Ironi Kasus Suap Direktur Krakatau Steel Berharta Rp 14 Miliar

Jakarta – Direktur Teknologi PT Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Ironisnya, Kuncoro sudah bergaji besar dan punya harta yang berlimpah. Dia juga menjadi tersangka saat momen pernikahan anaknya.

Kuncoro ditangkap KPK di kawasan Tangerang Selatan pada Jumat (22/3/2019) dengan barang bukti berupa uang Rp 20 juta. Padahal gajinya selaku direksi BUMN berjumlah besar.

Berdasarkan keterangan dari situs Laporan Harta kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Wisnu punya harga Rp 14.638.045.481,00. Dia terakhir kali melaporkan harganya pada 29 Maret 2018, saat dia sudah menjabat direktur PT Krakatau Steel.


Dia punya harta tak bergerak berupa logam mulia senilai Rp 460. 000.000,00. Dia punya kendaraan senilai Rp 296.000.000,00 terdiri dari mobil Toyota Kijang tahun 2005, Honda Brio tahun 2015, dan sepeda motor Honda Vario tahun 2014.

Kuncoro juga memiliki harta bergerak senilai Rp 460.000.000,00, surat berharga senilai Rp 2.697.307.639,00, dan kas senilai Rp 5.678922.841,00. Dia tidak memiliki utang. Bagaimana menjelaskan ironi bahwa Kuncoro bergaji besar namun masih menerima suap?

Ironi Kasus Suap Direktur Krakatau Steel Berharta Rp 14 Miliar Jumpa pers kasus Krakatau Steel (Alfons-detikcom)

“Tindakan ataupun hal-hal yang dilakukan itu kan sifatnya individu. Kalau ditanya mengenai pendapatan, itu kembali ke individu masing-masing, bagaimana menjaga norma dan juga aturan yang sebaik-baiknya dalam rangka mewujudkan kita sebagai seorang profesional yang bisa diandalkan dalam setiap penugasan,” kata Dirut Krakatau Steel, Silmy Karim kepada wartawan di Gedung Krakatau Steel, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (24/3/2019).

Silmy menyayangkan kasus yang menjerat Kuncoro. Soal pertimbangan kenapa Kuncoro masih mau menerima suap, menurutnya itu adalah sikap pribadi.

“Saya tidak bisa berkomentar terkait hal yang sifatnya pribadi. Saya pikir juga sudah banyak kasus faktor gaji tidak menjadi suatu dasar yang melanggar hukum,” kata Silmy.

Silmy mengaku kaget dengan kabar pengakapan Kuncoro. Soalnya Kuncoro dinilainya sebagai sosok yang baik. Meski begitu, Silmu mendukung KPK dalam memberantas korupsi.

“Kita cukup kaget. Terus terang, jajaran direksi sangat baik dan kompak dalam membangun kembali kejayaan Krakatau Steel,” kata Silmy.

OTT KPK juga menjaring lima orang lainnya. Barang bukti berupa uang Rp 20 juta. Kuncoro ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada Sabtu (23/3/2019) kemarin, setelah KPK melakukan pemeriksaan dan gelar perkara. Dia menjadi tersangka kasus dugaan suap terkait pengadaan barang dan jasa di Krakatau Steel. KPK menyebut Kuncoro setuju dengan tersangka lain bernama Alexander Muskita, yang diduga sebagai perantara suap, yang menawarkan pengerjaan dua proyek Krakatau Steel masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar.

Penetapan tersangka Kuncoro berdekatan dengan hari pernikahan anak Kuncoro. KPK mengizinkan Kuncoro menghadiri pernikahan anaknya. “Pimpinan sepakat untuk beri yang bersangkutan untuk hadir di akad nikahnya acara itu,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam jumpa pers di kantornya, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3/2019).

Kasus ini juga ironis, karena tanpa korupsi maka Krakatau Steel bisa menjadi perusahaan yang lebih baik. Perusahaan itu sudah berdiri sejak 1970 dan seharusnya bisa menghasilkan indsutri baja nasional yang luar biasa.

“Kami merasa sangat miris dan menyayangkan masih terjadinya suap dalam pengadaan barang dan jasa di Badan usaha Milik Negara,” kata Saut.

(dnu/eva)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Terjaring OTT KPK, Direktur PT Krakatau Steel Punya Harta Rp 14,6 M

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan terhadap Direktur Teknologi PT Krakatau Steel, Wisnu Kuncoro terkait kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di Krakatau Steel. Wisnu diketahui memiliki harta senilai Rp 14.638.045.481.

Dilihat di situs Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Wisnu terakhir kali melaporkan harta yang dimiliki pada tanggal 29 Maret 2018. Saat melaporkan kekayaannya Wisnu sudah berstatus direktur di PT Krakatau Steel.

Data LHKPN menunjukkan Wisnu memiliki harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan yang tersebar di beberapa wilayah seperti di Tangerang, Jakarta Selatan, Bandung, Kota Surakarta, hingga Kota Cilegon. Totalnya Rp 5.505.815.001.

Wisnu juga memiliki harta bergerak seperti logam mulia yang berasal dari hasil sendiri yang diperoleh dari tahun 1997 sampai dengan 2009, dengan nilai jual Rp.460.000.000. Dia juga memiliki alat transportasi senilai Rp. 270.000.000 berupa mobil Toyota Kijang Innova tahun 2005 dan mobil Toyota Yaris tahun 2013.

Wisnu juga tercatat memiliki alat transportasi berupa mobil Toyota Kijang tahun 2005, mobil Toyota Yaris tahun 2013, mobil Honda Brio tahun 2015, dan motor Honda Vario tahun 2014. Jika ditotal seluruhnya senilai Rp. 296.000.000.

Ada juga harta bergerak lainnya yang dimiliki Wisnu senilai Rp. 460.000.000, surat berharga senilai Rp. 2.697.307.639, dan kas senilai Rp. 5.678.922.841.

Dalam LHKPN yang dilaporkan, Wisnu tercatat tidak sama sekali tidak memiliki utang.
(nvl/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Perjalanan Karier Wisnu Kuncoro, Direktur Krakatau Steel yang Kena OTT KPK

Tertangkapnya Wisnu Kuncoro, Direktur PT Krakatau Steel membuat PT Krakatau Steel tak luput dari sorotan media. PT Krakatau Steel merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang produksi baja.

Perusahaan ini beroperasi di Cilegon, Banten yang didirikan pada 31 Agustus 1970. PT Krakatau Steel berkembang pesat dalam pembangunan kawasan operasi terpadu produksi baja di Cilegon yang langsung diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Kini PT Krakatau Steel telah banyak bermitra dalam melakukan pengembangan dan perluasan wilayah usahanya bekerja sama dengan produsen baja terbesar dan ternama dunia seperti Nippon Steel dari Jepang, Natsteel Construction Solutin & Marubeni-Itochu Steel Indonesia (Jepang & Singapura) dan POSCO dari Korea Selatan.

Beberapa produk dari PT Krakatau Stell antara lain seperti Hot Rolled Coil Steel yaitu baja lembaran panas yang berupa coil dan pelat, Cold Rolled Coil Steel atau kerap disebut sebagai baja putih yang dihasilkan dari proses pengerolan dingin dan Wire Rod atau batang kawat.

Suap Rp 20 Juta yang Seret Direktur Krakatau Steel ke Penjara

Meski sudah menetapkan empat orang sebagai tersangka, namun satu orang belum tertangkap. Dia adalah Kurniawan Eddy Tjokro alias Yudi.

Oleh karena itu, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengultimatum Kurniawan untuk segera menyerahkan diri. 

“KPK mengimbau agar KET (Kurniawan) segera datang ke Gedung Merah Putih KPK untuk menyerahkan diri,” ujar Saut di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Silmy Karim‎ menyatakan, mendukung penegakan hukum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hal ini seiring KPK telah menangkap salah satu direktur PT Krakatau Steel Tbk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Jumat 22 Maret 2019.

Silmy mengatakan prihatin, ‎sebagai pemimpin tertinggi di Karakatau Steel, ada anak buahnya yang diduga terlibat praktik pelanggaran hukum, sehingga ditangkap KPK.

“Saya prihatin dan menyesalkan ada anggota saya,” kata Silmy, saat berbincang dengan Liputan6.com, di Jakarta, Sabtu (23/3/2019).

Silmy menuturkan, azas praduga tak bersalah memang harus ditegakkan. Dia pun menghormati proses hukum dan mendukung upaya KPK dalam menegakan hukum.

“Kita harus hormati proses hukum.  Kita dukung KPK dalam upaya penegakkan hukum,” tutur dia.

Hal serupa diungkapkan Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno.

“Kementerian BUMN menghormati proses hukum yang sedang berlangsung,” kata Fajar, saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (23/3/2019).

Fajar melanjutkan, Kementerian BUMN juga mendukung upaya-upaya pemberian informasi, yang dilakukan PT Krakatau Steel Tbk sebagai wujud organisasi yang menghormati hukum

“Dalam pelaksanaannya, semua kegiatan di Kementerian BUMN berpedoman pada tatakelola lembaga baik  (Good Corporate Governance/GCG),” ujar dia.

KPK Dalami Motif Suap Direktur Krakatau Steel Untuk Biaya Pernikahan Anak

Selain Wisnu, KPK juga menjerat tiga orang lainnya, yakni Alexander Muskitta selaku pihak swasta yang diduga sebagai penerima bersama Wisnu. Kemudian dua pihak swasta bernama Kenneth Sutardja dan Kurniawan Eddy Tjokro alias Yudi sebagai pemberi suap.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan empat orang sebagai tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu, 23 Maret 2019.

Saut mengatakan, pada tahun 2019, Direktorat Teknologi dan Produksi PT KS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar.

Menurut Saut, Alexander menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu dan disetujui.

Alexander yang bertindak sebagai perwakilan dan atas nama Wisnu Kuncoro menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT GK (Grand Kartech) dan GT (Group Tjokro) senilai 10 persen dari nilai kontrak.

“Selanjutnya, AMU (Alexander) meminta Rp 50 juta kepada KSU (Kenneth) dari PT GK dan Rp 100 juta kepada KET (Kurniawan) dari PT GT,” kata Saut. Kemudian, pada tanggal 20 Maret 2019, Alexander menerima cek Rp 50 juta dari Kenneth yang kemudian disetorkan ke rekening Alexander.

Alexander juga menerima uang USD 4 ribu dan Rp 45 juta di sebuah kedai kopi dari Kurniawan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening Alexander.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

KPK lakukan OTT kepada Direktur Krakatau Steel. Sejumlah uang disita dalam operasi ini.

KPK Izinkan Direktur Teknologi Krakatau Steel Hadiri Pernikahan Anak

JakartaKPK mengizinkan Direktur Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel (Persero) Wisnu Kuncoro (WNU) menghadiri pernikahan anaknya. Kuncoro terjaring operasi tangkap tangan (OTT) dan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

“Pimpinan sepakat untuk beri yang bersangkutan untuk hadir di akad nikahnya acara itu,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang kepada wartawan di kantornya, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3/2019).

KPK memastikan penjagaan Kuncoro saat menghadiri pernikahan anaknya. Namun, Saut tidak menjelaskan waktu pernikahan maupun perihal borgol.

“Iya iya ada penjagaan normatif,” ucap Saut.

Sebelumnya, Kuncoro ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengadaan barang dan jasa di Kraktau Steel. KPK menduga Kuncoro menggunakan perantara bernama Alexander Muskitta untuk menerima suap.

Ada dua pihak yang ditengarai menjadi penyuap Kuncoro yakni Kenneth Sutardja dan Kurniawan Eddy Tjokro. Keduanya disebut KPK menjanjikan fee 10 persen kepada Kuncoro dari dua proyek dengan nilai masing-masing Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar.

Kuncoro dan Alexander selaku pihak penerima dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak yang diduga pemberi Kenneth dan Kurniawan disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
(zak/zak)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ini Sosok Direktur Krakatau Steel yang Kena OTT KPK

Liputan6.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Direktur Produksi dan Riset Teknologi PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Wisnu Kuncoro sebagai tersangka kasus dugaan suap pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel Tbk (Persero).

KPK juga menjerat tiga orang lainnya antara lain Alexander Muskitta selaku pihak swasta yang diduga sebagai penerima bersama Wisnu. Lalu dua pihak swasta bernama Kenneth Sutardja dan Kurniawan Eddy Tjokro sebagai pemberi suap.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan empat orang sebagai tersangka,” ujar Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu 23 Maret 2019.

Dia mengatakan, pada 2019, Direktorat Teknologi dan Produksi PT Krakatau Steel merencanakan kebutuhan barang dan peralatan masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar. Menurut Saut, Alexander menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu dan disetujui.

Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Wisnu Kuncoro ditetapkan sebagai direktur dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada 29 Maret 2017.

Ia menggantikan Hilman Hasyim. Sebelum menduduki posisi direktur produksi dan riset teknologi di PT Krakatau Steel Tbk, ia menjabat sebagai Direktur PT Krakatau Daya Listrik.

Mengutip situs PT Krakatau Steel Tbk, Wisnu Kuncoro sempat menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Engineering pada 2015-2017. Sebelumnya, ia juga sempat menduduki posisi Direktur Utama PT Krakatau Industrial Estate Cilegon pada 2014-2015.  Selain itu juga pernah Direktur Operasi PT Krakatau Daya Listrik 2006-2009.

Pria kelahiran 21 Januari 1963 ini menyelesaikan pendidikan strata dua di Universitas Indonesia (UI).

KPK Ultimatum Penyuap Direktur Krakatau Steel Menyerahkan Diri

Saut mengatakan, pada tahun 2019, Direktorat Teknologi dan Produksi PT KS merencanakan kebutuhan barang dan peralatan masing-masing bernilai Rp 24 miliar dan Rp 2,4 miliar. Menurut Saut, Alexander menawarkan beberapa rekanan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut kepada Wisnu dan disetujui.

Alexander yang bertindak sebagai perwakilan dan atas nama Wisnu Kuncoro menyepakati commitment fee dengan rekanan yang disetujui untuk ditunjuk, yakni PT GK (Grand Kartech) dan GT (Group Tjokro) senilai 10 persen dari nilai kontrak.

“Selanjutnya, AMU (Alexander) meminta Rp 50 juta kepada KSU (Kenneth) dari PT GK dan Rp 100 juta kepada KET (Kurniawan) dari PT GT,” kata Saut.

Kemudian, pada tanggal 20 Maret 2019, Alexander menerima cek Rp 50 juta dari Kenneth yang kemudian disetorkan ke rekening Alexander.

Alexander juga menerima uang USD 4 ribu dan Rp 45 juta di sebuah kedai kopi dari Kurniawan. Uang tersebut kemudian disetorkan ke rekening Alexander.

“Pada tanggal 22 Maret 2019, Rp 20 juta diserahkan oleh AMU (Alexander) ke WNU (Wisnu) di kedai kopi di daerah Bintaro,” kata Saut.

OK OCE Tidak Berikan Modal, Direktur Krakatau Steel Kena OTT Dicopot?

Jakarta – Warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, bernama Satimah mengadu kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dana OK OCE belum cair, Jumat (22/3/2019). Anies menjelaskan program OK OCE memang tidak memberikan bantuan modal.

Lantas, bagaimana sebenarnya permodalan dalam program yang merupakan singkatan dari One Kecamatan One Center for Entrepreneurship itu? Program OK OCE memang tidak memberikan modal kepada para peserta, namun hanya memberikan akses permodalan ke perbankan.

Selain soal bantuan modal OK OCE, berita terpopuler lainnya adalah Direktur Teknologi Krakatau Steel terkena operasi tangkap tangan KPK. Berikut 5 berita terpopuler detikFinance sepanjang Sabtu (23/3/2019)


Warga Curhat Modal Belum Cair, Ini Penjelasan Lengkap Tim OK OCE

Program OK OCE memang tidak memberikan modal kepada para peserta, namun hanya memberikan akses permodalan ke perbankan. Ketua Umum Perkumpulan Gerakan OK OCE Iim Rusyamsi mengatakan program kewirausahaan ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Kami, perkumpulan gerakan OK OCE yang bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta untuk membantu pengembang kewirausaha di Jakarta,” kata Iim saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Sabtu (23/3/2019).

Kena OTT KPK, Direktur Krakatau Steel bakal Dicopot?

Direktur PT Krakatau Steel (Persero) Tbk kena ciduk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lewat operasi tangkap tangan (OTT). Setelah peristiwa ini, apakah Kementerian BUMN akan mengambil tindakan tegas mencopot direktur tersebut?

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) belum bisa memberikan pernyataan tegas apakah direktur tersebut bakal dicopot atau tidak karena masih berkoordinasi dengan manajemen Krakatau Steel.

“Sudah ada prosedur dan berkoordinasi dengan Dewan Komisaris dan Direksi (PT Krakatau Steel),” ujar Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno kepada detikFinance, Sabtu (23/3/2019).

Batu Bacan Riwayatmu

Fenomena batu mulia pernah hebohkan masyarakat Indonesia. Batu-batu mulia itu ramai dicari masyarakat, tak terkecuali batu bacan. Namun bagaimana kisahnya kini? Saat euforia batu mulia ramai terjadi di masyarakat, harga satu mata cincin batu bacan bisa mencapai Rp 100 juta. Sedangkan untuk giwang harga yang dibanderol mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 15 juta tergantung kualitas batu bacan. Namun masa kejayaan batu bacan itu mulai merosot. Batu bacan dengan harga yang cukup fantastis itu kini mulai sepi peminat. Banyaknya batu berkualitas rendah yang dijual, serta sedikitnya penambang ditengarai jadi penyebab.

Kacau! Kelakuan Penumpang MRT Ini Bikin Miris

Kereta MRT Jakarta mulai diuji coba ke publik sejak 12 Maret 2019 lalu. Tapi kelakuan para penumpangnya malah bikin jengkel.

Didiskon 15%, Tarif Tol Trans Jawa Jadi Berapa

PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperpanjang waktu diskon tarif Tol Trans Jawa. Awalnya, pemberlakuan diskon tarif bakal berakhir pada 21 Maret 2019 alias dua bulan sejak diberlakukan pada 21 Januari 2019 lalu.

Namun, masa berakhir perpanjangan diskon tarif tol ini masih belum ditentukan hingga kapan oleh pihak Jasa Marga. Diskon ini akan berlaku pada perjalanan terjauh di Cluster II, Cluster III, dan Cluster IV tol Trans Jawa. Lalu berapa tarif tol setelah didiskon sebanyak 15%? detikFinance melakukan simulasinya. (hns/eds)

KPK Sesalkan OTT Direktur Krakatau Steel: Industri Baja Jadi Tak Berkembang

Jakarta – KPK menyesalkan terjadinya dugaan suap yang melibatkan Direktur Teknologi PT Krakatau Steel (persero) Wisnu Kuncuro. KPK mengatakan oknum-oknum yang terlibat suap itu membuat industri baja RI tidak berkembang.

“Energi kami tak akan habis untuk menyatakan bahwa kami merasa sangat miris dan menyayangkan masih terjadinya suap dalam pengadaan barang dan jasa di Badan Usaha Milik Negara,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang di kantor KPK, Kungingan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/3/2019).

Apalagi, lanjutnya, PT Krakatau Steel adalah satu-satunya BUMN yang bergerak dalam industri baja. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1970 ini seharusnya sudah bisa menghasilkan industri baja nasional yang luar biasa.

“Namun karena oknum-oknum di dalamnya yang kotor, industri baja kita jadi tidak berkembang,” ujarnya.

Kami berharap semua proses pengadaan barang dan jasa di PT Krakatau Steel dan seluruh BUMN bisa dilakukan secara transparan. Selain itu, juga menutup kesempatan untuk orang tertentu menjadi broker atau perantara sehingga industri bisa kompetitif.

“Untuk usaha pencegahan KPK memiliki program untuk sektor swasta dan BUMN bernama Profesional Berintegritas atau Profit. Sampai saat ni ada 132 perusahaan swasta dan BUMN yang aktif dalam program PROFIT. Kami juga sudah menerbitkan Buku Panduan Teknis Pencegahan Sektor Usaha pada 5 Desember 2018 lalu. Panduan ini bisa digunakan oleh seluruh korporasi sebagai acuan minimum dalam membangun dan menerapkan sistem pencegahan korupsi,” ujarnya.

Dalam kasus ini, Wisnu Kuncoro dan Alexander Muskitta (AMU) dari swasta, diduga sebagai penerima. Lalu, Kenneth Sutardja (KSU) dan Kurniawan Eddy Tjokro (KET) alias Yudi swasta, diduga sebagai pemberi. Kurniawan Eddy Tjokro masih buron

Kuncoro dan Alexander selaku pihak penerima dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak yang diduga pemberi Kenneth dan Kurniawan disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
(idh/hri)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>