansir media Turki, Hurriyet Daily News, Selasa (19/3/2019), Tanis pernah pergi ke Chechnya yang ada di Rusia ‘untuk bertempur’. Informasi itu disampaikan seorang pengusaha Turki yang enggan disebut namanya, seperti dikutip BBC.


Sejumlah kelompok jihad, termasuk yang menyatakan sumpah setia dengan ISIS, diketahui beroperasi sejak lama di wilayah tersebut.

“Dia (Tanis-red) pernah ditangkap atas dugaan keterkaitan dengan ISIL (nama lain ISIS) beberapa tahun lalu dan kemudian dibebaskan,” ujar pengusaha Turki yang kini tinggal di Belanda itu. Tidak dijelaskan lebih lanjut berapa lama dia ditahan.

Laporan The Telegraph secara terpisah menyebutkan bahwa Tanis memiliki catatan kriminal sebelumnya. Disebutkan bahwa dia pernah divonis bersalah atas percobaan pembunuhan tahun 2013 lalu, setelah melepas tembakan ke sebuah gedung apartemen setempat.

Dua pekan lalu, Tanis baru saja disidang atas tuduhan pemerkosaan tahun 2017. Beberapa waktu lalu, Tanis juga pernah ditangkap karena berupaya mencuri sebuah kendaraan, kemudian mengemudi di bawah pengaruh alkohol dan meludahi polisi.

Sebelumnya diberitakan bahwa ayah Tanis, Mehmet, memberikan komentar tegas atas aksi brutal putranya. Mehmet menegaskan bahwa putranya harus dihukum jika terbukti bersalah.

Laporan media menyebut keluarga Gokmen berasal dari Yozgat, Turki tengah. Mehmet menyebut dirinya kehilangan kontak dengan putranya setelah kembali ke Turki tahun 2008 usai bercerai dari istrinya. Mantan istrinya tetap tinggal di Belanda bersama Tanis. Mehmet menuturkan dirinya telah menikah lagi dan kini bermukim di provinsi Kayseri, Turki tengah.

“Saya tak ada dialog, tak ada kontak dengan putra saya selama 11 tahun. Kami tak pernah berbicara satu sama lain sejak 2008. Dia tidak punya perilaku agresif — namun 11 tahun telah berlalu. Apa yang terjadi, apa yang telah dialaminya? Saya tidak tahu apa-apa,” ujar Mehmet kepada DHA.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Begini Elektabilitas PPP Sebelum Rommy Ditangkap, Akankah Anjlok?

JakartaPPP ‘terguncang’ usai sang Ketum, Romahurmuziy alias Rommy terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Apakah, penangkapan itu akan berpengaruh pada elektabilitas partai berlambang kakbah itu di Pilpres 2019?

Meski menjadi salah satu partai besar saat ini, sejumlah lembaga survei masih memprediksi PPP tak lolos ke Senayan. Dari 8 lembaga survei, 5 di antaranya memprediksi elektabilitas partai yang kini dipimpin oleh Suharso Monoarfa sebagai Plt ketum itu di bawah 4%. Sementara, untuk masuk ke DPR, parpol harus meraih 4% suara sesuai ambang batas parlemen atau parliamentary threshold (PT).

Berpengaruhnya penangkapan Rommy terhadap elektabilitas PPP sebelumnya telah diprediksi sejumlah pihak. Salah satunya Wapres Jusuf Kalla yang menilai kasus Rommy yang kini telah ditetapkan tersangka suap itu akan berimbas pada suara PPP.

“Ya pastilah, terutama efeknya kan ke PPP. Kalau PPP efek pasti juga ke lainnya juga punya efek,” ujar JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (15/3).
Hal senada juga disampaikan Partai Gerindra. Gerindra menilai penangkapan Rommy akan menggerus suara PPP bak tsunami di Pileg 2019.

“Bicara kasus Rommy ini tentu mau bantah atau nggak ini pasti dampak elektoral pada PPP,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade kepada wartawan, Sabtu (16/3).

Konsep Indonesia pun memprediksi penangkapan Rommy akan sangat berimbas pada elektoral PPP. Mengingat jabatan penting yang diemban Rommy di partai tersebut.

“Bagaimanapun yang di-OTT adalah seorang ketum, jabatan sangat penting di partai politik. Dampak langsung akan dirasakan oleh partai terkait. Apalagi dalam survei yang baru saja kami rilis, PPP masuk dalam grup dua koma, raihan elektabilitasnya baru mencapai 2,2%. Artinya, butuh perjuangan keras untuk lolos ke Senayan,” kata Direktur Konsepindo Research and Consulting Veri Muhlis Arifuzzaman dalam keterangannya, Jumat (15/3).

Kendati diprediksi suaranya di Pileg 2019 akan tergerus, PPP tak khawatir. Anggota Majelis Tinggi PPP Hasrul Azwar menyatakan partai berlambang Kakbah itu tetap optimistis terkait elektabilitas. Apalagi PPP memiliki pengalaman politik yang panjang.

“Kami dari dulu diajarkan optimis. Jadi tidak ada kekhawatiran, selalu optimis dan kami sudah berpengalaman untuk itu,” kata Hasrul di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (15/3).

“Tidak ada kekhawatiran bagi kami terkait elektabilitas. PPP sudah teruji,” imbuh dia.

Berikut hasil survei tersebut:

1. Indikator
Waktu: 1-6 September 2018.
Jumlah responden: 1.220 orang
Hasil:

PDIP: 22,9%
Golkar: 11,4%
Gerindra: 10,7%
Demokrat: 6,8%
PKB: 6,2%
PKS: 4,0%
PPP: 3,7%
NasDem: 3,4%
Perindo: 2,5%
PAN: 2,0%
Hanura: 0,8%
PSI: 0,2%
PBB: 0,2%
Garuda: 0,2%
PKPI: 0,2%
Berkarya: 0,0%

2. Polmark Indonesia
Waktu: Oktober 2018-Februari 2019
Jumlah responden: 32.560 orang
Hasil:

PDIP: 28,6%
Gerindra: 14,1%
Golkar: 13,3%
PKB: 11,5%
Demokrat: 6,9%
PAN: 5,9%
NasDem: 5,6%
PKS: 4,6%
PPP: 4,5%
Perindo: 2%
Hanura: 1,1%
PSI: 0,6%
PBB: 0,5%
Berkarya: 0,4%
PKPI: 0,2%
Garuda: 0,1%

3. LSI Denny JA
Waktu: 18-25 Januari 2019
Jumlah responden: 1.200 orang
Hasil:

PDIP: 23,7%
Gerindra: 14,6%
Golkar: 11,3%
PKB: 8,2%
Demokrat: 5,4%
NasDem: 4,5%
PKS: 4,0%
Perindo: 3,6%
PPP: 3,5%
PAN: 1,5%
Hanura: 0,5%
PSI: 0,4%
Garuda: 0,3%
Berkarya: 0,1%
PBB: 0,0%
PKPI: 0,0%
Tidak Tahu/Tidak Jawab/Belum Memutuskan: 18,4%

4. Roda Tiga Konsultan
Waktu: 28 Januari-15 Februari 2019
Jumlah responden: 1.610 orang
Hasil:

PDIP: 22,1%
Gerindra: 13,7%
Golkar: 11,2%
PKB: 8,0%
Demokrat: 7,2%
PPP: 4,1%
PKS: 4,0%
NasDem: 3,7%
PAN: 1,9%
Hanura: 1,1%
Perindo: 0,7%
PBB: 0,4%
Berkarya: 0,3%
PSI: 0,3%
Garuda: 0,1%
PKPI: 0,1%
Undecided Voters: 20,9%

5. Konsep Indonesia
Waktu: 17-24 Februari 2019
Jumlah responden: 1.200 orang
Hasil:

PDIP 26,0%
Gerindra 12,8%
Golkar 9,3%
PKB 6,2%
Demokrat 3,9%
PAN 3,8%
NasDem 3,2%
PKS 2,8%
PPP 2,2%
Hanura 1,2%
Perindo 1,2%
Berkarya 0,4%
PSI 0,2%
Garuda 0,2%
PBB 0,1%
PKPI 0,1%
Undecided voters 26,4%

6. Alvara
Waktu: 22 Februari-2 Maret 2019
Jumlah responden: 1.200 orang
Hasil:

PDIP: 28,6%
Gerindra: 18,1%
Golkar: 9,5%
PKB: 7,5%
Demokrat: 5,5%
PKS: 3,7%
NasDem: 3,2%
PPP: 3,1%
PAN: 2,1%
Perindo: 1,5%
PSI: 1,0%
Hanura: 0,3%
Berkarya: 0,2%
Garuda: 0,2%
PKPI: 0,2%
PBB: 0,1%
Belum Memutuskan: 15,2%

7. Voxpol Center Research and Consulting
Waktu: 24 Februari-6 Maret 2019
Jumlah responden: 1.220 orang
Hasil:

PDIP: 26,5%
Gerindra: 14,2%
Golkar: 10,6%
PKB: 8,4%
Demokrat 6,7%
NasDem 5,5%
PKS 4,9%
PAN 4,5%
PPP 4,1%
Perindo 3,5%
Hanura 1,1%
PBB 0,8%
Berkarya 0,7%
PSI 0,5%
Garuda 0,4%
PKPI 0,3%
Undecided voters: 7,3%

8. Indometer
Waktu: 1-7 Maret 2019
Jumlah responden: 1.280 orang
Hasil:

PDIP: 23,5%
Gerindra: 13,4%
Golkar: 10,2%
PKB: 8,9%
Demokrat: 6,3%
NasDem: 4,1%
PPP: 3,9%
PAN: 3,7%
PSI: 3,6%
PKS: 3,4%
Perindo: 2,8%
Hanura: 1,1%
PBB: 0,9%
PKPI: 0,8%
Berkarya: 0,5%
Garuda: 0,2%
Tidak tahu/tidak jawab: 12,7%

(mae/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>