Ahok Pasang Badan untuk Puput yang Kena Tuduhan

JakartaBasuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok buka suara soal hubungannya dengan Puput Nastiti Devi (PND). Namun, bukan kabar baik yang disampaikan Ahok. Eks Gubernur DKI Jakarta itu bicara soal tuduhan miring terhadap puput yang berkaitan dengan pernikahannya.

Ahok meminta spekulasi berkaitan pernikahannya dengan Puput dihentikan. Sebab, langkah yang diambil merupakan keputusannya yang sudah dipertimbangkan matang.

“Mengenai hubungan saya dengan PND, tuduhan-tuduhan negatif dari Saudara-saudara itu, saya harap jangan berspekulasi dengan kehidupan pribadi saya. Dan saudara telah melakukan fitnah,” ujar Ahok dalam vlog, Selasa (26/2/2019).

Ahok menegaskan, setiap tindakannya sudah dikonfirmasikan dengan Yang di Atas. Lalu juga dengan ibunda dan keluarga lainnya. Maka dari itu, Ahok meminta tak ada yang menyalahkan Puput.

“Nah, itu sekali lagi, saya minta Saudara-saudara hentikan spekulasi kehidupan saya, hentikan menuduh PND macam-macam karena saya yang memutuskan. Kalau mau salahkan semua, salahkan pada saya, bukan salah PND,” tutur Ahok.

“Dan kalau saya mau disalahkan, saya tidak perlu memberikan bukti-bukti kepada Saudara mengapa saya melakukan suatu perceraian atau suatu pernikahan. Itu kehidupan pribadi saya. Yang paling penting dalam ilmu, etika,” lanjut dia.

Ahok juga mengklarifikasi soal tuduhan-tuduhan terkait keluarganya. Dia menegaskan setiap tindakannya mempunyai dasar pertimbangan yang kuat.

“Saya mengerti tindakan saya dengan baik. Saya sudah umur 52 tahun, saya bukan anak kecil kemarin. Saya berbuat apa pun saya berani selama saya mempunyai dasar Firman Tuhan. Saya mempunyai dasar kebenaran, taat kepada konstitusi dan Firman Tuhan, dan tentu pada ibu saya,” tuturnya.

Pria yang baru bergabung dengan PDI Perjuangan ini juga mengatakan hubungannya dengan ketiga anaknya baik. Komunikasi dengan anaknya, khususnya Daud Albeenner Purnama dan putrinya Nathania Purnama, dilakukan lewat WhatsApp dan video call.

“Dan saya walaupun mempunyai hak asuh tentu ketika anak-anak memilih tentu saya memberikan kebebasan,” tegasnya.
(idn/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ahok: Hentikan Menuduh Puput Nastiti Devi Macam-Macam

Liputan6.com, Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok meminta publik tak berspekulasi macam-macam soal hubungannya dengan mantan polwan Puput Nastiti Devi.

“Mengenai hubungan saya dengan PND, tuduhan-uduhan negatif dari saudara-saudara itu, saya harap jangan berspekulasi dengan kehidupan pribadi saya. Saudara telah melakukan fitnah,” kata Ahok dalam sebuah video yang dia unggah dalam akun instagramnya, @basukibtp pada Selasa (26/2/2019).

Menurut Ahok, apa yang dia lakukan sudah dia konfirmasi dengan Tuhan, ibu dan para tantenya. Untuk itu, Ahok meminta agar tak ada lagi yang menuduh Puput macam-macam.

“Saya minta saudara hentikan spekuasi kehidupan saya, hentikan menuduh PND macam-macam, saya yang memutuskan, kalau mau salahkan, salahkan saya jangan PND, kalau saya salah, saya tidak perlu berikan bukti-bukti soal percerian saya,” kata dia.

Ahok pun menegaskan bahwa dia mengetahui benar apa yang telah dia lakukan.

“Saya sudah 52 tahun, saya bukan anak kecil kemarin, saya berbuat apapun saya berani selama saya punnya dasar firman Tuhan, kebenaran, taat pada konstitusi dan ibu saya. Sekali lagi tolong jangan spekulasi kepada kehidupan saya,” tandas Ahok.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ahok: Komunikasi Saya dengan Anak-Anak Baik

Liputan6.com, Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok mengatakan akhir-akhir ini banyak isu negatif yang menerpa keluarganya. Ahok menegaskan, hubungan asmaranya dengan Puput Nastiti Devi tak ada kaitannya dengan perceraiannya pada April 2018 lalu.

“Saya tegaskan, bahwa kehidupan saya saat ini tidak ada hubungannya dengan perceraian saya pada April 2018,” kata Ahok dalam sebuah video yang dia unggah dalam akun instagramnya, @basukibtp pada Selasa (26/2/2019).

Ahok juga membantah saat ini hubungannya dengan anak-anaknya renggang setelah perceraiannya dengan Veronica Tan. Menurut Ahok, dia dan anak-anaknya selalui berkomunikasi melalui whatsapp dan video call.

“Semua tuduhan itu sama sekali tidak benar, komunikasi dengan anak-anak baik, komunikasi WA dan rutin komunikasi dengan mereka dengan video call,” kata dia.

Bahkan, kata Ahok, saat bercerai dengan Veronica Tan, semua harta gono gininya dia serahkan kepada ketiga anak mereka.

“Saya juga mengizinkan ibu anak-anak tinggal sama anak-anak, walaupun saya berhak asuh, ketika anak akan memilih, saya memberikan kebebasan,” ujar Ahok.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ahok Minta Puput Tak Dituduh Macam-macam: Semua Saya yang Putuskan!

Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok meminta spekulasi berkaitan pernikahannya dengan Puput Nastiti Devi (PND) dihentikan. Ahok menyatakan dialah yang mengambil keputusan.

“Mengenai hubungan saya dengan PND, tuduhan-tuduhan negatif dari Saudara-saudara itu, saya harap jangan berspekulasi dengan kehidupan pribadi saya. Dan Saudara telah melakukan fitnah,” ujar Ahok dalam vlog, Kamis (26/2/2019).

Ahok mengatakan setiap tindakannya sudah dikonfirmasikan dengan Yang di Atas. Lalu juga dengan ibunda dan keluarga lainnya.

“Nah, itu sekali lagi, saya minta Saudara-saudara hentikan spekulasi kehidupan saya, hentikan menuduh PND macam-macam karena saya yang memutuskan. Kalau mau salahkan semua, salahkan pada saya, bukan salah PND,” tutur Ahok.

Ahok mengatakan, jika dipersalahkan, dia pun tak perlu memberikan bukti-bukti apa pun kepada pihak yang menuduhnya. Karena itu merupakan keputusan sebuah kehidupan pribadinya.

“Dan kalau saya mau disalahkan, saya tidak perlu memberikan bukti-bukti kepada Saudara mengapa saya melakukan suatu perceraian atau suatu pernikahan. Itu kehidupan pribadi saya. Yang paling penting dalam ilmu, etika,” tutur Ahok.
(fjp/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sambutan Hangat Adik Ahok untuk Veronica Tan

Jakarta – Hubungan Veronica Tan dan keluarga mantan suaminya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok/BTP), masih terjalin baik. Salah satunya dibuktikan ketika Vero menghadiri penayangan film Anak Hoki.

Kehadiran Vero diungkap oleh adik Ahok, Harry Tjahaja Purnama, Jumat (22/2/2019). Harry mengunggah foto saat Vero berpose di depan poster film tersebut.

“Thank you Vero dgn segala kesibukannya menyempatkan diri nonton film ANAK HOKi dan merasa terhibur sekali ūüôŹūüėá” tulis Harry.

Unggahan Harry ini dibanjiri komentar netizen. Ada yang mengungkapkan kerinduannya pada Vero, ada juga yang memuji hubungan Vero dan keluarga Ahok yang tetap baik pascaperceraian.

“Hubungan masih baik ya Pak syukurlah. Siapapun pihak yang benar pasti digantikan dengan yang lebih baik,” tulis salah satu netizen.

“Berbesar hati banget bu Vero mau datang dan nonton film ini,” tambahnya.

Dalam beberapa waktu terakhir, tiga saudara kandung Ahok yaitu Harry, Fifi, dan Basuri kerap mempromosikan film ‘Anak Hoki’ ini. Fifi menyebut film ini fiksi dari masa muda Ahok dan diproduseri oleh Harry.

(imk/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pergi Liburan, Ahok Berkeliling Pulau Dewata Pakai Volkswagen Safari

Liputan6.com, Jakarta – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memang hobi menyetir mobil. Bahkan, pria yang kini lebih senang dipanggil BTP ini, tidak lepas dari hobinya mengendarai roda empat, bahkan saat ia pergi liburan ke Bali.

Dilihat dari vlog terbarunya, pria yang kini menjadi kader partai PDI Perjuangan ini berkeliling pulau Dewata menggunakan salah satu mobil klasik legendaris, Volkswagen (VW) Safari. Bahkan, Ahok begitu mengetahui sejarah mobil asal Jerman ini.

“VW Safari, jaman dulu sih masih suka kebakaran di belakang karena mesinnya berbedakatan dengan bensin. Saya masih ingat sekali itu, tahun 70-an, saya masih 10 tahun” ujar Ahok saat membuka kap mesin VW Safari yang berada di belakang.

Setelah melihat-lihat VW Safari berkelir merah, dan bertanya terkait mobil klasik tersebut kepada sang pemilik atau komunitas, Ahok langsung berkendara dan menyetir sendiri.

“Aduh sudah lama saya tidak bawa mobil manual,” tambah Ahok saat menyoba mobil klasik beratap terbuka ini berkeliling Bali.

Saat mengendarai VW Safari klasik ini, Ahok terlihat sangat santai. terlebih, saat menyetir berbarengan dengan mendengarkan musik. Namun, saat masuk ke jalan raya, Ahok hanya jadi penumpang, karena sepertinya ia masih belum mengurus SIM-nya yang sudah mati.

2 dari 3 halaman

Ahok Mau Perpanjang SIM

Selama perjalanan di dalam mobil, obrolan santai antar ayah dan anak terjadi. Selain takjub dengan perubahan Jakarta. Ia juga akan membuat SIM baru, karena masa berlakunya sudah lewat sejak Juni 2018.

“Harusnya¬†gue¬†yang menyetir. SIM belum ada. SIM papa sudah lewat. Ini SIM B1. Ternyata udah lewat Juni 2018. Kita bikinnya 2013,” kata Ahok dalam¬†vlog-nya. Selain itu, Ahok memegaskan kembali keinginannya tersebut merupakan salah satu yang akan ia lakukan setelah keluar dari penjara pada akhir video. Hal itu dikarenakan keinginan Ahok untuk melakukan¬†touring¬†tol Jakarta-Surabaya.

“Yang paling mau saya lakukan mau bikin SIM, karena SIM saya sudah¬† lewat,¬†udah¬†berakhir pas ulang tahun kemarin. Mau nyetir saya. Mau¬†touring.¬†Sebenarnya saya mau¬†touring¬†tol Jawa,” ujar Ahok.

Terlihat juga dalam vlog, Ahok sangat antusias saat melewati jalan Simpang Susun Semanggi. Pengakuannya, itu merupakan kali pertama ia menjajal proyek yang dibuatnya saat masih menjabat sebagai Gubernur.

“Emang belum pernah? Enggak pernahlah. Waktu resmi kan papa sudah ditahan, sudah dikurung. Waktu belum jadi aja gua naik sini iya, enggak? Waktu mau nyambung papa naik. Sekarang kita lihat,” jelasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Quick Count Pilpres 2014 Diungkit, Husin Yazid Serang Balik Hamdi Muluk

Jakarta – Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Hamdi Muluk menyebut Indomatrik cuma ganti nama dari Puskaptis. Direktur Riset Indomatrik, Husin Yazid, menyerang balik Hamdi.

Yazid menyebut Hamdi tidak independen dan melibatkan lembaga survei yang ada di bawah naungan Persepi untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok di Pilgub DKI 2017. Ini lantaran Hamdi mengungkit soal Puskaptis yang dikeluarkan dari Persepi karena dituding manipulatif karena quick count di Pilpres 2017 berbeda dari lembaga survei lainnya dengan memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa.

“Justru Pak Hamdi Muluk yang ganti nama dari ketua jadi anggota. Karena sebagai ketua dewan etik dia tidak independen. Keberpihakan kepada calon-calon. Dan bahkan disinyalir menyuruh beberapa anggotanya di Persepi untuk mendukung calon tertentu. Contoh di Pilgub DKI 2017, di Ahoker,” tutur Yazid saat dihubungi, Sabtu (16/2/2019).


Dia mengatakan hanya berasumsi. Setelah mendukung Ahok di Pilgub DKI 2017, Yazid menduga Hamdi bersama beberapa lembaga survei di bawah Persepi kini mendukung capres petahana Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

“Saya berasumsi. Dulu dia Ahoker benar. Sekarang dia disinyalir. Karena dia membawahi beberapa lembaga survei yang dulu ke Ahok ini. Sekarang kan ke Jokowi, 01,” ucap Yazid.

Dia juga menyebut Hamdi tak punya pengalaman. Alasan-alasan ini pula yang disebut Yazid Puskaptis tak bersedia untuk diaudit pada 2014 lalu.

“Kedua, Saya pertanyakan integritas, kredibilitas, plus kompetensi dari Prof Hamdi Muluk karena dia belum punya pengalaman dalam survei bupati, wali kota, dan gubernur.Sementara saya, dari 2014 sudah lakukan 350-an untuk bupati-wali kota. Plus 34 provinsi. Dan presiden 2004-2009. Artinya dia tak punya kompetensi. Untuk apa saya diperiksa orang tak berpengalaman,” kata Yazid.

Sebelumnya diberitakan, Indomatrik mengeluarkan survei terkait Pilpres 2019. Hasilnya, elektabilitas Prabowo-Sandiaga semakin mendekati Jokowi-Ma’ruf Amin.

Anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, mengatakan Indomatrik tidak terdaftar di Persepi. Hamdi kemudian mengungkit soal hasil quick count Pilpres 2014 dari Puskaptis yang berbeda dengan perhitungan real count KPU.

Quick count Puskaptis, menyatakan elektabilitas Prabowo-Hatta Radjasa unggul dari Jokowi-Jusuf Kalla. Padahal kebanyakan lembaga survei mengumumkan kemenangan Jokowi-JK.

Hamdi kemudian mengungkit Puskaptis yang tak mau diaudit terkait quick count tersebut. Hamdi kemudian meminta masyarakat skeptis dengan melihat rekam jejak penyelenggara riset.

“Publik harusnya tidak melupakan rekam jejak Yazid dalam kasus kesalahan quick count di 2014. (Indomatrik) itu ganti nama saja (dari Puskaptis),” tandas Hamdi ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu (16/2/2019).

Puskaptis merupakan satu dari 4 lembaga survei yang dipermasalahkan saat Pilpres 2014 karena diduga memanipulasi hasil quick count. Pukaptis dan tiga lembaga riset lainnya, yakni Lembaga Survei Nasional (LSN), Indonesia Research Center (IRC), dan Jaringan Suara Indonesia (JSI), memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Padahal lembaga survei lainnya merilis hasil Jokowi-Jusuf Kalla yang menang, dengan selisih angka tidak jauh dari real count KPU.

Hasil prediksi 4 lembaga itu sangat melenceng jauh dari real count KPU di mana pasangan Jokowi-JK mendapat perolehan 53,15% sementara Prabowo-Hatta 46,65%. Dari 4 lembaga survei yang diduga melakukan manipulatif, Puskaptis dan IRC yang prediksinya paling melenceng.

Puskaptis memiliki perbedaan angka sebesar 5,20%, sementara IRC selisihnya 4,26%. Padahal mereka sama-sama mematok margin error +-1%. Artinya, dalam prediksi mereka, kemungkinan perbedaan data dengan real count tidak akan lebih dari 1 persen. Namun kenyataannya sangat jauh.
(jbr/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

JK Larang BTP Gabung TKN, PA 212: Memang Masih Ada Kekuatan Ahok?

Jakarta – Ketua Dewan Pengarah TKN, Jusuf Kalla (JK) tak ingin Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok bergabung dengan TKN. JK khawatir gabungnya Ahok akan mengurangi suara untuk Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin khususnya segmen pemilih muslim.

Terkait hal ini, Sekretaris Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar menilai ungkapan JK bersifat normatif. Pasalnya, Ahok yang sudah bergabung dengan PDIP pasti akan memberi andil terhadap kemenangan Jokowi-Ma’ruf.

“Itu urusan JK dan tim. Memangnya kekuatan Ahok bagaimana? Masih ada kekuatan dia? Ya silakan-silakan aja. Dia kan sekarang sudah masuk PDIP, jadi otomatis harus bantu PDIP meskipun belum dimasukkan ke dalam timses,” kata Bernard saat dihubungi, Rabu (13/2/2019).
Namun Bernard melihat jika Ahok bergabung ke dalam timses, tak akan terlalu berpengaruh pada jumlah dukungan kalangan muslim ke Jokowi. Sebab, dukungan yang diberikan kalangan muslim karena memandang sosok Jokowi-Ma’ruf.
“Bergabungnya Ahok atau tidak bergabungnya Ahok, kita tahu Ahok sudah dihukum, penista agama, baru bebas juga. Mungkin bagi pendukungnya ya tetap. Tapi kalau Islam secara umum mendukung Jokowi-Ma’ruf mungkin ada reaksi. Cuma nggak terlalu berpengaruh, mereka kan nggak memandang Ahok. Tapi paslonnya yang dipandang,” kata Bernard.

Sebelumnya diberitakan, JK menyebut Ahok tak perlu bergabung dengan TKN Jokowi-Ma’ruf. Jika Ahok bergabung ke dalam TKN, lanjutnya, akan membuat orang mengaitkan Jokowi pada kasus Ahok.

“Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan (Ahok masuk TKN),” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

“Bahwa bisa berakibat lagi orang mengingat bahwa ‘oh ini Pak Jokowi dukung orang yang penista agama’, kan bahaya itu, bisa mengurangi suara. Apa saya bilang nanti, jadi lebihlah tenang-tenang, toh pemilu lagi 2 bulan, juga efeknya tidak akan banyak,” sambung JK.
(jbr/bag)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses Jokowi

Jakarta – Dua pimpinan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin beda pendapat soal peran Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok di tim pemenangan pasangan nomor urut 01 itu. Bila Jusuf Kalla (JK) menolak Ahok masuk TKN, Oesman Sapta Odang (OSO) justru memberikan dukungan.

“Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan (Ahok masuk TKN),” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Di TKN Jokowi-Ma’ruf, JK merupakan Ketua Dewan Pengarah. Pria yang kini masih menjabat sebagai Wapres ini punya alasan mengapa melarang Ahok masuk ke tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Jika Ahok masuk ke TKN, kata JK, hal itu akan mengingatkan orang akan kasus penistaan agama yang membuat eks Gubernur DKI itu dihukum bui 2 tahun penjara. Menurutnya, Orang-orang yang sampai saat ini masih meyakini kesalahan Ahok akan mengira capres petahana Joko Widodo (Jokowi) mendukung kesalahan Ahok.
“Bahwa bisa berakibat lagi orang mengingat bahwa ‘oh ini Pak Jokowi dukung orang yang penista agama’, kan bahaya itu, bisa mengurangi suara. Apa saya bilang nanti, jadi lebihlah tenang-tenang, toh pemilu lagi 2 bulan,” kata JK.

JK pun menilai efek yang akan diberikan Ahok bila masuk TKN Jokowi-Ma’ruf tidak akan signifikan mengingat pelaksanaan Pilpres 2019 tak akan lama lagi. “Juga efeknya tidak akan banyak,” tuturnya.

Rupanya OSO tak sependapat dengan JK. Menurut Dewan Penasihat TKN ini, Ahok sudah otomatis bergabung dalam pemenangan Jokowi-Ma’ruf tanpa perlu ada formalitas.

“Sebetulnya nggak usah disuruh bergabung juga dia udah bergabung kan, karena dia bergabung dengan PDIP. PDIP kan pendukung 01,” kata OSO di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2).

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses JokowiFoto: Jusuf Kalla (JK). (Noval Dhwinuari Antony/detikcom).

Soal pernyataan JK terkait kasus Ahok, dia justru bertanya-tanya apakah kader baru PDIP tersebut betul penista agama. OSO juga mengingatkan, Ahok sudah menjalani hukumannya.

“Ya itu kan prediksi Pak JK, saya juga nggak bisa mempengaruhi. Tapi kan begini, apa benar Ahok itu penista agama? Itu kan menjadi tanda tanya, ya kan?” ujar Ketua DPD RI itu.

“Jadi, ya, sebetulnya dia sudah melakukan kewajibannya, ya sudah dong. Jadi apa yang mau dilakukan sebagai anak bangsa ya silakan aja dilakukan,” lanjut OSO.

Jokowi sendiri belum mengomentari polemik status Ahok di tim pemenangannya. Namun Ma’ruf Amin sudah angkat bicara. Ia setuju dengan pendapat JK.

“Saya kira bagus sarannya Pak JK itu ya bagus aja,” ujar Ma’ruf Amin kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (13/2).

Sementara itu menurut eks juru bicara Ahok di Pilgub DKI 2017, Raja Juli Antoni, Ahok sudah sadar dengan posisinya. Meski begitu, ia juga memahami kekhawatiran JK.

“Tanpa perlu dilarang, Ahok kayaknya sadar untuk tidak akan terlibat langsung pilpres kali ini, apalagi masuk secara formal di TKN,” ungkap Raja Juli kepada wartawan, Rabu (13/2).

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses JokowiFoto: Ahok saat ke rumah OSO. (Screenshot video)

“Dalam konteks itu, saya bisa memahami kekhawatiran Pak JK. Politik identitas pada pilpres lalu sampai sekarang sangat kental. Apalagi setelah Pilkada DKI,” sambung Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf itu.

Terlepas dari masalah ini, Toni meyakini Ahok akan berperan untuk pemenangan Jokowi lewat caranya sendiri. Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf Amin itu yakin Ahok juga tak akan memaksa bisa masuk timses pasangan nomor urut 01 tersebut.

“Dalam konteks itu, saya bisa memahami kekhawatiran Pak JK. Politik identitas pada pilpres lalu sampai sekarang sangat kental. Apalagi setelah Pilkada DKI,” tutup Toni.

Ikuti Perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Yenny Wahid: Saya Terkejut Kiai Ma’ruf Kuasai Strategi Debat, Lebih Siap

Jakarta – Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid bertemu cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin untuk memberi masukan terkait debat cawapres. Yenny mengaku terkejut karena menurutnya Kiai Ma’ruf sudah menguasai banyak isu.

“(Memberi masukan soal debat) sedikit, ke Kiai Ma’ruf iya. Soal millenial misalnya, tapi ternyata saya cukup surprise ini bisa jadi beritanya nih. Saya datang memang untuk bicara dengan beliau soal bagaimana strategi debat. Ternyata, beliau jauh lebih siap dan lebih menguasai banyak isu yang ada,” ujar Yenny usai berkunjung ke kediaman KH Ma’ruf Amin di Jl Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Yenny mengatakan Ma’ruf menguasai banyak isu. Dia lalu berbicara soal komitmen Ma’ruf Amin terhadap kaum millenial.
“Saya malah sangat terkejut tapi senang, bahwa beliau sangat menguasai banyak isu yang ada, beliau sangat up to date dengan perkembangan-perkembangan yang ada di masyarakat. Termasuk juga dengan apa yang terjadi,” ucap Yenny.

“Komitmen beliau terhadap kelompok millenial dan beliau punya komitmen besar untuk…, bukan saja mendengarkan atau mendapatkan suara dari millenial, tapi juga mendengarkan suara millenial agar bisa bersama-sama membangun bangsa,” imbunya.

Dia lalu berbicara soal Jokowi. Jokowi, kata Yenny, pasti akan tetap jadi diri sendiri.

“Pak Jokowi jadi dirinya sendiri, Pak Jokowi bisa menjelaskan apa yang telah beliau lakukan dengan jelas, dengan artikulatif. Yang paling penting Jokowi tetap jadi dirinya sendiri. Sosok yang humble, sosok yang tegas, dan sosok yang sederhana yang memang betul-betul punya komitmen besar untuk kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” tutur Yenny.

Yenny Tanggapi soal Peluang Ahok Gabung TKN

Usai bertemu dengan Ma’ruf Amin, Yenny Wahid juga diwawancarai soal peluang Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok gabung TKN Jokowi-Ma’ruf Amin. Apa kata Yenny?

“Saya nggak tahu strategi tim kampanye seperti apa karena saya nggak gabung di TKN, jadi saya tidak punya hak sama sekali untuk memberikan arahan tentang harus seperti apa, siapa yang harus dirangkul. Tapi saya berharap semua orang yang memang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan yang diperjuangkan oleh pasangan Jokowi-Maruf mau ikut turun tangan, mau ikut andil untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf,” sebut Yenny.

Yenny menegaskan dirinya tidak bisa merekomendasikan TKN merekrut tokoh tertentu untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf. Dia melanjutkan, jika memang ingin mendukung Jokowi, tokoh-tokoh itu sebaiknya turun langsung.

“Siapa pun, yang mau ikut ambil bagian. Tapi bahwa, saya tidak bisa mengatakan akan TKN karena saya tidak di situ. Tidak bisa minta tokoh yang mana, tokoh yang mana, kita juga datang dengan kesadaran sendiri,’ imbuh Yenny.

Dia juga menanggapi dukungan Waketum Partai Berkarya Muchdi PR ke Jokowi-Ma’ruf Amin. Yenny menegaskan setiap orang punya hak sama dalam politik.

“Semua orang punya hak politik. Semua orang yang paling penting paslon mana pun menerima dukungan dari siapa pun. Yang paling penting dukungan itu tidak mendikte atau membelenggu kebijakan pemerintahan ke depan. Siapa pun boleh mendukung,” ucap Yenny.

“Saya rasa komitmen dari beliau berdua sudah ditunjukkan dan tidak akan terpengaruh. Hal yang menarik dari Jokowi-Ma’ruf adalah beliau berdua bukan orang yang bisa didikte. Jadi menurut saya orang bebas kok mengekspresikan dukungan kepada paslon 01, nah kita lihat. Bagi kami adalah kualitas dari beliau berdua yang punya sikap ketegasan dan tidak bisa didikte,” tutur Yenny.
(gbr/hri)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>