Demi Perang Dagang, Petani AS: Kami Siap Menderita

Jakarta – Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang terus menabuh genderang perang dagang dengan China mendapat dukungan dari petani setempat. Para petani AS percaya meski ‘berdarah-darah’, perang dagang akan memberi dampak positif ke depannya.

Trent Loos misalnya. Petani asal Nebraska itu menegaskan bahwa komunitas pertanian dan peternakan merupakan komunitas perekonomian yang paling tangguh di AS saat ini. Mereka rela dan siap menerima dampak negatif dari perang dagang.

“Kami memahami itu dan kami bersedia menderita rasa sakit jangka pendek untuk keuntungan jangka panjang,” ujarnya dilansir dari Yahoo Finance, Selasa (13/11/2018).

Para petani di AS sangat mendukung kebijakan yang diambil oleh Trump. Hanya satu yang membuat mereka kesal, adalah bantuan sosial senilai US$ 12 miliar kepada petani AS untuk menanggulangi efek dari serangan balasan tarif masuk yang diberlakukan oleh China.

“Kami menginginkan perdagangan yang adil, bukan bantuan,” kata Loos.

Dia menegaskan, para petani dan peternak di AS hanya menginginkan agar produk yang dihasilkan dibayar dengan harga yang pantas. Mereka tak butuh bantuan yang manfaatnya hanya sementara.

Loos percaya langkah tegas yang diambil Trump akan berdampak baik bagi komunitasnya. Meskipun saat ini mereka harus rela untuk bersakit-sakit dahulu lantaran China menaikkan tarif masuk untuk produk AS termasuk produk hasil pertanian dan peternakan.

Tercatat penjualan kedelai AS ke China sudah turun 94% pada tahun lalu. Kementerian Pertanian AS (USDA) pun telah menyatakan bahwa jagung akan menjadi tanaman yang paling banyak ditanam tahun depan menggantikan kedelai.

Namun Loos menilai AS seharusnya masih fokus untuk menggarap komoditas kedelai. Sebab AS merupakan salah satu negara yang ahli dalam menanam kedelai.

USDA sendiri memperkirakan bahwa produksi kedelai untuk 2018 akan meningkat 7% dari 2017.

“Produksi kedelai naik. Dan semua orang ingin menyalahkan apa yang terjadi di Tiongkok tanpa benar-benar melihat masalah pasokan dan permintaan secara keseluruhan. Kami tidak akan beralih menanam yang lain,” kata Loos.

“Orang-orang di bidang pertanian bersedia mengambil sedikit rasa sakit untuk mendapatkan keuntungan jangka panjang, itulah yang kami bicarakan,” ujar Loos menambahkan.

Universitas Purdue baru saja merilis sebuah survei tentang niat menanam para petani AS untuk tahun 2019. Sekitar 77% petani AS berencana menanam kedelai dalam jumlah yang sama.

Jika China tak mengambil kedelai dari AS, mereka akan membelinya dari Brasil. Menurut Loos justru hal itu mendorong para pedagang kedelai AS untuk menjajal pasar baru di negara lainnya.

“Kita harus melihat gambaran besarnya bahwa kedelai, babi, jagung, kapas dan tomat semuanya akan diproduksi di suatu tempat di dunia. Mereka tetap akan dikonsumsi. Dan kita hanya perlu bersabar,” ujarnya.

Loos sepakat dengan pemikiran Trump. Dia menilai selama ini China tidak berlaku adil atas produk AS.

“Itulah alasan mengapa kami harus tetap bertahan dan teguh dalam hal ini,” kata Loos.

Dia tak khawatir jika ekspor produk pertanian dan peternakan AS berkurang. Menurutnya para petani lebih suka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat AS terlebih dahulu sebelum menjadi sumber pasokan makanan bagi negara lain.

(das/ang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *