KPU Banjir Karangan Bunga Dukungan

Minggu 21 April 2019, 11:42 WIB

Foto News

Grandyos Zafna – detikNews

Jakarta detikNews – Karangan bunga ‘membanjiri’ kantor KPU, Jakarta Pusat. Karangan bunga itu bertuliskan semangat untuk KPU yang melakukan perhitungan surat suara pemilu 2019.

Salah satu karangan bunga yang dikirim bertuliskan “Percaya KPU”.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Warga Kabupaten Bandung Terjang Banjir Demi Ikut Pemilu

Liputan6.com, Bandung Proses pemungutan suara di beberapa wilayah rawan banjir di Kabupaten Bandung berjalan lancar. Banjir tidak mengurangi tingkat partisipasi masyarakat untuk mencoblos.

“Tadi saya sudah datang dengan Forkopimda, ada dua TPS sudah bergeser ke tempat aman,” kata Ketua KPU Provinsi Jawa Barat, Rifqy Ali Mubarok menegaskan di Bandung, Rabu (17/4/2019).

Rifqy tak memungkiri jika ada sebagian warga yang akan menggunakan hak pilihnya terpaksa menggunakan perahu menuju ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Karena berpindah, jarak pemilih dari pemukiman ke TPS itu jauh. Maka kemudian kita harus menyediakan transportasi, kita berkordinasi dengan BPBD, TNI, Polri dan SAR untuk menyiapkan perahu karet dan sebagainya, akhirnya tadi antar jemput,” ujarnya.

Ia mengatakan sebanyak 210 TPS di Kabupaten Bandung juga telah direlokasi ke tempat lain karena banjir belum surut. Namun, karena kesigapan petugas dan panitia penyelenggara, pemilih pun dapat menggunakan suaranya di pemilu kali ini.

“Tadi angka partisipasinya cukup besar, walaupun harus menggunakan perahu karet. Rata-rata hampir 200 orang per TPS yang memilih,” kata Rifqy.

 * Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

Hujan Lebat, 3 TPS di Kota Jambi Terendam Banjir

JakartaTiga TPS di kawasan Perumahan Kembar Lestari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi terendam banjir. TPS yang berada di RT 56 itu terendam banjir setinggi 50 cm. Banjir itu juga merendam sebanyak ratusan rumah warga disana.

Banjir ini terjadi akibat hujan deras pada malam tadi sekitar pukul 23.00 hingga pukul 02.00WIB. Akibat banjir ini sejumlah warga kebingungan untuk melakukan pemilihan suara pada pemilu kali ini.

Bahkan akibat banjir tersebut, pihak PPS tidak dapat melakukan pendistribusian surat suara dan kotak suara ke tiga TPS yang terendam banjir tersebut. Batalnya pendistribusian kotak suara dan surat suara itu akibat akses jalan tidak dapat ditempuh dengan kondisi banjir yang cukup tinggi.

“Jadi sekitar pukul 03.00 pagi anggota PPS nya mau melakukan pendistribusian kotak suara dan surat suara namun kondisi akses jalan tidak dapat ditempuh karena banjir yang cukup tinggi. Maka dari itu mereka terpaksa membatalkan sesaat dikhawatirkan jika dipaksa dapat membahayakan,” kata Ketua TPS 112, Defrizon kepada detikcom.

Pantauan dilokasi tenda di tiga TPS itu saat ini dalam keadaan rusak dan belum dapat diperbaiki. Hingga saat ini kotak suara dan surat suara juga belum didistribusikan karena kondisi banjir masih cukup tinggi di kawasan tersebut.

“TPS yang terendam banjir ini ada 3 yaitu TPS 111, 112 dan 113. Sekarang kita masih menunggu banjir ini reda, dan masih menunggu kotak suara dan surat suara untuk pencoblosan nanti,” ujarnya.

Sementara terpisah, Komisioner KPU Kota Jambi, Aditya Diar membenarkan bahwa kota suara dan surat suara belum dilakukan pendistribusian akibat banjir.

“Surat suara dan kotak suara masih berada di kantor kelurahan, belum dilakukan pendistribusian karena kondisi kawasan itu terendam banjir. Kita masih menunggu banjir ini reda, jika nanti kondisi memungkinkan maka surat suara dan kotak suara akan didistribusikan ketiga TPS tersebut,” kata Adit saat dikonfirmasi detikcom.

Hingga pukul 07.10 banjir masih merendam kawasan Perumahan Kembar Lestari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Pemilihan umum juga belum dilakukan karena kondisi banjir. Tiga TPS yang terendam banjir juga masih belum diperbaiki.
(fjp/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Banjir Rendam 35 Desa di Lamongan, Panitia TPS Khawatir Warga Tak Mencoblos

Fokus, Bandung – Satu hari menjelang Pemilu 2019, banjir luapan Sungai Citarum masih merendam ribuan rumah di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Selasa (16/4/2019), tercatat ada sekitar 1.500 rumah warga di Kecamatan Dayeuhkolot dan Balendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang masih terendam banjir pada pagi tadi. 

Jika pada hari pencoblosan air belum juga surut, warga dipastikan harus menggunakan perahu bila ingin memberikan hak suaranya. Hal ini mengingat di beberapa titik menuju TPS, banjir terpantau cukup tinggi.  

“Amat sangat terganggu. Kalau banjir gini sih kayaknya banyak yang golput ya,” ujar salah satu warga bernama Ade Koswara.

Di Kabupaten Bandung, ada 137 TPS yang berada di kawasan banjir. KPUD Jawa Barat memutuskan untuk memindahkannya ke tempat yang tidak terkena banjir. Demikian juga untuk di Indramayu, 13 TPS dialihkan karena banjir.  

Saat ini, KPUD Jawa Barat telah mendistribusikan kebutuhan logistik baik surat suara maupun bilik suara ke tingkat kecamatan di seluruh Jawa Barat untuk lebih dari 32,2 juta orang yang terdaftar dalam DPT.

Sementara itu, ada sekitar 35 desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, yang masih terendam banjir. Panitia tempat pemungutan suara (TPS) setempat berupaya untuk memindahkan lokasi ke tempat lebih aman.

Kondisi ini dimungkinkan akan mempengaruhi tingkat partisipasi warga. 

Luapan Sungai Bengawan Jero, yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo sudah dua pekan ini membanjiri kawasan rumah warga. Warga dipastikan butuh usaha lebih untuk mencapai TPS pada 17 April esok hari. 

Basarnas Evakuasi 36 Warga Kendari yang Terjebak Banjir

Kendari – Sebanyak 36 warga kendari yang terjebak banjir sudah dievakuasi. Saat ini, sebanyak 50 personel Basarnas disiagakan.

“Yang terbanyak 15 orang, tepatnya di depan Puskesmas Lepo-lepo, yang lainnya tersebar di enam titik berbeda,” ujar juru bicara Badan SAR Nasional Kendari, Wahyudi, Minggu (14/4/2019) malam.

Wahyudi mengatakan, 50 personel yang disiagakan untuk mengantisipasi apabila hujan kembali terjadi. Apalagi menurutnya, cuaca saat ini sulit untuk diprediksi.

“Hingga saat ini cuaca tidak dapat diprediksi, dikhawatirkan akan terjadi lagi hujan pada malam ini, sehingga 50 orang di-stand by kan di kantor untuk menjawab telpon dari warga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Lebih lanjut dikatakannya malam ini Basarnas Kendari menurunkan dua tim ke lokasi banjir untuk dilakukan evakuasi. Namun, karena banyaknya permintaan warga sehingga ditambah dua tim lagi.

“Totalnya empat tim yang melakukan evakuasi,” ujarnya.
(idn/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Terjebak Banjir, Warga Kendari Mulai Dievakuasi Basarnas

Kendari – Hujan lebat yang turun di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), sejak sore hari mengakibatkan banjir di beberapa titik berbeda. Warga yang terjebak banjir mulai dievakuasi.

“Sementara ada 25 orang yang berhasil kami evakuasi di beberapa titik berbeda,” kata juru bicara Badan SAR Nasional Kendari, Wahyudi, Minggu (14/4/2019).

Wahyudi mengatakan ada tujuh titik berbeda yang terendam banjir. Dari sejumlah titik yang dilakukan evakuasi karena banjir, tertinggi banjir terjadi setinggi pinggang orang dewasa. Dalam evakuasi tersebut, ada juga ibu hamil dan anak-anak.

Data sementara, tujuh titik lokasi banjir yang terjadi di Kota Kendari adalah BTN Findayani, perumahan depan Polres Kendari, Tunggala Dalam, belakang Transito, BTN II Mega Buana Indah, dan dua titik di sekitar PLN Wua-wua.

Sebelumnya, banjir di Kelurahan Anawai, Kecamatan Wuawua, Kendari, Sultra, membuat warga terjebak. Sebagian warga tak bisa keluar dari rumah karena air masuk ke rumah.

Adi, salah seorang warga di BTN II Mega Buana Indah menjelaskan, selama 20 tahun di Anawai, baru kali ini mengalami banjir. Menurutnya, daerah dia termasuk aman dari banjir.

“Saya sudah kurang-lebih 20 tahun tinggal di sini, tapi baru ini banjir,” ungkapnya.
(idn/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kendari Banjir, Air Sampai Masuk ke Rumah Warga

Kendari – Hujan lebat yang mengguyur Kota Kendari, Sultra, langsung membuat banjir di sekitar Jl Pembangunan, Kelurahan Anawai, Kecamatan Wua-wua. Diperkirakan air mencapai 50 cm.

Salah seorang warga, Arham Rasyid saat dikonfirmasi, Minggu (14/4/2019) pukul 17.00 Wita, melalui sambungan telepon mengaku jika hal tersebut baru pertama terjadi. Padahal beberapa tahun lalu saat banjir terjadi di Kota Kendari, jalan pembangunan termasuk daerah aman dan tidak tergenang air sama sekali.

“Sudah kurang lebih 10 tahun saya tinggal di sini, tidak pernah banjir, baru kali ini,” ungkapnya.

Dikatakannya, air yang menggenangi kawasannya tersebut diduga merupakan kiriman dari tanggul di Anawai.

“Kami di sini memang agak rendah, takutnya tanggul di anawai meluap,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya jika anak-anak sudah dievakuasi ke rumah tetangga yang lebih aman. Meskipun belum ada bantuan dari BPBD dan SAR, namun ia mengaku jika sudah dihubungi.

“Belum ada yang datang, tapi tadi sudah ditelepon dari SAR,” tutupnya.
(rvk/asp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Direndam Banjir Lebih Dari Seminggu, Kabupaten Bandung Penuh Sampah

Liputan6.com, Bandung – Selama lebih dari sepekan dilanda banjir, BPBD Kabupaten Bandung mencatat ada sekitar 1.500 rumah warga masih terendam. Tak hanya itu, kini muncul masalah lain yang harus dihadapi warga korban banjir, yakni sampah yang terbawa arus.

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Minggu (14/4/2019), tumpukan sampah rumah tangga seperti plastik hingga kasur menghambat aliran Sungai Cisangkuy.

Selain menimbulkan bau tak sedap, tumpukan sampah juga menyebabkan air terus meluap ke permukiman warga.

Air banjir dengan deras juga mengalir ke kawasan terendah di Kota Sampang, Madura, Jawa Timur. Akibat banjir, aktivitas warga terganggu karena jalur masuk kota terendam.

Seperti di Jalan Melati dan Jalan Imam Bonjol yang merupakan jalur penghubung Kota Sampang dengan dua kecamatan di utara Sampang, yakni Kecamatan Omben dan Karang Penang.

Pengendara roda dua yang nekat melalui Jalan Imam Bonjol, akhirnya mogok. Sementara,  kendaraan roda empat masih bisa melintas karena ketinggian air berkisar 30 hingga 40 sentimeter. Banjir merupakan kiriman dari kawasan pegunungan di utara Kota Sampang yang masih turun hujan.

Kini, banjir mulai merendam Kelurahan Rongtengah dan Kelurahan Dalpenang Sampang. (Rio Audhitama Sihombing) 

Petugas Gabungan Evakuasi Korban Banjir Pamekasan Saat Arus Deras

Liputan6.com, Pamekasan – Petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI dan Polri, Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WIB mulai mengevakuasi korban banjir di kawasan Kota Pamekasan.

Evakuasi dilakukan pada korban banjir terparah, yakni di Jalan Sinhaji, Kelurahan Jungcangcang, Pamekasan.

Di kawasan ini genangan banjir di dekat aliran sungai mencapai leher orang dewasa.

Petugas mengutamakan evakuasi kepada orang tua, anak-anak dan ibu hamil ke tempat yang lebih aman.

“Ketinggian banjir di sana seleher saya ini. Makanya semua warga kita evakuasi ke sini,” kata Budi warga Jalan Sinhaji di lokasi banjir, Sabtu 14 April 2019 malam, dilansir Antara.

Banjir kiriman dari Kecamatan Palengaan, Pamekasan ini mulai memasuki Kota Pamekasan sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat itu, genangan banjir di sekitar Jalan Sinhaji Pamekasan masih sekitar 10 Cm. Namun satu jam kemudian, tiba-tiba banjir kiriman datang dan memasuki rumah-rumah warga.

Hingga sekitar pukul 22.10 WIB belum ada tanda-tanda banjir akan surut, bahkan arus banjir cenderung semakin deras.

Sementara, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, petugas PLN kini terpaksa memadamkan aliran listrik di sekitar lokasi banjir.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengevakuasi sejumlah warga yang terjebak banjir dengan menggunakan perahu karet.

KPU Indramayu Pastikan Pemilu Tetap Berjalan Meski Banjir

Sementara itu, ruas jalan yang dibongkar kurang lebih 200 meter itu. Langkah itu dilakukan untuk mengatasi banjir yang menyergap sejumlah daerah di Kabupaten Indramayu dalam beberapa hari terakhir.

“Kami berharap banjir bisa secepatnya surut,” kata Kapolres Indramayu, AKBP M Yoris MY Marzuki.

Pembongkaran dilakukan setelah dilakukan rapat darurat oleh unsur muspida, di lokasi jalan di Desa Pagirikan tersebut. Jalan beraspal yang telah dibangun sejak kurang lebih 25 tahun yang lalu itu kini sudah tidak lagi menjadi akses utama karena diatasnya telah dibangun jalan layang.

Ruas jalan tersebut semula dibangun untuk menghubungkan wilayah Kecamatan Indramayu dengan Kecamatan Pasekan. Namun, pembangunan jalan itu dilakukan dengan mematikan aliran sungai Cimanuk Lama yang menuju ke laut.

Dampaknya, saat debit sungai Cimanuk tinggi, air yang seharusnya menuju ke laut jadi meluap ke wilayah perkotaan.

BPBD Kabupaten Indramayu mencatat, terdapat 8.271 unit rumah warga di 19 desa itu yang terendam air dengan ketinggian bervariasi hingga lebih dari satu meter.

Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, Happy Mulya, mengatakan, selain membongkar jalan di Desa Pagirikan, dia memerintahkan jajarannya untuk mendistribusikan mesin pompa ke sejumlah lokasi di wilayah yang tergenang.

Hal itu dimaksudkan untuk mengurangi genangan air yang saat ini masih tinggi di sejumlah lokasi. Dia mengatakan, beberapa penyebab banjir di Indramayu karena usia sejumlah tanggul di sungai Cimanuk juga sudah cukup tua.

Selain itu, tak sedikit yang kondisinya juga rusak, seperti bocor dan posisinya turun, sehingga air mudah meluap dan merembes.

“Air yang digelontorkan dari Bendung Rentang ke sungai Cimanuk sebanyak 1.000 meter kubik per detik. Sedangkan kapasitas sungai Cimanuk, mencapai 1.200 meter kubik,” sebut dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Banjir di Kabupaten Indramayu merendam ribuan rumah di lima kecamatan