Dia yang Melawan dengan Kopi

Leuser Coffe yang dinahkodainya diperuntukkan khusus melayani pemesanan kopi yang pengemasannya dikerjakan di rumah saja. Biji-biji kopi tersebut khusus dipesannya dari para petani kopi kelas proletar.

“Langkah kita merajut perubahan untuk petani adalah bekerjasama, membeli dengan harga pasar, memberikan premium fee atas komitmen dalam menjaga hutan disekitar,” ujar pria yang masa kecilnya sebagian besar dihabiskan di dataran tinggi Gayo.

Selanjutnya, dari setiap kemasan bubuk kopi dengan berat 250 gram yang terjual, Danurfan menyisihkan Rp 2500. Uang inilah yang dia sisihkan untuk menjalankan niatnya melawan kerusakan alam.

“Dengan uang itu, kita menggandeng para petani untuk melakukan penanaman tanaman buah kopi sebagai ‘tabungan’ para petani sewaktu-waktu harga kopi anjlok atau mengalami gagal panen,” ungkapnya.

Konservasi yang diuji-terapkannya itu bukan tanpa sebab. Masa kecilnya yang dihabiskan bersama petani di dataran tinggi Gayo memantik kegundahan-kegundahan di jiwa seorang Danurfan.

Mata seorang Danurfan kenyang oleh drama bagaimana alam dirajang orang tidak bertanggungjawab. Perambahan kayu ilegal, perburuan satwa langka, pembukaan lahan dengan tidak memandang segenap pakem dan norma alam, membuatnya geram.

Kegundahan itu kiranya mengejawantah menjadi tekad melawan eksploitasi alam kali ia jatuh hati pada kopi. Dia paham betul, Tuhan hanya mencurah berkahnya jika alam baik dan dikelola oleh petani kopi yang baik pula.

Petani kopi yang baik, tentunya menghasilkan biji kopi terbaik. Biji kopi yang berkualitas pasti dibidik oleh pembeli. Pada titik ini, dirinya tahu betul ekses seperti apa yang akan didapat petani kopi.

“Mengelola hutan menjadi sumber daya ekonomi perlu. Namun semua itu perlu dilakukan dengan bijak, sebab apa diambil dari alam harus dikembalikan ke alam,” cetus Ketua Global March Elephant and Rhino Aceh itu.

Demikian Danurfan. Baginya, kopi tidak melulu soal eksplorasi rasa, seni meracik, dan menyeduh atau sejumput kisah eksotis kala para pemikir atau seniman duduk di meja kopi lalu mencabar dunia dengan sajak-sajaknya.

Bukan pula sebatas melihat kopi sebagai tanaman yang punya prospek ekonomi yang menggiurkan, baik jika dijual dalam bentuk biji atau disajikan di warung-warung. Danurfan melampaui semua itu. Ia melawan dengan kopi.

“Melalui warung kopi Leuser Coffee ini, saya bertekad melestarikan hutan di Aceh. Misalnya, hutan Leuser Aceh, harus terus dikelola secara baik karena ada empat juta lebih penduduk yang bergantung dari sumber air kawasan ekosistem tersebut,” pungkasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Minum kopi atau sekedar nongkrong di coffee shop, memang sudah menjadi budaya kaum milenial saat ini. Nah, di pinggiran kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ada satu tempat ngopi unik, yang menawarkan desain eksterior mirip kastil dan interior seperti m…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *