Bijih Uranium Ditemukan di Museum Grand Canyon, Wisawatan Dalam Bahaya

Liputan6.com, Arizona – Selama hampir 20 tahun, tiga dari lima ember cat (setara dengan 19 liter air), ditempatkan di dekat pameran taksidermi di gedung koleksi museum Taman Nasional Grand Canyon, Arizona, Amerika Serikat.

Ketiga ember itu, ternyata, tidak berisi pewarna tembok, namun bijih uranium –batuan alami yang kaya akan uranium, mengeluarkan radiasi yang berpotensi berbahaya bagi makhluk hidup di Bumi. Tak ada satu pun orang yang mengetahui isinya sebelum ini.

Elston “Swede” Stephenson, seorang manajer kesehatan dan kebugaran di taman South Rim, adalah orang yang mengklaim menemukan uranium tersebut. Selanjutnya, ia mengabarkan ke publik melalui serangkaian email ke Kongres, rekannya di National Park Service dan staf di koran The Arizona Republic.

Stephenson memperingatkan bahwa ribuan pegawai, wisatawan, dan kelompok sekolah yang mengunjungi pameran tersebut antara tahun 2000 dan 2018, kemungkinan terpapar dengan radiasi yang berbahaya, terutama anak-anak yang duduk selama 30 menit di sekitar uranium.

Bocah-bocah ini mungkin telah terjangkit sekitar 1.400 kali dosis radiasi yang aman, yang distandarkan oleh Nuclear Regulatory Commission, Stephenson menulis. Namun, beberapa ahli menegaskan bahwa penilaian Stephenson tidak berdasar.

“Jika waktu yang dihabiskan di dekat bijih itu pendek, kemungkinan ada sedikit alasan untuk khawatir,” Bill Field, seorang profesor Kesehatan Kerja dan Lingkungan di University of Iowa, mengatakan kepada Live Science dalam email, sebagaimana dikutip pada Jumat (22/2/2019).

Seiring waktu, uranium dapat terurai menjadi bahan radioaktif seperti radium, dan melepaskan gas berbahaya seperti radon. Studi tentang penambangan uranium telah menunjukkan bahwa kontak yang terlalu lama dengan produk peluruhan uranium dapat meningkatkan kemungkinan terkena kanker.

Menurut F. Ward Whicker, seorang ahli radioekologi dan profesor emeritus di Colorado State University, bijih uranium mampu memancarkan partikel gamma –jenis radiasi yang paling berbahaya.

“Jumlah paparan radiasi dari sumber terestrial alami dan sinar kosmik galaksi, jauh lebih tinggi daripada yang disadari kebanyakan orang,” kata Whicker kepada Live Science dalam email.  “Kehidupan berkembang di lingkungan radiasi konstan ini, karena mekanisme perbaikan DNA beroperasi secara efisien dan cepat dalam sel –asalkan intensitas paparan radiasi berada dalam level tertentu.”

Modi Wetzler, seorang profesor kimia di Clemson University yang mempelajari limbah nuklir, mengatakan kepada The Arizona Republic bahwa, di samping membahayakan tubuh jika dihirup, namun sinar gamma mudah diserap dan tidak berbahaya bila jumlahnya hanya beberapa inci di udara, atau bahkan di luar lapisan kulit mati seseorang.

Setelah seorang remaja dengan sebuah konter Geiger (alat yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi pengion) secara tidak sengaja menemukan ember bijih di museum pada Maret 2018, Parks Service meluncurkan penyelidikan singkat untuk menguji tingkat radiasi di dalam dan sekitar gedung.

Menurut laporan mereka (yang dikutip Stephenson dari The Arizona Republic), kontak langsung dengan bijih uranium menghasilkan tingkat radiasi kira-kira dua kali lipat dosis tahunan aman yang dipatok oleh Nuclear Regulatory Commission.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Langkah Selanjutnya

Bijih uranium telah dibuang di tambang uranium terdekat. Sementara itu, Park Service, U.S. Occupational Safety and Health Administration dan Arizona Bureau of Radiation Control sekarang menyelidiki museum dan bangunannya.

Menurut Emily Davis, Grand Canyon National Park Public Affairs Officer, tingkat radiasi di lokasi tersebut normal dan aman.

“Sebuah survei baru-baru ini dari fasilitas pengumpulan data museum Taman Nasional Grand Canyon menemukan tingkat radiasi di sana masih bertaraf rendah –jumlah yang umumnya ada di lingkungan– dan di bawah tingkat kepedulian terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat,” Davis mengatakan kepada NPR.

“Tidak ada risiko berbahaya saat ini untuk karyawan publik atau Grand Canyon. Fasilitas pengumpulan data museum masih terbuka untuk umum dan rutinitas kerja terus berjalan seperti biasa.”

Meskipun mungkin tampak diabaikan, bijih uranium diduga meningkatkan kadar radon di dalam gedung museum, kata Field kepada Live Science.

“Fasilitas itu harus melakukan pengujian radon,” ungkap Field. “Namun, dalam jangka panjang, potensi paparan dari radon, dari sumber alami di tanah dan batuan di bawah fasilitas tersebut, kemungkinan akan menjadi sumber radiasi terbesar bagi masyarakat dan pekerja.”

Temani Konser di Indonesia, Putri Siti Nurhaliza Tampil Menggemaskan

Liputan6.com, Jakarta – Siti Nurhaliza tampil menawan mengawali Konser Tiga Negara bertajuk “Dato’ Sri Siti Nurhaliza On Tour” di Istora Senayan Jakarta Pusat, Kamis malam, 21 Februari 2019. Tembang demi tembang pengobat rindu akan penampilan diva asal Malaysia ini terlantun syahdu.

Tak heran kalau penonton sampai dibuat hanyut dan tak henti ikut melagukan lagu berganti lagu. Penampilan memesona perempuan 40 tahun tersebut kiranya tak lepas dari dukungan yang didapat di belakang panggung.

Lewat sebuah video yang diunggah d akun Instagram-nya, @ctdk, baru-baru ini, Siti memperlihatkan momen di mana ia menggendong putri semata wayangnya, Siti Aafiyah Khalid, sebelum naik panggung.

Sementara, Siti Nurhaliza terlihat cantik memakai busana hitam dengan sentuhan hijau emerald dan aksen glitter, serta tak lupa aksesori, termasuk mahkota dengan deail tear drop, Aafiyah tampak menggemaskan.

Bocah 11 bulan tersebut tampak memakai gaun putih dilengkapi sentuhan detail merah muda di bagian dada. Wajah lucu nan polosnya makin menjadi dengan pemakaian bandana selaras warna gaun yang dipakai.

“Anak ibu sayang #sitinurhalizaontour,” tulis Siti di keterangan foto yang dimaksud. Kemunculan Aafiyah mengundang komentar tak sedikit orang. Kebanyakan melontarkan pujian betapa keduanya tampak cantik.

Siti Nurhaliza sendiri masih akan meneruskan gelaran Konser Tiga Negara. Setelah Indonesia, pelantun lagu Purnama Merindu itu akan melangsungkan show serupa di Singapura dan rumahnya sendiri, Malaysia.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tabrak Mati 6 Pejalan Kaki, Pria Australia Dibui Seumur Hidup

Melbourne – Seorang pria Australia divonis penjara seumur hidup atas aksinya menewaskan enam orang. Pria ini menabrakkan mobilnya ke kerumunan pejalan kaki di jalanan dekat pusat perbelanjaan sibuk di Melbourne tahun 2017 lalu.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (22/2/2019), pria bernama James Gargasoulas (29) ini dinyatakan bersalah atas enam dakwaan pembunuhan. Dalam sidang putusan yang digelar di Melbourne pada Jumat (22/2) waktu setempat, Gargasoulas dijatuhi vonis penjara seumur hidup.

Hakim Mark Weinberg menjatuhkan vonis itu dengan ketentuan periode minimum non-parole selama 46 tahun. Itu artinya, dia harus menjalani masa hukuman minimal selama 46 tahun di penjara, sebelum bisa mengajukan pembebasan bersyarat.


Terdapat seorang bayi dan seorang bocah perempuan berusia 10 tahun di antara korban tewas dalam insiden ini.

“Ini merupakan salah satu contoh terburuk untuk pembunuhan massal dalam sejarah Australia,” tegas hakim Weinberg saat menjatuhkan putusannya.

“Kengerian dari apa yang Anda lakukan telah mempengaruhi secara mendalam kehidupan banyak orang yang saat itu ada di Bourke Street (lokasi insiden) dan siapa saja yang menyaksikan aksi Anda, atau merasakan dampaknya,” imbuhnya.

Pada saat itu, polisi menyatakan insiden itu tidak terkait teror dan pengemudi mobil yang menabrak kerumunan diketahui memiliki catatan kriminal sebelumnya, termasuk terlibat kasus kekerasan domestik. Pengemudi mobil juga disebut mengalami khayalan akibat narkoba.

Insiden itu tercatat sebagai salah satu pembunuhan massal terparah di Australia sejak tahun 1996, saat pembantaian massal dengan senjata api di Tasmania menewaskan 35 orang.

(nvc/ita)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Terperosok ke Selokan Saat Main Hujan, Bocah di Surabaya Tewas

Patroli Indosiar, Surabaya – Seorang bocah berumur 2,5 tahun ditemukan tewas di di Jalan Tambak Dalam Baru, Surabaya, Jawa Timur. Korban tewas setelah terperosok ke dalam selokan saat bermain hujan.

Seperti ditayangkan Patroli Indosiar, Kamis (21/2/2019), sang anak ditemukan tersangkut di tumpukan selokan selebar 1,5 meter. 

Menurut warga, korban awalnya bermain dengan kakaknya yang berusia 7 tahun. Korban diduga terperosok saat air selokan meluap ke jalan karena hujan yang turun hingga terbawa arus.  

Jasad korban ditemukan tim gabungan 500 meter dari lokasi terperosok. Polsek Asemrowo Surabaya, telah memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan terkait tewasnya korban. (Karlina Sintia Dewi)

Bocah SD di Sukoharjo Hamil Diduga Dicabuli Ayah Angkat

Patroli Indosiar, Sukoharjo – Seorang siswi kelas VI sekolah dasar (SD) di Sukoharjo, Jawa Tengah, diduga menjadi korban pencabulan oleh ayah angkatnya. Kini, siswi tersebut hamil enam bulan.   

Seperti ditayangkan Patroli Indosiar, Kamis (21/2/2019), kehamilan TA pertama kali diketahui oleh bibinya, Muryani. Awalnya Muryani curiga melihat perut TA semakin membesar.

Saat sang bibi memeriksakan TA ke bidan. Dari hasil pemeriksaan, TA dipastikan tengah hamil 6 bulan. Dia lalu melaporkan kehamiln keponakannya tersebut ke Polre Boyolali.

Kepada polisi remaja yang tinggal di Desa Manang, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah ini mengaku telah dicabuli oleh JS, yang tidak lain ayah angkatnya.  

Untuk mengungkap kasus pencabulan anak di bawah umur ini, Polres Boyolali bersama Polres Semarang, mengejar JS yang dikabarkan sudah melarikan diri.  (Karlina Sintia Dewi)

Mengendarai Sepeda Motor dengan Kaki, Bocah Ini Kena Batunya

Liputan6.com, Jakarta – Memiliki sebutan kids zaman now, beragam aksi berani dan nekat sekaligus nyeleneh saat ini banyak dilakukan bocah kekinian.

Salah satu yang banyak dilakukan ialah aksi berbahaya saat berkendara sepeda motor. Beredarnya anggapan “ga keren ga bawa motor”, menjadikan sejumlah anak di bawah umur sudah berani membawa kendaraan bermotor tanpa didampingi orang tua.

Sayangnya, karena kurang pengawasan orang tua dan kelalaian di jalan, hal ini justru membahayakan nyawa sang anak dan juga pengendara lain.

Selain itu, banyak kasus kecelakaan kerap terjadi karena pengendaranya sering kali melakukan aksi tak masuk diakal, seperti yang dilakukan dua remaja ini.

Sebuah rekaman video yang di-upload akun Instagram @pandeglang.keras, Kamis (21/02/19) menunjukkan aksi berbahaya dua orang bocah dengan sepeda motor yang dikendarai.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Bagaimana tidak, pengemudi motor yang harusnya memegang setang dengan kedua tangan justru menggunakan kaki. Bahkan, kedua remaja tersebut terlihat bercanda dan berliuk-liuk.

Akibat aksi tersebut, keduanya kehilangan keseimbangan dan terjauh dari sepeda motornya. Tanpa menggunakan pelindung kepada atau helm,tak diketahui pasti luka yang dialami keduanya.

Saksikan videonya dibawah ini :


Inovasi Baru dalam Berdonasi dan Filantropi Digital

Liputan6.com, Jakarta – Go-Pay berkolaborasi dengan Filantropi Indonesia mengembangkan inovasi donasi dan filantropi digital. Terdapat tiga komponen dalam kolaborasi ini yaitu memfasilitasi organisasi anggota Filantropi Indonesia dalam pemanfaatan Go-Pay dalam donasi digital, capacity building, dan kampanye terkait donasi digital.

Aldi Haryopratomo, CEO Go-Pay melalui keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com menyebut bahwa dulu ia memulai karier saat membantu rehabilitasi setelah tsunami Aceh. Ia melihat gerakan-gerakan sosial seperti Gojek peduli anak yatim dan lainnya.

“Inisiatif yang dilakukan oleh mitra-mitra Gojek dalam mengumpulkan bantuan untuk korban bencana di penjuru Indonesia. Saya menyadari orang Indonesia memiliki semangat membantu sesama yang luar biasa,” tambahnya.

Aldi menambahkan pihaknya ingin terus mendorong luasnya pemanfaatan kemudahan pembayaran nontunai, termasuk membantu sesama lewat donasi. Ia melihat donasi digital memiliki potensi membantu Indonesia lebih sejahtera.

Program yang dijalankan ini memberi kemudahan bagi para pengguna Go-Pay untuk donasi ke ratusan organisasi dan rumah ibadah. Caranya dengan scan kode QR atau memilih Go-Pay sebagai metode pembayaran.

Pemanfaatan teknologi pembayaran nontunai ini diharapkan membuat pengumpulan donasi untuk masyarakat kian mudah, aman, dan juga transparan. Selain itu, Erna Witoelar selaku Co-Chair Badan Pengarah Filantropi Indonesia menyambut baik kolaborasi ini. 

“Kami percaya dengan jumlah pengguna dan jangkauan GO-Pay yang luas, rekan-rekan lembaga dan yayasan bisa menjangkau lebih banyak donatur, dan transparansinya lebih terjaga sehingga masyarakat donatur akan menjadi lebih nyaman dalam berdonasi,” jelas Erna.

Sementara, dalam program Go-Pay for Good, Go-Pay berperan sebagai medium transaksi, di mana uang yang didonasikan akan masuk ke rekening organisasi yang dituju. Sebanyak 182 yayasan dan rumah ibadah di Indonesia telah bekerja sama, salah satunya Filantropi Indonesia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tanishq Abraham, Bocah 11 Tahun yang Sudah Punya 3 Gelar Sarjana

Liputan6.com, Jakarta Bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dan menyandang gelar sarjana memberi kebahagiaan tersendiri. Bahkan, kebahagiaan itu terasa berlipat-lipat lantaran gelar yang didapat tidak hanya satu.

Secara logika, tidak mungkin anak umur 11 tahun sudah mendapatkan gelar sarjana. Umumnya, orang yang memiliki gelar sarjana sudah pasti melewati jenjang sekolah SD, SMP dan SMA.

Seorang bocah laki-laki 11 tahun dianggap sebagai anak ajaib. Tanishq Abraham lahir di Sacramento, California, pada 18 Juni 2003. Bocah ini lahir dari pasangan Bijou Abraham dan Taji Abraham.

Ayahnya, Bijou adalah seorang software engineer lulusan Cornell University, dengan nilai SAT sempurna untuk matematika. Sedangkan ibunya, Taji, adalah seorang dokter hewan, yang akhirnya meraih gelar Doktor setelah sempat menunda risetnya demi mengembangkan kejeniusan anaknya, Tanishq.

2 dari 4 halaman

Kecerdasan Tanishq Terlihat Sejak Kecil

Kecemerlangan Tanishq sendiri sudah terlihat sejak kecil. “Semuanya sudah terlihat sejak dia berada di taman kanak-kanak,” ungkap ibunya dilansir Liputan6.com dari Daily Mail, Senin (18/2/2019).

Pada usia 4 tahun, dia menjadi salah satu anggota termuda dari Mensa Internasional, sebuah organisasi non-profit untuk orang-orang yang IQ nya berada di tingkat 2% tertinggi dari populasi dunia. Tanishq mengaku suka belajar sejak berumur 4 tahun. Dia suka ke perpustakaan untuk belajar tentang dinosaurus dan luar angkasa.

Tanishq juga pernah mengikuti diskusi tentang paleontologi di UC Berkeley. Bahkan dia sempat ingin mengikuti kuliah paleontologi, namun tak mendapat izin karena masih terlalu muda.

Bosan dengan sekolah umum, akhirnya Tanishq disekolahkan dengan metode homeschooling oleh orang tuanya, hingga usia 7 tahun. Dia menyelesaikan berbagai tingkat sekolah dan kelas online dalam rentang umur 5-7 tahun, dan berkali-kali mendapatkan skor A dengan nilai tertinggi. Dia juga sempat menjadi headline di berbagai media, berkat kelulusannya dari tingkat SMA dengan IPK 4.0.

3 dari 4 halaman

Lulus dengan Tiga Gelar Sekaligus

Tanishq berhasil menggemparkan Amerika Serikat karena mampu meraih tiga gelar sarjana sekaligus. Tanishq menerima gelar sarjana di jurusan Matematika, Fisika, dan Bahasa Asing. Bocah ini diwisuda dari American River College (ARC) di Sacramento, California, Amerika. Bahkan, Tanishq pun berhasil lulus dengan nilai 4 sempurna ketika diwisuda bersama lebih dari 1800 mahasiswa lainnya.

Tanishq sudah terdaftar sebagai mahasiswa di kampus tersebut sejak usianya masih 7 tahun. Meski berhasil jadi lulusan termuda di tahun ini, pihak kampus belum bisa memastikan apakah Tanishq menjadi mahasiswa termuda dengan 3 gelar sarjana sepanjang sejarah dunia pendidikan atau tidak.

Setelah lulus dengan tiga gelar sekaligus, Tanishq ternyata masih punya ambisi besar untuk melanjutkan studinya di jurusan kedokteran. Menurut Tanishq, dirinya ingin menjadi seorang doktor dan peneliti kesehatan. Kelak setelah dewasa, ia pun berharap bisa jadi presiden Amerika Serikat.

4 dari 4 halaman

Menjadi Pembicara Termuda NASA

Di usianya yang baru 11 tahun, Tanishq adalah pembicara termuda NASA yang fasih berbicara tentang kehidupan di Mars. Dalam konferensi Lunar Science yang diadakan oleh badan penerbangan antariksa AS itu, bocah cerdas itu diberi kesempatan 1,5 menit untuk berpidato.

Dia memang terkenal memiliki ketertarikan yang cukup tinggi terhadap bidang astronomi. Tak lupa, dia juga begitu tekun mengikuti perkembangan kemungkinan penjelajahan ke Mars.

Ketika wahana antariksa milik NASA, Curiosity, menemukan air (H2O), sulfur (S), dan klorin yang mengandung senyawa seperti perklorat (CIO4) dan klorometana (CH3CL) di planet Mars. Tanishq yang berusia 9 tahun berkesempatan untuk berbicara soal hal tersebut melalui wawancara online dengan Direktur THNKR Danny Stolzman.

Kisah 4 Bocah yang Berjualan Sambil Sekolah Ini Bikin Salut

Liputan6.com, Jakarta Adanya jargon wajib belajar 9 tahun nampaknya tidak menjamin semua lapisan masyarakat mendapat haknya untuk mengenyam pendidikan. Pasalnya, tidak sedikit anak yang justru mengemis di pinggir jalan karena orangtuanya memiliki keterbatasan ekonomi.

Beberapa anak kurang beruntung yang tidak punya orangtua terpaksa harus menghidupi dirinya sendiri. Bahkan, ada pula seorang murid sekolah yang membayar biaya pendidikan dengan peluh keringatnya sendiri.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak kasus anak sekolah yang nyambi berjualan demi bisa tetap duduk di bangku sekolah dan mengenyam pendidikan. Dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (18/2/2019), berikut kisah 5 bocah yang berjuang mengumpulkan uang untuk dapat terus melanjutkan sekolah.

2 dari 4 halaman

Jualan Cilok dan Kerupuk

Berjualan Cilok untuk Bayar Biaya Sekolah

Jika biasanya anak seusia 12 tahun menghabiskan waktu bermain di komplek bersama teman-teman, lain ceritanya dengan hidup yang dijalani Putra. Meski di usianya yang sangat belia, bocah asal Tangerang Selatan ini setiap harinya harus mengadu nasib di daerah seputaran jalan Bintaro, Pondok Aren.

Putra berjualan cilok agar tetap bisa sekolah karena tidak ada yang sanggup membiayainya, setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Kisahnya menjadi bahan perbincangan warganet setelah tersebar di media sosial baik Instagram maupun Twitter. Perjuangan bocah usia 12 tahun itu awalnya dibagikan oleh akun Twitter @MSApunya.

Putra yang diketahui tengah duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri Sarmili, harus berjualan cilok demi bisa membayar uang sekolah dan juga biaya hidup bersama kedua adiknya. Dalam unggahan tersebut, akun @MSApunya menuliskan bahwa Putra juga menjadi ayah sekaligus ibu untuk adiknya.

Sekarang, Putra sendiri tinggal bersama kakak perempuannya yang selama ini selalu membantu untuk membuat cilok yang hendak dijual dan juga merawat adiknya. Putra terbiasa menjajakan dagangannya dengan sepedanya hingga malam hari.

Berjualan kerupuk sepulang sekolah

Baru-baru ini seorang bocah berseragam Pramuka tertangkap kamera sedang berjualan di tengah jalan raya. Potret dirinya yang tengah menjajakan dagangannya di lampu merah beredar hingga menjadi perbincangan viral warganet.

Foto yang diunggah akun Instagram @dramaojol.id tersebut menunjukkan seorang bocah laki-laki yang mengenakan atribut sekolah lengkap sibuk menawarkan kerupuk kepada pengguna jalan di perempatan flyover Summarecon, Bekasi.

Saat berjualan, bocah yang tak diketahui namanya itu terlihat masih mengenakan seragam pramuka, lengkap dengan sepatu dan tas sekolahnya. Bocah itu juga membawa beberapa plastik kerupuk untuk ditawarkan ke pengendara yang tengah berhenti saat lampu lalu lintas merah.

3 dari 4 halaman

Berjualan kartu pos

Pada tahun 2017, media sosial ramai membincangkan seorang gadis cilik bernama Ni Putu Rista. Dia adalah seorang murid sekolah dasar yang berjualan kartu pos kepada wisatawan asing di Bali. Berbeda dengan kisah anak kurang beruntung yang harus mencari uang untuk membayar biaya sekolah, Ni Putu Rista memiliki perjuangan yang cukup unik.

Gadis cilik itu telah menguasai 21 bahasa asing sejak dirinya mulai berjualan kartu pos. Meski usianya baru menginjak 10 tahun, namun Ni Putu Rista telah bercita-cita sebagai seorang pemandu wisata. Dari impiannya itu, Ni Putu Rista meyakinkan diri untuk mahir berbicara dalam berbagai bahasa asing.

Sepulang sekolah, Rista akan berkeliling menghampiri para wisatawan asing untuk menawarkan kartu pos yang ia jual. Tak lupa juga ia praktikkan kemampuannya dalam berbahasa asing hingga tak heran membuat banyak wisatawan asing terkagum-kagum dengan kecerdasan gadis cilik itu. Berkat kemampuannya, Ni Putu Rista diangkat menjadi ikon anak Karangasem, tempat tinggal Rista.

4 dari 4 halaman

Jualan Pisang Goreng

Seorang bocah berpakaian lusuh berkeliling komplek menggendong keranjang berisi pisang goreng menjadi pemandangan yang sangat menyayat hati. I Putu Kompyang Swastika, itulah nama bocah yang hidup dengan penuh perjuangan tersebut.

Dirinya baru saja lulus sekolah dasar namun tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Pasalnya, nenek yang merawatnya tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya sekolah. Alhasil, dia memutuskan untuk berjualan pisang goreng agar tidak putus sekolah.

Dia mengaku bahwa dirinya lebih baik berjualan daripada harus mengemis. Kisahnya yang membuat trenyuh itu awalnya dibagikan oleh seorang pengguna Instagram, @chandra_wisnawa. Saat menghampirinya, I Putu Kompyang Swastika menangis meluapkan kesedihannya karena harus berjualan supaya bisa lanjut sekolah.

Untungnya, tak lama setelah postingan itu viral, keberadaan sang penjual pisang goreng ini diendus oleh Dinas Sosial Kota Denpasar. Kabarnya, I Putu saat itu tengah diupayakan agar sesegera mungkin dapat melanjutkan sekolah.

Pesan Anak Kanker di Padang ke Ibu Ani: Kita Bisa Melewatinya Bersama

Padang – Mantan Ibu Negara Ani Yudhoyono masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit NUH (National University Hospital) Singapura dengan diagnosa menderita kanker darah (blood cancer). Seorang anak penderita penyakit yang sama di Padang, Sumatera Barat memberikan semangat untuk Ibu Ani.

“Semoga ibu Ani Yuhdoyono bisa tabah, sabar menjalani pengobatan. Saya dan anak-anak penderita kanker darah di sini ikut mendoakan semoga ibu baik-baik saja,” kata anak penderita kanker darah, Abdul HamidA Muhaqqiq kepada detikcom.

Bocah berusia 14 tahun itu merupakan satu dari 51 anak penderita kanker yang berkumpul dalam peringatan Hari Kanker Anak Sedunia, di Rumah Sakit DR Muhammad Djamil Padang, Minggu (17/2/2019).

Bersama orang tua dan keluarga masing-masing, mereka berbagi kisah bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari dalam kondisi mengidap kanker.
“Semoga ibu selalu semangat dan diberikan kesembuhan oleh Allah. Yang semangat bu. Allah akan memberikan kesehatan kepada ibu Ani dan kami semua,” Abdul Hamid melanjutkan.

Abdul Hamid sendiri diketahui menderita kanker darah sejak empat tahun lalu. Ia kini menjalani proses kemoterapi di rumah sakit. Meski sakit, ia tetap menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi.

“Kalau sedang pengobatan, biasanya izin libur dulu,” jelas Hamid.

Nurhaida, orang tua Hamid, mengaku sempat shock.

“Hamid dulu menderita hepatitis. Dalam pemeriksaan baru diketahui kalau ia juga (menderita) kanker darah. Tentu saja kami shock. Awalnya saja. Tapi ingat kata Tuhan bahwa itu adalah takdir. Kami akhirnya bisa belajar menerima dan lihat ke orang lain bahwa `justru ada yang lebih parah (kondisinya) dari kami,” kata Nurhaida.

Wanita asal Malalak, Kabupaten Agam itu berharap seluruh ibu yang anaknya menderita kanker tetap optimis.

“Selalu ada jalan untuk sembuh. Kita tak boleh sedih dalam perjuangan untuk meraih kesembuhan. Semua akan ringan dengan dukungan yang kuat dari kita,” katanya.

Kerjasama Dengan Rumah Sakit

Peringatan Hari Kanker Anak se-dunia yang berlangsung di Padang, diwarnai dengan penandatangan kerjasama antara Yayasan Komunitas Cahaya dan Rumah Sakit Dokter Muhammad Djamil Padang.

Yayasan Komunitas Cahaya berkosentrasi untuk membantu para penderita kanker selama proses pengobatan.

“Kita mendukung anak dan orang tuanya. Kenapa orang tua? Kalau untuk anak, urusannya sudah selesai oleh BPJS. Orang tua ini yang membutuhkan biaya sehari-hari selama pengobatan. Pemasukan terhenti saat mengantar anak berobat. Itu yang kita dampingi,” kata Dedi Kurnia Putra, Ketua Yayasan Komunitas Cahaya.

“Yang terbanyak Leukimia atau kanker darah. Ada juga tumor di otak, leher dan tumor hati. Tapi yang terbanyak memang Leukimia,” tambah Dedi.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayiotno berharap dukungan semua pihak untuk memberikan perhatian dan kepedulian kepada anak-anak penderita kanker.

“Bukan hanya dokter, orang tua dan pemerintah, tapi semua pihak. Bentuk prakteknya bisa bermacam-macam cara sesuai kewenangan dan kemampuan. Kita ingatkan bahwa ada kanker yang bisa menimpa anak-anak kita,” kata Irwan.
(asp/asp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>