BMKG Jelaskan Sambaran Petir Maut di Sumatera Utara

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan soal sambaran petir maut di Sumatera Utara yang menyebabkan tiga orang tewas. Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Fachri Rajab, mengatakan petir merupakan gejala alam yang kerap terjadi saat kemunculan awan kumulonimbus (Cb).

“Petir kan karena adanya loncatan bunga api listrik yang memang ada di atmosfer. Itu biasanya terjadi di kondisi atmosfer yang ada awan kumulonimbus,” kata Fachri kepada wartawan, Minggu (25/8/2019).

Dia mengatakan petir menyimpan energi yang sangat besar dan memiliki temperatur tinggi. Fachri menyatakan petir akan menyambar objek tertinggi di suatu wilayah.

“Petir ya memang sebuah energi yang sangat besar dan temperaturnya panas. Orang kalau kena ya, kemungkinan besar akan hangus. Makanya pohon pun bisa tumbang atau terbakar. Gedung-gedung pun ada penangkal petir,” jelasnya.

“Prinsipnya petir akan menyambar objek tertinggi. Kalau di lapangan terbuka misalnya dan ada orang ya, bisa jadi sebagai objek tertinggi ya kena,” lanjut Fachri.

Selanjutnya, Fachri menuturkan awan kumulonimbus yang menyebabkan petir itu muncul di masa peralihan musim. Di wilayah Sumut, kata dia, saat ini tengah memasuki peralihan musim.

“Ini kan di Sumut ya kejadiannya, saat ini di Sumut memang sudah mulai terjadi banyak hujan. Di Aceh juga. Penyebab petir kan disebabkan awan kumulonimbus, nah di sana sudah banyak awan-awan itu. Kemudian untuk wilayah tropis seperti Indonesia, frekuensi kejadian petir itu biasanya lebih banyak terjadi saat peralihan musim, baik dari kemarau ke hujan dan sebaliknya,” papar Fachri.

Ia pun mengimbau agar masyarakat waspada. Fachri menyarankan masyarakat memangkas pohon-pohon yang terlalu tinggi. Selain itu, dia juga mengimbau masyarakat menghindari tempat terbuka jika sedang terjadi hujan disertai petir.

“Dalam masa ini banyak terjadi hujan disertai petir. Mungkin ini bisa jadi kewaspadaan masyarakat. Kadang disertai angin kencang juga. Pohon-pohon yang mulai rindang mungkin bisa dipangkas,” kata dia.

“Kemudian, awan kumulonimbus ini ciri-cirinya hitam pekat dan tebal. Nah, kalau ada awan itu ya, waspada. Hindari tempat-tempat terbuka,” imbuh Fachri.

Diberitakan, tiga nyawa melayang akibat fenomena alam berupa petir yang menyambar di Sumatera Utara. Kejadian pertama menimpa seorang penggembala kerbau di Desa Uratan, Tapanuli Tengah, Senin (19/8).

Selanjutnya, Sabtu (24/8), dua orang santri Pesantren Darul Ilmi tewas tersambar petir saat sedang mencari bambu untuk kegiatan sekolah. Dalam peristiwa itu, juga ada empat orang yang dilaporkan luka-luka.
(tsa/tsa)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *