Di COP24, Indonesia Perjuangkan Posisi dalam Perubahan Iklim

KatowiceKonferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP24 digelar di Katowice, Polandia. Delegasi Indonesia bersiap memperjuangkan posisi negara dalam rentetan perundingan menyangkut perubahan iklim.

COP24 yang merupakan nama informal dari 24th Conference of the Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), merupakan forum tertinggi untuk membahas status dan pengendalian perubahan iklim global. Konferensi ini digelar setiap tahun. Untuk tahun ini, Polandia menjadi tuan rumah, atau yang disebut sebagai Presidency of the Climate Convention.

Kota Katowice yang terletak di Polandia bagian selatan dipilih sebagai lokasi pelaksanaan COP24 yang digelar selama dua minggu, mulai 2-14 Desember 2018. COP24 digelar di International Congress Centre atau disebut sebagai ‘MCK’ dalam bahasa Polandia dan Spodek Sports and Entertainment Arena, gedung dengan bentuk unik yang merupakan salah satu lokasi konferensi dan pameran terbesar di Polandia.

Diperkirakan ada sekitar 45 ribu orang dari 197 negara perwakilan yang hadir dalam COP24 ini. Indonesia sendiri mengirimkan 450 orang dalam delegasinya yang terdiri atas pihak-pihak yang berpengalaman di bidang masing-masing. Sedikitnya 80 orang dikirimkan sebagai negosiator, sedangkan sisanya melaksanakan soft diplomacy melalui berbagai side event, khususnya Paviliun Indonesia.

Penyerahan posisi Presiden COP24 digelar pada Minggu (2/12/2018). Menteri Negara pada Kementerian Lingkungan Polandia, Michal Kurtyka, menerima posisi Presiden dari Perdana Menteri Fiji Frank Bainimarama selaku Presiden COP23.

Ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Siti Nurbaya, bahwa kehadiran rombongan Delegasi RI (Delri) dalam COP24 sangat penting bagi Indonesia. Khususnya dalam mencapai target-target seperti penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan program adaptasi perubahan iklim yang disebutkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai produk dari Paris Agreement.

NDC merupakan jantung dari Paris Agreement yang tercapai dalam konferensi COP21 tahun 2015 lalu. NDC merupakan perwujudan dari upaya setiap negara untuk mengurangi emisi dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim.

“Tentunya penting karena COP24 ini akan membahas rules book dari Paris Agreement, dengan kata lain modalitas, prosedur dan guidelines melaksanakan NDC, akan dibahas di COP ini,” tutur Menteri Siti.

Tim negosiator Delri terdiri dari perwakilan berbagai kementerian dan lembaga, LSM, serta para peneliti dan pihak swasta. Mereka telah dibekali kertas posisi (position paper), yang telah dibahas sebanyak 5 kali di Jakarta, dengan dihadiri stakeholders terkait.

“Kertas posisi yang telah disusun bersama ini, harus menjadi patokan Delri, bukan hanya pada meja negosiasi tapi juga pada mandated event, side event, parallel event, termasuk di Paviliun Indonesia,” tegas Menteri Siti.

Kertas posisi itu, sebut Penasihat Senior Menteri LHK Bidang Perubahan Iklim, Dr Nur Masripatin, mencerminkan rencana aksi di berbagai Kementerian serta agenda non-state actor, termasuk pemerintah daerah, LSM, pihak swasta, masyarakat adat dan akademisi.

Dalam COP24 ini, Dr Nur Masripatin merupakan National Focal Point (NFP) bagi Indonesia untuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Disebutkan Dr Nur Masripatin bahwa 19 agenda akan dibahas dalam COP24 ini. Agenda-agenda itu dibagi ke dalam dua kategori utama yakni Paris Agreement Work Programme (PAWP) dan Non-Paris Agreement Work Programme (Non-PAWP).

PAWP fokus pada delapan agenda, termasuk NDC, Adaptation Communication, Transparancy Framework for Action and Support, Climate Finance atau Adaptation Fund, dan sebagainya. Non-PAWP fokus pada 11 agenda, termasuk Mitigation, Adaptation, Transparancy, Finance, Agriculture, Gender and Climate Change dan sebagainya.

Ditambahkan Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Dr Ruandha A Sugardiman, bahwa KLHK sendiri telah mendemonstrasikan sebanyak 1.981 kampung iklim di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, KLHK juga bekerja sama dengan berbagai provinsi untuk memulai, merencanakan dan menerapkan NDC.

“Kami juga telah menyusun sistem ‘Monitoring, Reporting and Verification (MRV), serta mengembangkan Sistem Registri Nasional (SRN) dan inventarisasi GRK (gas rumah kaca) nasional,” paparnya.

Sementara itu, untuk Paviliun Indonesia yang menjadi soft diplomacy dalam COP24, terdapat tiga topik utama yang akan dibahas dalam 56 sesi. Ketiga topik bahasan itu antara lain ‘NDC Framework: Past, Present and Future’, ‘Climate Action and SDG’s on The Ground’ dan ‘Accelerating Climate Action Through Innovation’.

“Kami telah mempersiapkan berbagai best practices yang menyangkut program mitigasi dan adaptasi di berbagai sektor. Selain itu pada paviliun ini, kami juga akan menampilkan budaya asli Indonesia termasuk tarian,” sebut Kepala Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK yang juga penanggung jawab Paviliun Indonesia, Dr Agus Justianto.
(nvc/zak)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *