Dituduh Rekayasa Survei, Yunarto ‘Charta Politika’ Laporkan 5 Akun Medsos

Jakarta – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya melaporkan lima akun media sosial ke Bareskrim Polri. Yunarto mengaku diteror dan dituding melakukan rekayasa hasil survei Pilpres 2019 dengan chat palsu.

“Hari ini sebenarnya menyelesaikan atau merampungkan laporan saya terkait dengan pembuatan chat palsu yang disebarkan oleh beberapa akun yaitu akun Instagram, maupun di Facebook, maupun di Twitter dan penyebarannya lewat WhatsApp,” kata Yunarto di Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019).

Yunarto menuturkan teror dan tersebarnya chat palsu berisi seolah-olah percakapan dirinya dengan seseorang yang disebut jenderal itu terjadi 3 hari sebelum hari pencoblosan atau 14 April 2019. Keesokannya, dia membuat laporan ke Bareskrim, namun masih perlu melampirkan bukti-bukti.
“Sebenarnya sudah terjadi 3 hari sebelum pemilu dan yang paling mengganggu adalah nomor telepon saya diumbar ke mana-mana, lalu juga dengan beberapa fitnah terkait dengan chat palsu. Seakan akan saya membuat survei, berkomunikasi dengan orang yang saya nggak ngerti maksudnya siapa, tapi ada kalimat ‘Siap 86, jenderal. Sudah diamankan’, sesuatu seperti itulah,” ujarnya.

Nama-nama akun yang dilaporkan Yunarto antara lain akun Twitter @silvy_Riau02, @sofia_ardani, @sarah ahmad, @rif_opposite dan akum Facebook Ahmad Mukti Tomo.

“Setelah hasil quick count keluar, sampai sekarang diramaikan lagi. Jadi bahkan bahasa survei itu seakan-akan dianggap menjadi quick count yang diarahkan. Itu aja sudah nggak nyambung sebetulnya,” kata Yunarto.

Dia merasa kehidupan pribadinya terganggu dengan tersebarnya nomor ponsel. Dia pun merasa kredibilitas dirinya dan lembaganya terganggu dengan chat palsu tersebut.

Kelima akun tersebut dilaporkan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik melalui media elektronik dengan ancaman Pasal 27 ayat (3) juncto Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Nomor 19/2016 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 11/2008 tentang ITE, pencemaran nama baik dengan Pasal 310 dan 311 KUHP.

Laporan Yunarto teregistrasi di Bareskrim Polri dengan nomor LP/B/0382/IV/2019/BARESKRIM tertanggal 14 April 2019.
(aud/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Yunarto ‘Charta Politika’ Diteror Usai Quick Count, Polri: Silakan Melapor

Jakarta – Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengaku diteror lewat pesan WhatsApp dan telepon setelah pengumuman hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019. Polisi mempersilakan Yunarto untuk melapor.

“Harus melapor kalau merasa hak privasinya terganggu, dengan ancaman-ancaman seperti itu,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dihubungi, Sabtu (20/4/2019).

Dedi mengatakan laporan resmi yang dibuat Yunarto akan membantu polisi dalam proses penyelidikan. Polisi, menurut Dedi, nantinya akan meminta klarifikasi kepada Yunarto terkait bentuk ancaman yang diterima.

“Harus lapor, ancaman itu kan berupa apa, ancaman berupa narasi, ancaman berupa verbal, itu harus diminta klarifikasi,” ujarnya.

Selain itu, Dedi menjelaskan mengenai konten hoax dan provokatif di media sosial yang meningkat beberapa hari terakhir ini. Polri disebut Dedi sudah bekerja sama dengan Kemenkominfo dan BSSN untuk menangani konten-konten tersebut.

“Kalau di media sosial sudah dideteksi, akun-akun yang menyebarkan konten-konten yang sifatnya hoax, sifatnya provokatif, sifatnya negatif, itu sudah dideteksi. Dari mulai hari Rabu kemarin sampai hari ini. Langkah-ngkah mitigasi, kerja sama dengan Kemenkominfo dan Badan Siber Sandi Negara (BSSN) mentake down. Untuk proses penyidikan masih perlu pendalaman beebrapa alat bukti, kalau sudah cukup ya nanti kepolisian akan melakukan langkah penegakan hukum,” ujarnya.

Sebelumnya, Yunarto mengaku mendapat pesan dan telepon bernada ancaman setelah pengumuman hasil quick count Pilpres 2019. Dia mengaku sudah mem-block ratusan telepon yang ‘meneror’ dirinya.

“Sudah seratus lebih nomor saya block dalam 2 hari,” kata Yunarto lewat pesan singkat, pagi tadi.

Salah satu pesan yang diterima Yunarto menuduh dirinya sudah berbuat curang. Pesan itu juga mencaci maki Yunarto dengan kata-kata kasar.

Terkait ancaman itu, Yunarto masih mempertimbangkan sejumlah hal sebelum melaporkan kasus itu ke polisi. Dia menyebut pesan ancaman yang diterimanya merupakan mainan dari para provokator.

“Kita lihat kondisi dulu saja, saya percaya semua pihak ingin situasi damai kok, ini cuma mainan provokator saja,” imbuh dia.
(knv/hri)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hasil Quick Count Pilpres 2019 Charta Politika 98,15%: Jokowi 54,31%, Prabowo 45,69%

Liputan6.com, Jakarta – Proses quick count atau hitung cepat Pilpres 2019 menuju titik final. Berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), hasil quick count dapat diumumkan mulai pukul 15.00 WIB.

Hasil quick count Charta Politika pada pukul 01.40 WIB, total suara masuk 98,15 persen, dengan rincian sebagai berikut:

Nomor Urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin: 54,31 Persen

Nomor Urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno: 45,69 Persen.

Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

QC Sementara Charta Politika: Semua Partai Baru Diprediksi Gagal ke DPR

Jakarta – Berbagai lembaga survei menggelar hitung cepat (quick count) seusai pemungutan suara Pemilu 2019, salah satunya lembaga survei Charta Politika. Hasil sementara quick count Charta Politika untuk Pileg 2019 mencatat tak ada partai baru yang menembus ambang batas parlemen 4%

Hingga pukul 21.52 WIB, data Pileg yang masuk ke quick count Charta Politika sebesar 85,2%. Berikut hasilnya:

– PDIP 19,96%
– Gerindra 12,69%
– Golkar 11,04%
– PKB 9,59%
– PKS 9,02%
– NasDem 7,86%
– Demokrat 7,85%
– PAN 6,99%
– PPP 4,66%
– Perindo 2,75%
– PSI 2,16%
– Berkarya 1,98%
– Hanura 1,68%
– PBB 1,02%
– Garuda 0,53%
– PKPI 0,27%
Suara Masuk 85,2%

Quick count atau hitung cepat adalah metode verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Hasil quick count ini merupakan hasil sementara. Hingga saat ini, data terbaru masih masuk ke lembaga survei yang mengadakan quick count.

Data quick count bukan hasil resmi Pemilu 2019. Hasil resmi Pemilu menunggu penghitungan suara secara manual dari KPU.
(fai/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Prediksi Charta Politika di 2014 vs Jelang Pilpres 2019

Jakarta – Lembaga survei Charta Politika mengeluarkan prediksi akhir Pilpres 2019. Mereka memprediksi pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin akan menang telak atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pada pilpres 2014 lalu Charta Politika juga merilis survei serupa. Namun, survei tersebut dirilis sehari sebelum pencoblosan.

Hasilnya menunjukkan elektabilitas Jokowi-JK unggul tipis di atas pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Selisihnya hanya 4,1%

“Dari sisi elektabiltas, Jokowi-Kalla masih mengungguli Prabowo-Hatta. Jokowi-JK akan dipilih oleh 49,2% responden, sedangkan Prabowo-Hatta dipilih oleh 45,1% responden. Sisanya, 5,7% belum menentukan pilihan,” kata Direktur Utama Charta Politika, Yunarto Wijaya, dalam rilis survei di Hotel Sofyan Betawi, Jl Cut Mutia No 09, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/7/2014).

Baca Juga: Peta Kekuatan Prabowo vs Jokowi di H-1 Pilpres

survei opini publik skala nasional ini pada 3-6 Juli 2014 melalui wawancara tatap muka (face to face interview). Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang telah mempunyai hak pilih dalam pemilu atau telah berusia 17 tahun ke atas ketika survei dilakukan. Jumlah sampel pada survei ini sebesar 1.200 responden dengan margin of error (MoE) sebesar +/- 2.83% pada tingkat kepercayaan 95%.

Di Pilpres 2019 ini, survei terbaru Charta Politika diumumkan 23 hari sebelum pencoblosan. Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf unggul dengan 53,6% sedangkan Prabowo-Sandiaga mendapat angka 35,4%. Sebanyak 11% responden tidak tahu atau tidak menjawab.

Survei itu dilaksanakan pada 1-9 Maret 2019. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka terhadap 2.000 responden di 34 provinsi. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,19% dan tingkat kepercayaan 95%.

Baca Juga: Prediksi Hasil Akhir Pilpres Versi Charta: Jokowi dan Prabowo Selisih 20,4%

Namun, jika dilihat dari hasil sebelumnya, tren elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres meningkat. Charta Politika lantas melakukan ekstrapolasi sebagai prediksi akhir Pilpres 2019. Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf menang telak atas Prabowo-Sandiaga dengan selisin 20,4%.

“Dengan perolehan elektabilitas tersebut di atas, ketika dilakukan ekstrapolasi maka menghasilkan perolehan suara Joko Widodo-Ma’ruf Amin dipilih oleh (60,2%) mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (39,8%),” demikian rilis Charta Politika, Senin (25/3/2019).

Survei akhir Charta Politika pada Pilpres 2014 memang tidak meleset jauh dari perolehan suara sebenarnya. Pada Pilpres 2014 perolehan suara Jokowi-JK 53,15% persen sedangkan Prabowo-Hatta 46,85%. Selisihnya hanya 6,3%.

Lantas apakah prediksi kali ini akan tepat atau bakal ada kejutan di last minutes?
(zak/van)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Charta Politika: Jokowi Ungguli Prabowo di DKI Jakarta dan Banten

Jakarta – Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) mengungguli Prabowo Subianto di wilayah DKI Jakarta dan Banten. Berdasarkan survei Charta Politika elektabilitas Jokowi unggul tipis 2,2 persen dari Prabowo.

Survei ini dilaksanakan pada tanggal 1-9 Maret 2019. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 2.000 responden di 34 provinsi. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,19 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

“DKI Jakarta dan Banten, Jokowi-Ma’ruf Amin 44,2 persen, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 40 persen,” demikian hasil survei Charta Politika yang dirilis Senin (25/3/2019).

Dalam survei khusus untuk wilayah DKI Jakarta dan Banten itu, Charta Politika mencatat ada 15,8 responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

Sebelumnya, secara keseluruhan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf meninggalkan jauh pasangan Prabowo-Sandiaga. Selisihnya mencapai 15 persen.

“Pada pengujian tingkat elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dipilih oleh 53,6 % mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 35,4 %,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, di kantor Charta Politika, Jalan Cisanggiri III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Charta Politika juga mencatat kedua pasangan capres-cawapres mengalami kenaikan suara dibandingkan survei sebelumnya. Dalam survei yang dilakukan pada Januari, Jokowi-Ma’ruf memperoleh suara 53,2 persen dan Prabowo-Sandi sebesar 34,1 persen.
(zak/aan)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi Diprediksi Menang di Survei Charta Politika, TKN: Target Kami 70%

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin merasa bersyukur dengan hasil survei Charta Politika yang memprediksi kemenangan pasangan nomor urut 01 itu. Meski demikian, TKN menargetkan meraih suara hingga 70%.

“Kami bersyukur. Alhamdulillah atas keunggulan Pak Jokowi dalam survei ini. Tentu saja hasil survei ini membuat kami tidak puas karena target kami menang mutlak. Setidak-tidaknya mampu mencapai 70%,” kata Wakil Sekretaris TKN Ahmad Rofiq kepada wartawan, Senin (25/3/2019).

Rofiq mengatakan pihaknya akan memaksimalkan upaya pemenangan. Para kader partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf disebutnya akan terus berusaha melipatgandakan dukungan dari masyarakat dengan sosialisasi 3 ‘kartu sakti’ Jokowi.
“Akan banyak hal yang terjadi di masyarakat. Setelah Pak Jokowi menyampaikan akan melawan fitnah, melawan hoax, melawan ketidakbenaran. Ini akan membuat rakyat berbalik memberikan dukungan penuh. Rakyat akhirnya tahu kalau Pak Jokowi selama ini dikuyo-kuyo (dizalimi) oleh pihak sebelah,” jelas politikus Partai Perindo itu.
Sementara itu, juru bicara TKN Ace Hasan Syadzily mengatakan pihaknya tidak akan terlena dengan hasil survei Charta Politika. Menurutnya, akan banyak hal yang bisa terjadi dalam sisa masa kampanye, termasuk suara undecided voters.

“Masih adanya undecided voters dalam survei Charta Politika itu harus kami pastikan bahwa yang undecided tersebut kita harapkan bisa memilih kami. Yang kedua, kami berharap juga masyarakat tidak melalukan golput ya. Karena potensi golput itu bisa saja merugikan bagi proses demokrasi kita,” ujar Ace di gedung DPR, Senayan, Jakarta, hari ini.

Meskipun demikian, Ace yakin pilpres kali ini akan dimenangkan oleh Jokowi-Ma’ruf dan menargetkan hingga 70 persen suara. Politikus Golkar ini menginginkan kemenangan besar karena melihat dukungan kepada Jokowi juga lebih besar dari Pilpres 2014.

“Sekali lagi, bagi kami survei yang memenangkan kami itu harus menjadi cambuk buat kami agar kami tetap waspada, kami harus tetap kerja keras agar tren kenaikan kemenangan ini terus kami rawat dan terus kami tingkatkan,” jelas Ace.

Sebelumnya, lembaga survei Charta Politika memprediksi Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin menang atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam survei tersebut, dilihat dari hasil sebelumnya, tren elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres mengalami peningkatan.

Survei itu dilaksanakan pada tanggal 1-9 Maret 2019. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 2.000 responden di 34 provinsi. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,19% dan tingkat kepercayaan 95%.

Periode Maret 2019, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 53,6% sedangkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat angka 35,4%. Sebanyak 11% responden tidak tahu atau tidak menjawab. Charta Politika lantas melakukan ekstrapolasi sebagai prediksi akhir Pilpres 2019.

“Dengan perolehan elektabilitas tersebut di atas, ketika dilakukan ekstrapolasi maka menghasilkan perolehan suara Joko Widodo-Ma’ruf Amin dipilih oleh (60,2%) mengungguli Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (39,8%),” tulis Charta Politika dalam rilisnya.
(azr/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Charta Politika: Jokowi Kuasai Jawa, Prabowo Kuat di Sumatera

Jakarta – Charta Politika mengeluarkan hasil survei terbaru terkait Pilpres 2019 berdasarkan pemetaan kekuatan pasangan capres-cawapres. Hasilnya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul di 7 dari 9 wilayah yang menjadi sampel.

“Dari segi wilayah, Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul di hampir semua wilayah, kecuali di wilayah Sumatera di mana Pranowo Subianto-Sandiaga Uno unggul,” kata Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya di kantor Charta Politica, Jalan Cisanggiri III, Jakarta, Senin (25/3/2019).

Survei ini dilaksanakan pada tanggal 1-9 Maret 2019. Survei dilaksanakan dengan wawancara tatap muka pada 2.000 responden di 34 provinsi. Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling dengan margin of error 2,19 % dan tingkat kepercayaan 95 %.

Dalam survei itu, Prabowo-Sandi memperoleh suara 48,3 persen di Sumatera sedangkan Jokowi-Ma’ruf meraih 43,3 persen. Yunarto menyebut kekuatan terbesar Prabowo di Sumatera ada di Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Selatan.

“Daerah tempur ada di Sumut, Jambi, Bengkulu, dan Babel,” ujarnya.

Terkait kekuatan di Jawa, Jokowi masih kuat di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Perolehan suara Jokowi-Ma’ruf di wilayah itu mencapai 68 persen.

Berikut hasil survei Charta Politika terkait pilpres berdasarkan pembagian wilayah:

Sumatera:

Jokowi-Ma’ruf 43,3
Prabowo-Sandiaga 48,3
Tidak menjawab 8,5

DKI Jakarta & Banten:

Jokowi-Ma’ruf 44,2
Prabowo-Sandiaga 40,0
Tidak menjawab 15,8

Jawa Barat

Jokowi-Ma’ruf 47,4
Prabowo-Sandiaga 42,3
Tidak menjawab 10.3

Jawa Tengah & DIY

Jokowi-Ma’ruf 68,1
Prabowo-Sandiaga 18,4
Tidak menjawab 13,4

Jawa Timur:

Jokowi-Ma’ruf 56,9
Prabowo-Sandiaga 30,9
Tidak menjawab 12,2

Bali, NTB & NTT:

Jokowi-Ma’ruf 64,5
Prabowo-Sandiaga 28,2
Tidak menjawab 7,3

Kalimantan:

Jokowi-Ma’ruf 58,4
Prabowo-Sandiaga 32,8
Tidak menjawab 8,8

Sulawesi:

Jokowi-Ma’ruf 53,6
Prabowo-Sandiaga 33,6
Tidak menjawab 12,9

Maluku & Papua:

Jokowi-Ma’ruf 57,1
Prabowo-Sandiaga 32,9
Tidak menjawab 10.0
(abw/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi vs Prabowo di 5 Survei Terakhir

Jakarta – Hari pencoblosan pemilu presiden 2019 tinggal menghitung hari, alias kurang dari 50 hari lagi. Mengacu pada survei, diketahui sejumlah orang telah menentukan pilihannya, sedangkan sejumlah orang lain masih berstatus ‘swing voters’.

Dalam lima survei terakhir, calon Presiden nomor urut 01, Joko Widodo, unggul dari rivalnya yakni capres Prabowo Subianto. Survei-survei tersebut digelar pada periode Januari-Februari 2019.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, Kamis (28/2/2019), lima survei terakhir yang mengukur elektabilitas Jokowi dan Prabowo antara lain Survei Cyrus Network, Indomatrik, Celebes Research Center (CRC), Median, dan Charta Politika.
Di hasil survei Cyrus Network, CRC, dan Charta Politika, Jokowi meraih elektabilitas di atas 50 persen. Sedangkan di survei Indomatrik dan Median, elektabilitas Prabowo dan Jokowi terpaut lebih tipis dibanding tiga survei lain.
Berikut hasil lima survei tersebut selengkapnya:

1. Survei Cyrus Network

Waktu: 18-23 Januari 2019
Jumlah responden: 1.230
Hasil:
– Joko Widodo-Maruf Amin: 57,5 persen.
– Prabowo Subianto-Sandiaga: 37,2 persen
– Belum memutuskan dan tidak menjawab: 5,3 persen.

2. Survei Indomatrik

Waktu: 21-26 Januari 2019
Jumlah responden: 1.800
Hasil:
– Joko Widodo-Ma’ruf Amin 47,97%
– Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 44,04%
– Swing voters 7,99%

3. Survei Celebes Research Center (CRC)

Waktu: 23-31 Januari 2019
Jumlah responden: 1.200
Hasil:
– Jokowi-Ma’ruf Amin 56,1%
– Prabowo Subianto-Sandiaga Uno 31,7%
– Tidak tahu atau tidak menjawab 12,2%

4. Lembaga Survei Median

Waktu: 6-15 Januari 2019
Jumlah responden: 1.500
Hasil:
– Jokowi-Ma’ruf Amin: 47,9%
– Prabowo-Sandiaga: 38,7%
– Undecided voters: 13,4%

5. Survei Charta Politika

Waktu: 22 Desember 2018-8 Januari 2019
Jumlah responden: 2.000
Hasil:
– Jokowi-Ma’ruf Amin: 53,2%
– Prabowo-Sandiaga: 34,1%
– Belum memutuskan/tidak menjawab: 12,7%
(rna/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Yunarto: Secara Teknis Jokowi Unggul, Prabowo Seperti Orasi

Jakarta – Setelah mengamati segmen pertama debat Pilpres 2019, pakar politik Yunarto Wijaya menilai Jokowi unggul secara teknis. Seperti apa analisanya?

“Babak satu secara teknis jelas Jokowi lebih unggul dari data pencapaian, sisi emosi juga. Cuma ada slip of tongue dan ada jeda 3 detik waktu bicara soal lingkungan hidup,” kata pakar politik Universitas Paramadina Yunarto Wijaya, kepada wartawan, Minggu (18/2/2018).

Segmen pertama debat berisi penyampaian visi-misi. Dibandingkan debat pertama, keduanya dinilai lebih rileks.

Prabowo menggunakan pendekatan searah seperti sedang menggunakan orasi. Pilihan kalimatnya tidak seperti penyampaian visi-misi,tapi bicara langsung kemandirian, kekayaan yang dikuasai asing dan lain sebagainya,” kata Yunarto.

“Apakah pilihan tepat? secara debat tidak tepat tapi untuk membakar emosi pendukung cukup efektif. Jadi yang masih dipilih bahasa yang bombastis, dikotomis asing dengan Indonesia , jadi mirip gaya Prabowo selama ini,” kata direktur eksekutif Charta Politika ini.

Sementara Jokowi menurut Yunarto langsung bicara visi Indonesia maju. “Jokowi kita lihat masuk ke dalam pembicaraan visi indonesia maju langsung satu persatu yang jadi bahan pembicaraan. Jokowi menyadari incumbent dan strategi menyerang adalah pertahanan terbaik, sehingga di awal membuat benteng, sulit prabowo melakukan serangan-serangan,” ujarnya menganalisis.
(van/fjp) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>