Satgas Antimafia Bola Kejar Pengakuan Tersangka dan Saksi di Mata Najwa

Liputan6.com, Jakarta – Satgas Antimafia Bola Polri akan menindaklanjuti keterangan tersangka dan saksi yang diungkap di acara Mata Najwa yang disiarkan pada Rabu 20 Februari 2019 malam. Keterangan dari para narasumber akan dijadikan sebagai bukti petunjuk dalam mengusut skandal pengaturan skor sepakbola Indonesia.

“Itu petunjuk-petunjuk yang nantinya bisa didalami dan diselidiki oleh Satgas Antimafia Bola,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Dalam acara bertajuk ‘PSSI Bisa Apa Jilid 4’ yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta itu, sopir Jokdri, Dani buka-bukaan soal perintah bosnya. Dani mengaku beberapa kali diperintah mentransfer sejumlah uang oleh Jokdri, paling besar mencapai nominal Rp 5 miliar.

Tersangka pengaturan skor, Dwi Irianto alias Mbah Putih juga buka-bukaan dengan jurnalis senior Najwa Shihab dalam sebuah wawancara eksklusif. Menurutnya, semua manajer klub pasti menjalin komunikasi dengan wasit.

Bukan hanya tersangka, Najwa juga menghadirkan keterangan saksi dari perangkat pertandingan yang identitasnya dirahasiakan. Menurut saksi, hampir semua pertandingan sepakbola sudah diatur. PSSI juga memiliki peran penting dalam skandal match fixing.

“Semua itu petunjuk. Itu nilainya satu kalau pengakuan saja. Kita butuh bukti dokumen yang menguatkan petunjuk itu,” tutur Dedi.

2 dari 2 halaman

Dibutuhkan Penyidik

Tidak menutup kemungkinan, informasi di Mata Najwa akan ditindaklanjuti oleh penyidik dan dituangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Sehingga keterangan tersebut memiliki pertanggungjawaban hukum.

“Tentunya sangat terkait kalau itu nanti dibutuhkan penyidik dalam rangka untuk mengungkap match fixing di beberapa liga, tentu arahnya ke sana (di-BAP),” ucap Dedi.


Saksikan video pilihan di rumah ini:

Polisi Dalami Dugaan Joko Driyono Terlibat Kasus Lain

Jakarta – Polisi menyatakan masih mendalami dugaan Plt Ketua Umum PSSI Joko Driyono terlibat kasus lain selain dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor. Pemeriksaan, kata polisi, bakal terus dilakukan.

“Ya masih didalami dalam pemeriksaan lanjutan, kan belum selesai,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi detikcom, Selasa (19/2/2019).

Hal itu disampaikan Dedi saat ditanya apakah ada kemungkinan Joko terlibat kasus lainnya selain perusakan barang bukti. Dedi sendiri mengatakan pemeriksaan lanjutan Joko dijadwalkan pada Kamis (21/2/2019). Menurut Dedi, belum ada barang bukti lain yang disita terkait kasus yang diduga melibatkan Joko Driyono.


“Belum barang buktinya, sementara masih dimintai keterangan dulu untuk tambahan Kamis pagi,” kata Dedi.

Sebelumnya, Polisi sempat menyita uang Rp 300 juta dari apartemen Joko. Dari jumlah tersebut, Rp 160 juta disebut polisi diduga terkait kasus suap pengaturan skor. Namun, dia tak menjelaskan detail uang yang diduga suap dan disita dari apartemen Joko itu berasal pihak mana.

“Setelah dilakukan audit terhadap uang, yang kemarin informasinya Rp 300 juta, telah diaudit lagi, yang terkait masalah peristiwa pidana hanya Rp 160 juta,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (18/2).

Joko sendiri saat ini berstatus sebagai tersangka kasus dugaan perusakan barang bukti pengaturan skor sepak bola. Dia duga menjadi aktor intelektual perusakan sejumlah barang bukti yang dilakukan 3 tersangka sebelumnya, yaitu Muhammad Mardani Mogot (sopir Jokdri), Musmuliadi (OB di PT Persija), Abdul Gofur (OB di PSSI).

Polisi pun telah memeriksa Joko sebagai tersangka pada Senin (18/2). Usai diperiksa sekitar 20 jam, Joko irit bicara dan hanya menyatakan satgas antimafia bola telah bekerja secara profesional.

“Sejak kemarin jam 10.00 WIB sampai hari ini, alhamdulillah, telah memenuhi undangan Satgas untuk didengar keterangan saya sebagaimana surat panggilan. Satgas, penyidik, bekerja sangat profesional,” ujar pria yang kerap disapa Jokdri itu di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/2).

Polisi mengatakan Jokdri dicecar sejumlah pertanyaan terkait kasus perusakan barang bukti dalam pengaturan skor. Dalam pemeriksaan itu, Polisi menyebut Joko mengakui memerintahkan anak buahnya mengambil barang bukti.

“Intinya adalah garis besar yang kemarin saya sampaikan ya, bahwa yang bersangkutan akan ditanyai seputaran menyuruh orang untuk mengamankan laptop dan dokumen lain yang dalam posisi di-police line dan dalam penguasaan penyidik. Jadi yang bersangkutan menjawab ya, alasannya memang untuk menyuruh orang tersebut untuk mengamankan barang tersebut,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/2).

Simak Juga Joko Driyono Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Mafia Bola’:

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Mengungkap Misteri Kematian 3 Siswa Semarang di Kolam Renang

Liputan6.com, Semarang – Polisi meminta keterangan guru dan pengelola kolam renang menyusul tewasnya tiga siswa SMPN 25 Kota Semarang saat mengikuti rangkaian ujian praktik berenang yang diselenggarakan sekolah tersebut.

Kapolsek Semarang Utara Kompol I Made Sapru mengatakan, bahwa dua guru SMPN 25 dan tiga pegawai Kolam Renang Paradise Club Indraprata.

Kedua guru tersebut, kata dia, merupakan pengawas saat pelaksanaan praktik renang.

“Pegawai kolam renang, termasuk manajer tempat tersebut,” katanya, Minggu (17/2/2019), dilansir Antara.

Ia menyebut pemeriksaan masih akan berlanjut, termasuk terhadap teman sekolah korban yang bersama-sama ikut dalam kegiatan itu.

Polisi, lanjut dia, juga akan meminta keterangan ahli untuk mengetahui kelayakan kolam renang tersebut.

“Unsur kelalaiannya didalami. Kami akan minta keterangan ahli,” katanya.

Sebelumnya, tiga siswi SMP Negeri 25 Kota Semarang tewas setelah tenggelam saat berenang di Kolam Renang Paradise Club Indraprata, Jalan Utari I, Kota Semarang, Sabtu (16/2).

Ketiga siswi tersebut tewas saat mengikuti ujian praktik renang yang digelar sekolah. Ketiga siswi tersebut merupakan bagian dari 148 siswa kelas IX yang akan mengikuti kegiatan ujian renang.

Adapun identitas tiga siswa tersebut masing-masing Jibran (15) warga Kuningan, Mutia (15) warga Bandarharjo, dan Tasa (16) warga Banowati, Kota Semarang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Polisi Jelaskan Barang Bukti Pengaturan Skor yang Dirusak Joko Driyono

Jakarta – Polisi menetapkan Plt Ketum PSSI Joko Driyono sebagai tersangka dalam kasus pengerusakan barang bukti pengaturan skor sepak bola. Polisi menyebut barang bukti yang dirusak itu berkaitan erat dengan kasus pengaturan skor yang dilaporkan oleh Mantan Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani.

“Jadi salah satu barang bukti yang dirusak itu memiliki kaitan erat sama laporannya Bu Lasmi (Lasmi Indaryani), itu nanti akan dikembangkan,” kata Karo Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi detikcom, Sabtu (16/2/2019) malam.

Dedi mengatakan hal itu juga akan menjadi fokus materi yang didalami Satgas Antimafia Bola kepada Joko Driyono pada pemeriksaan Senin (18/2) mendatang.

“Nanti dalam pemeriksan hari Senin itu salah satu poin atau materi yang didalami oleh satgas,” tambahnya.

Meski demikian, Dedi enggan bicara lebih jauh soal kemungkinan Joko Driyono juga menjadi tersangka dalam laporan Lasmi Indaryani. Dedi mengatakan semua itu tergantung pada pemeriksaan hari Senin yang akan datang.

“Kalau itu nanti tunggu hari Senin. Arah ke situ nanti akan dikuatkan dengan bukti-bukti petunjuk yang dimiliki oleh satgas. Sekarang masih tersangka yang alat buktinya kuat dan cukup itu yang pengrusakan, penghilangan dan pencurian barang bukti,” ujar Dedi saat ditanya status Joko Driyono dalam laporan Lasmi Indaryani.

Selain berkaitan erat dengan laporan Lasmi Indaryani, menurut Dedi, barang bukti yang dirusak merupakan dokumen-dokumen penting. Dokumen itu berisi soal pertandingan di Liga 3 sampai Liga 1, bukti transfer, pengaturan pertandingan hingga pengaturan perangkat pertandingan.

“Itu dokumen-dokumen, dokumen penting pertandingan di liga 3, 2, maupun liga 1, itu dokumen penting itu ada bukti transfer, ada pengaturan pertandingan, ada pengaturan perangkat pertandingan dan sebagainya. Itu akan diaudit terus oleh Satgas,” sebut Dedi.

Sebelumnya, Polri menyebut Joko Driyono sebagai aktor intelektual perusakan bukti kasus dugaan pengaturan skor. Sebelum Joko Driyono, ada 3 orang yang ditetapkan sebagai tersangka perusakan bukti kasus pengaturan skor.

“Dapat diduga sebagai aktor intelektual yang menyuruh dan memerintahkan 3 orang lakukan pencurian dan perusakan police line, masuk rumah tanpa izin, ambil laptop, dokumen dokumen, dan barbuk untuk mengungkap match fixing. Nah ini aktornya intelektualnya saudara Jokdri,” tegas Kabiro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (16/2/).

Ketiga tersangka perusakan bukti pengaturan skor yakni Musmuliadi, Dani dan Abdul Gofur, memasuki kantor Komdis PSSI yang beralamat di Jalan Rasuna Timur, Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Padahal kantor tersebut telah disegel petugas dengan garis polisi atau police line.

Ketiga tersangka dalam pemeriksaan Satgas Antimafia Bola mengaku melakukan pengambilan sejumlah dokumen, video rekaman CCTV, ponsel dan laptop karena disuruh seseorang, yang identitasnya belum dapat diungkap ke publik oleh polisi.
(ibh/gbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polisi Lacak Asal-usul Uang dari Penggeledahan Joko Driyono

Jakarta – Polri menelusuri sumber uang tunai yang ditemukan dari penggeledahan terkait Plt Ketum PSSI Joko Driyono. Joko Driyono ditetapkan sebagai tersangka kasus perusakan bukti terkait pengaturan skor.

“Masih didalami. Sejumlah uang, iPad, laptop, buku tabungan, 9 HP, dokumen, dan lain-lain,” ujar Ketua Satgas Antimafia Bola Brigjen Hendro Pandowo saat dimintai konfirmasi, Sabtu (16/2/2019).

Polri menyebut Plt Ketum PSSI Joko Driyono sebagai aktor intelektual perusakan bukti kasus dugaan pengaturan skor. Sebelum Joko Driyono, ada 3 orang yang ditetapkan sebagai tersangka perusakan bukti kasus pengaturan skor.

“Dapat diduga sebagai aktor intelektual yang menyuruh dan memerintahkan 3 orang lakukan pencurian dan perusakan police line, masuk rumah tanpa izin, ambil laptop, dokumen dokumen, dan barbuk untuk mengungkap match fixing. Nah ini aktornya intelektualnya saudara Jokdri,” tegas Kabiro Penerangan Masyarakat (Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Penelusuran otak di balik perusakan bukti kasus pengaturan skor berdasarkan keterangan tiga orang yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka.

Ketiga tersangka perusakan bukti pengaturan skor yakni Musmuliadi, Dani dan Abdul Gofur, memasuki kantor Komdis PSSI yang beralamat di Jalan Rasuna Timur, Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta Selatan. Padahal kantor tersebut telah disegel petugas dengan garis polisi atau police line.

Polisi menjadwalkan pemeriksaan Joko Driyono sebagai tersangka pada Senin (18/2). Pemeriksaan dijadwalkan digelar pukul 10.00 WIB di Polda Metro Jaya.
(fdn/jbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tunjukkan Barang Bukti dari Kediaman Joko Driyono, Satgas Bawa Rp 300 Juta

JakartaSatgas Anti Mafia Bola telah menetapkan Plt Ketua umum PSSI, Joko Driyono, sebagai tersangka. Satgas menemukan uang sebesar Rp 300 juta dari penggeledahan yang dilakukan di kediaman Jokdri.

Dalam sesi konferensi pers di Mabes Polri pada Sabtu (16/2), Satgas menunjukkan barang bukti yang diangkut dari apartemen Joko di Rasuna, Kuningan pada Kamis (14/2/2019) malam. Di antaranya, bukti transfer dan uang tunai sebesar Rp 300 juta.

“Banyak sekali. Ada yg sampai Rp 500 juta bukti transfer, Rp 300 juta uang cash, saat ini belum bisa dijelaskan karena saat ini masih dipelajari Kombes Royke Kasub Satgas Gakum,” kata Hendro Pandowo Ketua Satgas Anti Mafia Bola.

Hendro juga menjelaskan penetapan Joko sebagai tersangka masih berkaitan dengan laporan Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indriyani. Pria asal Ngawi itu berupaya menghancurkan data-data yang dibutuhkan Satgas.
“Ada kaitannya, semua bukti yang dihancurkan itu adalah data-data yang dibutuhkan oleh penyidik Satgas Anti Mafia untuk mengungkapkan membongkar terjadinya pengaturan skor yang didalami saat ini. Kami awalnya laporan dari laporan polisi bu Lasmi,” kata Hendro.

Hendro menambahkan dari penemuan bukti-bukti tersebut tak menutup kemungkinan muncul tersangka baru.

“Iya kami saat ini sedang pelajari aliran dana yang saat ini sudah ada di tangan penyidik, bisa muncul tersangka baru, bisa muncul laporan polisi baru,” katanya.

Joko terancam tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan/atau memasuki dengan cara membongkar, merusak atau menghancurkan barang bukti yang telah terpasang garis polisi oleh penguasa umum. Hal itu berdasarkan pasal 363 KUHP dan/atau pasal 265 KUHP dan/atau pasal 233 KUHP dengan ancaman penjara 2 tahun 8 bulan dan empat tahun.

(ads/fem)

Jaksa Cecar Saksi dalam Sidang Meikarta Soal Rentetan Kasus Suap Billy Sindoro

Liputan6.com, Bandung Sidang kasus dugaan suap perizinan proyek Meikarta dengan terdakwa Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Bandung, Rabu (13/2/2019). Agenda sidang masih mendengarkan keterangan saksi.

Kali ini saksi yang dihadirkan adalah Edward P. Siringoringo, kepala operasional Gereja Bethel Indonesia Basilea, Gading Serpong, Tangerang Selatan.

Majelis hakim menggali keterangan soal kedekatan saksi dengan terdakwa Billy Sindoro. Edward mengaku mengenal Billy selama 12 tahun. Sepanjang saksi mengenal Billy, saksi mengaku pernah mendengar terdakwa juga pernah tersangkut kasus yang sama, yakni dugaan penyuapan.

Majelis hakim pun menanyakan kasus hukum yang pernah menjerat Billy sebelum kasus suap Meikarta. Tanya jawab pun berlangsung.

“Setahu saya pernah,” jawab Edward.

“Terkait kasus apa,” tanya hakim.

“Mohon maaf, seingat saya masalah hukum di pekerjaan. Dituduhkan masalah penyuapan,” kata Edward.

“Penyuapan di mana terhadap siapa?,” tanya hakim lagi.

“Saya tidak tahu,” jawab Edward.

Hakim kemudian mengingatkan Edward. “Kalau tidak tahu jangan cerita,” ujar Hakim.

Pernyataan Billy yang pernah berperkara didalami oleh jaksa KPK. Jaksa menyatakan Billy pernah di penjara atas kasus penyuapan Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) M. Iqbal terkait hak siar liga Inggris.

“Apakah saksi tahu, Pak Billy pernah dihukum? Apakah pernah menjalani penjara?,” tanya jaksa.

“Setahu saya pernah,” kata Edward.

“Apakah terkait penyuapan KPPU?,” tanya jaksa.

“Tidak tahu,” jawab Edward.

“Terkait hak siar Liga Inggris?,” tanya jaksa kembali.

“Tidak tahu,” jawab Edward dalam sidang kasus suap izin Meikarta.

2 dari 2 halaman

Tangerang ke Jakarta Naik Helikopter

Billy menjabat sebagai dewan penggembala dan pendiri gereja. Dalam sidang, Edward mengungkapkan sosok Billy sangat aktif di gereja. Selain aktif, Billy dinilai saksi memiliki jiwa sosial yang tinggi.

“Beliau sangat aktif. Ikut mendirikan gereja dan begitu perhatian dengan jemaat. Banyak orang butuh pertolongan. Misalnya orang miskin, biasanya dibantu melalui gereja maupun pribadi. Ada banyak masalah terutama kesehatan. Kita punya klinik kesehatan setiap hari minggu,” ujar Edward menjawab pertanyaan kuasa hukum Billy.

Selain itu, Billy juga disebut mendorong BPJS agar mengklaim kesehatan di rumah sakit dan di klinik kesehatan gereja.

“Beliau pemimpin di gereja kami yang jemaahnya mencapai 8 ribu orang. Pak Billy ikut mendorong gereja untuk menolong jemaah gereja yang kesusahan biaya pendidikan, kontrak rumah, menolong yang sakit hingga membantu warga sekitar gereja,” katanya.

Edward mengaku mengenal Billy selama 12 tahun. Meski hubungannya dengan Billy cukup dekat, ia mengatakan hal itu semata urusan gereja.

Edward juga menceritakan pernah beberapa kali bertemu dengan Billy di luar gereja. Salah satunya pernah bertemu di Imperial Klub Golf (IKG) Lippo Karawaci. “Satu dua kali dalam keadaan mendesak. Membahas masalah jemaat,” kata Edward.

Selain itu, Edward juga mengungkapkan pernah bersama Billy menggunakan helikopter. Saat itu ia dijemput Billy dari gereja untuk menuju ke Jakarta. Di helikopter itu, Edward menyatakan ada pembahasan mengenai gereja.

Saksikan video pilihan berikut ini:

3 Perampok Bersenjata Api di Tangerang Dibekuk Polisi

Liputan6.com, Tangerang Sat Reskrim Polres Kota Tangerang membekuk komplotan perampok yang kerap menggunakan senjata api jenis revolver dalam aksinya.  

Polisi meringkus tiga orang berinisial HSN (39), IRV (20), dan HY (24). Sementara, dua tersangka yakni HSN dan IRV terpaksa ditembak petugas di bagian kakinya, karena berusaha melawan dan melarikan diri. 

Kapolres Kota Tangerang Kombes Pol Sabilul Alif mengatakan, peristiwa perampokan itu terjadi di sebuah kontrakan di Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada 23 Januari 2019, sekitar pukul 4 dini hari. Korban bernama Tarkhim kemudian melaporkan peristiwa itu ke petugas. 

“Dari peristiwa itu para tersangka membawa lari sepeda motor korban setelah membongkar kunci kendaraan dengan kunci letter T,” kata Sabilulz di Mapolresta Tangerang, Rabu (13/2/19). 

Lalu, polisi langsung melakukan penyelidikan atas pelaporan peristiwa itu. Saat masih dalam proses penyelidikan, tutur Sabilul, polisi kembali menerima laporan warga bernama Sukardi warga Desa Talaga, Kecamatan Cikupa.  

Kepada polisi, Sukardi mengaku kehilangan sepeda motor pada 6 Februari 2019 sekitar pukul 2 dini hari. 

“Dua laporan itu setelah didalami mengindikasikan para pelakunya merupakan orang atau kelompok yang sama,” kata Sabilul. 

Polisi kemudian makin mengintensifkan penyelidikan, hingga berhasil membekuk HSN di Kampung Pondok, Desa Kubang, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang pada 6 Februari 2019. Saat akan ditangkap inilah, HSN berusaha melawan dengan mengeluarkan senjata api.  

Petugas pun melakukan tindakan tegas dan terukur dengan melumpuhkan tersangka di bagian kaki. 

Dari penangkapan HSN, polisi kemudian berhasil meringkus IRV di Kampung Cihideung, Kecamatan Cikupa. Seperti halnya HSN, IRV pun berusaha melawan dan melarikan diri saat akan dibekuk.  

Polisi juga berhasil menemukan HY yang bersembunyi di belakang pabrik di Kampung Cihideung, Kecamatan Cikupa. Saat semua pelaku berhasil dibekuk, baru diketahui modus operandi mereka.  

“Modus operandi para tersangka adalah dengan merusak kunci kontak dengan memakai kunci leter T,” ujar Sabilul. 

2 dari 3 halaman

Barang Bukti

Dari tangan para tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa 2 unit motor, 2 buah kunci leter T, 1 pucuk senjata api rakitan jenis revolver, serta 4 butir peluru kaliber 9 mm. Para tersangka mengaku menggunakan senjata api untuk melumpuhkan para korban.

“Jadi, bila korbannya berusaha melawan, mereka tidak segan menggunakan senjata api itu,” tutur Sabilul.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan, para tersangka kini mendekam di sel Mapolresta Tangerang. Para tersangka dijerat Pasal 363 ayat (3) dan (4) atau Pasal 480 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

KPK Periksa Rombongan Anggota DPRD Lampung Tengah

JakartaKPK memeriksa rombongan anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah terkait kasus dugaan gratifikasi Bupati Lampung Tengah nonaktif Mustafa. Para saksi itu diperiksa di SPN Polda Lampung.

“Hari ini dilakukan pemeriksaan terhadap 10 orang dari unsur pimpinan dan anggota DPRD Lampung Tengah di SPN Polda Lampung untuk tersangka MUS (Mustafa),” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Para saksi dicecar soal informasi penerimaan uang terhadap Mustafa. Ada 40 orang anggota DPRD Lampung Tengah dan saksi lainnya yang rencananya diperiksa pekan ini.

“Pada para saksi didalami informasi tentang dugaan penerimaan uang dari Bupati melalui perantara terhadap tersangka,” ujar Febri.

Adapun anggota DPRD Lampung Tengah yang diperiksa hari ini ialah:
1. Riagus Ria, Wakil Ketua II DPRD Lampung Tengah
2. Joni Hardito, Wakil Ketua III DPRD Lampung Tengah
3. Evinitria, anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
4. Hi Hakii
5. Yulius Heri Susanto, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
6. Made Arka Putra Wijaya, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
7. Saenul Abidin, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
8. Hi Singa Ersa Awangga, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
9. Ariswanto, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
10. Jahri Effendi, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah.

Mustafa kembali dijerat KPK sebagai tersangka. Kali ini dia diduga menerima fee dari ijon proyek di Dinas Bina Marga Pemkab Lampung Tengah dengan kisaran fee 10-20 persen dari nilai proyek. Total gratifikasi yang diterima Mustafa setidaknya Rp 95 miliar.

Sebelum kasus ini, Mustafa telah ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap dan telah disidangkan.

Mustafa pun dinyatakan terbukti bersalah
menyuap sejumlah anggota DPRD untuk menyetujui pinjaman daerah pada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan divonis 3 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan serta pencabutan hak politik selama 2 tahun.
(haf/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi Vs Prabowo soal Anggaran Bocor, KPK: Laporkan, Nanti Didalami

Jakarta

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menantang Prabowo Subianto membawa bukti ke KPK soal kebocoran anggaran negara. KPK mengatakan laporan yang masuk ke akan ditindaklanjuti bila menjadi ranah kewenangan KPK.

“Jadi kalau ada kaitan wewenang KPK sebaiknya dilaporkan nanti akan didalami fakta-faktanya,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang lewat pesan singkat, Kamis (7/2/2019).

Saut menjelaskan, ada ribuan laporan yang masuk ke KPK setiap tahunnya. Namun tidak semua laporan itu bisa langsung didalami.

“KPK setahun menerima sekitar 6.000 pengaduan masyarakat, nanti dipilah-pilah pilah apa ada kaitan dengan wewenang KPK,” ujarnya.

Prabowo Subianto sebelumnya menaksir sekitar 25% anggaran negara ‘bocor’. Jokowi meminta Prabowo menunjukkan bukti dan tidak asal bicara.

“Laporin ke KPK dengan bawa bukti-bukti dan bawa fakta-fakta. Jangan asal… (sambil menunjuk mulut),” ujar Jokowi seusai menghadiri Perayaan Imlek Nasional 2019 di JIEXpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (7/2).

(abw/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>