4 Contoh Surat Permohonan Bantuan yang Baik dan Benar

Liputan6.com, Jakarta Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kamu dihadapkan dengan suatu situasi yang tidak dapat dikerjakan dengan sendiri. Sehingga harus memerlukan bantuan atau pertolongan dari orang lain. 

Agar permohonan tersebut dikabulkan, ada saatnya kamu akan meminta atau memohon bantuan kepada orang lain dan biasanya harus mengajukan surat permohonan.   

Surat permohonan berisi tentang sebuah permintaan tentang sesuatu hal kepada pihak yang bersangkutan, perseorangan, badan atau lembaga, organisasi, perusahaan atau instansi dan lainnya.

Ada banyak bentuk surat permohonan diantaranya, surat permohonan dana, surat permohonan izin cuti, surat permohonan kerjasama, surat permohonan beasiswa, surat permohonan sponsor dan banyak jenis surat permohonan lainya.

Dalam pembuatan surat permohonan ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya identitas serta tujuannya yang harus benar dan jelas. Dalam surat permohonan biasakan ditulis dengan ringkas, singkat, tepat dan mudah untuk dipahami serta kontak yang bisa dihubungi.

Untuk memudahkan dalam memperoleh kepastian tentang diterima atau ditolaknya permohonan anda, maka alangkah baiknya jika dicantumkan batas waktu yang ditentukan untuk menjawab permohonan tersebut.

Setelah mengetahui beberapa hal penting dalam pembuatan surat permohonan Liputan6.com telah rangkum beberapa contoh surat permohonan bantuan yang baik dan benar dari berbagai sumber Selasa (22/1/2019).

2 dari 5 halaman

1. Contoh surat permohonan bantuan beasiswa.

SURAT PERMOHONAN BEASISWA

Yogyakarta, 21 Januari 2019

Perihal                : Permohonan Beasiswa

Lampiran            : 1 Berkas

 

Kepada

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Jalan Ringroad Selatan, Kasihan, Bantul

 

Dengan hormat,

Sehubungan dengan adanya informasi pendaftaran beasiswa mahasiswa unggulan tahun ajaran 2019/ 2020 yang diumumkan melalui website universitas pada tanggal 1 Januari 2019, maka saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama                                     :  Awan Setiawan

NIM                                        : xxxxxxxxx

Fakultas                                  : Ekonomi dan Bisnis

Jurusan                                   : Ilmu Ekonomi Islam

Semester                                : V (Lima)

Tempat/tanggal lahir            : Bandung, 31 Januari 1992

Alamat                                     : Jalan Melati Putih Gg. Mawar No. 10B Surabaya

Bersama ini saya bermaksud untuk mengajukan permohonan untuk mendapatkan beasiswa mahasiswa unggulan ajaran tahun 2019/ 2020 tersebut. Dan sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :

1. Foto copy Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)2. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP)3. Foto copy Transkrip nilai Semester 1 – 44. Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua5. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)6. Surat Pernyataan Tidak sebagai Penerima Beasiswa7. Surat Rekomendaasi dari Dekan bidang Kemahasiswaan8. Foto copy Rekening Listrik 3 bulan terakhir9. Foto copy Rekening PDAM 3 bulan terakhir10. Foto copy Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua11. Surat Keterangan Tidak Mampu dari Kelurahan12. Foto copy Buku Rekening Tabungan13. Pas Foto 4 x 6 (3 Lembar)Demikian surat permohonan ini saya buat. Besar harapan saya agar permohonan beasiswa ini dapat dikabulkan. Atas perhatian dan bantuan Bapak/ Ibu, saya ucapkan terima kasih.

 

                                                                                                          Hormat saya

 

 

                                                                                                        Awan Setiawan

                                                                                                        NIM. xxxxxxxx

3 dari 5 halaman

2. Contoh surat permohonan bantuan biaya pendidikan

SURAT PERMOHONAN BANTUAN

Lampiran : 1 Lembar

Perihal : Surat Permohonan Bantuan Biaya Pendidikan

 

Kepada Yth,

Pimpinan PT.PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara

 

Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

  Nama : PANUTURI PANGGABEAN

Tempat/Tgl.Lahir : Medan

Pendidikan Terakhir : D3 Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara

Agama : Islam

Pekerjaan : Mahasiswa

Alamat : Sidomulyo I Balimbingan Pem.Tanah Jawa

Dengan ini mengajukan permohonan Bantuan Biaya Pendidikan kepada Bapak/Ibu, agar sudi kiranya memberikan bantuan. Demikianlah surat permohonan ini saya sampaikan, atas perhatian dan pertimbangan Bapak saya ucapkan terima kasih.

Hormat saya

 

(P.Panggabean)

4 dari 5 halaman

3. Contoh surat permohonan bantuan dana

Nomor        : 221/VI/2017

Lampiran    : 1 Lembar

Perihal        : Permohonan Bantuan Dana

 

Kepada :

Yth. Bapak/Ibu

Di Tempat

 

Assalamualaikum wr.wb.

 

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya. Yang telah memberikan kita rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka. Semoga kita diberi kesehatan, sehingga bisa beraktivias seperti biasanya.

Seperti yang sudah dibahas pada bulan lalu di Desa Sumber Jaya yang telah disepakati oleh semua warga, bahwa pada bulan depan akan dilaksanankan pembangunan penambahan area Masjid Baitul Mutaqien, maka kami selaku panitia ingin memohon bantuannya kepada Bapak/Ibu sekalia atau semua masyarakat yang ingin menyumbangnya dengan ikhlas.

Adapun rincian yang di butuhkan dalam pembangunan masjid ialah Rp.9.000.000; dengan perkiraan sebagai berikut:

1. Biaya pembelian semen 20 sak   Rp. 1,500,000;

2. Biaya pembelian batu bata 2000 pcs Rp. 5,500,000

3. Biaya tukang  Rp. 2,000,000

Demikian surat permohonan ini kami buat.

Atas waktu dan perhatiannya kami ucapkan terima kasih. dan semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT, aamiin.

 

Wassalamualaikum Wr. Wb

 

Desa Larangan, 10 Januari 2019

 

Panitia                                                                     Sekretaris

 

 

 

(Hj. Rojak)                                                           (Andi Suherman)

5 dari 5 halaman

4. Contoh surat permohonan bantuan sponsorship

Nomor             : 168/09/RSUMMI/Prmhn/VI/2017

Lampiran         : 1 (satu) Proposal

Perihal             : Permohonan Sponsorship


Kepada Yth.

Pimpinan PT Kalbe Farma Tbk

di Tempat

Sehubungan dengan adanya perubahan status RSIA UMMI menjadi Rumah Sakit Umum pada awal tahun ini, maka RS UMMI mempunyai komitmen untuk bisa memberikan pelayanan medis yang lebih luas kepada masyarakat umum, salah satunya yaitu dengan menambah Poliklinik Kulit dan Kecantikan. Tujuan dari membuka poliklinik ini dikarenakan melihat tren di masyarakat khususnya kaum wanita yang lebih peduli terhadap penampilan, khususnya kecantikan.

Maka dari itu, RS UMMI mencoba membentuk tim untuk menyelenggarakan seminar umum tentang kulit dan kecantikan sebagai bentuk promosi dari dibukanya Poliklinik Kulit dan Kecantikan dengan narasumber dr. Adelia Wulandari, Sp.KK sebagai dokter spesialis kulit dan kecantikan RS UMMI. Tema yang diangkat dalam kegiatan seminar ini adalah “Kulit Sehat”.

Sehubungan dengan hal tersebut dan sebagai dukungan demi terlaksananya acara Seminar Awam, kami mohon kesediaan Perusahaan Bapak/Ibu untuk berpartisipasi sebagai sponsor/donator. Proposal Sponsorship kami lampirkan dalam surat ini. Pembayaran untuk sponsorship dapat di transfer melalui :

No. Rekening              : 1xxxx

Atas Nama                  : RSIxxxx

Nama Bank                 : Bank Muamalat cabang Semarang

Konfirmasi untuk berpartisipasi, mohon dapat menghubungi Telp. 0341 – 83416xx (Hunting) Fax. 0251-83xxxx UP. Resty (0xxxxxxxx) atau e-mail: rsxxxxx@gmail.com. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Hormat Kami,


dr. Supratman S.E


Direktur Utama


Reporter: Heri Setiawan

KPK: 20 Proyek Air Minum di Kementerian PUPR Terindikasi Suap

Liputan6.com, Jakarta -f Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengembangkan kasus dugaan suap proyek pembangunan Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) di Kementerian PUPR. Pada proses penyidikannya, lembaga antirasuah mengidentifikasi, 20 proyek air minum diduga menjadi bancakan para pejabat.

“Sampai saat ini telah teridentifikasi setidaknya ada 20 proyek di Kementerian PUPR yang diduga juga ada praktik suap di sana,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (21/1/2019).

Dia mengatakan, dari 20 proyek air minum di Kementerian PUPR yang terindikasi adanya praktik rasuah itu dikerjakan oleh PT TSP dan PT WKE. Menurut dia, pihak lembaga antirasuah akan menelisik 20 proyek tersebut.

“Kami akan identifikasi lebih lanjut informasi-informasi tersebut dalam proses penyidikan ini,” kata Febri.

Dalam menelisik dugaan tersebut, tim penyidik sudah memeriksa lima orang pada, Senin 21 Januari 2018. Mereka adalah mantan Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Danny Sutjiono, Direktur PSPAM Ditjen Cipta Karya Agus Ahyar, mantan Kasatker SPAM Tempang Bandaso, Direktur Operasional PDAM Donggala Rizal dan seorang pihak swasta bernama Columbanus Priaardanto alias Danto.

“KPK mendalami pengetahuan saksi-saksi terkait proyek-proyek yang dilaksanakan oleh PT. WKE dan PT. TSP di Kementerian PUPR dan dugaan aliran dana dari pihak swasta ke pejabat Kementerian PUPR,” kata Febri.

2 dari 3 halaman

8 Tersangka

Pada kasus ini, KPK menetapkan delapan orang sebagai tersangka kasus dugaan suap ‎terhadap pejabat Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) tahun anggaran 2017-2018.

Delapan tersangka tersebut yakni, ‎Direktur Utama PT WKE Budi Suharto, Direktur PT WKE Lily Sundarsih Wahyudi, Direktur Utama PT TSP Irene Irma, dan Direktur PT TSP, Yuliana Enganita Dibyo. Keempatnya diduga sebagai pihak pemberi suap.

Sedangkan sebagai penerima suap, KPK menjerat empat pejabat Kementerian PUPR, yakni Kepala Satuan Kerja (Satker) SPAM Anggiat Partunggul Nahot Simaremare, PPK SPAM Katulampa Meina Woro Kustinah, Kepala Satker SPAM Darurat Teuku Moch Nazar, serta PPK SPAM Toba 1 Donny Sofyan Arifin.

Diduga, empat pejabat Kementerian PUPR menerima suap untuk mengatur lelang terkait proyek pembangunan sistem SPAM tahun anggaran 2017-2018 di Umbulan 3-Pasuruan, Lampung, Toba 1 dan Katulampa. Dua proyek lainnya adalah pengadaan pipa HDPE di Bekasi dan daerah bencana Donggala, Palu, Sulawesi Tengah.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

HEADLINE: Edy Rahmayadi Mundur, Perang Pengaturan Skor Terus Berlanjut

Liputan6.com, Jakarta – Edy Rahmayadi akhirnya membuat keputusan. Minggu (20/1/2019), di Bali, ajang sambutan dalam Kongres Tahunan PSSI, justru dia gunakan untuk mengungkapkan pengunduran dirinya sebagai ketua umum PSSI.

Terhitung saat itu, Edy Rahmayadi yang menjabat sejak 2016 resmi berhenti dari posisinya sebagai ketua umum PSSI. Jabatan itu pun beralih ke tangan Joko Driyono, sang wakil ketua umum, sesuai mekanisme yang diatur dalam Pasal 39 Ayat 6 statuta PSSI.

Sebenarnya, bisa saja PSSI langsung menggelar pemilihan ketua umum baru dalam Kongres Luar Biasa. Syaratnya harus ada permintaan dari 50 persen atau 2/3 jumlah voters.

Namun, hingga kongres di Bali itu selesai, ternyata tidak ada permintaan itu. Artinya, kini Joko Driyono harus siap memimpin PSSI sebagai pelaksana tugas ketua umum hingga 2020, sesuai masa akhir jabatan Edy Rahmayadi. Sedangkan posisi terdahulu Joko diisi Iwan Budianto, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Ketua Umum PSSI.

Jelas ini bukan tugas ringan bagi Joko. Pria asal Ngawi, Jawa Timur itu, kini jadi sorotan dan diharapkan bisa segera menyelesaikan berbagai persoalan yang membelenggu PSSI, terutama soal kasus pengaturan skor alias match fixing yang belakangn mulai terungkap.

Sebab, bukan rahasia lagi, belakangan pamor PSSI di bawah Edy Rahmayadi terus menurun, terutama lantaran kasus pengaturan skor yang belakangan terus menggerogoti.

Satu-persatu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dijadikan tersangka oleh Satgas Anti-Mafia Bola, badan khusus yang dibentuk Mabes Polri dan Polda Metro untuk memberantas praktik pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia. Badan ini diketahui oleh Hendro Pandowo.

Tak heran, begitu “prosesi” perpindahan kekuasan di pucuk pimpinan PSSI terjadi, seruan inilah yang dilontarkan banyak pihak.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, bahkan langsung melepas rilis, yang menegaskan mundurnya Edy Rahmayadi tidak akan menghentikan perang terhadap pengaturan skor. Ia justru mendesak PSSI untuk semakin gencar dan serius dalam membenahi permasalahan sepakbola nasional.

“PSSI harus segera melakukan identifikasi permasalahan-permasalahan sepakbola Indonesia agar tidak berlarut-larut dan menjadi masalah sistemik yang menghambat perkembangan sepakbola di Indonesia,” tutur Menpora.

2 dari 4 halaman

Berantas Hingga ke Akarnya

Joko memang tak punya pilihan selain mendukung pemberantasan praktik pengaturan skor sampai ke akar-akarnya. Maka itu, setelah serah terima jabatan dari Edy, dia pun langsung menegaskan, dirinya dan PSSI menghormati proses yang sedang berlangsung, termasuk juga investigasi yang tengah dijalankan Satgas Anti-Mafia Bola.

Joko menjelaskan, PSSI sebenarnya sudah memerangi match fixing, jauh sebelum kasus ini mencuat ke publik. Bahkan, pada 2017, PSSI sudah membentuk integrity departement atau departemen integritas untuk menekan praktik-praktik manipulasi skor di semua level kompetisi di bawah PSSI, dari level liga amatir sampai profesional.

“Pembentukan departemen integritas ini sesuai arahan FIFA pada 2017. Tim ini sesuai dengan rekomendasi anggota Komite Eksekutif PSSI. Kemudian terbentuk tim Adhoc. Tim bertugas merespons match fixing dan bekerja sama satu tahun,” kata Joko seperti rilis yang diterima Liputan6.com.

Maka itu, dalam Kongres Bali, PSSI pun membentuk Komite Ad Hoc Integritas. Komite yang diketuai Ahmad Riyadh ini bertugas memerangi pengaturan skor dan manipulasi pertandingan serta membangun sinergi dengan pemangku kepentingan lain, terutama pihak kepolisian.

Dalam bertugas, tim ini nantinya akan bersinergi dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan INTERPOL. Bahkan, menurut Joko, MoU antara PSSI dan Polri beserta Interpol sudah terjalin untuk memerangi kecurangan-kecurangan di lapangan hijau.

3 dari 4 halaman

Joko Diperiksa

Joko sendiri siap membuktikan komitmennya. Salah satunya dia siap menghadiri panggilan Satgas Anti-Mafia Bola untuk memberikan keterangan terkait kasus pengaturan skor di sepak bola Indonesia ini. Rencananya, dia akan menemui Satgas Anti-Mafia Bola, Kamis (24/1).

Sebelumnya, Joko lewat pengacaranya sempat meminta penundaan pemeriksaan terhadap dirinya. Sebab, ketika itu, Joko masih harus fokus kepada pelaksanaan kongres tahunan PSSI di Bali ini.

Sebelumnya, Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, sudah terlebih dahulu menjalani pemeriksaan oleh Satgas Anti-Mafia Bola di Polda Metro Jaya, Rabu (16/1). Ketika itu Tisha diperiksa tak kurang dari 13 jam lamanya.

Satgas Anti-Mafia Bola memang tak tanggung-tanggung dalam menjalankan tugasnya. Sesuai instruksi Kapolri Jenderal Tito Karavian, mereka siap membabat habis siapa pun sosok-sosok yang ikut terlibat dalam praktik-praktik kotor di sepak bola Indonesia ini.

Itu artinya, Joko dan PSSI harus rela jika nantinya muncul nama-nama baru dari organisasi sepak bola tertinggi di Indonesia itu sebagai tersangka dalam kasus pengaturan skor di sepak bola nasional.

Saat ini, ada dua sosok dari PSSI yang sudah ditetapkan menjadi tersangkat dalam kasus pengaturan skor. Mereka adalah Johar Lin Eng, anggota Exco dan Dwi Riyanto, anggota Komisi Disiplin PSSI.

4 dari 4 halaman

Limpahkan ke Kejaksaan

Sejauh ini, Satgas sendiri sudah menetapkan 11 tersangka terkait kasus pengaturan skor di sepak bola Indonesia. Ada 10 tersangka ditetapkan terkait pertandingan Liga 3 Persibara vs PS Pasuruan. Sedangkan satu tersangka lainnya dijerat dalam pertandingan Liga 2 PS Mojokerto Putra vs Aceh United.

Para tersangka ini dijerat dengan menggunakan Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau UU No 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan/atau Pasal 3, 4, 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU. Mereka diduga melakukan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan dan/atau tindak pidana suap dan/atau tindak pidana pencucian uang.

Akhir pekan ini, rencananya berkas perkara dari empat di antaranya sudah akan dilimpahkan Satgas ke Kejaksaan sehingga bisa secepatnya diproses di pengadilan. Kita tunggu saja…

Ba’asyir Tolak Setia pada Pancasila, Pengacara: Bukan Berarti Menentang NKRI

Liputan6.com, Jakarta Terpidana terorisme Abu Bakar Baasyir menolak menandatangani dokumen yang menjadi bagian dari prosedur pembebasan bersyaratnya. Berkas tersebut salah satunya berisikan pernyataan untuk setia kepada Pancasila dan NKRI.

Kuasa Hukum Abu Bakar Baasyir, Mahendradatta, menyampaikan alasan penolakan kliennya bukan berarti menentang Pancasila dan NKRI.

“Yang jelas, yang tidak mau ditandatangani adalah janji tidak akan melakukan tindak pidananya lagi. Ustaz seumur-umur sampai meninggal katakanlah, sampai dipenjara, nggak mau dikatakan telah melakukan tindak pidana. Apalagi lagi, artinya kan telah melakukan,” tutur Mahendra di kantornya, Jalan Raya Fatmawati ,Cipete Selatan, Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

Menurut Mahendra, dokumen tersebut menjadi satu kesatuan dengan sejumlah poin di dalamnya. Pertama, Abu Bakar Ba’asyir diminta mengakui telah bersalah. Kedua, menyesali perbuatan pidana itu, dan tidak mengulangi lagi dan ketiga barulah terkait setia kepada NKRI dan Pancasila.

Hingga saat ini, Abu Bakar Baasyir menampik terlibat dalam aksi bom dan terorisme yang terjadi di Indonesia. Dia menegaskan bukanlah aktor perencana dan penyandang dana latihan militer di Aceh dan Cijantung, tidak terkait dengan bom Bali, hingga bom Mariot.

“Beliau tidak tahu kalau latihan militer kesiapan untuk para muhajid yang ingin berangkat ke Palestina. Yang dia tahu itu latihan yang bersifat sosial,” jelas Mahendra.

2 dari 2 halaman

Tidak Bertentangan dengan Pancasila

Termasuk surat tertulis setia kepada Pancasila dan NKRI. Menurut Baasyir, Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Untuk itu, kenapa tidak disebutkan Islam saja dalam dokumen tersebut.

“Pembicaraannya gini (dengan Yusril). Ustaz kalau gini kok nggak mau tandatangan, kalau Pancasila itu sama dengan bela Islam. Loh kalau gitu sama dengan Pancasila, kenapa saya nggak bela Islam, kan sama saja. Jadi belum sampai ke argumen yang menyakinan ustaz,” kata Mahendra.

Lagi pula, lanjutnya, tidak perlu diragukan kesetiaan Abu Bakar Ba’asyir terhadap NKRI. Perjuangan dakwah yang dilakukannya selama ini adalah demi kemaslahatan bangsa.

“Apakah kita harus menyatakan diri kemana-mana Pancasila, hanya sebagai dokumen sebenarnya. Seperti dokumen surat nikah, ketika sudah menikah kenapa harus menunjukkan kembali surat nikahnya. Itu hal-hal yang sudah diketahui umum, tidak perlu dibuktikan. Artinya tidak perlu ada bukti formal,” Mahendra menandaskan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Simpang Siur Kapan Ba’asyir Bebas, Keluarga: Harusnya Hari Ini

Simpang Siur Kapan Baasyir Bebas, Keluarga: Harusnya Hari Ini Abu Bakar Ba’asyir (Foto: Rio Soebekti)

Sukoharjo – Kabar pembebasan Abu Bakar Ba’asyir masih menjadi simpang siur, salah satunya karena adanya syarat yang masih dipermasalahkan pihak Kementerian Hukum dan HAM. Namun pihak keluarga meyakini Ba’asyir tetap bebas dalam waktu dekat.

“Seharusnya hari ini sudah bebas. Masalahnya Kalapas Gunug Sindur meninggal beberapa bulan lalu, hari ini baru sertijab. Tentu hari ini tertunda,” kata putra Ba’asyir, Abdul Rochim saat dihubungi detikcom, Senin (21/1/2019).

Sebelumnya, Ba’asyir yang enggan menandatangani surat ikrar setia NKRI disebut menjadi ganjalan. Iim, sapaan Abdul Rochim, menegaskan ayahnya memang sejak awal enggan menandatangani berkas apapun.
“Bukan hanya surat cinta NKRI, seluruh berkas-berkas pun beliau juga tidak pernah mau menandatangani. Persidangan beliau itu dianggap sebuah kezaliman terhadap dirinya. Beliau tidak pernah merasa salah,” ujarnya.

“Dan proses persidangan selama ini dianggap semena-mena. Maka beliau tidak mengakui itu sebuah persidangan,” ujarnya.

Pihaknya juga menampik kabar bahwa Ba’asyir akan dibebaskan setelah Pilpres. Dia menegaskan ayahnya tidak terkait politik dan memastikan akan segera bebas.

“Itu hoax (kalau bebas setelah Pilpres). Insyaallah dalam waktu dekat. Beliau tidak ada kaitannya dengan kegiatan politik,” tutupnya.
(bai/mbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kata-Kata Ahok di Penjara yang Bikin Merinding

Liputan6.com, Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan bebas pada Kamis, 24 Januari 2019. Kebebasan ini didapatnya usai dirinya menjalani vonis majelis hakim Pengadilan Jakarta Utara dengan 2 tahun penjara dikurangi remisi 3 bulan 15 hari.

“Jadi (Ahok) jangan bandel kalau mau bebas murni pada 24 Januari,” kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami saat itu.

Tanggal 9 Mei 2017, mantan Gubernur DKI Jakarta ini mulai menjalani hukuman atas kasus penodaan agama dalam pidatonya di Kepulauan Seribu, sebelum akhirnya menghuni Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua Depok.

Usai tak lagi menjadi pesakitan, segudang kegiatan hingga rencana telah dipersiapkan Ahok. Dari menerima undangan sebagai pembicara, liburan bareng keluarga, membuat yayasan hingga menjawab isu kedekatannya dengan seorang polwan berpangkat Bripda, yaitu Puput Nastiti Devi.

Ya, menghuni Rutan Mako Brimob tak begitu saja membuat nama Ahok tenggelam. Tindak tanduk mantan suami Veronica Tan itu selalu menjadi incaran awak media untuk memenuhi rasa penasaran publik apa yang dilakukannya selama di penjara.

Begitu pun dengan Ahok, dari dalam Rutan Mako Brimob ayah dari tiga orang anak ini terus memantau perkembangan politik Tanah Air. Media sosial atau kunjungan orang terdekat kerap menjadi penghubung lidahnya dengan dunia luar.

Maka tak heran jika warganet kerap disuguhkan dengan kata-kata yang bikin merinding dari dalam tahanan, hingga bahkan tuai pujianseperti di bawah ini:

2 dari 6 halaman

1. Penjara Buat Aku Lebih Kuat

Nana Riwayatie adalah kakak angkat Ahok yang selalu terlihat mendampingi mantan Bupati Belitung Timur itu dalam setiap proses persidangan kasus penodaan agama di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Saat palu hakim memutuskan Ahok dihukum 2 tahun penjara, Nana mengaku banyak keluarga yang tak menerima putusan tersebut. Namun, tidak bagi Ahok. Begitu mendekam di penjara, sosok sang adik menjadi pribadi yang lebih kuat.

“Dia bilang, ‘Salah yang memenjarakan aku. Aku di penjara malah jadi lebih kuat’.” ujar Nana mengulangi kata-kata Ahok, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurut dia, Ahok banyak melakukan introspeksi diri saat di penjara. Ciri khas Ahok yang sulit mengontrol “mulut pedas”, lanjut dia, tidak akan bisa diredam.

Ahok pun menyadari hal itu. Dia mengambil nilai positif dari pesakitan tersebut.

“Dia lho yang lebih tegar dari keluarga ketika dipenjara. Lebih nerimo. Keimanannya jadi lebih bagus. Dia yakin ini merupakan maksud dari Tuhan. Kalau saya malah paling lama menerima Ahok dipenjara karena mungkin saya perempuan jadi lebih pakai perasaan,” kata Nana.

3 dari 6 halaman

2. Ikhlas Hidup di Balik Jeruji

Djarot Saiful Hidayat juga kedapatan berulang kali mengunjungi mantan duetnya itu di penjara. Dalam pertemuan itu, Ahok mengaku ikhlas menjalankan hari-harinya di balik jeruji besi.

“Dia bilang, ‘tidak apa-apa saya mas, saya ikhlas kok. Apa yang saya lakukan ini semua ikhlas. Dan jangan benci pada siapa pun juga.”

“Saya ikhlas untuk menjalani ini, untuk memberikan pencerahan kepada seluruh warga. Saya akan terima ini, hadapi ini dengan tegar, dengan tetap teguh menempuh jalur hukum,” ujar Djarot menirukan Ahok di Ancol, Selasa, 16 Mei 2017 yang dilansir dari Merdeka.

Mendengar pernyataan Ahok, Djarot merasa mantan patnernya di DKI itu tak sepantasnya diperlakukan tidak manusiawi. Apa yang telah diberikan mantan Gubernur DKI Jakarta itu seakan tidak ada harganya sama sekali.

“Saya tidak bisa terima dia (Ahok) diperlakukan seperti seorang kriminal. Begitu di-dor (dinyatakan bersalah) langsung masuk tahanan, ini sangat tidak manusiawi,” kata Djarot.

“Saya tahu betul hidupnya dicurahkan untuk warga,” tambah Djarot.

4 dari 6 halaman

3. Bersyukur di Penjara

Pidatonya di Kepulauan Seribu pada 2016 silam menjadi titik balik seorang Basuki Tjahaja Purnama untuk lebih introspeksi diri, baik kata maupun perbuatan.

Ahok divonis 2 tahun penjara karena terbukti melakukan penodaan agama dan dijebloskan ke penjara pada 9 Mei 2017. Pria kelahiran Bangka Belitung itu mengaku ikhlas dan banyak hikmah yang bisa dia ambil dari peristiwa tersebut.

Ahok bahkan mensyukuri dirinya di penjara dan tidak kembali memimpin Ibu Kota pada Pilkada 2017 lalu. Menurutnya, penjara membuat dia belajar menguasai diri.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi bahwa saya diijinkan untuk ditahan di Mako Brimob. Saya bersyukur diijinkan tidak terpilih di Pilkada DKI 2017. Jika saya terpilih lagi di Pilkada tersebut saya hanyalah seorang laki-laki yang menguasai balaikota saja. Tetapi saya di sini belajar menguasai diri seumur hidup saya. Kuasai balaikota hanya untuk 5 tahun lagi. saya Jika ditanya Jika waktu bisa diputar kembali, mau pilih yang mana? saya akan katakan Saya memilih ditahan di Mako untuk belajar 2 tahun (liburan remisi 3,5 bulan), untuk bisa menguasai diri seumur hidupku.”

5 dari 6 halaman

4. Minta Maaf

Saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, Ahok memang dikenal sebagai pribadi yang tegas. Bahkan tak sedikit orang yang mengatakan pria berkaca mata itu sangat galak dan suka ceplas ceplos. Sehingga tanpa dia sadar telah membuat sejumlah pihak merasa sakit hati.

Menjelang kebebasanya yang tinggal menghitung hari, dia mengirimkan sebuah surat yang diunggah oleh timnya dalam akun Twitter @basuki_btp.

Isi surat tersebut menyatakan permintaan maaf Ahok kepada sejumlah orang yang selama ini telah tersakiti lewat tutur katanya.

Pada kesempatan ini saya juga mau sampaikan kepada ahokers, para PNS DKI, para pembenci ku sekalipun, aku sampaikan mohon maaf atas segala tutur kata, sikap, perbuatan yang disengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati dan perasaan saudara dan anggota keluarganya. Saya mohon maaf dan saya keluar dari sini dengan harapan panggil saya BTP bukan Ahok,” ucap Ahok.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Begini Cara Urus Balik Nama Motor di 2019

Liputan6.com, Jakarta – Memiliki kendaraan pribadi sudah menjadi hal yang wajib dimiliki bagi orang-orang dengan mobilitas yang tinggi, baik itu di kota besar hingga daerah. Dibanding kendaraan roda empat, kendaraan roda dua alias motor lebih banyak digemari oleh masyarakat Indonesia.

Pasalnya ketika mengalami kemacetan, motor bisa melaju lebih cepat dibanding mobil. Ditambah lagi, ada banyak daerah-daerah Indonesia yang hanya bisa dilalui motor, seperti gang-gang kecil. Tak heran kalau penjualan motor jauh lebih tinggi dibanding mobil. Baik itu penjualan motor baru maupun bekas.

Meski setiap bulannya selalu ada motor keluaran terbaru, tapi ternyata tidak sedikit orang yang lebih suka untuk membeli motor bekas atau second.

Faktor terbesar yang menyebabkan orang lebih memilih untuk membeli motor second adalah harganya yang jauh lebih murah dibanding motor baru. Selisih harganya bisa lebih murah hingga setengah harga dari harga motor baru. Tentu saja hal ini bisa sangat menguntungkan.

Sayangnya, membeli motor second ini ada kendala utamanya, yakni harus balik nama terlebih dahulu karena STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) dan BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) masih atas nama pemilik motor pertama.

Proses balik nama motor ini akan mengalihkan kepemilikan motor dari atas nama pemilik yang lama kepada pemilik yang baru. Proses ini mau tak mau harus kamu lakukan agar nantinya ketika mengurus perpanjang STNK dan BPKB, maka kamu tidak perlu repot menggunakan KTP (Kartu Tanda Penduduk) milik pemilik asli motor.

2 dari 5 halaman

Cara Mengurus dan Biaya Balik Nama Motor

Lalu bagaimana caranya jika ingin mengurus biaya balik nama motor? Perlu diketahui kalau mengurus biaya balik motor ini akan terbagi menjadi dua karena untuk mengurus STNK dan BPKB harus dilakukan di dua tempat yang berbeda, yakni di kantor SAMSAT (Sistem Manunggal Satu Atap) dan Polda.

Supaya lebih mudah memahaminya, berikut prosesnya:

– Kantor SAMSAT

Proses pertama adalah harus datang ke kantor SAMSAT terlebih dahulu. Bagi yang berdomisili di Jakarta, bisa melakukan pengecekan alamat-alamat kantor SAMSAT pada alamat url ini http://bprd.jakarta.go.id.

Ketika datang ke kantor SAMSAT, harus membawa berkas-berkas yang dibutuhkan agar nantinya tidak bolak-balik lagi. Bawalah KTP (Kartu Tanda Penduduk), STNK, BPKB, dan kwitansi pembelian. Jangan lupa untuk memfotokopi semuanya rangkap dua. Pisahkan berkas yang asli dengan fotokopi dan letakkan dalam map yang terpisah.

3 dari 5 halaman

– Tes Fisik Kendaraan

Selanjutnya melakukan tes fisik kendaraan. Tes ini dilakukan oleh petugas SAMSAT. Setelah petugas SAMSAT selesai melakukan pemeriksaan tes fisik kendaraan, nantinya akan diberikan hasil tes fisik berupa Nomor Rangka dan Nomor Mesin Kendaraan.

Selanjutnya, berikan hasil tes tersebut bersama dengan berkas yang kamu bawa kepada petugas loket tes fisik kendaraan. Di sini akan mengeluarkan biaya Rp 30 ribu.

Tunggu petugas loket melakukan verifikasi. Kalau sudah berhasil diverifikasi, petugas akan menyerahkan kembali berkas dan hasil tes fisik. Untuk hasil tes fisik, harus memfotokopinya terlebih dahulu sebelum lanjut ke proses selanjutnya.

– Pendaftaran Balik Nama STNK

Setelah tes fisik berhasil dilakukan, selanjutnya bisa mendatangi loket pendaftaran balik nama. Berikan semua berkas kepada petugas loket balik nama, baik itu fotokopi KTP, BPKB, STNK, kwitansi pembelian, dan hasil tes fisik kendaraan.

Setelah petugas loket balik nama memeriksa semua berkas, nantinya kamu diberikan tanda terima kalau pengajuan STNK sedang diproses. Petugas juga akan mengembalikan semua berkas kecuali STNK asli dan fotokopi.

Pada proses ini, diharuskan untuk membayar biaya sebesar Rp 30 ribu dan akan diminta untuk datang kembali pada hari yang telah ditentukan untuk mengambil STNK yang baru atas nama Anda.

4 dari 5 halaman

– Datang ke kantor SAMSAT

Setelah menunggu beberapa hari, datanglah pada waktu yang telah ditentukan. Langsung datangi loket balik nama dan berikan tanda terima yang kemarin diberikan beserta KTP asli, BPKB asli, kwitansi pembelian, dan hasil tes fisik kendaraan. Di sini diharuskan membayar sejumlah dana agar bisa mendapatkan STNK yang baru.

Ada biaya PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) sebesar Rp 300 ribu, BBN KB (Biaya Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor) Rp 200 ribu, biaya SWDKLLJ (Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan) Rp 35 ribu, biaya administrasi STNK Rp 25 ribu, biaya administrasi TNKB (Tanda Nomor Kendaraan bermotor) Rp 60 ribu. Jika ditotal secara keseluruhan maka jumlah dana yang harus dibayarkan kepada petugas yakni sekitar Rp 620 ribu. Nominal ini belum termasuk denda jika ada keterlambatan pembayaran sebelumnya. Jadi pastikan untuk membawa uang lebih.

– Datang ke Polda

Setelah melakukan pembayaran, maka akan langsung diberikan STNK yang baru. Tapi proses ini belum selesai karena masih ada BPKB yang juga harus diurus.

Untuk mengurus BPKB ini, tidak bisa mengurusnya di kantor SAMSAT, tetapi harus datang ke Polda. Bagi yang berdomisili di daerah DKI Jakarta, bisa datang ke Gedung Biru Ditlantas Polda Metro Jaya yang beralamat di Jalan Gatot Subroto No. 217, Senayan, Kebayoran Baru.

Jangan lupa untuk membawa fotokopi KTP, fotokopi STNK yang baru, fotokopi hasil tes fisik kendaraan, fotokopi kwitansi pembelian motor, BPKB asli dan fotokopinya.

5 dari 5 halaman

– Membayar Biaya Balik Nama BPKB dan Serahkan Berkas

Datangi loket balik nama BPKB yang ada di Polda dan akan diberikan nomor antrian dan formulir Bea Balik Nama BPKB. Anda harus mengisi formulir tersebut dengan teliti dan jangan sampai ada yang terlewat. Jadi lakukan cek dua kali ya!

Setelah selesai mengisi formulir, harus melakukan pembayaran sebesar Rp 80 ribu di loket pembayaran BRI yang sudah tersedia di sana.

Kalau sudah melakukan pembayaran, fotokopi terlebih dahulu bukti pembayaran dan tempelkan pada formulir pendaftaran dan berikan kepada petugas loket balik nama BPKB bersama dengan semua berkas yang telah kamu siapkan sebelumnya.

Petugas loket balik nama BPKB nanti akan memberikan tanda terima yang di dalamnya terdapat tanggal pengambilan BPKB yang baru. Simpan baik-baik tanda terima tersebut dan juga bukti pembayaran yang asli karena akan digunakan sebagai syarat untuk mengambil BPKB baru.

– Ambil BPKB yang Baru

Di tanggal yang sudah ditentukan, Anda bisa datang lagi ke Polda untuk mengambil BPKB yang baru. Ambil nomor antrian terlebih dahulu dan tunggu nomormu dipanggil.

Serahkan tanda terima bersama dengan bukti pembayaran, dan fotokopi KTP kepada petugas loket. Setelah proses ini selesai, maka akan diberikan BPKB baru yang sudah jadi.

Abu Bakar Baasyir Dibebaskan, Politis Atau Humanis?

Liputan6.com, Jakarta – Terpidana terorisme Abu Bakar Baasyir segera menghirup udara bebas. Negara memberikan bebas murni kepada sosok yang dihukum 15 tahun penjara tersebut.

Pakar hukum tata negara Yusril Ihza mewakili Presiden Jokowi menemui langsung Abu Bakar Baasyir di Lapas Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat 18 Januari 2019 siang.

Yusril datang untuk meyakinkan Presiden Jokowi bahwa dirinya mampu membujuk amir (pemimpin) Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) ini bebas.

“Memang pada waktu itu ada niatan dari Pak Presiden untuk membebaskan Beliau. Sudah saatnya Beliau dibebaskan,” terang Yusril, Jumat.

Jokowi berpendapat bahwa Baasyir harus dibebaskan karena pertimbangan kemanusiaan. Karena itu, Jokowi meminta Yusril untuk menelaah, berdialog dan bertemu Abu Bakar Baasyir di Lapas Gunung Sindur.

“Seminggu lalu saya sempat menemui Beliau. Semua pembicaraan dengan Beliau, saya laporkan ke Pak Jokowi,” kata dia.

Berdasarkan keinginan Jokowi, lanjut Yusril, Baasyir dibebaskan tanpa syarat. Hal ini mengingat kondisinya sudah lanjut usia.

“Dan ini bukan mengalihkan Beliau jadi tahanan rumah, kami jelaskan Pak Baasyir ini betul-betul pembebasan yang diberikan kepada Beliau,” kata dia.

Terkait pembebasan ini, tambah Yusril, Baasyir sudah menyetujuinya dan ingin kembali ke kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. Namun, Baasyir meminta waktu karena harus mengemas barang-barangnya.

“Jadi, Beliau menerima semua dan akan tinggal di rumah anaknya Pak Abdul Rochim. Tapi Beliau minta waktu 2-3 hari untuk mengemas barang-barangnya,” kata dia.

Ustaz Abu Bakar Baasyir sendiri mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada semua pihak yang sudah berupaya membebaskannya dari hukuman penjara.

“Saya kenal sejak lama dengan Pak Yusril. Beliau ini orang berani, sehingga banyak yang memusuhinya. Tetapi saya tahu, Beliau menempuh jalan yang benar,” ujar Baasyir.

Sementara itu, Anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendra Datta mengatakan, Abu Bakar Baasyir akan bebas pada pekan depan. Perkiraan waktu itu disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra, sebagai utusan Presiden Jokowi, kepada TPM.

“Insyaallah menurut janji Yusril atau Presiden, dalam waktu minggu depan. Caranya belum disampaikan, berbagai cara wewenang pemerintah,” kata Mahendra di kantornya, Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu 19 Januari 2019.

Menurut dia, Abu Bakar Baasyir bisa kembali menghirup udara bebas berkat perjuangan panjang. Sejak tiga tahun lalu, Mahendra dan tim kerap bersurat kepada Menhan Ryamizard.

“Kami tiga tahun lalu sudah berkirim surat, ditanggapi Menhan Ryamizard bahwa dia mendukung pembebasan Baasyir,” ujar Mahendra.

Perjalanan Kasus

Abu Bakar Baasyir ditangkap pada 2010 silam di Banjar, Jawa Barat, saat dalam perjalanan dari Tasikmalaya ke Solo. Saat itu, dia dituding terlibat dalam perencanaan pelatihan paramiliter di Aceh. Juga pendanaannya.

Sebanyak 32 pengacara yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) berbondong-bondong mengajukan diri membelanya.

Pada Kamis 10 Februari 2011, Abu Bakar Baasyir menghadapi sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu didakwa dengan tujuh pasal berlapis yang tertuang dalam berkas setebal 93 halaman.

Senin 9 Mei 2011, jaksa menuntut Abu Bakar Baasyir dengan hukuman seumur hidup.

Namun, pada Kamis 16 Juni 2011, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonisnya 15 tahun penjara.

Kala itu, majelis hakim menilai Amir Jamaah Anshorud Tauhid atau JAT itu terbukti merencanakan atau menggerakkan pelatihan militer bersama Dulmatin alias Yahyah Ibrahim alias Joko Pitono.

Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Selatan Herri Swantoro yang didampingi empat hakim anggota, yakni Aksir, Sudarwin, Haminal Umam, dan Ari Juwantoro.

“Menjatuhkan pidana dengan penjara selama 15 tahun. Menetapkan masa penahanan dikurangkan dari pidana yang dijatuhkan,” ujar Herri.

Saat sidang, Baasyir sudah ditahan selama 10 bulan di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri. Vonis yang dijatuhkan rupanya lebih rendah dibanding dengan tuntutan jaksa penuntut umum, penjara seumur hidup.

Hakim menjelaskan, dalam pertimbangannya tidak sependapat dengan tuntutan jaksa bahwa Abu Bakar Baasyir juga mengumpulkan dana untuk pelatihan militer di Aceh sesuai dakwaan lebih subsider.

2 dari 3 halaman

Isu Politis

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai rencana pembebasan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir berbau politis lantaran dilakukan menjelang pemilu.

“Publik pasti bisa menilai pasti ada kaitan dengan politik,” katanya di kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu 19 Januari 2019.

Menurut Dahnil, umat Islam Indonesia pasti paham maksud pembebasan Baasyir itu. “Bagi umat Islam pasti paham bahwasanya selama ini stigma teroris itu Islam. Tiba-tiba jelang pemilu berbaik-baik,” ujarnya.

Meski demikian ia bersyukur Abu Bakar Baasyir dibebaskan dengan alasan kemanusiaan.

“Pertama kami bersyukur ustaz Baasyir bebas, kedua memang sudah waktunya bebas, tahun lalu Desember menolak bebas karena bersyarat. Kalau orang Jawa bilang wis wayahnya,” katanya.

Presiden Jokowi sendiri menegaskan pembebasan Abu Bakar Baasyir atas dasar pertimbangan kemanusiaan.

“Yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya Beliau kan sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan,” kata Jokowi usai meninjau Rusun Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Desa Nglampangsari, Cilawu, Garut, Jumat 18 Januari 2019.

Jokowi juga membenarkan bahwa kondisi kesehatan Baasyir yang menurun menjadi pertimbangan utama. Meski begitu, ia menegaskan ada banyak pertimbangan lain yang diperhatikan.

“Iya, termasuk kondisi kesehatan, masuk dalam pertimbangan itu. Ini pertimbangan yang panjang. Pertimbangan dari sisi keamanan dengan Kapolri, dengan pakar, terakhir dengan Pak Yusril. Tapi prosesnya nanti dengan Kapolri,” ujar Jokowi seperti dikutip Antara.

Jokowi mengatakan, keputusan untuk membebaskan Baasyir tidak muncul tiba-tiba atau melalui pertimbangan yang singkat.

“Sudah pertimbangan lama. Sudah sejak awal tahun yang lalu. Pertimbangan lama Kapolri, kita, Menkopolhukam, dan dengan pakar-pakar. Terakhir dengan Pak Prof Yusril Ihza Mahendra,” jelas Jokowi.

Sanggahan juga dilontarkan Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendra Data. Dia menegaskan tak ada unsur politis dalam pembebasan pria berusia 81 tahun tersebut. Dia  mengatakan, lobi-lobi untuk membebaskan Abu Bakar Baasyir sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir.

“Ini masalah hukum, bukan politik, apalagi gift. Kami tiga tahun lalu sudah berkirim surat, ditanggapi Menhan Ryamizard bahwa dia mendukung pembebasan Baasyir. Bahkan membuat surat resmi atas nama Menteri Pertahanan ke Presiden RI,” katanya.

Pembebasan Baasyir, lanjut dia, berlandaskan preseden hukum Undang-Undang Pemasyarakatan yang jelas. Pada UU itu disebutkan, bilamana napi sakit yang membahayakan, dikhawatirkan merenggut jiwa, lebih baik dibantarkan karena harus berobat.

“Berdasarkan alasan bisa diterima menurut hukum, antara lain usia lanjut dan ustaz Baasyir adalah tahanan tertua di Indonesia (usia 81 tahun) dan menyandang penyakit, cukup membuat beliau dirawat dengan baik di rumah sakit,” jelas Manhendra.

3 dari 3 halaman

Setia Pancasila

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyarankan Abu Bakar Baasyir untuk taat dan setia kepada Pancasila dan NKRI. Menurutnya, sebagai warga negara Indonesia (WNI), tanpa terkecuali harus bersumpah setia kepada Pancasila dan NKRI.

“Karena itulah sekali lagi PDIP dengan sangat merekomendasikan bahwa ketaatan terhadap, Pancasila dan NKRI itu bersifat wajib dan tidak bisa ditawar-tawar,” ujar Hasto di DPC PDIP Jakarta Timur, Minggu 20 Januari 2019.

Hasto menegaskan, pandangan PDIP kokoh dalam konstitusi untuk setia kepada Pancasila dan NKRI. Maka itu, mereka berpendapat jika yang tidak bisa berkomitmen, bisa dipersilakan keluar dari Indonesia.

“Sekiranya tidak mau punya komitmen yang kuat terhadap NKRI sebagai kewajiban warga negara, ya dipersilakan untuk jadi warga negara lain,” kata Hasto.

Kendati demikian, dia tetap memahami mengapa Jokowi mengambil kebijakan membebaskan Abu Bakar Baasyir. Yaitu demi kemanusiaan. Hasto membantah kebijakan itu bernuansa politisasi dan demi elektoral.

“Kami tidak berbicara elektoral, kami berbicara tentang kemanusiaan,” ucapnya.

Di bagian lain, Direktur Lokataru Foundation Haris Azhar menyatakan, persyaratan pembebasan Abu Bakar Baasyir dengan meminta untuk menandatangani surat pernyataan setia pada Pancasila dan NKRI, tidak berbeda dengan praktik pemaksaan terhadap kelompok minoritas di sejumlah daerah.

“Pancasila itu bukan dalam bentuk naskah kayak kuitansi, karena surat-surat model kepada Pancasila, kembali kepada NKRI, ke jalan yang benar, itu juga justru yang dipakai ketika anda maksa-maksa kelompok minoritas di berbagai tempat untuk dianggap dalam tanda kutip, sadar. Sering kan?” tutur Haris di Cikini, Jakarta Timur, Minggu 20 Januari 2019.

Haris mencontohkan seperti praktik kelompok Front Pembela Islam (FPI) yang menggerebek aliran Ahmadiyah. Termasuk juga pemotongan nisan salib yang diakhiri dengan tanda tangan dalam secarik surat kesepakatan di Kotagede, Yogyakarta.

“Yang kayak gitu-gitu menurut saya, yang namanya keyakinan, visualnya tidak bisa lewat seperti itu,” jelas dia.

Menurut Haris, Abu Bakar Baasyir sendiri sebelum menerima grasi pun memiliki sikap yang pancasilais. Persyaratan tanda tangan itu menjadi tidak masuk akal.

Kemudian kalau memang untuk kemanusiaan, prosedur tanda tangan itu menjadi cacat secara prosedural. Seharusnya alasan itu membuat Abu Bakar Baasyir dipermudah dalam proses pembebasannya.

“Jadi kalau mengukur Pancasila itu, ukur dari ekspresi-ekspresi lain. Bukan dalam bentuk surat. Nggak kurang-kurang kalau tanda tangan setia, disumpah di depan presiden, disumpah pakai alquran, kelakuannya korupsi semua (pejabat),” Haris menandaskan.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kejati Desak Pelimpahan Kasus Dugaan Korupsi yang Jerat Mantan Ketua PWI Sulsel

Liputan6.com, Makassar Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel) mendesak penyidik Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel segera melimpahkan tersangka dan barang bukti (tahap dua) perkara dugaan korupsi pengelolaan aset milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) ke pihaknya karena berkas perkara tersebut telah lama dinyatakan lengkap (P.21).

Perkara tersebut diketahui telah menetapkan mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia cabang Sulawesi Selatan (PWI Sulsel), Zulkifli Gani Otto alias Zugito sebagai tersangka.

“Sekaitan munculnya pemberitaan bahwa tahap dua perkara PWI belum bisa terlaksana dikarenakan JPU yang belum memberikan sinyal ke penyidik adalah bukan sebagai alasan untuk tidak dilakukan tahap dua,” kata Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Tarmizi melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan (Kejati Sulsel), Salahuddin via telepon, Sabtu (19/1/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU), lanjut Salahuddin, sejak menerbitkan status P. 21 terhadap perkara dugaan korupsi yang menjerat Zugito tersebut, pada dasarnya telah siap untuk menerima pelimpahan tahap dua yang tentunya sesuai dengan mekanisme yang berlaku.

Pelimpahan tahap dua, tegas dia, merupakan kewenangan penyidik Kepolisian setelah perkara dinyatakan lengkap (P.21) dan JPU wajib menerima tahap dua sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

“Tak ada alasan menolak atau pun menunda pelaksanaan tahap dua selama dilakukan sesuai hukum yang berlaku,” jelas Salahuddin.

Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan pihaknya pada dasarnya siap kapan saja menyerahkan tersangka dan barang bukti perkara dugaan korupsi yang menjerat mantan Ketua PWI Sulsel, Zugito tersebut. Apalagi kata dia, perkaranya sudah berstatus lengkap (P.21) oleh pihak Kejaksaan.

“Jadi pada dasarnya menunggu kesiapan JPU saja. Mungkin disana lagi banyak perkara yang antri sehingga pelimpahan tahap dua kasus PWI ini dicicil,” ucap Dicky.

Meski demikian, pihaknya akan segera mungkin menyerahkan tersangka dan barang bukti setelah mendapatkan sinyal dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Kalau sudah ada sinyal dari JPU, kita akan segera tahap dua,” tutur Dicky.

Mengenai alasan penyidik tak menahan tersangka dalam perkara ini, dalih Dicky, karena tersangka dinilai kooperatif dan tidak ada upaya untuk menghilangkan barang bukti.

“Tidak ditahan karena tersangka dugaan korupsi ini kooperatif,” ujar Dicky.

2 dari 2 halaman

Perjalanan Perkara Dugaan Korupsi yang Jerat Mantan Ketua PWI Sulsel

Sebelumnya, Zugito yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini melakukan perlawanan hukum dengan mengajukan upaya praperadilan. Ia menganggap penetapan tersangka yang dialamatkan penyidik Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel kepadanya cacat hukum.

Meski demikian, upaya praperadilan yang dilakukannya gagal. Hakim tunggal Pengadilan Negeri Makassar yang menyidangkan gugatan praperadilan tersebut, Kemal Tampubolon menolak gugatan praperadilan yang diajukan oleh Zugito itu.

Menurut dia, keterangan saksi, surat dan ahli yang diperiksa oleh penyidik Polda Sulsel selaku termohon praperadilan telah sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana.

Tak hanya itu, ia juga menilai alat bukti dan prosedur yang dijadikan sebagai pertimbangan oleh termohon dalam hal ini penyidik Polda Sulsel dalam menetapkan termohon sebagai tersangka adalah sah dan sama sekali tak cacat prosedural.

“Pihak kepolisian telah memiliki dua alat bukti yang sah untuk menetapkan Zugito sebagai tersangka. Dan bukti-bukti yang diajukan sudah sesuai dengan prosedur penyelidikan dan penyidikan atau telah sesuai ketentuan dalam KUHAP,” jelas Kemal dalam putusannya itu.

Dalam kasus yang diduga merugikan negara tersebut, Zugito diduga mengomersialkan aset Pemprov Sulsel berupa gedung yang terletak di Jalan AP. Pettarani No. 31, Makassar tanpa mengantongi izin dari Pemprov Sulsel selaku pemilik aset.

Selain itu, hasil uang sewa atas aset tersebut diduga tak disetorkannya ke kas daerah Pemprov Sulsel. Sehingga atas perbuatannya dinilai bertentangan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 17/2007 tentang pedoman teknis pengelolaan barang milik daerah.

Adapun hasil audit yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel, ditemukan terjadi kerugian negara sebesar Rp 1.634.306.366.

Atas perbuatannya, Zugito disangkakan Pasal 2 ayat 1 Subsider Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang tindak pidana korupsi dengan ancaman pidana maksimal 20 tahun penjara.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pengacara: Abu Bakar Baasyir Diperkirakan Bebas Pekan Depan

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Tim Pengacara Muslim, Mahendra Datta mengatakan, Abu Bakar Baasyir akan bebas pada pekan depan. Perkiraan waktu itu disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra, sebagai utusan Presiden Jokowi, kepada TPM.

“Insyaallah menurut janji Yusril atau Presiden, dalam waktu minggu depan. Caranya belum disampaikan, berbagai cara wewenang pemerintah,” kata Mahendra dalam jumpa pers di kantornya, Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (19/1/2019).

Menurut dia, Abu Bakar Baasyir bisa kembali menghirup udara bebas berkat perjuangan panjang. Sejak tiga tahun lalu, Mahendra dan tim kerap bersurat kepada Menhan Ryamizard.

“Kami tiga tahun lalu sudah berkirim surat, ditanggapi Menhan Ryamizard bahwa dia mendukung pembebasan Baasyir,” ujar Mahendra.

2 dari 3 halaman

Kasus Baasyir

Abu Bakar Baasyir ditangkap pada 2010 silam di Banjar, Jawa Barat, saat dalam perjalanan dari Tasikmalaya ke Solo. Saat itu, dia dituding terlibat dalam perencanaan pelatihan paramiliter di Aceh. Juga pendanaannya.

Sebanyak 32 pengacara yang tergabung dalam Tim Pengacara Muslim (TPM) berbondong-bondong mengajukan diri membelanya.

Pada Kamis 10 Februari 2011, Abu Bakar Baasyir menghadapi sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) itu didakwa dengan tujuh pasal berlapis yang tertuang dalam berkas setebal 93 halaman.

Senin 9 Mei 2011, jaksa menuntut Abu Bakar Baasyir dengan hukuman seumur hidup.

Namun, pada Kamis 16 Juni 2011, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonisnya 15 tahun penjara.

Kala itu, majelis hakim menilai Amir Jamaah Anshorud Tauhid atau JAT itu terbukti merencanakan atau menggerakkan pelatihan militer bersama Dulmatin alias Yahyah Ibrahim alias Joko Pitono.

Vonis dibacakan Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Selatan Herri Swantoro yang didampingi empat hakim anggota, yakni Aksir, Sudarwin, Haminal Umam, dan Ari Juwantoro.

“Menjatuhkan pidana dengan penjara selama 15 tahun. Menetapkan masa penahanan dikurangkan dari pidana yang dijatuhkan,” ujar Herri.

Saat sidang, Baasyir sudah ditahan selama 10 bulan di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri. Vonis yang dijatuhkan rupanya lebih rendah dibanding dengan tuntutan jaksa penuntut umum, penjara seumur hidup.

Hakim menjelaskan, dalam pertimbangannya tidak sependapat dengan tuntutan jaksa bahwa Abu Bakar Baasyir juga mengumpulkan dana untuk pelatihan militer di Aceh sesuai dakwaan lebih subsider. 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: