Korban Incest Ayah, Kakak dan Adik di Lampung Trauma, Tatapannya Kosong

Lampung – Perempuan berinsial AG (18) jadi korban incest atau hubungan sedarah yang dilakukan ayahnya M (45) dan kakaknya SA (24), serta adiknya YF (15). Korban kini dalam kondisi trauma.

“Kalau kondisi fisiknya bagus, cuma dia memang pandangannya agak kosong. Psikisnya sudah mulai kena. Ketakutan lah, trauma,” kata Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas saat dihubungi detikcom lewat telepon, Sabtu (23/2/2019).

AKP Edi menjelaskan, AG saat itu tinggal bersama ibu dan neneknya. Saat ibunya meninggal karena sakit, M membawa AG tinggal di rumahnya di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung. Setelah AG tinggal sekitar 2 bulan, M melancarkan perbuatan bejatnya memperkosa. Perbuatan bejat itu kemudian diikuti kedua putranya SA dan YF.


AG diperkosa ayah, kakak dan adiknya berulangkali setiap hari, bergantian. Tetangga awalnya sulit mengendus perbuatan bejat ini karena M dan keluarganya dikenal tertutup.

Saat ini, lanjut AKP Edi, AG tinggal bersama pamannya. Senin (25/2) AG rencananya akan diperiksa dan dibawa ke dokter dan psikolog untuk mendalami kasus ini.

“Korban sekarang ini ada dengan keluarganya, sama pamannya. Kami juga mau cek kondisinya dengan dokter dan psikolog, pemerhati, kenapa keluarga ini bisa seperti ini. Kita mau urut ke belakang supaya hal-hal ini tidak terjadi lagi. Mudah-mudahan dinas terkait, pemda terkait bisa memberi bantuan juga pada korban ini,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tanggamus Ipda Primadona Laila. Pihaknya masih terus mendalami kasus ini.

“Ini lagi coba kita dalami lagi karena bapaknya tahu anak-anaknya itu menyetubuhi anak kandungnya tapi dibiarkan saja. Saling tahu tapi dibiarkan. Waktu itu adiknya yang bungsu ini melihat kalau saudara perempuannya ditiduri bapaknya, dibiarin. Jadi saling tahu mereka ini,” kata Ipda Dona saat berbincang dengan detikcom lewat telepon.

Ipda Dona sendiri merasa sangat prihatin dengan kondisi AG. Menurutnya, AG mengalami keterbelakangan mental. Pihaknya akan terus memonitor kondisi AG.

“Sejauh ini belum kita temukan adanya gejala kehamilan karena korban juga baru mau kita ambil keterangannya Senin besok dengan didampingi ahli bahasa. Korban bukan kategori tunarungu, tunawicara atau tunagrahita tapi dia memang masuk dalam katagori disabilitas karena kalau ditanya harus ada panduan, ada yang mendampingi, jadi bisa jelas,” ujar Ipda Dona.

Korban Incest Ayah, Kakak dan Adik di Lampung Trauma, Tatapannya KosongBarang bukti yang disita polisi dari rumah pelaku Foto: Dok. Polres Tanggamus

“Secara visual anaknya sehat. Anaknya putih, cantik malah. Tapi dia keterbelakangan mental. Mungkin karena tidak mengenyam pendidikan. Kurang lebih seperti itu. Kalau kita lihat matanya kosong. Psikisnya sudah kena,” sambungnya.

Ipda Dona menambahkan, dirinya berharap pemerintah dan lembaga dan dinas terkait ikut mengawal kasus ini. Dia berharap nasib AG diperhatikan, agar masa depannya jelas. Dia sendiri telah meminta Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, (LPAI) Seto Mulyadi meluangkan waktu untuk datang memonitor kasus ini.

“Kejadian ini ada wilayah hukum Kabupaten Pringsewu, sementara di sini polresnya Unit PPA baru ada di Polres Tanggamus. Jadi tujuan kita buat narik kasus tersebut supaya lebih intens ditangani oleh unit PPA yang ada di Polres Tanggamus. Sementara kita di P2TP2A kita maupun Teksos kita yang ada di Tanggamus itu berjalan memang aktif. Tapi P2TP2A di sini tidak mau nanti disalahkan kalau mengambil alih kasusnya untuk menyelamatkan korban sementara P2TP2A Pringsewu ada. Harus koordinasi intinya,” ucapnya.

“Nanti kalau berkenan datang ke sini bisa menekankan ke pemkab setempat untuk bisa memberikan jaminan pemenuhan hak-hak korban ke depannya, masa depannya seperti apa. Apakah masuk Dinsos, atau mendapat pelatihan atau bimbingan. Karena ke depan siapa yang mau jamin? Lebih aman dia jadi anak negara saja,” sambungnya.
(hri/idh)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Selain Kakak, Pelaku Incest di Lampung Juga Setubuhi Kambing-Sapi Tetangga

Lampung – Perempuan berinsial AG (18) jadi korban incest atau hubungan sedarah yang dilakukan ayahnya M (45) dan kakaknya SA (24), serta adiknya YF (15). YF diduga mengalami kelainan.

“Keluarga ini ada kelainan sepertinya karena adiknya ada pengakuan bahwa dia pernah berhubungan juga dengan binatang, kambing, sapi,” kata Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas saat dihubungi detikcom lewat telepon, Sabtu (23/2/2019).

“Nanti mau kami periksakan juga ke psikolog, pemerhati, kenapa keluarga ini bisa seperti ini, kita mau urut ke belakang supaya hal-hal ini tidak terjadi lagi,” sambungnya.


Menurut AKP Edi, para tersangka sudah menyetubuhi korban berulang kali sejak 2018. Korban tidak kuasa melawan karena takut dan mengalami keterbelakangan mental.

“Kakaknya itu sudah menyetubuhi 120 kali dalam setahun, adiknya 60 kali. Kalau bapaknya sudah berulang kali, saya yakin sudah sering,” jelasnya.

Selain Kakak, Pelaku Incest di Lampung Juga Setubuhi Kambing-Sapi TetanggaBarang bukti yang disita dari lokasi Foto: Dok. Polres Tanggamus

Hal senada juga disampaikan Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Tanggamus Ipda Primadona Laila. Pihaknya terus melakukan pendalaman agar tepat menangani kasus ini.
“Ini lagi coba kita dalami lagi karena bapaknya tahu anak-anaknya itu menyetubuhi anak kandungnya tapi dibiarkan saja. Saling tahu tapi dibiarkan. Waktu itu adiknya yang bungsu ini melihat kalau saudara perempuannya ditiduri bapaknya, dibiarin. Jadi saling tahu mereka ini,” ujarnya saat berbincang dengan detikcom lewat telepon.

Menurut Ipda Dona, secara visual tidak ada keanehan dari tersangka M dan SA. Namun tersangka YF ini memang agak berbeda karena terlihat santai saat diperiksa. Saat ditanya, tidak ada penyesalan terlontar dari mulutnya telah berulangkali memperkosa kakak kandungnya sendiri.

“Memang yang nyeleneh dikit ini yang bungsu, yang kecil. Dia sempat meniduri kambing dan sapi milik tetangga. Kenapa kita bilang agak kelainan karena tidak ada rasa penyesalan. Hanya senyum cengengesan, nggak ada muka menyesal atau merasa malu, merasa berdosa, santai aja. Makanya kita Senin mau melakukan pemeriksaan psikologi, sudah panggil psikolog juga terkait kelakuan tiga pelaku ini,” ucapnya.
(hri/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dua Kali Diperiksa, Joko Driyono Jawab 40 Pertanyaan Penyidik

Liputan6.com, Jakarta Penyidik Tim Satgas Mafia Bola telah melakukan pemeriksaan terhadap Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono, tersangka kasus perusakan dokumen. Meski sudah menjalani pemeriksaan selama dua kali, penyidik merasa masih belum tuntas memeriksa Joko Driyono.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Joko Driyono telah menjawab sebanyak 40 pertanyaan dari penyidik. Sebelumnya penyidik menyiapkan 32 pertanyaan.

“Jadi yang bersangkutan sudah diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya, dan sekitar 40 pertanyaan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (22/2).

“(Pertanyaannya?) Sama masih seputar berkaitan dengan keterangan formil dan materiil sebagian,” sambungnya.

Menurut Argo, Joko Driyono kembali akan menjalani pemeriksaan pada 27 Februari mendatang. Pasalnya, penyidik mengaku belum tuntas memeriksa Jokdri.

2 dari 3 halaman

Minta Banyak Keterangan

“Pemeriksaan kemarin, belum semuanya tertuang di dalam berita acara. Tentunya penyidik ingin menggali kembali yang lebih banyak keterangannya, berkaitan dengan barang bukti yang disita. Jadi belum semuanya terverifikasi barang bukti-bukti tersebut, misalnya seperti ada barang bukti transfer, ada buku tabungan, dan sebagainya itu belum terverifikasi semuanya,” ujarnya.

Argo menjelaskan hingga pukul 17.30 WIB, penyidik telah melayangkan 32 pertanyaan dalam proses pemeriksaan. “Sampai saat ini, tersangka masih dalam pemeriksaan, tersangka diberikan sekitar 32 pertanyaan terkait kasus tersebut, nanti jumlahnya bisa mengembang atau tidak ya,” kata Argo, di Mapolda Metro Jaya.

3 dari 3 halaman

Terobos Garis Polisi

Menurut Argo, garis besar dari 32 pertanyaan tersebut penyidik menanyakan perihal bagaimana cara tersangka memerintahkan anak buahnya menerobos garis polisi yang telah dilarang. “Jadi garis besar dari pertanyaan itu ialah, yang bersangkutan menyuruh pada staffnya untuk mengambil suatu barang yang sudah dalam situasi police line,” kata Argo.

Selain itu, lanjut Argo, penyidik juga menanyakan dokumen-dokumen yang dicurigai, yang disita Tim Satgas Mafia Bola saat melakukan penggeledahan di beberapa tempat. “Selain itu juga nanti akan dipertanyakan dokumen-dokumen yang disita di kantor ataupun di rumah,” ujarnya.


Reporter: Ronald

Heboh Video Siswa di Yogya Tantang dan Dorong Guru Gegara HP Disita

Yogyakarta – Viral di media sosial dan Whatsapp grup, video yang merekam ulah seorang siswa kelas X SMK N 3 Yogyakarta mendorong dan menantang gurunya di dalam kelas. Peristiwa itu terjadi pada Rabu (20/2) saat para siswa akan mengikuti ulangan harian.

“Iya di sekolah kami peristiwa yang videonya viral itu. Kejadiannya Rabu kemarin sekitar pukul 11.00,” kata Kepala SMK N 3 Yogya, Bujang Sabri ditemui wartawan di kantornya, Kamis (21/2/2019).

Peristiwa itu ternyata dipicu reaksi siswa yang tidak terima ponselnya diambil guru saat ulangan akan dimulai.

Guru yang ada di dalam video, Sujianto (55) mengaku awalnya dia akan memulai kegiatan ulangan harian bagi siswanya. Saat itu para siswa baru masuk ruang kelas setelah usai jam istirahat.

Ketika mengecek para siswa, dia melihat dua siswa mengaktifkan ponsel. Padahal sesuai aturan ponsel harus diserahkan dulu kepada guru atau menonaktifkannya hingga jam pelajaran selesai.

“Kemarin itu mau ulangan untuk persiapan MID semester, ulangan pelajaran pemeliharaan dasar otomotif,” kata Sujianto saat ditemui wartawan di SMK N 3 Yogya, Kamis (21/2/2019).

“Aturannya HP siswa harus dikumpulkan, ada 2 siswa yang nggak mau kumpulin HP, saya minta karena dia mainan HP, padahal teman lainnya tidak,” lanjutnya.

Saat itu siswa tersebut berniat meminta kembali HP yang telah dibawa Sujianto. Siswa lantas menghampiri Sujianto dan memaksa gurunya itu mengembalikan HP miliknya.

“Tidak ada pemukulan, siswa hanya mau meminta HP, siswa mendorong karena minta HP,” aku Sujianto.

Sujianto mengaku sempat terbawa emosi. Namun dia mencoba sabar meski siswanya juga sempat mengambil tas miliknya yang dia taruh di atas meja guru.

“Saya nggak tahu, dia ambil aja tas di meja itu, saya tak tahu dia mau ambil tas saya,” ungkapnya.

“Saya berusaha menyabarkan diri tapi masih ada emosi juga, situasi di kelas kan baru mau menata tempat duduk, siswa baru selesai jam istirahat. Saya minta siswa kembali duduk, tenangkan siswa, tas saya dikembalikan, HP saya kembalikan karena ada laptop di dalam tas, saya khawatir tas nanti dibanting. Yaudahlah saya kembalikan HP, tapi yang satu masih saya bawa sampai selesai ulangan,” terangnya.

“Karena anaknya sudah duduk, manut dan nggak akan mengulangi, ya sudah seperti itu,” tuturnya.

Bersama ibunya, siswa itu akhirnya menemui Sujianto di sekolah dan menyampaikan permintaan maaf.

“Saya menyesal telah melakukan ini, dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, saya minta maaf Pak. Janji tidak akan mengulangi lagi,” ujar siswa, Kamis (21/2).

Siswa itu lalu bersalaman dan memeluk Sujianto dan kepala sekolah. “Lagi pelajaran biasa, HP saya diminta karena mau ulangan. Saya masih balas WA teman-teman, nanti malah ganggu ujian,” akunya.

“Nggak ada contekan, itu mau ulangan harian, boleh bawa HP ke kelas tapi saat pelajaran tidak boleh bermain HP,” lanjutnya.

Sang guru, Sujianto disebutnya sudah mengambil HP yang dia bawa. “Lalu saya minta, saya biasa guyon sama Pak Suji, jadi yang divideo seperti berantem, selesai dan ujian seperti biasa,” ujarnya.

Dia mengakui memang sempat mendorong tubuh gurunya. “Saya dorong minta HP, biasa bercanda, saya disuruh duduk, saya ambil tas milik Pak Suji buat barter kayak gitu. Saya duduk, HP dikembalikan, tidak ada pukulan tidak ada mengancam,” lanjutnya.

Sementara itu, Sujianto menerima permintaan maaf siswanya. Dia pun tidak akan memperpanjang persoalan ini.

“Iya saya maafkan, saya minta siswa berjanji tidak mengulangi perbuatannya lagi. Kemarin sebetulnya juga sudah tenang, tapi kemudian viral videonya itu,” ujar Sujianto.
(sip/sip)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sudah 19 Jam, Joko Driyono Masih Diperiksa Satgas Antimafia Bola

JakartaSatgas Antimafia Bola Polri masih memeriksa Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono sebagai tersangka pengrusakan barang bukti. Sama seperti pemeriksaan sebelumnya, hingga 19 jam Joko Driyono masih diperiksa polisi.

Joko Driyono alias Jokdri tiba di Mapolda Metro Jaya pada Kamis (21/2/2019) pukul 09.45 WIB. Hingga Jumat (22/2) pukul 05.00 WIB Jokdri belum juga selesai diperiksa penyidik.

Pemeriksaan ini merupakam lanjutan dari pemeriksaan sebelumnya pada Senin (18/2). Ada 15 pertanyaan sisa dari total 32 pertanyaan yang diajukan penyidik dalam pemeriksaan kali ini.

“Hari ini, Kamis jam 10.00 WIB karena ada waktu pemeriksaan pertama kita belum selesai semua dengan pemeriksaanya yang rencana penyidik ada 32 pertanyaan kemarin baru 17 (pertanyaan) dan sekarang kita lanjutkan untuk hari ini,” kata Argo kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (21/2/2019).

Argo mengatakan pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan penyidik seputar barang bukti yang dirusak oleh Jokdri hingga soal aliran dana. Barang bukti kasus pengaturan skor sepakbola yang tidak dirusak juga akan ditanyakan ke Jokdri.

“Pertanyaan berkaitan dengan perusakan, menyuruh merusak dan ada soal beberapa aliran dana dan dari barang bukti yang disitia itu juga akan ditanyakan satu persatu yang bararti yang sudah disita itu akan kita kaitkan sebagai pertanyaan Pak JD,” ungkap Argo.

Diketahui, Jokdri ditetapkan sebagai tersangka setelah tiga tersangka perusakan barang bukti dugaan pengaturan skor lain tertangkap. Mereka adalah Muhammad Mardani Mogot (sopir Jokdri), Musmuliadi (OB di PT Persija), dan Abdul Gofur (OB di PSSI). Kepolisian menyebut Jokdri sebagai aktor intelektual perusakan bukti kasus dugaan pengaturan skor.
(abw/abw)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tengah Bertransaksi, Polres Jaktim Tangkap 2 Pengedar Sabu di Jatinegara

Patroli Indosiar, Jakarta – Polres Jakarta Timur menangkap dua pengedar narkotika di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Dari penggeledahan di rumah tersangka, petugas menemukan sejumlah paket sabu dan ganja kering siap edar.  

Seperti ditayangkan Patroli Indosiar, Kamis (21/2/2019), pengedar sabu berinisial MR dibekuk saat bertransaksi dengan pemesannya di kawasan Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu malam kemarin

Dari keterangan MR, petugas menggeledah tersangka lain di kawasan Cipinanag Besar Selatan. Hasilnya, tiga paket ganja kering dan sabu-sabu serta alat hisap disita petugas.

“Kami melihat ada dua orang yang sedang kita curigai. Saat dihampiri, satu orang melarikan diri. Satu orang lain kita tangkap. Ternyata dia miliki sabu,” ujar Katim Satuan Gerak Cepat Rajawali Polres Jakarta Timur Aiptu Maryono.  

Keduanya lalu diserahkan ke Satnarkoba Polres Jakarta Timur untuk diperiksa. Kini, polisi memburu seorang pemesan yang lolos saat disergap di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur. (Karlina Sintia Dewi)

Polisi Dalami Dugaan Joko Driyono Terlibat Kasus Lain

Jakarta – Polisi menyatakan masih mendalami dugaan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono terlibat kasus lain selain dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor. Pemeriksaan, kata polisi, bakal terus dilakukan.

“Ya masih didalami dalam pemeriksaan lanjutan, kan belum selesai,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi detikcom, Selasa (19/2/2019).

Hal itu disampaikan Dedi saat ditanya apakah ada kemungkinan Joko terlibat kasus lainnya selain perusakan barang bukti. Dedi sendiri mengatakan pemeriksaan lanjutan Joko dijadwalkan pada Kamis (21/2/2019). Menurut Dedi, belum ada barang bukti lain yang disita terkait kasus yang diduga melibatkan Joko Driyono.


“Belum barang buktinya, sementara masih dimintai keterangan dulu untuk tambahan Kamis pagi,” kata Dedi.

Sebelumnya, Polisi sempat menyita uang Rp 300 juta dari apartemen Joko. Dari jumlah tersebut, Rp 160 juta disebut polisi diduga terkait kasus suap pengaturan skor. Namun, dia tak menjelaskan detail uang yang diduga suap dan disita dari apartemen Joko itu berasal pihak mana.

“Setelah dilakukan audit terhadap uang, yang kemarin informasinya Rp 300 juta, telah diaudit lagi, yang terkait masalah peristiwa pidana hanya Rp 160 juta,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Joko sendiri saat ini berstatus sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor sepak bola. Dia duga menjadi aktor intelektual perusakan sejumlah barang bukti yang dilakukan 3 tersangka sebelumnya, yaitu Muhammad Mardani Mogot (sopir Jokdri), Musmuliadi (OB di PT Persija), Abdul Gofur (OB di PSSI).

Polisi pun telah memeriksa Joko sebagai tersangka pada Senin (18/2). Usai diperiksa sekitar 20 jam, Joko irit bicara dan hanya menyatakan satgas antimafia bola telah bekerja secara profesional.

“Sejak kemarin jam 10.00 WIB sampai hari ini, alhamdulillah, telah memenuhi undangan Satgas untuk didengar keterangan saya sebagaimana surat panggilan. Satgas, penyidik, bekerja sangat profesional,” ujar pria yang kerap disapa Jokdri itu di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/2).

Polisi mengatakan Jokdri dicecar sejumlah pertanyaan terkait kasus perusakan barang bukti dalam pengaturan skor. Dalam pemeriksaan itu, Polisi menyebut Joko mengakui memerintahkan anak buahnya mengambil barang bukti.

“Intinya adalah garis besar yang kemarin saya sampaikan ya, bahwa yang bersangkutan akan ditanyai seputaran menyuruh orang untuk mengamankan laptop dan dokumen lain yang dalam posisi di-police line dan dalam penguasaan penyidik. Jadi yang bersangkutan menjawab ya, alasannya memang untuk menyuruh orang tersebut untuk mengamankan barang tersebut,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/2).

Simak Juga Joko Driyono Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Mafia Bola’:

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polisi Italia Sita Rp 10 Triliun Terkait Penipuan Perdagangan Berlian

Roma – Polisi keuangan Italia telah menyita sekitar 700 juta euro atau setara Rp 10 triliun sebagai bagian dari penyelidikan penipuan penjualan berlian. Kasus ini disebut melibatkan empat bank teratas negara itu.

Dilansir dari AFP, Rabu (20/2/2019), media Corriere della Sera melaporkan sebanyak 84 juta euro disita dari Banco BPM dan anak perusahaannya Banca Aletti, bersama dengan 35,5 juta euro dari Monte dei Paschi, 32 juta euro dari UniCredit dan 11 juta euro dari Intesa Sanpaolo.

Dua broker berlian, Intermarket Diamond Business (IDB) dan Diamond Private Investment (DPI), sedang diselidiki karena diduga menggunakan bank untuk menjual batu potong dengan harga lebih dari yang seharusnya.
Perintah penyitaan menyangkut 253 juta euro dari DPI dan 328 juta euro dari IDB.

Penyelidikan ini diluncurkan setelah sebuah program investigasi Italia pada 2016 menemukan batu yang dijual oleh IDP dan DPI ditawarkan dengan harga dua kali lipat jumlah permata yang sebanding pada daftar pasar berlian internasional Rapaport.

Bank-bank itu membuat komisi besar dari menghadirkan klien ke pialang berlian, katanya, menambahkan bahwa di antara mereka yang dilaporkan terkena penipuan adalah selebritas termasuk penyanyi Italia Vasco Rossi.
(haf/haf)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bom Palsu Pasar Sampang dan RSI Fatimah Cilacap, Saling Terkait?

Liputan6.com, Cilacap – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah memastikan ledakan di Pasar Sampang, Cilacap, yang sempat mengagetkan pengunjung dan pedagang pasar adalah proses pemusnahan bom palsu oleh Gegana Polda Jateng dan Polres Cilacap.

Hasil olah TKP dan penyelidikan menunjukkan, benda mencurigakan yang dimusnahkan itu adalah bom palsu atau fake bomb. Beberapa yang disita kepolisian di antaranya paralon dan wadah benda mencurigakan ini.

“Ini, ya itu bom palsu, fake bomb ya. Itu bom palsu, ada paralonnya,” kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja, Selasa (19/2/2019).

Agus mengungkapkan, benda mencurigakan itu ditemukan oleh masyarakat sekitar pukul 06.30 WIB. Lantas, polisi mengamankan lokasi dan berkoordinasi untuk memusnahkan benda ini.

“Itu barang mencurigakan. Terus dicek oleh polisi, kemudian didisposal. Itu jam setengah tujuh tadi, kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian,” katanya.

Agus mengemukakan, sekitar pukul 09.00 WIB, benda ini diledakkan. Sebelum itu, polisi memastikan area peledakan steril dari segala aktivitas. Namun, pemusnahan itu justru lebih mengagetkan pedagang dan pengunjung pasar.

“Cuma kaget saja, padahal kan diledakkan oleh kepolisian,” ujarnya.

Dia menerangkan, saat ini kepolisian masih menggelar olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kapolres Cilacap, Djoko Julianto. Penyelidikan itu termasuk untuk mendalami motif peletakan bom palsu di area pasar ini.

2 dari 2 halaman

Bom Palsu di RSI Fatimah Cilacap

Menurut Agus, polisi tak bisa menduga-duga motif yang melatarbelakangi peletakan bom di Pasar Sampang ini. Polisi masih mengolah TKP dan mendalami kasus fake bomb ini.

“Harus diselidiki ya. Kita tidak bisa menduga-duga,” dia menambahkan.

Sebelumnya, bom palsu juga ditemukan di seberang Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah yang berdekatan dengan Markas Polres Cilacap, 1 Januari 2019 lalu.

Soal ini, Agus mengatakan polisi belum bisa memastikan apakah ada hubungan antara bom palsu yang diletakkan di Pasar Sampang dengan RSI Fatimah. Dia hanya memastikan, tim sudah diterjunkan untuk menyelidiki kemungkinan itu.

“Kita masih selidiki ya. Kan baru saja kejadiannya. Kita masih menyelidiki. Kita menerjunkan tim untuk menyelidiki ya,” ucapnya.

Agus mengemukakan, lokasi saat ini masih steril. Tim masih mengolah TKP. Hal ini dilakukan untuk mengetahui motif peletak benda mirip mencurigakan yang sempat dikira bom. Dia juga belum bisa memastikan bahwa peletakan benda mencurigakan itu merupakan bentuk teror.

“Wah, kita masih harus mendalami (motifnya) ya. Belum bisa menduga-duga ini. Kita selidiki lah pokoknya,” dia menerangkan.

Sebelumnya pengunjung dan pedagang pasar Sampang Kabupaten Cilacap dikagetkan oleh ledakan diduga bom dari dalam pasar. Polisi memastikan ledakan itu adalah pemusnahan atau disposal dengan cara sengaja diledakkan.

Sekitar 1,5 bulan sebelumnya, Selasa 1 Januari 2019 sekitar pukul 03.00 WIB, seorang penunggu pasien di RSI Fatimah juga menemukan benda mencurigakan yang diletakkan di dekat pintu masuk RSI Fatimah yang berdekatan dengan Markas Polres Cilacap.

Belakangan diketahui benda itu adalah bom palsu atau fake bomb. Usai diledakaan polisi menemukan tiga paralon sepanjang 33 cm dengan diameter 1,5 inchi, dua helai kabel warna merah dan biru sepanjang 10 cm, satu buah baterai AA, 44 buah paku ukuran 5 sentimeter, dua buah jam beker, campuran pasir dan genteng, serta potongan kardus, lakban, dan kresek.


Simak juga video pillihan berikut ini:

Kisah Jokdri: Jadi Plt Ketum PSSI, Kini Tersangka Perusakan Bukti

Jakarta – Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono akan diperiksa sebagai tersangka kasus perusakan barang bukti terkait dugaan pengaturan skor hari ini. Pemeriksaan Joko akan digelar di Mapolda Metro Jaya.

“Dalam rangka pemeriksaan yang bersangkutan, selanjutnya pada hari Jumat kemarin dari Satgas Anti Mafia Bola melayangkan surat panggilan pada saudara J untuk dimintai keterangan dengan status sebagai tersangka hari Senin besok,” ujar Kabiro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (16/2/2019).

Nama Joko memang tak asing di internal PSSI. Pria yang juga dikenal dengan panggilan Jokdri itu sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PSSI sebelum akhirnya didapuk sebagai Plt Ketum PSSI menggantikan Edy Rahmayadi.

Jabatan Ketum PSSI didapat Jokdri bisa dibilang dengan ‘cuma-cuma’. Pasalnya, jabatan itu didapat setelah Edy memutuskan mundur pada kongres PSSI di Bali beberapa waktu lalu.

Laporan dugaan pengaturan skor di Liga 2 ternyata menjadi momok bagi Jokdri. Sebab, berawal dari kasus itulah status tersangka kasus perusakan barang bukti kini berada di pundaknya.

Penetapan status tersangka kepada Jokdri merupakan tindak lanjut dari serangkaian penggeledahan yang dilakukan Satgas Anti Mafia Bola. Namanya mulai terseret saat penyidik menemukan ada sejumlah dokumen yang sengaja dihancurkan menggunakan mesin. Dokumen yang diketahui merupakan data keuangan Persija Jakarta itu ditemukan penyidik saat menggeledah kantor PT Liga Indonesia.

“Terkait dengan dokumen keuangan dari Persija. Itu hasil keterangan dari para saksi. Tentang apa itu, kita dalami lagi,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Syahar Diantono, di Universitas Indonesia, Senin (4/2/2019).

Penyidik Satgas Anti Mafia Bola lalu menetapkan tiga tersangka perusakan barang bukti itu. Dari tersangka, polisi mendapatkan kesaksian bahwa Jokdri yang memerintahkan untuk menghancurkan dokumen tersebut.

Penyidik lalu melakukan serangkaian penggeledahan salah satunya di apartemen Jokdri yang berada di Apartemen Taman Rasuna Tower 9 lantai 18 di Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (14/2). Dari penggeledahan tersebut penyidik menyita sejumlah barang bukti.

“Yang disita banyak, ada banyak buku tabungan ada kartu kredit dan sejumlah uang,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi detikcom, Jumat (15/2).

Ternyata, saat menggeledah apartemen tersebut status Jokdri sudah tersangka. Jokdri dijerat dengan Pasal 363 KUHP dan/atau Pasal 265 KUHP dan/atau Pasal 233 KUHP. Pasal-pasal tersebut pada intinya mengenai tindakan pencurian dengan pemberatan atau perusakan barang bukti yang telah terpasang police line.

“Perusakan barang bukti,” ujar Ketua Tim Media Satgas Antimafia Bola Kombes Argo Yuwono saat dimintai konfirmasi, Jumat (15/2).
(zak/fai)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>