CVR Masih Dicari, Ini Fakta-fakta FDR Lion Air

Jakarta – Sampai kini Cockpit Voice Recorder (CVR) Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan karawang sampai kini belum ditemukan. Hasil download data Flight Data Recorder (FDR) mengungkap detik-detik pesawat berpenumpang 189 orang itu jatuh.

Pencarian CVR Lion Air PK-LQP masih terus dilakukan. Ping locator sudah mendeteksi posisi terakhir, namun masih ada kendala hilang sinyal.

“Ping locator CVR masih bunyi tadi pagi tim penyelam kami mendengar, kemudian ketika didekati menghilang. Kita tidak tahu apakah itu sinyal ping locator yang kurang bagus atau mungkin CVR nya memang lemah suaranya,” ujar Komandan Satuan Kapal Eskorta (Dansatkor) Koarmada I Kolonel Laut (P) Isswarto, di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (7/11/2018).

Sementara itu, detik-detik jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP terlihat dari data FDR yang telah didownload oleh KNKT bersama pihak Australia. FDR itu menyimpan total data 69 jam penerbangan. Sebagian hasilnya diungkap, yaitu soal rute penerbangan terakhir pesawat nahas itu.

“Kita peroleh data black box ada 69 jam, terdiri dari 19 penerbangan, termasuk penerbangan yang alami kecelakaan, kemudian jumlah parameternya kurang lebih 1.800. Hasil download bisa dilihat ini adalah rute penerbagan berdasarkan FDR,” kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo kepada wartawan di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (4/11).

Data yang didownload memuat detail soal penerbangan Lion Air PK-LQP yang jatuh, mulai dari data parkir pesawat, take off, hingga arah penerbangan ke tenggara dan kemudian jatuh. Rekaman akhir berakhir pada Pukul 23.31 jadi 23.31 tanggal 28 Oktober UTC time, atau 29 Oktober pada pukul 6.31.54 WIB.

“Kita sedang pilah-pilah lagi parameter apa dari 1.800 yang kita butuhkan. Dari sini akan kita analisis apa yang terjadi dengan penerbangan itu,” imbuhnya.

Data FDR juga menunjukkan penunjuk kecepataan atau airspeed indicator Lion Air PK-LQP dinyatakan rusak dalam 4 penerbangan terakhir. Terkait dugaan ini, KNKT akan berkomunikasi dengan pabrik pesawat untuk mencari tahu penyebabnya.

“Bukan masalah, artinya terjadi unreliable dari airspeed-nya. Jadi airspeed-nya terjadi perbedaan antara kiri dan kanan. Kan di pesawat itu ada captain side sama co-pilot side. Nah itu yang dari empat penerbangan terakhir termasuk yang celaka itu kita mengamati ini kok terjadi unreliable speed di indicator-nya,” ucap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono di atas KRI Banda Aceh, Selasa (6/11/2018).

Temuan terbaru KNKT terkait FDR black box Lion Air PK-LQP , adalah sempat adanya kerusakan sensor AOA atau angle of attack. AOA adalah pengukur sudut pesawat terhadap aliran udara.

“AOA itu mengukur sudut pesawat terhadap aliran udara. Jadi, kalau pesawatnya seperti ini (kondisi mendatar), ini nol, tapi kalau pesawatnya naik, nah itu AOA itu berapa derajat terhadap aliran udara akan terbaca,” kata Soerjanto, Rabu (7/11/2018).

Sensor AOA menunjukkan perbedaan pada saat penerbangan sebelum JT 610, yaitu dari Bali ke Jakarta. Dalam penerbangan itu, AOA pesawat PK-LQP sebelah kiri berbeda 20 derajat dengan sebelah kanan.

“Pilot melakukan beberapa prosedur dan akhirnya dapat mengatasi masalah dan pesawat dapat mendarat di Jakarta dengan selamat,” ujar Soerjanto.

Menurut Soerjanto, sensor AOA itu sudah diganti setelah pilot melaporkan adanya kerusakan pada penunjuk kecepatan atau airspeed indicator. Dia menyebut sensor AOA dengan airspeed indicator merupakan satu bagian.

“Jadi kenapa yang rusak penunjuk kecepatan (tapi) yang diganti angle of attack? Karena memang itu satu bagian dari sistem,” ucapnya.
(van/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *