Jimat Terlarang Peserta Tes CPNS

Jakarta – Sedari awal Badan Kepegawaian Negara (BKN) sudah mengingatkan bila peserta seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dilarang membawa jimat saat mengikuti ujian. Namun pada saat pelaksanaan ujian, masih saja ada peserta yang nekat membawanya.

Seperti yang terjadi pada saat Computer Assisted Test (CAT) di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Seorang peserta tes kedapatan membawa bungkusan kain putih yang diselipkan di baju hingga celana dalamnya. Petugas Satpol PP yang memeriksa peserta itu pun ‘menyita’ benda aneh yang diduga jimat tersebut. Bahkan, benda semacam itu tidak hanya didapat dari seorang tetapi belasan peserta tes.

“Itu biasanya memang keyakinan orang Jawa ada saja yang seperti itu,” kata Kabid Mutasi Pegawai BKD Kabupaten Madiun Sri Diana Kusumaningrum.

Benda-benda itu disebut Diana biasanya disembunyikan para peserta di kerah kemeja, sepatu, saku hingga celana dalam. Benda-benda yang dibawa itu berupa kain putih, kayu, dan kertas yang dilipat.

Pelaksanaan tes di Kabupaten Madiun sudah dilaksanakan sejak Sabtu (3/11) hingga Senin (5/11). Berdasarkan pengakuan peserta, Diana menyebut jimat itu dibawa agar lulus tes.

“Oleh panitia barang-barang sudah dibuang. Sebab, sejak awal panitia sudah mengingatkan kepada peserta, agar menitipkan benda berharga kepada saudara atau dititipkan ke tempat penitipan yang sudah disediakan panitia,” ujarnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat BKD Mohammad Ridwan sebelumnya pernah mengingatkan agar para peserta tidak membawa telepon seluler (ponsel) hingga jimat. Bahkan apabila jimat itu mengganggu peserta lain bisa dilaporkan ke polisi.

“Kalau jimat juga aromanya mengganggu jadi seperti itu dibawa ke polisi karena sudah termasuk tindak pidana. Kita juga sudah kerja sama dengan polisi untuk mengamankan,” kata Ridwan, Kamis (25/10).
(dhn/jor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

3 Alternatif Pemerintah soal Tenaga Honorer

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah terus berupaya mencari jalan keluar agar masalah tenaga honorer segera selesai. Deputi II Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho menegaskan, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa ada 735.825 guru honorer yang bekerja di sekolah negeri tanpa ada kepastian status.

“Kepastian status inilah yang ingin diselesaikan dengan opsi status pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K),” kata Yanuar, di Jakarta, Jumat (2/11/2018).

Menurut Yanuar, hingga saat ini Peraturan Pemerintah tentang Manajemen P3K belum terbit. Namun, Presiden sudah meminta agar RPP Manajemen PPPK ini bisa secepatnya diselesaikan.

“Perlu ada diskusi mendalam mengenai konsekuensi anggaran dalam proses penyusunannya,” kata dia.

Yanuar menyebut contoh pengangkatan 438.590 orang Tenaga Honorer Kategori-2 (THK-2) menjadi CPNS secara langsung tanpa ada tes, berpotensi konsekuensi anggaran sebesar Rp 36 triliun per tahun. Angka itu belum termasuk dana pensiun.

“Kalau kita mau berpikir rasional maka penambahan anggaran sebesar itu jelas membutuhkan banyak pertimbangan,” kata Yanuar menegaskan.

Yanuar mengatakan, setidaknya ada tiga alternatif solusi yang digodok Kantor Staf Presiden bersama Kementerian terkait upaya meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

Opsi pertama, membuka solusi CPNS 2018. Opsi ini bisa dipilih untuk penyelesaian isu krusial status tenaga honorer K-2 di bidang tertentu. Kebijakan ini dilakukan secara hati-hati, berbasis pada proses verifikasi dan validasi data yang dilakukan oleh BKD, BKN, Kepala Daerah serta Kementerian PAN dan RB dengan supervisi dari BPKP.

Opsi kedua adalah memberi status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Opsi ini dari aspek tertentu lebih fleksibel dibandingkan dengan PNS. Contohnya terkait Batas Usia Pelamar (di atas usia 35 tahun) sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Karena penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PP Manajemen P3K) dan Perpres tentang jabatan yang dibuka bagi P3K menjadi sangat urgent, karena menjadi payung hukum penyelesaian masalah ketidakjelasan status pegawai dan pengangkatan tenaga honorer.

Ketika Atlet Dibuat Gugup dengan Soal Tes CPNS

Jakarta – Sebanyak 198 atlet berprestasi mengikuti tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di gedung PPPON, Cibubur, Jakarta Timur, Rabu (31/10/2018). Beberapa dari mereka gugup lantaran sudah lama tak baca buku.

Atlet-atlet nasional berseragam saat hadir di PPPON tadi pagi. Mereka mengenakan kemeja putih dipadu rok atau celana hitam, meninggalkan jersey dan kostum pertandingan.

Mereka juga tidak bersama peralatan dan perlengkapan perlombaan. Tidak ada busur panah, senapan, bola, raket, ataupun pedang dan toya.

Pagi tadi, mereka membawa alat tulis. Mereka berjibaku dengan kertas.

“Mereka lebih tegang dibanding ketika akan bertanding. Mungkin karena mereka sudah lama sekali tidak baca soal-soal kewarganegaraan, soal pancasila, wawasan kebangsaan dan sejarah. Mereka sudah beradaptasi dengan suasana baru,” kata menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.

“Tapi saya kira ini adalah pelaksanaan dari undang-undang semua harus dilalui, baik seleksi administrasi ataupun tes Computer Assisted Test (CAT). Itu tetap (harus) dilakukan karena apapun sebagai calon Aparatur Sipil Negara (ASN), harus penuhi prasyarat seperti itu. Meskipun ada kelonggaran karena mereka ini ibaratnya jalur khusus, jalan tol karena prestasinya, maka akan ada pengecualian,” dia menjelaskan.

Rupanya, mereka tengah menjalani tes CPNS. Sebagai apresiasi peraih medali emas SEA Games 2017.

Sulit memang, juga deg-degan, namun mereka menatap kertas itu dengan bungah. Jika lulus, setidaknya, mereka tak lagi pusing setelah pensiun dari atlet nanti.

Satu di antara atlet yang mengikuti tes tersebut Eki Febri Ekawati. Peraih medali emas SEA Games 2017 Malaysia itu menjalani tes keduanya, Tes Kompetensi Dasar (TKD) seleksi CPNS formasi khusus olahragawan berprestasi, Kemenpora.

“Ini tes kedua. Dua pekan lalu tes wawancara sudah sekarang ini tes TKD. Jadi rasanya sudah lama tak ujian lagi gimana kan, biasa di lapangan kan,” kata Eki usai menjalani tes.

Sebelum menjalani tes, Eki mengaku telah mempelajari beberapa pengetahuan dasar. Bahkan di dalam tesnya ada buku panduan lolos tes CPNS.

“Ya, ini berkaitan dengan pengetahuan kita juga. umayan lah tadi. Tadi passing grade saya lumayan tinggi dibanding yang lain. Kalau yang lainnya poinnya rata-rata 280, saya capai 300-an,” tuturnya semringah.

“Inginnya lebih tinggi. Tapi susah juga. Walau begitu ada lah yang dipelajari masuk di dalam soal tadi. Paling susah tadi matematika,” ujar dia.

Pengalaman yang sama dialami atlet peraih medali emas Asian Para Games 2018 Jendi Pangabean. Meski mengaku tak gugup dia sempat kesulitan menjawab soal.

“Tidak gugup, kami sudah biasa. Ini juga formalitas saja tapi harus tes, rileks saja sih,” kata Jendi

“Persiapan ada, tapi tidak banyak. Persiapan sedikit-sedikit baca caranya. Kan tidak mungkin belajar semua,” dia menambahkan.

Jendi berfokus asal lulus dari ujian itu, Dia tak terganggu dengan penempatan setelah menjadi PNS nantinya.

“Ini semua akan ditempatkan di Kemenpora. Kalau nanti selesai jadi atlet, mungkin nanti mau ke mana, ditempatkan di mana bisa juga. Sekarang saya belum ada rencana untuk pindah ke daerah, masih fokus di sini dulu,” kata Jendi.

(mcy/fem)

Jangan Coba-coba Ujian CPNS Pakai Joki

Jakarta – Berbagai cara dilakukan calon pegawai negeri sipil (CPNS) agar lulus mengikuti rekrutmen, termasuk saat ujian seleksi kompetensi dasar (SKD).

Saat melaksanakan tes SKD, peserta ujian CPNS harus bisa menjawab sejumlah soal dengan benar.

Banyak cara yang bisa dilakukan oleh peserta agar mampu menjawab tes dengan benar sebagaimana yang dipersyaratkan. Sayangnya ada juga yang menggunakan cara-cara yang melanggar aturan.

Salah satu kecurangan yang dilakukan yaitu ujian menggunakan joki, seperti dirangkum detikFinance berikut ini.

(ang/ang)

Buruan Cek, Jadwal dan Lokasi SKD CPNS Kemendikbud 2018

Kemendikbud juga merilis tata tertib pelaksanaan SKD seperti tertulis pada Pengumuman Nomor: 77269/A.A3/KP/2018 tentang Daftar Peserta, Waktu, dan Tempat Seleksi Kompetensi Dasar pada 20 Lokasi dalam Rangka Penerimaan Calon Pegawai Negeri sipil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2018.

Berikut beberapa ketentuannya:

a. Peserta yang dapat mengikuti SKD adalah peserta yang namanya tertuang dalam daftar hadir dan terdaftar pada tanggal, lokasi, dan sesi tes yang telah ditentukan

b. Peserta hadir paling lambat 60 (enam puluh) menit sebelum tes dimulai

c. Peserta yang terlambat tidak diperkenankan masuk untuk mengikuti seleksi (dianggap gugur)

d. Peserta berpakaian sopan dan rapi, dengan ketentuan:

1. Pria: atasan kemeja putih polos berkerah, celana panjang berbahan kain warna hitam polos, dan tidak diperkenankan menggunakan sandal/sepatu sandal

2. Wanita: atasan kemeja putih polos berkerah, rok/celana panjang berbahan kain warna hitam polos, kerudung hitam polos (bagi yang berhijab), serta tidak diperkenankan menggunakan sandal/sepatu sandal

e. Peserta wajib membawa dokumen untuk ditunjukkan kepada Panitia, antara lain:

1. Cetakan (print out) Kartu Peserta Ujian CPNS

2. KTP (eKTP) asli atau asli Surat Keterangan telah melakukan perekaman kependudukan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil/Kecamatan bagi yang belum memiliki eKTP.

Bagi peserta yang tidak membawa KTP asli karena hilang, wajib menunjukkan Kartu Keluarga asli yang mencantumkan NIK sesuai dengan yang terdaftar di Sscn BKN.

Bagi peserta yang NIK pada KTP-nya berbeda dengan NIP pada Kartu Peserta ujian, wajib menunjukkan surat keterangan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil/Kecamatan dan identitas asli seperti Sim atau Paspor.

Polisi Bongkar Sindikat Joki Tes CPNS Berskala Nasional

Makassar – Enam orang joki tes seleksi CPNS Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia (Kemenhunkam) berhasil diamankan Polda Sulsel. Keenam pelaku adalah Musriadi, Dokter Wahyudi, Martin Tumpak, Ahmad Lutfi, Hamdi Widi, dan Adi Putra. Penangkapan dilakukan secara bergiliran saat pelaksanaan tes CPNS di Aula Kantor RRI, Jalan Riburane, Kota Makassar, Minggu (28/10) kemarin.

Awalnya yang berhasil ditangkap empat joki. Setelah perhatikan, verifikasi antara berkas dengan nomor registrasi peserta sampai KTP-nya, ternyata berbeda.

“Gambar wajahnya berbeda dengan joki ini. Setelah itu kami amankan dan mereka mengakui,” kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani dalam jumpa pers di Mapolrestabes Makassar seperti dikutip laman Jawapos.com, Senin (29/10/2018).

Keempat joki yang ditangkap adalah Martin Tumpak, Ahmad Lutfi, Hamdi Widi dan Adi Putra. Dari hasil pemeriksaan keempatnya, polisi kemudian menangkap Musriadi yang merupakan peserta tes seleksi CPNS. Serta menangkap Dokter Wahyudi yang berperan sebagai broker atau penghubung.

“Ternyata setelah kami melakukan penyelidikan dari Wahyudi, kami dapatkan hasil kalau yang bersangkutan berperan untuk memfasilitasi joki untuk bekerja menggantikan peserta asli,” jelasnya.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Irwan Anwar menambahkan, Dokter Wahyudi sendiri menjabat sebagai Kepala Tenaga Kesehatan di Unit Pelaksana Tugas (UPT) salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Makassar.

“Jadi yang bersangkutan membuka praktik semacam les privat untuk tes seleksi CPNS. Musriadi kemudian meminta kepada yang bersangkutan untuk dibantu temannya supaya bisa lulus tes. Yang bersangkutan mencarikan empat joki untuk menggantikan peserta, temannya Musriadi ini,” jelas Irwan.

Keempat joki tersebut merupakan lulusan dari universitas ternama di lndonesia. Hasil penyelidikan ditemukan fakta bahwa mereka merupakan sindikat joki nasional.

“Kami periksa lebih dalam, ternyata mereka bukan kali ini saja melakukan aksinya. Dalam beberapa tahun terakhir setiap tes penerimaan CPNS, mereka bertugas juga sebagai joki. Itu di wilayah Indonesia,” ucap Irwan.

Setiap joki mendapat imbalan Rp 10 juta hingga Rp 40 juta apabila peserta dinyatakan lulus. Jika tidak, joki hanya mendapat 50 persen. Sementara Dokter Wahyudi sebagai broker mendapat imbalan Rp 125 juta hingga Rp 150 juta.

Sejauh ini, polisi masih melakukan upaya pendalaman. Tujuannya untuk mencari pelaku lain yang diduga masih berada dalam satu jaringan joki nasional.

Selain menahan para pelaku, polisi menyita seluruh barang bukti berupa berkas adiministasi. Akibat perbuatan melawan hukumnya, pelaku disangkakan melanggar pasal 263 ayat 1 dan 2, juncto pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 6 tahun.

Simak juga berita Jawapos.com lainnya di sini.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat mulai ditemukan.

MenpanRB Sebut Pendaftaran CPNS Didominasi Milenial

Liputan6.com, Jakarta – Sebanyak 3,8 juta orang telah mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi (Menpan RB) Syafruddin mengatakan ratusan ribu CPNS didominasi oleh para milenial.

“Dalam penerimaan CPNS yang sekarang ini yang mendaftar itu 3,8 juta dan yang pasti itu 100 persen kaum milenial, tidak ada kaum tua seperti saya,” kata Syafruddin dalam sebuah acara seminar bertajuk Milenial Fest di Djakarta Theater, Jakarta, Minggu (28/10/2018).

Syafruddin berharap para milenial ini bisa memberi kontribusi besar bagi Indonesia, khususnya di bidang birokrasi dan aparatur sipil negara (ASN).

“Ada harapan di sana, kaum milenial bisa memberikan konstribusi besar kepada bangsa Indonesia terutama SDM aparatur negara. Ada penghasilan yang tetap. Bisa berimprovisasi, bisa berinovasi, paling tidak ada pensiunnya, ada masa depannya,” ucap Syafrudin.

Syafruddin menekankan generasi milenial dan kemampuannya memahami teknologi menjadi kunci utama dalam reformasi birokrasi. Ia juga optimistis formasi CPNS yang diisi kaum milenial bisa meningkatkan daya saing negara di mata internasional.

“Sekarang di posisi 54, kita akan kejar. Saya yakin dengan masuknya kaum muda itu akan berubah bisa naik 10 grade,” terang Syafruddin.

Cerita Ibu di Tasikmalaya Menyusui saat Ikuti Tes CPNS

Liputan6.com, Tasikmalaya – Sebanyak 31 ribu lebih peserta tes CPNS di Tasikmalaya, Jawa Barat, berkumpul dan antre  sejak pagi. Tak sedikit dari peserta adalah mereka yang sudah berkeluarga sehingga banyak yang datang sambil membawa anak.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Minggu (28/10/2018), keluarga pun ikut menemani untuk menjaga anak-anak saat ujian berlangsung. Peserta yang membawa bayi harus membagi konsentrasi antara ujian dan menyusui. Apalagi, tidak ada ruang untuk menyusui.

Di Kota Metro, Lampung, tes CPNS juga digelar. Namun tes yang seharusnya dimulai sesuai dengan jadwal yang ditentukan, terpaksa ditunda karena sistem komputer mengalami kendala.

Pada sesi tes pertama ini, peserta seharusnya dibagi menjadi tiga sesi dengan 350 peserta. Namun, sistem sempat bermasalah sehingga para peserta harus menunggu perbaikan teknis.

Dua peserta tes CPNS dari daerah Mesuji dinyatakan gugur oleh panitia dikarenakan tidak hadir saat sesi tes pertama. (Rio Audhitama Sihombing) 

Asa Menimang Bayi Merah di Hutan Gunung Gumitir Pupus

Liputan6.com, Jember – Harapan Edy Purnomo (33) menimang bayi merah yang ditemukannya di kawasan hutan lindung Gunung Gumitir, Dusun Mrawan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pupus. Sopir truk pengangkut pasir itu mendapat kabar sang bayi telah berpulang.

Jumat (26/10/2018) siang, penyidik Resrkrim Polsek Sempolan mendapat kabar bayi laki-laki itu telah meninggal dunia di RSD Genteng Kabupten Banyuwangi, Jawa Timur, setelah tiga hari menjalani perawatan.

“Saya baru mendapatkan informasi bayi itu Jumat siang. Dalam keterangan dokter RSD Genteng, bayi itu meninggal Kamis kemarin,” tutur Kanit Reskrim Polsek Sempolan, Aipda Zaki Muttaqin kepada Liputan6.com, Sabtu (27/10/2018).

Zaki pun mendatangi rumah sakit untuk memastikan kabar soal sang bayi yang sudah berumur 6 hari itu. Penyebab kematian bayi yang belum diberi nama itu juga masih didalami.

Sementara sopir truk pengangkut pasir, Edy pornomo masih sedih. Dia mengaku teringat saat menemukan bayi tersebut dibawah pohon pinggir jalan raya Gunung Gumitir Dusun Mrawan Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember Jawa Timur, Senin sore (22/10/2018).

Edy mengemudikan truk dari arah barat jalan Gunung Gumitir, mengangkut pasir ke arah timur, menuju Banyuwangi. Namun saat melewati kilometer 34, Edy berhenti karena mencium bahu kampas rem roda.

Edy pun mencari tempat parkir untuk mengecek kondisi ban truknya. Setelah dicek, ternyata kedua roda belakang panas, sehingga harus istirahat sementara waktu, untuk mendinginkan suhu ban. Sambil menunggu mendinginkan ban, Edy keluar truk dan duduk-duduk santai disekitar lokasi penemuan.

Awalnya, Edy tidak yakin ada bayi di kawasan hutan lindung perhutani. Namun karena suara tangis semakin kencang, dia terus mencarinya. Bayi ditemukan sudah dalam kondisi dibungkus dengan kain dan masih dalam keadaan hidup.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Saat tes CPNS tak sedikit pesertanya yang membawa anak ataupun ditemani keluarga. Bahkan, seorang ibu rela menyusui anaknya di saat ujian karena si bayi menangis.