Cerita Bau 2 Ton Durian Tunda Penerbangan Sriwijaya Air

Jakarta – Bau durian sempat membuat penerbangan Sriwijaya Air SJ 091 Bengkulu-Jakarta tertunda. Seperti apa cerita lengkap berita viral ini?

Cerita bermula saat salah seorang penumpang bernama Amir Zidane mengunggah informasi soal bau durian di pesawat itu melalui media sosial Facebook. Dia menyebut aroma durian yang menyengat membuat penumpang protes ke awak kabin, sampai turun dari pesawat.

Tak hanya menulis testimoni, ia juga mengunggah video saat penumpang menunggu durian dikeluarkan dari bagasi pesawat. Dia pun menunjukkan bagasi yang sudah kosong. Ia juga menyebut petugas sempat mengatakan durian yang dibawa seberat 3 ton.

Isu pun berkembang viral di media sosial, setelah dikonfirmasi ternyata pesawat tersebut tidak membawa 3 ton durian. “Sriwijaya Air membawa durian di penerbangan SJ 091 dengan berat total 2,025 ton yang telah dikemas dengan khusus,” demikian disampaikan Kepala Bandara Fatmawati Bengkulu, Anies Wardhana, saat dikonfirmasi.

Tak ada larangan pesawat membawa durian. “Tapi karena punya aroma yang keras, jadi perlu pengemasan dalam pengangkutannya yang khusus,” ungkapnya.

Sementara itu Districk Manager Sriwijaya Air Bengkulu, Abdul Rahim, meminta maaf atas insiden tersebut. “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin SJ 091 dengan rute Bengkulu-Jakarta, yang membawa durian 2,025 ton,” ucap Abdul Rahim sembari menjelaskan total berat tersebut tidak menyalahi aturan keselamatan penerbangan.

Ngomong-ngomong soal bau durian yang sempat menunda penerbangan itu, ada baiknya disimak aturan main terkait pengamanan kargo sebagai berikut:

Permenhub 53/2017 mengatur tentang Pengamanan Kargo dan Pos serta Rantai Pasok (Supply Chain) Kargo dan Pos yang Diangkut dengan Pesawat Udara. Di pasal 24, diatur bahwa barang-barang mudah rusak, salah satunya buah, harus melewati pemeriksaan khusus.

Pasal 24
(1) Kargo dan pos jenis tertentu dilakukan pemeriksaan khusus.

(2) Kargo dan pos jenis tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a. jenazah dalam peti;
b. vaksin;
c. plasma darah dan organ tubuh manusia;
d. barang-barang medis yang mudah rusak;
e. hewan hidup (live animal);
f. barang-barang yang mudah rusak [perishable goods);
g. barang-barang ukuran besar (kategori Out Of Gauge /OOG) dan berat (kategori Heavy/HEA) yang tidak dimungkinkan diperiksa melalui mesin x-ray; dan
h. kargo lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal.

(3) Pemeriksaan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara :
a. pemeriksaan fisik kargo secara manual; dan
b. pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian
dokumen dari instansi terkait jika dipersyaratkan.

(4) Barang-barang mudah rusak (perishable goods) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f antara lain :
a. ikan dan hasil laut lainnya;
b. sayur-sayuran;
c. buah-buahan;
d. benih; dan
e. bibit
(van/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *