Pengacara Beri Penjelasan Soal Ahmad Dhani Pernah Minta Bantuan NU dari FPI

JakartaKetum PBNU Said Aqil Sirodj mengungkit lagi kejadian saat Ahmad Dhani meminta bantuan kepada Nahdlatul Ulama (NU) dari ancaman FPI terkait menginjak-injak lambang asma Allah. Pengacara Ahmad Dhani, Hendarsam, memberi penjelasan mengenai hal tersebut.

“Bahwa benar dia pada saat itu dibela oleh Gus Dur itu fakta. Bahwa Gus Dur sangat sayang kepada Ahmad Dhani, itu fakta. Bahwa Ahmad Dhani sangat sayang dan hormat kepada Gus Dur itu fakta,” kata Hendarsam saat dihubungi detikcom, Kamis (21/2/2019).

Surat yang ditulis Ahmad Dhani tentang jenis-jenis NU, disebut Hendarsam, tak lantas menandakan bahwa kini Dhani sudah tak-NU. Hendarsam menegaskan Ahmad Dhani tetaplah Gusdurian.

“Surat tersebut tidak berhubungan bantuan tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Mas Dhani adalah sudut pandang politiknya sebagai warga NU. Dan tidak seharusnya setiap warga NU yang mempunyai pandangan politik berbeda dengan Said Aqil dinyatakan bukan lg warga NU,” tutur Hendarsam.

“Support dari Gus Dur pada saat itu menunjukkan kecintaan Gus Dur kepada Ahmad Dhani. Seorang Gusdurian tak bisa ditampikan lagi,” imbuhnya.
Hendarsam menilai, Said Aqil memposisikan Ahmad Dhani dengan surat yang ditulisnya sebagai orang dengan pilihan politik berbeda. Padahal, menurut Hendarsam, beda pilihan politik bukan berarti menjadi tidak NU lagi.

“Mas Dhani kan cuma pengin memposisikan dirinya sebagai NU, Nahdliyin, Gusdurian, kan seperti itu. Lalu tanggapan Pak Said Aqil lebih kepada orang yang mempunyai dua pilihan politik yang berbeda, gitu niatnya,” ujar Hendarsam.

“Pak Said Aqil mengatakan bahwa Ahmad Dhani bukan lagi Nahdliyin, warga NU, segala macem. Saya lihatnya hanya karena Said Aqil punya pilihan politik berbeda. Tidak gara-gara itu melunturkan ke-NU-an Ahmad Dhani. Banyak sekali orang NU yang tidak memilih Jokowi. Harus baca konteks suratnya dulu,” jelasnya.

Hendarsam melanjutkan, identitas NU bukan terletak pada struktur. Bukan berarti ketika kepalanya memilih pilihan politik A, maka otomatis semua ikut memilih A.

“Tidak mengkhianati NU. Orang NU identitasnya bukan terletak pada sturktur, kalau kepalanya memilih ke A, bukan berarti memilih ke situ,” lanjutnya.

Sebelumnya Ketum PBNU Said Aqil Siradj menyebut Dhani tak paham NU soal surat yang menuliskan jenis-jenis NU. . Dia lantas mengungkit momen Dhani meminta perlindungan NU.

Said Aqil mengatakan, NU sudah beberapa kali memberikan kesempatan untuk Ahmad Dhani. Dia mengungkit cerita lama saat NU memberikan perlindungan ketika Ahmad Dhani terjerat kasus pelecehan asma simbol Allah. Tapi, kini Ahmad Dhani justru melecehkan NU.

“Saya masih ingat ketika dia diancam oleh FPI, karena dia nyanyi dan alasnya itu ada kaligrafi tulisan Allah, terus minta tolong kepada NU dan dilindungi sama Gus Dur,” kata Said Aqil di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (20/2).

“Kemudian dia ingin masuk pengurus PBNU kita masukkan. Sekarang berani melecehkan NU. Sebenarnya dia bukan kader NU sama sekali. Dia nggak paham NU, mulai kapan dia paham NU? Dia cuma seniman, selebriti, itu saja kok,” imbuhnya.
(rna/fjp)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kala Said Aqil Ungkit Ahmad Dhani Berlindung ke NU Saat Diancam FPI

Jakarta – Politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani menuliskan jenis-jenis Nahdlatul Ulama (NU) dalam sebuah surat. Ketum PBNU Said Aqil Siradj menyebut Dhani tak paham NU. Dia lantas mengungkit momen Dhani meminta perlindungan NU.

Said Aqil mengatakan, NU sudah beberapa kali memberikan kesempatan untuk Ahmad Dhani. Dia mengungkit cerita lama saat NU memberikan perlindungan ketika Ahmad Dhani terjerat kasus pelecehan asma simbol Allah. Tapi, kini Ahmad Dhani justru melecehkan NU.

“Saya masih ingat ketika dia diancam oleh FPI, karena dia nyanyi dan alasnya itu ada kaligrafi tulisan Allah, terus minta tolong kepada NU dan dilindungi sama Gus Dur,” kata Said Aqil di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (20/2/2019).

“Kemudian dia ingin masuk pengurus PBNU kita masukkan. Sekarang berani melecehkan NU. Sebenarnya dia bukan kader NU sama sekali. Dia nggak paham NU, mulai kapan dia paham NU? Dia cuma seniman, selebriti, itu saja kok,” lanjut Said Aqil.
Said Aqil mensyukuri hukuman yang telah dijatuhkan kepada Ahmad Dhani. Said Aqil menganggap Ahmad Dhani patut diberi hukuman yang setimpal atas kesalahannya.

“Alhamdulillah dia sudah merasakan akibat dari gegabahnya ngomong yang sembarangan, dan saya sarankan dihukum seadil-adilnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Ahmad Dhani menuliskan membeberkan jenis-jenis Nahdlatul Ulama (NU) dalam sebuah surat. Tulisan tangan itu ditulisnya di Rutan Kelas 1 Medaeng, Surabaya.

“Jika NU adalah Islam Nusantara, saya bukan bagian dari ini,” demikian sepenggal kalimat dalam surat yang dibawa Ahmad Dhani ke PN Surabaya jelang sidang putusan sela terkait kasus ‘idiot’ pencemaran yang menjeratnya, Selasa (19/2).
(gbr/rna)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Lekas Sembuh Gajah Yeti

Liputan6.com, Lampung – Seekor gajah sumatera bernama Yeti yang berusia lima tahun di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, saat ini dalam keadaan sakit dan masih mendapat perawatan dari sejumlah dokter hewan.

“Gajah Yeti ini sakitnya kejang-kejang, sakitnya sudah lama,” kata Kepala Balai TNWK Subakir di Lampung Timur, Rabu (20/2/2019) dilansir Antara.

Selama sakit, Yeti mendapat perawatan dari sejumlah dokter hewan. “Yang membantu merawat banyak, ada dari dokter Way Kambas, dari Taman Safari Bogor dan dari Kementerian. Alhamdulilah sekarang sudah mulai sehat, sudah senang makanya,” katanya.

Perawatan dan pengobatan saat ini masih terus diberikan oleh tim dokter hewan, untuk sementara Yeti dipindahkan ke Camp Elephant Respont Unit Way Kambas.

Yeti adalah gajah betina yang dievakuasi lima tahun lalu ke Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Hewan berbelalai dan dilindungi undang-undang itu ditemukan dalam galian kanal gajah di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Harjosari, Lampung Timur.

“Yeti ditemukan dalam kanal di Desa Braja Yekti. Dia terpisah dengan induknya. Kondisinya waktu ditemukan kurus, lalu digotong sama petugas dan dibawa ke rumah sakit untuk diobati,” kata Subakir.

Bagaimana Inggris Mempengaruhi Perkembangan Turban?

Liputan6.com, Jakarta – Selain di India, kaum Syekh banyak pula ditemukan di Inggris. Kaum yang identik dengan turban tersebut biasa ditemui di daerah Southall, London Barat.

Mulanya, turban menjadi identitas kaum Syekh merupakan hasil perjuangan panjang kelompok Khalsa terhadap Sultan Aurangzeb di India pada 1658. Dilansir dari CNN, mereka memperjuangkan agar turban juga dipakai oleh Syekh di Kesultanan Mughal yang dipimpinnya. Saat itu, hanya orang Muslim yang boleh memakai turban.

Pada 1845, Inggris datang ke daerah Punjab. Mereka tidak menyerang kelompok Khalsa, justru mereka terkesan dengan keahlian militer mereka sehingga merekrut kaum Syekh ke dalam kelompok militernya. Kedatangan para tentara Inggris membawa pengaruh besar pada turban yang telah dipakai secara turun temurun oleh bangsa Syekh.

Kesultanan Mughal pun memiliki sistem kasta, dan bangsa Inggris memiliki cara untuk menghilangkan kekhawatiran akan sistem tersebut. Seluruh tentara militer Inggris di India yang beranggotakan bangsa Syekh dan Muslim dianjurkan memakai turban. Hasilnya, ada kesetaraan yang tercipta dalam kemiliteran tersebut.

Masyarakat biasa saat itu memakai turban dalam variasi gaya, bentuk dan ukuran. Di mata penguasa Inggris, variasi tersebut menciptakan kesan berantakan sehingga mereka memutuskan untuk menyeragamkannya. Turban yang biasanya memiliki lapisan gulungan alami diganti dengan lipatan simetris yang rapi.

Lencana pun diperkenalkan dalam pemakaian turban. Tujuannya adalah perbedaan resimen yang berdasarkan pada kelas atau ras bisa diidentifikasikan. Saat itu tentara Syekh dikenali dengan penggunaan lencana di depan turban mereka.

Turban yang dipakai seluruh tentara militer Inggris di India saat Perang Dunia I sangatlah besar, dengan panjang sekitar delapan meter. Di Perang Dunia II, kebijakan ketentaraan sudah berubah, di mana tentara Muslim dan Hindu tidak perlu lagi memakai turban. Fenomena tersebut merupakan yang pertama kalinya di mana turban tidak lagi dianggap sebagai identitas kaum non-Syekh di India.

2 dari 2 halaman

Berakhirnya Kemitraan Syekh dan Inggris

Setelah Inggris memberikan kemerdekaan kepada India, beberapa kelompok agama pun memikirkan kembali mengenai identitasnya. Kelompok Muslim yang telah membentuk negara Pakistan melepaskan turban sebagai identitasnya. Apalagi saat itu terjadi kekerasan antarkelompok dengan penganut Hindu dan Syekh, membuat kedua kelompok tersebut mengikhlaskan turban karena takut disangka orang Syekh.

Akibatnya, hanya orang Syekh yang memakai turban, sebab turban sering dianggap sebagai simbol dari suatu status sosial. Orang Muslim pun hanya memakai turban di beberapa acara tertentu, seperti pernikahan.

Kekerasan tersebut mengakibatkan orang Syekh pindah ke Inggris. Kedatangan mereka disambut ramah sebab mereka membantu tentara Inggris berperang kala itu.

Perlahan, peran orang Syekh yang membawa kemenangan dilupakan, turban pun dianggap sebagai penghalang mereka untuk berintegrasi sebagai warga negara Inggris. Kaum Syekh pun dihadapkan dengan dua pilihan agar mereka bisa diterima. Memotong janggut dan melepaskan turban agar bisa bergabung atau memakai turban berwarna gelap agar tidak menarik perhatian.

Berbagai perlawanan pun dilakukan oleh beberapa kaum Syekh di Inggris. Adapula yang membawa aksi diskriminasi tersebut ke meja hijau. Salah satunya terjadi di tahun 1980-an.

Saat itu, keluarga dari siswa yang bernama Gurinder Singh Mandia menuntut sekolah anaknya atas diskriminasi rasial yang mereka terima. Kasus tersebut mengubah cara orang Syekh diperlakukan di Inggris. Tak hanya itu, turban juga dilindungi oleh hukum yang berlaku di Inggris.

Saat ini, kaum Syekh di Inggris tidak perlu lagi menyembunyikan turban untuk menyesuaikan diri dengan orang di sekitarnya. Mereka, termasuk anak muda Syekh, berani tampil dengan turban yang terbuat dari kain dan aksesori yang mewah.Kaum Syekh memakainya sebagai simbol keimanan dan bentuk cerminan kepribadian mereka. (Esther Novita Inochi)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

KPAI Minta Jokowi Jadi Contoh Wujudkan Pemilu Tanpa Anak-Anak

Liputan6.com, Jakarta – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi untuk menjadi contoh mewujudkan pemilu tanpa melibatkan anak-anak.

Hal tersebut dia sampaikan ketika menghadiri bedah visi-misi paslon nomor urut 01 di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/2/2019). Acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Arsul Sani.

“Pak Jokowi selaku capres tentu memberi contoh untuk tidak melibatkan anak-anak. Khawatir caleg lain melakukan hal yang sama. Tidak layak anak terlibat dalam politik praktis,” kata Jasra.

Permintaan tersebut merujuk pada pantauan KPAI yang melihat ada keterlibatan anak dalam pekerjaan orang dewasa, termasuk kampanye. KPAI ingin membebaskan anak dari pekerjaan manapun kegiatan politik.

KPAI ingin mendorong dengan mendengarkan dan berpartisipasi untuk melindungi hak anak,” tandas dia.

2 dari 2 halaman

Rawan Dirisak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengimbau kepada seluruh pihak untuk tidak melibatkan anak-anak dalam kegiatan kampanye politik, khususnya pada Pemilu 2019. 

Komisioner KPAI, Jasra Putra mengaku khawatir anak-anak malah akan menjadi korban perundungan atau dirisak apabila dilibatkan dalam kampanye politik.

“Kita berharap presiden selaku kepala negara tentu punya kewajiban melindungi 83 juta anak Indonesia ini dalam hal konteks pelibatan anak dalam politik. Kemudian apa anak-anak kita pada akhirnya kita khawatir di-bully kemudian selanjutnya dia, karena dia masih usia anak ya belum punya hak pilih. Tentu konteksnya tidak cocok dengan pertarungan politik,” kata Jasra di Gedung Joeang 45, Jakarta Pusat, Minggu, 10 Februari 2019 lalu.

KPAI, kata Jasra, sudah mendengar adanya isu pelibatan cucu dari Presiden Jokowi, Jan Ethes dalam kampanye. Menurut Jasra, dalam Undang-undang Perlindungan Anak sudah jelas disebutkan bahwa anak-anak harus dilindungi termasuk dari kegiatan politik praktis.

Ia mengatakan apabila anak-anak dilibatkan dalam kampanye, maka akan berdampak pada perkembangannya.

“Kita berharap Jan Ethes dengan usianya yang tumbuh kembang ini biarkanlah dia tumbuh kembang seperti anak biasanya sehingga proses politik kita tidak dilibatkan anak-anak kita di pusaran itu,” ujar Jasra. (Rifqi Aufal Sutisna)

Derita Anak Gajah Hidup dengan Belalai Terpotong

Liputan6.com, Lampung – Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim kembali mengajak peduli pada nasib gajah betina bernama Erin yang berumur sekitar lima tahun. Erin mengalami cacat akibat jeratan pemburu liar separuh belalainya terputus.

Setelah sebelumnya sejumlah pihak menunjukkan kepedulian pada nasib gajah Erin itu, kini perhatian kembali datang dari Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.

Prihatin dengan kondisi Erin, Cusnunia Chalim, melalui akun instagramnya Noenia_ch mengunggah video pendek Erin disertai keterangan ajakan peduli kembali terhadap satwa berbadan besar, berbelalai, dan termasuk salah satu spesies satwa langka yang dilindungi di dunia tersebut.

Dilansir Antara, pada akun instagramnya, Chusnunia menulis Erin adalah gajah kesayangannya. Dia menulis ajakan menengok Erin di Taman Nasional Way Kambas dan berpesan tidak lupa membawa makanan kesukaannya.

2 dari 2 halaman

Harus Menunduk Ketika Makan

Makanan yang disukai Erin, kata Chusnunia, adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.

Ini Erin, kesayanganku, yang belalainya terkena jerat hingga putus. Alhamdulillah mahot-mahot sayang pada Erin, ayo berkunjung ke Way Kambas, tengok Erin kecil, jangan lupa bawa makanan ya, bisa pisang, sayur-sayuran, kacang panjang, jagung, Erin suka macam-macam sayuran, bantu rawat Erin ya,” tulis Chusnunia Chalim di akun IG-nya itu pula.

Erin berada di Pusat Konservasi Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Gajah betina Erin yang berumur sekitar lima tahun itu, belalainya telah terpotong akibat jerat, dan diselamatkan Tim Elephant Response Unit (ERU) Way Kambas pada tahun 2016.

Namun, sampai dengan saat ini untuk makan Erin harus menunduk, bahkan terkadang disuapi oleh pengasuhnya (mahot/pawang).

Tahun 2018 lalu, Erin telah mendapat perhatian banyak pihak, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).


Simak video pilihan berikut ini:

Kerusakan Hutan dan Danau Toba Diminta Jadi Materi Debat Capres

Medan – Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH USU) Prof Dr Syafruddin Kalo, SH menyarankan debat calon presiden membahas isu pembakaran hutan dan pencemaran parah perairan Danau Toba.

“Kehancuran hutan dan pencemaran Danau Toba itu, bukan hanya merugikan negara, tetapi juga memperparah kerusakan lingkungan di Indonesia yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah,” kata Syafruddin di Medan sebagaimana dilansir Antara (17/2/2019).

Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan daerah lainnya, menurut dia, juga merugikan negara maupun pemerintah daerah.

“Selain itu, kebakaran hutan di beberapa daerah Riau dan Sumsel juga mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat maupun aktivitas akibat kabut asap, serta menimbulkan korban jiwa anak-anak, dan orang dewasa karena mengalami sakit,” ujar Syafruddin.
Ia mengatakan kebakaran tersebut karena alih fungsi hutan yang dilakukan para pengusaha perkebunan untuk menjadikan areal kebun sawit.

Begitu juga pencemaran yang terjadi di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang dilakukan pengusaha dengan budi daya ikan, dan diduga menggunakan makanan ikan mengandung bahan kimia.

“Kemudian, budi daya ikan di Danau Toba, diduga melebihi kapasitas dari izin yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH),” ucap Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

Syafruddin menjelaskan pencemaran di Danau Toba, juga berdampak terhadap sektor pariwisata, karena daerah tersebut merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia, dan juga kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Isu kerusakan hutan akibat pembakaran dan pencemaran Danau Toba itu, termasuk visi misi debat capres, yakni sumber daya alam dan lingkungan.

Bahkan, Komisi pemilihan Umum (KPU) pada debat capres tersebut, menetapkan tema debat adalah masalah pangan, energi, infrastruktur, serta sumber daya alam dan lingkungan.

Karena hal itu sangat penting bagi kelangsungan pembangunan bangsa dan negara, serta kesejahteran rakyat Indonesia.

“Diharapkan pada debat capres kedua itu, akan lahir ide-ide yang brilian untuk membangun Negara Indonesia yang lebih baik, mengejar segala ketertinggalan dari-negara-negar maju,” kata Pakar Hukum Lingkungan dan Tanah itu.
(asp/asp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Inspirator Pelestarian Lingkungan, Pemkot Bitung Resmikan Monumen Alfred Russel Wallace   

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kota Bitung beserta segenap elemen masyarakat pencinta lingkungan, menyelenggarakan kegiatan perayaan 100th Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes pada tanggal 20 – 21 Februari 2019, bertempat di lapangan Singkanaung – Kampung wisata Batuputih. Kegiatan perayaan dikemas dalam berbagai kegiatan tontonan yang penuh tuntunan yang terdiri dari Workshop masyarakat & Komunitas, Talkshow, Pameran dan Konser Musik Alam.

Kegiatan talkshow akan menampilkan narasumber ahli diantaranya : Harry Hisler – UK; Dou Van Hoang – Vietnam ; Khouni Lomban Rawung dan Rahmi Handayani yang akan mengupas terkait pendekatan kampanye dan pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai perspektif yang berbeda.

Kegiatan pameran akan melibatkan 24 komunitas lingkungan dan pariwisata yang bersama sama akan melandasi pengembangan kampung wisata Batuputih sebagai kampung wisata berbasis konservasi. Musisi Nugie dan Tanita bersama The early bird, lamp of bottle, jarank pulang dan 4play akan menyajikan konser alam yang mengajak seluruh pengunjung menghargai dan merawat alam melalui alunan musik.

Sebagai puncak kegiatan, akan diresmikan monumen Alfred Russel Wallace sebagai sosok inspirator dalam gerakan pemuliaan lingkungan bertempat di dalam Taman Wisata Alam Batuputih dan Batuangus. Monumen ini juga sekaligus menjadi simbol keunikan satwa endemik di Sulawesi serta menjadi peringatan bahwa mengkonsumsi satwa liar asli secara berlebihan bisa berujung pada kepunahan. Pada acara ini akan dihadir bapak Paul Smith OBE, Country Director British Councill Indonesia sebagai perwakilan negara sahabat.

Kota Bitung merasa bangga karena sejak kunjungan Wallace hingga hari ini, Batuputih mampu menarik para ilmuwan dan pelajar dari seluruh belahan dunia untukmempelajari keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati Sulawesi Utara di Tangkoko. Kehadiran monumen ini diharapkan dapat melindungi dan menghormati warisan alam kita sampai ke generasi yang akan datang.

Walikota Bitung, Max Lomban menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan keteladanan para pendahulu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, namun juga turut mendorong percepatan pembangunan pariwisata di kawasan Batuputih. Akan turut diluncurkan paket wisata “Jelajah Tangkoko” sebagai paket unggulan bagi para wisatawan untuk dapat menjelajahi keunikan alam dan budaya di kawasan Tangkoko.

Hutan Tangkoko-Batuangus

Hutan Tangkoko-Batuangus, merupakan salah satu hutan konservasi tertua di Indonesia yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 21 Februari 1919. Pada tanggal 24 Desember 1981, kementrian pertanian Republik Indonesia merubah status Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus seluas 1.250 Ha menjadi Taman Wisata Alam Batuputih (615 Ha) dan TWA Batuangus (635 Ha).

Sesuai dengan penetapan awalnya, tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk perlindungan dan pelestarian satwa endemik, dan kegiatan wisata. Dalam perkembangannya, cagar alam Gunung Tangkoko-Batuangus mengalami perubahan berdasarkan SK Mentri Kehutanan RI No SK/1826/Menhut-VIII/KUH/2014 tentang penetapan kawasan hutan pada kelompok hutan Dua saudara seluas 8.5045.07 Ha. Kawasan ini terdiri dari Cagar Alam Dua Saudara (7.247,46 Ha) TWA Batu putih (649 ha), TWA Batuangus ( 648.57 Ha)

Terlepas dari penamaan yang berganti, dunia tetap mengenal kawasan TANGKOKO sebagai salah satu laboratorium hidup dengan tempat keragaman ekologi yang menawan. Adalah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis berkebangsaan Inggris yang memulai perjalanan dan pengamatannya dengan meneliti fauna di kepulauan Indonesia bagian timur. Hasil pengamatannya dituliskan dalam sebuah buku bertajuk “THE MALAY ARCHIPILAGO”. Sebuah buku yang menginspirasi jutaan generasi setelahnya tentang kekayaan biogeografi untuk sekelompok pulau yang dipisahkan oleh selat yang dalam yang memisahkan lempeng ASIA dan AUSTRALIA”.

Sepak Terjang Alfred Russel Wallace

Alfred Russel Wallace dikenal sebagai penemu teori evolusi melalui seleksi alam dan membuat tulisan bersama Charles Darwin yang membahas subjek tersebut. Beliau dianggap sebagai “Bapak dari Biogeografi”- sebuah studi mengenai distribusi secara geografi dari flora dan fauna.

Alfred Russel Wallace yang lahir pada 8 Januari 1823 dan meninggal pada 7 November 1913) adalah seorang naturalis, ahli biologi, penjelajah, geografer dan antropolog dari Britania Raya. Ia paling dikenal akan pemahamannya tentang teori evolusi melalui seleksi alam. Tulisannya yang membahas tentang subjek tersebut diterbitkan bersamaan dengan beberapa tulisan Charles Darwin pada tahun 1858. Hal ini mendorong Darwin untuk mempublikasikan gagasannya sendiri dalam bukunya yang berjudul “Origin of Species”(Asal Usul Spesies).

Wallace banyak melakukan penelitian lapangan, pertama-tama di lembah Sungai Amazon dan kemudian di Kepulauan Melayu (Nusantara),termasuk Celebes (Sulawesi). Observasinya yang tajam menyoroti keunikan dari biogeografi Sulawesi.

Di Indonesia, Wallace mengidentifikasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal dengan istilah Garis Wallace. Garis tak kasat mata ini melintang melewati di antara Bali dan Lombok ke arah utara di antara Borneo dan Sulawesi. Garis Wallace membagi kepulauan Indonesia menjadi dua bagian flora dan fauna yang berbeda, bagian barat terdiri dari fauna yang berasal dari Asia (primata, macan, harimau, gajah, badak, dsb) dan bagian timur terdiri dari fauna asal Australia (kakaktua, perkici, cendrawasih, marsupial, dsb).

Garis Wallace dan batasan biogeografi antara Papua dan Maluku kini didefinisikan sebagai area ekologis yang dikenal sebagai Wallacea. Wallacea dideskripsikan sebagai zona dengan persilangan flora dan fauna yang unik antara Asia dan Australia. Zona ini terdiri dari Sulawesi dan Kepulauan Maluku bagian utara, dan Kepulauan Nusa Tenggara bagian selatan.

Sekarang ini, zona tersebut dianggap sebagai salah satu dari titik dengan keanekaragaman hayati yang terkaya di dunia, dimana spesies baru yang bahkan belum pernah ditemukan oleh peneliti sebelumnya masih bermunculan sampai hari ini. Dalam sejarah taksonomi, penamaan spesies hewan berdasarkan nama Wallace jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan nama-nama yang lain.

Wallace melakukan perjalanan ke wilayah Minahasa dari bulan Juni sampai September 1859. Ia mengunjungi Batu putih selama seminggu pada pertengahan September tahun 1859 untuk mencari spesimen Maleo – burung endemik Sulawesi – sebagai bahan koleksi di museum sejarah alam di Inggris. Populasi Maleo di Batuputih sekarang sudah punah karena telur-telur mereka diambil oleh masyarakat untuk dikonsumsisecara berlebihan. Namun sampai saat ini sebagian masyarakat masih mengingat tempat bersarang Maleo yang terletak di sepanjang garis pantai ini di masa lampau.

Wallace mencatat bahwa masyarakat setempat biasanya berjalan sejauh 50 km untuk mengumpulkan telur Maleo di Batuputih, sebuah desa nelayan yang didirikan oleh warga keturunan Kepulauan Sangihe-Talaud. Burung Maleo, termasuk sarang dan telur mereka, kini sudah dilindungi hukum Republik Indonesia.

35 tahun setelah kunjungan Wallace, seorang Belanda ahli botani Dr. Sijfert Koorders melakukan survei di hutan Minahasa secara ekstensif pada tahun 1894-1895,tetapi ia sendiri tidak sempat mejelajahi Tangoko. Beliau sudah mempelajari publikasi dari Wallace dan mereka berdua surat-menyurat menggenai beberapa hal. Koorders juga sempat memberi nama sekelompok pohon di Sulawesi Wallaceodendron, sebagai tanda untuk menghormati Wallace. Dr. Koorders menjabat sebaga iketua Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming), yang mengusulkan beberapa kawasan konservasidi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua. Meskipun Koorders tidak pernah survei hutannya sendiri, “Goenung Tongkoko-Batoeangoes” di resmikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam pada 1919 karena memiliki “nilai ilmiah” berdasarkan flora dan fauna (Anoa, Babirusa dan Maleo).

Wallace sangat terpukau dengan Sulawesi karena keunikan formasi geologinya yang terbagi atas dua kawasan ekologi. Berdasarkan penelitiannya terhadap burung, serangga, mamalia, tumbuhan dan biota lainnya, ia bisa menjelaskan secara detail mengenai apa yang disebutnya sebagai “anomali dan eksentriknya sejarah alam di Sulawesi” Kata beliau, Sulawesi merupakan “..pulau yang kaya akan makhluk yang khas, banyak keistimewaan dan keindahan… sejumlah fauna disini begitu luar biasa dan tidak ada duanya di belahan dunia yang lain”

Sulawesi adalah satu-satunya wilayah di Asia yang mempunyai baik primata (seperti ragam spesies tarsius dan macaca) dan marsupial (seperti ragam spesies kuse kerdil dan kuskus beruang). Kita bisa melihat apa yang menjadi inspirasi di balik konsep biogeografi Wallace dan evolusi dari seleksi alam: “Maka dari itu, Sulawesi menunjukkan kepada kita bukti nyata mengenai pentingnya kita mempelajari distribusi geografis fauna.”


(*)

Presiden Persija Yakin Joko Driyono Tidak Terlibat Pengaturan Skor

Liputan6.com, Jakarta – CEO Persija Jakarta, Ferry Paulus memberikan pandangannya mengenai sosok Joko Driyono. Ferry menilai Jokdri [panggilan Joko Driyono] sebagai sosok yang paham dengan sepak bola Indonesia dan ia menganggap Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI itu merupakan gurunya.

Baru-baru ini ada berita tidak sedap beredar mengenai Joko Driyono. Satgas Anti Mafia Sepakbola baru-baru ini melakukan penggeledahan di apartemen miliknya sebagai penelusuran atas pengaturan skor yang tengah diusut oleh aparat yang berwajib.

Setelah itu, Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian. Namun, PSSI membantah bahwa penetapan Joko Driyono sebagai tersangka karena kasus pengaturan skor.

Ferry sendiri percaya bahwa Joko Driyono tidak ada sangkut pautnya dengan kasus tersebut. Sebab, ia mengaku mengenal dengan baik sosok mantan CEO PT Liga tersebut.

“Dia (Jokdri) guru saya. Dia termasuk orang yang expert dengan sepak bola,” ujar Ferry di Lapangan PS AU TNI Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (15/2/2019).

“Sejauh ini kalau menurut saya sih beliau adalah sosok yang bisa dibilang sangat pintar dalam urusan sepak bola. Aset Indonesia menurut saya, yang juga harus dipikirkan untuk dilindungi,” katanya menambahkan.

2 dari 2 halaman

Kurang Pas

Tidak Tahu PenggeledahanTerkait kasus penggeledahan apartemen Jokdri di Apartemen Taman Rasuna, Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (14/2) malam WIB, Ferry mengaku tidak tahu-menahu. Pria asal Manado, Sulawesi Utara itu enggan angkat bicara karena ia tidak mengetahui situasi dan kondisi kejadian tersebut.

“Belum tahu belum bisa komentar. Kalau belum tahu, rasanya kurang pas juga kalau berkomentar,” imbuhnya.

Sebelumnya, Satgas Anti Mafia Bola memeriksa apartemen Jokdri. Adapun, barang-barang yang disita di antaranya laptop, bukti transfer, dan dokumen.

Saksikan video pilihan di bawah ini

Menanti Vonis Hakim untuk Pembunuh Datuk Belang dan Dua Janinnya

Liputan6.com, Kuansing – Kasus jerat berujung maut bagi induk Harimau Sumatera dan dua janinnya di Kabupaten Kuantan Singingi Kuansing pada akhir September 2018 memasuki babak akhir.

Jaksa penuntut umum (JPU) pada Pengadilan Negeri setempat menuntut terdakwa Falalini Halawa empat tahun enam bulan penjara.

Jaksa Mochamad Fitri Adhy mengatakan, tuntutan terdakwa pembunuh harimau itu dibacakan pada 12 Februari 2019. Dia juga meminta hakim menjatuhkan vonis denda Rp 100 juta, subsidair enam bulan kurungan.

“Terdakwa dinilai sengaja melakukan perbuatan menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, satwa yang dilindungi, sebagaimana diatur Pasal 40 Ayat (2) Junto Pasal 21 Ayat (2) huruf a Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” terang Adhy saat dikonfirmasi dari Pekanbaru, Jumat (15/2/2019).

Usai tuntutan, majelis hakim yang diketuai Reza Himawan Pratama memberikan waktu seminggu kepada terdakwa untuk melakukan pembelaan atau pledoi.

Dalam tuntutan, ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa. Di antaranya, terdakwa Falalini Halawa mengetahui perbatasan Desa Pangkalan Indarung dan Muara Lembu merupakan habitat harimau dan tahu datuk belang sering melintas di sana.

Masyarakat juga sudah memperingatkan terdakwa, tapi diabaikannya. Terdakwa pun memasang beberapa jerat dari ukuran kecil hingga besar dari kawat baja bekas rem motor, lalu menyebar ke beberapa titik di hutan.

“Katanya untuk menjerat babi yang sering masuk kebun sawit tapi dilihat dari ukuran serta tinggi jerat, patut diduga untuk harimau,” sebut Adhy.

2 dari 2 halaman

Buru Landak untuk Dimakan

Jerat itu dihadirkan ke persidangan sebagai barang bukti, dua karung berisi bulu landak, empat jerat dari nilon, foto-foto induk harimau serta dua janin siap dilahirkan.

“Jadi terdakwa juga sering menangkap landak untuk dimakan, padahal landak juga masuk hewan dilindungi,” tegas Adhy.

Sebelumnya, induk harimau tengah mengandung dua janin jantan itu ditemukan tak bernyawa di tepi jurang dengan bagian pinggang terlilit tali baja dari jerat.

Sebelum ditemukan mati, petugas BBKSDA Riau sudah mencari harimau itu tapi dihentikan karena hari sudah malam.

Pencarian dilanjutkan esok pagi lalu bangkai harimau itu dibawa ke kantor BBKSDA Riau di Pekanbaru. Harimau itu dibedah dan ditemukan dua janin yang diprediksi akan lahir 14 hari Lagi dalam keadaan tak bernyawa.

Hasil pemeriksaan dokter harimau tersebut mati akibat gangguan dalam pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh yang disebabkan terganggunya fungsi paru-paru, pembuluh darah ataupun jaringan tubuh.

Selain itu, dua ginjal harimau tersebut juga pecah karena cengkraman jerat pada bagian pinggang dan pinggul sehingga menyebabkan kematian.

Falalini sendiri sewaktu pencarian berada di lokasi dan langsung dibawa petugas karena mengaku sudah memasang jerat itu. Dia sebenarnya berasal dari Kabupaten Nias Selatan dan tinggal di Desa Pangkalan Indarung karena bekerja sebagai penjaga kebun kelapa sawit dan ubi di sana.

Saksikan video pilihan berikut ini: