SUV Konsep Mitsubishi Siap Unjuk Diri di Asia

Interior tak banyak berubah. Namun, head unit berupa layar sentuh diperbesar, dari 7 inci menjadi 8 inci. Kesannya lebih mewah.

Selain itu, menurut Mitsubishi, sistem multimedia telah diperbarui, sehingga dapat memutar video dari perangkat yang dihubungkan lewat USB, saat mobil terparkir. Perangkat itu juga bisa dihubungkan dengan smartphone untuk menampilkan aplikasi navigasi.

Fitur keamanan dan keselamatannya tetap diperkuat RISE impact safety body, serta Forward Collision Mitigation (FCM) braking system yang secara otomatis menghentikan kendaraan ketika hendak menabrak objek.

Urusan jantung mekanis, Outlander Sport untuk pasar Eropa mengendong 2,0 liter MIVEC 16-katup yang disandingkan dengan dua pilihan transmisi, manual 5-percepatan dan INVECS III CVT 6-speed. Keduanya juga disuguhkan dalam opsi front wheel drive (FWD) dan Four Wheel Drive.

Outlander Sport terbaru disuguhkan dalam dua pilihan warna, Red Diamond, Sunshine Orange dan Oak Brown. Secara keseluruhan Outlander Sport lebih macho dan berteknologi tinggi dari model sebelumnya. 

Sumber: Oto.com

Top 3: Milenial Indonesia Masuk Daftar 30 Under 30 Asia Forbes

Memiliki uang banyak menjadi impian banyak orang. Memasuki bulan April, tentunya banyak yang berharap untuk punya banyak uang.

Akan ada beberapa zodiak yang akan mendapatkan rezeki nomplok bulan ini. Penasaran? Mau tahu zodiak apa saja yang memiliki uang banyak di April ini?

Berikut merupakan beberapa zodiak yang keuangannya diramalkan akan membaik di April 2019, dilansir dari laman Your Tango:

Berita selengkapnya

3. Daftar Anak Muda Indonesia Paling Berpengaruh di Asia Versi Forbes

Forbes Asia kembali merilis daftar anak muda yang mampu mengubah dunia. Dalam daftar yang diberi tajuk Forbes 30 Under 30 Asia ini terdapat 23 nama yang berasal dari Indonesia.

Para anak muda atau milenial ini dipilih dari 23 negara. Mereka tersaring dari antara 2.000 orang oleh juri yang kompeten.

Kali ini ada beberapa negara yang baru masuk dalam daftar tersebut yaitu Mongolia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Laos. Indonesia sendiri berada di peringkat ke 7 penyumbang anak muda berprestasi terbanyak setelah China, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Australia.

Berita selengkapnya

Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan Terbaik (Lagi) di Asia Pasifik

Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kembali dinobatkan sebagai Menkeu Terbaik di Asia Pasifik Tahun 2019 versi majalah keuangan FinanceAsia pada 2 April 2019. Sebelumnya, FinanceAsia telah menobatkan Sri Mulyani sebagai Menkeu terbaik se-Asia Pasifik pada tahun 2017 dan 2018.

Sri Mulyani Jadi Menteri Keuangan Terbaik (Lagi) di Asia PasifikFoto: Zaki Alfarabi/Infografis

(dna/ang)

Daftar Anak Muda Indonesia Paling Berpengaruh di Asia Versi Forbes

Liputan6.com, Jakarta – Forbes Asia kembali merilis daftar anak muda yang mampu mengubah dunia. Dalam daftar yang diberi tajuk Forbes 30 Under 30 Asia ini terdapat 23 nama yang berasal dari Indonesia.

Para anak muda atau milenial ini dipilih dari 23 negara. Mereka tersaring dari antara 2.000 orang oleh juri yang kompeten.

Kali ini ada beberapa negara yang baru masuk dalam daftar tersebut yaitu Mongolia, Kazakhstan, Kirgistan, dan Laos.  Indonesia sendiri berada di peringkat ke 7 penyumbang anak muda berprestasi terbanyak setelah China, India, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Australia.

Banyak yang melihat bahwa bisnis yang dibangun oleh milenial merupakan bisnis jangka pendek. Namun patut dicatat, di tahun ini anak muda tersebut tidak hanya mendorong perubahan di wilayahnya tetapi juga memberikan pondasi yang dalam untuk jangka panjang terutama di negara berkembang.

Mereka menggunakan teknologi untuk membangun industri kecil dan menengah.

Siapa saja anak muda di Indonesia yang masuk dalam daftar tersebut? Dikutip dari laman Forbes, Kamis (4/4/2019), berikut nama-namanya:

1. Amanda Cole, 28 tahun

Founder Sayurbox

Kategori Industry, Manufacturing & Energy 2019

2. Angky William, 28 tahun

Founder Stoqo

Kategori Retail & Ecommerce 2019

3. Aries Susanti, 24 tahun

Atlet panjat tebing peraih medali emas Asian Games 2018 dan 3 kali juara dunia IFSC Climbing Worldcup 2018.

Kategori Entertainment & Sports 2019

4. Aruna Harsa, 26 tahun

Founder Dekoruma

Kategori Consumer Technology 2019

5. Benz Budiman, 25 tahun

Founder Pomona

Kategori Media, Marketing & Advertising 2019

6. Denica Flesh, 28 tahun

Founder SukkhaCitta

Kategori Social Entrepreneurs 2019

7. Ellen Nio, 29 tahun

Founder Patamar Capital

Kategori Finance & Venture Capital 2019

8. Gitta Amelia, 23 tahun

Founder EverHa

Kategori Finance & Venture Capital 2019

9. Haryanto Tanjo, 30 tahun

Founder Moka

Kategori Enterprise Technology 2019

10. James Prananto, 29 tahun

Founder Kopi Kenangan

Kategori Retail & Ecommerce 2019

11. Hendra Kwik

Cofounder Payfaaz

Kategori Finance & Venture Capital 2019

12. Jefriyanto

Cofounder Payfaaz

Kategori Finance & Venture Capital 2019

17 Milenial RI Masuk Daftar Anak Muda Paling Berprestasi di Asia!

Jakarta – Forbes merilis daftar anak muda berprestasi di Asia dalam 30 under 30 Asia. Dalam daftar tersebut, ada 17 orang anak muda perwakilan dari Indonesia.

Dikutip dari Forbes, Kamis (4/4/2019), mereka yang masuk daftar adalah anak-anak muda di bawah umur 30 tahun yang berprestasi. Mereka terpilih di antara 2.000 orang, dipilih oleh juri yang andal.

Total ada 300 sosok anak muda, mewakilii 23 negara dan kawasan di Asia Pasifik. Peserta yang diseleksi pun tidak sembarangan berprestasi, mereka masuk dalam daftar itu adalah yang bisa membawa perubahan melalui temuan atau prestasinya.


Dari Indonesia, di antaranya ada atlet pemanjat Aries Susanti yang baru memenangkan medali emas pada gelaran Asian Games 2018 lalu. Sebelumnya, wanita berumur 24 tahun ini 2 kali menjuarai IFSC Climbing World Cup di 2017 dan 2018.

Ini daftar 30 under 30 Asia di Indonesia:

1. Amanda Cole (Founder Sayurbox)
2. Angky William (Cofounder Stoqo)
3. Aries Susanti (Atlet Panjat)
4. Aruna Harsa (Cofounder Dekoruma)
5. Benz Budiman (Cofounder Pomona Technologies)
6. Denica Flesch (Founder SukkhaCitta)
7. Ellen Nio (Investment Associate Patamar Capital)
8. Gitta Amelia (Founder EverHaus)
9. Haryanto Tanjo (Cofounder Moka)
10. James Prananto (Cofounder Kopi Kenangan)
11. Hendra Kwik, Jefriyanto and Ricky Winata (Cofounder Payfazz)
12. Sabrina and Elena Bensawan (Cofounder Saab Shares)
13. Steven Wongsoredjo (Cofounder Nusantara Technology)
14. Archie Carlson and Sugito Alim dan 2 orang lainnya (Cofounders StickEarn)
15. Tiffany Robyn Soetikno (Founder PT Global Urban Esensial)
16. Agung Bezharie, Harya Putra and Sofian Hadiwijaya (Cofounder Warung Pintar)
17. Windy Natriavi (Cofounder Awantunai) (zlf/ang)

Thoriq Alkatiri Masih Pimpin Piala AFC dan Liga Champions Asia

Jakarta Wasit asal Indonesia, Thoriq Alkatiri kembali menjadi perbicangan warganet ketika memimpin pertandingan ketiga Grup C Piala AFC 2019 antara Al-Qadsia kontra Malkiya SCC di Stadion Jaber Al-Ahmad Internasional, Kuwait City, Senin (1/4/2019). Pengadil pertandingan berlisensi FIFA itu dianggap keliru setelah memberikan hadiah tendangan penalti kepada tuan rumah.

Saat Malkiya sedang unggul 1-0 via Hashim Sayed Isa di menit ke-42, Al-Qadsia mendapatkan tendangan penalti setelah Bader Al Mutawa dilanggar Ahmed Muslem. Thoriq Alkatiri menganggap Bader dijatuhkan Muslem di dalam kotak 16.

Dalam tayangan ulang, Bader sepintas terjatuh di luar kotak penalti. Tapi, Thoriq tetap teguh pada pendiriannya. Yousef Nasser yang menjadi algojo menuntaskan tugasnya dengan baik untuk membawa Al-Qadsia menyamakan kedudukan di menit ke-70. 

Pertandingan kemudian berakhir untuk kemenangan Malkiya setelah Hashim Sayed Isa mencetak gol keduanya pada menit ke-72.

Bersikukuh dengan sikapnya, Thoriq mengaku pengawas wasit AFC tidak menegur keputusannya yang berbuah penalti tersebut. Bahkan dalam waktu dekat, pengadil pertandingan berusia 30 tahun ini juga akan kembali memimpin pertandingan Piala AFC dan Liga Champions Asia (LCA).

“Teguran kenapa (dari AFC), kan tidak ada apa-apa. Iya pasti ada evaluasi pasti ada dari penilai (setelah pertandingan). Karena semua pertandingan pasti ada evaluasi untuk perbaikan dan meningkatkan kualitas,” ujar Thoriq ketika dihubungi wartawan.

“AFC tidak ada masalah. Soal penugasan, sistemnya dua bulan sekali,” tutur Thoriq, wasit yang membuat keputusan kontroversial ketika memimpin partai delapan besar Piala Presiden 2019 antara Persija Jakarta kontra Kalteng Putra itu.

Soal pertandingan yang akan kembali dipimpinnya di Piala AFC dan LCA, Thoriq masih menyimpannya rapat-rapat. Sebagai wasit, ia perlu memenuhi kode etik sebagai pengadil pertandingan.

“Ada penugasan lagi bulan ini ACL (LCA) dan (Piala AFC) AFC. Tetapi secara kode etik, saya tidak bisa menyebutkan detailnya,” tutur Thoriq Alkatiri.

Berita video wasit asal Indonesia, Thoriq Alkatiri, membuat keputusan kontroversial di Piala AFC 2019 pada laga Al Qadsia melawan Malkiya.

Bursa Asia Menghijau, IHSG Menguat 23,45 Poin

Liputan6.com, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan saham Selasa pekan ini.

Pada penutupan perdagangan saham, Selasa (2/4/2019), IHSG menguat 23,45 poin atau 0,36 persen ke posisi 6.476,06. Indeks saham LQ45 menguat 0,35 persen ke posisi 1.019,70. Sebagian besar indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 185 saham menguat. Sedangkan 206 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG dan 140 saham diam di tempat. Pada Selasa pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.490,07 dan terendah 6.454,98.

Total frekuensi perdagangan saham 390.504 kali dengan volume perdagangan 14,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,9 triliun. Investor asing beli saham Rp 89,40 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di posisi Rp 14.220.

Sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham tambang turun 0,64 persen, sektor saham industri dasar susut 0,21 persen dan sektor saham perdagangan melemah 0,13 persen.

Sementara itu, sektor saham pertanian menguat 2,2 persen, dan bukukan penguatan terbesar. Disusul sektor saham aneka industri mendaki 2,07 persen dan sektor saham manufaktur menguat 0,57 persen.

Saham-saham catatkan penguatan terbesar antara lain saham CSIS naik 23,28 persen ke posisi Rp 143 per saham, saham TRIS melonjak 20,72 persen ke posisi Rp 268 per saham, dan saham BRAM mendaki 20 persen ke posisi Rp 9.300 per saham.

Sementara itu, saham-saham yang tertekan antara lain saham BLTA tergelincir 34,52 persen ke posisi Rp 55 per saham, saham MFMI merosot 14,75 persen ke posisi Rp 520 per saham, dan saham ETWA terpangkas 10,71 persen ke posisi Rp 75 per saham.

Bursa saham Asia pun kompak menguat kecuali indeks saham Jepang Nikkei turun 0,02 persen.

Sementara itu, indeks saham Hong Kong Hang Seng menguat 0,21 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,41 persen, indeks saham Thailand naik 0,54 persen.

Sementara itu, indeks saham Shanghai menguat 0,20 persen, indeks saham Singapura menanjak 0,95 persen dan indeks saham Taiwan menguat 0,45 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menilai, penguatan IHSG didorong tingkat inflasi di Indonesia masih cenderung stabil. Demikian juga fundamental makroekonomi.

“Meredanya sentimen perang dagang dan membaiknya kinerja PMI manufaktur secara global,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Berusia 34 Tahun, Bandara Soetta Masih yang Tersibuk di Asia Tenggara

Liputan6.com, Jakarta – Senin 1 April 1985, Bandara Internasional Soekarno-Hatta akhirnya beroperasi, usai peresmian sehari sebelumnya. Setelah penantian selama satu dasawarsa, Indonesia akhirnya memiliki sebuah bandara yang megah, luas dan berkelas dunia.

Berdasarkan catatan Sejarah Hari Ini (Sahrini) Liputan6.com, Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Bandara Soetta yang berlokasi di Tangerang, Banten beroperasi menggantikan fungsi Bandara Kemayoran di Jakarta Pusat dan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.

Bandara Kemayoran sendiri kini sudah dinonaktifkan, sedangkan Bandara Halim Perdanakusuma difungsikan untuk penerbangan militer, VVIP, charter, dan beberapa penerbangan domestik.

Bandara Soetta memiliki kode IATA CGK, sedangkan nama yang populer di masyarakat adalah Bandara Cengkareng lantaran berdekatan dengan wilayah Cengkareng, Jakarta Barat. Meskipun secara geografis berada di Kecamatan Benda, Kota Tangerang, Banten.

Bandara ini dibangun karena Bandara Kemayoran yang awalnya ditujukan untuk penerbangan domestik dianggap terlalu dekat lokasinya dengan basis militer Indonesia, yaitu Bandara Halim Perdanakusuma. Frekuensi penerbangan sipil yang semakin meningkat dianggap mengancam kelangsungan lalu lintas internasional maupun kepentingan militer.

Oleh karena itu, pada awal 1970-an, mulailah dicari lokasi yang berpotensi untuk dijadikan bandara baru dengan bantuan USAID. Di antaranya Kemayoran, Malaka, Babakan, Jonggol, Halim, Curug, Tangerang Selatan dan Tangerang Utara yang berakhir dengan dipilihnya Tangerang Utara sebagai lokasi alternatif.

Pada akhir Maret 1975, disepakati rencana pembangunan 3 landasan pacu, jalan aspal, 3 bangunan terminal internasional, 3 terminal domestik dan 1 terminal haji di Bandara Soekarno-Hatta. Terminal domestik yang direncanakan bertingkat 3 dibangun antara tahun 1975 hingga 1981 dengan biaya tak kurang dari USD 465 juta.

Bandar udara ini dirancang oleh arsitek Perancis Paul Andreu, yang juga merancang Bandar Udara Charles de Gaulle di Paris, Perancis. Salah satu karakteristik besar bandara ini adalah gaya arsitektur lokalnya, dan kebun tropis di antara lounge tempat tunggu.

Kini, Bandara Soetta memiliki luas 18 km², dengan 2 landasan paralel yang dipisahkan oleh 2 taxiway sepanjang 2,4 km. Terdapat dua bangunan terminal utama: Terminal 1 untuk semua penerbangan domestik kecuali penerbangan yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Terminal 2 melayani semua penerbangan internasional juga domestik oleh Garuda.

Setiap bangunan terminal dibagi menjadi 3 concourse. Terminal 1A, 1B, dan 1C digunakan (kebanyakan) untuk penerbangan domestik oleh maskapai lokal. Terminal 1A melayani penerbangan oleh Lion Air dan Wings Air. Terminal 1B melayani penerbangan Lion Air. Sedangkan terminal 1C melayani penerbangan oleh Airfast Indonesia, Batik Air dan Citilink.

Terminal 2D dan 2E digunakan untuk melayani semua penerbangan internasional maskapai asing, antara lain Etihad Airways, Asiana Airlines, Cathay Pacific Airways dan Qantas Airways. Terminal 2D untuk semua maskapai luar yang dilayani oleh PT Jasa Angkasa Semesta, salah satu kru darat bandara.

Terminal 2E untuk maskapai internasional yang dilayani oleh Garuda, termasuk semua penerbangan internasional Garuda dan Merpati. Terminal 2F untuk penerbangan domestik NAM Air, Sriwijaya, dan Air Asia Indonesia.

Sementara Terminal 3 Domestik Bandara Soetta yang selesai dibangun pada 15 April 2009 digunakan oleh maskapai penerbangan Garuda untuk tujuan domestik. Sisanya digunakan oleh Terminal 3 Internasional yang antara lain diisi maskapai Air Asia, Japan Airlines, Korean Airlines, dan Singapore Airlines.

Sony Batasi Penjualan Ponsel di Asia Tenggara

Jakarta – Kabar terbaru datang dari Sony terkait dengan bisnis ponselnya yang kian hari tak ubahnya sebagai ‘benalu’. Perusahaan asal Jepang itu dilaporkan akan membatasi penjualan smartphone-nya di Asia Tenggara dan beberapa kawasan lain.

Terkait dengan hal tersebut, mereka memilih untuk fokus ke Eropa dan Asia Timur. Pengapalan ponsel Sony memang disebut lebih banyak mengarah ke Benua Biru dan Jepang (yang termasuk di dalam kawasan Asia Timur).

Kabar ini hadir setelah mereka memutuskan untuk menggabungkan bisnis ponselnya dengan produk televisi, audio, dan kamera di bawah divisi Electronics Products and Solutions. Langkah ini disebut Sony dilakukan agar ada sinergi lebih baik antara beragam lini produk miliknya. Bisnis ponsel Sony sendiri sudah beberapa tahun belakangan terus merugi. Bahkan sejumlah analis menyebut Sony seharusnya menjual bisnisnya itu.
Hal ini pun semakin diperjelas dengan proyeksi penjualan ponsel Sony di tahun fiskal 2018 yang terbilang kecil dibanding periode-periode sebelumnya. Dalam kurun waktu itu, yang laporannya akan diterbitkan bulan depan, penjualan smartphone Sony diprediksi akan menyentuh angka 6,5 juta unit.

Catatan tersebut hanya separuh dari tahun fiskal sebelumnya. Angka 6,5 juta unit itu pun cuma 1/6 dari torehannya lima tahun yang lalu, sebagaimana detikINET kutip dari Nikkei Asian Review, Minggu (31/3/2019). (mon/mon)