Bahasa Cirebon dari Sanskerta Kontemporer hingga Slang

Liputan6.com, Cirebon – Bahasa Cirebon menjadi salah satu identitas masyarakat yang ada di Pantura Jawa Barat. Bahasa yang merupakan afiliasi Jawa dan Sunda itu sudah mengakar dan dikenal khas.

Sekilas jika didengar, bahasa Cirebon mirip dengan Brebes, Tegal, maupun Purwokerto. Budayawan Cirebon Nurdin M Noer mengatakan modernisasi membuat masyarakat Cirebon seakan malu menggunakan bahasa daerah.

“Padahal, bahasa Cirebon punya sejarah panjang,” kata Nurdin, Rabu, 20 Februari 2019.

Dia mengatakan, pada tahun 1962 hingga tahun 1970, bahasa Cirebon muncul menjadi ciri khas sehari-hari masyarakat. Masyarakat menggunakan bahasa Jawa Cirebon itu dengan dibalik tapi tak memiliki aturan.

Saat itu, pada tahun 1962, terjadi pemberontakan DI TII yang salah satu anggotanya adalah masyarakat Cirebon. Untuk membedakannya, masyarakat Cirebon membuat bahasa sendiri dengan nama bahasa Slang.

“Seperti masyarakat Malang yang saat ini dikenal dengan membolak-balikkan kata. Penggunaan bahasa Cirebon saat itu untuk membedakan masyarakat Cirebon dengan anggota DI TII,” kata Nurdin.

Kata Kuham misalnya, yang mengambil dari bahasa Sunda berarti Kumaha (bagaimana), selain itu Ris atau dari kata Sira (kamu), yas dari kata saya, Daus atau dari kata Adus (mandi) hingga Pung dari kata Polisi.

Dia menjelaskan, masyarakat Cirebon menggunakan bahasa slang sehingga tersamar dan tidak dianggap sebagai anggota DI TII.

“Setelah itu hilang tak ada yang bisa lagi menggunakan bahasa itu dan sekarang hanya Jawa Cirebon saja yang berasal dari afiliasi Sunda Jawa dan serapan asing,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Sanskerta Kontemporer

Dalam kesehariannya, bahasa Cirebon dianggap penting di masyarakat luas. Sebab, bahasa Cirebon memiliki sejarah panjang.

“Urutannya begini, Bahasa Indonesia itu wajib, bahasa Cirebon penting, dan bahasa asing itu perlu,” kata Nurdin.

Dia mengatakan, dari hasil penelitian, sekitar 80 persen bahasa Cirebon merupakan serapan bahasa Sanskerta. Para ahli bahasa menyebutkan bahasa Cirebon sebagai sanskerta kontemporer.

“Contoh ingsun, sira, cemera, kirik yang bahasa Jawa-nya asu (anjing) dan kini menjadi bahasa sehari-hari orang Cirebon. Kemudian kita yang merujuk ke arti saya kalau dalam Indonesia kata kita itu merujuk ke lebih dari satu orang,” jelas Nurdin.

Dia menjelaskan, sebelumnya, bahasa Cirebon tidak dipengaruhi oleh bahasa Jawa pada masa Amangkurat ke-2. Bahkan, saat itu, bahasa sanskerta digunakan untuk percakapan sehari-hari masyarakat Cirebon.

Dia mengakui, kondisi bahasa Cirebon saat ini sudah sangat memprihatinkan. Gengsi menjadi salah satu alasan utama masyarakat Cirebon malu menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

“Setelah ditelusuri ternyata bibitnya bahasa Cirebon memang dari sanskerta. Dulu waktu saya masih Sekolah Rakyat sampai kelas 3, bahasa pengantarnya Jawa Cirebon. Bahkan, dulu di Cirebon sempat ada sekolah Jawa dan Sunda namanya,” ungkap dia.

Selain dari serapan sanskerta, bahasa Cirebon juga merupakan serapan dari Arab, Tiongkok, dan India.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *