Rapid Wina vs Inter Milan: Handanovic Semringah Jadi Kapten

Liputan6.com, Milan – Samir Handanovic baru saja ditahbiskan sebagai kapten baru Inter Milan. Dengan jabatan barunya, kiper berusia 34 tahun ini membantu Inter Milan menang tipis 1-0 atas tuan rumah Rapid Wien dalam lanjutan Liga Europa, Jumat (15/2/2019) dinihari WIB.

“Setiap pemain bangga menjadi kapten dari klub besar, tetapi kita sedang membicarakan Inter Milan, bukan personal,” kata Handanovic seperti dilansir Football Italia.

Seperti diketahui, Inter Milan baru saja mencopot jabatan kapten dari Mauro Icardi. Tidak jelas apa alasan di balik keputusan tersebut.

Namun publik menduga, ini ada kaitannya dengan Icardi yang belum juga memperpanjang kontrak. Di saat yang sama, striker asal Argentina ini terus dikaitkan dengan sejumlah klub besar lain seperti Real Madrid.

Inter Milan pun mengambil sikap dengan mencopot ban kapten dari lengan Icardi. Nerrazuri -julukan Inter Milan- akhirnya memilih Handanovic sebagai kapten baru.

2 dari 3 halaman

Hasil Bagus

Terkait pertandingan, Handanovic menilai hasil 1-0 yang dicetak lewat penalti Lautaro Martinez sudah bagus. Pasalnya, Rapid Wien juga memiliki kesempatan untuk membobol gawang Inter Milan.

Namun Inter beruntung memiliki Handanovic yang berhasil mematahkan beberapa peluang. “Untuk itulah saya di sini. Jelas, saya tak ingin membuat banyak penyelamatan, tetapi jika saya di butuhkan saya selalu ada,” kata Handanovic.

“Saya kira, menang 1-0 sudah merupakan hasil bagus, karena pertahanan dimulai dari penyerangan. Jadi setiap pemain berusaha. Sangat penting untuk tidak kebobolan lagi,” ujar Handanovic mengakhiri.

3 dari 3 halaman

Kemenangan Kedua

Di sisi lain, kemenangan atas Rapid Wien merupakan yang kedua bagi Inter Milan dalam lima laga terakhir. Ya, performa pasukan Luciano Spalletti belakangan kurang bagus.

Inter Milan sempat kalah tiga kali beruntun sebelum menang 1-0 atas Parma pada pekan lalu. Tiga kekalahan itu terjadi masing-masing atas Torino (0-1), Lazio (adu penalti), Bologna (0-1).

Rapid Wina vs Inter Milan: Lautaro Martinez Ingin Jadi Mesin Gol Nerrazuri

Liputan6.com, Milan – Lautaro Martinez menjadi bintang dalam laga Rapid Wien vs Inter Milan di babak 32 besar Liga Europa, Jumat (15/2/2019) dini hari WIB. Gol penalti Martinez membuat Inter Milan menang 1-0.

Ini merupakan gol keempat Martinez sejak bergabung dengan Inter dari Racing Club pada awal musim ini. Ia pun ingin terus menjadi mesin gol bagi Nerrazuri -julukan Inter Milan.

“Striker selalu butuh mencetak gol. Saya ingin terus seperti ini, yang mana itu butuh kerja keras dan totalitas,” ujar Martinez seperti dilansir situs resmi klub.

Inter Milan bertandang ke markas Rapid Wien dengan masalah internal. Ya, mereka baru saja mencopot ban kapten dari Mauro Icardi dan menyerahkannya ke Samir Handanovic.

Kiper asal Slovenia itu pun memulai debutnya sebagai kapten Inter pada laga dini hari tadi. Icardi sendiri sebetulnya ada di dalam tim, namun rumor yang beredar menyebut ia menolak bermain.

Pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti akhirnya mengandalkan Martinez sebagai ujung tombak. Keputusan ini tidak sia-sia lantaran aksi Martinez membuahkan penalti bagi Inter di menit 38.

2 dari 3 halaman

Lebih Tenang

Martinez menilai kemenangan ini membuat atmosfer di ruang ganti Inter kondusif. Menurutnya, semua anggota tim menjadi fokus untuk menghadapi laga selanjutnya.

“Kami berhasil mendapat hasil positif dan sekarang kami bisa berlatih dengan tenang untuk menyiapkan pertandingan selanjutnya,” kata Martinez.

3 dari 3 halaman

Kemenangan Kedua

Di sisi lain, kemenangan atas Rapid Wien merupakan yang kedua bagi Inter Milan dalam lima laga terakhir. Ya, performa pasukan Luciano Spalletti belakangan kurang bagus.

Inter Milan sempat kalah tiga kali beruntun sebelum menang 1-0 atas Parma pada pekan lalu. Tiga kekalahan itu terjadi masing-masing atas Torino (0-1), Lazio (adu penalti), Bologna (0-1).

Gol Penalti Lautaro Martinez Bawa Inter Milan Kalahkan Rapid Wina

Jakarta Inter Milan mengalahkan Rapid Wina, 1-0, pada leg pertama 32 besar Liga Europa 2018-2019, di Allianz Stadion, Wina, Kamis (14/2/2019) waktu setempat.

Pada laga tersebut, Inter Milan tidak memainkan kapten sekaligus striker andalan, Mauro Icardi. Pemain asal Argentina itu dikabarkan sedang bermasalah dengan pelatih Luciano Spalletti.

Tanpa Icardi, Inter Milan menurunkan Lautaro Martinez sebagai ujung tombak. Martinez ditemani dua pemain sayap bertipe menyerang, yakni Matteo Politano dan Ivan Perisic.

Kehadiran Martinez memberikan dampak positif bagi Inter Milan. Eks pemain Velez Sarsfield itu menjadi penentu kemenangan I Nerazzurri berkat golnya dari tendangan penalti pada menit ke-39.

Aksi Martinez menjadi satu-satunya gol yang tercipta dalam pertandingan itu. Laga berakhir 1-0 untuk kemenangan Inter Milan.

Hasil tersebut membuka peluang La Beneamata lolos ke 16 besar Liga Europa. Pada leg kedua, Inter Milan akan gantian menjamu Rapid Wina di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, 21 Februari mendatang.

Susunan pemain

Rapid Wina: 1-Richard Strebinger; 19-Marvin Potzmann, 6-Mario Sonnleitner, 20-Maximilian Hofmann, 5-Boli Bolingoli Mbombo; 23-Manuel Thurnwald (7-Philipp Schobesberger 53), 14-Srdjan Grahovac (28-Christoph Knasmullner 64), 39-Dejan Ljubicic, 97-Andrei Ivan; 8-Stefan Schwab; 9-Veton Berisha (10-Thomas Murg 82)

Pelatih: Dietmar Kuhbauer

Inter Milan: 1-Samir Handanovic; 21-Cedric Soares, 6-Stefan de Vrij, 23-Miranda, 18-Kwadwo Asamoah; 8-Matias Vecino, 20-Norja Valero; 16-Matteo Politano (87-Antonio Candreva 78), 14-Radja Nainggolan (33-Danilo D’Ambrosio 83), 44-Ivan Perisic; 10-Lautaro Martinez

Pelatih: Luciano Spalletti

Wasit: Tobias Stieler (Jerman)

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini:

Perlukah NKRI Bersyariah?

Liputan6.com, Jakarta – Deden Sujana hanya bisa tertawa saat tahu polisi menetapkannya sebagai tersangka dalam perkara bentrok di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten. Namun, tawa di wajahnya bukan lantaran senang.

Dia tertawa getir. Saat mendengar kabar penetapan dirinya sebagai tersangka Februari 2011 lalu, Deden sedang berbaring di ranjang pasien di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan.

Luka di sekujur tubuhnya belum kering. Tangannya masih kaku, belum bisa digerakkan usai operasi penyambungan yang dilakukan selama 7,5 jam oleh 7 dokter dengan keahlian berbeda. Dokter pun berkata, dia mengalami gegar otak.

Ketika berbincang dengan Liputan6.com, Deden mengaku, kala itu ia tak menyangka bakal berakhir di rumah sakit. Juga tak terbesit dalam pikirannya bahwa bakal ada 1.500 orang yang datang ke masjid milik Ahmadiyah di Cikeusik, sekitar pukul 10.30 WIB, 6 Februari 2011 .

“Malam minggu (Sabtu 5 Februari 2011), saya mendapat kabar tentang penahanan ustaz kami, istrinya dan keluarganya. Saya dan 12 orang lainnya malam itu juga berangkat ke Cikeusik untuk bertanya dan meminta polisi membebaskan mereka. Kebetulan saat itu saya menjabat sebagai Ketua Keamanan Nasional Ahmadiyah. Kami sampai di sana pukul 08.00 WIB karena Cikeusik itu masih jauh dari Pandeglang, kami ingin istirahat dulu dan siangnya baru ke polisi,” tutur Deden, Rabu 13 Februari 2019.

Tiba-tiba, lanjut dia, sejumlah polisi mendatangi mereka dan memintanya untuk meninggalkan lokasi karena akan ada sekelompok orang yang menuju ke tempat tersebut. Namun, polisi tidak memberi tahu jumlahnya.

Deden dan rekan-rekannya enggan meninggalkan lokasi karena maksud kedatangannya belum tersampaikan. Apalagi, dia merasa datang dengan cara dan tujuan yang baik. Mereka tak membawa senjara. 

Massa kemudian datang. Bentrokan pun tak terelakkan. “Bisa dibuktikan kok di video yang beredar, kami melawan dengan tangan kosong atau alat yang bisa kami dapat di dekat kami,” kata dia.

Hari itu, Deden menyaksikan tiga saudara seimannya tewas karena diserang menggunakan senjata tajam. Ia yang susah payah menghindari hujaman celurit dan golok, tak kuasa membantu. 

Begitupula polisi. Tak ada satu pun petugas keamanan yang berani melerai. Sebuah mobil aparat habis dibakar massa, satu dimasukkan ke jurang. 

Deden  yakin, ada yang memobilisasi massa itu. Sebab, dia merasa janggal, 1.500 orang bisa berkumpul secara spontan. Tapi kecurigaan tersebut tak pernah ditindaklanjuti polisi.

Usai bentrok Cikeusik, polisi membawa Deden dan 12 rekannya ke RSUD Serang. Namun, pihak rumah sakit angkat tangan dengan kondisi Deden. Tangan dan kakinya nyaris putus. Tak ada dokter ahli yang bisa menanganinya ketika itu.

Keluarganya pun harus beradu argumen dengan kepolisian untuk bisa membawa Deden ke RSPP. Sampai akhirnya, polisi mengizinkannya.

“7,5 jam saya dioperasi untuk menyambungkan tangan saja. Dokter bilang, baru kali ini ada operasi selama itu di RSPP. Orang tangan saya mau putus dan sudah ada beberapa jaringan yang busuk. Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk hidup dan menggunakan tangan kaki saya kembali. Dua minggu saya dirawat. Sekarang sudah bisa digerakkan,” ujar Deden.

Usai pulih, ia kembali berurusan dengan hukum. Polisi menyangkakan empat pasal kepadanya, yakni, provokasi, penganiayaan, kepemilikan senjata tajam dan melawan petugas. Namun pada akhirnya, polisi menjeratnya dengan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan dan Pasal 212 KUHP tentang perlawanan terhadap petugas kepolisian.

Ia ditahan selama enam bulan. “Wong saya dipenjara bukan karena nyopet atau korupsi. Yang saya sayangkan, 12 pembunuh saudara saya malah dihukum 3-5 bulan,” ucap Deden.

Usai kejadian itu, dia dan pengikut Ahmadiyah lainnya selalu berhati-hati dalam bertindak dan bertutur. Tidak kepada sembarang orang mereka mau terbuka. Mereka pun tidak pernah bersuara di ruang publik, media sosial sekalipun.

“Karena kita tidak tahu, kita sedang berhadapan dengan siapa. Bagaimana kalau lawan bicara kita ternyata kelompok garis keras? Kami saling menjaga saja,” kata dia.

Baru belakangan Deden dan warga Ahmadiyah lain berani mengeluarkan pendapat di  ruang publik dan media sosial. “Saya juga sudah berani komen-komen di Twitter. Apalagi pada pemerintahan saat ini, kami merasa aman,” kata Deden. 

Sementara, pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab pada akhir tahun lalu melemparkan kembali isu NKRI Bersyariah terkait dukungannya kepada salah satu peserta Pilpres 2019.

Akun twitter @RizieqSyihabFPI, mengunggah poster isu NKRI Bersyariah disertai gambar dirinya dan Prabowo-Sandi. Wacana NKRI Bersyariah juga pernah dia bukukan dengan judul Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah.

Deden kemudian berkomentar, “Mau sampai kapan begini?”

“NKRI harga mati, final, tidak ada lagi embel-embel syariah. Cukup bank saja yang bersyariah. Apalagi kita ini bukan negara Islam. Indonesia terdiri dari ribuan budaya. Beda itu indah. Sudahlah, Pancasila final, NKRI harga mati,” lanjut Deden yang kini menjabat sebagai Ketua Ahmadiyah Bekasi dan Asisten Humas Pengurus Besar Ahmadiyah itu.

Hal yang sama disampaikan oleh seorang jemaah Ahmadiyah berinisial S. Dia mengatakan, kini hidupnya lebih mudah. Dia juga bertempat tinggal dan bekerja di lingkungan dengan tingkat toleransi tinggi. Dia pun bebas bersuara bahwa ia adalah pengikut Ahmadiyah.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu. Ketika menikah saja, dia harus menumpang ke kota lain. Sebab, sulit untuk mengurus surat-surat pernikahan di kota asal calon istrinya.

Dia bahkan menyebut, sejumlah jemaah lain di lokasi itu tidak mendapatkan e-KTP lantaran keyakinannya yang berbeda dengan masyarakat sekitar. Saat berbincang dengan Liputan6.com pun, dia tidak ingin daerah asal pasangan hidupnya disebut.

“Dulu saya harus menikah di tempat lain. Sulit mengurusnya bahkan ada yang tidak dapat e-KTP. Alhamdulillah di tempat lain diberi kemudahan dan kami tidak perlu menyembunyikan identitas sebagai seorang Ahmadiyah,” ujar S.

Dia pun tak ingin mengalami deja vu. Dia tidak mau lagi terkungkung dengan konsep yang diwacanakan Rizieq Shihab.

Sementara, Slamet, warga Kudus, Jawa Tengah yang baru dua tahun ini mualaf juga tak paham dengan konsep NKRI bersyariah yang diwacanakan Rizieq. Terlebih, baru dua tahun ini dia bisa memeluk agama pendahulunya.

Sebelum kemerdekaan, orangtuanya tidak memiliki kebebasan untuk memeluk agama Islam karena saat itu tak ada ruang publik yang manusiawi. Keduanya memutuskan berpindah agama.

“Jika sekarang ada yang menyerukan NKRI bersyariah, justru mundur dong. Warga seperti saya sebenarnya hanya butuh ruang publik yang manusiawi. Tanpa rasa takut kita bisa menegakkan apa yang kita yakini. Kita hanya butuh damai,” kata pria 57 tahun itu kepada Liputan6.com.

2 dari 3 halaman

Harus Paham Konsep

Lalu, masih haruskah kita mempertimbangkan wacana Rizieq Shihab soal NKRI bersyariah atau lebih memilih ruang publik yang manusiawi?

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Marsudi Syuhud mengatakan, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, masyarakat harus tahu terlebih dahulu tentang makna kata “bersyariah”. Setelah itu, baru bisa membahas soal pilihan tersebut.

“Yang harus dipahami oleh muslim maupun nonmuslim, Bangsa Indonesia, sesungguhnya kata bersyariah itu seperti apa sih? Teorinya bagaimana? Bersyariah itu bukan hanya untuk muslim tapi untuk siapa saja. Maka kaidahnya di mana ada kemaslahatan, kebaikan, untuk publik, untuk siapa saja, maka sesungguhnya sudah memakai syariat Allah,” kata Marsudi saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (14/2/2019).

Dia pun memberikan gambaran tentang permasalahan ini melalui Undang-Undang Lalu Lintas. UU tersebut diciptakan untuk mengatur segala sesuatu tentang yang berhubungan dengan lalu lintas, agar tidak terjadi kecelakaan dan tercipta keteraturan, seperti rambu-rambu dan batas kecepatan maksimal.

“Itu untuk kemaslahatan tidak? Untuk kemaslahatan, biar tidak tabrakan. Berarti UU Lalu Lintas bersyariah tidak? Bersyariah.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ruang publik kita sudah baik? Sudah manusiawi?

Marsudi menilai, proses menuju baik itu tidak ada ujungnya. Amerika saja, lanjut dia, tidak berhenti untuk menjadi baik dan lebih baik.

Bagi dia, ruang publik yang berdasarkan Pancasila pada saat inipun sudah bersyariah, meski terus berproses menjadi lebih baik.

“Ruang publik hari ini alhamdulillah dengan dasar negara kita Pancasila, ya itu tadi, penjelasan Pancasila sama dengan UU Lalu Lintas. Pancasila hadir kesepakatan, maka sudah sesuai syariah belum? Sudah, karena untuk kemaslahatan,” tutur Marsudi.

Hal serupa diungkapkan oleh negarawan, Ahmad Syafii Maarif. Pria yang akrab disapa Buya ini menilai, NKRI bersyariah dengan sendirinya akan tercipta ketika norma-norma agama, sosial dan hukum dijalankan.

“Kalau Islam yang benar, tidak perlu itu perlu NKRI bersyariah. Islam yang selaras dengan kemanusiaan sudah mewujudkan NKRI bersyariah,” kata Buya kepada Liputan6.com.

Dia pun pernah membahas wacana NKRI bersyariah dan ruang publik manusiawi dalam bukunya yang berjudul Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan

Dia menyayangkan pendapat beberapa orang yang menuduh sistem demokrasi, paham keberagaman, toleransi, dan pesan anti-kekerasan bukanlah napas Islam. Baginya, yang terjadi justru sebaliknya.

Buya Maarif berpendapat, sesungguhnya Islam Indonesia tidaklah antidemokrasi. Indonesia sekarang ini, lanjut dia, beruntung karena memiliki Islam yang terbuka akan prinsip demokrasi.  


3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Pemred Rappler Filipina Ditangkap Polisi di Manila

JakartaMaria Ressa diwawancara saat penangkapannya di kantor Rappler. Reuters MariaRessa diwawancara saatpenangkapannya di kantorRappler.

Maria Ressa, pemimpin redaksi Rappler, situs berita yang kritis terhadap pemerintah di Filipina, ditangkap di kantor pusatnya di Manila.

Ressa mengatakan tuduhan “cyber-libel” atau fitnah-siber tersebut sebenarnya adalah usaha pemerintah Rodrigo Duterte untuk membungkam media.

Ini adalah peristiwa terbaru dari serangkaian tuduhan beragam yang ditujukan kepadanya.

Presiden yang mengatakan situs tersebut “berita palsu”, sebelumnya menyangkal tuduhan terhadap Ressa karena alasan politik.

Wartawan Rappler melakukan live-stream penangkapan Ressa di Facebook dan Twitter.

Rekaman streaming di Facebook memperlihatkan petugas berpakaian sipil berbicara dengan Maria Ressa, sementara sejumlah wartawan situs tersebut melakukan live-tweet kejadian itu.

Petugas National Bureau of Investigations (NBI) dilaporkan memerintahkan mereka untuk berhenti memfilmkan dan mengambil foto.

Miriam Grace Go, editor berita Rappler, kemudian meng-tweet bahwa agen NBI membawa Ressa ke luar dari kantor Rappler.

https://twitter.com/reyaika/status/1095615339721834496

Chay Hofilena, pimpinan jurnalisme investigatif Rappler, mengatakan kepada BBC News bahwa kekhawatiran utama mereka sekarang adalah memastikan Ressa tidak harus bermalam di penjara.

“Maria saat ini berada di National Bureau of Investigations, dan kami berharap dia dapat mengajukan jaminan bebas malam ini, agar dia tidak perlu bermalam di penjara,” katanya.

“Kami akan mencari seorang hakim di pengadilan malam yang bersedia memberikan jaminan bebas. Pengacara kami saat ini sedang dalam proses mencarinya.”

Hofilena menambahkan “jika dapat mengajukan jaminan, maka dia dapat menjadi bebas” dan mereka dapat lebih memusatkan perhatian pada kasus dan proses hukum.

Dakwaan terbaru terhadap Ressa berasal dari laporan tujuh tahun lalu terkait dengan dugaan hubungan seorang pengusaha dengan mantan hakim di pengadilan tertinggi Filipina.

Kasus ini muncul berdasarkan undang-undang kontroversial “cyber-libel”, yang mulai berlaku pada bulan September 2012, empat bulan setelah tulisan yang dipertanyakan tersebut terbit.

Para pejabat pertama kali menuntutnya pada tahun 2017, tetapi sempat ditolak NBI karena batasan satu tahun untuk menuntut kasus fitnah telah terlewati. Tetapi pada bulan Maret 2018, NBI membuka kembali kasus itu.

Penangkapan dilakukan hanya dua bulan setelah Ressa dilaporkan mengajukan jaminan bebas terkait dugaan pemalsuan pajak, yang dia katakan juga “direkayasa”.

Jika dia dihukum hanya berdasarkan satu tuduhan penggelapan pajak, Ressa dapat ditahan sampai sepuluh tahun penjara. Sementara tuduhan cyber-libel dapat menghukum seseorang sampai 12 tahun penjara.

Berbicara dengan wartawan setelah penangkapannya, wartawan veteran ini mengatakan dirinya “terkejut bahwa hukum dilanggar sampai ke titik di mana saya tidak bisa lagi mengenalnya”.

Sejarah Rappler

Rappler didirikan pada tahun 2012 oleh Ressa dan tiga wartawan lainnya.

Sejak saat itu media ini dikenal di Filipina lewat penyelidikannya yang tajam.

Rappler juga satu dari beberapa organisasi media di negara itu yang secara terbuka mengkritik Presiden Duterte, selalu mempertanyakan ketepatan pernyataannya dan mengecam kebijakannya.

Rappler terutama menerbitkan sejumlah laporan yang kritis terhadap perang Duterte melawan narkoba, di mana polisi mengatakan sekitar 5.000 orang meninggal dalam tiga tahun terakhir.

Pada bulan Desember, media ini juga melaporkan pengakuan Duterte bahwa dirinya melecehkan seksual seorang pembantu pembantu rumah tangga.

Presiden menegaskan laporan situs tersebut adalah “berita palsu” dan melarang wartawan Rappler meliput kegiatan resminya.

Tahun lalu, negara mencabut izin situs, tetapi Duterte menyangkal bahwa tuntutan terhadap Rappler dan Ressa bermotif politik.

Ressa mengatarkan penangkapannya sebagai usaha membungkam jurnalisme Rappler. ReutersRessamengatarkanpenangkapannya sebagai usaha membungkam jurnalismeRappler.Siapa MariaRessa?

Ressa adalah wartawan veteran Filipina yang sebelum mendirikan Rappler, menghabiskan karirnya dengan CNN – pertama sebagai kepala biro di Manila dan kemudian di Jakarta.

Dia juga merupakan wartawan investigatif utama media AS tersebut terkait dengan terorisme di Asia Tenggara.

Dia memenangkan sejumlah penghargaan internasional karena liputannya dan dipilih menjadi Time Magazine Person of the Year tahun 2018 karena usahanya mempertanyakan tanggung jawab kekuasaan di lingkungan yang semakin memusuhinya.

Apa artinya bagi jurnalisme Filipina?

Pendukung kebebasan pers memandang ini sebagai usaha untuk menggertak organisasi berita yang kritis, agar menjadi bungkam.

National Union of Journalists Filipina, sebagai contohnya, segera mengutuknya.

“Penangkapan … Ressa berdasarkan tuntutan fitnah-siber yang jelas-jelas direkayasa adalah tindakan persekusi tanpa malu dari sebuah pemerintahan penggertak,” kata serikat tersebut kepada Reuters.

“Pemerintah … sekarang sudah terbukti akan melakukan segalanya untuk membungkam media yang kritis.”

Sementara itu, wartawan Rappler terus mengirim tweet terkait penangkapan Ressa dengan hashtag #DefendPressFreedom.

Para pengamat mengatakan kebebasan pers di Filipina – yang pernah menjadi yang terkuat di Asia – menjadi lemah di bawah kepresidenan Duterte.

Sejak tahun 1986, 176 wartawan dibunuh di negara itu, sehingga menjadikan Filipina sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi wartawan di dunia.

Tahun 2016, presiden dikecam karena mengatakan sebagian dari wartawan tersebut memang layak mati.


(bag/bag) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

JK Larang BTP Gabung TKN, PA 212: Memang Masih Ada Kekuatan Ahok?

Jakarta – Ketua Dewan Pengarah TKN, Jusuf Kalla (JK) tak ingin Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok bergabung dengan TKN. JK khawatir gabungnya Ahok akan mengurangi suara untuk Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin khususnya segmen pemilih muslim.

Terkait hal ini, Sekretaris Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar menilai ungkapan JK bersifat normatif. Pasalnya, Ahok yang sudah bergabung dengan PDIP pasti akan memberi andil terhadap kemenangan Jokowi-Ma’ruf.

“Itu urusan JK dan tim. Memangnya kekuatan Ahok bagaimana? Masih ada kekuatan dia? Ya silakan-silakan aja. Dia kan sekarang sudah masuk PDIP, jadi otomatis harus bantu PDIP meskipun belum dimasukkan ke dalam timses,” kata Bernard saat dihubungi, Rabu (13/2/2019).
Namun Bernard melihat jika Ahok bergabung ke dalam timses, tak akan terlalu berpengaruh pada jumlah dukungan kalangan muslim ke Jokowi. Sebab, dukungan yang diberikan kalangan muslim karena memandang sosok Jokowi-Ma’ruf.
“Bergabungnya Ahok atau tidak bergabungnya Ahok, kita tahu Ahok sudah dihukum, penista agama, baru bebas juga. Mungkin bagi pendukungnya ya tetap. Tapi kalau Islam secara umum mendukung Jokowi-Ma’ruf mungkin ada reaksi. Cuma nggak terlalu berpengaruh, mereka kan nggak memandang Ahok. Tapi paslonnya yang dipandang,” kata Bernard.

Sebelumnya diberitakan, JK menyebut Ahok tak perlu bergabung dengan TKN Jokowi-Ma’ruf. Jika Ahok bergabung ke dalam TKN, lanjutnya, akan membuat orang mengaitkan Jokowi pada kasus Ahok.

“Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan (Ahok masuk TKN),” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

“Bahwa bisa berakibat lagi orang mengingat bahwa ‘oh ini Pak Jokowi dukung orang yang penista agama’, kan bahaya itu, bisa mengurangi suara. Apa saya bilang nanti, jadi lebihlah tenang-tenang, toh pemilu lagi 2 bulan, juga efeknya tidak akan banyak,” sambung JK.
(jbr/bag)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PSI vs PD yang Tertawakan Pidato Grace Natalie

Jakarta – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie berpidato tentang ‘nasionalis gadungan’. Rupanya pidato itu menyulut reaksi politikus Partai Demokrat (PD) yang juga Juru Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Jansen Sitindaon.

“Saya hanya bisa tertawa dengar pidato Grace Natalie ini. Lama-lama jadi Partai Sensasi Indonesia, PSI ini,” kata Jansen kepada wartawan, Selasa (12/2/2019).

Grace dalam pidatonya menyinggung soal kasus Meiliana, di mana pihak yang mengaku nasionalis justru diam saja. Menurut Jansen justru kasus ini terjadi di masa pemerintahan Presiden Jokowi yang didukung oleh PSI.

“Grace mungkin lupa jika sekarang ini zamannya Jokowi. Apa yang terjadi termasuk kasus Ibu Meliana di Tanjung Balai yang dia pidatokan itu terjadi ya di masa Jokowi ini. Jadi nampar Jokowi, presiden yang dia dukung sendiri, pidato Grace itu. Artinya, kalau mengikuti pidato Grace ini, presiden sekarang nasionalismenya berarti gadungan, dong? Diam saja ketika Ibu Meliana dipersekusi dan bahkan akhirnya dihukum,” ujar Jansen.

Jansen Sitindaon.Foto: Jansen Sitindaon (Dok Pribadi)

Lebih lanjut Jansen menilai pidato Grace justru menguatkan narasi untuk mengganti pemerintahan. Jansen pun mengungkit soal kader jumlah kader partai yang paling banyak ditangkap KPK.

“Itu maka jika mengikuti logika Grace di pidatonya ini, kekuasaan sekarang ya memang harus diganti. Karena nasionalisme yang mengelola negara sekarang kan gadungan. Untuk itulah maka koalisi kami ingin perubahan, mengganti presiden dan yang berkuasa sekarang melalui pemilu 17 April 2019 nanti,” kata Jansen.

Ketua DPP PSI Guntur Romli lantas membalas pernyataan Jansen. Menurut Guntur, PD seakan jadi yang merasa tersindir dengan istilah ‘nasionalis gadungan’.

“PSI tidak menuding partai mana pun sebagai ‘nasionalis gadungan’. Tapi kalau Demokrat yang paling pertama bereaksi, mungkin wajar karena mereka yang paling tersindir,” kata politikus PSI Guntur Romli dalam keterangan tertulis, Rabu (13/2).

Guntur Romli. Foto: Juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Mohamad Guntur Romli. (Wildan-detikcom)

Politikus gadungan, kata Guntur, sebetulnya adalah kriteria dan tak secara langsung menunjuk siapapun. Guntur lantas mengungkit kasus intoleransi yang terjadi di masa pemerintahan Presiden ke-6 RI yang juga Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Peraturan Dua Menteri Soal Rumah Ibadah yang dijadikan sebagai senjata penutupan rumah ibadah lahir di era Presiden SBY tahun 2006. Demikian pula SKB Tiga Menteri terhadap Ahmadiyah yang dijadikan dalih persekusi kelompok mayoritas terhadap minoritas lahir di era Presiden SBY tahun 2008, perda-perda berbasis agama yang diskriminatif tumbuh subur di era SBY,” ujar dia.

Sebelumnya, Grace dalam pidatonya berjudul ‘Musuh Utama Persatuan Indonesia’ Grace menyinggung kaum nasionalis gadungan. Dia menjelaskan ada dua ancaman yang membayangi persatuan Indonesia. Pertama, keberadaan kaum intoleran yang tiap harinya mengumbar kebencian. Kedua, keberadaan para koruptor yang melemahkan gerakan persatuan masyarakat.

“Jadi kalau ada orang menyebut dirinya nasionalis, tapi di belakang masih mencuri uang rakyat, mereka lebih pantas kita sebut nasionalis gadungan,” ucap Grace di acara Festival 11 Jogjakarta di Jogja Expo Center (JEC), Senin (11/2).
(bag/bag)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Terancam Dihukum Mati di Lebanon, Pria Australia Ingin Bertemu 2 Putrinya

Jakarta

Seorang pria Australia yang terancam hukuman mati di Lebanon atas dugaan rencana untuk meledakkan sebuah pesawat penumpang telah meminta pengadilan militer untuk membebaskannya. Ia mengaku para penyelidik telah memaksanya untuk menandatangani pengakuan palsu.

Amer Khayat diinterogasi atas sebuah pernyataan dengan tanda tangan dirinya yang mengatakan dia tahu dia membawa bahan peledak yang disembunyikan di dalam boneka Barbie yang akan diledakkan 20 menit menjelang penerbangan Etihad pada Juli 2017.

“Itu penipuan,” katanya kepada pengadilan.

“Mereka memberi tahu saya, ‘Ceritakan kisahmu kepada kami. Itu tidak benar.”

Khayat memohon kepada majelis hakim pengadilan militer Lebanon untuk mengabulkan permohonannya.

Khayat telah ditahan sejak Agustus 2017 sementara otoritas di Lebanon melakukan penyelidikan atas dirinya.

“Apakah Anda ingin saya bunuh diri di penjara?” dia berteriak di ruang sidang.

“Saya punya dua anak perempuan. Saya belum melihat mereka selama dua tahun. Saya menjadi gila.”

Kepolisian Federal Australia (AFP) menuduh dua bom tersebut disembunyikan di bagasi Khayat oleh saudara-saudaranya sesaat sebelum ia naik ke penerbangan Etihad dari Sydney ke Abu Dhabi pada Juli 2017.

AFP mengatakan, Khayat tidak tahu apa-apa tentang bom tersebut, yang diduga disembunyikan di dalam alat penggiling daging dan boneka Barbie, dan dipindahkan dari kopernya pada menit-menit terakhir oleh saudara-saudaranya lantaran tasnya melebihi jatah bagasi Etihad.

Saudara-saudaranya, Khaled dan Mahmoud Khayat, juga warga negara Australia. Mereka mengaku tidak bersalah di Mahkamah Agung NSW atas tuduhan merencanakan serangan teroris.

AFP tidak dapat memberikan bantuan Khaled Khayat dan Mahmoud KhayatKhaledKhayat (kiri) danMahmoudKhayat ditangkap polisi dalam operasi kontra terorisme di Sydney pada Juli 2017.

Supplied

Di pengadilan Beirut, Amer Khayat mempertanyakan penahanannya yang berkelanjutan.

“Jika polisi [di Australia] mengatakan saya tidak ada hubungannya dengan [bom] ini, bagaimana Anda bisa mengatakan di sini bahwa saya ada hubungannya dengan kasus ini?” dia berkata.

Kepala pengadilan, Brigadir Jenderal Hussein Abdallah, mengatakan Lebanon telah berulang kali meminta informasi kepada Australia tentang kasus tersebut.

“Kami tidak mendapat informasi apa pun dari pihak berwenang Australia, mereka tidak mau bekerja sama,” katanya.

Pengacara Amer Khayat, Joceline Adib Al-Rahi, mengatakan kepada pengadilan: “Australia tidak akan memberikan informasi apapun karena Beirut memilik aturan hukuman mati. Anda tahu ini.”

AFP dicegah memberikan bantuan dalam kasus-kasus hukum internasional yang dapat mengakibatkan hukuman mati.

Jenderal Abdallah menanyai Amer Khayat tentang dugaan penerimaan yang dilakukan oleh saudara laki-laki lain, pejuang Negara Islam (IS) Tarek Khayat – yang ditangkap di Suriah pada Desember 2018 dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Irak karena perannya dengan kelompok ekstremis.

Jenderal Abdallah mengatakan Tarek Khayat mengatakan kepada para interogator bahwa rencana pemboman itu berasal dari ISIS di Suriah.

khayat bersaudara ketika masih kecilkhayat bersaudara semasa kanak-kanak: kiri ke kananFadi,Amer,Tarek, Iman danWaled.

Supplied

Tarek Khayat mengaku telah menghubungi pakar bahan peledak ISIS dengan saudaranya, Khaled, di Sydney. Tarek mengatakan bahan peledak itu dikirim ke Khaled, yang memutuskan mereka harus disembunyikan di alat penggiling daging agar bisa diselundupkan ke pesawat, kata Jenderal Abdallah.

Jenderal Abdallah bertanya kepada Amer Khayat tentang hari mereka melakukan penerbangan Etihad, ketika Amer diduga membawa bom itu ke konter check-in Etihad di bandara Sydney.

“Apa yang terjadi dengan agen check-in ?,” kata Jenderal Abdallah.

“Dia bilang beratnya terlalu banyak … saya tidak tahu apa yang dilakukan Khaled. Dia pergi dan mengambil barang-barang,” jawab Amer.

Dia mengatakan adalah saudaranya yang mengeluarkan barang-barang dari tas, bukan dia.

“Dia membawa tas saya. Dia membawa troli, saya tidak,” kata Amer.

“Apakah anda melihat alat penggiling daging?” Jenderal Abdallah bertanya.

“Ya. Itu hanya alat penggiling daging,” kata Amer Khayat.

“Apakah kamu bertanya kepada kakakmu mengapa dia mengirim penggiling daging di kopermu?” Jenderal Abdallah bertanya.

“Dia bilang itu hadiah,” kata Amer.

Sidang Amer Khayat di Lebanon akan dilanjutkan pada 13 Maret.

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.


(bag/bag) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sandiaga Berterima Kasih kepada Pria yang Nyatakan Dukungannya di Ruang PBB

Liputan6.com, Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno berterima kasih kepada seorang pria yang mendeklarasikan dukungannya lewat video di ruang sidang Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Prabowo-Sandi.

“Sama seperti yang lain-lain bahwa mengutarakan dukungan sangat terbuka bagi siapapun dan siapapun yang memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandi kami mengucapkan terima kasih sekali,” kata Sandiaga di kawasan Bulungan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (13/2/2019).

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu tak berkomentar jauh apakah video di ruangan PBB tersebut etis atau tidak. Sandiaga hanya bersyukur mendapat dukungan.

“Venuenya ada di mana apakah sesuai dengan etika atau tidak tentunya itu nanti bisa dikaji melalui forum-forum lain, tapi kalau ada dukungan bagi kami tentunya kami bersyukur,” ucap Sandi.

Sandiaga berharap pria tersebut tak langsung diberikan sanksi karena sikapnya tersebut. “Buat saya itu ada mekanismenya sendiri dan tentunya kita janganlah seseorang dihukum karena pilihan politiknya,” imbuh Sandiaga Uno.

2 dari 3 halaman

Video Viral

Sebelumnya, video seorang pria di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) viral di media sosial. Dalam video itu dia menyatakan dukungannya kepada pasangan Capres dan Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dalam video terlihat dia membawa kertas bergambar Prabowo dan Sandiaga. Berpakaian rapi jas dan dasi, dia terlihat berada dalam ruangan Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat.

“Dari markas besar Persatuan Bangsa Bangsa, United Nations Headquarters, saya ingin menyatakan dukungan saya kepada Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno menjadi presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2019-2024,” katanya.

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Jaksa Cecar Saksi dalam Sidang Meikarta Soal Rentetan Kasus Suap Billy Sindoro

Liputan6.com, Bandung Sidang kasus dugaan suap perizinan proyek Meikarta dengan terdakwa Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Rabu (13/2/2019). Agenda sidang masih mendengarkan keterangan saksi.

Kali ini saksi yang dihadirkan adalah Edward P. Siringoringo, kepala operasional Gereja Bethel Indonesia Basilea, Gading Serpong, Tangerang Selatan.

Majelis hakim menggali keterangan soal kedekatan saksi dengan terdakwa Billy Sindoro. Edward mengaku mengenal Billy selama 12 tahun. Sepanjang saksi mengenal Billy, saksi mengaku pernah mendengar terdakwa juga pernah tersangkut kasus yang sama, yakni dugaan penyuapan.

Majelis hakim pun menanyakan kasus hukum yang pernah menjerat Billy sebelum kasus suap Meikarta. Tanya jawab pun berlangsung.

“Setahu saya pernah,” jawab Edward.

“Terkait kasus apa,” tanya hakim.

“Mohon maaf, seingat saya masalah hukum di pekerjaan. Dituduhkan masalah penyuapan,” kata Edward.

“Penyuapan di mana terhadap siapa?,” tanya hakim lagi.

“Saya tidak tahu,” jawab Edward.

Hakim kemudian mengingatkan Edward. “Kalau tidak tahu jangan cerita,” ujar Hakim.

Pernyataan Billy yang pernah berperkara didalami oleh jaksa KPK. Jaksa menyatakan Billy pernah di penjara atas kasus penyuapan Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Iqbal terkait hak siar liga Inggris.

“Apakah saksi tahu, Pak Billy pernah dihukum? Apakah pernah menjalani penjara?,” tanya jaksa.

“Setahu saya pernah,” kata Edward.

“Apakah terkait penyuapan KPPU?,” tanya jaksa.

“Tidak tahu,” jawab Edward.

“Terkait hak siar Liga Inggris?,” tanya jaksa kembali.

“Tidak tahu,” jawab Edward dalam sidang kasus suap izin Meikarta.

2 dari 2 halaman

Tangerang ke Jakarta Naik Helikopter

Billy menjabat sebagai dewan penggembala dan pendiri gereja. Dalam sidang, Edward mengungkapkan sosok Billy sangat aktif di gereja. Selain aktif, Billy dinilai saksi memiliki jiwa sosial yang tinggi.

“Beliau sangat aktif. Ikut mendirikan gereja dan begitu perhatian dengan jemaat. Banyak orang butuh pertolongan. Misalnya orang miskin, biasanya dibantu melalui gereja maupun pribadi. Ada banyak masalah terutama kesehatan. Kita punya klinik kesehatan setiap hari minggu,” ujar Edward menjawab pertanyaan kuasa hukum Billy.

Selain itu, Billy juga disebut mendorong BPJS agar mengklaim kesehatan di rumah sakit dan di klinik kesehatan gereja.

“Beliau pemimpin di gereja kami yang jemaahnya mencapai 8 ribu orang. Pak Billy ikut mendorong gereja untuk menolong jemaah gereja yang kesusahan biaya pendidikan, kontrak rumah, menolong yang sakit hingga membantu warga sekitar gereja,” katanya.

Edward mengaku mengenal Billy selama 12 tahun. Meski hubungannya dengan Billy cukup dekat, ia mengatakan hal itu semata urusan gereja.

Edward juga menceritakan pernah beberapa kali bertemu dengan Billy di luar gereja. Salah satunya pernah bertemu di Imperial Klub Golf (IKG) Lippo Karawaci. “Satu dua kali dalam keadaan mendesak. Membahas masalah jemaat,” kata Edward.

Selain itu, Edward juga mengungkapkan pernah bersama Billy menggunakan helikopter. Saat itu ia dijemput Billy dari gereja untuk menuju ke Jakarta. Di helikopter itu, Edward menyatakan ada pembahasan mengenai gereja.

Saksikan video pilihan berikut ini: