Bawaslu Periksa 15 Camat di Makassar yang Dukung Jokowi

Makassar

Sebanyak 15 camat di Makassar, Sulawesi Selatan, diperiksa Bawaslu terkait laporan video dukungan terhadap capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin. Bawaslu akan mengkaji keterangan para camat itu untuk memutuskan ada-tidaknya unsur pelanggaran untuk ditindaklanjuti.

“Saat ini kami sedang melakukan registrasi, ada 15 pihak yang kami undang, (tapi) tidak secara bersamaan, (melainkan) berangsur-angsur karena tim klarifikasi kami tentunya terbatas,” ujar Koordinator Divisi Penindakan Bawaslu Sulsel, Azry Yusuf, Jumat (22/2/2019).

Bawaslu, ditegaskan Azry, menerima tiga laporan terkait video dukungan camat terhadap Jokowi-Amin. Bawaslu, berdasarkan ketentuan, wajib menindaklanjuti laporan tersebut.

Azry menyebut Bawaslu punya waktu 14 hari melakukan penanganan laporan. Keterangan para terperiksa juga akan diplenokan.

“Berkaitan dengan rekomendasi kami ke KemenPAN-RB dan Komisi Aparatur Sipil Negara, itu sudah menjadi standar bagi kami untuk meneruskan itu terkait dengan pelanggaran hukum lainnya. Kami akan melakukan kajian dan kami akan menentukan seperti apa faktanya dan seperti apa rekomendasi,” ujar Azry.

Sebelumnya, beredar video yang berisi deklarasi dukungan kepada calon presiden (capres) petahana Joko Widodo (Jokowi). Video berdurasi 1 menit itu diawali perkenalan diri seseorang bernama Syahrul Yasin Limpo. Dia adalah mantan Gubernur Sulsel.

“Saya, Syahrul Yasim Limpo, beserta seluruh camat se-Kota Makassar,” kata Syahrul di awal video seperti dilihat detikcom, Kamis (21/2). Ucapan Syahrul lalu diikuti beberapa orang yang mengaku sebagai camat di Makassar. Dalam video itu, Syahrul menyatakan dukungan dan tekad mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Mendukung calon presiden nomor 01 Joko Widodo bersama Ma’ruf Amin satu periode lagi menjadi presiden. Mari sama-sama berjuang dan berjihad untuk nomor…,” kata Syahrul. Rekaman video terputus pada menit pertama.


(fdn/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Gangguan KRL arah Bogor, Penumpang Ini Pingsan saat Turun di Ps Minggu

Jakarta – KRL 1176 relasi Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan di Stasiun Lenteng Agung dan mengakibatkan kereta yang mengarah ke Bogor juga terganggu perjalanannya. Gangguan ini menyebabkan seorang wanita yang turun di Stasiun Pasar Minggu pingsan.

Pantauan detikcom di lokasi, Stasiun Pasar Minggu, Jumat (22/2/2019), seorang wanita tiba-tiba tergolek ke lantai peron sesaat setelah keluar dari KRL yang mengarah ke Bogor. Wanita itu jatuh dengan posisi terlentang agak miring.

Beberapa orang langsung sigap menghampiri sang wanita. Petugas KRL di lokasi juga tampak langsung mendekat.

Gangguan KRL arah Bogor, Penumpang Ini Pingsan saat Turun di Ps MingguFoto: Penumpang pingsan saat turun di Stasiun Pasar Minggu (Gresnia Arela/detikcom)

Wanita itu lantas dipindahkan ke kursi di peron. Beberapa wanita tampak mengusapkan sesuatu ke dekat hidungnya. Ada juga yang memijit tangan si wanita.

Kondisi di dalam gerbong memang padat. Penumpukan penumpang terjadi di sejumlah stasiun, sebagai dampak gangguan KRL.

Sebelumnya diberitakan, KRL KA 1176 lintas Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan di Stasiun Lenteng Agung. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memohon maaf atas gangguan itu dan menyarankan penumpang mencari alternatif transportasi.
“Bagi pengguna jasa yang tidak dapat menunggu disarankan untuk menggunakan moda lain, sementara bagi yang telah melakukan transaksi tiket dan memutuskan untuk berpindah moda maka pengguna jasa dapat melakukan proses pengembalian tiket di loket stasiun terdekat,” sebut VP Komunikasi Perusahaan PT KCI Eva Chairunisa, Jumat (22/2/2019).

(gbr/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

CCTV Pembunuhan Noven di Bogor Sampai ke Tangan FBI

BogorSiswi SMK di Bogor berusia 18 tahun, Andriana Yubelia Noven Cahya, tewas dibunuh di sebuah gang sempit pada 7 Januari 2019 lalu. Wajah pelaku terekam CCTV, namun tak jelas.

Sebanyak 28 saksi telah diperiksa untuk mencari titik terang perkara ini. Polisi kesulitan untuk mengidentifikasi wajah pelaku karena kualitas rekaman CCTV yang terpasang di dekat lokasi penusukan tidak baik.

Hanya tampak dalam rekaman CCTV bahwa pelaku menusuk korban di sebuah gang yang sepi. Pelaku memang sebelumnya telah menunggu korban berjalan di gang di Jalan Riau itu.
“Kita sudah periksa 28 orang saksi. Tapi dari semuanya, belum ada yang menjurus kepada pelaku. Kita masih analisa keterangan-keterangan saksi,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada detikcom, Selasa (29/1).

Noven menderita luka akibat senjata tajam di bagian dada kiri. Luka yang ditemukan di tubuhnya memanjang sepanjang 22 cm. Dia tewas seketika berdekatan waktunya dengan kaburnya pelaku.

“Memang untuk wajah pelaku ini di CCTV tidak terlalu jelas. Lalu kualitas video CCTV juga kurang baik ya,” kata Kombes Truno.

Salah seorang pria berinisial S yang tak lain mantan kekasih Noven sempat diamankan. Namun karena tak cukup kuat bukti, pria tersebut dilepaskan. Polisi juga sempat ‘mengubek-ubek’ laptop Noven, namun tak ada petunjuk mengarah ke siapa pelakunya.
Rekaman CCTV yang kualitasnya tak terlalu bagus membuat polisi memutuskan untuk meminta bantuan kepada Federal Bureau of Investigation (FBI). Polri ingin meminjam alat canggih milik FBI guna mengidentifikasi wajah pria penusuk Noven yang terekam CCTV.

“Kita akan meminta bantuan kepada FBI (karena) mereka kan alatnya lebih canggih secara digital forensik. Untuk zoom yang lebih besar dan tidak pecah-pecah, sehingga kita bisa mengenali dengan jelas pelaku yang ada di CCTV tersebut,” ujar Kapolres Bogor Kota Kombes Hendri Fuiser, Jumat (22/2).

Kombes Hendri tak menjelaskan lebih jauh apakah FPI telah merespons permintaan tersebut atau belum. Akibat CCTV yang kurang terlalu dan bukti-bukti yang belum cukup, hingga kini pembunuh Noven masih berkeliaran.
(rna/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

detikcom Laporkan Dugaan Penganiayaan Jurnalisnya di Munajar 212 ke Polisi

Liputan6.com, Jakarta Polres Metro Jakarta Pusat telah menerima laporan dugaan persekusi terhadap wartawan detikcom, Satria Kusuma. 

Satria melaporkan kejadian tersebut pada Jumat (22/2/2019) pukul 00.15. Laporan tersebut teregister dalam nomor laporan 358/K/II/2019/ Resto Jakpus tanggal 22 Februari 2019.

“Iya sudah ada laporan masuk hari ini. Perkara yang dilaporkan adalah bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang atau barang,” kata Kasubag Humas Polres Jakarta Pusat Kompol Purwadi, saat dikonfirmasi, Jumat (22/2/2019).

Purwadi mengatakan, saat ini pihak terlapor atau pelaku persekusi terhadap Satria masih dalam penyelidikan.

“Saat ini pelaku masih dalam penyelidikan,” katanya.

Sementara itu, dalam keterangan resmi tertulis, detikcom mengutuk keras aksi kekerasan yang menimpa wartawannya. Langkah hukum dilakukan agar ke depan kejadian serupa menimpa para jurnalis.

“Detikcom mengutuk keras kekerasan terhadap jurnalis dan upaya menghalangi peliputan jelas melanggar Undang-undang Pers, terutama Pasal 4 tentang kemerdekaan pers. Detik.com adalah media yang independen, objektif, dan berimbang dan mendukung penuh perjuangan terhadap kebebasan pers,” pernyataan detikcom dalam keterangannya.

Terpisah, Pemimpin Redaksi detikcom sekaligus Direktur Konten, Alfito Deannova Ginting, melalui pesan singkat mengatakan pihaknya sudah melaporkan dugaan penganiayaan tersebut semalam.

2 dari 2 halaman

Kronologi Dugaan Penganiayaan

Berikut kronologi lengkap Detikcom tentang dugaan persekusi wartawan yang dimuat dalam laman resminya:

“Wartawan detikcom atas nama Satria Kusuma mengalami penganiayaan dan kekerasan saat sedang menjalankan tugas jurnalistik. Kejadian itu berlangsung saat Satria sedang meliput acara Malam Munajat 212, Kamis (21/2/2019) di Monas.

Sekitar pukul 20.30, terjadi kericuhan yang posisinya di dekat pintu keluar VIP, arah bundaran patung Arjuna Wiwaha. Menurut informasi yang beredar, kala itu ada seorang copet yang tertangkap.

Satria pun langsung mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel. Satria tidak sendirian. Saat itu ada wartawan lain yang juga merekam peristiwa tersebut.

Pada saat merekam video itulah Satria dipiting dan kedua tangannya dipegangi. Mereka meminta Satria menghapus video yang sudah direkamnya. Karena dipaksa sedemikian rupa dan jumlah orang yang berkerumun semakin banyak, Satria akhirnya setuju rekaman video itu dihapus.

Satria lalu dibawa ke ruangan VIP mereka. Di dalam tenda tersebut, intimidasi terus berlanjut. Adu mulut terjadi lagi saat mereka meminta ID card Satria buat difoto. Tapi Satria bertahan, memilih sekadar menunjukkan ID card dan tanpa bisa difoto.

Dalam ruangan yang dikerumuni belasan–atau mungkin puluhan–orang berpakaian putih-putih tersebut, Satria juga sempat dipukul dan diminta berjongkok. Tak sampai di situ, mereka yang tahu Satria adalah wartawan detikcom juga sempat melakukan tindakan intimidatif dalam bentuk verbal.

Singkat cerita, ketegangan sedikit mereda saat Satria bilang pernah membuat liputan FPI saat membantu korban bencana Palu. Begitu pun saat mereka mengetahui benar-benar bahwa Satria bukan wartawan ‘bodrex’. Pun mereka juga tahu bahwa Satria sudah berkomitmen akan menghapus semua video di ponselnya.

Satria dilepas setelah diajak berdiskusi dengan salah satu dari mereka, yang mengaku sebagai pihak keamanan Malam Munajat 212 dan mereka kebetulan sesama orang Bogor. Namun jaminannya bukan ID card dan KTP yang diberikan, melainkan kartu pelajar. Satria pun dilepas dan kembali menuju kantor.

Terkait tindak kekerasan dan penghalangan kerja jurnalistik ini, detikcom melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Dengan harapan kejadian serupa tidak terjadi terhadap wartawan lain yang sedang menjalankan fungsi jurnalistik.

detikcom mengutuk keras kekerasan terhadap jurnalis dan upaya menghalangi peliputan jelas melanggar UU Pers, terutama Pasal 4 tentang kemerdekaan pers. detikcom adalah media yang independen, objektif, dan berimbang dan mendukung penuh perjuangan terhadap kebebasan pers.”

Reporter: Ronald

Camat di Makassar Dukung Jokowi, TKN: Setiap WNI Punya Hak Memilih

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin mempersilakan pihak-pihak yang mau melaporkan video dukungan camat di Makassar untuk capres petahana andai menganggap ada aturan yang dilanggar. Meski demikian, TKN mengingatkan bahwa setiap warga negara Indonesia punya hak memilih.

“Kalau dinilai melanggar aturan tentu silakan aja untuk dilaporkan ke pihak yang berwenang yang terkait proses tersebut, tapi kita harus tahu bahwa di dalam proses politik itu setiap warga negara memiliki hak individual untuk memilih,” kata jubir TKN, Ace Hasan Syadzily, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2/2019).

Ace menilai selama tak melanggar aturan, apa yang dilakukan para camat di Makassar tak seharusnya dipersoalkan. Menurutnya, video yang beredar bukanlah ajakan untuk memilih paslon tertentu, melainkan bentuk sikap politik saja.
“Selagi itu tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku maka saya kira kenapa kita mesti persoalkan. Misalnya upaya itu dilakukan dengan mengajak masyarakatnya untuk memilih. Ya saya kira kalau bentuknya bukan ajakan, tetapi menunjukkan sikap politik kenapa harus dipersoalkan,” ujar Ace.

Ia menilai Bawaslu dan KPU akan bersikap netral dalam menangani viralnya video camat se-Makassar dukung paslon 01. Ace mengaku pihaknya tidak bisa mengintervensi proses hukum.

“Saya kira Bawaslu dan KPU memiliki independensi untuk mengambil langkah-langkah yang memang dinilai melanggar hukum. Kami tidak bisa mengintervensi. Dan kalau memang dinilai berat sebelah ya tanyakan ke KPU. Kami sendiri sering mendapatkan teguran dari KPU dan Bawaslu. Jadi itu sesuatu yang biasa saja,” ungkap Ace.

Sebelumnya, beredar video yang berisi deklarasi dukungan untuk capres petahana Jokowi. Video berdurasi 1 menit itu diawali perkenalan diri Syahrul Yasin Limpo, mantan Gubernur Sulsel.

“Saya, Syahrul Yasin Limpo, beserta seluruh camat se-Kota Makassar,” kata Syahrul di awal video seperti dilihat detikcom, Kamis (21/2). Ucapan Syahrul lalu diikuti beberapa orang yang mengaku sebagai camat di Makassar. Dalam video itu, Syahrul menyatakan dukungan dan tekad mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Mendukung calon presiden nomor 01 Joko Widodo bersama Ma’ruf Amin satu periode lagi menjadi presiden. Mari sama-sama berjuang dan berjihad untuk nomor…,” kata Syahrul. Rekaman video terputus pada menit pertama.

(yld/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Gunung Agung Kembali Erupsi, Tinggi Kolom Abu 700 Meter

Jakarta – Gunung Agung yang berada di Bali kembali mengalami erupsi sore ini. Tinggi kolom abu disebutkan mencapai 700 meter.

Kabid Manajemen Observasi Meteorologi Penerbangan BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, erupsi terjadi pada Jumat (22/2/2019) sekitar pukul 16.31 Wita.

“Telah terjadi erupsi G. Agung, Bali pada tanggal 22 Februari 2019 pukul 16:31 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 700 m di atas puncak (± 3.842 m di atas permukaan laut). Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah timur. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 11 mm dan durasi ± 6 menit 20 detik,” kata Hary dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (22/2).


Hary menjelaskan, saat ini status Gunung Agung ada di level III atau siaga. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas sejauh 4 km dari puncak gunung.

“Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan G. Agung yang paling aktual/terbaru,” tutur Hary.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung,” jelasnya.

Laporan terakhir Gunung Agung mengalami erupsi pada 14 Februari 2019. Akibat erupsi tersebut lima desa di Kecamatan Karangasem, Bali terpapar hujan abu.
(rna/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Detikcom Beber Kronologi Dugaan Persekusi Wartawannya di Munajat 212

Liputan6.com, Jakarta – Acara Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019 menyisakan cerita. Sejumlah wartawan dikabarkan mengalami persekusi.

Persekusi diduga dilakukan sejumlah massa yang menggunakan atribut Front Pembela Islam (FPI) pada Kamis malam tersebut. Wartawan dari CNN Indonesia TV dan Detikcom diduga menjadi korban persekusi.

Detikcom memberikan konfirmasi terkait kebenaran karyawannya bernama Satria Kusuma yang mengalami persekusi.

Melalui laman resminya, Detikcom menjelaskan kejadian bermula saat Satria mengabadikan momen saat ada copet yang tertangkap.

Satria yang juga bersama wartawan lain, diminta untuk menghapus rekaman video yang diambilnya. Karena massa banyak, Satria menghapus video tersebut.

Namun kejadian tak berhenti sampai di situ. Satria justru digiring dibawa ke tenda VIP mereka. Di dalam tenda VIP tersebutlah diduga persekusi terhadap Satria semakin menjadi.

Ia sempat dipukul dan diminta berjongkok. Tak sampai di situ, mereka yang menggunanakan pakaian serba putih itu tahu jika Satria adalah wartawan detikcom, sehingga tindakan intimidatif dalam bentuk verbal pun terjadi.

Berikut kronologi lengkap Detikcom tentang dugaan persekusi wartawan yang dimuat dalam laman resminya:

Wartawan detikcom atas nama Satria Kusuma mengalami penganiayaan dan kekerasan saat sedang menjalankan tugas jurnalistik. Kejadian itu berlangsung saat Satria sedang meliput acara Malam Munajat 212, Kamis (21/2/2019) di Monas.

Sekitar pukul 20.30, terjadi kericuhan yang posisinya di dekat pintu keluar VIP, arah bundaran patung Arjuna Wiwaha. Menurut informasi yang beredar, kala itu ada seorang copet yang tertangkap.

Satria pun langsung mengabadikan momen itu dengan kamera ponsel. Satria tidak sendirian. Saat itu ada wartawan lain yang juga merekam peristiwa tersebut.

Pada saat merekam video itulah Satria dipiting dan kedua tangannya dipegangi. Mereka meminta Satria menghapus video yang sudah direkamnya. Karena dipaksa sedemikian rupa dan jumlah orang yang berkerumun semakin banyak, Satria akhirnya setuju rekaman video itu dihapus.

Satria lalu dibawa ke ruangan VIP mereka. Di dalam tenda tersebut, intimidasi terus berlanjut. Adu mulut terjadi lagi saat mereka meminta ID card Satria buat difoto. Tapi Satria bertahan, memilih sekadar menunjukkan ID card dan tanpa bisa difoto.

Dalam ruangan yang dikerumuni belasan–atau mungkin puluhan–orang berpakaian putih-putih tersebut, Satria juga sempat dipukul dan diminta berjongkok. Tak sampai di situ, mereka yang tahu Satria adalah wartawan detikcom juga sempat melakukan tindakan intimidatif dalam bentuk verbal.

Singkat cerita, ketegangan sedikit mereda saat Satria bilang pernah membuat liputan FPI saat membantu korban bencana Palu. Begitu pun saat mereka mengetahui benar-benar bahwa Satria bukan wartawan ‘bodrex’. Pun mereka juga tahu bahwa Satria sudah berkomitmen akan menghapus semua video di ponselnya.

Satria dilepas setelah diajak berdiskusi dengan salah satu dari mereka, yang mengaku sebagai pihak keamanan Malam Munajat 212 dan mereka kebetulan sesama orang Bogor. Namun jaminannya bukan ID card dan KTP yang diberikan, melainkan kartu pelajar. Satria pun dilepas dan kembali menuju kantor.

Terkait tindak kekerasan dan penghalangan kerja jurnalistik ini, detikcom melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian. Dengan harapan kejadian serupa tidak terjadi terhadap wartawan lain yang sedang menjalankan fungsi jurnalistik.

detikcom mengutuk keras kekerasan terhadap jurnalis dan upaya menghalangi peliputan jelas melanggar UU Pers, terutama Pasal 4 tentang kemerdekaan pers. detikcom adalah media yang independen, objektif, dan berimbang dan mendukung penuh perjuangan terhadap kebebasan pers.

2 dari 3 halaman

Wartawan CNN Indonesia TV

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Jumat (22/2/2019) Koordinator Liputan (Korlip) CNN Indonesia TV Joni Aswira yang saat kejadian berada di lokasi menjelaskan, malam itu belasan jurnalis dari media berkumpul di sekitar pintu masuk VIP dekat panggung acara. Mereka menunggu sejumlah narasumber untuk melakukan wawancara.

Namun pada pukul 21.00 WIB, terjadi keributan di tengah suara selawatan. Diduga ada pencopet yang ditangkap oleh sejumlah massa. Mendadak sontak kejadian itu memancing para jurnalis mendekati lokasi kejadian, termasuk pewarta foto CNN Indonesia TV.

Menurut pengakuan Joni, kamera jurnalis cukup mencolok, sehingga menjadi bahan buruan beberapa orang. Mereka mengintervensi wartawan foto tersebut untuk segera menghapus gambar kericuhan yang sempat tertangkap.

“Kalian dari media mana? Dibayar berapa? Kalau rekam yang bagus-bagus saja, yang jelek enggak usah,” ucap Joni menirukan oknum massa, Jumat (22/02/2019).

Joni melanjutkan, nasib serupa dialami wartawan Detikcom saat sedang merekam kericuhan. Massa menyuruhnya menghapus gambar, tapi wartawan itu tak mau memberikan ponselnya.

“Massa kemudian menggiring wartawan Detikcom ke dalam tenda VIP sendirian. Meski telah mengaku sebagai wartawan, mereka tetap tak peduli. Di sana, dia juga dipukul dan dicakar, selain dipaksa jongkok di tengah kepungan belasan orang,” ucap dia.

Jurnalis CNNIndonesia yang meliput di lokasi kejadian ikut menjadi saksi kekerasan tersebut. Sementara jurnalis Suara yang berusaha melerai kekerasan dan intimidasi itu terpaksa kehilangan ponselnya.

Koordinaror Humas Persaudaraan Alumni 212 Novel Bamukmin menampik adanya penganiayaan terhadap wartawan. Namun, dia membenarkan ada pencopet yang diamankan oleh massa.

“Enggak ada. Namanya kan ada copet, jadi laskar (massa) tuh ngamanin semuanya, semuanya diamanin. Kan, kita enggak tahu mana beneran wartawan mana bukan, takutnya kan cuma ngaku aja. Makanya diamanin,” katanya.

Novel juga menjelaskan, pada saat kejadian, tak terlihat tanda pengenal yang diduga wartawan tersebut. Namun, setelah diketahui kalau itu wartawan, pihaknya langsung melepasnya.

“Nah, itu enggak ada. Enggak dipakai. Pas diamanin, terus ditanya-tanya ya kita lepas pas tahu itu wartawan,” ucapnya memungkasi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Peneror Alat Kelamin di Karawang Bisa Dipidana 10 Tahun Penjara

Karawang – Sekelompok pria di Karawang, Jawa Barat, mempertontonkan alat kelamin ke perempuan. Mereka naik kendaraan dan tiba-tiba mengeluarkan alat kelaminnya di depan wanita.

“Itu sudah kriminal. Jadi bukan soal ekshibisionis lagi,” kata Mariana saat dimintai tanggapan detikcom, Kamis (21/2/2019).

Lantas UU apa yang bisa menjerat mereka? Berdasarkan penelurusan detikcom, perbuatan pria di Karawang sesuai dengan Pasal 10 UU Pornografi. Pasal 10 berbunyi:

Setiap orang dilarang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya.

Lantas bagaimana hukumannya? Para pelaku bisa diancam hukuman 10 tahun penjara. Pasal 36 UU Pornografi menyebutkan:

Setiap orang yang mempertontonkan diri atau orang lain dalam pertunjukan atau di muka umum yang menggambarkan ketelanjangan, eksploitasi seksual, persenggamaan, atau yang bermuatan pornografi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 5 miliar.

Lantas apa tujuan UU Pornografi? Yaitu:

1. menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama;
2. memberikan ketentuan yang sejelas-jelasnya tentang batasan dan larangan yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara serta menentukan jenis sanksi bagi yang melanggarnya; dan
3. melindungi setiap warga negara, khususnya perempuan, anak, dan
generasi muda dari pengaruh buruk dan korban pornografi.

(asp/zak)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Komnas Perempuan soal Teror Kelompok Pria Mesum di Karawang: Kriminal!

JakartaKomnas Perempuan menilai teror kelompok pria mesum di Karawang, Jawa Barat, bukan lagi ekshibisionisme (kelainan yang ditandai dengan kecenderungan memperlihatkan hal-hal tak senonoh seperti alat kelamin). Komisioner Komnas Perempuan Mariana Amiruddin menyebut teror tersebut termasuk tindakan kriminal karena dilakukan berkelompok.

“Itu sudah kriminal. Jadi bukan soal ekshibisionis lagi,” kata Mariana saat dimintai tanggapan detikcom, Kamis (21/2/2019).

Teror sekelompok pria mesum kepada murid perempuan sejumlah sekolah terjadi di kawasan Jalan Ahmad Yani, Karawang, Jawa Barat. Salah seorang siswi pernah dibawa ke dalam mobil untuk keliling kota sambil dipaksa melihat pria mesum memainkan alat vital mereka.

Mariana menjelaskan ekshibisionisme merupakan kelainan jiwa. Namun, menurutnya, untuk peristiwa di Karawang, bisa disebut perkosaan.

“(Ekshibisionisme itu) kelainan jiwa. Tapi kalau berkelompok itu sama dengan perkosaan karena memaksa masuk mobil. Ada paksaan dan ancaman berdimensi seksual dan kontak fisik,” jelasnya.

Mariana menyebut sekelompok pria itu menjadikan siswi tersebut sebagai objek untuk memuaskan hasrat seksual mereka.

“Ini bukan sekedar soal kejiwaan atau ekshibisionis, pelaku maksudnya. Unsur lainnya (pelaku) menjadikan perempuan sebagai objek seksual untuk mencapai kepuasannya dalam bentuk ekshibisionis,” ujar Mariana.

Diberitakan sebelumnya, teror ekshibisionis terjadi di Karawang, Jawa Barat, beberapa hari lalu. Sekelompok pria menjadikan murid perempuan sebagai target.

Tindakan tersebut sampai membuat korban trauma. Ada seorang siswi yang pernah dibawa ke dalam mobil untuk keliling kota sambil dipaksa melihat pria mesum memainkan alat vital mereka.

“Meski peristiwa itu terjadi dua tahun lalu, dia kembali trauma karena peristiwa serupa kembali terjadi pada murid lainnya,” kata seorang guru di salah satu SMP negeri di Karawang kepada detikcom, Kamis (21/2).

Dua hari lalu, seorang siswi kelas 8 salah satu SMP Negeri di Karawang hampir jadi korban pria mesum dengan modus serupa. Sore itu, saat pulang sekolah, dua pria turun dari mobil dan menarik tubuh gadis itu ke dalam mobil.

“Beruntung siswi kami bisa melarikan diri setelah menendang perut pria tersebut,” ucap guru tersebut.
(zak/abw)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polemik Tenaga Asing di Hutan Prabowo

Jakarta – Polemik lahan negara yang dikuasai Prabowo Subianto masih terus berlanjut. Kali ini, polemik merembet ke tudingan adanya pekerja asing di PT Tusam Hutani Lestari (THL), perusahaan milik Prabowo yang mengelola hutan di lahan berstatus Hutan Tanaman Industri (HTI) itu.

Status HTI itu sebelumnya diungkap oleh Ombudsman RI. Ombudsman menyebut berdasarkan hasil identifikasi, lahan yang sebelumnya diklaim oleh Prabowo berstatus Hak Guna Usaha (HGU) itu, ternyata menyandang izin HTI.

Kembali ke tudingan adanya tenaga kerja asing (TKA) di THL, hal itu mulanya dilontarkan oleh eks Panglima GAM wilayah Linge, Fauzan Azima. Fauzan yang pernah bertugas membawahi wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, lokasi di mana hutan yang dikelola THL berada, menyebut pihak perusahaan mempekerjakan tenaga asing.

“Sekarang lahan itu mereka manfaatkan untuk ambil getah. Ada sebagian masyarakat (yang ambil getah), dan pihak ketiga. Kalau dulu (di sana) banyak dari luar. Dari China juga ada. Awalnya tenaga-tenaga kerja China semua di situ,” kata Fauzan saat dimintai konfirmasi, Kamis (21/2).
Tudingan itu langsung mendapat komentar dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin. TKN Jokowi-Ma’ruf menilai pernyataan mantan kombatan GAM itu menambah bukti bahwa Prabowo pro-asing.

Selain itu, pernyataan itu juga menunjukkan inkonsistensi Prabowo dan kubunya. Sebab, mereka dinilai kerap menggembar-gemborkan anti asing dan kerap menggoreng isu tenaga kerja asing (TKA).

“Pengakuan eks Panglima GAM Linge ini memperjelas bukti bahwa Pak Prabowo semakin inkonsisten. Ini menambah bukti sikapnya yang menuduh pihak lain pro-asing, padahal ternyata perusahaannya pun memperkerjakan tenaga kerja asing,” ujar juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, kepada wartawan.

Polemik Tenaga Asing di Hutan PrabowoFoto: Lahan milik Prabowo di Aceh (Ist)

Tak terima sang capres dituding tanpa dasar, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno memberi pembelaan sekaligus bantahan. BPN Prabowo-Sandiaga heran dengan tudingan tersebut. BPN tak habis pikir kenapa Fauzan Azima dengan getol menyerang Prabowo.

“Saya bingung, ini orang nyinyir banget, sih. Ya dibuktikan saja kalau memang ada isu TKA,” ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade.

“Kalau ada isu TKA di sana, sudah diusir sama orang Aceh. Lalu juga sudah diberi sanksi oleh Pemprov Aceh. Logikanya sajalah, kalau ada TKA di sana, tentu sudah ada protes dari orang Aceh, pasti juga Pemprov beri teguran ke THL, dong,” imbuhnya.

Bantahan juga diberikan pihak THL. Perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam Hutan Tamanan Industri (IUPHHK-HTI) itu membantah dan menyebut hanya mempekerjakan penderes dari Indonesia.

“Kalau tenaga kerjanya nggak ada, tapi kalau pembeli getahnya bisa jadi ada. Karena kita jual ke Medan (Sumatera Utara). Kalau tenaga di lapangannya yang dimaksud pekerja kan penderesnya, kalau penderes nggak ada,” kata Staf Bagian Perencanaan dan Administrasi Umum PT THL Husein Canto saat dimintai konfirmasi detikcom.

(mae/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>