Rp 46 M Disita KPK dari Pejabat PUPR Termasuk Duit Israel, Buat Apa?

JakartaKPK menyita miliaran duit dari puluhan pejabat di lingkungan Kementerian PUPR. Miliaran uang itu disita dalam bentuk belasan pecahan mata uang, termasuk dari Israel.

Setidaknya ada 14 mata uang yang berbeda yang disita KPK dengan besaran yang berbeda-beda pula. Namun apabila di-rupiah-kan, total uang yang disita kurang lebih Rp 46 miliar.

Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan total Rp 46 miliar itu disita dari 75 orang. Di antara 75 orang itu, ada 69 pejabat di lingkungan Kementerian PUPR yang mengembalikannya ke KPK. Untuk apa duit-duit itu?

“KPK menduga pembagian uang pada pejabat Kementerian PUPR terjadi massal pada puluhan pejabat di sana terkait proyek sistem penyediaan air minum,” kata Febri Diansyah pada wartawan, Jumat (5/4/2019).

Pengembalian uang itu diterima KPK sejak kasus suap terkait proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) diusut KPK. Dalam pusaran kasus ini, KPK menduga PT Wijaya Kusuma Emindao (WKE) dan PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP) memberikan suap pada pejabat PUPR demi memenangi lelang proyek SPAM 2017-2018. Hasilnya, kedua perusahaan itu menang lelang 12 proyek dengan nilai Rp 429 miliar.

Suap diduga senilai 10 persen dari nilai masing-masing proyek. Duit haram itu kemudian diduga dibagi lagi, yaitu 7 persen untuk kepala satuan kerja (Kasatker) dan 3 persen untuk pejabat pembuat komitmen (PPK). Singkatnya ada 8 tersangka yang dijerat, antara lain:

– Diduga sebagai pemberi:
1. Budi Suharto (BSU) selaku Direktur Utama PT WKE;
2. Lily Sundarsih (LSU) selaku Direktur PT WKE;
3. Irene Irma (IIR) selaku Direktur PT TSP; dan
4. Yuliana Enganita Dibyo (YUL) selaku Direktur PT TSP.

– Diduga sebagai penerima:
5. Anggiat Partunggul Nahot Simaremare (ARE) selaku Kasatker SPAM Strategis/PPK SPAM Lampung;
6. Meina Woro Kustinah (MWR) selaku PPK SPAM Katulampa;
7. Teuku Moch Nazar (TMN) selaku Kepala Satker SPAM Darurat; dan
8. Donny Sofyan Arifin (DSA) selaku PPK SPAM Toba 1.

Kembali soal miliaran uang yang disita. Febri menyebut jenis mata uang itu terdiri dari 14 jenis yaitu rupiah Indonesia (Rp), dolar Amerika Serikat (USD), dolar Singapura (SGD), dolar Australia (AUD), dolar Hong Kong (HKD), Euro (EUR), poundsterling Inggris (GBP), ringgit Malaysia (RM), yuan China (CNY), won Korea Selatan (KRW), bath Thailand (THB), yen Jepang (JPY), dong Vietnam (VND), dan shekel baru Israel (ILS). Berikut detailnya:

– Rp 33.466.729.500
– USD 481.600 (dikonversikan menjadi Rp 6.820.539.600)
– SGD 305.312 (dikonversikan menjadi Rp 3.192.793.797)
– AUD 20.500 (dikonversikan menjadi Rp 207.080.750)
– HKD 147.240 (dikonversikan menjadi Rp 266.018.508)
– EUR 30.825 (dikonversikan menjadi Rp 490.094.380)
– GBP 4.000 (dikonversikan menjadi Rp 74.285.000)
– RM 345.712 (dikonversikan menjadi Rp 1.199.669.627)
– CNY 85.100 (dikonversikan menjadi Rp 179.442.588)
– KRW 6.775.000 (dikonversikan menjadi Rp 84.421.911)
– THB 158.470 (dikonversikan menjadi Rp 70.496.964)
– JPY 901.000 (dikonversikan menjadi Rp 114.386.455)
– VND 38.000.000 (dikonversikan menjadi Rp 23.204.281)
– ILS 1.800 (dikonversikan menjadi Rp 7.113.280)

(dhn/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

KPK juga Temukan Duit Honor di Ruang Menteri Agama, tapi Tak Disita

Jakarta – KPK mengungkap ada uang lain yang ditemukan di ruang Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin saat dilakukan penggeledahan di sana. Namun, uang itu tak disita karena berdasarkan bukti dan data yang ada uang itu diduga sebagai honor.

“Kami sebenarnya juga menemukan uang-uang yang lain di ruangan Menteri Agama pada saat itu yang dari informasi atau dari data yang ada di sana itu diduga merupakan honorarium dan uang-uang tersebut tidak dibawa,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (21/3/2019).

Penggeledahan di ruang Menag Lukman itu dilakukan terkait kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kemenag dengan tersangka Romahurmuziy (Rommy). Adapun jumlah uang yang disita ialah Rp 180 juta dan USD 30 ribu.

Febri menegaskan uang yang disita itu diduga terkait dengan perkara. Namun, nantinya akan ada proses klarifikasi terkait uang yang disita itu.

“Jadi sejak awal tim KPK sudah memisahkan mana uang dalam amplop yang merupakan honor, mana yang bukan. Tapi tentu nanti ada proses klarifikasi lebih lanjut yang akan kami tanya saat proses pemeriksaan,” ujarnya.

Dia menyatakan KPK tak menghitung uang yang tak disita tersebut. Namun, Febri menjelaskan soal skema pemberian honor bagi penyelenggara negara, misalnya honor saat penyelenggara negara yang menjadi pembicara di sebuah acara.

“Ketika ada pejabat melaporkan menerima honor Rp 100 juta dan dia bicara dalam sebuah acara selama 2 jam atau 3 jam, maka kami akan melihat standar biayanya selama satu jam berapa. Kalau standar biayanya untuk ahli sekitar Rp 1,7 atau Rp 1,8 juta, atau katakanlah Rp 2 juta dikali 3 jam, maka yang berhak diterima menjadi milik penerima itu adalah nilai wajar dikali jumlah jam yang bersangkutan bicara,” jelasnya.

“Kalau misalnya ada honor nilainya sangat besar misalnya Rp 50 juta atau Rp 100 juta, maka sisanya jadi milik negara,” sambung Febri.

Sebelumnya sejumlah pihak telah angkat bicara terkait uang Rp 180 juta dan USD 30 ribu yang disita KPK itu. Misalnya, Wapres Jusuf Kalla (JK) yang menilai uang tersebut lazim berada di ruangan seorang Menteri.

“Lazim dong, selalu ada namanya kas kecil (di ruang kerja) iya kan dan menteri itu juga ada dana operasionalnya, dan itu kas dana operasionalnya (menteri),” ujar JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (19/3).

Kemudian, PPP juga angkat bicara soal uang yang ditemukan di ruangan Lukman. Menurut PPP, Lukman yang juga Ketua Majelis Pakar PPP, dinilai merupakan orang yang terkenal bersih.

“Yakin (tidak berkaitan). Pak Menteri Lukman kan terkenal bersih ya,” kata Waketum PPP Arwani Thomafi di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (19/3).

“Memang kami diinfokan bahwa itu uang-uang honor, honor sebagai menteri. Menteri kunjungan ke mana kan ada honornya, ada sebagai pembicara narasumber, itu kan ada honornya semua,” sambung dia.

Dalam kasus ini, ada 3 orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka. Mereka ialah Rommy selaku anggota DPR dan eks Ketum PPP yang diduga sebagai penerima, Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin sebagai tersangka pemberi.

Total suap yang diduga diberikan kepada Rommy berjumlah Rp 300 juta. Duit itu diduga diberikan agar Rommy membantu proses seleksi jabatan Muafaq dan Haris.
(haf/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Duit Ratusan Juta Disita dari Laci, Ini Kata Menag Lukman Hakim

JakartaMenteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menegaskan menghormati KPK pengusutan dugaan suap jual-beli jabatan dengan tersangka Romahurmuziy (Rommy). KPK sebelumnya menggeledah ruang kerja Menag Lukman Hakim dan menyita duit ratusan juta rupiah dari laci.

Gini, saya harus menghormati institusi KPK, jadi secara etis tidak pada tempatnya saya menyampaikan hal yang saya belum saya sampaikan kepada KPK sebagai institusi resmi,” kata Menag Lukman Hakim di kantornya, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2019).

KPK sebelumnya memastikan uang yang ditemukan di laci meja kerja Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berkaitan dengan perkara yang saat ini ditangani KPK. KPK sedang menelusuri asal-usul uang tersebut.


KPK dalam penggeledahan Senin (18/3) lalu menyita uang sebanyak Rp 180 juta dan USD 30 ribu di laci ruang kerja Menag.

“Nanti akan kami telusuri satu per satu bukti-buktinya, klarifikasi-klarifikasinya, dan informasi-informasi lainnya yang relevan,” ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Dalam kasus ini, ada 3 orang yang ditetapkan KPK sebagai tersangka. Mereka ialah Rommy sebagai tersangka penerima serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin sebagai tersangka pemberi.

Rommy diduga menerima duit suap Rp 300 juta dari Haris dan Muafaq. Duit itu diduga diberikan keduanya agar Rommy, yang merupakan anggota DPR dan eks Ketua Umum PPP, membantu proses seleksi mereka untuk jabatan yang saat ini diduduki.

Simak Juga “Jajarannya Diciduk KPK, Menteri Agama Minta Maaf”:

[Gambas:Video 20detik]

(fdn/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ini Kata Wakil Ketua KPK Soal Uang yang Disita dari Laci Menteri Agama

Liputan6.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang senilai Rp 180 juta dan USD 30.000 dari ruang kerja Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. Penyitaan ini sebagai rentetan penyidikan kasus mantan Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy.

Belum jelas status dan kaitan uang tersebut dalam kasus ini.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang enggan berkomentar detil mengenai hal tersebut. Dia mengatakan, sedianya urusan keuangan di setiap kementerian berada di tangan bendahara.

Namun, dia menyebut banyak kemungkinan soal asal muasal uang tersebut. 

“Saya enggak tahu tapi kan ada bendaharanya. Juga kan mungkin untuk kepentingan, ada yang namanya dana taktis bisa saja kan,” ujar Saut usai menghadiri seminar Urgensi Pembaruan Revisi Undang-undang Tipikor di Sari Pan Pacific Hotel, Jakarta, Selasa 19 Maret 2019.

Penyitaan uang oleh KPK di ruang kerja Lukman juga mengundang reaksi Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dia menduga uang ratusan juta di laci meja kerja Lukman tidak terkait kasus jual beli jabatan.

Dia menambahkan, bagi pejabat lumrah menyimpan uang di kantor. Bahkan dia tidak menampik kerap menyimpan uang di kantornya.

“Lazim dong, selalu namanya kas kecil. Ya kan, dan itu juga menteri ada dana operasionalnya. Dan itu cash dana operasionalnya,” ujar Wapres JK di kantornya.

Penggeledahan

Sebelumnya, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang ratusan juta rupiah di ruang kerja Menteri Agama (Menang) Lukman Hakim Saifuddin. Uang tersebut dalam bentuk dolar Amerika Serikat dan rupiah.

“Kami temukan kemudian disita juga dari ruangan Menteri Agama sejumlah uang dalam bentuk rupiah dan dollar dengan nilai seratusan juta rupiah,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin 18 Maret 2019.

KPK membeberkan nominal uang yang disita dari Kantor Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Uang tersebut diduga terkait kasus jual beli jabatan yang melibatkan mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy. Totalnya ada sekitar Rp 180 juta ditambah USD 30.000.

“Kemarin sudah dilakukan penyitaan terhadap uang yang ditemukan di laci meja ruang kerja Menteri Agama. Uang tersebut akan diklarifikasi juga jumlahnya dalam rupiah sekitar Rp 180 jutaan dan dalam US dollar ada sekitar 30 ribu USD,” tutur Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK.

Uang tersebut kemudian akan dipelajari penyidik KPK dan menjadi bagian dari pokok perkara kasus tersebut. Termasuk juga menyelidiki sejumlah dokumen yang didapatkan dari lokasi penggeledahan lain yakni Kantor DPP PPP dan rumah Romahurmuziy di Condet.

“Akan kami lakukan analisis lebih lanjut karena kami juga ada tentu bukti-bukti terkait barang-barang yang disita,” jelas dia.

Dalam prosesnya, KPK dapat memanggil Menteri Agama untuk dimintai keterangan terkait temuan itu.

“KPK juga mengingatkan kepada pihak terkait agar bersikap kooperatif. Harapannya semua pihak kooperatif dalam penanganan perkara ini agar prosesnya bisa kita letakkan hanya sebagai sebuah proses hukum sesuai aturan yang berlaku,” ucap Febri.

Duit yang Disita KPK dari Ruang Menag Rp 180 Juta dan USD 30 Ribu

Jakarta – KPK sudah menghitung jumlah duit yang disita dari ruang Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Totalnya Rp 180 juta dan puluhan ribu dolar AS.

“Kemarin sudah dilakukan penyitaan uang yang ditemukan di laci meja ruang kerja menteri agama. Uang tersebut akan diklarifikasi juga tentunya. Jumlahnya Rp 180 juta dan USD 30 ribu,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di kantornya, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (19/3/2019).

KPK akan menelusuri ada-tidaknya kaitan duit ratusan juta di ruang Menag Lukman Hakim dengan perkara dugaan suap jual beli jabatan di Kemenag. Penggeledahan di ruang kerja Menag dilakukan setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) eks Ketum Romahurmuziy.

“Jadi uang tersebut sudah disita dan dipelajari lebih lanjut,” kata Febri.

Penggeledahan di ruang Menag dan ruang lainnya, dilakukan tim penyidik KPK, Senin (18/3). Duit ratusan juta ditemukan dari ruang Menag termasuk dokumen-dokumen, salah satunya berkaitan dengan salah satu tersangka pemberi suap ke Romahurmuziy.

KPK sebelumnya menyatakan Romahurmuziy diduga mengatur proses pengisian jabatan untuk Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin.

KPK menyebut Haris Hasanuddin menyetor uang Rp 250 juta ke Romahurmuziy. Sedangkan Muafaq memberikan uang Rp 50 juta pada Jumat (15/3) sebelum akhirnya dilakukan operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK.

(fdn/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Duit Disita KPK di Ruang Kerja Menag Pecahan Rupiah dan Dolar

JakartaKPK menyita duit senilai ratusan juta rupiah saat menggeledah kantor Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin. Duit itu terdiri dari pecahan rupiah dan dolar AS.

“Disita dari ruang Menteri Agama sejumlah uang dalam bentuk rupiah dan dolar dengan nilai ratusan juta rupiah,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Senin (18/3/2019).

Penggeledahan itu sendiri dilakukan terkait kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kemenag dengan tersangka Anggota DPR yang juga eks Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy), Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi dan Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur Haris Hasanuddin. Namun, KPK belum menjelaskan detail asal usul uang yang disita dari ruang Lukman tersebut.

“Nanti detailnya tentu akan diupdate lebih lanjut,” ucap Febri.

KPK mengamankan Rommy dalam operasi tangkap tangan (OTT) di Surabaya, Jumat (15/3). Rommy kemudian ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kemenag pusat dan daerah.

Diduga, Rommy menerima total Rp 300 juta untuk mengurus proses seleksi jabatan bagi Muafaq dan Haris Hasanuddin. KPK menyebut Muafaq diduga memberi duit Rp 50 juta pada Jumat (15/3) ke Rommy, sedangkan Haris diduga membe duit Rp 250 juta ke Rommy pada 6 Februari 2019.
(haf/dhn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Rumah Terduga Teroris Abu Riky Digeledah, Busur Panah Disita

Jakarta – Tim Densus 88/Antiteror menggeledah rumah terduga teroris Abu Riky yang ditangkap di Rokan Hilir (Rohil), Riau. Ada busur panah yang diamankan dari rumah Abu Riky.

“Diamankan barang bukti 8 busur anak panah, busur panah, face target, laptop,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Kamis (14/3/2019).

Penangkapan Abu Riky dilakukan di Bagan Kota, Rohil sekitar pukul 08.25 WIB. Selanjutnya Densus 88 menggeledah tempat tinggal Abu Riky di Jl Dr Pratomo.

Abu Riky diduga aktif mem-posting terkait kejadian teror. Dia juga diduga pernah memberi arahan kepada anggota grup WhatsApp untuk melakukan teror.

“Jadi poster-poster propaganda yang diambil dari beberapa foto, video dan ditambah narasi-narasi dia (terkait) serangan ISIS yang dilakukan di Filipina. Kemudian beberapa kegiatan ISIS yang ada di luar negeri diambil sama dia, diposting lagi di Indonesia. Memang untuk membangkitkan selamat sleeping cell ini akan terprovokasi atau teragitasi,” papar Dedi.

(fdn/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

AS Tawarkan Hadiah Rp 14 M untuk Informasi Putra Osama bin Laden

Washington

Amerika Serikat menawarkan hadiah uang tunai hingga US$1 juta atau Rp14,1 miliar kepada siapapun yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Hamzaputra, putra mendiang pendiri Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan Hamza bin Laden tengah dicari lantaran dia menjadi pemimpin kunci sebuah kelompok milisi Islam.

Beberapa tahun lalu, dia merilis pesan audio dan video, menyerukan kepada pengikutnya untuk menyerang AS dan para sekutunya demi membalaskan dendam atas pembunuhan sang ayah.

Osama bin Laden tewas dibunuh pasukan khusus AS di Pakistan pada 2011 lalu.

Semasa hidupnya, Osama menyetujui serangan ke AS pada 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang.

Hamza bin Laden, yang diyakini berusia sekitar 30 tahun, ditetapkan secara resmi oleh AS sebagai teroris global pada dua tahun lalu.

Dia menikahi putri Mohammed Attapelaku pembajakan salah satu pesawat komersial yang digunakan dalam penyerangan 11 September 2001, dan menabrakkannya ke gedung World Trade Center di New York.

Surat-surat dari Osama bin Laden yang disita dari rumahnya di Abbotabad, Pakistan, tempat dia dibunuh pada 2011mengindikasikan mendiang telah memupuk Hamza untuk menggantikannya sebagai pemimpin Al-Qaeda. Deplu AS menambahkan, Hamza diyakini merupakan putra favorit Osama.

“Kami meyakini dia mungkin berada di perbatasan Afghan-Pakistan dandia akan menyeberang ke Iran. Namun, dia bisa berada di mana saja di Asia Tengah bagian selatan,” kata Asisten Menteri di bidang Keamanan Diplomatik, Michael Evanoff.

https://twitter.com/Rewards4Justice/status/1101239592903168006

Hamza bin Laden diyakini menghabiskan beberapa tahun bersama ibunya di Iran, tempat dia dipercaya telah melangsungkan pernikahan.

Laporan lain menunjukkan dia mungkin pernah tinggal di Pakistan, Afghanistan, atau Suriah.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Diduga Dikirim untuk Kim Jong-un, 90.000 Botol Vodka Disita Bea Cukai Belanda

Liputan6.com, Den Haag – Pejabat pabean Belanda di pelabuhan Rotterdam telah menyita 90.000 botol vodka yang diyakini akan dikirimkan untuk pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dan para kepala pasukannya.

Pembeslahan itu dilakukan setelah pemerintah Negeri Kincir Angin mencurigai rute pengiriman paketan minuman keras itu dari catatan kapal kontainer milik China: Nebula.

Vodka buatan Rusia itu, yang dikemas dalam 3.000 kotak, telah diperhatikan dengan seksama oleh petugas Bea dan Cukai Belanda karena akan dibongkar di Tiongkok, melalui pelabuhan Hamburg dan Rotterdam.

Ketika otoritas berusaha untuk memeriksa kontainer yang ditempatkan di lambung kapal, kardus-kardus vodka tersebut ditemukan tersembunyi dan diletakkan di dalam sebuah pesawat terbang yang juga akan diekspor ke China.

Kementarian urusan ekspor-impor Belanda pun memerintahkan untuk menurunkan seluruh peti kemas itu. Berdasarkan investigasi awal, pihak berwenang curiga bahwa pengangkutan itu akan dibawa ke Pyongyang, Korea Utara.

Seorang petugas bea cukai Belanda menampilkan sebuah kontainer berisi 90.000 botol vodka. (Robin Utrecht / AFP)

Arno Kooij, petugas Bea Cukai yang bertanggung jawab atas penyitaan tersebut, menolak untuk memberikan keterangan lebih lanjut kepada wartawan yang meliput.

“Kami tidak ingin membuat orang lain menjadi lebih bijaksana daripada yang seharusnya,” katanya kepada surat kabar Belanda, Algemeen Dagblad.

“Apa yang bisa saya katakan, berdasarkan informasi yang kami miliki, kami menduga bahwa paket ini akan jatuh ke tangan Kim Jong-un. Kami curiga vodka ini tidak akan dikirim ke China, tetapi ke Korea Utara,” imbuhnya, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (27/2/2019).

Menteri Perdagangan Belanda, Sigrid Kaag, yang memerintahkan penyitaan itu, mengatakan, “Dewan Keamanan PBB telah menjatuhkan sanksi yang tegas kepada Korea Utara, jadi kami pun harus menjunjung tinggi keputusan tersebut, dengan menegakkan sanksi-sanksi yang dimaksud. Sanksi tersebut juga berkaitan dengan impor barang-barang mewah dan oleh karena itu, Bea Cukai benar-benar diberikan kuasa penuh untuk membongkar kontainer ini.”

Kim Jong-un, yang dikabarkan pernah mengenyam pendidikan di Swiss, dikenal memiliki gaya hidup yang berkelas. Tahun lalu, ia diklaim telah menghabiskan lebih dari US$ 4 miliar untuk mengimpor produk-produk mewah dari China, sejak mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011.

Sedangkan keluarganya dilaporkan telah mengimpor sebuah pesawat amfibi, alat-alat musik, jam tangan dan bulu, dengan total sumbangan impor terhadap Korea Utara –dari China– sebesar 17,8%.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Beredar Rekaman Kim Jong-un Merokok Saat Rehat di China Menuju Vietnam

Selain gemar mengonsumsi minuman beralkohol, Kim Jong-un juga disinyalir tak bisa lepas dari rokok. Secara mengejutkan, sebuah cuplikan tayangan televisi asal Jepang, TBS TV, memperlihatkan pemimpin Korea Utara ini tengah merokok saat singgah di salah satu stasiun kereta di China pada Selasa dini hari, 26 Februari, waktu setempat.

Momen tersebut terekam oleh kamera dari jarak jauh menjelang matahari terbit, dalam persinggahan terakhir menuju Kota Don Dang di perbatasan utara Vietnam, demikian sebagaimana dikutip dari Associated Press pada Selasa.

Video itu memperlihatkan Kim Jong-un tengah mengepulkan asap rokok dan berbicara dengan pejabat Korea Utara di stasiun kereta Nanning, China.

Seorang wanita yang kemungkinan adalah saudara perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong, terlihat memegang asbak kristal di dekatnya.

Meski mendorong kampanye anti-rokok nasional di Korea Utara, Kim Jong-un kerap terlihat memegang batang rokok di tangannya.

Pada 2017, lembaga penyiaran negara Korea Utara tanpa sengaja menunjukkan Kim Jong-untengah merokok di depan salah satu misil balistik antarbenua berbahan bakar cair, ketika sedang menjalani persiapan untuk peluncuran uji coba.

Kim Jong-un tiba di Vietnam pada Selasa pagi, sekitar pukul 08.15 waktu setempat, setelah melakukan perjalanan hampir 70 jam dari Pyongyang, menggunakan rangkaian kereta lapis baja.

Dia melanjutkan perjalanan ke Hanoi dengan sedan Mercedes Benz, yang diiringi oleh lapisan keamanan tingkat tinggi.

Kedatangannya ke Vietnam adalah untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, guna membahas kebuntuan dalam kerja sama dalam menuju denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.

Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) melaporkan keberangkatan Kim Jong-um didampingi oleh negosiator utama dalam pembicaraan nuklir Kim Yong-chol, saudara perempuannya Kim Yo-jong, dan berbagai pejabat tinggi lainnya.

Namun, istrinya, Ri Sol-ju, tidak disebutkan ikut dalam rombongan tersebut.

Polisi Gandeng Ahli Analisa Video 3 Emak Kampanye Hitam ke Jokowi

Bandung – Polisi menganalisa video kampenye hitam yang dilakukan 3 wanita asal Karawang dari Partai Emak-emak Prabowo Sandiaga (PEPES) ke Joko Widodo (Jokowi). Penyidik menggandeng ahli untuk menelaah video tersebut.

Video yang viral beberapa waktu lalu tersebut sudah disita polisi sebagai alat bukti. Selain video, polisi juga mengantongi akun twitter @citrawida5 milik salah seorang tersangka.

“Kemudian nanti (video) akan ditranskip dalam bentuk digital forensik dan kemudian wujud keasliannya kita lihat video tersebut dan kita akan meminta keterangan atau pendapat ahli,” ucap Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko saat dihubungi, Rabu (27/2/2019).

Ahli yang akan dimintai pendapat yakni ahli pidana, ahli Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta ahli bahasa. Sebab, kata Truno, dalam video tersebut ada tutur kata yang menjadi dasar dugaan ujaran kebencian dan berita bohong.

“Nanti ahli yang menyampaikan. Isi konten kan ada suara azan tidak terdengar lagi, masalah melegalkan pernikahan, itu hal-hal yang tidak ada dasar data, itu penyebaran berita bohong,” kata Truno.

Untuk proses penyidikan perkara ini akan dilakukan oleh penyidik Polres Karawang. Penahanan juga dilakukan di Polres Karawang.

Dalam perkara ini, polisi telah menetapkan ketiga orang dari relawan PEPES itu sebagai tersangka. Mereka di antaranya ES warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang, IP warga Desa Wancimekar, Kecamatan Kota Baru Kabupaten Karawang dan CW warga Telukjambe, Desa Sukaraja, Kabupaten Karawang.

ketiga orang ini dikenakan Pasal 28 ayat (2) Jo pasal 45A ayat (2) UU RI No. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik; dan/atau pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 atau pasal 15 UU RI No. 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Mereka memiliki peran masing-masing dalam video tersebut. Truno menjelaskan dalam kasus ini, ES dan IP terlihat dalam video mengeluarkan kata-kata terhadap seorang kakek yang berdiri di depan pintu rumahnya. Sementara CW melakukan perekaman dan mengunggah ke media sosial dengan akun miliknya @citrawida5.

“Video ini kemudian menimbulkan keresahan dalam kontennya,” kata Truno.

Saksikan juga video ‘Ketua DKPP Balas Komentar Fadli Soal Emak-emak Kampanye Hitam’:

[Gambas:Video 20detik]

(dir/ern)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>