Demam, Ihsan Mundur dari Indonesia Masters 2019

JakartaIndonesia Masters 2019 mulai digeber, Selasa (22/1/2019). Tapi tunggal putra Indonesia Ihsan Maulana Mustofa memutuskan mundur karena sakit.

Kabar mundurnya Ihsan terkonfirmasi dari Kepala Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Susy Susanti. Ihsan seharusnya bertanding di babak kualifikasi menghadapi pemain India, Parupalli Kashyap.

“Sakit mbak. Sepulang dari Malaysia kondisinya drop. Ada demam,” kata Susy kepada detikSport, Senin (21/1/2019).

“(Sampai saat ini) belum pulih,” ujarnya lagi.

Ketua Panitia Penyelenggara Indonesia Masters, Achmad Budiharto, yang juga Sekretaris Jenderal PBSI membenarkan kabar mundurnya atlet pelatnas Cipayung tersebut.

“Betul (mundur) Ihsan,” kata Budiharto, terpisah.

Bahkan selain Ihsan, Budiharto juga mengonfirmasi beberapa pemain bulutangkis lainnya yang urung berlaga. Yaitu, Tommy Sugiarto, Prannoy Kumar (India), Sameer Verma (India), dan Lee Hyun Il (Korea).

Tommy sejatinya akan menghadapi Anthony Sinisuka Ginting di babak pertama Indonesia Masters, namun mundurnya Tommy dan Ihsan membuat sedikit perubahan pada hasil undian. Anthony akan bertemu Parupalli Kasyap.

Sementara Lin Dan yang harusnya bertemu Verma, akan berhadapan dengan kompatriotnya, Zhao Junpeng, dari babak kualifikasi.

Sebelumnya, juga ada tujuh pemain China yang juga batal bertanding karena mengalami cedera. Dari 44 yang terdaftar di entry by name hanya 37 yang dipastikan ikut.

(mcy/cas)

Kader PBB Laporkan Ajudan Yusril Atas Kasus Pengeroyokan

Jakarta – Kader Partai Bulan Bintang (PBB) Ali Wardi melapor ke Polres Jakarta Selatan. Dia mengaku dianiaya oleh puluhan orang, salah satunya disebut merupakan ajudan Yusril Ihza Mahendra bernama Yosep Ferdinan alias Sinyo.

Ali mengatakan, penganiayaan ini terjadi pada Sabtu (19/1) malam sekitar pukul 19.21 WIB. Dia mengaku dikeroyok puluhan orang di halaman kantor DPP PBB di Pasar Minggu, Jaksel.

“Saya sebagai kader. Wakil Partai Bulan Bintang, mantan pengurus Ketua DPC Kabupaten Bogor. Sekarang Sekretaris Jenderal (Sekjen) Prabowo-Sandi Partai Bulan Bintang (PAS Lantang). Keberpihakan saya terhadap Prabowo-Sandi mungkin jadi membuat Yusril dan kawan-kawan yang mengarahkan PBB ke 01 merasa tersinggung, merasa terusik, sehingga saya menjadi sasaran,” kata Ali di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

Diceritakan Ali sore itu dirinya datang ke kantor DPP PBB di Pasar Minggu. Menurutnya saat itu di dalam ruangan akan ada rapat bersama Yusril soal penentuan keberpihakan PBB di Pilpres 2019 apakah ke Jokowi-Ma’ruf Amin atau Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Ali Wardi melapor ke Polres Metro Jakarta SelatanAli Wardi melapor ke Polres Metro Jakarta Selatan Foto: Farih Maulana/detikcom

“Setelah itu habis magrib kami salat maghrib. Pas Isya kami salat di musala DPP. Begitu masuk (ke ruangan-red) sudah rame orang, feeling saya sudah ada, saya masuk saja berdua dengan kawan saya. Ada orang yang nanya dari belakang? Ali Wardi ya? Belum sempat saya jawab saya langsung dipukul,” ujarnya.

Ali mengaku, saat itu orang yang mengeroyoknya makin banyak. Dari puluhan orang yang mengeroyoknya, sebagian besar wajahnya tidak dia kenali. Usai pengeroyokan itu dia dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, untuk dirawat dan kemudian melakukan visum. Dia sempat dirawat semalam di rumah sakit tersebut.

Ali mengaku mengalami lebam di seluruh tubuh usai dikeroyok. Saat datang ke Polres Metro Jakarta Selatan, dia juga menggunakan penyangga leher.

“Ada banyak yang melihat kejadian itu. Video? Ada yg mau ambil video tapi videonya diambil. Salah satu saksi adalah sekjen PBB bernama Yunasdi. Dia juga sempat terpukul saat melerai saya,” ucapnya.

“Iya tangan kosong. Saya tidak terlalu ingat karena setengah sadar. Saya jatuh dan diinjak-injak. Dikeroyokin 30 orang,” sambung Aldi saat ditanya bagaimana dirinya dianiaya. Ali menyebut pelaku utama dalam kasus pengeroyokan dirinya adalah ajudan Yusril, Yosep Ferdinan alias Sinyo.

Menurut Ali sebelum kasus ini, dirinya sudah sering mendapat ancaman karena bersikap kritis di media sosialnya seperti Facebook. Dia menduga ini ada kaitannya dengan sikapnya yang bersebrangan dengan Yusril. Ini menurutnya dimulai saat Yusril menjadi pengacara Jokowi jelang Pilpres 2019.

“Sekali lagi karena saya mungkin dianggap paling kritis, saya sempat berdebat di medsos dengan Yusril, waktu itu juga sempat ya sampai akhirnya waktu itu dia nggak bisa jawab, apa alasannya menjadi lawyer (Jokowi-red) begitu, saya kritis begitu sejak dia jadi lawyer, sebelum dia jadi lawyer saya sangat mensupport dia, sangat mengidolakan dia,” ucapnya.

“Sampai hari ini Ketua PBB Yusril Izha Mahendra tidak pernah menghubungi saya, sekjennya juga tidak pernah, wakil ketumnya juga tidak pernah menanyakan kondisi, tidak pernah. Saya kader, demi Allah saya kader,” sambung Ali.

Ali didampingi Novel Bamukmin, dan Ketua Tim Advokasi Pas Lantang yang juga Wasekjen DPP PBB Bidang Hukum dan HAM Ismar Syafrudin melaporkan kasus ini ke Polres Metro Jakarta Selatan berdasarkan laporan polisi nomor LP/173/K/I/2019/PMJ/Restro Jaksel. Ali melaporkan Yosep Ferdinan alias Sinyo dengan pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan. Dia melakukan pelaporan dengan membawa sejumlah bukti salah satunya hasil visum.

Ismar Syafrudin dan Novel Bamukmin menambahkan, mereka berharap polisi segera bergerak mengusut kasus ini. Dia berharap siapapun yang terbukti terlibat bisa diproses hukum.

“Ini betul-betul pihak dari penyidik Polres Jaksel harus melakukan tindakan tegas karena ini berbahaya dan bisa menimbulkan gejolak yang lebih besar karena pelakunya. Karena saksi-saksi sudah menyatakan langsung kepada kami bahwa pelaku adalah salah satu ajudan Ketua Umum PBB. ini yang perlu diluruskan karena dia sudah sebagai terlapor yaitu Sinyo alias Yosep Ferdinan cs,” ucap Ismar.
(hri/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Heboh Pose 2 Jari, Ari Lasso: Pilihan Saya Rahasia

Jakarta – Penyanyi Ari Lasso mendapat banyak pertanyaan setelah fotonya saat berpose dua jari viral. Kini, vokalis pertama Dewa 19 itu bicara soal pilihan politiknya.

“Penjelasan saya adalah: Tentu saya punya pilihan. Siapa? Biar itu menjadi rahasia saya. Karena yang terpenting bagi saya adalah menjadi warga negara yang baik,” kata Ari lewat akun Instagram-nya, @ari_lasso, Senin (21/1/2019).

Foto yang diambil pada 14 Januari 2019 itu membawa isu panas, karena salam dua jari saat ini juga dipakai oleh Prabowo-Sandiaga, pasangan calon di Pilpres 2019. Ahmad Dhani, rekan musisinya yang merupakan pendukung Prabowo-Sandiaga, berada dalam satu foto bersama rekan-rekan Dewa 19 lainnya.


Ari sendiri memilih untuk merahasiakan pilihannya. Dia memilih untuk mencintai negeri ini dengan menjadi warga negara yang baik. Namun viralnya foto itu diakuinya sempat menuai reaksi dari orang-orang terdekatnya.

“Dari kemarin hingga saat ini liburan saya rada keganggu oleh begitu banyak WA membahas postingan panas. Ada yang kecewa, marah, patah hati, senang, bangga, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dia menyebut Ahmad Dhani-lah yang membuat foto itu viral. Padahal, semua berawal dari bercanda tentang tanda jari. Sejak Dhani mengunggah foto di Instagram, maka banyak akun media sosial yang turut menyebarkan foto itu.

“Disebarkan bahkan oleh ‘akun2 penting’ tanpa konfirmasi… Ck ck ck… Masuk kategori hoax kah? I don’t know,” tulis Ari.

Namun dia tak marah dengan Dhani, karena dia paham betul gaya bercanda Dhani sebagai orang Surabaya. “Perihal Ahmad Dhani?? Marah kah saya? Nggak juga… Namanya juga Dhani, istilah Suroboyone: Guyon’e kenemenen, jarno ae (Istilah Surabayanya: bercandanya keterlaluan, biarkan saja),” tandas Ari. Dia menyertakan tagar ‘takharussama’ dan ‘tetapBersatu’.

(dnu/imk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi Vs Prabowo Kian Tipis Versi Median, Luhut: di Kami Masih Beda 20%

Jakarta – Luhut Binsar Panjaitan menepis hasil survei Median yang menyebut keunggulan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin kian menipis dari pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Menurut Luhut, elektabilitas Jokowi masih sangat baik.

“Ah nggak (beda tipis elektabilitas Jokowi dengan Prabowo), elektabilitasnya Pak Jokowi masih sangat baik,” kata Luhut di Gedung Kemenko Maritim, jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (21/1/2019).

Luhut lalu mengungkapkan, survei yang dilakukan pihaknya menunjukkan elektabilitas Jokowi dengan Prabowo terpaut cukup jauh, yakni lebih dari 20 persen.

“Masih beda lebih 20 persen, kami lihat angkanya steady, pantauan riset kami masih,” ujar Menko Kemaritiman itu.
Sebelumnya, Lembaga Survei Median merilis hasil survei terbaru terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019, di mana keunggulan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin semakin menipis dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Sebelum debat kandidat, Median melakukan survei dengan memberikan surat suara kepada responden terpilih untuk mencoblos capres pilihannya.

“Kami berikan surat suara dan mereka mencoblos. Kita lihat bahwa elektabilitas pasangan 01 itu 47,9 persen, elektabilitas atau keterpilihan Prabowo-Sandi itu 38,7 persen dengan gap atau selisih di antara keduanya 9,2 persen dengan undecided itu 13,4 persen,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun saat menyampaikan hasil survei di Bumbu Desa, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/1).

Dengan hasil tersebut, selisih elektabilitas kedua paslon sudah menyentuh satu digit. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dinilai stagnan, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi terus tumbuh, tetapi lambat.

“Selisih elektabilitas atau jarak elektoral sekarang relatif menipis. Tetapi bisa kita lihat suara 01 relatif stagnan dan suara pasangan 02 itu tumbuh suaranya tapi relatif lambat, tidak spektakuler, tidak besar,” ujar Rico.

Sementara itu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga optimis, tak lama lagi Prabowo-Sandi akan mampu mengungguli sang petahana.

“BPN tetap akan fokus meningkatkan elektabilitas pasangan 02. BPN yakin betul bahwa beberapa waktu ke depan, elektabilitas paslon 02 bisa menyalip pasangan 01. Tentu ini sesuatu yang sangat mungkin. Terbukti dari hasil survey median dan survei internal yang dilakukan oleh tim BPN,” ujar Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Saleh Partaonan Daulay, kepada wartawan, Senin (21/1).
(nvl/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pujian hingga Harapan Mundurnya Edy Rahmayadi dari Ketua Umum PSSI

Liputan6.com, Jakarta – Edy Rahmayadi memilih mundur sebagai Ketua Umum PSSI. Kepastian mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI diumumkan langsung saat memberikan sambutan pada pembukaan Kongres PSSI di Hotel Sofitel Bali, Minggu, 20 Januari 2019 kemarin.

Edy yang juga Gubernur Sumatera Utara itu mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI karena merasa gagal mewujudkan mimpi masyarakat Indonesia, yakni membawa timnas Indonesia berprestasi.

Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI ini pun mendapat beragam tanggapan. Salah satunya dari Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Pria yang karib disapa Bamsoet ini memuji Edy yang mengakui gagal memimpin PSSI.

Selain itu, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Sumarsono berharap mundurnya Edy dapat membuat dirinya fokus bekerja memimpin Sumatera Utara.

Berikut pujian hingga harapan mundurnya Edy Rahmayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI yang dihimpun Liputan6.com:

2 dari 6 halaman

1. Akui Kegagalan

Ketua DPR Bambang Soesatyo menghargai keputusan pengunduran diri Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Menurut dia, sangat jarang pimpinan yang mau mundur dari jabatannya karena merasa gagal.

“Secara gentle Edy mengakui mundur sebagai Ketum PSSI karena gagal menjalankan tugas sebagai pucuk pimpinan PSSI. Sangat jarang pimpinan yang mau mengakui kegagalan dan mundur dari jabatan yang diembannya,” ujar Bamsoet saat dikonfirmasi, Senin (21/1/2019).

Bamsoet mengatakan, banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Ketum PSSI pengganti Edy Rahmayadi, untuk membenahi dunia sepak bola di Indonesia.

Terlebih, prestasi timnas sepak bola Indonesia beberapa waktu ini masih belum bisa menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Bamsoet menuturkan hal tersebut juga diperparah dengan terkuaknya kasus mafia sepak bola, terkait dengan pengaturan skor. Untuk itu, dia berharap agar Ketum PSSI baru dapat menyelesaikan kisruh sepak bola di Indonesia.

“Saya berharap Ketum PSSI yang baru harus benar-benar memahami tentang persepakbolaan Indonesia dan dapat memajukan prestasi anak bangsa melalui sepak bola, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Termasuk menyelesaikan karut-marut permasalahan yang ada,” kata politikus Golkar itu.

3 dari 6 halaman

2. Fokus Pimpin Sumut

Edy Rahmayadi resmi mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI pada Kongres Tahunan PSSI di Nusa Dua, Bali, Minggu, 20 Januari 2019. Kini mantan Pangkostrad itu diharapkan fokus bertugas sebagai Gubernur Sumatera Utara (Sumut).

“Mundur dari PSSI, memang lebih baik, supaya bisa konsentrasi melaksanakan tugas sebagai Gubernur Sumut,” kata Dirjen Otonomi Daerah, Sumarsono dalam keterangannya, Senin (21/1/2019).

Pria yang akrab disapa Soni ini menuturkan, perihal rangkap jabatan yang sempat diemban Edy Rahmayadi sebelum mundur dari Ketum PSSI itu diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 800/148/SJ yang dikeluarkan pada 17 Januari 2012. Oleh karenanya, Soni mengapreasi langkah Edy, sehingga dapat fokus sebagai kepala daerah.

“Apabila seseorang telah menjabat KDH (kepala daerah), dilarang merangkap jabatan sebagai pengurus organisasi keolahragaan,” ucapnya.

Selain itu, terkait larangan rangkap jabatan juga sejalan dengan ketentuan Pasal 40 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan juncto Pasal 56 Ayat 1 PP 56/2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.

Aturan tersebut menegaskan pengurus komite olahraga nasional, komite olahraga provinsi, dan komite olahraga kabupaten atau kota bersifat mandiri dan tidak terikat dengan kegiatan jabatan struktural dan jabatan publik.

“Salah satu alasannya dilarangnya jabatan rangkap KDH dalam kepengurusan olahraga adalah karena kedudukan KDH rentan pada penyalahgunaan kebijakan yang akan dibuatnya,” jelasnya.

4 dari 6 halaman

3. Harapan Pendamping Edy Rahmayadi

Edy Rahmayadi mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pengunduran diri Edy diumumkan langsung dalam kongres tahunan PSSI di Nusa Dua, Bali.

Menanggapi pengunduran diri Edy, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah atau yang akrab disapa Ijeck mengatakan, hal itu merupakan hak pribadi Edy. Menurut Ijeck, Gubernur Sumatera Utara itu pasti memiliki pertimbangan khusus.

“Itu hak Pak Edy untuk memutuskan mundur sebagai Ketua Umum PSSI,” kata Ijeck saat menghadiri special screening film ‘Orang Kaya Baru’ di Ringroad City Walks, Kota Medan, Minggu, 20 Januari 2019.

Ijeck mengaku tidak mengetahui pertimbangan Edy Rahmayadi memutuskan pengundaran dirinya. Pasalnya, Ijeck tidak ikut ke Bali menghadiri kongres PSSI.

Menurutnya, semua orang tahu loyalitas Edy di sepak bola Indonesia. Seperti PSMS yang dahulu tidak ada apa-apanya, karena Edy, PSMS menjadi bangkit. Begitu juga dengan PSSI, yang sepengetahuannya bukan kemauan Edy Rahmayadi untuk menjadi ketua umum.

“Tetapi, karena kemauan dari semua persepakbolaan daerah di Indonesia, sehingga Edy menjadi Ketua Umum PSSI. Setelah beliau menjadi ketua PSSI, baru PSSI diperhatikan, dilihat, dan didengar,” ucapnya.

“Beliau sangat cinta dengan olahraga sepak bola. Saya yakin betul, hati beliau sangat berat meninggalkan PSSI. Pak Edy pulang nanti ditanyakan kenapa, saya belum komunikasi,” dia menambahkan.

Ijeck menyebut Edy Rahmayadi secara khusus tidak ada berkonsultasi dengan dirinya, meski berstatus sebagai Wakil Gubernur Sumut.

Saat hendak berangkat ke kongres, Edy hanya memberitahu Ijeck akan berangkat dan menghadiri kongres tahunan PSSI.

“Saat itu pesan saya, mana yang terbaik untuk Abang. Hanya itu saya bilang,” ujarnya.

Mengenai selama menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, Ijeck memastikan Edy Rahmayadi tetap menjalankan perannya sebagai Gubernur Sumut dengan baik. Sebab, sebelum Edy menjabat Gubernur Sumut, mantan Pangkostrad itu sudah berada di PSSI.

“Tidak pengaruh walau Pak Edy menjabat sebagai Ketua Umum PSSI dengan kinerjanya sebagai gubernur. Sebelum jadi gubernur juga sudah di PSSI,” terangnya.

5 dari 6 halaman

4. Tokoh di Sumut Setuju

Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) disambut baik oleh Tokoh Masyarakat Sumatera Utara, yaitu Rahmat Shah.

Rahmat menyebut, mundurnya Edy sebagai Ketua Umum PSSI sangat bagus, karena akan fokus mengemban tugasnya sebagai Gubernur Sumut.

“Saya rasa bagus, karena beliau harus konsentrasi penuh kepada Sumut,” kata Rahmat.

Setelah Edy memutuskan mundur sebagai Ketua Umum PSSI, Rahmat menegaskan biarlah orang lain yang lebih memiliki waktu untuk mengurus organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu.

Rahmat juga setuju 100 persen Edy memutuskan mundur sebagai Ketua Umum PSSI, agar konsentrasinya ke Sumut kembali.

“Mudah-mudahan dengan beliau mundur, bisa mengabdi di Sumut, lebih tenang, damai, dan memiliki waktu. Kita doakan dan kita sangat mendukung,” Rahmat menandaskan.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Baru 5 Tahun Dibui Usai Siram Air Keras, Ayah Tiri Samuel Kok Bebas?

Magetan – Usai menyiram Samuel Kristian (11) dengan air keras, Haryanto (45) harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.

Pengadilan Negeri Magetan kala itu memvonis ayah tiri Samuel tersebut dengan hukuman penjara selama 10 tahun karena terbukti bersalah telah menyiram air keras kepada Samuel yang saat itu masih berumur 5 tahun.

Namun belakangan terdengar kabar bahwa Haryanto telah menghirup udara bebas. Kabar ini dilontarkan tante Samuel, Yanti.

Bahkan Yanti mendengar warga Dusun Donowangsan, Desa Patihan, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan itu sudah bebas dari penjara sejak bulan Desember 2018 silam.
Pihak keluarga tak tahu pasti alasan apa yang membuat pelaku bisa dibebaskan. “Padahal baru menjalani hukuman 5 tahun tapi infonya sudah bebas,” ujarnya.

Benarkah ini? “Betul, yang bersangkutan mendapatkan PB atau Pembebasan Bersyarat sejak 11 Desember 2018 kemarin,” terang PLH Kabid Pembinaan Lapas Klas 1 Madiun Agus Yanto kepada detikcom, Senin (21/1/2019).

Menurut Agus, Haryanto mulai menjalani hukuman sejak tanggal 11 Desember 2013, namun ia diperbolehkan bebas lima tahun kemudian atau pada tanggal 11 Desember 2018.

Namun Agus mengungkapkan selama menjalani masa hukuman, Haryanto berkelakuan baik dan selalu rutin mengikuti kegiatan pembinaan dari lapas, baik jasmani dan rohani.

Karena itulah ia berulang kali mendapatkan remisi dan pembebasan bersyarat. “Yang jelas Hariyanto mendapatkan beberapa kali remisi sejak tahun 2014 hingga akhirnya mendapatkan Pembebasan Bersyarat akhir tahun 2018. Selama di Lapas Madiun, sangat baik orangnya, jadi total remisinya sekitar 13 bulan 15 hari,” paparnya.

Berikut rincian remisi Haryanto selama menjalani hukuman di Lapas Klas 1 Madiun:

1. Remisi keagamaan tahun 2014 selama 15 hari
2. Remisi umum hari kemerdekaan RI 17 Agustus tahun 2014 selama 1 bulan
3. Remisi keagamaan tahun 2015 selama 1 bulan
4. Remisi umum hari kemerdekaan 17 Agustus 2015 selama 3 bulan.
5. Remisi dasawarsa setiap 10 tahun sekali selama 3 bulan
6. Remisi keagamaan tahun 2016 selama 1 bulan
7. Remisi umum tahun 2016 selama 4 bulan

Kendati sudah menghirup udara bebas, Agus menegaskan bahwa yang bersangkutan masih berada di bawah pengawasan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Klas II Madiun. Untuk itu bila sewaktu-waktu Haryanto terlibat kasus kembali, maka pembebasan bersyarat Hariyanto akan dicabut.

“Itu selama pembebasan bersyarat tanggungjawab pengawasan oleh Bapas Madiun. Nanti kalau terlibat kembali kasus maka akan dicabut pembebasan bersyaratnya,” pungkas Agus.
(lll/lll)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Selisih Tipis di Survei Median, Tim Prabowo Optimistis Bisa Salip Jokowi

Jakarta – Hasil survei Median menunjukkan selisih elektabilitas Joko Widodo-Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno kian tipis. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga enggan berpuas diri.

“Survei median itu perlu diapresiasi. Walaupun kami tidak merasa puas dan berbangga, namun hasil itu perlu dijadikan sebagai alat perbandingan dengan survei internal yang dilakukan,” ujar Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Saleh Partaonan Daulay, kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Saleh mengatakan, selama ini hasil survei internal yang dilakukan pihaknya memang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari waktu ke waktu. Dia pun optimistis tak lama lagi, Prabowo-Sandiaga akan mampu mengungguli sang petahana.


“BPN tetap akan fokus meningkatkan elektabilitas pasangan 02. BPN yakin betul bahwa beberapa waktu ke depan, elektabilitas paslon 02 bisa menyalip pasangan 01. Tentu ini sesuatu yang sangat mungkin. Terbukti dari hasil survey median dan survei internal yang dilakukan oleh tim BPN,” katanya.

Saleh juga mengatakan, pihaknya akan terus menggenjot seluruh mesin parpol koalisi dan relawan. BPN akan berupaya semaksimal mungkin agar suara Prabowo-Sandiaga dapat terus meningkat.

“BPN dan paslon 02 terus akan turun langsung ke masyarakat. BPN dan paslon 02 akan mendengar langsung apa keluhan dan apa keinginan mereka yang harus dikerjakan pemerintah. Sebagaimana yang telah dilakukan, masukan dan aspirasi mereka itu akan dijadikan sebagai rujukan dalam menentukan langkah yang akan diambil paslon ini ke depan,” ucap Saleh.

Politikus PAN itu juga berharap, melalui debat antar-kandidat, Prabowo-Sandiaga akan menggaet suara rakyat. Mengingat, kata Saleh, debat perdana kemarin memberikan efek positif pada paslon nomor urut 02 itu.

“Kami juga berharap bahwa debat yang sudah dan akan dilakukan dapat mendukung peningkatan elektabilitas paslon 02. Menurut pengamatan yang kami lakukan, debat yang dilakukan kemarin sangat berimplikasi positif bagi paslon 02. Diharapkan, undecided voters pada akhirnya menetapkan pilihan pada Prabowo-Sandi,” tutur anggota DPR itu.

Berikut hasil survei elektabilitas capres-cawapres oleh Median pada Januari 2019:

Joko Widodo-Ma’ruf Amin: 47,9 persen
Prabowo Subianto-Sandiaga Uno: 38,7

Undecided voters: 13,4 persen

Survei dilakukan pada 6-15 Januari 2019 terhadap 1.500 responden, populasinya seluruh warga yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error survei +/- 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
(mae/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Terungkap! Hakim yang Indehoi dengan 2 Wanita Juga Pecandu Narkoba

Lampung – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Lampung Brigjen Tagam Sinaga menyatakan hakim Y yang digerebek saat indehoi dengan 2 wanita punya riwayat pemakai narkotika. Ia pernah ditangkap sebagai pemakai narkoba kemudian dinonjobkan sampai dimutasi oleh pihak pengadilan.

“Dulunya kan kena juga sebagai pemakai. Kemudian dikirimkan mutasi kemudian dinonjobkan kalau tidak salah. Tapi kalau keterangan humas sudah dinonjobkan,” kata Tagam saat dihubungi detikcom dari Serang, Banten, Senin (21/1/2019).

Hanya, kata Tagam ia tidak mengerti kenapa hakim Y masih berada di Lampung. Hal ini katanya sebaiknya ditanyakan kepada humas pengadilan.
“Memang dia ya pemakai (narkoba). Masalahnya juga yang awal kenapa dimutasi masalah pemakai. Sudah dimutasi bukan di Lampung lagi, cuma belum berangkat, ya nggak tahu itu humasnya yang lebih paham,” tegasnya.

Tagam membenarkan bahwa hakim Y menjalani tes urin di BNN Lampung. Tes dilakukan pada pukul 10.00 WIB. Ia didampingii oleh pejabat Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan Tinggi (PT) sampai Komisi Yudisial (KY). Hasil tes urin, sementara masih di labolatorium dan belum bisa disampaikan ke publik.

Usai menjalani tes, hakim Y katanya kemudian dibawa ke rumah sakit. Dari informasi yang diterima, ia dalam keadaan sakit.

“Hasil tes nggak bisa kita jelaskan, hasilnya baru dibawa ke labolatorium. Karena kejadian sudah 2 hari. Hakim terus dibawa ke rumah sakit, kan dalam keadaan sakit. Masalah sakit apa, apa betul sakitnya, nanti dokter (menjelaskan),” pungkasnya.

(bri/asp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Banyak Tol Baru Rusak, Pengusaha: Kontraktornya Diburu-buru

Jakarta – Rusaknya sejumlah ruas tol Trans Jawa disebut karena pembangunannya dilakukan asal jadi dengan mengabaikan kualitas. Menurut Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) Andi Rukman Karumpa itu karena pemerintah kejar target.

“Mungkin kontraktornya merasa terkejar waktu, dikebut, jadi buru buru. Namanya juga human error. Kadang kadang kecelakaan, terjadi kerusakan pada konstruksi,” katanya saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (21/1/2019).

“Jangan semata mata kita hanya ingin membuat target bahwa ini jadi, ini jadi, tapi kualitasnya terabaikan,” tambahnya.

Pihaknya di satu sisi mengapresiasi langkah pemerintah dalam mempercepat akselerasi pembangunan infrastruktur. Hanya saja jangan mengabaikan hal penting lainnya.

“Semangat pemerintah harus kita hargai untuk membangun infrastruktur secara masif. Tapi yang perlu diperhatikan juga bahwa secara perencanaan dan pengawasan juga tidak boleh diabaikan,” jelasnya.

Apalagi jalan tol tidak dibangun untuk digunakan dalam jangka pendek saja. Dengan demikian, ketahanannya harus diperhatikan.

“Pekerjaan konstruksi ini kan pekerjaan long term, akan dinikmati oleh masyarakat sepanjang masa. Jadi tidak semata-mata hanya groundbreaking, kemudian hanya peresmian segala macam. Harus betul betul diperhatikan dengan baik,” sebutnya.

Pemerintah diharapkan tidak hanya mementingkan panjang tol yang terbangun.

“Pertanyaannya bukan berapa yang jadi, tapi kualitas mutu konstruksi kita harus lakukan dengan baik. Jangan bicara target ruas tapi bicara kualitas, bukan kuantitasnya,” tambahnya.

Seperti diketahui, pada 16 Januari 2019, ruas jalan Tol Pemalang-Batang KM 321 menuju Kabupaten Batang, Jawa Tengah mengalami kerusakan. Tol yang baru diresmikan 20 Desember 2018 kemarin itu mengalami kerusakan berupa keretakan pada jalan. Bahkan pondasi penahan ruas tol kanan-kirinya juga mengalami longsor.

Bahkan kerusakan juga pernah terjadi di ruas tol Salatiga-Kartasura, Jawa Tengah. Talut atau lereng disamping ruas tol tersebut ambles. Kerusakan talut terjadi pada 24 Desember 2018, atau 4 hari setelah diresmikan.

(eds/eds)

Kata-Kata Ahok di Penjara yang Bikin Merinding

Liputan6.com, Jakarta РBasuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan bebas pada Kamis, 24 Januari 2019. Kebebasan ini didapatnya usai dirinya menjalani vonis majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara dengan 2 tahun penjara dikurangi remisi 3 bulan 15 hari.

“Jadi (Ahok) jangan bandel kalau mau bebas murni pada 24 Januari,” kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami saat itu.

Tanggal 9 Mei 2017, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mulai menjalani hukuman atas kasus penodaan agama dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, sebelum akhirnya menghuni Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

Usai tak lagi menjadi pesakitan, segudang kegiatan hingga rencana telah dipersiapkan Ahok. Dari menerima undangan sebagai pembicara, liburan bareng keluarga, membuat yayasan hingga menjawab isu kedekatannya dengan seorang polwan berpangkat Bripda, yaitu Puput Nastiti Devi.

Ya, menghuni Rutan Mako Brimob tak begitu saja membuat nama Ahok tenggelam. Tindak tanduk mantan suami Veronica Tan itu selalu menjadi incaran awak media untuk memenuhi rasa penasaran publik apa yang dilakukannya selama di penjara.

Begitu pun dengan Ahok, dari dalam Rutan Mako Brimob ayah dari tiga orang anak ini terus memantau perkembangan politik Tanah Air. Media sosial atau kunjungan orang terdekat kerap menjadi penghubung lidahnya dengan dunia luar.

Maka tak heran jika warganet kerap disuguhkan dengan kata-kata yang bikin merinding dari dalam tahanan, hingga bahkan tuai pujianseperti di bawah ini:

2 dari 6 halaman

1. Penjara Buat Aku Lebih Kuat

Nana Riwayatie adalah kakak angkat Ahok yang selalu terlihat mendampingi mantan Bupati Belitung Timur itu dalam setiap proses persidangan kasus penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Saat palu hakim memutuskan Ahok dihukum 2 tahun penjara, Nana mengaku banyak keluarga yang tak menerima putusan tersebut. Namun, tidak bagi Ahok. Begitu mendekam di penjara, sosok sang adik menjadi pribadi yang lebih kuat.

“Dia bilang, ‘Salah yang memenjarakan aku. Aku di penjara malah jadi lebih kuat’.” ujar Nana mengulangi kata-kata Ahok, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurut dia, Ahok banyak melakukan introspeksi diri saat di penjara. Ciri khas Ahok yang sulit mengontrol “mulut pedas”, lanjut dia, tidak akan bisa diredam.

Ahok pun menyadari hal itu. Dia mengambil nilai positif dari pesakitan tersebut.

“Dia lho yang lebih tegar dari keluarga ketika dipenjara. Lebih nerimo. Keimanannya jadi lebih bagus. Dia yakin ini merupakan maksud dari Tuhan. Kalau saya malah paling lama menerima Ahok dipenjara karena mungkin saya perempuan jadi lebih pakai perasaan,” kata Nana.

3 dari 6 halaman

2. Ikhlas Hidup di Balik Jeruji

Djarot Saiful Hidayat juga kedapatan berulang kali mengunjungi mantan duetnya itu di penjara. Dalam pertemuan itu, Ahok mengaku ikhlas menjalankan hari-harinya di balik jeruji besi.

“Dia bilang, ‘tidak apa-apa saya mas, saya ikhlas kok. Apa yang saya lakukan ini semua ikhlas. Dan jangan benci pada siapa pun juga.”

“Saya ikhlas untuk menjalani ini, untuk memberikan pencerahan kepada seluruh warga. Saya akan terima ini, hadapi ini dengan tegar, dengan tetap teguh menempuh jalur hukum,” ujar Djarot menirukan Ahok di Ancol, Selasa, 16 Mei 2017 yang dilansir dari Merdeka.

Mendengar pernyataan Ahok, Djarot merasa mantan patnernya di DKI itu tak sepantasnya diperlakukan tidak manusiawi. Apa yang telah diberikan mantan Gubernur DKI Jakarta itu seakan tidak ada harganya sama sekali.

“Saya tidak bisa terima dia (Ahok) diperlakukan seperti seorang kriminal. Begitu di-dor (dinyatakan bersalah) langsung masuk tahanan, ini sangat tidak manusiawi,” kata Djarot.

“Saya tahu betul hidupnya dicurahkan untuk warga,” tambah Djarot.

4 dari 6 halaman

3. Bersyukur di Penjara

Pidatonya di Kepulauan Seribu pada 2016 silam menjadi titik balik seorang Basuki Tjahaja Purnama untuk lebih introspeksi diri, baik kata maupun perbuatan.

Ahok divonis 2 tahun penjara karena terbukti melakukan penodaan agama dan dijebloskan ke penjara pada 9 Mei 2017. Pria kelahiran Bangka Belitung itu mengaku ikhlas dan banyak hikmah yang bisa dia ambil dari peristiwa tersebut.

Ahok bahkan mensyukuri dirinya di penjara dan tidak kembali memimpin Ibu Kota pada Pilkada 2017 lalu. Menurutnya, penjara membuat dia belajar menguasai diri.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi bahwa saya diijinkan untuk ditahan di Mako Brimob. Saya bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017. Jika saya terpilih lagi di Pilkada tersebut saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai balaikota saja. Tetapi saya di sini belajar menguasai diri seumur hidup saya. Kuasai balaikota hanya untuk 5 tahun lagi. saya Jika ditanya Jika waktu bisa diputar kembali, mau pilih yang mana? saya akan katakan Saya memilih ditahan di Mako untuk belajar 2 tahun (liburan remisi 3,5 bulan), untuk bisa menguasai diri seumur hidupku.”

5 dari 6 halaman

4. Minta Maaf

Saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ahok memang dikenal sebagai pribadi yang tegas. Bahkan tak sedikit orang yang mengatakan pria berkaca mata itu sangat galak dan suka ceplas ceplos. Sehingga tanpa dia sadar telah membuat sejumlah pihak merasa sakit hati.

Menjelang kebebasanya yang tinggal menghitung hari, dia mengirimkan sebuah surat yang diunggah oleh timnya dalam akun Twitter @basuki_btp.

Isi surat tersebut menyatakan permintaan maaf Ahok kepada sejumlah orang yang selama ini telah tersakiti lewat tutur katanya.

Pada kesempatan ini saya juga mau sampaikan kepada ahokers, para PNS DKI, para pembenci ku sekalipun, aku sampaikan mohon maaf atas segala tutur kata, sikap, perbuatan yang disengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati dan perasaan saudara dan anggota keluarganya. Saya mohon maaf dan saya keluar dari sini dengan harapan panggil saya BTP bukan Ahok,” ucap Ahok.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: