Kebakaran Dahsyat Hanguskan Ratusan Rumah di Tanah Abang 4 Tahun Lalu

Liputan6.com, Jakarta – Ardi merintih meminta ampun. Warga yang tak kuasa menahan amarah tak mengindahkannya. Mereka tetap melayangkan bogemnya ke tubuh pria 20 tahun tersebut.

Warga geram lantaran Ardi mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia kedapatan menggondol televisi dan dompet milik korban kebakaran di Jalan Jati Bunder, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, 5 Maret 2015 lalu.

Dalam catatan Sejarah Hari Ini (Sahrini) Liputan6.com, api mulai mengamuk di kawasan Jati Bunder itu sejak pukul 17.00 WIB. Embusan angin yang kuat membuat sang jago merah semakin beringas. Kebakaran semakin meluas dan menghanguskan pemukiman lain.

Warga yang memiliki rumah di dekat titik api pun panik. Mereka berteriak-teriak sambil mencari-cari air untuk disiram ke belakang rumah mereka. Asap semakin mengepul, ditambah dengan hari yang sudah mulai gelap.

Untuk menjinakkan amukan sang jago merah, petugas pemadam kebakaran mengerahkan 25 mobil. Namun jumlah itu tidak tiba secara bersamaan lantaran terkendala arus lalu lintas di Tanah Abang yang macet parah.

“Sementara ini ada 25 damkar yang dikerahkan, 10 di antaranya sudah sampai di lokasi kebakaran sementara 15 lainnya masih dalam perjalanan karena terjebak macet,” kata Staf Operator Damkar Jakarta Pusat Abdullah saat dihubungi Antara di Jakarta, Kamis 5 Maret 2019.

Untuk mempercepat proses pemadaman api, warga diberikan selang dari mobil damkar yang berada di lokasi. Mereka secara bersama-sama mengangkat selang yang panjangnya mencapai 500 meter untuk disemprotkan ke belakang rumah mereka, dekat lokasi kebakaran.

Namun upaya petugas dan warga belum juga berhasil setelah dua jam. Ini lantaran selang air dari mobil pemadam ternyata tak cukup untuk sampai ke pusat titik api.

“Karena ini masuk ke gang-gang,” kata saksi, Narji di lokasi.

Setelah sekitar dua jam berjibaku, pemadam akhirnya berhasil menjinakkan titik-titik api besar sesaat setelah maghrib, sekitar pukul 18.30 WIB. Usai itu, petugas melakukn pendinginan sambil menyisir lokasi kebakaran hingga titik potensi kembali munculnya api. Api benar-benar padam pada pukul 23.00 WIB.

2 dari 3 halaman

Korban Kebakaran

Kebakaran yang melanda kawasan Tanah Abang telah menimbulkan banyak korban. Selain nyawa, hunian warga juga tak luput dari amukan jago merah.

Menurut Camat Tanah Abang Hidayatullah, jumlah korban kebakaran mencapai 1.261 kepala keluarga (KK). Data itu dikeluarkan sesaat setelah kejadian. Para korban ini menderita menderita kerugian, baik secara materi, luka ringan, maupun luka parah.

“Kalau total seluruh warga yang ada di dalam KK itu adalah 3.168 jiwa,” kata Hidayatullah melalui keterangannya, Jumat 6 Maret 2015.

Api menghanguskan 284 rumah di dua RW Kelurahan Kebon Melati. Dua RW tersebut adalah RW 12 dan 14. 

“Di RW 12, warga yang terdampak ada 411 KK atau 1.016 jiwa. Sementara di RW 14, yang terdampak kebakaran ada 850 KK atau 2.152 jiwa,” jelas dia.

Adapun wilayah-wilayah yang terkena kebakaran adalah RT 16 dan 19 untuk RW 12. Kemudian di RW 14, wilayah terdampak lebih banyak yakni RT 13, 14, 15, 16, 17, dan 18.

Sementara itu Wali Kota Jakarta Pusat, Mangara Pardede mengungkapkan pihaknya telah menyediakn enam tempat pengungsian di dekat lokasi kejadian.

“Tempat pengungsian ada di empat masjid, saya lupa masjid apa saja, terus di Pos RW 12 ini, dan sekolah SD 01 Kebon Melati di belakang pos RW. Sekolah pakai dua kelas,” ujar Mangara.

Di pos RW 12, kata dia, juga didirikan tenda dari Dinas Sosial DKI Jakarta.

Selain korban materil, kebakaran dahsyat ini juga telah menelan korban jiwa. Satu orang meninggal dunia yang diketahui seorang laki-laki bernama Agung.

“Namanya Agung umurnya 18 tahun warga RT 14 RW 14,” ujar Wakil Camat Tanah Abang Juremi saat dikonfirmasi detikcom, Jumat 6 Maret 2015.

Juremi mengatakan, identitas korban baru terungkap setelah seorang bapak mencari anaknya yang hilang. “Bapaknya baru datang dan langsung mau mengambil jenazah,” ujar dia.

3 dari 3 halaman

Ditawarkan Pindah ke Rusun

Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede mengatakan, pemerintah siap merelokasi warga korban kebakaran ke rumah susun. Rencana ini akan dimusyawarahkan terlebih dulu kepada korban.

“Kita masih sedang meneliti kepemilikian lahan ini. Kalau warga sepakat, saya kira pemerintah akan siap bangun rusun. Kalau sepakat ya. Karena ini pemukimannya padat dan tidak teratur. Apalagi instalansi listriknya nggak standar,” kata Mangara di lokasi kejadian, Jumat 6 Maret 2015.

Dia melanjutkan, saat ini pihaknya fokus pada penanganan bantuan kepada korban agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan baik.

“Melayani korban dulu. Biar mereka terjamin makannya. Anak-anak kita data. Supaya bisa segera bersekolah. Kita juga bangun tenda pengungsian di dua tempat. Di RW 14 dan pos RW 15,” imbuh dia.

Bahkan tersiar kabar bahwa lokasi kebakaran akan dibangun rusunawa. Namun berita itu ditampik Wakil Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, mengatakan. Dia mengatakan belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkiat itu. Alasannya, perlu beberapa kajian untuk membangun rusunawa.

Penolakan juga disuarakan oleh warga setempat, Hasan. Pria berusia 51 tahun itu akan lebih memilih membangun kembali rumahnya ketimbang dibangunkan rusunawa.

“Warga menolak kalau mau dibangun rusunawa, ini warga di sini kan punya sertifikat tanah yang luasnya berbeda-beda, masalah penggantianya bisa tidak jelas. Selain itu, kalau mau dibangun rusunawa, sementara kami mau tinggal di mana,” kata dia.

Akhirnya, setelah sepekan berlalu, sebagian warga kini mulai bangkit. Rumah yang terbakar sedikit demi sedikit kembali dibangun. Mereka mengaku enggan meninggalkan tempat ini karena tidak tahu lagi harus pindah ke mana.


Saksikan video pilihan berikut ini:

BMKG: Gempa Solok Selatan Dipicu Sesar Aktif yang Belum Terpetakan

Liputan6.com, Jakarta – Gempa tektonik bermagnitudo 5,6 mengguncang wilayah Kabupaten Solok Selatan, Kamis 28 Februari 2019. Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan gempa ini memiliki kekuatan magnitudo 5,3.

Episenter terletak pada koordinat 1,4 LS dan 101,53 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 36 kilometer arah timur laut Kota Padang Aro, Kabupaten Solok Selatan, Propinsi Sumatera Barat, pada kedalaman 10 kilometer.

Menurut Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono, gempa Solok Selatan ini, merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas sesar aktif yang belum terpetakan dan belum diketahui namanya.

“Pemicu gempa ini diduga berasal dari percabangan (splay) dari Sesar Besar Sumatra (The Great Sumatra Fault Zone), mengingat lokasi episenter gempa ini terletak sejauh 49 kilometer di sebelah timur jalur Sesar Besar Sumatera tepatnya dari Segmen Suliti,” jelas Daryono kepada Liputan6.com, Jumat (1/3/2019).

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan mendatar (strike-slip).

“Jika memperhatikan peta geologi di lokasi episenter, tampak terlihat adanya pola kelurusan yang berarah barat laut-tenggara. Mengacu orientasi ini maka dapat dikatakan bahwa mekanisme gempa Solok Selatan ini berupa sesar geser dengan arah pergeseran menganan (dextral-strike slip fault),” ujar dia.

Dampak gempa ini guncangannya dirasakan di Solok Selatan mencapai skala intensitas V-VI MMI, Kota Padang III-IV MMI, Painan dan Padang Panjang II-III MMI, Payakumbuh Limapuluh Kota II MMI, Kepahyang I MMI. Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Solok Selatan, lebih dari 343 bangunan rumah rusak dan sedikitnya 48 orang terluka akibat gempa ini.

“Catatan sejarah gempa besar di Segmen Suliti tidak banyak, tetapi pada bagian selatan Segmen Suliti yang berdekatan dengan Segmen Siulak dalam catatan sejarah pernah terjadi 2 kali gempa dahsyat, yaitu Gempa Kerinci 1909 (M=7,6) dan 1995 (M=7,0),” ucap Daryono.

2 dari 2 halaman

Sejarah Gempa 1909

Salah satu peristiwa gempa dahsyat di Perbatasan Sumatera Barat, Bangkulu, dan Jambi adalah gempa merusak yang terjadi pada 4 Juni 1909, sekitar 7 tahun setelah wilayah ini diduduki Hindia-Belanda.

“Gempa tektonik yang dipicu akibat aktivitas Sesar Besar Sumatera tepatnya di segmen Siulak ini berkekuatan M=7,6. Gempa ini menjadi gempa darat paling kuat yang mengawali abad ke-20 di Hindia-Belanda. Peristiwa gempa dahsyat ini banyak ditulis dan diberitakan dalam berbagai surat kabar Pemerintah Hindia Belanda saat itu,” terang Daryono.

Jumlah korban jiwa meninggal akibat gempa Kerinci saat itu sangat banyak mencapai lebih dari 230 orang. Sementara korban luka ringan dan berat dilaporkan juga sangat banyak.

“Sejarah gempa dahsyat yang melanda Kerinci tahun 1909 kemudian terulang kembali pada tahun 1995. Gempa Kerinci 1995 berkekuatan M 7,0 terjadi terjadi pada 7 Oktober 1995 yang mengakibatkan kerusakan parah di Sungaipenuh, Kabupaten Kerinci,” kata Daryono.

Gempa ini menyebabkan 84 orang meninggal, 558 orang luka berat dan 1.310 orang luka ringan. Sementara 7.137 rumah, sarana transportasi, sarana irigasi, tempat ibadah, pasar dan pertokoan mengalami kerusakan.

Untuk itu, ia menilai ada pelajaran penting yang dapat dipetik dari peristiwa gempa di Solok Selatan termasuk catatan gempa Kerinci 1909 dan 1995. Bahwa, keberadaan zona Sesar Besar Sumatra harus selalu diwaspadai.

“Jika terjadi aktivitas pergeseran sesar ini maka efeknya dapat sangat merusak karena karakteristik gempanya yang berkedalaman dangkal dan jalur sesar yang berdekatan dengan permukiman penduduk,” ucap Daryono.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Penampakan Kapal-Kapal Usai Terbakar Dahsyat di Muara Baru

Liputan6.com, Jakarta – Suasana tenang di dermaga Pelabuhan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, berubah mencekam pada Sabtu (24/2/2019) sekira pukul 15.16 WIB. Sebuah Kapal Motor Artamina Jaya terbakar. Api menjalar hingga menghanguskan 34 kapal yang sedang bersandar di dermaga tersebut.

Pantauan di lokasi, bangkai-bangkai kapal masih dibiarkan berada di dermaga Muara Baru tersebut. Ada yang berada di pinggir, ada pula yang berada di tengah. Sebagiannya pun ada yang nyaris tenggelam.

Kondisinya seluruh bagian kapal menghitam. Sebagian hanya terlihat rangka-rangka kapal.

Berikut penampakan kapal-kapal yang ludes terbakar di Muara Baru, Minggu (24/2/2019):


Kondisi kapal-kapal di Muara Baru usai dilalap sang jago merah pada Sabtu 23 Februari 2019. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

1. Badan kapal tampak hangus terbakar. Hampir seluruh rangka di atas kapal telah menjadi arang.

Kondisi kapal-kapal di Muara Baru usai dilalap sang jago merah pada Sabtu 23 Februari 2019. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

2. Posisi kapal yang terbakar bahkan terlihat tenggelam di salah satu sudutnya. 

Kondisi kapal-kapal di Muara Baru usai dilalap sang jago merah pada Sabtu 23 Februari 2019. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

3. Kondisi kapal yang rusak parah usai api menghanguskan bagian kapal-kapal di Muara Baru.

 Kondisi kapal-kapal di Muara Baru usai dilalap sang jago merah pada Sabtu 23 Februari 2019. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

4. Bagian kapal yang tersisa rangka usai dilalap si jago merah.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

30 Ribu Relawan Direncanakan Hadir Dengarkan Pidato Jokowi di Konvensi Rakyat

Jakarta – Relawan capres petahana Joko Widodo (Jokowi) dan para alumni perguruan tinggi akan menggelar kegiatan Konvensi Rakyat, hari minggu mendatang. Puluhan ribu peserta direncanakan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Projo dan seluruh relawan militan Jokowi akan menghadiri acara yg sangat dinantikan masyarakat Indonesia. Kami sudah cek lapangan. Yang sudah pasti hadir ada 30.000 massa, bahkan bisa lebih. Antusiasme dan militansi relawan dan TKN (Tim Kampanye Nasional) Jokowi-Amin memang dahsyat,” kata Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, kepada wartawan, Jumat (22/2/2019).

Budi mengatakan kegiatan itu akan diisi oleh pidato Jokowi yang bertajuk ‘Optimis Indonesia Maju’. Pidato itu dinilai Budi sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang siap menyongsong perubahan di masa depan.

“Kita tunggu saja pidato bersejarah Presiden Jokowi. Kami percaya hanya orang-orang yang optimis, yang mampu menggerakkan perubahan di Indonesia. Dan perubahan hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang tidak memiliki beban di masa lalu. Bangsa besar harus memiliki daya juang, optimisme dan daya tarung yang kuat,” ujar Budi.

Dia kemudian bicara soal pencapaian yang telah diraih oleh pemerintahan Jokowi. Bagi Budi, Jokowi sudah membawa perubahan yang sangat nyata bagi rakyat Indonesia.

“Pemerintahan Jokowi selama lebih dari 4 tahun ini sudah mampu mengeksekusi banyak hal. Perubahan sudah nyata dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Saatnya rakyat bersatu padu untuk melanjutkan dan mengamankan kepemimpinan yang sudah bekerja nyata,” imbuhnya.

Saat ini, menurut Budi, adalah waktu yang tepat untuk bekerja sama antar elemen bangsa. Persatuan bangsa disebut Budi akan menjadikan Indonesia sebagai negara maju.

“Bangsa besar harus dikelola dengan semangat persatuan. Seluruh komponen dan elemen rakyat sudah bergerak serempak dan militan untuk memastikan kemenangan rakyat 17 April 2019. Kita adalah Satu,” jelas Budi.

Acara Konvensi Rakyat ini akan digelar pada Minggu (24/2) di di Sentul International Convention Center, Jawa Barat, Minggu (24/2). Konvensi yang mengusung tema ‘Optimis Indonesia Maju’ itu akan mulai sekitar pukul 17.00 WIB.

TKN berharap Konversi Rakyat itu dapat memberikan informasi dan data kepada masyarakat terkait capaian yang telah dilakukan pemerintahan Jokowi. Konvensi itu juga disebut sebagai momentum untuk menyampaikan program yang akan dilakukan Jokowi-Ma’ruf jika terpilih kembali di Pilpres 2019.

“Karena pidato ini atau penyampaian pikiran ini yang selama ini ditunggu. Karena selalu media bertanya apa yang akan dilakukan dan apa yang akan dikerjakan atau harapan apa yang akan dibangun oleh Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin untuk periode 2019-2024, ini momentumnya,” kata Wakil Ketua Pelaksana Konvensi Rakyat Bahlil Lahadalia di Posko Cemara, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/2/2019).

(knv/elz)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Gedung Penyimpan Bahan Kimia Terbakar di Bangladesh, 45 Orang Tewas

Liputan6.com, Dhaka – Setidaknya 45 orang tewas dalam kebakaran hebat gudang kimia di Ibu Kota Dhaka, Bangladesh India, pada Rabu 20 Februari 2019 pukul 22.40 waktu setempat.

Saat ini proses evakuasi masih berlangsung di lokasi, tepatnya di Chawkbazar, salah satu distrik di Dhaka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan bertambah, demikian dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (21/2/2019).

“Sejauh ini kami telah menemukan 45 jenazah. Jumlah jasad mungkin akan meningkat. Pencarian masih berlangsung,” kata Ali Ahmed, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran setempat.

Jumlah korban telah dikonfirmasi oleh inspektur polisi di Rumah Sakit Medical College Dhaka. Selain korban tewas, empat orang lain dinyatakan dalam kondisi sangat kritis.

Api berkobar pada empat bangunan apartemen penyimpan bahan kimia, termasuk senyawa plastik dan unit body spray.

Akibat bahan kimia yang sangat mudah terbakar, kobaran api menjadi susah untuk dipadamkan meskipun telah mengerahkan 200 personel pemadam kebakaran.

“Ini akan memakan waktu, tidak seperti kebakaran pada umumnya,” kata Ahmed.

Ahmed menyampaikan bahwa jalan yang sempit serta sesaknya arus lalu lintas menjadi penyebab korban tidak bisa melarikan diri dari kobaran api.

“Ada kemacetan lalu lintas ketika kebakaran terjadi. Jadi orang tidak bisa melarikan diri,” lanjutnya.


Simak pula video pilihan berikut

2 dari 2 halaman

Kebakaran di Bangladesh Pekan Lalu

Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di kota pesisir Bangladesh, Chittagong pekan lalu. Setidaknya sembilan orang tewas akibat insiden yang melanda lebih dari 200 tempat tinggal kumuh tersebut.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran mengatakan lebih dari 50 orang lainnya terluka.

“Empat anggota dari satu keluarga termasuk di antara korban,” Tribune Dhaka melaporkan seperti dikutip dari BBC News.

Petugas pemadam kini tengah menyelidiki kemungkinan bahwa korsleting adalah penyebab kebakaran tersebut. Meski Bangladesh dikenal memiliki catatan keselamatan kebakaran yang buruk.

Para pejabat mengatakan kebakaran di permukiman kumuh Pasar Bhera terjadi sekitar pukul 03.30 waktu setempat (21.30 GMT).

Butuh sekitar lima jam untuk mengendalikan kobaran api di kawasan kumuh Bangladesh tersebut.

Tanah Retak Bisa Jadi Longsor Dahsyat di Lebak

Liputan6.com, Lebak – Masyarakat yang terdampak bencana retakan tanah di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak yang berlangsung sejak sebulan lalu diharapkan tetap waspada guna mengurangi risiko kebencanaan.

“Kita berharap warga tetap waspada bencana, terutama saat musim hujan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi di Lebak, Selasa, 19 Februari 2019, dilansir Antara.

Pergerakan tanah di Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga bisa menimbulkan longsoran dahsyat jika curah hujan lebih dari tiga hari.

Kekhawatiran ancaman longsoran itu sangat mengancam keselamatan jiwa masyarakat. Apalagi, pergerakan tanah hampir terjadi setiap hari, sehingga bila turun hujan sebaiknya warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Kami mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan agar tidak menimbulkan korban jiwa,” katanya.

Menurut dia, pemerintah daerah akan merelokasikan warga yang terdampak bencana retakan tanah di Desa Sudamanik sebanyak 115 rumah dan beberapa rumah terjadi kerusakan.

Bahkan, dua unit rumah warga roboh akibat pergerakan tanah tersebut. Warga yang tinggal di lokasi bencana itu sebanyak 165 kepala keluarga.

“Kami berharap tahun ini semua warga bisa direlokasi ke tempat yang lebih aman dari ancaman bencana alam,” katanya.


Simak video pilihan berikut ini:

Benarkah Gempa Bumi Bisa Memindahkan Jutaan Karbon ke Palung Laut?

Liputan6.com, Tokyo – Pada 2011, gempa bermagnitudo 9,0 berkecamuk di lepas pantai Tohoku, Jepang, dan memicu tsunami besar yang menewaskan lebih dari 15.000 orang.

Efek global dari gempa Tohoku –yang sekarang dianggap sebagai lindu terkuat keempat sejak pendataan dimulai pada 1900– masih dipelajari.

Sejak saat itu, para ilmuwan memperkirakan bahwa gempa tersebut telah mendorong pulau utama Jepang sejauh 2,4 meter ke arah timur, menjebloskan daratannya sedalam 25 cm dari porosnya dan memperpendek hari menjadi sepersejuta detik, NASA melaporkan pada tahun 2011.

Tetapi bagi Arata Kioka, seorang ahli geologi di University of Innsbruck di Austria, efek gempa paling menarik dan misterius tidak dapat dilihat dengan satelit, tapi hanya dapat diukur di jurang terdalam samudra.

Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan pada 7 Februari di jurnal Scientific Reports, Kioka dan rekan-rekannya mengunjungi Japan Trench –zona subduksi (di mana satu lempeng tektonik berada di bawah lempeng yang lain) di laut Pasifik, yang berada lebih dari 8.000 meter di titik terdalamnya.

Ia ingin menentukan banyaknya bahan organik yang dibuang di lokasi tersebut oleh gempa bersejarah itu. Tim menemukan bahwa sekitar satu teragram –atau 1 juta ton– karbon telah dibuang ke palung (Japan Trench) setelah gempa bumi Tohoku dan gempa susulan berikutnya.

“Ini jauh lebih dari yang kami harapkan,” kata Kioka kepada Live Science, yang dikutip oleh Liputan6.com pada Selasa (19/2/2019).

Tempat Terdalam Bumi

Jumlah besar karbon yang direlokasi oleh gempa bumi mungkin memainkan peran penting dalam siklus karbon global –proses alami dan lambat yang membuat karbon berputar melalui atmosfer, lautan dan semua makhluk hidup di Bumi, kata Kioka.

Palung Jepang adalah bagian dari zona hadal (terinspirasi dari Hades, dewa Yunani dari dunia bawah laut), yang mencakup tempat-tempat yang tersembunyi di lebih dari 3,7 mil (6 kilometer) di bawah permukaan laut.

“Zona hadal hanya menempati 2 persen dari total luas permukaan dasar laut,” jelas Kioka kepada Live Science. “Dan area ini mungkin kurang dieksplorasi, ketimbang Bulan atau Mars.”

Pada serangkaian misi yang didanai oleh beberapa lembaga sains internasional, Kioka dan rekan-rekannya menjelajahi Palung Jepang sebanyak enam kali, antara 2012 dan 2016.

Selama pelayaran ini, kru menggunakan dua sistem sonar yang berbeda untuk membuat peta resolusi tinggi tentang kedalaman palung.

Trik ini memungkinkan mereka untuk memperkirakan banyaknya sedimen baru yang telah ditambahkan ke dasar palung, seiring berjalannya waktu usai gempa dahsyat 2011 silam.

Untuk melihat perubahan kandungan kimia dalam sedimen itu, tim riset menggali beberapa inti sedimen dengan cara memanjang, dari bagian bawah palung.

Dalam panjang hingga 10 meter, masing-masing inti ini berfungsi sebagai semacam lapisan geologis yang menunjukkan cara serpihan-serpihan materi dari daratan dan laut menumpuk di bagian bawah palung.

Beberapa meter sedimen tampaknya telah dibuang ke palung pada tahun 2011, menurut Kioka. Ketika timnya menganalisis sampel sedimen ini di laboratorium yang ada di Jerman, mereka dapat menghitung jumlah karbon di setiap intinya.

Kru memperkirakan bahwa jumlah total karbon yang ditambahkan di seluruh palung mencapai satu juta ton.

Sebagai perbandingan, sekitar 4 juta ton karbon dikirim ke laut setiap tahun dari pegunungan Himalaya melalui sungai Gangga-Brahmaputra, Kioka dan rekan-rekannya menulis dalam studi mereka.

Seperempat dari jumlah itu akan berakhir di Palung Jepang setelah peristiwa seismik tunggal pada 2011.

Namun, Kioka dan rekannya masih belum mengetahui bagaimana karbon yang dibuang ke tempat-tempat terdalam Bumi masuk ke dalam siklus yang lebih luas.

Kendati demikian, zona subduksi seperti Palung Jepang mungkin telah membukakan sedimen karbon jalur yang relatif cepat ke interior Bumi, di mana akhirnya dapat dilepaskan ke atmosfer planet ini sebagai karbon dioksida selama letusan gunung berapi.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Gempa Bolivia 1994 Kuak Keberadaan Gunung Misterius di Bawah Bumi

Sementara itu, sebuah penelitian baru mengungkapkan fitur dunia bawah tanah yang menyerupai struktur di permukaan Bumi. Jauh dari iklim panas yang menggelegak, ternyata ada banyak gunung di dalam planet ini.

Ahli geofisika dari Princeton University di Amerika Serikat dan Chinese Academy of Sciences menggunakan gema gempa besar yang melanda Bolivia pada dua dekade lalu, untuk menyatukan topografi di bawah Bumi.

Pada 9 Juni 1994, lindu bermagnitudo 8,2 mengguncang wilayah Amazon yang berpenduduk jarang di Amerika Selatan. Ini adalah gempa terparah yang pernah melanda Bolivia sepanjang sejarah, dengan guncangan dirasakan hingga ke Kanada.

“Gempa bumi sebesar ini tidak sering terjadi,” kata ahli geografi Jessica Irving, seperti dikutip dari Live Science, Sabtu 16 Februari 2019.

Titik fokus gempa diperkirakan ada di kedalaman di bawah 650 kilometer (sekitar 400 mil). Tidak seperti gempa yang menggiling kerak Bumi, energi dari “monster” ini juga dapat mengguncang seluruh mantel Bumi bak semangkuk jeli.

Getaran gempa itu menjadi salah satu yang pertama diukur pada jaringan seismik modern, memberikan para peneliti rekaman gelombang yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang memantul melalui interior planet kita.

Para periset menggambarkannya seperti gelombang suara ultrasonik yang mampu mengungkapkan perbedaan kepadatan jaringan di dalam tubuh, gelombang besar yang berdenyut melalui cairan di dalam Bumi saat keraknya bergetar, dapat digunakan untuk mengumpulkan bukti tentang apa yang terjadi di bawah Bumi.

Hanya baru-baru ini, para ahli geologi menggunakan penanda dalam gelombang ini untuk menentukan kekakuan inti Bumi. Mereka mengambil keuntungan dari intensitas gempa 1994 untuk mendeteksi hamburan gelombang, ketika guncangan lindu berpindah di antara lapisan dan mengungkapkan rincian batas atau zona transisi.

“Kita tahu bahwa hampir semua benda memiliki kekasaran permukaan dan karenanya menyebarkan cahaya. Itulah mengapa kita dapat melihat benda-benda ini –hamburan gelombang membawa informasi tentang kekasaran permukaan,” kata penulis utama studi ini, Wenbo Wu, seorang ahli geologi di California Institute of Technology.

“Kami menyelidiki gelombang seismik yang tersebar, bergerak di dalam Bumi, untuk membatasi kekasaran batas Bumi sejauh 660 kilometer,” imbuhnya.

Pada kedalaman tersebut, ada pembagian antara bagian bawah mantel yang lebih kaku dan zona atas yang tidak terlalu banyak tekanan, yang menciptakan diskontinuitas yang ditandai oleh munculnya berbagai mineral.

“Lubang terdalam yang pernah kami gali adalah sedalam 12 kilometer (7,5 mil), jadi tanpa terowongan skala Jules Verne, kami tidak tahu seperti apa zona transisi ini. Sampai sekarang,” lanjut Wu menerangkan.

Berdasarkan gelombang yang melintasi batas (zona transisi), para peneliti telah menyimpulkan bahwa titik pertemuan antara bagian atas dan bawah mantel Bumi adalah rangkaian gunung berbentuk zig-zag.

“Dengan kata lain, topografi yang lebih kuat daripada Pegunungan Rocky atau Appalachia ada di batas 660 kilometer,” kata Wu.

Garis ‘bergerigi’ ini memiliki implikasi signifikan bagi pembentukan Bumi. Sebagian besar massa planet kita terdiri dari mantel, jadi mengetahui bagaimana proses percampurannya dan perubahannya dengan mentransfer panas, bisa memberi tahu para ilmuwan tentang cara Bumi berkembang dari waktu ke waktu.

3 dari 3 halaman

Mengetahui Asal Muasal Bumi

Sementara itu, dengan mengetahui perincian gunung bawah tanah ini dapat menentukan nasib berbagai model yang menggambarkan sejarah geologi Bumi, yang terus berubah.

“Apa yang menarik dari hasil ini adalah bahwa mereka memberi kami informasi baru untuk memahami nasib lempeng tektonik kuno yang telah turun ke mantel, dan di mana bahan mantel kuno mungkin masih berada,” Irving menjabarkan.

“Mungkin itu bukan tempat yang mudah untuk dijelajahi, tetapi dunia yang hilang di bawah kaki kita masih menyimpan petunjuk tentang masa lalu umat manusia, jika kita tahu ke mana harus mencari,” pungkasnya.

Penelitian tersebut kini telah dipublikasikan di jurnal ilmiah Science (Anda dapat mengunjungi tautan berikut: science.sciencemag.org/content/363/6428/736).

TGB: Debat Kedua Ibarat Moto GP, Jokowi Ungguli Prabowo di Tiap Tikungan

Jakarta – Korbid Keummatan DPP Partai Golkar TGH Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) mengibaratkan debat capres kedua seolah perlombaan Moto GP. Menurutnya, debat tersebut penuh adu balap yang menegangkan.

“Debat kedua Capres merupakan debat yang sarat informasi dan menukik secara politik. Ibarat balapan Moto GP, kedua pasangan Capres berhasil menyajikan adu balap menegangkan yang cukup spektakuler bagi rakyat Indonesia, khususnya para calon pemilih,” ujar TGB, dalam keterangannya, Senin (18/2/2019).

Meski penuh adu balap, menurut TGB, capres Joko Widodo (Jokowi) mampu memimpin pertandingan. Capres nomor urut 01 itu mampu mengambil kesempatan-kesempatan di tiap tikungan hingga Prabowo Subianto tertinggal jauh.

“Pada jalur lurus, kedua pasangan terasa saling berkejaran ketat, namun pada tiap-tiap-belokan, Pak Jokowi kerap melampaui tarikan gas Capres 02, dan pada belokan-belokan tajam, capres 01 berhasil jauh mengungguli Pak Prabowo. Sehingga menurut saya, Capres 01 memenangkan kembali ajang adu gagasan para calon presiden seri kedua ini,” tuturnya.
Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu mengatakan pada debat kedua ini, tampak terlihat bahwa kebijakan-kebijakan ekonomi yang dikeluarkan Jokowi adalah kebijakan yang genuine dan tulus untuk rakyat. Ditambah lagi, Jokowi menyampaikan argumennya dengan gaya bicara yang singkat, tegas, lugas, dan jernih.

“Bahasa penyampaian beliau tentang upaya penguatan dan pembenahan rantai keberdayaan pangan mulai dari petani, infrastruktur jalan distribusi hasil pertanian, pasar atau market place, hingga aspek bendungan adalah bukti seterang-terangnya bahwa beliau memahami masalah petani dengan sepenuh hati dan akan memberikan harapan baru hingga 2024 bagi swasembada pangan yang menyeluruh, setelah kerja nyata yang dilakukannya. Termasuk pemberdayaan nelayan kita,” papar TGB.

Selain itu, menurut TGB, dalam debat kedua juga tampak jelas Jokowi menguasai materi debat. Misalnya, dari aspek e-commerce, capres nomor urut 01 itu mampu menjelaskan tentang prakondisi hingga kondisi di masa yang akan datang.

Kemudian soal perhutanan sosial dan redistribusi aset, Jokowi juga secara tegas dinilai berkomitmen penuh untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sementara soal konflik agraria, kata TGB, apa yang disampaikan Jokowi memang benar adanya.

“Tentang hal konflik agraria, kalimat Pak Jokowi jelas bahwa khasanah konflik dalam pikiran Presiden adalah resistensi atau penolakan atas pembangunan infrastruktur. Dalam hal ini maka benar adanya tidak ada konflik. Maka istilah ganti rugi diubah menjadi ganti untung. Bahwasanya ada dinamika di lapangan, maka ada hukum yang berlaku dan ada ikhtiar penegakannya dan itu terus berjalan. Hukum tetap ditegakkan. Jangan lalu ini diplintir, dibanting kesana kemari hanya karena Pak Jokowi baru menjabarkan secara terbatas,” ujarnya.

TGB pun lantas memuji sikap Jokowi yang mengaku tidak takut apapun kecuali pada Tuhan demi memajukan bangsa. Menurutnya, hal itu menunjukkan tekad capres yang didukungnya itu untuk membawa Indonesia lebih maju lagi ke depannya.

“Pak Jokowi secara terang benderang mengatakan bahwa beliau tidak punya rasa atau pikiran takut atas apapun kecuali kepada Allah SWT demi memajukan bangsa. Pernyataan tersebut mengandung tekad sekaligus doa bahwa beliau mengetahui sesungguhnya banyak rintangan yang dihadapi selaku pemimpin, namun tidak ada kekuatan dahsyat selain cita-cita rakyat yang bisa memberikan beliau kekuatan dalam menghadap masalah atau tekanan sebesar apapun. Hanya dengan Ridho Allah lah beliau akan lebih kuat lagi bekerja untuk rakyatnya,” kata TGB.

Kendati demikian, TGB juga mengapresiasi Prabowo. Menurut dia, capres nomor urut 02 itu juga telah tampil lebih baik di debat kedua ini.

“Secara umum, Capres 02 pun telah tampil lebih baik. Kita berharap debat capres ini benar-benar dapat menjadi sumber referensi A1 bagi seluruh khalayak rakyat pemilih di Pilpres 17 April kelak. Kita menanti debat ketiga hingga terakhir nantinya, semoga hajatan Pemilu ini bisa menjadi ajang musyawarah kita sebagai negara bangsa untuk memilih pemimpin negeri yang paling tepat dalam membawa Republik Proklamasi 17 Agustus 1945 ini kepada kemajuan dan kesejahteraan bagi kita semua,” pungkasnya.
(mae/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Aceh hingga Belitung… 3 Temuan Harta Karun di Indonesia Menuai Sorotan Dunia

Liputan6.com, Jakarta – Nama Situs Talangpati di Kebumen, Jawa Tengah sejatinya benar-benar nyaris tak terdengar. Tempat yang diduga peninggalan peradaban kuno itu ditemukan pada 2010 lalu.

Dari lokasi tersebut, warga kerap menemukan patahan emas selain batu arca, serta alat dapur kuno (gerabah) menyebar dari mulut ke mulut dan menyebabkan banyak orang menggali peruntungan mencari harta karun terpendam.

Selain temuan emas di Kebumen, sejumlah benda yang ditemukan secara tak sengaja di Indonesia dan dianggap sebagai harta karun juga sempat jadi sorotan dunia.

Berikut tiga di antaranya yang Liputan6.com rangkum dari sejumlah sumber, Minggu (10/2/2019):

1. Kapal Harta di Belitung

Harta karun yang ditemukan di dasar laut Belitung (Wikipedia)

Sebuah kapal layar jenis dhow mengarungi lautan dari Afrika ke China sekitar 830 Masehi. Namun, saat berlayar pulang ia tenggelam di titik 1,6 kilometer dari lepas pantai Pulau Belitung. 

Tilman Walterfang, seorang direktur perusahaan beton asal Jerman ikut andil menemukan harta karun bernilai jutaan dolar itu. Ia menyelam ke dasar lautan.

“Saya mendarat di apa yang tampak seperti bagian terumbu karang biasa,” kata Walterfang kepada majalah Jerman Der Spiegel

“Benar-benar mirip gundukan bawah air seukuran sebuah bukit kecil yang terbentuk dari puluhan ribu keping keramik yang terawat dengan baik.”

Harta karun itu punya makna sejarah besar sehingga pihak Shanghai, Singapura, dan Doha di Qatar saling berlomba untuk membelinya.

Sekitar 60 ribu artefak dikumpulkan tim Walterfang dari dasar laut, termasuk kendi minuman anggur, mangkuk teh dengan pola timbuk dari emas, piala perak, juga piring berusia 1.200 tahun.

Bangkai kapal ini berkontribusi terhadap dua penemuan besar bagi para arkeolog, yakni koleksi artefak tunggal terbesar dari zaman Dinasti Tang yang ditemukan di puing-puing kapal, yang dikenal dengan sebutan “harta karun Tang”.

Yang kedua adalah kapal dhow Arab, yang melahirkan gagasan baru bahwa hubungan perdagangan antara Arab dan Tiongkok telah terjalin pada periode tersebut.


Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 3 halaman

2. Tsunami Aceh Menguak Harta Karun

Adalah Fatimah yang menemukan harta karun ini. Kala itu ia tengah menyisiri rawa-rawa di Desa Gampong Pande, Aceh. Mencari tiram.

Tiba-tiba matanya melihat benda kotak yang teronggok di antara kubangan lumpur. Kotak itu ditutupi koral dan tiram. Saat memukul permukaannya, untuk mengambil tiram, benda itu tiba-tiba terbuka.

Perempuan itu kaget bukan kepalang. Sebab, isi kota tersebut ternyata koin-koin emas yang bertuliskan aksara Arab.

“Koin-koin itu tumpah ketika ia membuka peti itu,” kata Abdullah, penduduk Gampong Pande, seperti dikutip dari Daily Mail, yang memuat artikel itu pada 2013.

Harta karun tersebut ditemukan dekat kuburan kuno yang keberadaannya dikuak gelombang tsunami dahsyat yang melantak Aceh pada 2004. Koin yang ditemukan diperkirakan berasal antara tahun 1200 hingga 1600 Masehi.

Gelombang gergasi mengangkat makam kuno yang berisi jasad penguasa pada Abad ke-13 yang dimakamkan bersama harta benda miliknya.

Sebelum tsunami terjadi, tak ada warga yang berani mengusik makam yang dikeramatkan tersebut. Khawatir arwah mendiang bakal balas dendam.

Namun, pascatemuan tersebut, orang-orang menyerbu Gampong Pande. Membawa peralatan sederhana, mereka juga ingin dapat harta karun.

Koin yang ditemukan kemudian dijual ke penadah yang saat itu mematok harga Rp 800 rupiah tiap keping.

Gempong Pande terletak di bekas wilayah kerajaan Islam pertama di Aceh, yang dipimpin Dinasti Meukuta Alam.

Kerajaan itu kemudian bergabung dengan negeri tetangga, yang diperintah Dinasti Darul Kamal menjadi Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1590-1636).

Selama masa kepemimpinannya, kerajaan tersebut menjalin hubungan diplomatik dengan Inggris, Kekaisaran Ottoman di Turki, dan Belanda.

Antara Abad ke-13 dan ke-17, desa Gampong Pande menjadi semacam sentra industri, yang memproduksi banyak barang, termasuk koin emas.

Kabar penemuan harta karun pascatsunami tersebut menjadi perhatian dunia. Sejumlah media asing mengabarkannya ke seluruh penjuru Bumi.

3 dari 3 halaman

3. Harta Karun Titanic dari Timur

Antara April 2004 dan Oktober 2005, ekskavasi kapal berisi harta karun di kedalaman 56 meter dilakukan dari Pelabuhan Cirebon, antara pulau Kalimantan dan Pulau Jawa. Bahtera itu awalnya dilaporkan para nelayan yang menjala ikan di sekitarnya.

Tumpukan harta karun terbaring di dasar laut Indonesia selama lebih dari 1.000 tahun. Sebanyak 270 ribu objek termasuk kristal, permata, keramik, porselen Tiongkok, mutiara, dan emas ditemukan para penyelam di sebuah bangkai kapal dari Abad ke-10 yang berjarak 80 mil dari Pelabuhan Cirebon, antara pulau Kalimantan dan Pulau Jawa.

Tim penyelam harus melakukan 22 ribu perjalanan dari kapal barang tersebut untuk mengambil muatannya.

Para penyelam ini adalah bagian dari anggota tim hasil kolaborasi antara dua perusahaan, yakni Cosmix Underwater Research Ltd dengan perusahaan lokal, PT Paradigma Putra Sejahtera.

Pemburu harta dari Belgia, Luc Heymans ikut serta dalam pencarian warisan nenek moyang itu.

Di antara benda berharga yang ditemukan adalah batu permata besar yang konon milik Dinasti Fatimiyah.

Berdasarkan catatan sejarah, Dinasti Fatimiyah mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad. Fatimah merupakan putri bungsu Nabi Muhammad dari istri pertama, Khadidjah.

Nilai total harta karun itu pada 2010 diperkirakan Rp 720 miliar. Namun, pelelangan pada tahun itu sepi peminat. Tak ada yang berniat menawar. 

Gara-garanya, tak ada peminat yang menyerahkan uang jaminan sebesar 20 persen dari harga limit atau sekitar US$ 16 juta. Uang jaminan atau deposit itu cukup tinggi karena harta karun itu dilelang dalam satu paket.

“Sekitar 90 persen harta terdiri atas keramik,” kata Aris Kabul, dari pihak komite lelang, seperti dikutip dari BBC

Cirebon adalah destinasi awal para pedagang Muslim di Nusantara. Menurut para ahli sejarah, Islam datang ke wilayah Indonesia pada Abad ke-12. 

Temuan tersebut juga diharapkan memecahkan misteri mengapa raja-raja Jawa Abad ke-10 pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur,  demikian menurut John Miksic, sejarawan maritim di National University of Singapore, seperti dikutip dari New York Times

Indonesia dikenal sebagai ‘kuburan kapal’ pada masa lalu. Baru sekitar 500 bangkai bahtera yang telah ditemukan hingga saat ini, ribuan lainnya masih belum diketahui posisinya. 

Cuaca Hari Ini: Pagi Hujan Lokal Guyur 4 Wilayah Ibu Kota

Liputan6.com, Jakarta – Prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan awan tebal hingga turun hujan terjadi di sebagian wilayah DKI Jakarta pagi ini, Minggu (10/2/2019).

Ada empat titik di Ibu Kota yang bakal diguyur hujan lokal, yaitu Jakarta Barat, Jakarta Selatan, utara dan Kepulauan Seribu.

Hujan yang turun tak bertahan lama. Karena siang hingga malam hari, cuaca di seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya diperkirakan berawan.

Ada pun cuaca di empat kota penyangga Jakarta yang meliputi Depok, Bekasi, Bogor dan Tangerang diprediksi cerah berawan pagi ini. 

Siang harinya, keempat wilayah akan diguyur hujan ringan dan lokal. 

Berikut prakiraan cuaca Jabodetabek selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG, Minggu (10/2/2019):












 Kota   Pagi   Siang  Malam 
 Jakarta Barat  Hujan Lokal  Berawan  Berawan
 Jakarta Pusat  Berawan Tebal  Berawan  Berawan
 Jakarta Selatan  Hujan Lokal  Berawan  Berawan
 Jakarta Timur  Berawan Tebal  Berawan  Berawan
 Jakarta Utara  Hujan Lokal  Berawan  Berawan
 Kepulauan Seribu  Hujan Lokal  Berawan  Cerah Berawan
 Bekasi  Cerah Berawan Hujan Ringan Berawan
 Depok  Cerah Berawan Hujan Ringan Berawan
 Bogor  Cerah Berawan Hujan Ringan Berawan
Tangerang Cerah Berawan Hujan Lokal Berawan
2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: