Datang ke TPS Pemilu 2019, Ayu Dewi dan Anak Kompak Pakai Baju Merah

Liputan6.com, Jakarta – Para pesohor antusias mendatangi tempat pemungutan suara (TPS), salah satunya Ayu Dewi. Perempuan kelahiran Jakarta, Jakarta, 7 September 1984 ini datang bersama dengan suami, Regi Datau, dan kedua anaknya.

Ayu datang mengenakan kaus merah dan celana putih serta memakai topi putih. Kedua anaknya pun terlihat memakai baju merah dan celana putih.

“Paling happy kalo ada moment-moment gini, jadi bisa kembaran sekeluarga tanfa argumen sama si bro,” tulis Ayu Dewi.

Berbeda dengan sang suami, Regi terlihat mengenakan kaus ungu dan celana hitam. Ia terlihat berdiri di sebelah Ayu yang menggendong anak lelakinya.

“Ngapain si? Emang mau ikut kuis pake kembar-kembar,” tulis Ayu Dewi menirukan ucapan suaminya.

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

Nyoblos di Pemilu 2019, Al Ghazali Pakai Baju Bergambar Ahmad Dhani

Liputan6.com, Jakarta Al Ghazali tak mau ketinggalan untuk jadi bagian dalam pesta demokrasi Pemilu 2019. Putra pertama Ahmad Dhani dengan Maia Estianty itu nampak menyambangi TPS 049 yang sama dengan Mulan Jameela, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019).

Yang menarik, dalam Pemilu 2019 ini Al Ghazali mencoblos menggunakan kaca mata hitam dan menggunakan kaos berwarna putih dan bergambarkan wajah Ahmad Dhani. Menurutnya, pakaian yang dikenakan sangat cocok dengan kondisinya saat ini.

“Iya pakai baju ini (Ahmad Dhani ‘My Hero’) karena pas aja soalnya sama suasana ini (Pemilu 2019),” kata Al Ghazali.

Usai mencoblos, Al Ghazali tak segan membocorkan pilihannya di Pemilu 2019. ‎Ia secara tegas mendukung Prabowo Sandi sebagai presiden untuk periode 2019-2024 sambil mengacungkan dua jarinya.

“Pilihannya dalam hati saya sih, tapi ya Prabowo,” ucapnya Al Ghazali.

PPLN Dhaka Jelaskan ‘Baju Putih yang Tertukar’ di Banner Saat Pencoblosan

Jakarta – Foto capres-cawapres di banner yang terpasang saat pencoblosan Pemilu 2019 di Dhaka, Bangladesh ramai dibahas karena berbeda dengan foto di surat suara. PPLN Dhaka lalu memberi penjelasan.

“Banner visi dan misi capres dan cawapres yang dipasang oleh PPLN Dhaka dan digunakan sebagai pembatas antara bilik suara dan meja tinta adalah banner sosialisasi Pemilu yang sudah dicetak sejak September 2018 jauh sebelum ditetapkan foto resmi dari KPU yang akan digunakan pada surat suara,” kata Ketua PPLN Dhaka, Teguh Iryadi, dalam keterangan tertulis, Senin (15/4/2019).

Teguh mengatakan saat banner dicetak, belum ditentukan foto dan pakaian capres 2019 yang akan tercetak di kertas suara. Saat pencoblosan pada 12 April 2019, banyak WNI yang datang belum mendapat sosialisasi dan tidak mengenal capres.

“Rata-rata WNI di Bangladesh adalah wanita yang menikah dengan pria Bangladesh saat bekerja sebagai TKI di Malaysia dan Timur Tengah. PPLN Dhaka berinisiatif untuk memajang kembali banner visi dan misi Capres 2019 yang digunakan untuk sosialisasi sebelumnya,” jelasnya.

PPLN Dhaka menegaskan bahwa bahwa banner itu dipasang murni untuk sosialisasi. Tidak ada niatan PPLN Dhaka untuk condong ke salah satu calon.

“Tidak ada niat dari PPLN Dhaka sama sekali untuk memenangkan salah satu paslon dalam pemasangan banner tersebut. Pemasangan banner yang digunakan pada sosialisasi sebelumnya murni hanya untuk menunjukkan visi misi paslon bagi WNI yang tidak terpapar sosialisasi,” tutup Teguh.
(imk/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Meriahnya Pilpres 2019 RI di Hungaria, Petugas Pakai Baju Tradisional

Kegiatan pemungutan suara di Wisma Duta RI di Stockholm juga berlangsung pada 13 April sejak jam 08.00 pagi hingga jam 18.00 sore. Sebelum kegiatan pemungutan suara ini berlangsung, PPLN dan KPPSLN yang bertugas telah berkumpul sejak jam 05.30 pagi untuk persiapan akhir dan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dubes RI untuk Swedia dan Latvia, Bapak Bagas Hapsoro.

“Alhamdulilah semua persiapan pemungutan suara telah sepenuhnya siap, dan Insya Allah kegiatan pemungutan suara hari ini berjalan lancar dan sukses,” ujar Dubes Bagas seraya menunjukkan jari kelingking yang telah terkena tinta, tanda telah mencoblos.

Sebagian WNI yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Swedia. Kalangan “milenial” tersebut tiba berbondong-bondong dan dengan ceria menunggu antrean untuk melakukan pemungutan suara.

“Seneng banget, ini pengalaman pertamaku nyoblos Pemilu Legislatif dan Presiden,” ujar Anisha Kristina.

Dengan jumlah total lebih dari 30 juta pemilih yang berada di umur 17 sampai 35 tahun, Pemilu kali ini mengakomodir paling banyak pemilih “milenial” ketimbang Pemilu sebelumnya.

PPLN di Stockholm beserta KBRI Stockholm mengakomodasi lebih dari 1.000 pemilih di wilayah akreditasi KBRI Stockholm, yaitu Swedia dan Latvia. Dari jumlah itu, 905 pemilih memutuskan untuk memilih melalui pos, sedangkan 260 pemilih memilih metode TPS.

“Kami harus tetap mengantisipasi kehadiran WNI yang masuk dalam kategori Daftar Pemilih Tambahan dan Daftar Pemilih Khusus, namun Insya Allah semua telah diperhitungkan dengan baik,” tutur Monica Utari Mariana, Ketua PPLN di Stockholm.

Di Swedia sendiri, pemilih yang berdomisili di Kota Stockholm dan Uppsala kebanyakan memilih untuk menggunakan metode TPS, sedangkan yang berdomisili di kota besar lain di Swedia, seperti Gothenburg dan Malmo, kebanyakan memilih melalui pos.

Dalam kegiatan pemungutan suara di Stockholm tersebut, para pemilih diberikan fasilitas penjemputan dari stasiun Metro terdekat, yaitu Ropsten. Hal ini untuk mengakomodasi pemilih yang tiba dari tempat tinggal yang jauh dari Wisma Duta RI.

Selain itu, disediakan konsumsi yang merupakan masakan tradisional Indonesia, seperti nasi kuning dan ramesan.

Selain di Swedia, terdapat sejumlah PPLN dan Perwakilan RI di negara lain yang melakukan kegiatan pemungutan suara di tanggal 13 April 2019, antara lain Abuja, Canberra, dan New York. Adapun kegiatan pemungutan suara di Luar Negeri tersebar di beberapa tanggal yaitu 8-14 April 2019.

Walaupun demikian, proses penghitungan suara tetap dilakukan serentak pada tanggal 17 April 2019.

Yenny Wahid Jelaskan Makna Huruf Arab di Baju ‘Tetap Jokowi’

Liputan6.com, Jakarta – Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny Zanuba Wahid mengatakan penggunaan huruf Arab pegon bertuliskan ”Tetap Jokowi” pada ikat kepala maupun baju selama masa kampanye, bukan merupakan simbol dari politik aliran.

“Huruf pegon justru dipakai sebagai perlawanan terhadap penggunaan aksara Arab yang selama ini dianggap simbol politik aliran atau politik identitas,” ujar Yenny Wahid di sela kegiatan ”Konser Putih BerSatu” di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Yenny menyatakan hal itu untuk merespons pertanyaan seputar penggunaan huruf Arab pegon pada ikat kepala dan kaos yang, selama masa kampanye Pilpres 2019, sering dipakai oleh relawan RPGD.

Termasuk Yenny Wahid sendiri, yang kerap tampil berkaos atau berjaket dengan ciri desain bertuliskan Arab pegon.

“Ada kesengajaan dari pihak-pihak tertentu yang menggunakan aksara Arab untuk memecah belah bangsa, bukan mempersatukan seperti asalnya. Bahkan, persaingan kedua calon presiden pun dinilai dari identitas keislamannya,” urai Yenny.

Padahal, dalam sejarahnya, huruf atau aksara Arab adalah salah satu dari ribuan aksara dari berbagai bangsa di dunia yang digunakan tidak hanya untuk kepentingan agama. Tetapi juga keperluan ekonomi, politik, dan urusan kehidupan lainnya.

Istilah Arab pegon itu sendiri, kata Yenny, berawal dari modifikasi huruf Arab untuk menuliskan bahasa Melayu, bahasa Jawa, bahasa Sunda, serta bahasa daerah lainnya.

Tulisan ini berkembang setelah Islam menjadi agama mayoritas rakyat Nusantara.

“Sebelumnya, suku-suku bangsa di kepulauan Nusantara menggunakan aksara Pallawa dari bahasa Sansekerta yang berasal dari India Selatan,” ujar putri Presiden ke-3 RI, KH Abdurrahman Wahid ini. 

Diakui Yenny, penggunaan ikat kepala dan kaos ”Tetap Jokowi” dalam huruf Arab pegon, memang upaya untuk mengingatkan kembali pada sejarah yang hilang.

“Sejarah ketika banyak suku bangsa di Indonesia menggunakan huruf Arab untuk menuliskan bahasa daerahnya bagi keperluan sehari-hari. Masa sebelum huruf Latin diperkenalkan oleh penjajah Belanda seperti yang dipakai sampai sekarang,” tutur dia.    

Unik, Wanita Ini Olah Kantong Plastik Supermarket Jadi Baju Rajut

Rosa Ferrigno adalah seorang imigran asal Sisilia, Italia yang kini tinggal di Amerika Serikat. Ia pindah saat usianya baru 16 tahun. Sejak kecil, Ia memang suka kegiatan yang berhubungan dengan seni. Ia akan bermain di kebunnya, menanam bunga atau sayuran.

Saat dirinya masih tinggal di Sisilia, Italia, merajut dan menjahit sudah menjadi makanan sehari-harinya. Setelah pindah, Ia langsung bekerja sebagai penjahit di Hickey Freeman. Di sana, ia bekerja selama 8 tahun sebelum akhirnya berumah tangga.

Meski telah menjadi ibu rumah tangga, hobi nenek Rosa menjahit baju tak lantas berhenti begitu saja. Bertahun-tahun dirinya membuat baju untuk anggota keluarganya. Bahkan saat putrinya beranjak remaja, teman-temannya akan memesan gaun pesta kepadanya.

Kapok Boros Belanja, Perempuan Ini Tak Ganti Baju Selama 2 Bulan

Liputan6.com, Jakarta – Menghentikan sebuah kebiasaan yang sudah lama kita lakukan memang tidak mudah. Misalnya saja kebiasaan belanja. Perempuan dan belanja punya hubungan yang erat.

Selain untuk memenuhi kebutuhan, belanja sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Uniknya, perempuan selalu merasa tidak punya pakaian yang tepat untuk dikenakan walaupun mereka suka belanja dan punya banyak pakaian.

Pola pikir ini membuat kebanyakan perempuan memiliki kebiasaan belanja yang sangat boros. Dilansir dari laman Bright Side, 2 April 2019, seorang seorang perempuan bernama Marina Testino melakukan sebuah eksperimen sosial yang sempat viral dan menghebohkan dunia maya.

Ia tidak mengganti outfit-nya selama dua bulan. Jadi dalam unggahannya di media sosial selama kurang lebih dua bulan, hanya memperlihatkan dirinya yang menggunakan outfit yang sama.

Ia selalu mengenakan setelan jas merah yang dipadupadankan dengan pakaian lain untuk menciptakan tampilan yang berbeda. Eksperimen ini berawal dari pemikiran Marina kalau banyak orang memiliki pola konsumsi yang berlebihan.

Pada kenyataannya, kita tidak memerlukan banyak pakaian untuk dimiliki dan dipakai. Ia juga sudah tak mau boros belanja lagi sehingga bisa lebih berhemat untuk membeli barang atau kebutuhan yang lain.

Marina konsisten mengunggah foto dirinya di berbagai tempat dengan setelan jas merah yang sama. Hanya paduannya saja yang berbeda, seperti kaus putih, bustier, dan bralet hitam.

Jokowi Ajak Pendukungnya Pakai Baju Putih Saat Pencoblosan Pilpres 2019

Liputan6.com, Palembang – Kampanye akbar Joko Widodo (Jokowi) di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), Selasa (2/4/2019), diramaikan oleh ribuan pendukungnya di sepanjang Jalan Radial hingga Jalan POM IX Palembang.

Jokowi yang diarak dengan mobil kapal bernuansa khas Sriwijaya ini, langsung melanjutkan kampanyenya di Aula PSCC Palembang. Jokowi juga mengajak para pendukungnya untuk menggunakan hak pilihnya pada Pilpres 2019.

“Tanggal 17 April 2019 nanti harus datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Gunakan baju putih, karena yang dicoblos adalah (capres) yang bajunya putih,” kata Jokowi disambut sorakan dukungan dari para pendukungnya.

Capres nomor urut 1 ini menjelaskan jumlah Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang sudah dikucurkan untuk penyelenggaraan Pemilu 2019. Untuk perhelatan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 saja, pemerintah pusat menggelontorkan dana sebesar Rp 25 Triliun.

“Saya ingin mengajak semuanya, agar bisa memberitahu keluarga, tetangga dan teman lainnya, untuk bersama-sama datang ke TPS, untuk menggunakan hak pilihnya,” ujar Jokowi.

Jokowi mengimbau agar tidak ada yang memilih golongan putih (Golput) saat Pemilu 2019, yang digelar pada 17 April 2019.

Untuk kesekian kalinya datang ke Palembang, mantan Gubernur DKI Jakarta ini masih merasa takjub dengan keberagaman Sumsel. Karena semua tradisi, adat, budaya, suku dan agama ada di Sumsel.

Kota Palembang sebagai Ibu Kota Sumsel sendiri, dianggapnya sebagai salah satu miniatur Indonesia. Bahkan dia sangat senang saat pawai diarak oleh peserta pawai yang menggunakan berbagai jenis pakaian adat di Indonesia.

Di tengah kampanye, Jokowi kembali mengenalkan tiga kartu ‘sakti’ terbaru, yaitu Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, Kartu Sembako Murah (KSM) dan Kartu Prakerja.

PA 212 Putar Memori Baju Kotak-kotak Jokowi

Jakarta – Calon presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) menyerukan pendukungnya memakai baju putih saat datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada 17 April 2019 nanti. Rencana pihak Jokowi ini membuat pihak Persaudaraan Alumni (PA) 212 membuka ingatan Pilpres 2014.

Arahan Jokowi agar mengenakan baju putih itu disampaikan saat ia berkampanye di GOR Ken Arok, Jalan Mayjen Sungkono, Malang, Jawa Timur, Senin (25/3). Kala itu, Jokowi mengajak pendukungnya datang ke TPS pada 17 April 2019 dengan menggunakan kostum putih.

PA 212 Putar Memori Baju Kotak-kotak Jokowi Foto ilustrasi: Jokowi (Andhika-detikcom)

“Ajak mereka semuanya ke TPS memakai baju putih, memakai baju putih, karena yang akan dicoblos itu bajunya juga putih. Karena putih adalah kita, kita adalah baju putih,” kata Jokowi saat itu.
Jokowi mengatakan kostum putih sudah menjadi ciri khas dirinya bersama sang cawapres, Ma’ruf Amin. Jokowi tidak mau baju putih yang sudah menjadi ciri khasnya sejak awal Pilpres 2019 diklaim orang lain.

“Ini nanti (khas baju putih) diambil yang lain. Kita sudah baju putih sejak awal, (malah) dipakai yang lain, enak saja,” imbuh Jokowi.

Alasan Ma’ruf Amin Ajak Pendukung Pakai Baju Putih Bukan Kotak-kotak Saat ke TPS

Liputan6.com, Jakarta – Cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin mengimbau pendukungnya untuk mengenakan baju putih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hal itu karena yang akan dicoblos dalam TPS adalah pasangan yang berpakaian putih.

“Makanya 17 April 2019 nanti TPS diputihkan,” ucap Ma’ruf Amin di Plaza Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (31/3/2019).

Ma’ruf mengatakan, Jokowi memang sempat mempopulerkan kemeja kotak-kota kala menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta. Tapi kini, situasinya sudah berubah.

Selain situasinya pemilihan presiden dan wakil presiden. Sekarang pun gambar Jokowi-Amin di kotak suara berwarna putih.

“Kan memang gambarnya Pak Jokowi dengan saya kan putih. Kalau kotak-kotakkan zamannya gubernur dulu,” ujar dia.

Sebelumnya, Jokowi mengajak pendukungnya mencoblos foto dirinya dan Ma’ruf Amin dalam kertas suara yang berpakaian putih. Dia juga meminta pendukungnya berbondong-bondong datang ke TPS dengan mengenakan pakaian putih.

“Jangan lupa, saya ingatkan tanggal 17 April itu kita pakai baju putih. Karena yang mau dicoblos nanti bajunya putih, karena kita adalah putih, putih adalah kita,” kata Jokowi.