BI Siapkan Strategi Antisipasi Ketidakpastian Ekonomi Global

Liputan6.com, Jakarta – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai potensi risiko utama yang patut dicermati saat ini masih berasal dari arah kebijakan pemerintah AS dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonominya yang berdampak signifikan terhadap perekonomian dunia, khususnya mitra dagang utama AS.

Sebagai akibatnya, terjadi perlambatan dan ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi global yang berdampak negatif terhadap perekonomian domestik. Sementara itu, dari dalam negeri, potensi risiko masih berasal dari defisit transaksi berjalan yang terus melebar, nilai tukar yang terus tertekan, serta ketergantungan pada ekspor komoditas tertentu.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyebutkan KSSK terus melakukan pemantauan dan mitigasi berkelanjutan atas dampak dari berbagai potensi risiko tersebut terhadap Stabilitas Sistem Keuangan.

“Mitigasi tersebut di antaranya, di bidang moneter, untuk turunkan defisit transaksi berjalan. Makanya BI sejak Mei sudah naikkan suku bunga hingga 150 bps, itu bukan karena inflasi, tapi untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan Indonesia, sekaligus untuk turunkan defisit transaksi berjalan,” kata Perry dalam acara konfrensi pers KSSK, di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Dia mengungkapkan, BI juga terus berada di pasar dan bila diperlukan maka akan lakukan pembelian SBN di pasar sekunder. “Ini juga melalui operasi moneter di pasar uang dan SBN. BI juga lakukan di pasar valas, setelah kami berhasil dorong pasar swap valas,” ujarnya.

Dia juga mengatakan BI juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar Ruplah maupun pasar valas. Pada hari ini BI memberlakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam rangka mempercepat pendalaman pasar valas serta memberikan alternatif instrumen lindung nilai bagi bank dan korporasi. Transaksi DNDF sudah berjalan dan sekitar 30 bank sudah signing.

“Dengan telah dibukanya DNDF, ratenya bisa lebih rendah dari ini. Ratenya ikut rate DNDF. Ini kami lakukan agar likuiditas bagi bank dan korporasi terjaga,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *