Bermula dari Hobi, Awie Bah Akim dan Tulatali Jadi Bisnis Menguntungkan

Liputan6.com, Jakarta Sebagai salah satu pusat wisata belanja, Bandung memiliki cukup banyak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Dilansir dari jabarprov.go.id (8/4/2017), data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan bahwa terdapat sekitar 300 ribu UMKM di Kota Kembang itu.

UMKM tersebut bergerak di berbagai bidang. Mulai dari kuliner, fesyen, hingga kerajinan tangan. Sebagian besar dari para pelaku UMKM ini memiliki cerita yang cukup menarik dan inspiratif dalam mengembangkan bisnisnya. Contohnya, dua pelaku UMKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan.

Mereka adalah Susi Ratnaningsih dan Wyda Sadrahwaty. Susi memiliki usaha Awie Bah Akim, sedangkan Wyda mempunyai bisnis Tulatali. Keduanya memiliki kisah yang begitu inspiratif dalam menjalankan usaha mereka. Simak, yuk!

Awie Bah Akim

Bisnis yang telah berjalan sejak 2007 ini turut menjaga kelestarian budaya khas Sunda. Awie Bah Akim menjual alat-alat musik khas Sunda yang dibuat secara handmade. Alat-alat musiknya merupakan inovasi dari alat musik yang sudah ada, sehingga cukup unik dan berbeda dari yang lainnya. Pembuatannya pun tak sembarangan karena menggunakan bahan dari bambu pilihan diproses dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Awie Bah Akim sudah mulai dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan, Awie Bah Akim pernah mewakili Indonesia di pameran luar negeri.

“Awalnya Bah Akim membuat grup musik yang alat-alat musiknya ia buat sendiri bersama teman-temannya.  Seiring berjalannya waktu, ternyata sering ada permintaan pembuatan alat musik dari bambu. Akhirnya, Bah Akim melihat potensi dari produk ini dan berlanjutlah sampai sekarang,” ujar pemilik UMKM Awie Bah Akim, Susi Ratnaningsih, saat dihubungi oleh liputan6.com (25/3/2019).

Kini, UMKM yang berlokasi di Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Bandung, tersebut mampu menghasilkan omzet lebih kurang Rp 5 juta per bulan. Menurut Susi, Awie Bah Akim dapat terus berkembang hingga seperti sekarang ini karena mendapat dukungan dari banyak pihak, seperti pemerintah, komunitas, dan media.

UMKM tersebut juga mendapat dukungan besar dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Awie Bah Akim telah menjadi nasabah tabungan Simpedes BRI. Selain itu, UMKM ini juga telah bergabung dengan Rumah Kreatif BUMN (RKB) milik BRI sejak sekitar lima tahun lalu.

Susi mengatakan bahwa BRI tak hanya membantunya dalam hal permodalan untuk usaha agar lebih maju lagi. Tak hanya itu, RKB juga memberikan bentuk pelatihan yang mampu memajukan usaha.

“BRI memberikan pelatihan-pelatihan yang sangat membantu bagi saya. Juga pemasaran UMKM,” ucapnya.

Susi pun berharap dapat terus mendapat dukungan dari RKB BRI dan memperoleh kesempatan mengikuti pameran yang diadakan BRI. Saat ini, produk Awie Bah Akim dapat dibeli secara offline maupun online.

Secara online bisa didapatkan lewat akun Facebook Abah Akim, Instagram @awie_bahakim, website www.awiebahakim.com, atau WhatsApp 081221760728.

Untuk alamatnya, Jl. Dago pojok tanggulan no.5 RT 7 RW 3 Kelurahan Dago Kecamatan Coblong. Kota Bandung, 40135.

Tulatali

Dalam Bahasa Sunda, Tulatali berarti tali temali. Sesuai namanya, bisnis ini bergerak di bidang kerajinan yang mengaplikasikan hiasan tali temali. Berdiri sejak 2015, Tulatali bermula dari hobi sang pemilik untuk membuat kerajinan tangan seperti bros, kalung, dan dompet kecil, dengan aplikasi tali-temali.

“Tulatali selalu melibatkan tali temali dalam setiap produknya dengan berbagai tehnik kriya, sehingga setiap produk menjadi unik,” ujar pemilik UMKM Tulatali, Wyda Sadrahwaty.

Ia menceritakan, awalnya produk Tulatali berupa bros dan kalung hanya dijual untuk memenuhi pesanan orangtua murid di sekolah sang anak dan dipasarkan di bazaar sekolah. Hingga akhirnya, Wyda  mencoba ikut pameran yang pengunjungnya lebih banyak, seperti pameran hijab fest dan pameran craft yang diadakan dinas kota Bandung. Lambat laun, nama Tulatali pun mulai dikenal.

Kini, produk Tulatali bisa dibeli di toko di Balubur Town Square Bandung dan Rupa Rupi Handicraft Market, serta Instagram @tulatali.

UMKM tersebut berlokasi di Jl. Panaitan No. 35 RT 012/006 Kelurahan Kebon Pisang Kecamatan. Sumur Bandung, Kota Bandung.

Tak tanggung-tanggung, pengikut akun @tulatali sudah mencapai 2.230 orang. Wyda pun mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp 10 -15 juta setiap bulannya dari penjualan Tulatali.

Menurutnya, Tulatali bisa dikenal banyak pelanggan karena ia banyak mengikuti program yang disediakan oleh RKB BRI. Ya, sama seperti Susi, Wyda juga merupakan peserta RKB BRI. Namun berbeda dengan Susi, Wyda merupakan nasabah Britama.

“Pelatihan dan workshop dari RKB BRI sangat membantu kemajuan Tulatali ,mulai dari workshop macrame, ecoprint, hingga suminagasi, yang kemudian saya aplikasikan ke produk tulatali. RKB BRI juga pernah memfasilitasi Tulatali di beberapa pameran dengan market pasar berbeda,” kata dia.

Wyda melanjutkan, dirinya juga pernah ikut incubator yg diselenggaran oleh RKB BRI. Menurutnya, di sana ia mendapat banyak sekali ilmu, terutama untuk keuangan, logistik, pemasaran, dan pelatihan tentang marketplace. Secara perlahan-lahan, imbuh Wyda, ilmu itu sudah mulai ia terapkan dalam bisnisnya.

Menginspirasi

Kisah Susi dan Wyda di atas dapat memberi inspirasi bagi para calon pelaku UMKM bahwa hobi dapat menjadi bisnis yang menguntungkan. Selain itu, usaha seperti Awie Bah Akim juga dapat menjaga kelestarian budaya lokal.

Para calon pelaku UMKM juga dapat mencontoh Susi dan Wyda yang mencari dukungan kepada RKB dari BRI. Perlu diketahui, program tersebut yang diinisiasi oleh Kementerian BUMN sebagai upaya pemberdayaan ekonomi kerakyatan, khususnya bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah.

Nantinya,  RKB akan mendampingi dan mendorong para pelaku UMKM dalam menjawab tantangan utama dalam peningkatan kompetensi, peningkatkan akses pemasaran, dan kemudahan akses permodalan.

Ingin mengikuti jejak Susi dan Wyda? Anda bisa mencari informasi tentang RKB lebih lanjut atau mendaftarkan diri di Rumah Kreatif BUMN BRI Cabang Bandung yang beralamat di Jl. Jurong No.50, Pasteur, Sukajadi, Kota Bandung Jawa Barat 40161.

Selamat mencoba!

Internet + Politik = Bisnis Buzzer

Jakarta – Pemilihan Gubernur DKI Jakarta sudah lama rampung. Anies Baswedan kini telah resmi memimpin Ibu Kota.

Walaupun sudah lama rampung, panasnya pemilihan kepala daerah itu masih terasa hingga sekarang, khususnya di media sosial. Media sosial saat ini seolah terbagi jadi dua kubu. Ada yang memihak A, ada juga yang B.

Panasnya politik pasca pemilihan gubernur hampir bisa dipastikan berlanjut sampai sekarang di pemilihan presiden (Pilpres). Secara kasat mata, itu terlihat dari masih maraknya pemakaian istilah ‘kampret’ dan ‘cebong’. Ramainya panggung politik sekarang ini tak lepas dari peran buzzer. Apa itu?


Salah seorang mantan buzzer, Rahaja Baraha (bukan nama sebenarnya) mengatakan, buzzer merupakan bagian dari profesi yang ia geluti yakni konsultan komunikasi politik. Sebagai konsultan komunikasi politik, dia memiliki berbagai metode untuk menyampaikan pesan ke publik, salah satunya jadi buzzer.

Dia mengatakan, tugas buzzer ialah menggaungkan sebuah isu agar publik sadar. Hal itu, lanjutnya, tak berbeda dengan pekerja media.

“Bedanya adalah kita bertingkah laku sebagai masyarakat, maksudnya kalau media naikin isu atas media, kalau kita naikin isu atas masyarakat, yaudah itu dianggap masyarakat yang ngomong,” katanya saat ditemui di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Selasa (2/4/2019).

Oleh karena itu, dalam praktiknya buzzer menggunakan banyak akun media sosial. Sehingga, seolah-olah isu itu ramai dibicarakan publik.

Dia melanjutkan, ada beberapa cara agar masyarakat bisa menangkap isu yang disampaikan. Pertama, buzzer akan membuat sebuah akun. Lalu, akun tersebut bertugas mengumpulkan pengikut dan menjadi influencer. Kedua, membuat banyak akun untuk meramaikan sebuah isu yang sedang diangkat.

“Itu kan hanya marketing, tapi memang dipakai di politik juga. Sama aja kaya influencer dia punya followers 20 ribu, dia ngomong hal itu, dibayar, itu kan buzzer. Bedanya dia pakai akun asli follower dia banyak. Kalau kami para pekerja ini, kita bikin akun sendiri, namanya mungkin asal, followernya nggak banyak, tapi log in-log out ngomongin terus-terusan,” paparnya.

Buzzer lain, Tatok, masih ragu untuk menyebut kegiatan yang ia lakoni sebagai profesi. Meski begitu, dia menuturkan buzzer bukan pelaku yang memproduksi sebuah isu. Ia hanya bertugas membantu klien menyebarkan informasi.

Dia menjelaskan, maraknya buzzer tak lepas dari berkembang dengan pesatnya media sosial. Sehingga, setiap orang bisa menyampaikan apa saja melalui media tersebut.

Buzzer, katanya, sama seperti pengguna media sosial lainnya. Tapi, media sosial tersebut digunakan untuk menggiring sebuah opini.

“Terkait dengan buzzer artinya, saya atau yang lain bukan pelaku sebenarnya. Yaitu sama media sosial tertentu pengguna, meminta si klien membantu. Dalam arti membantu, dalam arti menggiring opini,” terang Tatok.

Tatok menambahkan, buzzer sendiri bisa digunakan sebagai sebuah alternatif dari kampanye yang dilakukan secara manual alias tatap muka. (dna/dna)

Tips Memulai Bisnis Sewa Apartemen

Liputan6.com, Jakarta – Bagi masyarakat urban perkotaan, tinggal disebuah apartemen saat ini menjadi pilihan utama. Lokasi yang strategis serta didukung dengan kelengkapan fasilitas, membuat tinggal di hunian vertikal merupakan pilihan yang logis.

Kondisi ini pun akhirnya dijadikan peluang bisnis yang menjanjikan oleh para investor properti, mereka membeli unit apartemen untuk mendapatkan keuntungan dengan disewakan. Rata-rata targetnya adalah para profesional muda ataupun ekspatriat.

Namun tentunya, menjalankan bisnis sewa apartemen ternyata bukan lah hal yang mudah, karena ada banyak hal yang harus Anda perhatikan, salah menentukan strategi bisa-bisa, apartemen tidak laku disewakan.

Nah, bagi Anda yang ingin menjalankan bisnis sewa apartemen, berikut ini adalah tips menarik dari portal properti Lamudi:

Lokasi Strategis

Semakin strategis lokasi apartemen Anda, semakin tinggi biaya sewa apartemen yang bisa Anda terapkan. Lokasi, bagaimanapun, adalah faktor penting dalam memilih apartemen, selain faktor fasilitas dan pembangunan daerah. Gabungan faktor-faktor ini dapat menjadi nilai jual yang penting yang patut dipertimbangkan.

Renovasi dan Upgrading

Bagi para calon penyewa, biasanya, akan mempertimbangkan semua pilihan sebelum memutuskan. Untuk memenangkan kompetisi, renovasi dan upgrade properti Anda hingga terlihat kian menarik. Jika luasan unit apartemen tidak terlalu luas, Anda bisa menyiasatinya dengan menggunakan furnitur yang fungsional atau pengaplikasian cat dengan warna putih.

Pelindo III Lebarkan Sayap ke Bisnis Migas

Liputan6.com, Jakarta – PT Pelindo III (Persero) melebarkan sayap bisnis dengan memberikan layanan terminal pendukung industri minyak dan gas (migas) dengan menyediakan terminal gas alam cair atau Liqufied Natural Gas (LNG).

Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis Pelindo III Toto Nugroho mengatakan, setelah mengoperasikan terminal LNG terapung di Pelabuhan Benoa Bali. Kemudian belum lama ini juga bersinergi dengan sesama BUMN, yakni Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk memulai pembangunan terminal LNG di Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Infrastruktur pelabuhan sangat penting untuk disinergikan untuk melayani kebutuhan logistik energi nasional. Karena pelabuhan merupakan pintu masuk yang dapat berkontribusi untuk menekan cost recovery dari industri migas di Indonesia,” kata Toto, di Jakarta, Rabu (3/4/2019).

Toto menambahkan, kerja sama pengembangan fasilitas pelabuhan untuk mendukung operasional di hulu industri migas potensinya sangat besar, karena banyak lahan konsesi Pelindo III yang berada di waterfront atau berbatasan langsung dengan laut.

Pelindo III bahkan sudah menyiapkan lini usaha khusus, yaitu Pelindo Energi Logistik (PEL), yang akan fokus mengembangkan integrated services shorebase terminal atau terminal pelabuhan dengan sejumlah layanan yang siap mendukung logistik pelaku industri migas. Terminal Gresik di Jawa Timur sudah siap dengan dedicated area untuk memberikan layanan terintegrasi dari kegiatan di laut, seperti kapal sandar, hingga kegiatan di darat, untuk lokasi penyimpanan misalnya,” paparnya.

Melalui konsep integrated services shorebase terminal tersebut, layanan PEL akan di-back up oleh lini usaha Pelindo III Group lainnya. Mulai dari layanan armada kapal offshore, transportasi truk, mooring-unmooring(penambatan), loading-unloading (bongkar muat), penyediaan alat berat, perawatan dan suku cadang peralatan. Termasuk penyediaan tenaga kerja professional operasional, pengamanan, kebersihan, dan transportasi.

Bahkan hingga jasa klinik kesehatan dan catering untuk pekerja di lokasi khusus. Dengan lengkapnya layanan dalam satu kawasan yang terdedikasi untuk kegiatan industri migas yang menuntut standar keselamatan yang tinggi, maka potensi efisiensi yang dicapai cukup besar.

Lebarkan Bisnis, Pegadaian Terima Kredit Kendaraan Bermotor

Liputan6.com, Jakarta – Penjualan kendaraan bermotor di Indonesia, baik mobil atau motor masih cukup menjanjikan. Bahkan, jika dilihat dari persentasenya, pembelian secara kredit masih lebih besar, dibanding secara tunai.

Melihat pasar yang masih cukup besar, Pegadaian juga tertarik untuk berbisnis di industri otomotif ini dengan memiliki program pembiayaan kendaraan bermotor (mobil dan motor) baru atau bekas. Uniknya, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini melayani kredit dengan sistem syariah, bernama Amanah.

Dijelaskan Amalia Komalasari, Pimpinan Cabang pegadaian Kebayoran baru, Jakarta Selatan ini, dengan sistem syariah ini, program kredit Pegadaian tidak menerapkan bunga, melainkan mun’ah atau sewa modal.

“Dengan sistem ini, pastinya lebih murah dibanding dengan leasing di Indonesia,” jelas Amalia saat ditemui di Pegadaian Kebayoran Baru, beberapa waktu lalu.

Dengan program ini, konsumen bisa memiliki kendaraan dengan mudah. Untuk tenornya sendiri, jika calon konsumen meminjam uang untuk membeli kendaraan lebih dari Rp 400 juta, maka jangka waktunya bisa sampai lima tahun.

Mau Bisnis Jualan Ayam Geprek? Siapkan Modal Segini

Jakarta – Dengan keinginan menciptakan konsep baru untuk sebuah restoran yang dapat terjangkau bagi seluruh kalangan, empat orang yang berdomisili di Yogyakarta berinisasi mendirikan gerai Chicken Crush!. Adalah Stefanus Roy, Tony Hidayat, Nathaniel Malvin, dan Teddy Agus Heryawan, anak muda yang berhasil membuka usaha ayam geprek di Yogyakarta.

Latar belakang Chicken Crush! sendiri diciptakan berdasarkan niat utama para inisiator, yaitu membuka usaha makanan yang dapat dikonsumsi setiap harinya. Selain itu, melihat tren di Yogyakarta, para inisiator memilih untuk membuka restoran ayam geprek.

Chicken Crush! pertama kali didirikan pada bulan Maret 2017 dengan modal utama Rp 400 juta. Kini, Chicken Crush! dapat menghasilkan omzet Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulannya. Dengan omzet tersebut, Chicken Crush! dapat meraup untung Rp 10 juta – 50 juta per bulan.


Tanpa melakukan promosi dengan situs atau media sosial, Chicken Crush! berhasil mengandalkan gerainya untuk balik modal dalam kurun waktu kurang dari 8 bulan. “Perkembangan gerai kami bagus sekali. Dari situ banyak yang berminat membuka mitra dengan kami,” kata Stefanus Roy selaku Direktur Chicken Crush! yang biasa disapa dengan Roy kepada detikFinance, Senin (1/4/2019).

Chicken Crush! merupakan kombinasi antara rempah nusantara dengan western food. Konsep western food sendiri dibuat dalam lauk utamanya, yaitu ayam yang diolah menjadi ayam goreng tepung. “Dengan konsep fusion food, pengolahan produk kami tidak memerlukan proses yang sulit seperti makanan nusantara pada umumnya. Hanya dengan standar SOP yang ada, makanan kami dapat diolah dengan mudah dan menciptakan rasa yang unik,” kata Roy.

Chicken Crush! memiliki tiga menu andalan, yaitu ayam goreng original, ayam geprek (crushed) pedas, dan ayam keju. Uniknya, ayam geprek Chicken Crush! menggunakan proses deep fried yang membedakannya dari kompetitor. Selain itu, Chicken Crush! juga menyediakan tingkat kepedasan yang bervariasi khusus untuk ayam geprek, yaitu level 2 (0-3 cabai), level 3 (4-6 cabai), dan level 4 (7-9 cabai).

Tanpa harus menguras kantong, Chicken Crush! mematok harga cukup murah, yaitu Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Tak heran Chicken Crush! menjadi tempat makan favorit bagi kalangan siswa, mahasiswa, pekerja kantoran/pabrik, dan juga keluarga.

Berkat pengalaman mereka sebagai pengusaha, Chicken Crush! mampu berkembang sangat pesat. 8 gerai pertama sukses dibuka di kota-kota besar Pulau Jawa dibuka dalam kurun waktu 8 bulan sejak pembukaan gerai pertama di Yogyakarta. Kini, Chicken Crush! telah sukses dengan 23 cabang yang tersebar di Indonesia. “Hari ini Chicken Crush! buka cabang di kota Batam. Rencananya, bulan ini Chicken Crush membuka 7 cabang di Medan,” jelas Roy.

Pada tahun 2019 ini, target Chicken Crush! adalah merentangkan sayapnya hingga 45 cabang di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, Chicken Crush! membuka peluang bisnis bagi orang-orang yang berminat untuk bergabung dengan Chicken Crush!.

Peluang bisnis tersebut tak jauh berbeda dengan persyaratan waralaba pada umumnya. Untuk bergabung dengan peluang bisnis Chicken Crush!, diperlukan modal atau total investasi mulai Rp 200 juta dengan keuntungan return on investment 12 hingga 36 bulan tergantung performa gerai. “Namun, apabila peminat sudah memiliki tempat, modal yang perlu disiapkan dapat lebih rendah. Karena sudah tidak perlu sewa tempat,” tambah Roy.

Roy mengaku tidak gentar dengan adanya persaingan, mengingat restoran ayam geprek saat ini sudah menjamur di Indonesia.

“Selama kita bisa bawa faktor rasa, pelayanan, kebersihan, dan efisiensi serta harga, kita yakin bisa tetap eksis,” tuturnya.

Informasi mengenai menu, cabang, dan peluang bisnis Chicken Crush! dapat diakses melalui instagram @chickencrush.id. (zlf/zlf)

5 Bisnis Teraneh di Dunia tapi Super Sukses

Kadang saat kesal dan marah, beberapa orang ingin membanting barang untuk meredakan stressnya. Tapi, tidak mungkin menghancurkan barang-barang rumah yang bernilai, bukan?

Tidak usah khawatir karena di Tokyo, ada tempat yang menjual barang-barang khusus untuk dibanting. Mereka bisa membeli piring, cangkir atau apapun dan melemparkannya di dinding. Mereka bisa mengeluarkan sumpah serapah, menginjak apapun dan melakukan segalanya untuk menghilangkan amarah mereka.

4. Bed Bug Barrier – Alat pembasmi serangga di hotel

Anda mungkin pernah menginap di hotel dan terkena tungau atau serangga menggangu lainnya. Tony Abrams melihat hal ini sebagai peluang bisnis dengan menyediakan peralatan pembasmi tungau dan serangga.

Tidak hanya mesin, Abrams juga menyediakan sprei anti tungau dan perlengkapan lainnya. Perlengkapan ini akan mencegah serangga merayap ke kasur.

Mungkin Anda mengganggap ide ini konyol, karena siapa yang akan membuang uang membeli alat ini. Namun bisnis ini ternyata sukses di pasaran.

5. I Do, Now I Don’t – Marketplace jual beli cincin pertunangan

Ide bisnis ini berawal dari kisah Josh Opperman yang ditinggal tunangannya hanya dalam waktu 3 bulan, padahal dia sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk membeli cincin pertunangan.

Mengejutkannya ketika dia menjual cincin itu ke penjual cincin, mereka hanya menghargai USD 3.500 atau sekitar Rp 49,7 juta padahal Opperman membelinya seharga USD 10 ribu atau sekitar Rp 142 juta (Kurs 1 Dolar = Rp 14.215).

Bisnis I Do, Now I Don’t ini berbasis web, dimana para penjual yang mungkin mengalami nasib sama, ingin menjual cincin mereka dengan harga yang masuk akal. Tidak hanya cincin pertunangan, cincin apapun yang berharga bisa djual dan dibeli di marketplace ini.

Bisnis ini menuai kesuksesan dan Opperman diundang ke CNN, The Today Show, Fox News dan The New York Times.

Begini Cara Memutar Modal agar Bisnis Makin Untung

Inilah fungsi selanjutnya dari buku kas yang sebelumnya telah dibahas. Dengan mencatat pemasukan, setidaknya bisa memperkirakan apakah Anda sudah bisa membayar tagihan pinjaman berjalan atau belum.

Anda bisa mengalokasikan sebagian pemasukan untuk modal yang didapatkan dari kreditur. Lagi-lagi, pada kasus ini Anda pun harus lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Jangan sampai Anda telat membayar tagihan yang dapat berujung pada bunga pinjaman yang membengkak.

Selain itu, dengan menjaga pola pembayaran tagihan yang tetap. hal tersebut juga akan membantu jejak rekam kredit Anda menjadi lebih baik. Sehingga saat Anda mengajukan pinjaman kembali tidak akan kesulitan.

7. Hindari Membanding-bandingkan Usaha Anda dengan Kompetitor

Meskipun hal ini terdengar sederhana namun pada kenyataannya, dengan membanding-bandingkan usaha yang Anda miliki dengan kompetitor tidaklah menyelesaikan permasalahan keuangan. Tidak salah memang jika hakikat seorang manusia adalah tidak pernah puas dengan apa yang mereka punya.

Namun perlu Anda perhatikan, setiap usaha yang dijalankan memiliki pola yang berbeda-beda. Namun jika Anda terlalu banyak melihat kelebihan kompetitor dibandingkan mengembangkan usaha saat ini, adalah sebuah kesalahan yang fatal.

Tak perlu terburu-buru meminjam dana hanya untuk bersaing dengan kompetitor. Tapi yang perlu Anda lakukan saat ini adalah bagaimana caranya mengembangkan bisnis dengan modal sedikit mungkin namun tetap menghasilkan keuntungan yang besar.

Konsisten dan Disiplin adalah Modal Utama Berkembangnya Usaha Anda

Beberapa tips di atas dapat Anda lakukan untuk mengelola keuangan usaha yang saat ini tengah Anda jalankan.

Kunci dari semua itu adalah konsisten dan disiplin, sehingga dana yang Anda dapatkan dari kreditur dapat dikembalikan tepat waktu tanpa menunggak. Selanjutnya, Anda pun dapat mulai mengembangkan hingga menjadi lebih maju dan berkembang.

Geliat Bisnis di Kolong MRT, Harapan Baru hingga Kisah Pilu

Jakarta – Moda Raya Terpadu (MRT) telah resmi beroperasi. Setidaknya, dari 13 stasiun yang membentang dari Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat, 7 di antaranya merupakan model rel layang.

Model rel layang MRT sendiri membentang mulai dari Depo Lebak Bulus, hingga menuju Stasiun ASEAN, di Jalan Sisingamangaraja. Salah satu daerah yang dilewati rel layang tersebut adalah daerah Fatmawati, yang cukup dikenal dengan kawasan niaganya. Sepanjang jalan Fatmawati hingga ke Blok M saja berdiri beragam ruko di pinggirnya.

Lalu bagaimana dengan geliat bisnis di bawah rel layang ini, khususnya di dekat stasiun-stasiun MRT sepanjang daerah Fatmawati? detikFinance mencoba menelusurinya. (ang/ang)