Dua Muncikari Penyalur Artis Vanessa Angel Pasrah Didakwa Melanggar UU ITE

Liputan6.com, Surabaya – Sidang perdana muncikari prostitusi online artis VA, dengan terdakwa Endang Suhartini alias Siska dan Tentri Novanta digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (25/3/2019).

Sidang yang dimulai pukul 14.00 WIB tersebut berlangsung terbuka di Ruang Garuda, PN Surabaya dan digelar secara bergantian. Giliran pertama, adalah terdakwa Endang Suhartini yang didampingi kuasa hukumnya Frangky Desima Waruru.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sri Rahayu membacakan dakwaan terdakwa Endang. Dalam dakwaan, Endang disebut muncikari yang diamankan bersama Vanessa Angel di salah satu hotel, Surabaya, Januari lalu.

Dakwaan itu juga membeberkan kronologi percakapan WhatsApp antara ia dan saksi dan terduga muncikari lainnya saat menyalurkan artis VA kepada pelanggannya, Rian Subroto.

“Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat 1 UU RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik Junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” kata Sri membacakan dakwaan.

Menanggapi dakwaan itu, kuasa hukum Franky Waruwu, yang dimintai saran oleh kliennya, kemudian memutuskan tidak mengajukan nota keberatan atau eksepsi atas dakwaan JPU.

“Terkait dakwaan yang dibacakan JPU, kami berkesimpulan tidak mengajukan eksepsi,” singkat Franky.

Sidang dialnjutkan dengan membacakan dakwaan terdakwa Tentri. Terdakwa juga didampingi kuasa hukumnya, Yafet Kurniawan.

Jaksa Farida Hariani membacakan dakwaan terhadap terdakwa Tentri. Jaksa menyebut bahwa terdakwa Tentri juga mentransimisikan konten asusila di internet.

“Bahwa terdakwa melakukan, yang menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan,” kata Farida.

Senada dengan dakwaan Endang, Tentri juga didakwa Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat 1 UU RI No. 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik Junto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kuasa hukum Tentru, Yafet Kurniawan juga tidak mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan yang dibacakan JPU.

“Kami tidak mengajukan keberatan (eksepsi), agar sidang bisa dilanjutkan pemeriksaan saksi dan pokok perkara,” kata Yafet pada majelis hakim.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Polisi akhirnya tetapkan Vanessa Angel sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online. Polisi mendapati beberapa fakta baru yang bisa menjerat Vanessa.

Pelaku Penembakan di Masjid New Zealand Didakwa Lakukan Pembunuhan

Christchurch – Pelaku kasus penembakan di masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru (New Zealand) langsung diadili. Dia didakwa dengan tuduhan pembunuhan.

Dilansir dari AFP, Sabtu (16/3/2019), Brenton Tarrant, yang berusia 28 tahun muncul di pengadilan pasca dirinya ditangkap karena menembaki para jemaah masjid.

Dia terlihat mengenakan borgol dan pakaian tahanan berwarna putih. Eks instruktur kebugaran kelahiran Australia itu duduk tanpa ekspresi saat hakim membacakan tuduhan kepadanya.
Dia juga disebut tidak meminta jaminan dan ditahan sampai pengadilan berikutnya dijadwalkan pada 5 April.

Hingga saat ini, menurut KBRI Wellington, ada 49 orang tewas, terdiri atas 41 orang di Masjid Al Noor, 7 orang di Masjid Linwood, dan seorang lagi tewas saat dirawat di RS pascapenembakan. Selain itu, ada puluhan orang yang masih dirawat di rumah sakit akibat peristiwa itu.

Di antara korban luka, terdapat dua orang WNI yang merupakan ayah-anak bernama, Zulfirmansyah dan Mohammad Rais. Ada juga seorang WNI bernama Muhammad Abdul Hamid yang masih dinyatakan hilang.

“Dari 6 WNI yang diketahui berada di Masjid Al Noor pada saat kejadian penembakan hari ini, 5 orang telah melaporkan ke KBRI Wellington dalam keadaan sehat dan selamat. Sementara 1 orang atas nama Muhammad Abdul Hamid belum diketahui keberadaannya,” ujar KBRI Wellington dalam keterangan tertulisnya berdasarkan update per pukul 23.30 waktu setempat, Jumat (15/3).

“Sementara dari Masjid Linwood, KBRI Wellington menerima bahwa terdapat 2 WNI, seorang ayah dan anaknya, yang tertembak. Kondisi sang ayah atas nama Zulfirmansyah masih kritis dan dirawat di ICU RS Christchurch Public Hospital. Sementara anaknya dalam keadaan yang lebih stabil,” sambung keterangan tersebut.
(haf/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ratna Sarumpaet Didakwa Bikin Onar Lewat Hoax, Fadli: Kasusnya Dipolitisir

Sentul – Wakil Ketum Gerindra Fadli Zon menyebut perkara hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet dipolitisir. Padahal kasus Ratna sudah masuk ke proses hukum.

Ya kita lihat pada proses hukum ya, karena sebetulnya yang dilakukan sama Bu Ratna Sarumpaet itu apa? Itu kan urusan dirinya sendiri yang berbohong dan nggak menuduh orang-orang siapa pun,” ujar Fadli kepada wartawan di sela ‘Pentas Seni Budaya dan Kulinari’ relawan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/3/2019).

“Jadi agak aneh juga kasus ini, memang dipolitisir sedemikian rupa,” imbuh Fadli yang juga Wakil Ketua DPR ini.

Ratna Sarumpaet didakwa bikin onar karena menyebarkan hoax penganiayaan. Ratna mengaku salah, tapi berkilah menyebut ada yang tak sesuai hingga bicara unsur politis di balik perkara.

Ratna–dalam ruang sidang–lantas menyebut unsur politik hingga dirinya kini disidangkan. Ratna mengaku siap dipenjara, tapi ingin kasusnya dibuka terang benderang lewat proses persidangan.

“Saya sebenarnya, saya salah, oke. Tetapi sebenarnya yang terjadi di lapangan dan yang terjadi di peristiwa penyidikan, ada ketegangan luar biasa yang membuat saya merasa sadar bahwa memang ini politik. Saya berharap sekali pada persidangan ini dengan semua unsur yang ada di sini, marilah kita menjadi hero untuk bangsa ini, bukan untuk saya. Kalau saya dipenjara nggak masalah. Bahwa di atas segalanya, hukum bukan kekuasaan,” tegas Ratna.

Ratna Sarumpaet didakwa membuat keonaran lewat hoax penganiayaan. Ratna menyebarkan hoax kepada sejumlah orang lewat pesan WhatsApp, termasuk mengirimkan gambar wajah lebam dan bengkak yang diklaim sebagai penganiayaan.

Padahal kondisi bengkak pada wajah Ratna merupakan efek dari operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng. Jaksa mengungkap, Ratna memfoto dirinya saat menjalani perawatan medis, lalu menyebarkan foto ditambah keterangan soal terjadinya penganiayaan.

Atas perbuatannya, Ratna Sarumpaet didakwa dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.
(zap/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Akan Didakwa Korupsi, PM Netanyahu Berdalih Korban Politisasi

Tel Aviv – Kejaksaan Agung Israel mengumumkan akan menuntut PM Israel Benjamin Netanyahu ke pengadilan dengan dakwaan korupsi. Hal ini bisa memperburuk peluang Netanyahu dalam pemilu bulan April mendatang.

Jaksa Agung Avichai Mandelblit mengatakan hari Kamis (28/2), dia telah menerima rekomendasi penyidik kepolisian untuk mengajukan tuntutan terhadap PM Israel Benjamin Netanyahu dalam tiga kasus korupsi yang berbeda.

Dakwaan itu dapat memberikan pukulan besar bagi prospek Netanyahu dalam pemilihan umum 9 April mendatang. Netanyahu mencalonkan diri untuk masa jabatan ke-empat berturut-turut.

Sidang pengadilan atas dakwaan yang meliputi penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan baru akan digelar setelah pemilihan umum. Sebelumnya Netanyahu akan diberi kesempatan untuk membela diri. Sidang dapat berlangsung setelah pemilihan 9 April. Netanyahu akan menjadi perdana menteri Israel pertama yang menghadapi kasus di pengadilan saat menjabat.

Netanyahu tuding ada politisasi

Benjamin Netanyahu antara lain diduga telah menerima gratifikasi dari pengusaha kaya dan memberikan kelonggaran regulasi kepada raksasa telekomunikasi Bezeq sebagai imbalan atas liputan pers positif di situs berita anak perusahaan itu, Walla.

Jika terbukti bersalah melakukan suap, Netanyahu bisa menghadapi hukuman 10 tahun penjara dan hukuman maksimal 3 tahun untuk penipuan dan pelanggaran kepercayaan.

Perdana Menteri Israel membantah telah melakukan kesalahan-kesalahan yang dituduhkan. Menanggapi pengumuman Jaksa Agung, dia mengatakan telah menjadi korban pembunuhan karakter dan politisasi yang bertujuan untuk menjegalnya pada pemilu mendatang. Dia menyatakan tuduhan terhadapnya akan runtuh seperti “rumah kartu”.

Likud berusaha tunda pengumuman tuntutan

Partai Netanyahu, Likud, menggambarkan tuduhan itu sebagai “penganiayaan politik.”

“Pengumuman Jaksa Agung secara sepihak hanya sebulan sebelum pemilihan umum, tanpa memberi Perdana Menteri kesempatan untuk (sebelumnya) membantah tuduhan-tuduhan palsu ini, adalah intervensi terang-terangan dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam pemilu,” kata Likud dalam sebuah pernyataan.

Likud telah mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung Israel untuk menunda pengumuman dakwaan secara terbuka sampai pemilu usai. Namun pengadilan tinggi Israel menolak permintaan itu dan hari Kamis mengumumkan rencana pengajuan tuntutan terhadap Netanyahu.

hp/rzn (afp, rtr,ap)


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Akan Didakwa dengan Dugaan Suap, Netanyahu Ibaratkan ‘Perburuan Penyihir’

Jakarta – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan tuduhan suap yang dialamatkan kepada dirinya ibarat ‘perburuan penyihir’. Hal ini menyusul pengumuman Jaksa Agung yang menyebut akan segera menjatuhkan dakwaan korupsi terhadap Netanyahu.

Dilansir AFP, Jumat (1/3/2019), Netanyahu menyatakan dirinya ingin tetap menduduki posisi perdana menteri dalam beberapa waktu ke depan, terlepas dari dugaan korupsi yang kini menjerat dirinya.

“Mereka tahu tidak akan pernah bisa mengalahkan kami di bilik suara. Maka, dalam tiga tahun terakhir ini mereka membawa ‘pemburu penyihir’ yang belum pernah ada sebelumnya: menjatuhkan sayap kanan pemerintahan yang saya pimpin,” kata Netanyahu.


Dalam perbincangan itu, Netanyahu juga sempat terlihat emosional ketika membicarakan soal keluarganya terkait dugaan korupsi itu. Ia menyebut keluarganya terluka.

Selain itu, ia juga berbicara soal hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menurutnya berdampak baik bagi Israel.

Netanyahu pun menduga lawan politiknya sengaja menggunakan serangan ‘tak henti dan tak manusiawi kepada Jaksa Agung’, agar JA menyatakan tuduhan kepada dirinya.

“Tujuan utamanya adalah untuk memengaruhi eleksi, bahkan jika tahu semua ini bakal runtuh setelah eleksi,” ujar Netanyahu.

Pengumuman Jaksa Agung itu muncul jelang eleksi yang akan diselenggarakan 9 April 2019. Dalam eleksi, Netanyahu menghadapi tantangan berat dari aliansi politik tengah yang dipimpin mantan kepala staf militer, Benny Gantz.

Jaksa Agung Avichai Mandelblit, Kamis (28/2) mengatakan bermaksud mendakwa Netanyahu atas tuduhan penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan. Netanyahu akan diberi kesempatan untuk membela diri sebelum tuduhan diajukan.
(tsa/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Akan Didakwa dengan Dugaan Suap, Netanyahu Bicara ‘Perburuan Penyihir’

Jakarta – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan tuduhan suap yang dialamatkan kepada dirinya ibarat ‘perburuan penyihir’ untuk menjatuhkannya. Hal ini menyusul pengumuman Jaksa Agung yang menyebut akan segera menjatuhkan dakwaan korupsi terhadap Netanyahu.

Dilansir AFP, Jumat (1/3/2019), Netanyahu menyatakan dirinya ingin tetap menduduki posisi perdana menteri dalam beberapa waktu ke depan, terlepas dari dugaan korupsi yang kini menjerat dirinya.

“Mereka tahu tidak akan pernah bisa mengalahkan kami di bilik suara. Maka, dalam tiga tahun terakhir ini mereka melakukan ‘perburuan penyihir’ yang belum pernah terjadi sebelumnya: menjatuhkan sayap kanan pemerintahan yang saya pimpin,” kata Netanyahu.


Dalam perbincangan itu, Netanyahu juga sempat terlihat emosional ketika membicarakan soal keluarganya terkait dugaan korupsi itu. Ia menyebut keluarganya terluka.

Selain itu, ia juga berbicara soal hubungannya dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menurutnya berdampak baik bagi Israel.

Netanyahu pun menduga lawan politiknya sengaja menggunakan serangan ‘tak henti dan tak manusiawi kepada Jaksa Agung’, agar JA menyatakan tuduhan kepada dirinya.

“Tujuan utamanya adalah untuk memengaruhi eleksi, bahkan jika tahu semua ini bakal runtuh setelah eleksi,” ujar Netanyahu.

Pengumuman Jaksa Agung itu muncul jelang eleksi yang akan diselenggarakan 9 April 2019. Dalam eleksi, Netanyahu menghadapi tantangan berat dari aliansi politik tengah yang dipimpin mantan kepala staf militer, Benny Gantz.

Jaksa Agung Avichai Mandelblit, Kamis (28/2) mengatakan bermaksud mendakwa Netanyahu atas tuduhan penyuapan, penipuan dan pelanggaran kepercayaan. Netanyahu akan diberi kesempatan untuk membela diri sebelum tuduhan diajukan.
(tsa/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hakim Cecar Eks Panitera PN Medan: Berkata Jujurlah

Jakarta

Hakim ketua Rosmina mencecar mantan panitera pengganti Pengadilan Negeri Medan, Helpandi. Hakim Rosmina menilai sejumlah keterangan Helpandi diduga direkayasa.

Awalnya, hakim bertanya kepada Helpandi terkait pertemuan Helpandi dengan anak buah Tamin Sukardi, Sudarni. Saat itu, Helpandi mengaku kepada Sudarni tidak tidur selama satu malam. Namun, Helpandi mengaku itu bohong dan mengaku hanya untuk menghindari Sudarni.

Hakim Rosmina kembali mengulik pernyataan Helpandi dengan orang kepercayaan Tamin, Hadi Setiawan. Saat itu Helpandi diminta Hadi untuk mencarikan alamat gereja hakim PN Medan, Sontan Merauke Sinaga. Namun saat itu Helpandi lagi-lagi berbohong soal itu.

“Soal gereja, Hadi minta carikan gereka pak Sontan, saudara katakan apa?” tanya Rosmina ke Helpandi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).

“Saya bilang ya saya usahakan,” jawab Helpandi.

“Saudara bener nyari nggak? Kenapa bilang sama pak Hadi sudsh nyari sampai pukul 03.00 WIB?” tanya Rosmina.

“Nggak. karena saya rasa ngggak mungkin lah nanya-nanya ke gereja itu kan privasi,” jawab Helpandi.

Mendengar hal tersebut hakim Rosmina merasa curiga kepada Helpandi. Dia menilai Helpandi terbiasa membuat kebohongan terkait kasus ini.

“Nah makanya itu saya ini hakim, saya mengumpulkan fakta-fakta, apakah perkataan seperti itu biasa anda lakukan? Anda terbiasa bicara yang nggak-nggak?” Kata Rosmina.

“Coba saudara tarik nafas dulu lah, berkata jujurlah di sidang ini,” imbuhnya.

“Biasa nggak.. tapi kalau untuk hindari ya gitu,” kata Helpandi.

Rosmina juga merasa heran pernyataan Helpandi berbeda dengan keterangan tiga saksi terkait pemberian uang kepada Sontan. Hakim menilai Helpandi berusaha mengelabui persidangan.

Namun, lagi-lagi Helpandi tetap pada keterangannya. Dia mengaku tidak sama sekali memberikan uang kepada Sontan hingga saat ini.

“Penyidik KPK, Hadi, Sudarni juga katakan anda sudah kasih ke Sontan. Sementara saudara katakan nggak ada serahin uang ke Sontan?” Ucap Rosmina.

“Memang nggak ada. Saya nggak tahu yang jelas dari awal penyidikan, saya nggak pernah merubah BAP (berita acara pemeriksaan),” jelasnya.

Helpandi didakwa menerima uang SGD 280 ribu untuk membeikan uang suap ke hakim adhoc PN Medan Merry Purba dan hakim Sontan Merauke Sinaga terkait kasus perkara pengusaha Tamin Sukardi. Tamin disebut meminta putusan bebas atas kasusnya.

Helpandi kemudian memberikan uang itu ke Merry Purba sebesar SGD 150 ribu. Sedangkan sisa SGD 130 ribu disebut jaksa akan diserahkan ke Sontan Merauke setelah putusan dibacakan pada 27 Agustus 2018.


(zap/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Wanita Ini Rela Palsukan Penyakit demi Uang

Liputan6.com, Jakarta – Seorang wanita asal Kentucky Utara, Amerika Serikat bernama Jessica Marie Krecskay dituduh memalsukan penyakit kanker yang dia derita demi mendapatkan uang

Menurut Attorney Rob Sanders dari Kenton Commonwealth, wanita yang bekerja di Urgent Care ini berkata dia mengidap kanker dan meminta uang untuk pengobatan penyakitnya.

Dilansir dari Cincinnati, Jumat (22/02/2019), pengadilan mendakwa Krecskay pada 7 Februari lalu atas tuduhan pencurian dan penipuan. Dia terancam hukuman 10 tahun penjara.

Krecskay dituduh telah mengambil uang sebesar USD 10 ribu atau sekitar Rp 140 juta dalam kurun waktu empat tahun, antara 2013 hingga 2017.

Uang tersebut didapat dari kerabat dan karyawan kantornya. Menurut Sanders, Krecskay tidak pernah memberi tahu perkembangan pengobatan yang dilakukan dengan uang tersebut atau mengajak mereka berdiskusi soal penyembuhan penyakit.

2 dari 2 halaman

Dilaporkan karena curiga

“Karena orang-orang pernah membaca berita tentang orang yang mengambil keuntungan dari penyakit palsu, maka kerabat dan rekan kerjanya (Krecskay) curiga dan memutuskan melaporkannya,” ujar Sanders.

Krecskay kini keluar dari penjara dengan jaminan USD 2.500 atau sekitar Rp 35 juta dan dijadwalkan akan didakwa pada 4 Maret mendatang di Pengadilan Negeri Kenton.

Hal yang sama terjadi tahun 2017 lalu, dimana seorang mantan pelajar Northern Kentucky University berusia 20 tahun dituduh memalsukan penyakit kanker demi mendapatkan uang.

Berita inilah yang kemudian membuat kerabat dan rekan Krecskay melaporkan dirinya karena kasusnya hampir sama.

“Ketika seseorang menggunakan penyakit sebagai senjata untuk mendapatkan uang, hal tersebut tentu akan memancing amarah orang-orang yang benar-benar berjuang memerangi kanker,” pungkas Sanders.

“Hal itu juga akan membuat para dermawan yang berniat mendonasikan uangnya takut, dan siapa yang paling dirugikan? Orang yang benar-benar menderita kanker itu,” tambahnya.

Jaksa Ungkap Kebohongan Ratna Sarumpaet kepada Nanik Deyang Cs

Liputan6.com, Jakarta – Ratna Sarumpaet didakwa menyebarkan berita bohong. Salah seorang yang terpapar virus kebohongan Ratna, Nanik Sudaryati selaku Waketum BPN Prabowo-Sandi dan Ketua Yayasan Merah Putih (YMP).

Hal itu terungkap saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019).

Jaksa mengatakan, Ratna Sarumpaet hendak bertemu Nanik Sudaryati di kediaman Prabowo, lapangan Polo Nusantara Hambalang, Bogor Jawa Barat, Selasa tanggal 2 Oktober 2018 sekira pukul 14.00 WIB.

Saat itu, terdakwa hendak menemui Prabowo Subianto untuk menyampaikan keluhan atas penganiayaan yang dialaminya. Namun di sana, terdakwa terlebih dahulu bertemu Nanik.

Terdakwa pun mengaku kepada Nanik telah dianiaya orang. “Terdakwa meminta saksi Nanik Sudaryati meraba pipinya yang lebam dan bengkak dibalut perban serta mengatakan giginya lepas,” ucap jaksa membacakan dakwaan.

Terdakwa juga menceritakan kronologinya. Kepada Nanik, Ratna Sarumpaet mengatakan penganiayaan terjadi di Bandung seusai mengikuti acara lokakarya penulis naskah di Bandung.

“Ketika terdakwa bersama dua teman penulis dari Malaysia dan Srilanka menuju Bandara Husein Sastranegara dengan menggunakan taksi di area parkir bandara terdakwa dipukuli oleh dua orang laki-laki yang tidak dikenal,” kata Jaksa.

2 dari 2 halaman

Nanik Ceritakan ke yang Lain

Kemudian, Nanik Sudaryati menceritakan kembali kronologi penganiayaan yang dialami terdakwa kepada Prabowo Subianto, Muhammad Amien Rais, Said Iqbal, Fadli Zon dan Sugiono tatkala mengelar pertemuan sekitar pukul 15.00 WIB.

“Atas cerita saksi Nanik Sudaryati tersebut, terdakwa diam tidak memberikan tanggapan,” ujar dia.

Selain menceritakan, Nanik Sudaryati membagikan foto dan cerita kronologi ke akun facebook dengan akun Nanik S Deyang.

Berikut isi dari tulisan Nanik yang diunggah ke facebooknya, yang dibacakan jaksa.

Mbak Ratna Sarumpet sebagai salah satu anggota tim badan pemenangan nasional Prabowo Sandi sore ini setelah agak pulih ia melaporkan kepada Pak PS kejadian yang menimpanya. Pak PS didampingi Pak Amien Rais dan Pak Fadli Zon.

Mbak Ratna dihajar habis 3 orang 21 September di sekitar Bandara Husein Sastranegara Bandung. Ceritanya malam itu seusai acara konferensi dengan beserta beberapa negara asing di sebuah hotel, Mbak Ratna naik taksi dengan peserta dari Srilanka dan Malaysia akan naik ke Soetta.

Sebetulnya agak curiga saat tiba-tiba taksi dihentikan agak jauh dari keramaian saat 2 temannya dari luar negeri turun berjalan menuju bandara. Mbak Ratna ditarik 3 orang ke tempat gelap dan dihajar habis oleh 3 orang dan diinjak perutnya. Setelah dihajar Mbak Ratna dilempar ke pinggir jalan aspal sehingga bagian samping kepalanya robek.

Menurut Mbak Ratna kejadian sangat cepat sehingga Mbak Ratna sulit mengingat bagaimana urutan-urutan kejadian karena semua begitu cepat dan Mbak Ratna masih sedikit sadar saat dia kemudian dibawa pulang sopir taksi dan dimasukkan ke dalam taksi oleh sopir taksi Mbak Ratna di turunkan di pinggir jalan di daerah Cimahi.

Dengan sisa tenaga tertatih-tatih, Mbak Ratna mencari kendaraan untuk ke RS di Cimahi lalu Mbak Ratna menelepon temannya seorang dokter bedah akhirnya Mbak Ratna ditangani kawannya di sebuah RS Ratna malam itu juga langsung balik ke Jakarta dan dalam situasi trauma habis dia harus berdiam diri selama 10 hari.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Ratna Didakwa Bikin Onar Lewat Hoax, Sudirman: Bukan Urusan BPN

Jakarta – Direktur Debat BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Sudirman Said, ogah berkomentar mengenai sidang perdana Ratna Sarumpaet. Ratna didakwa bikin onar karena menyebarkan hoax penganiayaan,

“Saya nggak mau komentar karena itu bukan urusan BPN,” kata Sudirman Said kepada wartawan saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (28/2/2019).

Ratna Sarumpaet didakwa bikin onar lewat hoax penganiayaan dirinya. Cerita kebohongan Ratna Sarumpaet dimulai seusai operasi plastik di RS Bina Estetika, Menteng, Jakpus. Ratna mengambil foto wajahnya lalu menyebarkannya lewat WhatsApp, salah satunya ke Rocky Gerung.

Perbuatan Ratna Sarumpaet menceritakan tentang penganiayaan dan mengirimkan foto-foto wajah dalam keadaan lebam dan bengkak, disebut jaksa, merupakan rangkaian kebohongan Ratna untuk mendapat perhatian dari masyarakat, termasuk tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Padahal wajah lebam dan bengkak itu ditegaskan jaksa akibat tindakan medis operasi perbaikan muka.

Atas perbuatannya, Ratna Sarumpaet didakwa dengan Pasal 14 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A ayat (2) UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE.
(abw/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>