Di ‘Neraka’ Afrika, Dia Menemukan Tuhan-nya

Tak melulu urusan menjengkelkan dengan petugas imigrasi, calo dan polisi, yang dia hadapi, tapi juga banyak kisah konyol seperti ini. Suatu siang, dia dirayu oleh Tim, teman seperjalanannya untuk mengunjungi klub malam Q Bar yang kondang di antara turis-turis asing di Dar es Salaam, kota terbesar di Tanzania. Jhon sebenarnya tak doyan berkeliaran di klub malam. Tapi dia sudah capek menghadapi ‘rayuan’ Tim, pemuda asal Amerika yang memang hobi berkeliaran di tempat remang-remang.

Singkat cerita, ada dua pelacur terus mepet Tim dan Jhon di Q Bar, mengajak mereka berkencan. Dengan segala cara, dua perempuan itu, Cathy dan Tina, merayu Tim dan Jhon. “African woman knows how to satisfy you,” Cathy membujuk dengan rayuan mautnya. Isi kantong Jhon hampir jebol gara-gara mesti mentraktir perempuan itu agar mereka segera pergi. “Bukannya bilang terimakasih sudah dibayarin minuman, dia malah marah-marah dan menyiramku.”

Jhon tak pernah mengaku sebagai orang alim, tapi dia memang tak gampang tergoda oleh perempuan malam. “Saya menikmati segala hal itu tapi tidak ikutan di dalamnya…. I don’t buy girls, cemen banget kalo main pelacur. Lagian di Afrika jangan main-main, AIDS, man,” tutur Jhon. Dia menuangkan sebagian kisah petualangannya lewat blognya, Travel “X, dan buku, This is Africa!, yang diterbitkan pada 2015 silam.

Tidak, Tuhan sudah memaafkan mereka. Aku memaafkan mereka

Di Malawi, dia mengalami kejadian yang tak dia temui di negara Afrika lain, yakni cannabis tour . Iklim yang mendukung membuat ganja di Malawi dapat tumbuh subur. Peserta ‘tur ganja’ ini dipersilakan mencicipi rupa-rupa olahan makanan yang mengandung ganja. Para hippie sejati bahkan sampai teler berat setelah mengisap berlinting-linting ganja. Jhon tak ikut nyimeng, tapi tentu perjalanannya sia-sia jika dia tak mencicipi ganja. “Kalau dalam bentuk kue cokelat saya masih mau karena enak,” kata dia.

Afrika tidak hanya mengajari Jhon soal perang, kemiskinan, dan segala kekejian yang mampu dilakukan manusia. Perjalanan ke Afrika membuatnya hampir menjadi seorang tak ber-Tuhan. Imannya makin tipis melihat lautan penderitaan dan kematian di Rwanda. Pada pertengahan 1994, sekitar 800 ribu warga Rwanda keturunan suku Tutsi dan sebagian Hutu beraliran moderat, dibantai oleh kelompok ekstrimis Hutu yang disokong pemerintah. Pembunuhan itu memicu perang saudara di Rwanda selama bertahun-tahun. Jhon tak habis pikir, bagaimana Tuhan seolah menimpakan semua penderitaan di negara-negara Afrika, khususnya di Rwanda.

Ditemani Madame Seraphim, perempuan Rwanda yang keluarganya menjadi korban genosida. John mengunjungi Ntarama Genocide Memorial. Rumah bagi sekitar 25.000 korban genosida berisi kuburan tulang belulang manusia. Selama memberikan penjelasan kepada John, mata Madame Seraphim berkaca-kaca. Peristiwa sadis itu sudah lama berlalu, tapi ia masih tak bisa menyembunyikan kesedihan dari wajahnya.

Madame Seraphim menyaksikan seluruh anggota keluarganya dibantai di depan mata kepalanya sendiri. Hanya ia saja yang lolos dari pembantaian itu. Sementara anak-anak, suami, ayah, ibu serta saudara saudari kandungnya semua jadi korban. “Madam Seraphim, do you forgive the killers who killed all your family?” tanya John dengan rasa penasaran.

“Ya, aku memaafkan mereka,” jawabnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. “Apakah tak ada keencian lagi di hatimu? Apakah kamu tak ingin membalas dendam dan balas membunuh mereka?” Jhon kembali bertanya.

Dengan mantap, tanpa ragu, perempuan itu menjawab, “Tidak, Tuhan sudah memaafkan mereka. Aku memaafkan mereka.” Masih ada satu pertanyaan lagi dari Jhon Erickson. “Setelah semua peristiwa ini, apakah kamu masih percaya kepada Tuhan?” Jawaban Madame Seraphim membuat Jhon kaget. “Ya, aku tetap percaya kepada Tuhan,” jawabnya sekali lagi dengan yakin.

Jhon tak menyangka, Tuhan menjawab pertanyaannya dengan cara yang sederhana namun luar biasa. Kesaksian wanita Afrika itu menggugah hatinya. Ia tak merasa lagi menjadi orang dengan beban hidup paling berat di dunia ini. Perjalanan ke benua hitam membuka matanya bahwa masih banyak orang yang nasibnya jauh lebih buruk dari dia. Pertemuannya dengan Madame Seraphim sekaligus mengakhiri perjalanannya di Afrika. Jawaban yang ia cari telah didapatkan.

Setelah pulang dari Afrika, Jhon hidup ‘normal’, menikah, dan menjauhi bahaya. Bersama sang istri, kini John telah dikaruniai empat orang anak. “Sebetulnya adrenalin saya untuk melakukan perjalanan semacam ini lagi masih tinggi. Tapi saya tidak melakukannya lagi karena sudah ada istri dan anak-anak,” kata John sembari terbahak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *