Cerita-cerita duka Korban Lion Air PK-LQP

Jakarta – Tim DVI Mabes Polri sudah menyerahkan tiga jenazah korban Lion Air PK-LQP yang teridentifikasi pada Sabtu (3/11) ke keluarga masing-masing. Tangis haru keluarga korban mengiringi kegiatan penyerahan jenazah.

Penyerahan itu dilakukan di depan ruang Instalasi Kedokteran Forensik RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (3/11/2018) malam. Tak kuat menahan haru, salah seorang perempuan dari pihak keluarga pingsan.

“Kami akan serahkan dan surat kematian jenazah pertama kepada pihak keluarga Endang Sri Bagusnita, Fauzan Azami, dan Wahyu Susilo,” ujar Wakil Kepala RS Polri Kombes Hariyanto dalam penyerahan itu.

Kondisi pihak keluarga korban juga diceritakan Kepala tim pendampingan Psikologis Polri Kombes Rudatin. Dia menyebut masih ada pihak keluarga yang belum menerima kenyataan.

“Ada empat orang yang jadi perhatian saya ketika keluarganya sampai saat ini belum bisa terima kenyataan sampai ada yang keluarga mulai kemarin sore bilang, ‘Iya deh, Bu, saya terima kenyataan ini’,” kata Rudatin di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Sabtu (3/11).

Rudatin menyebut para korban sangat sedih dan butuh perlindungan serta pendampingan. Dia juga menyebut ada beberapa korban yang takut terhadap kamera.

“Mereka itu butuh perlindungan. Ketika mereka nggak mau diwawancara, mereka bahkan ada yang melihat kamera, takut, bahkan saya meminta kepada teman Polwan untuk nggak foto-foto di sana. Teman-teman, saya minta, kami sepakat untuk nggak memperlihatkan foto (kamera), karena ada dua orang yang melihat HP itu mereka langsung nangis, itu ada,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Harian Pendampingan RS Polri Kombes Rachmawati menyebut sejak hari pertama dibukanya posko di RS Polri, sudah ada enam pasien dari keluarga korban yang dirujuk ke UGD. Keluarga korban yang dirujuk itu butuh pertolongan kesehatan karena sakit.

“Saya kebetulan berdinas pada hari ini, sampai hari ini ada pasien yang dirawat, yang masih dari kemarin juga. Terus ada pasien juga dari awal kita pendampingan, itu ada enam pasien kita rujuk ke UGD. Ada berbagai macam keluhan, yaitu ada yang stres, nggak bisa tidur, ada yang tensi darah naik, ada juga yang diare. Dan ada beberapa kita rawat,” ujarnya.

Tangis haru juga terjadi di kediaman Jannatun Cintya Dewi. Jannatun asal Sidoarjo itu merupakan korban yang pertama kali terindentifikasi.

Penyerahan dilakukan di rumah duka Desa Suruh Kecamatan Sukodono dan diterima ayahnya, Bambang Supriyadi dan ibunya Surtiyem. Surtiyem tidak bisa menahan kesedihan.

“Kami Sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, yang telah membantu dari proses awal, kepulangan hingga pemakaman,” ucap Bambang.

Proses identifikasi korban pesawat Lion Air dengan rute penerbangan JT 610 terus dilakukan di RS Polri, Kramat Jati. Tim DVI Mabes Polri sudah mengambil seluruh sampel DNA keluarga korban dinyatakan lengkap.

“Total hari ini kita dapatkan 73 kantong berisi sampel DNA. Ada 306 sampel DNA dari post-mortem yang membuat yakin Tim DVI bahwa pengumpulan sampel DNA pada antemortem sudah lengkap. Jadi seluruh keluarga dalam manifes sudah kita ambil sampel DNA dan sekarang masih proses. DNA sudah lengkap,” ujar Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri, Kombes Putut Cahyo dalam konferensi pers di RS Polri, Sabtu (3/11).
(zak/zak)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *